Jamaah Haji Diimbau Waspadai Joki Tawaf dan Sai`

Berhaji.com

Sebanyak 10 jamaah risiko tinggi (risti) sempat terlantar di Masjidil Haram, Makkah akibat memakai jasa joki tawaf dan sa`i dari mukimin. Beruntung, petugas Sektor Khusus (Seksus) Daerah Kerja (Daker) Makkah langsung bergerak cepat dalam menolong mereka yang sebagian dalam kondisi sakit.

Wakil Kepala Sektor Khusus Daker Makkah Harun al-Rosyid mengatakan, ada dua kasus yang peristiwanya terjadi dalam waktu berdekatan. “Kejadian pada dua hari lalu ini berlangsung pada pukul 02.00 dini hari dan 03.00 dini hari,” kata Harun ketika ditemui di Masjidil Haram, Makkah, Rabu (24/8).

Peristiwa yang pertama bermula ketika ada dua jamaah risti yang sedang dalam kondisi sakit menggunakan jasa mukimin untuk melakukan tawaf dan sa`i. Namun, keberadaan mukimin tersebut di luar koordinasi petugas Masjidil Haram alias tidak resmi.

Mukimin tersebut tiba-tiba ditangkap polisi Arab Saudi yang bertugas di Masjidil Haram wilayah sa`i dan tawaf. Dua jamaah risti tersebut akhirnya ditinggalkan begitu saja.

Akhirnya, laporan masuk ke Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH). Petugas sektor khusus (seksus) langsung bergerak cepat menangani kedua jamaah tersebut. Petugas membantu kedua jamaah menyelesaikan sa`i dan melakukan tahalul sebelum mereka diarahkan ke sektornya.

Ketika petugas kembali ke wilayah sa`i, kata Harun, peristiwa kedua yang lebih besar terjadi. “Kini, ada delapan jamaah yang tercecer akibat joki mereka ditangkap polisi Arab Saudi,” katanya.

Petugas seksus akhirnya membantu delapan jamaah menuntaskan prosesi sa`i. namun, karena jumlah sumber daya manusianya terbatas, petugas menyewa jasa petugas kursi roda resmi Masjidil Haram untuk membantu jamaah menyelesaikan sa`i dan tahalul.

Setelah proses sa`i dan tahalul selesai dilaksanakan, jamaah diantar dengan menggunakan kendaraan operasional seksus pada pukul 09.30 waktu setempat, seperti dikutip dari harian republika. “Kita antar ke sektornya masing-masing. Alhamdulillah, berkat kesigapan anggota seksus, 10 jamaah tersebut sudah bisa kami tangani dengan selamat dan aman,” katanya.

Petugas seksus menemukan mukimin yang bekerja sebagai joki Hajar Aswad. Namun, keberadaannya dinilai masih belum mengganggu atau merugikan jamaah.

“Joki Hajar Aswad kami ketahui tidak merugikan jamaah. Ketika kami dalamai, selama ini belum ada jamaah yang jadi korbannya,” kata Harun.

Jamaah dan mukimin sama-sama ikhlas. Jamaah merasa nyaman memanfaatkan jasa mereka. Sementara, joki Hajar Aswad merasa diuntungkan dengan uang yang mereka dapat.

Harun mengatakan, petugas seksus tetap terus memantau kemungkinan adanya joki nakal. Petugas terus memantau jamaah apakah ada yang menggunakan jasa joki Hajar Aswad, lalu diperas ratusan riyal. “Selama ini kasus seperti itu belum terjadi,” katanya.

Harun mengimbau mukimin jangan mengambil risiko dengan menjadi joki sa`i atau tawaf bagi jamaah yang tidak mampu melakukannya. Karena, jika ketahuan pihak keamanan Masjidil Haram, mereka bisa ditangkap dan jamaah menjadi terlantar.

Harun mengatakan, potensi mukimin ketahuan jadi joki itu sangat besar. Karena, pengawasan di wilayah Masjidil Haram sekarang sudah samakin ketat. Harun pun mengatakan, pihak keamanan itu sudah mampu membaca gelagat joki mukimin meski mereka mungkin berpakaian ihram, memakai gelang jamaah dan tas jamaah.

Ketua Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi 1437 H/ 2016 M Ahmad Dumiyati Basori mengimbau jamaah haji untuk mewaspadai keberadaan joki. Jika jamaah menemukan kesulitan, dapat menghubungi petugas PPIH. “Kita akan carikan solusi terbaik. Kami ingin menjaga keselamatan jamaah agar dapat kembali bertemu dengan keluarga,” katanya.

Pihaknya berharap jamaah dapat melaksanakan haji dengan baik.mereka juga diimbau untuk mengikuti petunjuk dan peraturan yang sudah ditetapkan PPIH.