Ibadah haji adalah ibadah yang penuh dengan nilai-nilai spiritualaitas. Sebagai rukun islam yang kelima, ibadah haji memiliki amaliah-amaliah khusus yang menjadi rukun dan syarat ibadah haji. Talbiyah dan ihram merupakan salah satu rukun dalam pelaksanaan ibadah haji. Talbiyah dan ihram memiliki nilai-nilai spiritualitas yang wajib direnungi oleh semua umat islam. Semoga tulisan ini menjadi pengantar bagi umat islam dalam meresapi makna yang terkandung dalam pelaksanaan ibadah haji.

Talbiyah dan Ihram

Labbaika allahumma labbaik, labbaika la syarika laka labbaik, innal hamda wanni’mata laka wal mulka la syarika laka.

            Lafal talbiyah inilah yang sanggup mengetarkan hati jutaan anak manusia yang berjalan menuju Makkah menuju Arafah, dalam perjalanan umrah dan haji.

Ketika kita mengenakan kain ihram, yang hanya 2 lembar kain tidak berjahit bagi laki-laki, kita seolah-olah sedang diingatkan oleh Allah bahwa sesungguhnya kita adalah hamba yang tidak memiliki apa-apa bahkan, dua lembar kain yang kita kenakan dengan gemetar itu adalah juga pemberian Allah. Bukankah tangan yang erat memegangnya dan jasad yang kita ditutupinya, juga adalah milik Allah?

Pada saat kita berniat umrah atau haji, berarti kita tengah berusaha menunjukkan ketaatan kita kepada Allah, seperti ketaatan Ibrahim a.s., Siti Hajar a.s. Dan Ismail a.s. Dengan bergetar bibir kita melafalkan talbiyah. Labbaika allahumma labbaik labbaika la syarika laka labbaik. Aku datang, ya Allah, aku datang, menyatakan kesaksian atas kesucian dan kemuliaan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu, ya Allah. . .

Sebuah hadis meriwayatkan bahwa seorang sahabat yang tengah dalam perjalanan menuju Arafah dalam rangka beribadah haji, terjatuh dari kendaraannya hingga wafat. Rasullullah Saw. memerintahkan para sahabat untuk memandikannya dengan air dan daun serta dikafani dengan kain ihram yang dikenakannya. Nabi Saw. bersabda, “Kelak dia akan dibangkitkan dalam keadaan bertalbiyah . . . ”

Maukah kita bangkin di hari kiamat kelak, sambil bibir kita bertalbiyah dan terus-menerus menyeru kepada Allah? Labbaika allahumma labbaik labbaika la syarika laka labbaik, innal hamda wanni’mata laka wal mulka la syarika laka.

Haji sungguh perintah yang istimewa. Apabila ibadah seperti shaum dijanjikan akan membuat pelakunya meraih ketakwaan, ibadah haji justru harus berbekal takwa. Firma Allah Swt., Berbekallah kamu dan bekal terbaik adalah takwa (QS Al-Baqarah [2]: 197).

Selain itu, secara eksplisit juga ditegaskan oleh Allah agar mereka yang berhaji melakukannya semata-mata karena Allah. Dalam Al-Quran ditegaskan, Diperintahkan semata-mata karena Allah kepada manusia untuk berhaji, bagi mereka yang memiliki kemampuan melakukan perjalanan ke Baitullah. Barang siapa kufur (tidak mau melaksanakan perintah Allah), ketahuilah Allah Mahakaya dan tidak memerlukan sesuatu pun dari semesta alam (QS Ali ‘Imran [3]: 97).

Ya, saya suka bercanda bahwa tidak ada satu rupiah pun dana yang kita setorkan ke bank untuk BPIH yang masuk ke rekening Allah. Dana itu masuk ke rekening Menteri Agama untuk didistribusikan ke perusahaan penerbangan dan trasportasi darat, penyewaan rumah, katering, serta urusan haji lainnya.

Disamping itu, ditegaskan pula agar dalam melaksanakan haji dan umrah, mulanya haruslah semata-mata karena Allah, bukan karena yang lain, bukan karena ingin yang lain. Jika pun kita termotivasi berhaji karena semua keluarga sudah haji dan tinggal kita yang belum, hal itu juga bisa dijadikan pemicu, tetapi hajinya semata-mata harus karena Allah.

Saat kain ihram dikenakan, saat kaki melangkah dari miqat, saat itulah setidak-tidaknya, hati kita disucibersihkan dari segala niat yang lain selain berniat haji semata-mata karena Allah. Setidak-tidaknya saat itulah kita tegaskan komitmen tertinggi kita pada Allah dan berserah diri pada Allah Yang Mahakuasa atas segala sesuatu.


Warning: Invalid argument supplied for foreach() in /home/ber10004/public_html/wp-content/plugins/facebook-like-and-comment/comments.php on line 21