Tulisan ini mengajak umat islam untuk dapat meresapi makna ibadah haji lebih mendalam. Penting bagi umat islam yang akan pergi haji untuk menggali spiritual ibah haji lebih mendalam, karena ibadah haji adalah rukun islam yang kelima dan hanya diwajibkan sekali seumur hidup. Semoga tulisan ini manjadi jalan bagi umat islam untuk menyelami lautan spiritual ibadah haji. Selamat mambaca dan meresapi lautan spritual ibadah haji.

www.berhaji.com
pergi haji belajar mati

Menurut Ibn Arabi dalam Al-Futuhat Al-Makkiyyah, kita akan kembali pada Allah dengan cara yang berbeda. Ada yang kembali kepada Allah dengan cara terpaksa, disebut ruju idhthirari. Setuju atau tidak setuju, kita semua akan kembali menghadap yang Maha hidup. Proses itulah yang disebut kematian.

Ada pula cara kembali yang lain. Yaitu kita disuruh kembali kepada Allah dengan cara yang tidak terpaksa. Kita kembali dengan sukarela. Cara kembali seperti ini disebut ruju ikhtiyari. Kembali kepada Allah dengan cara seperti inilah yang dilakukan para jamaah haji.

Saya pernah melihat sepasang suami-istri, menangis terisak-isak di pangkuan ibu mereka yang telah renta, memohon doa dan ampunan karena merekaakan segera berangkat melaksanakan haji. Mereka ibarat sepasang pengantin baru yang memohon doa kepada kedua orangtuanya untuk mengarungi hidup baru. Padahal mereka tidak muda lagi. Sang suami adalah seorang anggota DPRD Kota Bandung, sementara sang istri adalah pejabat di lingkungan dinas pendidikan Kota Bandung.

Memang, pergi haji selama kurang lebih empat puluh hari (atau sekitar 14-20 hari untuk haji khusus), membuat para jamaah haji belajar untuk berpisah dengan berbagai persoalan duniawi yang selama ini digeluti, dicintai, dikejar-kejar untuk dimiliki, atau dihindari untuk ditemui.

Keluarga yang ditinggalkanbelajar untuk tabah dan mandiri. Wasiat atas harta dan urusan dunia harus diucapkan oleh jamaah haji, disertai sikap tawakal dan istiqomah atas segala kemungkinan yang akan terjadi.

Bukankah urusan kita dengan dunia hanya dua: kita yang meninggalkan atau kita yang ditinggalkan oleh dunia. Maka tepatlah senandung Aa Gym, “. . . barang siapa Allah tujuannya, niscaya  dunia akan melayaninya. Namun siapa saja dunia tujuannya, niscaya akan letih dan pastri sengsara, diperbudak dunia, sampai akhir masa. Astagfirullah . . . .”

Seorang istri Kolonel AD, bernama Lilis, yang suaminya akan berangkat haji dengan kedua orangtuanya, ketika ditanya, “Apakah ibu ridha karena suami akan berangkat haji dengan orangtuanya (mertua ibu)? Apakah ibu siap melepas mereka dengan doa yang tulus?”

“Saya siap,” jawab ibu Lilis sambil mengusap air mata yang menetes membasahi kedua pipinya. “Saya sering melepas suami bertugas keluar negeri, tapi rasanya tidak seperti saat ini. Melepas suami berhaji rasanya memang sedang belajar berpisah selama-lamanya . . . .”

 

Dua tahun kemudian, Allah mengundang ibu Lilis ini ke Makkah, yang sedianya akan ditemani anak laki-lakinya. Namun karena sang anak diterima di Akabri, diusahakanlah agar sang suami bisa berangkat menemaninya. Tapi tidak bisa juga. Maka, Ibu Lilis berangkat haji tanpa ditemani suami atau anak. Air matanya juga menetes ketika harus meninggalkan suami dan anak-anak tercinta.

Lain lagi dengan kisah seorang mantan anggota dewan yang juga aktivis organisasi sepak bola nasional. Dia merasakan getaran luar biasa yang menyebabkannya tidak punya pilihan lain kecuali tunduk dan patuh pada kekuatan dan kekuasaan Allah, termasuk jika dia harus mati di Tanah Suci.

Dia berujar, “Saya sangat bersyukur pada Allah atas kesempatan berhaji tahun ini. Saya sebenarnya malu; malu pada Allah. Dulu, saya mendapat dua kali tawaran berhaji, tapi tidak saya terima. Dulu, saya sangat mampu secara materi, tapi saya tidak berhaji. Sekarang saya berhaji apa adanya . . . dengan bekal pas-pasan, sementara usia tidak lagi muda dan fisik tidak sesehat dahulu. Saya siap jika Allah menakdirkan saya tidak kembali ke tanah air. Saya siap …,” ujarnya disebuah mushala kecil di kantor PSSI Komda Jawa Barat. Ketika tulisan ini dibuat, saya masih menantikan kedatangannya dari Tanah Suci. Bukan untuk meminta oleh-oleh kurma dan kacang arab, melainkan menanti berbagai kisah menakjubkan yang menggetarkan hati, mendekatkan kita pada Allah, kisah dari Hamba yang kembali dari Tabnah Suci, padahal dia siap jika mati.

Komentar

Komentar