ACARA SYUKURAN SEBELUM HAJI, APA PERLU?

ACARA SYUKURAN SEBELUM HAJI,

APA PERLU?

“Dan berbuat baiklah kepada kedua orangtuamu, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnussabil dan hamba sahayL Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri.” (Al-Qur`an, 4:36)

Kepergian ke Makkah untuk melaksanakan ibadah haji, umrah dan thawaf mengelilingi Ka’bah semakin kuat di hati Rasulullah dan para sahabatnya ketika mereka sudah beberapa tahun tinggal di Madinah. Hal ini sampai termimpi­ mimpikan. Mimpi inilah yang kemudian diabadikan dalam al-Qur’an bahwa pada akhirnya Rasulullah dan para sahabat akan mewujudkan impiannya untuk melaksanakan ibadah umrah dan haji.

“Laqod shodaqolloohu rosuuluhur ru `yaa bil haqqi, latadkhulunnal masjidal harooma insyaa Alloohu aaminiin. ” / “Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya tentang kebenaran mimpinya (yaitu) bahwa sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidilharam, insya Allah dalam keadaan aman. ” (QS, al-Fat-h, 48:27)

Ketika Rasulullah mengumumkan hal itu, maka disambut dengan sangat antusias oleh para sahabat beliau. Mereka sangat bersyukur akan bisa melaksanakan ibadah umrah dan haji sekali­gus kembali melihat kampung halamannya. Tetapi tidak ada keterangan yang menjelaskan bahwa mereka mengadakan hajat syukuran untuk mengungkapkan kegembiraan tersebut. Kita wajib bersyukur atas kesempatan untuk pergi haji. Banyak orang yang diberi rizki, tapi tidak diberi dorongan untuk pergi haji. Banyak pula orang yang sudah bertahun-tahun berdo’a dan tahajud untuk dapat pergi haji, akan tetapi belum juga diberi rizki. Karena itu wajar bila kita bersyukur dan ungkapkanlah rasa syukur itu dengan cara yang paling tepat dan manfaat, misalnya memberi sodakoh kepada fakir miskin. Apakah syukuran berupa hajat mengundang handai taulan merupakan hal yang tepat? Syukurnya wajib, dan mengkomunikasikan nikmat yang kita terima, juga diharuskan.

Hajatan atau walimah hanya salah satu ben­tuk saja. Selain mengungkapkan rasa syukur, hal lain yang perlu diakukari adalah permohonan maaf dan minta dorongan do’a. Hal ini akan berguna untuk menambah kelancaran perjalanan kita di sana dan mengurangi hambatan, terutama menghindari do’a buruk dari orarig yang pernah kita sakiti. Ini adalah bagian dari mempersiapkan perbekalan terbaik untuk haji berupa ketaqwaan. Hal lain yang tidak kalah pentingnya adalah memaafkan kesalahan orang lain. Itu bagian dari ciri orang taqwa. Bila kita masih punya dendam kepada seseorang, maka sebelum berangkat haji, datangilah dia, tidak usah menunggu dia datang kepada kita. Sampaikanlah permohonan maaf anda kepadanya. Jadi bukan hanya meminta maaf, akan tetapi juga memberi maaf. Menurut pakar psychologi, membenci dan membawa dendam sama dengan membawa penyakit bagi jiwa kita. Memberi maaf adalah menyuntikan obat bagi penyakit itu. Apakah kita mau pergi haji sambil membawa penyakit berupa dendam? Jadi itu subtansi yang paling penting dalam acara sebelum berangkat haji yakni ungkapan syukur, permohonan maaf dan pemberian maaf serta permohonan do’a. Bentuknya, apa saja yang paling manfaat dan paling efisien. Bisa walimah atau hajatan, bisa juga bentuk lain. Bila orang tua anda masih ada, j angan lupa hadirkan mereka dalam acara ini. B ahagiakan dan mulia­kan mereka dan jangan acara ini justru membuat kesedihan dan kekecewaan bagi mereka. Anda memerlukan do’a mereka selama melaksanakan ibadah haji.

Rekap Setoran Awal Provinsi

Rekap Setoran Awal Provinsi

REKAPITULASI PENDAFTARAN SETORAN AWAL PER-PROPINSI

KODE NAMA PROVINSI SETORAN AWAL PORSI W.LIST MAXTB
1 NANGGROE ACEH DARUSSALAM 57,036 3,924 53,112 14
2 SUMATERA UTARA 88,840 8,234 80,606 10
3 SUMATERA BARAT 53,442 4,498 48,944 11
4 R I A U 58,096 5,044 53,052 11
5 J A M B I 35,770 2,634 33,136 13
6 SUMATERA SELATAN 70,795 6,360 64,435 11
7 BENGKULU 13,367 1,614 11,753 8
8 LAMPUNG 66,017 6,282 59,735 10
9 DKI JAKARTA 78,281 7,084 71,197 11
10 JAWA BARAT 333,692 37,620 296,072 8
11 JAWA TENGAH 365,897 29,657 336,240 12
12 D.I. YOGYAKARTA 43,217 3,091 40,126 13
13 JAWA TIMUR 473,574 34,165 439,409 13
14 B A L I 6,858 639 6,219 10
15 NUSA TENGGARA BARAT 58,358 4,494 53,864 12
TOTAL SETORAN AWAL PORSI W.LIST
2,288,189 194,000 2,094,189

MENYEMBELIH HEWAN QURBAN KETIKA BERHAJI

MENYEMBELIH HEWAN QURBAN DI TANAH SUCI 

Menyembelih hewan qurban merupakan upaya memahami pengorbanan Nabi Ibrahim a.s. saat diperintahkan Allah agar menyembelih putranya Ismail. Dengan penuh ketegaran, melalui isyarat mimpi yang membenarkan perintah itu, Nabi Ibrahim-pun menaatinya. Dan atas kemurahan-Nya, Allah kemudian mengganti Ismail dengan binatang sembelihan yang besar.

Kurban ketika Haji

Jamaah haji hendaknya menyembelih hadyu (binatang kurban yang dibawanya), jika ada. Yang lebih utama ialah menyembelihnya dengan tangannya sendiri.

Berkurban dengan unta adalah lebih utama. Kemudian seekor sapi, setelah itu seekor domba. Dan berkurban sendiri dengan seekor domba adalah lebih utama dibandingkan dengan tujuh orang bersama-sama berkurban dengan seekor unta atau sapi. Demikian pula, seekor domba (kambing kibas) lebih utama dari pada kambing biasa. Sabda Rasulullah Saw,

“Sebaik-baiknya udh-hiyah (kurban) ialah domba bertanduk.” (HR. Abu dawud dari ‘Ubadah ibn as-Shamit, dan Tirmidzi dari Abu Umamah)

Adapun domba yang putih lebih utama dari pada yang abu-abu atau hitam. Dari Abu Hurairah, “Binatang kurban yang putih lebih utama dari pada dua ekor yang berwarna hitam.”

Dan diperbolehkan ia (yang berkurban) ikut makan sebagian darinya, jika itu merupakan hadyu sunnah (bukan yang diwajibkan baginya). Dan janganlah berkurban dengan hewan yang cacat seperti pincang, patah tanduknya, terpotong telinganya, berpenyakit kurap, sangat kurus, lumpuh dan sebagainya.

Hikmah Penyembelihan Hewan Qurban

Dalam penyembelihan hewan qurban ini terwujud dua hikmah.

Pertama, mengajarkan umat untuk memiliki ketaatan yang sempurna kepada Allah. Sebab, sejatinya perintah adalah ujian. Rasa kemanusiaan memang sisi sensitif manusia yang maha rentan dan menguras belas kasihan. Allah maha mengetahui hal itu dan Dia maha pemurah kepada hamba-hamba-Nya, karena itulah Ia mengganti Ismail dengan binatang sembelihan. Dari sini, ada sisi kemanusiaan yang dibela, di samping sedikit dipermainkan dengan perintah yang dalam kaca mata manusia sedikit berlebihan itu. Pesan intinya, cinta kepada Allah hendaknya ditempatkan di atas cinta pada apapun.

Kedua, karena menyembelih hewan tebusan pada dasarnya adalah bersedekah, dengan sendirinya hal itu menjadi wujud dari rasa syukur atas nikmat Allah, baik berupa kesempatan melaksanakan ibadah haji maupun nikmat lain yang jumlahnya tak terhitung. Sebab, tidak diragukan lagi bahwa hanya orang-orang tertentulah yang mampu melaksanakan ibadah haji. Di samping harus memiliki kesiapan (harta, fisik, mental, dan keilmuan), seseorang yang melaksanakan haji juga tidak bisa lepas dari garis ketentuan. Perpaduan dua hal inilah yang seseorang yang sudah memiliki kesiapan dalam segala hal, namun belum tergerak untuk menunaikan haji. Adapun salah satu sebab kewajiban menyembelih binatang atas orang yang menjalankan ibadah haji tamattu’ dan qiran, adalah keadaan dua model pelaksanaan haji tersebut yang berasal dari adat jahiliyah, yang sudah diubah.

Pada saat menyembelih hadyu (hewan kurban yang telah disediakan dalam rangka ibadah haji), hendaknya mengetahui bahwa hal itu merupakan upaya pendekatan diri kepada Allah dengan mematuhi perintah-Nya. Karena itu, hendaknya jamaah haji menyempurnakan hadyu dan berharap agar Allah membebaskan seluruh anggota tubuh dari siksa api neraka, sebagai imbalan atas setiap bagian dari hadyu yang dikurbankan.