Berhaji.com

Ibadah haji adalah dambaan setiap hamba. Namun, berbagai kondisi bisa menghalangi seseorang untuk menunaikan ibadah haji langsung ke Makkah. Seseorang yang memiliki uzur untuk berangkat haji kadang menunjuk seseorang untuk berangkat haji menggantikan dirinya. Hal ini kerap disebut dengan badal haji. Niat dan ibadah hajinya diperuntukkan bagi seseorang yang batal berangkat dan mengamanahkannya kepada orang lain. Soal ibadah haji, adakah syarat-syarat khususnya?

Badal haji menjadi perbincangan di kalangan fukaha. Ada yang berpendapat tidak bisa dibadalkan karena seseorang akan dihisab, karena amal perbuatannya sendiri. Ada juga yang membolehkan sebab ada nash khusus dalam hadits yang mengizinkan seseorang menghajikan orang lain.

Bagi yang berpendapat bahwa badal haji tidak sah, berpegang kepada beberapa ayat Al-Quran. Di antaranya surah Al-Baqarah ayat 286. “…ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya, dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya..”

Dalam ayat lain, Allah SWT berfirman, “(Yaitu) Bahwasanya seseorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Dan bahwasanya seseorang manusia tidak memperoleh seseuatu selain dari apa yang telah diusahakannya.” (QS. An-Najm [53]: ayat 38-39).

Sementara bagi yang membolehkan mengambil dalil dari beberapa hadits sahih soal badal haji. Di antaranya, dari Ibnu Abbas ra bahwa seorang wanita dari Juhainah datang kepada Nabi SAW dan berkata, “Ibu saya telah bernazar untuk pergi haji, tapi belum sempat pergi hingga wafat, apakah saya harus berhaji untuknya? Rasulullah SAW menjawab, “Ya pergi hajilah untuknya. Tidakkah kamu tahu bila ibumu punya utang, apakah kamu tahu bila ibumu punya utang, apakah kamu akan membayarkannya? Bayarkanlah utang kepada Allah karena hutang kepada-Nya lebih berhak untuk dibayarkan.” (HR. Bukhari).

Dalam hadits lain, seorang wanita dari Khas`am berkata kepada Rasulullah SAW, “Ya Rasulullah sesungguhnya ayahku telah tua renta, baginya ada kewajiban Allah dalam berhaji, dan dia tidak bisa duduk tegak di atas punggung onta,” Lalu Nabi SAW bersabda, “Hajikanlah dia.” (HR Muslim).

Lalu, apakah yang membadalkan haji harus berangkat dari negara orang yang digantikan ataukah bebas dari mana saja? Jumhur Ulama (mayoritas ulama) membolehkan orang yang menggantikan haji bebas berangkat dari negara mana saja. Tidak harus dari asal orang yang digantikan.

Namun, ada ulama dari kalangan Hanabilah yang mempersyaratkan bahwa haji yang digantikan oleh orang lain itu harus dilakukan dengan berangkat dari negeri orang tersebut. Karena menurut mereka, kewajiban haji bagi orang tersebut adalah dari negerinya, maka bila karena suatu alasan harus digantikan oleh orang lain, harus juga berangkat dari negeri tempat dia tinggal.

Soal ibadah haji, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. pertama, yang menghajikan harus sudah haji. Kedua, niat untuk orang yang dibadali. Ketiga, diniatkan untuk membayat utang bukan menggantikan amal. Keempat, seseorang hanya dapat membadali untuk satu orang, karena ihram itu untuk sekali haji dan menyebut nama satu orang. Kelima, pelaksanaan badal oleh naib (anak atau saudara) harus sukarela bukan terpaksa. Keenam, biaya badal haji dari kekayaan orang yang membadali, kecuali anak atau saudara sukarela membiayai.

Yang perlu diperhatikan bersama adalah komersialisasi badal haji. Ada orang-rang yang menawarkan jasa badal haji, tapi ternyata dia menerima tawaran badal haji dari beberapa orang. Sehingga badal hajinya tidak sah.

Komentar

Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>