Foto-Foto Perbedaan Jamarat (Lokasi Lempar Jumroh) Masa Lalu dan Masa Kini

Berhaji.com

Dalam pelaksanaan ibadah haji, ada satu ritual yang dilaksanakan di Jamarat, tepatnya di kota Mina. Dalam ritual ini, jema’ah haji melemparkan tujuh kerikil yang sebelumnya sudah mereka kumpulkan di Muzdalifah, ke tiga tiang di jamarat yaitu Aqabah, Wusta dan Ula.

Ritual ini menyimbolkan peperangan melawan syaitan. Tiang-tiang jamarat yang dilempari batu diibaratkan syaitan yang harus dilawan para jema’ah haji.

Nah, lokasi Jamarat juga merupakan salah satu titik pelaksanaan ritual haji yang mengalami perubahan yang signifikan. Dari yang dulunya hanya tiang yang dikelilingi tembok, kini dilengkapi dengan dua helipad, eskalator dan lima lantai untuk melempar jumroh agar jemaah tidak bertumpuk di satu titik.

Berikut ini foto-foto perbedaan Jamarat di masa lalu dan masa kini yang terlihat jelas perbedaannya.

Jamarat Masa Lalu

Jamarat Masa Kini

Terowongan Mina

Sebelum sampai ke Jamarat, jemaah haji juga harus terlebih dulu melewati terowongan Mina yang juga kini telah dilengkapi berbagai fasilitas untuk menunjang kebutuhan jemaah haji. Terowongan yang dulunya sering menjadi tempat para jemaah haji berdesakan kini sudah dilengkapi dengan pendingin ruangan untuk kenyamanan jemaah haji dan juga kamera CCTV untuk memantau kepadatan jemaah haji.

Foto-Foto Perbedaan Jamarat (Lokasi Lempar Jumroh) Masa Lalu dan Masa Kini Foto-Foto Perbedaan Jamarat (Lokasi Lempar Jumroh) Masa Lalu dan Masa Kini Foto-Foto Perbedaan Jamarat (Lokasi Lempar Jumroh) Masa Lalu dan Masa Kini

Kumpulan Foto Berhaji Di Masa Lalu yang Ternyata Lebih Menyejukkan Dipandang Mata

Berhaji.com

Tanah suci Mekkah dan Madinah telah mengalami berbagai kemajuan seiring perkembangan zaman. Bahkan, Masjidil Haram juga saat ini tengah mengalami perluasan untuk desain terbaru di tahun 2020 mendatang.

Berbagai kemewahan seperti lapisan marmer dan emas dapat kita lihat hampir di setiap sudut Mekkah dan Madinah, terutama di tempat-tempat melaksanakan ibadah haji. Pembangunan besar-besaran ini juga disebut-sebut sebagai salah satu tanda kiamat, sebagaimana disabdakan Rasulullah Salallahu ‘Alaihi wa Salam.

Ibnu Syaibah meriwayatkan dengan sanadnya kepada Ya’la ibn Atha’ dari ayahnya, dia berkata: pada suatu hari, aku menuntun tali kekang onta Abdullah ibn Amr, lalu beliau berkata: “Bagaimana pendapat kalian, jika kalian hancurkan Ka’bah dan tidak menyisakan ada batu yang masih menumpuk? Mereka menjawab: oleh kita yang beragama Islam? Beliau menjawab: benar, kalian yang beragama Islam. Seseorang bertanya: lalu apa lagi? Beliau menjawab: kemudian ia akan dibangun dengan yang lebih bagus darinya. Apabila kalian telah melihat galian-galian besar di Makkah, dan bangunan-bangunannya menjulang tinggi melebihi pegunungannya, maka ketahuilah bahwa kiamat telah mendekatimu”(HR. Ibnu Abi Syaibah dan al-Arzaqi)

Mekkah dan Madinah di masa lalu memang tidak semegah dan mewah sekarang, namun ternyata lebih sejuk dipandang mata dengan berbagai kesederhanaannya.