Larangan-larangan dalam Berihram

Berhaji.com

Salah satu dari wajib haji adalah berihram. Selama mengenakan ihram, jamaah haji harus menghindari hal-hal yang dilarang dalam ihram. Pakaian yang hanya sebatas kain putih ini bukan semata-mata untuk menutup aurat. Pakaian ini juga bermakna seseorang harus menjaga dirinya dari perbuatan terlarang.

Larangan dalam berihram terbagi menjadi dua. Pertama adalah yang membatalkan haji. Kedua yang tidak membatalkan haji, namun harus membayar dam (denda).

Hal yang membatalkan haji adalah hubungan seks. Ulama memberikan catatan tersendiri terkait hal ini. Imam Syaifi`i mencatat, hubungan tersebut terjadi dalam bentuk pertemuan dua alat kelamin atau pun bentuk apa pun.

Hubungan ini terjadi sebelum mencukur rambut atau tahalul awal, yakni melakukan dua dari tiga hal: melontar jumrah, tawaf ifadah, dan bercukur.

Kalau sudah melaksanakan hubungan intim, maka hajinya tidak sah. Namun demikian, jamaah haji tersebut masih berkewajiban melanjutkan hajinya sambil membayar denda atau dam. Bentuknya berupa unta atau membayar senilai unta. Suami membayar satu unta. Istri juga membayar satu unta. Semuanya menjadi dua unta. Kemudian pada tahun berikutnya, mereka harus kembali berhaji dengan baik dan benar.

Percumbuan dengan syahwat tanpa disertai hubungan alat kelamin, tidak membatalkan haji. Yang melakukan hal itu selama berihram dikenakan fidyah berupa satu ekor kambing. Ulama memberikan toleransi bagi yang lupa dan terlanjur melakukannya tanpa mengetahui akibatnya. Allah tidak meminta pertanggungjawaban yang dilakukan karena tidak mengerahui, lupa, dan terpaksa.

Terkait pelanggaran yang tidak membatalkan haji tetapi harus membayar fidyah, ada yang diakibatkan pelanggaran berpakaian, menggunakan parfum, dan semacamnya. Ada juga yang disebabkan berburu, atau hubungan suami istri tanpa hubungan alat kelamin.

Perlu diketahui, tak ada perbedaan antara laki-laki dan wanita dalam hal pelanggaran, kecuali tentang hal pakaian. Pertama, adalah memakai pakaian yang berjahit. Maksudnya adalah pakaian tersebut didesain membentuk badan. Pakaian ihram yang sobek tak apa dijahit selama tidak membentuk anggota tubuh.

Tidak diperbolehkan memakai pakaian berjahit untuk menutup kepala berbentuk peci, kopiah, sorban, atau memakai sepat yang menutupi jari.

Wanita boleh menggunakan pakaian berjahit seperti yang dikenakan sehari-hari. Yang dilarang adalah menutup wajah dan telapak tangannya.

Ulama sepakat melarang jamaah haji memotong kuku, bercukur dan menggunting rambut selama berihram.

Selama berihram, jamaah haji juga dilarang menikah dan menikahkan orang lain. Jamaah haji juga dilarang menyembelih hewan kurban.