Syarat Mampu untuk Berhaji

Berhaji.com

Ulama menyepakati, haji wajib dilaksanakan sekali seumur hidup selama memiliki kemampuan. Syarat mampu di sini bukan sekedar fisik, tapi juga batin.

Allah mengundang seluruh manusia yang mampu, sekali dalam seumur hidupnya, agar berkunjung ke rumah Allah. Walau dapat diselesaikan dalam waktu singkat, ibadah ini membutuhkan persiapan yang matang. Allah SWT berfirman, “(Musim) haji itu (pada) bulan-bulan yang telah dimaklumi.” (QS. Al-Baqarah: ayat 197). Beberapa bulan yang yang dimaksud adalah Syawal, Dzulqa`dah, dan Dzulhijjah.

Waktu yang panjang itu dimaksudkan agar Muslim dapat mempersiapkan diri dengan matang. Mereka akan meninggalkan keluarganya untuk mengunjungi Tanah Suci.

Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi sebelum berangkat haji. Pakar Ilmu Al-Quran, Prof Quraish Shihab, dalam buku Haji dan Umrah menyebutkan, syarat pertama untuk yang hendak melaksanakan haji adalah Muslim. Bukan saja karena ibadah ini adalah puncak rukun Islam, tapi juga karena di sanalah hendaknya nampak jelas penyerahan diri kepada Allah semata. Siapa pun yang hendak ke sana, diharapkan membersihakan diri dari dosa dengan bertaubat.

Kemudian, pelaksanaan haji jangan sampai dinodai dengan sesuatu yang haram. Harta untuk haji hendaknya diperoleh dengan cara halal.

Syarat kedua dan ketiga, adalah berakal sehat, dan berstatus merdeka, bukan budak. Akal yang sehat akan mengjasilkan pemahaman yang sempurna tentang ibadah haji. Status tak terikat dalam perbudakan membuat Muslim bebas menentukan pilihannya saat berhaji.

Syarat keempat, adalah kemamuan atau isthithaa`ah. Ini mencakup beberapa aspek, yaitu kemampuan material yang diperoleh dengan halal. Jangan sampai memaksakan berhaji dengan menjual satu-satunya sumber harta yang dimiliki, atau menjual sesuatu-satunya sumber harta yang dimiliki, atau menjual sesuatu yang mengakibatkan kesulitan hidup.

Kemamuan ini bukan semata bisa membayar biaya penyelenggaraan ibadah haji dan kebutuhan hidup di sana. Materi juga harus mampu menutupi kebutuhan hidup keluarga yang ditinggalkan selama perjalanan haji.

Selanjutnya, adalah kemampuan fisik. Ibadah ini membutuhkan fisik yang kuat. Karena jemaah haji akan bergerak dan berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Syarat fisik ini semakin ditekankan, karena jumlah jemaah haji semakin banyak. Oleh karenanya, hal yang harus dipenuhi adalah fisik yang sehat.

Kemampuan yang lain berkaitan dengan keamanan dalam perjalanan, tempat yang dituju, serta tempat dan waktu pelaksanaan ibadah, hingga kembali berkumpul dengan keluarga. Keamanan keluarga yang ditinggal juga tak boleh diabaikan.

Syarat berikutnya dalah kemampuan berhaji pada waktunya. Kalau berhalangan, maka bisa ditangguhkan hingga bisa berangkat. Hendaknya tidak menunda keberangkatan haji jika tidak ada alasan kuat. Penundaan tanpa alasan dapat mengakibatkan dosa.

Ada sebagian ulama yang menambahkan syarat untuk perempuan. Muslimah harus didampingi mahramnya saat berhaji. Namun, syarat ini tidak ditekankan oleh Imam Syafi`i. Sebagian ulama mensyaratkan Muslimah dapat berhaji, asalkan didampingi orang yang terpercaya.

Kalau syarat yang disebutkan di atas sudah terpenuhi, maka kuatkan niat untuk berhaji.