Assalamualaikum sahabatku yang selalu ada dalam ridho allah, bagaimana persiapannya menjelang perayaan idul adha…? Ketika kita mendengar kata idul adha atau lebaran haji tentu yang kita ingat terlebih dahulu adalah saat dimana seluruh umat muslim berupaya mengumpulkan rupiah untuk memburu binatang kurban untuk disembelih dihari raya idul adha tersebut, dan bagi yang belum berkesempatan untuk melaksanakan kurban tentu yang dipikirkan akan mendapatkan daging dari perayaan idul adha tersebut.

Pada umumnya realita tersebut yang sering kali terjadi di setiap perayaan idul adha atau lebaran haji, terkadang kita hanya antusias dalam perayaannya saja tampa paham mengenai penertian, kandungan ataupun manfaat dari hari raya idul adha itu, oleh karena itu mari kita kaji dan dan kita bahas terlebih dahulu mengenai idul adha atau lebaran haji tersebut.

Idul Adha pada setiap tanggal 10 Dzulhijjah juga dikenal dengan sebuatan “Hari Raya Haji”, dimana kaum muslimin yang sedang menunaikan haji yang utama, yaitu wukuf di Arafah. Mereka semua memakai pakaian serba putih dan tidak berjahit, yang di sebut pakaian ihram, melambangkan persamaan akidah dan pandangan hidup, mempunyai tatanan nilai yaitu nilai persamaan dalam segala segi bidang kehidupan. Tidak dapat dibedakan antara mereka, semuanya merasa sederajat. Sama-sama mendekatkan diri kepada Allah Yang Maha Perkasa, sambil bersama-sama membaca kalimat talbiyah.

Disamping Idul Adha dinamakan hari raya haji, juga dinamakan “Idul Qurban”, karena pada hari itu Allah memberi kesempatan kepada kita untuk lebih mendekatkan diri kepada-Nya. Bagi umat muslim yang belum mampu mengerjakan perjalanan haji, maka ia diberi kesempatan untuk berkurban, yaitu dengan menyembelih hewan qurban sebagai simbol ketakwaan dan kecintaan kita kepada Allah SWT. (Baca juga: Pengertian Qurban Secara Lengkap dengan Penjelasannya).

Jika kita menengok sisi historis dari perayaan Idul Adha ini, maka pikiran kita akan teringat kisah teladan Nabi Ibrahim, yaitu ketika Beliau diperintahkan oleh Allah SWT untuk menempatkan istrinya Hajar bersama Nabi Ismail putranya, yang saat itu masih menyusu. Mereka ditempatkan disuatu lembah yang tandus, gersang, tidak tumbuh sebatang pohon pun. Lembah itu demikian sunyi dan sepi tidak ada penghuni seorangpun. Nabi Ibrahim sendiri tidak tahu, apa maksud sebenarnya dari wahyu Allah yang menyuruh menempatkan istri dan putranya yang masih bayi itu, ditempatkan di suatu tempat paling asing, di sebelah utara kurang lebih 1600 KM dari negaranya sendiri palestina. Tapi baik Nabi Ibrahim, maupin istrinya Siti Hajar, menerima perintah itu dengan ikhlas dan penuh tawakkal.

 

 

 

Komentar

Komentar