Potret Jema’ah Haji Dari Berbagai Negara Di Dunia

Berhaji.com

Bagi seorang muslim, menunaikan ibadah haji merupakan salah satu keistimewaan dalam beribadah. Apalagi bagi umat muslim di negara selain Arab, menuju ke Mekkah dan Madinah untuk beribadah di hadapan Ka’bah bukanlah persoalan mudah. Berbagai usaha dan perjuangan harus dilakukan untuk sekali perjalanan ibadah haji.

Foto-Foto Menakjubkan Suasana Masjid Nabawi Di Senja Hari

Berhaji – Ada yang unik dari arsitektur Masjid Nabawi, yaitu payung-payung yang tersebar di pelataran masjid yang akan membuka dan menutup secara otomatis setiap pagi dan sore.

Setiap jam 6 pagi payung-payung tersebut secara otomatis akan membuka dan setiap jam 6 sore payung-payung tersebut akan secara otomatis menutup. Suasana ini merupakan salah satu yang paling dinikmati jema’ah haji dan umrah setiap hari.

Suasana langit senja Madinah dari balik payung-payung yang mulai menutup. Berikut inilah potret keindahan suasana Masjid Nabawi saat senja hari yang pasti akan membuat siapapun yang melihatnya ingin datang berkunjung.


Foto-Foto Menakjubkan Suasana Masjid Nabawi Di Senja Hari Foto-Foto Menakjubkan Suasana Masjid Nabawi Di Senja Hari Foto-Foto Menakjubkan Suasana Masjid Nabawi Di Senja Hari Foto-Foto Menakjubkan Suasana Masjid Nabawi Di Senja Hari Foto-Foto Menakjubkan Suasana Masjid Nabawi Di Senja Hari Foto-Foto Menakjubkan Suasana Masjid Nabawi Di Senja Hari Foto-Foto Menakjubkan Suasana Masjid Nabawi Di Senja Hari Foto-Foto Menakjubkan Suasana Masjid Nabawi Di Senja Hari Foto-Foto Menakjubkan Suasana Masjid Nabawi Di Senja Hari Foto-Foto Menakjubkan Suasana Masjid Nabawi Di Senja Hari

Subhanallah, semoga kita termasuk golongan hamba-Nya yang diberi kesempatan untuk berkunjung ke tempat indah ini. Aamiin.

Video detik-detik menutupnya payung di Masjid Nabawi.

Wah, India Buat Aplikasi Anti Hilang untuk Jamaah Haji

Berhaji – Menunaikan Ibadah Haji merupakan kewajiban bagi seorang muslim yang memiliki kemampuan untuk melakukannya. Memiliki kemampuan disini terdiri dari kemampuan fisik, mental dan tentunya kemampuan finansial yang mumpuni. Luar biasanya, meskipun biaya menunaikan ibadah haji terus mengalami peningkatan namun tak mengakibatkan terjadinya penurunan dari jumlah jemaah haji. Sebaliknya, menurut data statistik jemaah haji menunjukan peningkatan di setiap tahunnya.

Dengan banyaknya jemaah haji yang datang disetiap tahunnya, banyak sekali laporan jemaah haji hilang atau tersesat. Untuk mengatasi hal itu, India menciptakan sebuah mobile application yang berbasis internet untuk memudahkan jamaah dalam melaksanakan ibadah haji. Aplikasi tersebut bernama “Indian Haj Accomodation Locator”.

Dengan adanya aplikasi ini, jemaah haji memungkinkan untuk mengakses semua informasi yang berhubungan dengan segala prosesi ibadah haji. Indian Haj Accomodation Locator bisa digunakan pada Android maupun Apple dan dapat diunduh secara gratis di play store atau di Mac app store.

Menggunakan aplikasi ini pun sangat mudah, cukup dengan memasukan cover number jemaah haji atau nomor passport kita akan mendapatkan rinician tentang akomodasi termasuk jumlah bangunan, jumlah tenda atau nomor kantor dan juga peta dari jalur yang biasa digunakan oleh para pejabat dan relawan di Mekkah, Mina atau Madina.


unnamed

Biasanya, jemaah haji asal India akan diberikan kartu SIM yang dapat digunakan saat menunaikan ibadah haji. Dengan begitu para jemaah bisa terus berhubungan dengan pihak konsulat negara untuk mendapatkan pengumuman penting. Indian Haj Accomodation Locator juga dapat memungkinkan keluarga dari jemaah untuk melacak lokasi keberadaan anggota keluarga yang menunaikan ibadah haji.

Wah, sungguh sangat bermanfaat sekali yah. Para jemaah dimudahkan untuk mengetahui informasi tentang lokasi-lokasi di Mekkah, Mina atau Madina. Sehingga dapat memudahkan para jemaah jika terpisah dari rombongan. Semoga, aplikasi tersebut bisa digunakan oleh jemaah haji asal Indonesia juga.

Di Tajikistan, Berhaji Hanya Boleh Dilakukan Mereka yang Berusia 35 Tahun Ke Atas

Berhaji.com – Terhitung mulai tanggal 13 April kemarin, Tajikistan menerapkan peraturan baru bagi warganya yang berniat menunaikan ibadah haji. Pemerintah hanya memperbolehkan mereka yang berusia di atas 35 tahun yang boleh berhaji.

Beberapa isu menghembus akibat munculnya peraturan ini, di antaranya adalah isu bahwa ini adalah usaha agar para orang-orang muda di Tajikistan terlibat dalam organisasi Islam sekuler, seperti ISIL.

Namun, seperti dilansir dari worldbulletin.net, pemerintah menyanggahnya dan mengatakan bahwa peraturan ini ditetapkan karena pemerintah ingin memberikan kesempatan bagi mereka yang berusia lebih lanjut untuk menunaikan ibadah haji. Pasalnya, Arab Saudi juga membatasi kuota jema’ah haji.

Tajikistan merupakan salah satu negara dengan jema’ah haji yang paling banyak. Di tahun-tahun sebelumnya, sekitar 8.000 warga Tajikistan pergi ke Mekkah dan Madinah untuk menunaikan ibadah haji setiap tahunnya. Namun, untuk tahun ini Arab Saudi telah membatasi kuota yang tersedia untuk Tajikistan.

Tahun ini, hanya 6.300 kuota yang disediakan oleh Arab Saudi untuk jema’ah dari Tajikistan.

Sebelum peraturan tentang berhaji ini, sebelumnya Tajikistan telah melarang pelajar muslimah untuk mengenakan hijab, melarang anak-anak ke masjid, dan memaksa ribuan siswa yang tengah menuntut ilmu di sekolah Islam di luar negeri untuk pulang karena banyaknya laporan bahwa banyak orang Tajikistan yang terlibat sebagai jihadis di Iraq dan Syria.

Foto-Foto Perbandingan Ka’bah Zaman Dulu dan Masa Kini

Berhaji – Sejak zaman para nabi dulu, Ka’bah selalu dipadati umat muslim seluruh dunia untuk menyelesaikan rukun Islam yang ke-5, yaitu menunaikan ibadah haji dan umrah.

Seiring dengan perkembangan zaman, Ka’bah terus mengalami perubahan dan renovasi untuk meningkatkan pelayanan pada seluruh umat muslim yang sedang menunaikan ibadah haji dan umrah. Saat ini bahkan Masjidil Haram tengah mengalami renovasi besar-besaran yang menjadi salah satu giga proyek pemerintah Saudi.

Sebelum kita menyambut kondisi Ka’bah dan Masjidil Haram yang baru di tahun 2020 mendatang, tidak ada salahnya kita menengok sebentar kondisi Ka’bah di tahun-tahun silam untuk mengenang betapa besar kemajuan yang sudah ditempun umat Islam sejauh ini.

Meski bentuk Ka’bah-nya sendiri tidak pernah berubah, banyak perubahan yang terjadi di sekitar Ka’bah. Mulai dari design Masjidil Haram yang kini lebih modern, sampai perubahan cara mengganti kiswah yang dulu sangat manual dan kini lebih modern.

Berikut ini beberapa foto perbandingan Ka’bah di tahun 1940-an dan foto terbaru Ka’bah masa kini.

 ka'bah changing kiswa

ka'bah perbandingan 2
wirausaha

Air Zam-Zam Semakin Eksklusif, Hanya yang Punya Passport yang Boleh Membeli

Berhaji.com – Air zam-zam memiliki tempat yang istimewa di hati umat muslim. Selain karena kesuciannya, air zam-zam juga dipercaya dapat menyembuhkan berbagai penyakit. Karena itulah, banyak produsen air zam-zam illegal atau palsu yang marak di Arab Saudi.

Seperti dilansir Arab News, baru-baru ini polisi telah menggrebek sebuah pabrik di Mekkah yang menjual air zam-zam yang dicampur dengan air kran.

Untuk mengatasi hal ini, pemerintah menerapkan aturan baru perihal air zam-zam dengan menyediakan air zam-zam bersegel resmi dari Perusahaan Air Nasional yang dapat dibeli jama’ah di bandara. Hanya saja, jama’ah harus menunjukkan passport untuk mendapatkan air zam-zam.

Sebotol air zam-zam dijual seharga sembilan riyal atau Rp. 31.000 dan setiap satu passport hanya berlaku untuk sebotol air zam-zam.

Namun, peraturan ini ternyata menyulitkan bagi jamaah yang berasal dari dalam negeri. Misalnya Hasan Ahmed yang mengaku tidak bisa membeli air zam-zam karena tidak punya passport.

“Saya pergi untuk membeli Zamzam di bandara, tapi saya kecewa karena harus menunjukkan paspor. Saya bukan traveler, saya tidak memiliki paspor,” ujar Ahmed.

Jamaah Sering Selfie saat Umrah dan Haji, Haruskah Peraturan Tentang Smartphone Diterapkan di Masjidil Haram?

Berhaji.com – Saat ini, mengunjungi Mekah untuk menunaikan ibadah haji dan umrah bukanlah sekedar ibadah sakral, malah sudah menjadi lifestyle bagi beberapa kalangan tertentu.

Bahkan, berfoto selfie di tempat-tempat di Mekah dan Madinah juga menjadi suatu kebanggaan tersendiri bagi orang-orang tertentu. Ironisnya lagi, sekarang bahkan kita juga sering menjumpai foto selfie di depan ka’bah dan Masjidil Haram, yang seharusnya menjadi tempat sakral untuk beribadah dan berdo’a kepada Allah.

Dilansir dari arabnews.com, kolonel Badr bin Saud Al-Saud yang bekerja untuk pasukan keamanan Masjidil Haram mengatakan bahwa kebanyakan orang yang mengunjungi ka’bah merasa dirinya sedang piknik, sehingga mereka lebih fokus pada smartphone mereka dan minta difoto di sekitar ka’bah. Menurutnya, seharusnya orang-orang menggunakan smartphone mereka di kawasan Masjidil Haram hanya untuk keperluan komunikasi.

Saat ini, pemandangan jama’ah haji yang sibuk berfoto selfie di depan ka’bah adalah pemandangan yang umum.

Al-Saud mengutaraan hal ini di sebuah seminar yang diselenggarakan oleh King Fahad Security College mengenai isu-isu keselamatan dan keamanan di Kerajaan, dilansir dari media lokal.

Namun, peserta lain dalam seminar tersebut, di antaranya Abdulrahman Al-Faraj seorang penduduk Mesir tidak menyetujui hal tersebut karena bisa saja aplikasi smartphone yang mereka miliki dapat membantu dalam operasi penyelamatan.

Sungguh sebuah kesempatan yang baik jika kita bisa mengunjungi ka’bah dan beribadah di sana. Semoga hal tersebut tidak menjadikan kita orang yang riya dan menyombongkan diri. Aamiin.

Manasik Haji Cerminan Bagi Akhlak Mulia

berhaji.com

Haji adalah salah satu rukun islam, haji adalah ibadah yang tergabung padanya antara amalan badan dan pengorbanan harta, dan haji adalah salah satu ibadah yang paling agung, yang memiliki kandungan makna, dan hikmah yang sangat luas lagi mendalam. Para ulama menyatakan, bahwa haji adalah salah satu madrasah yang sangat agung, untuk menggembleng keimanan seorang muslim.

وأَذِّن فِي النَّاسِ يَأْتُوكَ رِجَالاً وَعَلَى كُلِّ ضَامِرٍ يَأتِيْنَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُم وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللهِ فِيْ أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ عَلَى مَا رَزَقَهُم مِنْ بَهِيمَة الأَنْعَام

“Dan kumandangkanlah ibadah haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta yang kurus, yang datang dari segenap penjuru yang jauh. Agar mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka, dan agar mereka menyebut Nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan, atas rezeki yang telah Allah berikan kepada mereka berupa binatang ternak.” (QS. Al Haj: 27-28)

Ulama mengomentari bahwa yang dimaksudkan dengan kata “menyaksikan manfaat” adalah mendapatkannya, bukan sekedar melihat, akan tetapi mendapatkannya.

Ibnu Abbas menafsiri kata ( مَنَافع ) ayat ini dengan mengatakan: “Manfaat di dunia dan manfaat di akhirat, adapun manfaat di akhirat adalah keridhoan Allah ‘azza wa jalla, dan manfaat di dunia adalah mendapatkan pembagian daging korban, sesembelihan, dan perdagangan.” (Ad Durrul Mantsur 6/37)

Dan Al Mujahid menafsirkan dengan berkata: “Manfaat adalah perdagangan dan setiap hal yang menjadikan Allah ridho dari urusan dunia dan akhirat.” (Tafsir At Thobari 17/147)

Ibadah haji bukan hanya sebuah rentetan amalan sakral yang tidak diketahui manfaat dan hikmah dari pelaksanaannya. Akan tetapi ibadah haji –sebagaimana ibadah-ibadah lainnya- penuh dengan maksud-maksud dan hikmah-hikmah yang sangat indah dan besar. Kalau kita perhatikan fakta yang ada pada jamaah haji pada umumnya, dan pada diri kita saat melaksanakan ibadah yang mulia ini, akan kita lihat terjadinya perbedaan antara sesama mereka dalam mengambil hikmah, dan menyelami kandungan makna ibadah ini.

Menapaki Madrasah Pendidikan Keimanan dengan Berhaji

berhaji.com

Sahabatku kaum muslimin, ibadah haji merupakan madrasah yang dipenuhi berkah, media pembelajaran untuk melatih jiwa, menyucikan hati, dan memperkuat iman. Kaum muslimin akan menjumpai berbagai pelajaran dan faedah yang terkait dengan akidah, ibadah, dan akhlak di tengah-tengah pelaksanaan haji mereka.

Dapat dipastikan, bahwa ibadah haji merupakan madrasah pendidikan keimanan dimana lulusannya adalah para hamba-Nya yang beriman dan bertakwa, mereka yang mereguk manfaat dari ibadah tersebut adalah para hamba Allah yang diberi taufik oleh-Nya. Allah ta’ala berfirman,

وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالا وَعَلَى كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ (٢٧)لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ (٢٨)

“Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh, supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka …” (Al Hajj: 27-28).

Berbagai manfaat, faedah, dan pelajaran berharga yang terdapat dalam ibadah haji tidak mungkin untuk dihitung, karena sebagaimana di dalam ayat di atas, Allah berfirman dengan kata “مَنَافِعَ” yang merupakan bentuk plural dari kata “منفعة” yang disebutkan secara indefinitif (nakirah) sehingga mengisyaratkan betapa banyak dan beragam manfaat yang akan diperoleh dari ibadah haji.

Tujuan ibadah haji ini adalah agar berbagai manfaat tersebut diperoleh oleh mereka yang melaksanakannya, karena huruf lam pada firman-Nya “لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ” berfungsi untuk menerangkan alasan yang terkait dengan firman-Nya yang sebelumnya, yaitu ayat “وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالا وَعَلَى كُلِّ ضَامِرٍ”, sehingga redaksi ayat tersebut bermakna, “(Wahai Muhammad), jika engkau menyeru mereka untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu, baik dengan berjalan kaki dan berkendara untuk memperoleh berbagai manfaat haji.”

Oleh karena itu, mereka yang diberi taufik untuk melaksanakan ibadah ini hendaklah bersemangat dengan sungguh-sungguh untuk memperoleh manfaat tersebut, di samping dirinya akan memperoleh pahala yang besar dan pengampunan dosa dari Allah ta’ala. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ حَجَّ هَذَا الْبَيْتَ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ

“Barangsiapa yang berhaji di rumah ini, kemudian tidak berbuat keji dan maksiat, niscaya dia akan kembali dalam kondisi seperti tatkala dirinya dilahirkan oleh ibunya (tidak memiliko dosa apapun).”[1]

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

تَابِعُوا بَيْنَ الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ فَإِنَّهُمَا يَنْفِيَانِ الْفَقْرَ وَالذُّنُوبَ كَمَا يَنْفِي الْكِيرُ خَبَثَ الْحَدِيدِ

“Laksanakanlah haji dan umrah, karena keduanya menghapus kefakiran dan dosa sebagaimana api menghilangkan karat dari besi.”[2]

Tentunya, seorang yang memperoleh keuntungan ini kembali ke negaranya dengan kondisi yang suci, jiwa yang bersih, dan kehidupan baru yang dipenuhi dengan cahaya iman dan takwa, penuh dengan kebaikan, keshalihan, serta berkomitmen dan konsisten menjalankan ketaatan kepada Allah ta’ala.

Ulama telah menyebutkan bahwa apabila keshalihan dan kesucian jiwa ini terdapat dalam diri hamba, maka hal tersebut merupakan tanda bahwa Allah telah ridha kepadanya dan ciri bahwa amalannya telah diterima oleh-Nya. Apabila kondisi seorang yang telah melaksanakan haji menjadi baik, dengan berpindah dari kondisi yang buruk menjadi baik, atau dari kondisi baik menjadi lebih baik, maka hal ini merupakan tanda bahwa hajinya bermanfaat, karena balasan dari suatu kebaikan adalah tumbuhnya kebaikan sesudah kebaikan yang pertama sebagaimana firman Allah ta’ala,

هَلْ جَزَاءُ الإحْسَانِ إِلا الإحْسَانُ (٦٠)

“Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).” (Ar Rahman: 60).

Dengan demikian, barangsiapa yang melaksanakan ibadah haji dengan baik dan bersungguh-sungguh menyempurnakannya, serta menjauhi berbagai hal yang mampu membatalkan dan mengurangi pahala berhaji, tentulah dia akan keluar dari madrasah tersebut dengan kondisi yang lebih baik.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ

“Tiada balasan bagi haji mabrur melainkan surga.”[3]

Tentu setiap orang yang berhaji ingin dan berharap ibadah haji yang dikerjakannya menjadi haji yang mabrur dan segala upaya yang dikerahkannya mendapat pahala dan diterima di sisi-Nya. Tanda yang jelas bahwa ibadah haji yang dikerjakan mabrur dan diterima adalah ibadah haji tersebut  dilaksanakan ikhlas mengharap Wajah Allah ta’ala dan sesuai dengan tuntunan rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kedua syarat ini merupakan syarat mutlak agar suatu amal ibadah diterima di sisi-Nya, di samping itu (keduanya harus ditunjang dengan tanda yang lain, yaitu) kondisi seorang yang berhaji menjadi lebih baik daripada sebelumnya.

 

Dua Tanda yang menjadi Ciri Ibadah Haji Anda Mabrur

berhaji.com

Terdapat dua tanda yang menjadi ciri bahwa ibadah haji yang dikerjakan diterima di sisi-Nya. Pertama, tanda yang terdapat di tengah-tengah pelaksanaan ibadah haji, yaitu orang yang berhaji melaksanakannya dengan ikhlas dan sesuai dengan tuntunan rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kedua, tanda yang muncul setelah ibadah haji dikerjakan, yaitu tumbuhnya keshalihan pada diri orang yang telah berhaji, yang ditandai dengan bertambahnya ketaatan dan semakin jauhnya dia dari kemaksiatan dan dosa. Dia memulai kehidupan yang baik, kehidupan yang dipenuhi dengan keshalihan dan istiqamah.

Patut diperhatikan bahwa seorang muslim tidak boleh memastikan bahwa amalnya telah diterima oleh Allah, meski dia telah mengerjakannya dengan sebaik mungkin. Allah ta’ala telah menjelaskan kondisi orang-orang yang memiliki keimanan yang sempurna perihal amal ketaatan yang mereka kerjakan untuk mendekatkan diri kepada-Nya,

وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ (٦٠)

“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka.” (Al Mukminun: 60).

Maksud dari ayat di atas adalah mereka telah mengerjakan ibadah yang diperintahkan kepada mereka berupa shalat, zakat, puasa ,haji dan selainnya, namun mereka merasa takut tatkala amalan tersebut dihadapkan kepada Allah dan tatkala mereka berdiri di hadapan Allah, ternyata amalan tersebut tidak mampu menyelamatkan dan ketaatan yang telah dilakukan tidak diterima oleh-Nya.

Imam Ahmad meriwayatkan dalam Musnad-nya dari Ummul Mukminin, ‘Aisyah rdah, bahwa dia berkata,

“Aku berkata kepada rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai firman Allah (yang artinya), “Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut “, “Apakah yang dimaksud adalah pria yang berzina dan meminum khamr?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Tidak, wahai putrid Abu Bakr” atau “Tidak, wahai putrid Ash Shiddiq, akan tetapi dia adalah pria yang berpuasa, shalat, dan bersedekah, akan tetapi dia takut amalannya tersebut tidak diterima oleh Allah ta’ala.”[4]

Al Hasan Al Bashri rahimahullah mengatakan,

إن المؤمن جمع إحسانا وشفقة ، وإن المنافق جمع إساءة وأمنا

“Sesungguhnya seorang mukmin mengumpulkan amal kebaikan dan rasa takut sedangkan seorang munafik menggabungkan amal keburukan dan rasa aman.”[5]

Telah menjadi kebiasaan kaum mukminin sejak dahulu hingga saat ini tatkala selesai melaksanakan ibadah ini mereka saling mengucapkan, “Taqabbalallahu minna wa minkum.

Mereka semua mengharapkan amalan mereka diterima.[6] Allah pun telah menyebutkan dalam kitab-Nya yang mulia bahwa nabi Ibrahim dan anaknya Isma’il a.s., tatkala mereka berdua selesai mengerjakan pndasi Ka’bah, keduanya berdo’a kepada-Nya  dengan ucapan

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ (١٢٧)

“Ya Rabb kami, terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkau-lah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Al Baqarah: 127).

Mereka tetap mengucapkannya, padahal mereka telah menunaikan sebuah amal shalih yang agung, meski demikian mereka memohon kepada Allah agar sudi menerima amal mereka berdua tersebut.

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Wuhaib ibnul Ward, bahwa ketika dia selesai membaca ayat ini, dirinya menangis, dan berkata,

يا خليل الرحمن، ترفع قوائم بيت الرحمن وأنت مُشْفق أن لا يتقبل منك

“Wahai kekasih Ar Rahman, engkau telah membangun pondasi rumah Ar Rahman, namun engkau masih saja takut amalan tersebut tidak diterima.”[7]

Jika kondisi pemimpin kaum yang hanif dan teladan bagi kaum yang bertauhid sedemikian rupa, maka bagaimanakah kiranya kondisi yang harus dimiliki oleh orang yang derajatnya di bawah beliau?

Kami memohon kepada Allah agar menerima seluruh amalan kaum muslimin, memberikan taufik dan hidayah kepada kita, menetapkan keselamatan dan perlindungan bagi mereka yang berhaji, menerima amalan shalih kita, dan memberi petunjuk kepada kita semua agar menempuh jalan yang lurus.

Diterjemahkan dari Al Hajju wa Tahdzib an Nufus, Syaikh ‘Abdurrazaq al Badr. Ibnu Baththah dalam kitab beliau Al Ibanah (2/873) berkata, “…demikian pula seorang yang baru saja pulang dari melaksanakan haji dan ‘umrah serta menyelesaikan seluruh kegiatan manasik, apabila dirinya ditanya mengenai haji yang telah dilaksanakannya, maka ia akan mengatakan, “Kami telah berhaji, tidak ada lagi yang tersisa selain harapan agar amal tersebut diterima oleh-Nya.”

Demikian pula, do’a orang-orang bagi diri mereka sendiri atau do’a mereka kepada sesamanya adalah, “Ya Allah, terimalah puasa dan zakat kami.” Tatkala seorang menemui seorang yang telah berhaji, telah menjadi kebiasaan, dia mengucapkan, “Semoga Allah menerima hajimu dan membersihkan amalanmu.” Demikian juga, tatkala manusia saling bertemu ketika penghujung Ramadhan, maka mereka saling mengucapkan, “Semoga Allah menerima amalan kami dan amalan kalian.”