www.berhaji.comSetiap tahun ada sekitar 200.000 orang jamaah haji Indonesia. Biaya yang dibutuhkan tak kurang dari 30 juta rupiah perorang. Seandainya 25 persen saja dari jumlah itu kita berdayakan, maka kita akan mendapatkan angka 1 trilyun rupiah pertahun. Angka yang tidak kecil untuk menuntaskan kemiskinan umat.

Dalam keadaan fisik yang lelah, Abdullah bin Mubarak, tertidur di lantai Masjidil Haram. Dalam tidurnya, ulama zuhud ternama yang hidup di era pemerintahan Bani Abbasiyah ini bermimpi didatangi dua malaikat. Kedua malaikat itu, turun dari langit khusus untuk menemuinya. Dalam mimpinya, ia mendengar dialog kedua malaikat itu. “Berapa jumlah kaum Muslim yang menunaikan haji tahun ini? “tanya salah satu malaikat. “Ada 600 ribu orang,” jawab yang satunya. “Lalu berapa orang yang hajinya diterima Allah?”

“Tidak seorang pun. Tapi, ada seorang lelaki bernama Muwaffaq dari Damaskus yang hajinya diterima oleh Allah. Bahkan berkat ibadahnya itu menyebabkan haji kaum Muslim diterima Allah,” jawab yang ditanya.

Begitu terbangun, Abdullah bin Mubarak mencari orang bernama Muwaffaq. Ternyata Muwaffaq adalah seorang lelaki tukang sol sepatu yang telah bertahun-tahun mengumpulkan uang untuk bekal melaksanakan haji. Suatu saat, istrinya minta dibelikan makanan. Tak sulit bagi Muwaffaq menemukan makanan yang diminta istrinya. Ketika hendak pulang, Muwaffaq tertarik dengan kepulan asap yang keluar dari dapur rumah seorang tetangganya. Setelah mengucap salam, Muwaffaq masuk ke rumah itu. Apa yang didapatinya? Seorang perempuan tua dan beberapa anak yatim sedang memasak daging keledai. Menurut perempuan tua itu, yang ia masak adalah bangkai keledai. Ia terpaksa melakukannya karena telah beberapa hari tak ada yang bisa dimakan.

Mendengar jawaban itu, Muwaffaq segera pulang menemui istrinya. Didapatinya sang istri tak bernafsu lagi dengan makanan hasil pencarian suaminya. Muwaffaq gembira dan lantas menceritakan kejadian yang baru saja dilihatnya. Akhirnya keduanya sepakat bawah tabungan mereka sejumlah 300 dirham yang semula mau digunakan sebagai bekal haji, diserahkan kepada perempuan tua yang menanggung beberapa anak yatim itu. “Aku telah menunaikan ibadah haji di depan rumahku,” ucap Muwaffaq kemudian sambil menengadahkan kedua tangannya ke langit.

Kisah tersebut menarik untuk direnungi. Dalam Islam, pahala tak bisa dinilai semata dari kuantitas, tapi juga harus memperhatikan kualitasnya. Secara kualitas, mereka yang berangkat ke Tanah Suci, melakukan thawaf, sai, wukuf di Arafah dan rangkaian ibadah haji lainnya, tentu lebih besar dibandingkan dengan orang yang “hanya” memberi makan tetangganya. Padahal, dalam kisah di atas, Muwaffaq baru pertama kali ingin berhaji. Bagaimana dengan mereka yang sudah berulang-ulang?

Imam al-Ghazali dalam karya magnum opus-nya, Ihya’ Ulumuddin dengan keras dan lantang mengritik para haji, baik yang melakukannya untuk kali pertama, maupun yang ingin mengulanginya. Terhadap mereka yang berangkat haji untuk kali pertama, al-Ghazali melontarkan kritiknya. Menurutnya, di antara mereka banyak yang berangkat tanpa lebih dulu membersihkan jiwa dan hati. Mereka banyak yang mengabaikan aspek-aspek ibadah haji yang berdimensi psikis maupun etis. Ketika tiba di Tanah Suci, mereka tak mampu menjaga kesucian diri untuk tidak menzalimi orang lain ketika thawaf, mengolok-olok, dan berkata keji.

Kritik yang disampaikan al-Ghazali itu, sebenarnya sangat relevan dan signifikan bagi kondisi bangsa yang kini dihadapkan pada persoalan kemiskinan akibat krisis berkepanjangan. Lalu, mungkinkah hukum haji ulang itu bergeser dari sunnah menjadi makruh, atau bahkan haram?

Secara umum, ada beberapa alasan pengulangan pelaksanaan ibadah haji. Pertama, mengulangi haji semata-mata untuk memperbanyak amalan sunnah. Kedua, mengulangi karena haji yang pertama terasa belum sah lantaran ada beberapa syarat dan rukun yang mungkin tak sempat atau lupa dijalankan. Ketiga, mengulangi ibadah haji karena gengsi dan ikut-ikutan.

Dua kategori terakhir itulah yang relevan dengan kritik al-Ghazali pada mereka yang kemaruk melaksanakan ibadah haji. Mayoritas umat Islam Indonesia, bahkan yang hidup di tengah komunitas Muslim mancanegara, sampai detik ini masih memutlakkan wajibnya haji pertama, dan sunnah bagi yang bermaksud mengulanginya. Pandangan ini, disebabkan mayoritas umat Islam tak memiliki pengetahuan cukup memadai tentang thuruq al-istimbath al-ahkam (metode-metode pengambilan hukum), seiring ketidakberdayaan mereka dalam memahami ajaran Islam secara benar, integral, dan komprehensif. Selama ini yang diketahui masyarakat, ibadah haji hukumnya wajib dan sunnah bagi yang mengulanginya. Mereka belum pernah menemukan hukum haji yang berulang kali itu, makruh, atau bahkan haram, misalnya.

Para ulama menetapkan hukum wajib dan sunnah itu karena mendasarkan pikirannya kepada nash yang dianggapnya qath’i (pasti). Ini sebagaimana platform-Nya, “Allah mewajibkan atas manusia untuk menyengaja bait (pergi ke Baitullah menunaikan ibadah haji) bagi yang mampu mengadakan perjalanan ke sana,” (QS Ali Imran: 97).

Sedangkan penetapan hukum sunnah didasarkan pada hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad, “Barangsiapa ingin menambah atau mengulangi ibadah haji itu hukumnya sunnah. “Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Jabir, Rasulullah saw bersabda, “Tiada balasan apapun bagi haji mabrur kecuali surga. Ditanya kepadanya, apa makna mabrur itu? Dijawab, suka memberi makanan (bantuan sosial) dan selalu lemah lembut dalam berbicara.”

Tak heran kalau Ibrahim bin Yazid al-Nakha’i, seorang tabiin yang lahir 46 H (666 M) dan hidup pada era pemerintahan Bani Umayyah, pernah mengeluarkan sebuah fatwa, “sedekah itu lebih baik daripada haji sunnah.” Dengan demikian, mengulangi ibadah haji sesudah haji pertama hukumnya makruh.

Karena itu, pengulangan ibadah haji yang disebut oleh hadits di atas sebagai “sunnah”, bisa saja bergeser menjadi “makruh”, dan atau bahkan “haram” apabila realita bertentangan dengan maslahat (kebaikan) yang ditetapkan secara qath’i (pasti).

Memelihara anak yatim dan menyantuni fakir miskin, yang disebut berkali-kali sebagai program pengentasan kemiskinan oleh al-Quran, merupakan mashlahat yang qath’i (pasti) dan amat mendesak ketimbang menunaikan haji sunnah yang berulang. Menyerahkan dan mendayagunakan haji sunnah (haji ulang) bagi mereka yang membutuhkan, jelas merupakan maslahat yang berimplikasi positif. Ini amat relevan dan signifikan buat kondisi bangsa Indonesia yang kini secara objektif sedang dihadapkan pada persoalan kemiskinan akibat krisis berkepanjangan.

Mengingat secara kuantitatif umat Islam Indonesia mayoritas, maka problem kemiskinan merupakan urusan umat Islam itu sendiri. Karena itu, kepada kaum Muslim yang telah meraih gelar “haji” dan berkeinginan untuk melaksanakan lagi kali kedua dan seterusnya, sebaiknya berpikir. Secara kalkulasi pahala, memikirkan ulang keinginan berhaji juga bisa dijelaskan. Kalau saja kita berhaji tiga kali kemudian meninggal, maka tak ada lagi nilai tambah atau pahala bagi ibadah kita. Berbeda bila kita cukup berhaji sekali saja, lalu dana yang dua kali, didayagunakan untuk beasiswa bagi yang miskin, dan orang-orang yang kreatif serta produktif, kita akan tetap memperoleh pahala yang selalu berkesinambungan, meski kita telah terbujur kaku di liang kubur.

Memang, dalam al-Qur’an ibadah haji yang dipelopori Nabi Ibrahim, wajib hukumnya. “Serukanlah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segala penjuru yang jauh,”(QS al-Hajj: 27). Dalam ayat lain Allah menyatakan, “Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Tuhan,” (QS Ali Imran: 97).

Namun sebagian besar dari kita mungkin cenderung memandang ibadah haji sebagai ritual individu, bukan ritual politik komunal. Sehingga dalam praktiknya seakan-akan suatu keimanan seseorang belum mumpuni kalau belum berhaji. Umat pun berlomba-lomba mengumpulkan uang dan habis hanya untuk biaya haji.

Menyejahterakan rakyat memang tugas pemerintah. Tapi, mungkinkah menunggu tindakan pemerintah di saat sebagian besar dana APBN didapat dari mengutang dan digerogoti KKN seperti sekarang? Akhirnya, bila dana yang dikeluarkan untuk berhaji ulang, disalurkan guna menolong mereka yang membutuhkan, manfaatnya akan lebih besar. Dana yang tersalurkan akan menetes terus ke bawah, menyebar ke samping dan mengalirkan pahala berlimpah. Ganjarannya bukan 10, tapi lebih dari 700 kali lipat. Allah berfirman, “Perumpamaan (manfaat) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir biji yang menumbuhkan tujuh bulir, dimana pada setiap bulir mengandung seratus biji. Allah melipat gandakan bagi siapa saja yang dikehendakinya. Allah maha luas (karunia) dan maha tahu,” (QS Al-Baqarah: 261).

Categories: ARTIKEL HAJI

Komentar

Komentar