Pergi Haji: Belajar Mati (Part-2)

Tulisan ini adalah lanjuta dari tulisan sebelumnya “Pergi Haji: Balajar Mati”Semoga menambah spirit ruhuyah kita untuk memaknai ibadah haji. Dan semoga Allah menjadikan kita sebagai tamu-Nya, dan memampukan kita pergi ke tanah suci untuk melaksanakan rukun islam yang kelima. Mari kita belajar mati dari hikmah ibadah haji. Selamat menyelami lautan spiritual Ibadah Haji Dan Umrah melalui tulisan ini.

 

Siap Menghadapi Segala Peristiwa Yang Akan Terjadi

www.berhaji.com
pergi haji belajar mati

 

Bagaimana dengan di Tanah Suci? Betulkah jika di sini kita sering berperilaku buruk, di sana akan menuai keburukan? Jika di sini kita selalu menyuruh, di sana  pun akan menjadi suruhan orang?

Dikasihkan, seorang jaksa yang pernah menyiram, seorang tahanan yang kabur dengan segelas kopi panas sudah bersiap-siap jika di Makkah dirinya akan diguyur Allah dengan kopi panas pula.

“Saya siap kalau Allah membalas segala tingkah saya yang berlebihan, dengan balasan apa pun, asal Allah mengampuni saya dan melimpahkan kasih sayang-Nya pada saya,” ucapnya dengan air mata yang menggenang.

Namun apa yang terjadi? Alih-alih kopi panas, yang ditemuinya malah lautan kebahagiaan, kesejukan air zamzam, dan kenikmatan air mata yang senantiasa membasahi tempat sujudnya di kala shalat.

“Memang banyak kopi panas di sekitar Masjidil Haram, tapi harus beli,” kata Pak Jaksa ini sambil tersenyum senang menceritakan pengalamannya di Tanah Suci.

Tapi, bagaimana kalau kita mendapat perlakuan tidak baik di Tanah Suci? Bagaimana jika haji juga dipenuhi dengan kesulitan dan penderitaan? Jangankan kita, saudaraku,Rasullullahyang mulia, makhluk kekasih Allah yang begitu ikhlas dalam mengemban amamah berupa islam pun mengalami perlakuan buruk. Bahkan Beliau di usir, dicoba dibunuh, dihina, dilempari kotoran, sambil tetap harus bertahan di Makkah hingga datang perintah hijrah. Dan ketika hijrah ke Madinah pun bBeliau masih dikejar-kejar dan hampir terbunuh ketika seorang pemburu hadiah berhasil menyusul dan menodongkan pedang tajam di leher Nabi. Allahu akbar!

Jadi, kalau ada peristiwa tidak menyenangkan dan itu kita rasakan sebagai balasan atas dosa-dosa kita di Tanah Air, bersyukurlah, bahwa Allah mempercepat proses penjatuhan hukuman itu, hingga kelak di akhirat, insya Allah kita terbebas dari siksa neraka. Bukankah tiada balasan bagi haji mabrur kecuali surga?

Lain lagi dengan kisah rombongan KBIH BISRI PT Pusri yang berjumlah sekitar120 jamaah. Kami mendapat maktab di Aziziyah, tempat yang tidak kami temukan namanya dalam peta Makkah. Ya, Aziziyah lebih dekat ke Mina, hanya 30 menit perjalanan santai ketempat melempar jumrah.

Setiap pukul 3 dini hari, regu demmi regu bergelombang menuju ke Masjidil Haram. Demikian pula regu kami. Dalam regu kami terdapat seorang dokter beserta istrinya yangsedang hamil. Suaminya yang dokter mengambil tanggung jawab penuh atas kondisi kehamilan istrinya. “Kami sudah berazam, maka kami bertawakal kepada Allah, “kata Dokter Zaini ketika ditanya dengan kondisi istrinya yang berhaji dalam keadaan hamil.

Sehari sebelumnya seorang jmaah berkata, entah apa maksudnya, “Wah saya belum nangis , nih,” katanya. Mungkin karena dia melihat jamaah lain sudah tumpah air matanya sejak melihat Ka’bah, bahkan sejak meninggalkan rumah. Sementara dia masih tenang-tenang saja.

Kami masuk lift, namun Pak Dokter dan istrinya keluar lagi. Biar nanti saja, katanya, karena lift terlihat sudah penuh. Maka turunlah kamidari lantai lima menuju lantai dasar. Lift berjalan normal, namun ketika sampai dilantai dasar, lift tidak berhenti melainkan terus terperosok ke basement, dan … bum! Suara keras pun terdengar.

Di dalam lift kami berseru menyebut nama Allah: Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar! Setelah agak tenang, seseorang mengeluarkan ponselnya dan bersyukur sinyalnya masih baik. Lalu dia menghubungi H. Lukman, salah seorang tim pembimbing. Kami bersyukur karena dia masih berada di sekitar maktab, padahal regu yang dia pimpin biasanya paling awal berangkat ke Haram.

Kemudian kami semua berdoa. Pada saat itu, seorang ustad mengingatkan tentang peristiwa seorang sahabat yang terperangkap dalam gua: mohonlah pertolongan kepada Allah dan berwasilahlah dengan amal shaleh kita, sebutkan dalam hati, mohonlah pertolongan kepada Allah.

Suasana hening beberapa menit lamanya, hingga kemudian terdengar pintu lift digedor dari luar. Kami membalas memukul-mukul pintu lift. Dan kemudian, pintu lift tampak dicoba dibuka secara paksa dengan kayu, tetapi tidak berhasil. “kemana kuncinya?” tanya salah seorang dari kami yang mengerti masalah teknis. Rupanya kuncinya terbawa oleh seorang pengurus maktab. Kami harus menunggu beberapa menit lagi sampai dia yang membawa kunci datang dan membuka lift. Mata kami melihat pemandangan yang tidak beres; Basement ini rupanya belum selesai. Tumpukan bahan bangunan dan sisa-sisa material teronggok disana-sini, tidaak ada listrik yang meneranginya.

Ya Allah, ketika tiba, kami bersyukur karena kami yang tadinya akan mendapat kamar di lantai 12 ke atas, ternyata kemudian dipindah ke kamar lantai 3 dan 5. namun kami pun harus mendapati kenyataan bahwa di maktab belum tersedia air untuk wudhu,apalagi mandi. Sekarang kami melihat, gedung ini ternyata belum tuntas pembangunannya.

Saya mencoba mengklarifikasi pada Kadaker Makkah, Bapak Wardhani. Dia pun menjawab, “Mas, jujur saja, bangunan itu memang belum selesai. Pemilik gedung yang sebelumnya sudah sepakat dengan kami, tiba-tiba menaikkan uang sewa secara sepihak. Kami tidak terima dan membawa persoalan ini ke pihak yang berwenang. Tapi jamaah tetap harus dilayani. Maka, hanya satu hari sebelum anda dan rombongan datang, saya menyepakati harga dengan pemilik gedung yang sekarang anda tempati ini.”

ya Allah, kami ridha dengan apa pun yang engkau timpakan pada kami. Saya lirik teman yang tadi berkata bahwa dia belum menangis, matanya sembap karena tangis dan bibirnya tak putus bertasbih menyebut-nyebut nama Allah. Subhanallah walhamdulillah wa la ilaha illallah wallahu akbar.

            “Bagaimana sekarang, apa sudah menangis?”tanya saya yang dibalasannya dengan senyum dan anggukan haru.