WUKUF DI ARAFAH

Wukuf dilaksanakan pada hari arafah mulai dari tergelincir matahari tanggal 9 dzulhijjah sampai dengan terbit fajar tanggal 10 dzulhijjah. Wujuf dinilai sah walaupun dilaksanakan hanya sesaat dalam rentang waktu tersebut, akan tetapi diutamakan mendapatkan sebagian waktu siang dan waktu malam.[i]

Pada saat wukuf, jamaah haji melaksanakan shalat, dzikir dan membaca doa serta memperbanyak membaca Al-Quran. Amalan yang disunahkan di Arafah adalah hendaklah setiap muslim bersungguh-sungguh berdzikir dan bertaubat, menyatakan ketundukan dan kepatuhan pada Allah Swt.[ii] Sedangkan pada saat persiapan wukuf hari-hari sebelumnya, pada tanggal 8 dzulhijjah jamaah haji berpakaian ihram dan niat haji bagi yang berhaji tamattu’ di penginapan masing-masing, sedangkan bagi yang berhaji ifrad dan qiran tidak niat haji lagi karena masih dalam keadaan ihram sejak dari miqat saat tiba, setelah itu berangkat ke Arafah. Pada tanggal 9 dzulhijjah bagi jamaah haji yang telah berada dalam kemah masing-masing menanti saat wukuf (ba;da zawal) sambil berzikir dan berdoa. [iii]

Di Arafah, wukuf boleh dilaksanakan di dalam maupun di luar tenda. Jamaah haji yang melakukan wukuf tidak disyaratkan suci dari hadats besar maupun kecil. Dengan demikian, wukuf jamaah haji yang sedang haid, nifas, junub dan hadats kecil adalah sah.[iv]

 

Kisah Arafah

Arafah merupakan nama suatu padang pasir yang luas. Menurut para ulama, asal penamaannya lebih dari satu kisah.[v]

Pertama, para malaikat mengingatkan Adam As. dan Hawa setelah keduanya ditirinkan ke bumi, yakni di Arafah, agar mereka mengakui dosa-dosanya dan memohon ampun kepada Allah. Dengan kata lain bibit manusia yang pertama (Adam dan Hawa) diturunkan ke muka bumi ini adalah di Arafah.

Kedua, ketika Adam dan Hawa diturunkan dari surge, keduanya berpisah tempat. Adam di India dan Hawa di Jeddah (Jeddah artinya nenek). Setelah seratus tahun kemudian mereka bertemu di padang Arafah (arafah berarti tahu atau kenal), tepatnya di Jabal Rahmah (bukit kasih sayang).

Ketiga, Ibrahim as. diberitahu Jibril cara menunaikan manasik haji di tempat ini. Jibril bertanya, “Arafta’, tahukah kamu?” Ibrahim menjawab, “Araftu, aku mengetahuinya.”

Keempat, pemberian nama Arafah berkaitan dengan penamaan hari-hari sebagai berikut: hari kedelapan dzulhijjah disebut haru Tarwiyah yang berarti merenung atau berpikir, erat kaitannya dengan peristiwa yang dialami oleh nabi Ibrahim as. yaitu pada hari Tarwiyah ini nabi Ibrahim bermimpi mendapat perintah untuk menyembelih anaknya, Ismail (QS. 37: 102-7). Pada malam itu sampai besoknya nabi Ibrahim sangat gelisaj, tyerus menerus merenung dan berpikir, mempertanyakan apakah mmpinya itu berasal dari Allah atau dari setan. Karena ragu beliau tidak segera melaksanakan mimpinya pada siang harinya. Pada malam kesembilan, Ibrahim as. bermimpi para malaikat mengingatkan lagi dengan perintah yang sama. Setelah mimpi yang kedua inilah nai Ibrahim as. baru yakin bahwa mimpinya itu merupakan wahyu dari Allah Swt. Oleh karena itu, hai kesembilan ini dinamakan hari Arafah (mengetahui). Pada malam hari kesepuluh, nabi Ismail as. bermimpi lagi untuk ketiga kalinya dengan mimpi yang sama pula. Maka keesokan harinya (10 Dzulhijah) nabi Ibrahim melaksanakan perintah itu, karena itu disebut hari Nahar yang berarti hari penyembelihan.



[i] Tri May Hadi. Kumpulan Doa, Dzikir, dan Tanya Jawab untuk Ibadah Haji dan Umrah. (Jakarta: Kesaint Blanc, 2009). Hlm. 142

[ii] Maisarah Zas. Haji dan Pencerahan Jati Diri Muslim. (Bandung: Alfabeta, 2005). hlm. 148.

[iii] Tri May Hadi. Op.Cit. hlm. 142

[iv] Ibid. hlm. 143

[v] Maisarah Zas. Op.Cit. 149

ZIARAH KE MASJID NABAWI DAN MAKAM RASULULLAH

Dari Ibnu Umar, telah bersabda Rasulullah Saw, “Barang siapa berziarah kepadaku setelah aku meninggal, maka seakan-akan ia berziarah pada waktu aku masih hidup.” (HR. Baihaqi, Daruqutni, dan Tabrani)[i]

 

Banyak hadits yang menguraikan keutamaan ziarah. Dalam hadits lain dikatakan, “Barang siapa datang menziarahiku tanpa tanpa tujuan lain kecuali  untuk berziarah kepadaku, maka aku berhak menjadi pemberi syafaat baginya di hari kiamat.” (HR. Ath-Thabrani dari Ibnu Umar).

Hadits tersebut merupakan dalil dilarangnya mengunjungi makam Rasul dengan niat lain selain ziarah, seperti meminta doa dan dengan sengaja meminta syafaat di hadapan makam Rasulullah Saw.

Hukum Ziarah ke Masjid Nabawi dan Makam Rasul

Ziarah ke masjid Nabawi adalah sunnah. Hal ini berdasarkan sabda Nabi Saw. “Janganlah mengadakan ziarah kecuali ke tiga masjid, yakni Masjidil Haram, masjid saya ini, dan Masjidil Aqsha.” (HR. Bukhari – Muslim)

Maka hendaklah orang-orang berziarah ke masjid Nabawi, karena satu kali shalat di dalamnya lebih baik daripada seribu kali shalat di masjid lainnya selain Masjidil Haram. Apabila seseorang akan pergi ke Madinah, seharusnya tujuan awalnya adalah melaksanakan shalat di masjid Rasulullah. Dan ketika dia telah sampai di sana, hendaknya berziarah ke makam Rasulullah Saw., serta makam kedua sahabat beliau yaitu Abu Bakar dan Umar r.a., sesuai dengan cara yang disyariatkan, tanpa melakukan bid’ah ataupun berlebih-lebihan.[ii]

Hubungan Ziarah dengan Haji

Tidak ada hubungan antara ziarah ke masjid Nabawi dan Makam Rasulullah dengan ibadah haji. Sesungguhnya ziarah ke masjid Nabawi ialah urusan di luar haji dan umrah. Akan tetapi, ahli ilmu membahasnya di dalam bab haji, karena pada zaman dahulu orang-orang mengalami kesulitan jika harus melaksanakan haji dan umrah dalam suatu perjalanan, sedangkan untuk ziarah ke masjid Nabawi dalam perjalanan yang lain. Jadi apabila mereka melakukan ibadah haji dan umrah, maka mereka sekaligus melewati Madinah untuk ziarah ke masjid Rasulullah Saw.[iii]

Adab Masuk Masjid Nabawi dan Ziarah ke Makam Rasul

Peziarah masjid Nabawi disunnahkan untuk mendatanginya dengan tenang dan sopan, memakai wewangian, mengenakan pakaian terbaik, memasukinya dengan kaki kanan, dan membaca do’a ma’tsur. Dia disunnahkan pula mendatangi raudhoh (taman) terlebih dahulu untuk mengerjakan shalat sunnah tahiyyatulmasjid dengan khusyuk. Sesudah selesai mengerjakan shalat sunnah ini, dia disunnahkan pergi ke makan Nabi Saw dengan menghadap kepadanya dan membelakangi kiblat untuk mengucapkan salam kepada Rasulullah Saw, kemudian bergerak mundur sekitar satu hasta ke arah kanan untuk mengucapkan salam kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a., lalu bergerak mundur lagi sekitar satu hasta ke arah kanan untuk mengucapkan salam kepada Umar bin Khattab, lantas menghadap kiblat dan berdoa untuk dirinya, orang-orang yang dicintainya, sadara-saudaranya dan seluruh umat Islam, lalu langsung pulang ke kampung halamannya. Seorang peziarah hanya boleh mengeraskan suaranya hingga terdengar bagi dirinya saja. Dia juga harus menjauhi perbuatan mengusap-ngusap dan mencium makam Nabi Saw. karena itu termasuk perkara yang dilarang oleh beliau.[iv]

Larangan dalam Berziarah

Apa yang dilakukan sebagian orang dalam berziarah, yakni mengusap-usap dinding kamar makam Rasulullah, mengambil berkah dengannya, dan sebagainya, maka semua ini termasuk bid’ah. Dan yang lebih parah, lebih mungkar, dan lebih berat lagi ialah memohon kepada Nabi Saw. agar dimudahkan dari segala kesulitan dan tercapainya segala harapan, maka hal ini merupakan syirik besar, yang mengeluarkannya dari agama. Sesungguhnya Nabi Saw. tidak dapat mendatangkan manfaat maupun menolak madhorot terhadap dirinya sendiri, demikian pula terhadap orang lain. Beliau tidak mengetahui segala sesuatu yang ghaib. Beliau meninggal dunia sebagaimana anak cucu Adam meninggal dunia. Beliau tidak mengatur sedikitpun dari alam raya ini selamanya. Allah Swt. berfirman kepada Rasulullah Saw.[v]

Katakankah (Muhammad), ‘Aku tidak kuasa menolak madharat maupun mendatangkan kebaikan kepadamu.’ Katakanlah (Muhammad), ‘Sesungguhnya tidak ada sesuatupun yang dapat melindungiku dari (adzab) Allah dan aku tidak akan memperoleh tempat berlindung selain-Nya.” (QS. Al-Jin: 21-22)[vi]

Jadi, Rasulullah adalah manusia yang membutuhkan Allah. Beliau tidak akan bisa berbuat sesuatu tanpa izin Allah. Beliau adalah yang dipelihara oleh Allah dan diberi beban sebagaimana beban yang diberikan kepada manusia lainnya. Hanya saja beliau mempunyai kelebihan karena anugerah yang diberikan Allah kepadanya, yang tidak diberikan kepada orang lain sesudahnya.[vii]

 


[i] Al-Ghazali. Rahasia Haji dan Umrah. (Bandung: Karisma, 1997). hlm. 94.

[ii] Dr. Abdullah bin Muhammad bin Ahmad Ath-Thayyar. Fiqih Ibadah: Kumpulan Fatwa Lengkap Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin. (Surakarta: Media Zikir, 2010). hlm. 636.

[iii] Ibid. hlm. 637.

[iv] Sulaiman Al-Faifi. Mukhtashar Fiqih Sunnah Sayyid Sabiq. (Solo: Aqwam, 2010). hlm. 407.

[v] Dr. Abdullah bin Muhammad bin Ahmad Ath-Thayyar. Op.Cit. hlm. 639

[vi] Ibid. hlm. 640

[vii] Ibid.