Macam-Macam Thawaf

Thawaf ialah mengelilingi ka’bah sebanyak tujuh kali putaran, yang dimulai dan diakhiri pada arah yang sejajar dengan hajar aswad.[i] Menurut berbagai riwayat, thawaf yang dilaukan Adam pada hakikatnya adalah meniru malaikat mengelilingi Baitul Makmur sebagai wujud permohonan karena telah membantah Allah dengan mengatakan, “Mengapa Engkau akan menjadikan di muka bumi ini orang-orang yang akan berbuat kerusakan dan menumpahkan darah”, sebagaimana yang tercantum dlam Q.S Al-Bararah ayat 20.[ii] Dalam hal ini, thawafnya orang yang berhaji dapat diserupakan dengan thawafnya para malaikat.[iii] Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Ibn Umar dengan sanad shahih, “Barangsiapa yang berusaha menyerupai suatu  kaum, maka ia (dianggap) seperti mereka juga.”.

Thawaf tidak harus selalu dilakukan oleh orang yang memsuki masjidil haram, akan tetapi jika memungkinkan thawaf dapat dilaksanakan sebagai pengganti shalat sunat tahiyyatul masjid. Setiap orang yang melakukan thawaf harus dalam keadaan suci dari hadas kecil maupun besar. Jamaah haji yang batal wudhunya hendaknya menghentikan thawafnyua kemudian berwudhu, lalu melanjutkan kembali thawafnya dari arah yang sejajar dengan hajar aswad tanpa harus mengulangi dari awal.[iv]

Jika datang waktu shalat wajib yang dilakukan berjamaah, jamaah haji yang thawaf harus menghentikan thawafnya untuk mengikuti shalat wajib berjamaah terlebih dahulu, dan putaran thawaf yang masih tersisa diteruskan setelah selesai shalat drai tempat dimana ia mulai niat memasuki shaf shalat.[v]

Macam-macam Thawaf

Ada empat macam thawaf sebagai berikut:[vi]

  1. Thawaf qudum
  2. Thawaf rukun (ifadah dan umrah)
  3. Thawaf sunat
  4. Thawaf wada’

 

Thawaf Qudum

Thawaf qudum adalah thawaf yang dilakukan oleh orng yang baru tiba di Mekah sebagai penghormatan terhadap Ka’bah. Seseorang yang baru tiba di Mekah hukumnya sunat melakukan thawaf qudum. Namun bagi yang melakukan haji tamattu’, thawaf qudumnya sudah termasuk dalam thawaf umrahnya. [vii]

Thawaf Ifadah

Thawaf ifadah adalah thawaf rukun haji, dikenal juga dengan thawaf sadr (inti) atau thawaf ziarah. Hukumnya adalah sebagai salah satu rukun haji dan apabila tidak dikerjakan, maka tidak sah hajinya. Thawaf ifadah dikerjakan setelah lewat tengah malam hari nahar (tanggal 10 dzulhijjah) sampai kapan saja, tetapi dianjurkan pada hari-hari tasyrik atau masih dalam bulan dzulhijjah. Bagi orang yang memiliki halangan tertentu, dapat melaksanakan thawaf pada waktu yang tidak ditentukan.[viii]

Thawaf Umrah

Thawaf umrah ialah thawaf yang dikerjakan setiap melakukan umrah wajib atau umrah sunat.[ix]

Thawaf Sunat

Thawaf sunat ialah thawaf yang dilakukan setiap saat ketika seseorang berada dalam Masjidil Haram tidak diikuti dengan sa’I dan yang bersangkutan mengenakan pakaian biasa.[x]

Thawaf Wada’

Thawaf wada’ ialah thawaf pamitan yang dilakukan oleh oleh setiap orang yang telah selesai melakukan ibadah haji atau umrah dan akan meninggalkan kota Mekah. Thawaf wada’ hukumnya wajib bagi setiap orang yang akan meninggalkan kota Mekah. Menurut pendapat Imam Malik hukumnya mustahab (dianjurkan). [xi]

 

 

 

 



[i]  Tri May Hadi.  Kumpulan Doa, Dzikir, dan Tanya Jawab untuk Ibadah Haji dan Umrah. (Jakarta: Kesaint Blanc, 2009). hlm. 132.

[ii] Maisarah Zas. Haji dan Pencerahan Jati Diri Muslim. (Bandung: Alfabeta, 2005). hlm. 160.

[iii] Al-Ghazali. Rahasia Haji dan Umrah. (Bandung: Karisma, 1997). hlm. 135.

[iv] Tri May Hadi.  Op.Cit. 133.

[v] Ibid.

[vi] Ibid. hlm. 135.

[vii] Ibid.

[viii] Ibid. hlm. 136.

[ix] Ibid.

[x] Ibid.

[xi] Ibid.

 

UMRAH

Definisi Umrah

Umrah diambil dari kata “I’timar” yang berarti “Ziarah” (berkunjung). Namun yang dimaksud dengan kata “umrah” di sini adalah mengunjungi kabah, thawaf, sa’i antara shafa dan marwah, dan mencukur atau menggunting rambut. Para ulama sepakat menyatakan bahwa umrah adalah sesuatu yang disyariatkan. Abu Hurairah menuturkan, “Rasulullah Saw. bersabda, ‘Umrah yang satu dengan umrah yang lain adalah penghapus dosa yang ada di antara keduanya, dan pahala haji mabrur adalah surga.”[i]

Rukun-rukun Umrah

Para ulama mengatakan bahwa rukum umrah ada tiga, yaitu ihram, thawaf, dan sa’i. Kewajiban-kewajiban umrah ada dua, yaitu melakukan ihram dari miqat dan mencukur atau memendekkan rambut. Sedangkan kegiatan lainnya adalah sunnah.[ii]

Melakukan Umrah Lebih dari Sekali

Abdullah bin Umar melakukan umrah dua kali setiap tahun selama bertahun-tahun di zaman Ibnu Zubair. Ini adalah pendapat yang dipegang mayoritas ulama, namun Malik memakruhkan pelaksanaannya lebih dari sekali dalam setahun.[iii]

Umrah Sebelum Haji dan pada Bulan-bulan Haji

Seseorang diperbolehkan mengerjakan umrah di bulan-bulan haji sekalipun dia tidak mengerjakan ibadah haji, karena Umar r.a telah mengerjakan umrah di bulan Syawal dan langsung pulang ke Madinah tanpa mengerjakan haji. Seseorang juga diizinkan untuk mengerjakan umrah walaupun dia belum pernah melaksanakan haji.[iv]

Jumlah Umrah Nabi

Ibnu Abbas r.a. menuturkan, “Rasulullah Saw melakukan umrah sebanyak empat kali: umrah hudaibiyah, umrah qadha’, umrah dari Ji’irinah, dan umrah yang beliau kerjakan bersama haji.” (HR Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Majah dengan sanad yang para perawinya adalah perawi yang terpercaya).[v]

Hukum Umrah

Mazhab Hanafi dan mazhab Maliki mengatakan bahwa hukum umrah adalah sunah. Sedangkan menurut mazhab Syafi’I dan mazhab Hambali hukumnya adalah wajib. Hal ini didasarkan pada firman Allah Swt:

“Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah.” (QS. Al-Baqarah: 196)

Dalam ayat ini, umrah telah disamakan dengan haji yang hukumnya wajib. Namun, pandapat pertama (bahwa umrah hukumnya sunah) lebih unggul.[vi]

Sebagian ulama yang lain memilah-milah antara penduduk Mekah dan selain penduduk Mekah. Mereka berpendapat bahwa umrah diwajibkan atas penduduk Mekah dan tidak diwajibkan atas selain penduduk Mekah. Adapun bagi yang berpendapat bahwa hukum umrah adalah wajib, akan tetapi kewajibannya tidak sebesar haji, karena kewajiban haji ialah kewajiban yang ditekankan dikarenakan haji merupakan salah satu di antara rukun Islam, berbeda dengan umrah.[vii]

Waktu Umrah

Mayoritas ulama berpendapat, waktu umrah adalah seluruh hari yang ada, sehingga bisa dikerjakan kapan saja. Namun, Abu Hanifah memakruhkan pelaksanaanya pada lima hari; hari Arafah, hari raya Idul Adha, dan tiga hari tasyrik. Dan waktu terbaiknya adalah pada bulan Ramadhan.

Miqat Umrah

Orang yang akan mengerjakan umrah memiliki dua kemungkinan; ada di luar miqat haji yang telah disebutkan, atau ada di dalamnya. Jika ia ada di luarnya, ia tidak boleh melewatinya tanpa ihram. Tapi bila ia ada di dalamnya, miqat umrahnya adalah tanah Halal sekalipun ia tinggal di Tanah Haram.[viii]

 



[i] Sulaiman Al-Faifi. Mukhtashar Fiqih Sunnah Sayyid Sabiq. (Solo: Aqwam, 2010). hlm. 397.

[ii] Dr. Abdullah bin Muhammad bin Ahmad Ath-Thayyar. Fiqih Ibadah: Kumpulan Fatwa Lengkap Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin. (Surakarta: Media Zikir, 2010). hlm. 466.

[iii] Ibid.

[iv] Ibid.

[v] Ibid. hlm 397-398.

[vi] Ibid. hlm. 398

[vii] Dr. Abdullah bin Muhammad bin Ahmad Ath-Thayyar. Op.Cit. hlm. 434.

[viii] Ibid.