Hidangan Makanan di Arafah Terasa Nikmat (Part-1)

Musim haji tahun 2001 adalah pengalaman pertama saya berhaji, sangat istimewa, karena penuh dengan warna-warni pengalaman. Saya berangkat denagan KBIH Salman ITB, dan bergabung dengan KBIH Amanah PT. Pos Indonesia. Setibanya di Makkah, rombongan bergabung dengan sekitar 15 jamaah yang menggunakan paspor hijau yang dipimpin oleh Hj. Lilis. Saya tinggal di Maktab di Ja’fariyah, sekitar 1,5 km dari Masjidil Haram. Para jamaah haji dengan paspor hijau tinggal di Ghararah, di sekitar belakang Pasar Seng. Dengan gambaran ini saja, sudah terbayang serunya perjalanan haji ini.

Dari Makkah ke Mina, kami berjalan kaki, lalu menginap di sekitar Jamarat. Pada saat itu, bermalam di Jamarat masih diperbolehkan, dan bukan hanya kami, tapi ribuan jamaah termasuk penduduk Makkah dan para TKI yang sedang “haji”, juga bermalam disekitar Jamarat sebelum ke Arafah.

Perjalanan Makkah-Mina dengan berjalan menyusuri terowongan yang tertutup bagi kendaraan tersebut sangat terkesan. Sepanjang perjalanan, kami bertalbiyah, secara perlahan dan sekuat hati. Deru suara kipas angin disepanjang terowongan, membuat suara kami tenggelam. Kami pun memilih berdzikir dan bertalbihyah: kaki melangkah satu-satu, mulut berucap perlahan, hati merintih mengingat dosa dan kesalahan.

Seorang jamaah sempat bertutur tentang gejolak hatinya ketika saya tanya, doa apa yang dipanjatkannya sepanjang perjalanan ini? Jawabannya sangat mengejutkan, “Saya hanya meminta agar Allah memberikan hidayah kepada suami saya. Suami saya bukan Muslim,”katanya dengan air mata berlinang.

Mendengar jawaban itu , langkah saya semakin terasa ringan: karena hati terbang mengingat Allah, dan ikut merasakan kegalauan hati seorang Muslimah yang  suaminya bukan Muslim. “Ya Allah, dengar dan kabulkanlah doanya,” pinta saya.

Menjelang tiba di Jamarat, kami beristirahat sejenak, untuk menghindari teriknya sengatan matahari. Menjelang asar, kami merapat ke Jamarat yang mulai dipenuhi Jamaah. Kami menggelar tikar istimewa kami: Tikar Plastik dengan kantung udara disatu ujungnya yang berfunsi sebagai bantal. Kami berbagi dengan ribuan Jamaah lainnya. Di sana, saya berjumpa dengan para TKI dan TKW yang diliburkan dan dihajikan oleh majikannya.

Beberapa TKI sudah tiga tahun tidak pulang ke Indonesia. Iseng saja saya tunjukan uang rupiah terbaru seri seribu, sepuluh ribu, dan seratus ribu yang saya bawa. Ternyata mereka sangat suka pada uang rupiah saya dan berani membeli denagn harga beberapa kali lipat dan menukarnya dengan riyal saudi. Saya yang tak sedang berdagang, meminta mereka menukar dengan riyal sejumlah yang setara. Betapa suka cita tergambar di wajah mereka.

“Ya Allah! Betapa luas jalan untuk membahagiakan sesama hamba-Mu,”rintih saya dalam hati melihat kebahagiaan para TKI yang memamerkan “üang baru” yang mereka miliki. Ini menjadi catatan bagi saya; ladang amal amt luas, bahkan untuk amal terbaik setelah iman, yakin memasukan rasa bahagia kedalam hati kaum Mukmin.

Esok hari selepas subuh dan usai sarapan, kami bergerak ke Arafah. Jalanan sudah sesak dengan kendaraan yang mengangkut jamaah haji. Tampak sekelompok jamaah asal Iran menggunakan bus tanpa atap. Semula saya pikir itu karena mereka mau mengirit. “Mengapa sewa bus harus yang rusak dan tidak ada atapnya?”pikir saya dalam hati. Namun ternyata saya keliru. Menurut Haji Anis Rosidi, pembmbing kami, bus tanpa atap itu memang sengaja disewa, agar perjalanan mereka berhaji tidak melanggar aturan. Bukankah ketika berkain ihram, kaum laki-laki tidak diperkenankan menggunakan penutup kepala? Wah, saya benar terkagum-kagum. Betapa ketaatan pada Allah telah menghilangkan rasa takut akan panas dan cuaca. Ketaatan berpanas-panas sepanjang perjalanan Makkah-Mina-Arafah dijalani sebagai bagian ketaatan atas perintah Allah.

Dengan apa kami menuju Arafah? Kami menyetop mobil yang melintas. Polisi Kerajaan Arab membantu kami. Rupanya semua kendaraan yang menuju Arafah diwajibkan membolehkan jamaah haji untuk ikut. Tentu saja boleh disewakan.

Kami pun mendapatkan tumpangan Mobil Opel Blazer yang masih baru. Mobil Jerman dengan kapasitas 4.500 cc itu pun kami isi penuh sesak. Bahkan, saya bersama Pak Anis, Pak Isnu Wardianto (mantan PR III ITB, sekarang Rektor Institut Tekhnologi Indonesia-Tangerang) dan seorang jamaah lain, mendapat bagian di atap.

Saya berfikir, ini benar-benar melebihi kapasitas. Saya berkain ihram, naik ke atap mobil dan kemudian melaju dengan nyaman diatara penuh sesak kendaraan menuju Arafah. Perlu diingat, ketika berihram, kaum adam hanya menggunakan dua lembar kain tanpa jahitan dan tidak menggunakan apa-apa selain itu. Jadi betapa serunya memegangi kain ihram agar tak tersingkap oleh angin gurun di atas atap kendaraan yang melaju.

Bersambung… ke Hidangan Makanan di Arafah Terasa Nikmat (Part-2)

Hidangan Makanan di Arafah Terasa Nikmat (Part-2)

Tulisan ini adalah lanjutan dari Hidangan Makanan di Arafah Terasa Nikmat (Part-1)

Setiba di Arafah, Pak Anis mengeluarkan simpanannya: Dua lembar kain parasut yang sangat lebar, seutas tambang sepanjang sekitar 6 meter, dan bambu yang berfungsi sebagai patok untuk mengukuhkan kain parasut yang pada ujungnya sudah diberi ring. Kami mencari lokasi yang terdapat dua pohon. Kami menemukannya dekat dengan dapur, toilet dan kemah besar milik orang arab. Praktis sekali: Kami mengikatkan tambang diantara dua pohon, lantas kain parasut disampirkan di atasnya, sementara ujungnya dipancangkan dengan patok bambu melalui ring yang ada di ujung dan tepi kain parasut. Dalam hitungan kurang dari satu jam, tenda yang bisa menampung sekitar dua puluh jamaah pun telah siap. Kami segera memasukinya, menggelar tikar, dan bersiap untuk melaksanakan wukuf.

Usai shalat zuhur, Haji Anis berkhutbah, khutbah Arafah yang membuat kami bertafakur merenungi dosa dan maksiat yang pernah dilakukak. Merenungi betapa banyak perintah Allah yang belum dilaksanakan. Air mata menetes, bahkan tertumpah di sela-sela tangis di Arafah. Bahkan, Allah mengirimkan hujan ketika itu yang membuat kami semakin haru: diperciki hujan di Arafah, serasa diguyur sejuta nikmat dari surga.

Usai khutbah, rasa lapar mulai terasa. Jamaah koboi- karena paspor hijau-memang tidak termasuk yang dilayani oleh Muassasah Asia Tenggara sebagai mitra Depag RI untuk melayani jamaah, termasuk makan dan minum selama wukuf di Arafah dan selama melempar Jumrah di Mina. Kami memang sudah menyiapkan makanan kecil dan air secukupnya yang kami simpan dalam tas. Namun, Allah yang Maha Menyantuni tak mau membiarkan kami menjadi haji tanpa kegembiraan, atau tepatnya: Allah Yang Mahakaya tak akan membiarkan kita kelaparan.

Seorang pengemis masuk ke tenda dan meminta sedekah kami. Pengemis itu seorang wanita, tinggi sekitar 170 cm, usia sekitar 60-an, berpakaian lusuh tapi bersih, wajahnya memancarkan sesuatu yang sulit diungkapkan. Kami semua tak terkecuali, saling berlomba memberikan sedekah. Saya pun mengambil uang dari ikat pinggang haji saya, dan segera saya berikan kepada perempuan itu. Usai menerima sedekah, pengemis itu melontarkan ucapan terima kasih dan kemudian berlalu ……

Tidak lama kemudian, masuk seorang laki-laki bangsa Arab ke tenda kami, dia menatap kami satu per satu. Kami belum tahu apa maksudnya sehingga kami pun hanya tersenyum kepadanya. Ini juga sebagai pengganti bahasa karena hanya Pak Anis yang fasih berbahasa arab di antara kami. Lantas dia keluar dan tidak lama kemudian dia masuk lagi. Kali ini, laki-laki itu masuk dengan tangan penuh oleh-oleh: air mineral sera aneka jus. Dia keluar lagi sebelum kami sempat berterima kasih.

Tak lama kemudian, dia masuk lagi dan kali ini membawa hidangan yang sangat istimewa: Sajian kurma yang sangat lezat yang disajikan di atas nampan yang bersih. Kami serasa mendapat kiriman langsung dari Allah. Beberapa di antara kami mulai memakan kurma sambil meneteskan air mata haru. Bagaimana tidak? Kami bermimpi untuk dijamu sedemikian hebat, sebab kami hanya sekelompok jamaah biasa yang bertenda di antara dua pohon, berteduh dari terik matahari dengan berbekal kain parasut yang disampirkan diatas seutas tambang. Jika kemudian Allah memberikan jamuan seperti ini, rasa syukur rasanya tak pernah cukup untuk membalas segala kebaikan Allah kepada kami.

Di tengah suasana haru, saya dan beberapa jamaah masih sempat bercanda. Saya pun menyahut, “Wah, kalau ada nasi ayam, pasti lebih lezat.” Jamaah lain hanya tersenyum mendengar canda saya dan Haji Maman. Dengan ucapan itu, saya benar-benar bercanda, dan insya Allah bukan karena merasa tidak puas atas jamuan Allah yang sudah ada. Tapi hanya bergurau sambil membayangkan nasi ayam yang lezat.

Tak lama kemudain, laki-laki Arab yang sedari tadi menjadi “kurir Allah”untuk mengirimkan makanan kepada kami, masuk lagi kedalam tenda. Kali ini dia tidak membawa apa-apa. Namun, dia sepertinya menghitung ulang jumlah kami. Kami semua terdiam melihat wajahnya yang serius. Lalu dia keluar dan tak lama kemudian masuk lagi.

Subhanallah, lihatlah apa yang dia bawa: 4 bungkus besar nasi ayam, atau tepatnya ayam nasi. Setiap bungkus berisi 8 ekor ayam dan nasi yang dimasak dengan kuning khas Arab. Dia melakukannya di tenda kami dan berkata: Haji, halal, haji. Barakallah!

Saya tak mampu membendung air mata lagi: kami hanya bercanda meminta nasi ayam, tetapi Allah justru mengirimkan ayam nasi yang sangat berlimpah. Tiga puluh dua potong ayam untuk kami yang hanya sekitar 20 orang. Di tengah padang Arafah, di antara isak tangis, kami menyantap ayam kiriman Allah melalui saudara kami dari bangsa Arab yang dermawan.

Isak tangis saya tak henti-henti bahkan ketika mulai makan, Pak Isnu bertanya, “kenapa menangis terus, Mas Budi?”.

Saya pun menjawab “Pak, saya sangat terharu dengan kiriman ayam nasi ini. Lalu saya teringat anak sulung saya, Ahmad. Dia sangat suka ayam. Bahkan, setiap makan harus dengan ayam goreng. Setiap makan, dia bisa menghabiskan dua sampai tiga potong ayam. Di Arafah ini Allah mengirimkan ayam kepada saya. Ini membuat saya ingat pada anak dan istri di Tanah Air. Semoga suatu ketika, saya bisa berhaji dengan mereka. Bertafakur di Padang Arafah, bermunajat dan memohon kepada Allah. Insya Allah.”.

Di Arafah, tangis kam tertumpah, bersama doa dan harapan semoga Allah memperkenankan segala doa kami dan kelak suatu ketika dapat kembali berhaji bersama istri dan anak-anak. Amin

Inilah Kisah “Masbudpray” Sapaan akrab Ust. Budi Prayitno ketika berhaji untuk yang perama kalinay. Semoga dapat memberikan sepirit keimanan kita, dan lebih menguatkan niat kita untuk berhaji ke tanah suci. Aamiin Yaa Robbal A’alamiin.