Tulisan ini adalah lanjutan dari Hidangan Makanan di Arafah Terasa Nikmat (Part-1)

Setiba di Arafah, Pak Anis mengeluarkan simpanannya: Dua lembar kain parasut yang sangat lebar, seutas tambang sepanjang sekitar 6 meter, dan bambu yang berfungsi sebagai patok untuk mengukuhkan kain parasut yang pada ujungnya sudah diberi ring. Kami mencari lokasi yang terdapat dua pohon. Kami menemukannya dekat dengan dapur, toilet dan kemah besar milik orang arab. Praktis sekali: Kami mengikatkan tambang diantara dua pohon, lantas kain parasut disampirkan di atasnya, sementara ujungnya dipancangkan dengan patok bambu melalui ring yang ada di ujung dan tepi kain parasut. Dalam hitungan kurang dari satu jam, tenda yang bisa menampung sekitar dua puluh jamaah pun telah siap. Kami segera memasukinya, menggelar tikar, dan bersiap untuk melaksanakan wukuf.

Usai shalat zuhur, Haji Anis berkhutbah, khutbah Arafah yang membuat kami bertafakur merenungi dosa dan maksiat yang pernah dilakukak. Merenungi betapa banyak perintah Allah yang belum dilaksanakan. Air mata menetes, bahkan tertumpah di sela-sela tangis di Arafah. Bahkan, Allah mengirimkan hujan ketika itu yang membuat kami semakin haru: diperciki hujan di Arafah, serasa diguyur sejuta nikmat dari surga.

Usai khutbah, rasa lapar mulai terasa. Jamaah koboi- karena paspor hijau-memang tidak termasuk yang dilayani oleh Muassasah Asia Tenggara sebagai mitra Depag RI untuk melayani jamaah, termasuk makan dan minum selama wukuf di Arafah dan selama melempar Jumrah di Mina. Kami memang sudah menyiapkan makanan kecil dan air secukupnya yang kami simpan dalam tas. Namun, Allah yang Maha Menyantuni tak mau membiarkan kami menjadi haji tanpa kegembiraan, atau tepatnya: Allah Yang Mahakaya tak akan membiarkan kita kelaparan.

Seorang pengemis masuk ke tenda dan meminta sedekah kami. Pengemis itu seorang wanita, tinggi sekitar 170 cm, usia sekitar 60-an, berpakaian lusuh tapi bersih, wajahnya memancarkan sesuatu yang sulit diungkapkan. Kami semua tak terkecuali, saling berlomba memberikan sedekah. Saya pun mengambil uang dari ikat pinggang haji saya, dan segera saya berikan kepada perempuan itu. Usai menerima sedekah, pengemis itu melontarkan ucapan terima kasih dan kemudian berlalu ……

Tidak lama kemudian, masuk seorang laki-laki bangsa Arab ke tenda kami, dia menatap kami satu per satu. Kami belum tahu apa maksudnya sehingga kami pun hanya tersenyum kepadanya. Ini juga sebagai pengganti bahasa karena hanya Pak Anis yang fasih berbahasa arab di antara kami. Lantas dia keluar dan tidak lama kemudian dia masuk lagi. Kali ini, laki-laki itu masuk dengan tangan penuh oleh-oleh: air mineral sera aneka jus. Dia keluar lagi sebelum kami sempat berterima kasih.

Tak lama kemudian, dia masuk lagi dan kali ini membawa hidangan yang sangat istimewa: Sajian kurma yang sangat lezat yang disajikan di atas nampan yang bersih. Kami serasa mendapat kiriman langsung dari Allah. Beberapa di antara kami mulai memakan kurma sambil meneteskan air mata haru. Bagaimana tidak? Kami bermimpi untuk dijamu sedemikian hebat, sebab kami hanya sekelompok jamaah biasa yang bertenda di antara dua pohon, berteduh dari terik matahari dengan berbekal kain parasut yang disampirkan diatas seutas tambang. Jika kemudian Allah memberikan jamuan seperti ini, rasa syukur rasanya tak pernah cukup untuk membalas segala kebaikan Allah kepada kami.

Di tengah suasana haru, saya dan beberapa jamaah masih sempat bercanda. Saya pun menyahut, “Wah, kalau ada nasi ayam, pasti lebih lezat.” Jamaah lain hanya tersenyum mendengar canda saya dan Haji Maman. Dengan ucapan itu, saya benar-benar bercanda, dan insya Allah bukan karena merasa tidak puas atas jamuan Allah yang sudah ada. Tapi hanya bergurau sambil membayangkan nasi ayam yang lezat.

Tak lama kemudain, laki-laki Arab yang sedari tadi menjadi “kurir Allah”untuk mengirimkan makanan kepada kami, masuk lagi kedalam tenda. Kali ini dia tidak membawa apa-apa. Namun, dia sepertinya menghitung ulang jumlah kami. Kami semua terdiam melihat wajahnya yang serius. Lalu dia keluar dan tak lama kemudian masuk lagi.

Subhanallah, lihatlah apa yang dia bawa: 4 bungkus besar nasi ayam, atau tepatnya ayam nasi. Setiap bungkus berisi 8 ekor ayam dan nasi yang dimasak dengan kuning khas Arab. Dia melakukannya di tenda kami dan berkata: Haji, halal, haji. Barakallah!

Saya tak mampu membendung air mata lagi: kami hanya bercanda meminta nasi ayam, tetapi Allah justru mengirimkan ayam nasi yang sangat berlimpah. Tiga puluh dua potong ayam untuk kami yang hanya sekitar 20 orang. Di tengah padang Arafah, di antara isak tangis, kami menyantap ayam kiriman Allah melalui saudara kami dari bangsa Arab yang dermawan.

Isak tangis saya tak henti-henti bahkan ketika mulai makan, Pak Isnu bertanya, “kenapa menangis terus, Mas Budi?”.

Saya pun menjawab “Pak, saya sangat terharu dengan kiriman ayam nasi ini. Lalu saya teringat anak sulung saya, Ahmad. Dia sangat suka ayam. Bahkan, setiap makan harus dengan ayam goreng. Setiap makan, dia bisa menghabiskan dua sampai tiga potong ayam. Di Arafah ini Allah mengirimkan ayam kepada saya. Ini membuat saya ingat pada anak dan istri di Tanah Air. Semoga suatu ketika, saya bisa berhaji dengan mereka. Bertafakur di Padang Arafah, bermunajat dan memohon kepada Allah. Insya Allah.”.

Di Arafah, tangis kam tertumpah, bersama doa dan harapan semoga Allah memperkenankan segala doa kami dan kelak suatu ketika dapat kembali berhaji bersama istri dan anak-anak. Amin

Inilah Kisah “Masbudpray” Sapaan akrab Ust. Budi Prayitno ketika berhaji untuk yang perama kalinay. Semoga dapat memberikan sepirit keimanan kita, dan lebih menguatkan niat kita untuk berhaji ke tanah suci. Aamiin Yaa Robbal A’alamiin.

Categories: ARTIKEL HAJI

Komentar

Komentar