Diantara episode haji yang memerlukan perhatian khusus adalah ritual usai wukuf. Usai wukuf, jamaah akan bergerak ke Muzdalifah. Bermalam disana dan kemudian bergerak ke Mina untuk melempar Jumrah Aqabah, lalu melanjutkan dengan tawaf ifadhah. Kemudian jamaah akan kembali ke Mina untuk mabit, hingga tanggal 12 Dzulhijjah (disebut dengan Nafar Awwal) atau hingga tanggal 13 Dzulhijjah (disebut Nafar Tsani).

Pernah rombongan jamaah kami membenahi tenda dan barang-barang, dan tak lupa membawa sisa daging ayam karena jika ditinggal begitu saja, khawatir dihukumi mubazir atau tak bersyukur atas nikmat Allah. Karena itu, barang bawaan kami pun sedikit bertambah isinya: Buah-buahan, jus dan daging ayam.

Kami memilih berjalan dari Arafah menuju Muzdalifah. Ketika rombongan baru berjalan sekitar 15 menit dan melalui dan melalui sebuah sungai pasir (bentuknya seperti sungai, tapi kering kerontang), hujan gerimis mulai turun. Hujan itu tampaknya tidak segera reda dan bukannya berkurang, melainkan malah terus bertambah. Dalam rombongan kami terdapat tiga orang ibu yang berusia sekitar 60 tahun, beberapa dengan keluhan rematik di kaki. Maka perjalanan diprogramkan untuk santai saja. Jika ada yang merasa kelelahan, semua akan berhenti untuk beristirahat. Namun, kami sama sekali tak terhitungkan hujan!

Lalu saya bertanya kepada para ibu yang luar biasa itu, “Kalau ibu-ibu merasa tidak nyaman oleh hujan ini dan khawatir sakit, tidak mengapa kita istirahat saja dan mencoba mencari tempat berteduh, “kata saya sambil berpikir tempat yang cocok untuk berteduh. Dalam hati saya berkata, paling juga kami membongkar lagi kain parasut bekas tenda.

Ketika saya berpikir keras, Ibu Rosika mewakili jamaah yang lain berkata, “Pak Budi, jangan khawatir, kami tidak apa-apa. Malah kami senang bisa kehujanan di Arafah. Tidak terbayangkan sebelumnya kami bisa dikirim hujan seperti ini, di Tanah Suci yang sebelumnya terbayang hanya panas terik. Kami ridha dan sangat bahagia bisa hujan-hujanan di Makkah,” jawab Ibu Rosika berapi-api.

Allahu Akbar! Jika seorang hamba ingat kepada Allah, Allah ingat kepadanya. Jika hamba itu ridha, Allah pun ridha kepadanya. Ingat dan ridha kepada Allah, tampaknya akan membuat  apa pun yang hadir dalam hidup kita menjadi bernilai positif. Benarlah sabda Rasullullah Saw., “Ajaib keadaan seorang mukmin. Jika ditimpa musibah, dia bersabar, dan jika mendapat kebahagiaan, dia bersyukur.”

ibu rosida dan kawan-kawan tampaknya sedang “mabuk kepayang” pada cinta Allah. Mereka tidak merasakan apa pun kecuali kebahagiaan dan rasa syukur yang mendalam karena Allah telah memberikan kesempatan berhaji den menjamu mereka di Padang Arafah dengan jamuan kebahagiaan. Hujan yang turun benar-benar dirasakan sebagai kenikmatan. Maka kami pun terus berjalan menuju Muzdalifahuntuk bermalam menunggu esok subuh dan mengisi perjalanan sepanjang Arafah-Muzdalifah dengan zikir, doa, dan istigfar.

Di muzdalifah kami beristirahat usai menunaikan shalat magrib dan isya. Kami lalu mengumpulkan batu untuk melempar jumrah. Banyak jamaah lain, dalam rombongan yang lebih besar, juga bermalam disekitar kami. Mereka berjamaah magrib dan isya dalam keadaan berkain ihram, di bawah langit Muzdalifah yang sudah kembali terang.

Sangat indah menyaksikan pemandangan itu: Sekelompok orang bertakbir, lalu ruku’ dan sujud bersama, kemudian berdoa usai shalat. Dalam keadaan berkain ihram, dalam perjalanan usai wukuf di Padang Arafah, menuju Mina dan Makkah. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar.

Saya sangat terpesona sehingga tidak dapat menahan perasaan ingin memotret sekelompok jamaah asal Iran yang sedang shlat berjamaah. Saya mengambilnya diam-diam, agak berjarak. Namun rupanya perbuatan saya ada yang melihat. Usai shalat, salah seorang jamaah itu mendekati saya dan bertanya dalam bahasa inggris: You make foto? Saya menjawab Yes. Dia kemudian berkata: Foto haram! Saya menjawab: For you haram, for me No ! Jawaban yang kemudian saya sesali. Meski saya menjawabnya dengan tetap tersenyum dan dia pun kemdian berlalu, saya tetap menyesalinya sebagai sebuah sikap yang kurang ajar. Setidaknya saya khawatir, saudara saya sesama jemaah haji itu menganggap kami, jemaah haji indonesia, tidak tahu etika : memotret orang lain tanpa izin. Ya Allah maafkanlah kesalahanku ini.

Usai bermalam di Muzdalifah, kamipun meneruskan perjalanan menuju mina dengan kondisi yang lebih segar karena istirahat yang cukup disana. Kami tiba di mIna dalam keadaan sudah terang. Kami berkumpul disekitar toilet, mengumpulkan ransel-ransel kami, dan membagi kelompok untuk bergantian melempar jumrah. Sebagian besar melempar jumrah Aqabah, sementara beberapa orang bertugas menjaga barang-barang kami.

Saya bertugas mengawal para ibu, termasuk diantaranya ibu Rosika, seorang karyawati PT yang bergabung karena ingin melaksanakan tanazul (ke Mina terlebih dahulu sebelum ke Arafah).

Melempar jumbrah ketika itu sangat padat. Oleh karena itu, kami memilih tetap melempar dilantai dasar. Kami bergerak perlahan mengikuti arus manusia yang sebagian seperti tak hendak melihat pada yang lain : Tatapannya terfokus pada Jumrah Aqabah, simbol setan yang akan segera dihancurkan dengan batu dari Muzdalifah, batu terbaik yang disepuh denagan sepuhan keikhlasan !

Saya dan regu terus bergerak, berusaha menghindari tabrakan dengan jamaah yang melawan arah, sambil tetap berusaha mendekati Aqabah, hingga jarak aman untuk melempar. Ini hal yang tidak terlalu mudah karena semua orang ingin bergegas, dan beberapa tampak begitu barnafsu, seperti pemburu tak mau kehilangan buruannya.

Ketika sudah berada dalam jarak yang baik, kami pun mulai melemparkan batu ke arah Jumrah Aqabah. Mulut kami merintih dan berucap : Bismillah Allahu Akbar. Lalu tangan kami melemparkan batu yang telah kami sepub dengan doa. Satu demi satu batu kami lemparkan, sambil mulut terus berucap : Bismillah Allahu Akbar.

Prosesi melempar Jumrah adalah sebuah ibadah ritual yang diajarkan Rasulullah Saw. Sebagai ibadah Mahdha, tentu kita tak hendak mempersoalkannya lagi. Namun menggali hikmah dibalik itu, tentu saja bermanfaat agar ritual melempar Jumrah dapat berbekas secara positif terhadap jiwa kita.

Diantara hikmah yang saya temukan adalah : ketika kita melempar Jumrah, sejatinya kita sudah memerangi hawa nafsu dan setan yang bersemayam dalam diri kita, ketika kita melempar Jumrah, kita sedang melemparkan sifat-sifat setan yang ada dalam diri kita. Kita bersihkan diri dengan melemparkan kebusukan kita; kita bersihkan jiwa dengan tunduk patuh pada perintah Allah. Allah perintahkan kita melempar Jumrah, kitalakukan dengan ketaatan. Dan pada saat yang sama, kita renungkan kebusukan dan kejelekan kita; kita campakkan semua itu di Mina. Kita hapus sifat jelek kita dengan batu yang kita kumpulkan di malam hari Muzdalifah! Bismillah Allahu Akbar!

Usai melempar Jumrah, kami bergegas meninggalkan Aqabah, menuju tempat istirahat, posko rombongan kami. Namun dalam hiruk-pikuk yang amat sangat, Ibu Rosika kehilangan sepatunya. “Pak Budi, sepatu saya hilang,” katanya sambil berusaha mencari-cari. Saya segera membaca situasi yang berbahaya, tapi tak ingin membuat Ibu Rosika lebih panik, maka saya katakan, “kalau kaki Ibu tentu masih ada?” canda saya yang dijawab Ibu Rosika, “ya ada atuh pak, Alhamdulillah.” Lalu saya segera meminta Ibu Rosika untuk melupakan sepatunya dan terus bergerak bersama kami untuk keluar dari kerumunan lautan manusia disekitar Aqabah, menuju posko.

Setiba di posko, kami saling berucap syukur karena telah usai melempar Jumrah hari pertama. Kami lalu bersiap menuju Makkah untuk melaksanakan tawaf Ifadha. Ibu Roska tak lupa menceritakan sepatunya yang hilang. Semua menghibur dengan mengatakan “Biarlah sepatu hilang asal kaki utuh dan ibadah lancar.” Ibu Rosika pun membeli sandal yang banyak di jual disekitar Mina. Maka kami pkun segera menuju Makkah, menuju terminal bus disekitar jamarat (sekarang sudah tidak ada).

Ketika kami sudah berjalan sekitar 5 menit, di antara aru smanusia yang padat, berjarak puluhan meter dari lokasi Jumrah Aqabah, tiba-tiba Ibu Rosika yang tepat berjalan didepan saya berteriak, “Pak, ini sepatu saya ketemu!” saya melihat dengan takjub. Di tengah kerumunan manusia yang bergerak tergesa-gesa menuju Makkah, dihadapan Ibu Rosika teronggok sepasang sepatu dengan rapinya, menghadap kearah Ka’bah, tempat kami menuju.

Di tengah keterkejutan saya mash bertanya, “Bagaimana Ibu yakin itu sepatu Ibu?”.

“Saya hafal betul, ini kotor dan sudah agak jelek. Ini bukan sepatu baru. Saya sengaja membawanya dari Tanah Air,” jawab Ibu Rosika sambil masih memandang sepatunya.

Allahu Akbar, bagaimana prosesnya; sepatu yang hilang ketika kami berdesak-desakan disekitar Jumrah Aqabah, lalu ditemukan di tengah jalan menuju terminal yang terpisah puluhan meter jauhnya. Lagi pula, sepatu itu seperti diletakan oleh tangan yang tak terlihat: diletakan dengan rapi mengarah ke Ka’bah, arah yang sedang kami tuju. Ibu Rosika lalu mengambil sepatunya dengan rasa bersyukur dan takjub atas kebesaran Allah! Dipeluknya sepapatunya dengan berlinang air mata. Saya yakin bukan karena semata-mata sepatu itu kembali yang membuat Ibu Rosika menangis haru, tapi perasaan dan keyakinan bahwa sepatu itu dikembalikan Allah untuknyalah yang membuat Ibu Rosika begitu terharu. Hingga saat ini, jika kami bertemu dan mengingat kisah sepatu ini, air mata Ibu Rosika tetap menetes. Allahu Akbar!

Haji memang membuat jarak kita dengan Allah jadi sangat dekat. Ketika melaksanakan Ibadah haji, Allah menjadi begitu dekat, begitu nyata! Sepatu kembali, meski jelek, namun dirasakan sebagai karunia dan kasih sayang Allah yang amat besar. Kebahagiaan bukan diperoleh dari seberapa banyak harta yang dimiliki, melainkan berasal dari sebarapa besar rasa syukur kita atas karunia Allah kepada kita. Kebahagiaan berasal dari seberapa dekat kita dengan Allah. Kebahagiaan diperoleh dari kemampuan merasakan kehadiran Allah dalam hidup kita.

Komentar

Komentar