4 Keutamaan Tanah Haram Makkah (Part III)

Ketiga: Rizki begitu berlipat di tanah haram.

Inilah juga berkat do’a Nabi Ibrahim ‘alaihis salam,

رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ

 “Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (QS. Ibrahim: 37).

Keempat: Tanah Haram tidak akan dimasuki Dajjal

Dajjal akan muncul dari Ashbahan dan akan menelusuri muka bumi. Tidak ada satu negeri pun melainkan Dajjal akan mampir di tempat tersebut. Yang dikecualikan di sini adalah Makkah dan Madinah karena malaikat akan menjaga dua kota tersebut. Dajjal tidak akan memasuki kedunya hingga akhir zaman. Dalam hadits Fathimah bin Qois radhiyallahu ‘anha disebutkan bahwa Dajjal mengatakan,

فَأَخْرُجَ فَأَسِيرَ فِى الأَرْضِ فَلاَ أَدَعَ قَرْيَةً إِلاَّ هَبَطْتُهَا فِى أَرْبَعِينَ لَيْلَةً غَيْرَ مَكَّةَ وَطَيْبَةَ فَهُمَا مُحَرَّمَتَانِ عَلَىَّ كِلْتَاهُمَا كُلَّمَا أَرَدْتُ أَنْ أَدْخُلَ وَاحِدَةً أَوْ وَاحِدًا مِنْهُمَا اسْتَقْبَلَنِى مَلَكٌ بِيَدِهِ السَّيْفُ صَلْتًا يَصُدُّنِى عَنْهَا وَإِنَّ عَلَى كُلِّ نَقْبٍ مِنْهَا مَلاَئِكَةً يَحْرُسُونَهَا

Aku akan keluar dan menelusuri muka bumi. Tidaklah aku membiarkan suatu daerah kecuali pasti aku singgahi dalam masa empat puluh malam selain Makkah dan Thoybah (Madinah Nabawiyyah). Kedua kota tersebut diharamkan bagiku. Tatkala aku ingin memasuki salah satu dari dua kota tersebut, malaikat menemuiku dan menghadangku dengan pedangnya yang mengkilap. Dan di setiap jalan bukit ada malaikat yang menjaganya.” (HR. Muslim no. 2942)

Dan Dajjal tidak akan memasuki empat masjid. Dalam hadits disebutkan tentang Dajjal,

لاَ يَأْتِى أَرْبَعَةَ مَسَاجِدَ الْكَعْبَةَ وَمَسْجِدَ الرَّسُولِ والْمَسْجِدَ الأَقْصَى وَالطُّورَ

Dajjal tidak akan memasuki empat masjid: masjid Ka’bah (masjidil Haram), masjid Rasul (masjid Nabawi), masjid Al Aqsho’, dan masjid Ath Thur.” (HR. Ahmad 5: 364. Kata Syaikh Syu’aib Al Arnauth, sanad hadits ini shahih)

4 Keutamaan Tanah Haram Makkah (Part II)

Haji ini dijadikan sebagai amalan penghapus dosa yang telah lalu Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa ia mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ حَجَّ لِلَّهِ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ

“Siapa yang berhaji ke Ka’bah lalu tidak berkata-kata seronok dan tidak berbuat kefasikan maka dia pulang ke negerinya sebagaimana ketika dilahirkan oleh ibunya.” (Muttafaqun ‘alaih).

Sebagaimana shalat di baitullah juga dilipatgandakan. Dari Jabir, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

صَلاَةٌ فِى مَسْجِدِى أَفْضَلُ مِنْ أَلْفِ صَلاَةٍ فِيمَا سِوَاهُ إِلاَّ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ وَصَلاَةٌ فِى الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ أَفْضَلُ مِنْ مِائَةِ أَلْفِ صَلاَةٍ فِيمَا سِوَاهُ

Shalat di masjidku (Masjid Nabawi) lebih utama daripada 1000 shalat di masjid lainnya selain Masjidil Harom. Shalat di Masjidil Harom lebih utama daripada 100.000 shalat di masjid lainnya.” (HR. Ahmad 3/343 dan Ibnu Majah no. 1406, dari Jabir bin ‘Abdillah. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat Shahih At Targhib wa At Tarhib no. 1173).

Kedua: Tanah haram dijadikan tempat yang penuh rasa aman

Inilah berkat do’a Nabi Ibrahim ‘alaihis salam,

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَذَا بَلَدًا آَمِنًا وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ مَنْ آَمَنَ مِنْهُمْ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ قَالَ وَمَنْ كَفَرَ فَأُمَتِّعُهُ قَلِيلًا ثُمَّ أَضْطَرُّهُ إِلَى عَذَابِ النَّارِ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa: “Ya Rabbku, jadikanlah negeri ini, negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman di antara mereka kepada Allah dan hari kemudian. Allah berfirman: “Dan kepada orang yang kafirpun Aku beri kesenangan sementara, kemudian Aku paksa ia menjalani siksa neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali“.” (QS. Al Baqarah: 126).

Begitu pula disebutkan dalam ayat lainnya,

وَمَنْ دَخَلَهُ كَانَ آَمِنًا

Barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia” (QS. Ali Imran: 97).

Kaum Quraisy di masa silam juga merasakan rasa aman ketika safar mereka,

الَّذِي أَطْعَمَهُمْ مِنْ جُوعٍ وَآَمَنَهُمْ مِنْ خَوْفٍ

Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan” (QS. Quraisy: 4).

4 Keutamaan Tanah Haram Makkah (Part I)

berhaji.com

Assalamualaikum sahabatku mari kita kaji kembali mengenai berhaji, dalam pembahasan kali ini kita perluas pemahaman keutamaan tanah haram di tanah makkah. Tanah haram jika dimutlakkan secara umum yang dimaksudkan adalah tanah Haram Makkah. Inilah tanah yang dimuliakan oleh Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika disebut Haromain, maka yang dimaksudkan adalah Makkah dan Madinah. Ibnu Qayyim Al Jauziyah menyebutkan dalam Zaadul Ma’ad, “Allah Ta’ala telah memilih beberapa tempat dan negeri, yang terbaik serta termulia adalah tanah Haram. Karena Allah Ta’ala telah memilih bagi nabinya –shallallahu ‘alaihi wa sallam– dan menjadikannya sebagai tempat manasik dan sebagai tempat menunaikan kewajiban. Orang dari dekat maupun jauh dari segala penjuru akan mendatangi tanah yang mulia tersebut.”

Di antara keutamaan tanah haram Makkah disebutkan dalam beberapa ayat dan hadits berikut.

Pertama: Di Makkah terdapat baitullah

Sebagaimana Allah menyebutkan mengenai do’a Nabi Allah –kholilullah (kekasih Allah)- Ibrahim ‘alaihis salam,

رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ

Ya Rabb kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Rabb kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (QS. Ibrahim: 37).

Rumah pertama yang dijadikan peribadatan kepada Allah Ta’ala adalah baitullah sebagaimana disebutkan dalam ayat,

إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِلْعَالَمِينَ

Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia” (QS. Ali Imran: 96).

Dan baitullah inilah yang dijadikan tempat berhaji sebagaimana disebutkan dalam ayat,

وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا

Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah” (QS. Ali Imran: 97).

 

Haji Mabrur Dambaam Setiap Ummat Muslim

berhaji.com

Sahabatku yang di rahmati oleh allah swt, mengkaji pembahasan yang sebelumnya sudahkah anda pahami makna dari berhaji? dalam melaksanakan haji yang perlu kita garis bawahi yaitu kata mabrur.  Haji mabrur yaitu melaksanakan semua proses haji dengan khusu semata-mata hanya ingin mendapatkan ridho allah swt dan yang terpenting setelah kita pulang ke kampung halaman masing-masing mendapatkan predikat haji yang menjadi panutan bagi setiap orang sekitar.

Gelar haji mabrur yang diberikan Allah SWT tentu menjadi dambaan setiap umat muslim diseluruh dunia yang sudah melaksanakan ibadah haji, atau yang sedang melaksanakan ibadah haji, begitu juga bagi yang sudah berniat untuk berhaji. Sahabatku tentu kita semua ingin mendapatkan gelar tersebut, namun sahabatku sudahkah kita mengikuti segala ketentuan yang sebenarnya untuk meraih gelar haji mabrur…

Sahabatku ketika kita ingin meraih kebaikan tentunya membutuhkan proses yang panjang dan tidak mudah akan banyak hal yang perlu kita pahami dan terapkan, tentunya segala sesuatu akan menjadi sulit dan melelahkan ketika niat kita kurang kokoh, oleh karena itu segala hal yang baik dan yang buruk selalu berawal dari niat yang tertanam, karena sesungguhnya niat adalah awal dari hasil yang baik begitu juga hasil yang tidak baik.

Menanamkan niat yang baik tentu bukan hal yang mudah, namun kita bisa memulai niat baik tersebut dengan berkomunikasi dengan Allah SWT yang maha membolak-balikkan hati dan, yang maha menata hati setiap manusia awali semuanya dengan mendekatkan diri pada sang kholik maka insyaallah segala hal akan menjadi mudah begitu juga dengan niat kita yang tersembunyi dalam hati akan terungkap dengan hal yang baik dan menghasilkan kebaikan pula.

Sahabatku bagaimana sudah mulai tergugat untuk mulai dan menanamkan sejak dini niat yang baik, mengokohkan diri untuk meraih ridho Allah SWT dengan melaksanakan segala perintahnya dan amlan-amalan yang baik, begitu juga dengan niat berhaji dengan tujuan meraih ridho Allah SWT dan meraih gelar terbaik dari Allah SWT yaitu haji mabrur.

Sahabatku yang selalu ada dalam rahmat Allah, begitu banyak kebaikan yang tercipta karena niat yang baik dan keinginan yang kuat untuk meraih kebaikan, dan bukan hal yang sulit pula untuk meraihnya saat niat kita berawal dari LILAHITA’LA maka akan muncul kebaikan-kebaikan pula, bagi para sahabatku yang sudah berpulang dari berhaji mari mulai tanamkan kebaikan-kebaikan dan amalan-amalan shaleh agar ibadah yang terlaksana berbuah baik dan bermanfaat bagi kita semua. amin

Sudahkah Anda Mempersiapakan diri dan Menata Hati Sebelum Berhaji?

berhaji.com

Sahabatku yang dirahmati oleh Allah swt, perlu kita ketahui bawasanya dalam berhaji diperlukan kesiapan spiritual, untuk menunjang kematangan spiritual banyak beberapa hal yang harus kita pahami dan dikaji lebih luas. Pada umumnya kesiapan spiritual berhaji yang seringkali dikaji dan dipelajari hanya mengenai manasik haji,pemahaman ilmu fiqih, dan menjelang keberangkatan baru mulai mengikuti pelatihan tatacara melakukan ritual haji, hal tersebut memang sudah benar dan harus dilakukan pada saat kaum muslim ingin berhaji.

Tapi coba pikirkan kembali sudahkah kita mempersiapakan diri dan menata hati sebaik mungkin….? atau sudahkah terbentuk niat kokoh berhaji hanya untuk meraih ridho allah dan menyempurnakan rukun islam….? sahabatku kaum muslim diseluruh dunia coba kita renungkan terkadang kita terbawa oleh kenikmatan duniawi semata, dan terbawa arus kehidupan yang sudah serba modern saat orang-orang ingin memanfaatkan materinya hanya untuk pencitraan saja dan meraih berbagai pujian yang dirasanya dapat memperbaiki diri. Bahkan saat ini mulai banyak yang ingin pergi haji dengan tujuan dipandang kaya dan pulang dengan gelar haji, selain itu ada yang berhaji hingga berkali-kali hanya karna ingin mendapat berbagai pujian dari banyak orang atau ingin dipandang baik dan hebat karna uang hasil kerjanya digunakan beribadah.

Kaum muslimin tentu kita tidak mau menjadi hamba allah yang haus akan pujian dan citra baik yang terkadang sudah menjadi kebutuhan, dan malah membuat ibadah kita menjadi nol besar dihadapan Allah. mari sahabatku kita mulai renungkan diri dan mawas diri kita bersihkan hati terlebih dahulu dari rasa ria karna sesungguhnya allah tidak suka pada umatnya yang ria, mulai saat ini tanamkan dalam diri hati yang bersih niat yang kokoh beribadah hanya untuk meraih ridho allah semata jangan tertipu dengan bayang-bayang pujian yang hanya datang sementara namun hal tersebut dapat memutus hubungan baik kita dengan Allah SWT.

Berhaji salah satu rukun islam yang ke lima tentu Allah sangat senang ketika melihat umatnya berniat untuk melaksanakan salah satu ibadah tersebut, dan allah akan lebih senang saat umatnya beribadah tanpa didasari rasa ria, memang bukan hal yang mudah untuk menghindari rasa ria karna kita hanya manusia biasa yang terkadang haus akan pujian dan ingin selalu meraih citra baik, namun kita akan menjadi lebih hebat dihadapan sang pencipta kita ketika kita mampu meredan rasa egois kita dan membersihkan hati dari rasa ria.

Sahabatku itu lah hal yang paling utama ketika kita memutuskan untuk berhaji, dan bagaimana cara kita mengelola hati sebaik mungkin agar tetap bersih dan terhindar dari rasa ria, dan alangkah baiknya ketika kita ingin berhaji persiapkan spiritual kita sebaik mungkin agar ibadah haji dapat terlaksana sesuai syariat dan ketentuan islam yang sesungguhnya, dan mari kita raih gelar terhebat dari Allah SWT yaitu haji mabrur.

3 Pilar Penting Yang Wajib Anda Ketahui Sebelum Berhaji

Sahabatku seluruh umat muslim didunia, sudah paham kan mengenai beberapa persiapan berhaji..? jika dikaji kembali ada tiga hal terpenting dalam berhaji yaitu kemampuan materi,mental,dan spiritual. Mari kita lanjutkan ke persiapan berikutnya yang tidak kalah penting dan harus kita pahami secara matang agar niat berhaji semakin mantap.

Jika dikaji dari istilah berhaji dibagi menjadi beberapa istilah berikut, yang pertama sering kali kita mendengan kata haji atau kata lain dari berkunjung ke baitullah untuk melakukan beberapa amalan thawaf,sa’i dan wukuf di arafah serta amalan lainnya pada masa tertentu demi memenuhi panggilan allah. Selain itu sering kaliyang kita dengan selain berhaji yaitu UMRAH merupakan hal yang sama yaitu berkunjung ke baitullah untuk melakuakn thawaf,sa’i dan cukur demi mengharap ridho allah.

Selain kedua istilah tersebut ada beberapa istilah lain yang mungkin sering kita dengar namun kurang dipahami, oleh karna itusedikitnya akan saya coba jelaskan, diantaranya ada istilah ISTITHA’AH yang artinya mampu yaitu mampu melaksakan ibadah haji atau umrah ditinjau dari segi jasmani, rohani dan ekonomi. Selain itu ada yang dinamakan rukun haji yang merupakan rangkaian amalan yang harus dilakuakn dalam ibadah haji dan tidak dapat diganti dengan yang lain walaupun dengan dam, jika rukun haji ditinggalkan maka tidak sah hajinya.

Selain itu adaistilah lain yaitu wajib haji yang merupakan rangkaian amalan yang harus dikerjakan dalam ibadah haji namun bila tidfak dikerjakan karena udzur syar’i sah hajinya akan tetapi harus membayar dam. Kemudian BADAL yaitu mengganti atau menukar, dalam kaitan dengan ibadah haji atau umrah adalah menggantikan orang lain karena udzur atau tealh meninggal dunia, untuk mengerjakan haji atau umrah atau juga menolong orang lain dalam hal melontar jumroh.

Setelah berangkat tentu disana kita akan melihat yang dinamakn KA’BAH sudah paham kah mengenai KA’BAH …? mari kita bahas lebih lanjut, KA’BAH merupakan rumah yang berbentu persegi empat atau kubus, dan menjadi kiblat bagi seluruh umat muslim ketika mengerjakan ibadah shalat. Berlanjut ke beberapa istilah berikutnya yaitu ada yangdinamkan MIQAT ZAMANI yang merupakan batasan waktu melaksanakan haji, menurut jumhur ulama MIQAT zamani mulai tanggal 1 syawal sampai dengan terbit fajar 10 dzulhijah. Sedangkan MIKAT MAKANI merupakan batasan tempat untuk mulai melaksanakan ihram haji atau umrah.  Berikutnya ada istilah IHRAM yaitu niat ketika memulai mengerjakan ibadah haji atau umrah dan orang yang berpakaian ihram disebut muhrim namun hal tersebut sering tertukar dengan istilah mahram oarang yang haram untukdinikahi.

Kemudian sering kali kita mendengan beberapa istilah lain yang mungkin belum kita pahami lebih luas, mari kita telusuri istilah penting lainnya mengenai berhaji, THAWAF merupakan mengelilingi ka’bah sebanyak 7 kali, dimana ka’bah selalu ada disebelah kirinya dimulai dan diakhiri disudut rukun sejajar hajar aswad. Kemudian ada istilah THAWAF IFADAH yaitu thawaf rukun haji yang harus dilaksanakan tidak boleh ditinggalkan dalam pelaksanaan ibadah haji. THAWAF WADA ialah thawaf yang dilaksankan sebagai penghormatan akhir sebelum meninggalkan makkah, thawaf wada hukumnya wajib dalam pelaksanaan haji. THAWAF QUDUM ialah thawaf yang dilaksanakan sebagai penghormatan pada saat pertama masuk Masjidil haram, thawaf qudum hukumnya sunah. Bagi jamaah haji yang mengambil haji tamattu tawaf qudumnya sudah termasuk dalam tawaf umrah.

Mari Kita Kaji Kembali Pemahaman Wukuf

berhaji.com

Assalamualaikum sahabatku dan seluruh kaum muslimin di dunia, alhamdulilah hari raya idul adha tahun ini telah kita lewati, tentu sangat banyak makna yang terkandung dan hikmah yang kita dapat dari perayaan idul adha kemarin. Sahabatku sebelumnya sempat kita bahas mengenai perjalanan dan tatacara wukuf di arafah yang merupakan hal paling utama dan suatu keharusan yang dilakukan oleh para umat muslim yang telah melaksanakan ibadah haji, sebelumnya sudah kita bahas mengenai wukuf namun untuk menambah wawasan kita dan mengingatkan kita kembali mengenai pemahaman wukuf mari kita kaji kembali.

Wukuf merupakan keberadaan diri seseorang di arafah walaupun sejenak dalam waktu antara tergelincirnya matahari tanggal 9 dzulhijjah (hari arfah) sampai terbit fajar tanggal 10 dzulhijjah (hari nahar). Pelaksanaan wukuf memang hanya berkisar sebentar namun banyak hal yang dapat dipetik dalam pelaksanaannya karena dalam batas waktu yang singkat tersebut kita dapat lebih merasakan betapa nikmatnya ketika kita berada ditempat yang menjadi wadah sebagai pendekatan kita terhadap sang kholik, terhadap sang pencipta, saat dimana kita dapat merasakan kekhusuan yang begitu damai dan menenangkan jiwa.

Sahabatku keberlangsungan wukuf merupakan puncak utama dari pelaksanaan ibadah haji dan tujuan utama kita ketika memutuskan untuk melaksanakan ibadah haji, karena pada saat pelaksanaan wukuf kita dapat merasakan betapa agungnya dan betapa nikmatnya ketika kita berupaya mendekatkan diri kepada sang pencipta dengan tujuan yang baik dan disertai hati yang tulus dan niat yang bersih.

Diarafah kita berkumpul dengan seluruh umat muslim didunia bersama-sama saling mencari keberkahan dan rindho allah, dalam situasi seperti ini kita diajarkan untuk saling menghargai dan menghormati meskipun berbeda suku dan berbeda kebudayaan, karena sesungguhnya allah sangat menyukai kebersamaan yang damai demikian juga dengan rosul kita yang selalu mengajarkan kedamaian dan empati terhadap sesama umat terutama sesama umat muslim diseluruh dunia. Itu merupakan salah satu hikmah dan manfaat dari pelaksanaan wukuf.

Wahai para sahabatku yang sudah melaksanakan ibadah haji, semoga dapat memetik hikmah dan manfaat dari pelaksanaan haji dan semoga para jamaah haji dapat pulang dengan gelar terindah dari allah SWT sebagai gelar haji mabrur, namun bagi sahabatku yang belum sempat melaksanakan ibadah haji jangan berkecil hati semoga pemaparan saya lewati pemahaman berhaji ini dapat menjadi motivasi dan semangat sebagai pencipta kekokohan hati dalam melaksanakan ibadah haji.

 

 

 

 

 

Mengenal Makna Idul Adha Lebih Dalam (Part III)

 “Hai anakkku sesungguhnay aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu “maka fikirkanlah apa pendapatmu? Ismail menjawab: Wahai bapakku kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. InsyaAllah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.” (QS Aa-saffat: 102)

Ketika keduanya siap untuk melaksanakan perintah Allah, datanglah setan sambil berkata, “Ibrahim, kamu orang tua macam apa kata orang nanti, anak saja disembelih?” “Apa kata orang nanti?” “Apa tidak malu? Tega sekali, anak satu-satunya disembeli!” “Coba lihat, anaknya lincah seperti itu!” “Anaknya pintar lagi, enak dipandang, anaknya patuh seperti itu kok dipotong!” “Tidak punya lagi nanti setelah itu, tidak punya lagi yang seperti itu! Belum tentu nanti ada lagi seperti dia.” Nabi Ibrahim sudah mempunya tekat. Ia mengambil batu lalu mengucapkan, “Bismillahi Allahu akbar.” Batu itu dilempar. Akhirnya seluruh jamaah haji sekarang mengikuti apa yang dulu dilakukan oleh Nabi Ibrahim ini di dalam mengusir setan dengan melempar batu sambil mengatakan, “Bismillahi Allahu akbar”. Dan hal ini kemudian menjadi salah satu rangkaian ibadah haji yakni melempar jumrah.

Ketika sang ayah belum juga mengayunkan pisau di leher putranya. Ismail mengira ayahnya ragu, seraya ia melepaskan tali pengikat tali dan tangannya, agar tidak muncul suatu kesan atau image dalam sejarah bahwa sang anak menurut untuk dibaringkan karena dipaksa ia meminta ayahnya mengayunkan pisau sambil berpaling, supaya tidak melihat wajahnya.

Nabi Ibrahim memantapkan niatnya. Nabi Ismail pasrah bulat-bulat, seperti ayahnya yang telah tawakkal. Sedetik setelah pisau nyaris digerakkan, tiba-tiba Allah berseru dengan firmannya, menyuruh menghentikan perbuatannya tidak usah diteruskan pengorbanan terhadap anaknya. Allah telah meridloi kedua ayah dan anak memasrahkan tawakkal mereka. Sebagai imbalan keikhlasan mereka, Allah mencukupkan dengan penyembelihan seekor kambing sebagai korban.

Belajar Pengorbanan Dari Ibrahim (Hikmah Qurban)

Menyaksikan tragedi penyembelihan yang tidak ada bandingannya dalam sejarah umat manusia itu, Malaikat Jibril kagum, seraya terlontar darinya suatu ungkapan “Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar.” Nabi Ibrahim menjawab “Laailaha illahu Allahu Akbar.” Yang kemudian dismbung oleh Nabi Ismail “Allahu Akbar Walillahil Hamdu.’

Pengorbanan Nabi Ibrahim AS yang paling besar dalam sejarah umat umat manusia itu membuat Ibrahim menjadi seorang Nabi dan Rasul yang besar, dan mempunyai arti besar. Peristiwa yang dialami Nabi Ibrahim bersama Nabi Ismail diatas, bagi kita harus dimaknai sebagai pesan simbolik agama, yang mengandung pembelajaran paling tidak pada tiga hal;

Pertama, ketakwaan. Pengertian taqwa terkait dengan ketaatan seorang hamba pada Sang Khalik dalam menjalankan perintah dan menjauhi larangan Nya. Koridor agama (Islam) mengemas kehidupan secara harmoni seperti halnya kehidupan dunia-akherat. Bahwa mereaih kehidupan baik (hasanah) di akhierat kelak perlu melalui kehidupan di dunia yang merupakan ladang untuk memperbanyak kebajikan dan memohon ridho Nya agar tercapai kehidupan dunia dan akherat yang hasanah. Sehingga kehidupan di dunia tidak terpisah dari upaya meraih kehidupan hasanah di akherat nanti. Tingkat ketakwaan seseorang dengan demikian dapat diukur dari kepeduliannya terhadap sesamanya. Contoh seorang wakil rakyat yang memiliki tingkat ketakwaan yang tinggi tentu tidak akan memanfaatkan wewenang yang dimiliki untuk memperkaya dirinya sendiri bahkan orang seperti ini akan merasa malu jika kehiudpannya lebih mewah dari pada rakyat yang diwakilinya. Kesiapsediaan Ibrahim untuk menyembelih anak kesayangannya atas perintah Allah menandakan tingginya tingkat ketakwaan Nabi Ibrahim, sehingga tidak terjerumus dalam kehidupan hedonis sesaat yang sesat. Lalu dengan kuasa Allah ternyata yang disembelih bukan Ismail melainkan domba. Peristiwa ini pun mencerminkan Islam sangat menghargai nyawa dan kehidupan manusia, Islam menjunjung tinggi peradaban manusia.

Kedua, hubungan antar manusia. Ibadah-ibadah umat Islam yang diperintahkan Tuhan senantiasa mengandung dua aspek tak terpisahkan yakni kaitannya dengan hubungan kepada Allah (hablumminnalah) dan hubungan dengan sesama manusia atau hablumminannas. Ajaran Islam sangat memerhatikan solidaritas sosial dan mengejawantahkan sikap kepekaan sosialnya melalui media ritual tersebut. Saat kita berpuasa tentu merasakan bagaimana susahnya hidup seorang dhua’afa yang memenuhi kebutuhan poangannya sehari-hari saja sulit. Lalu dengan menyembelih hewan kurban dan membagikannya kepada kaum tak berpunya itu merupakan salah satu bentuk kepedualian sosial seoarng muslim kepada sesamanya yang tidak mampu. Kehidupan saling tolong menolong dan gotong royong dalam kebaikan merupakan ciri khas ajaran Islam. Hikmah yang dapat dipetik dalam konteks ini adalah seorang Muslim diingatkan untuk siap sedia berkurban demi kebahagiaan orang lain khususnya mereka yang kurang beruntung, waspada atas godaan dunia agar tidak terjerembab perilaku tidak terpuji seperti keserakahan, mementingkan diri sendiri, dan kelalaian dalam beribadah kepada sang Pencipta.

Mengenal Makna Idul Adha Lebih Dalam (Part II)

Allah SWT berfirman:

قَالَ وَمَن كَفَرَ فَأُمَتِّعُهُ قَلِيلاً ثُمَّ أَضْطَرُّهُ إِلَى عَذَابِ النَّارِ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ

Artinya: Allah berfirman: “Dan kepada orang kafirpun, aku beri kesenangan sementara, kemudian aku paksa ia menjalani siksa neraka. Dan itulah seburuk buruk tempat kembali.” (QS. Al-Baqarah: 126)

Idul Adha dinamai juga “Idul Nahr” artinya hari raya penyembelihan. Hal ini untuk memperingati ujian paling berat yang menimpa Nabi Ibrahim. Akibat dari kesabaran dan ketabahan Ibrahim dalam menghadapi berbagai ujian dan cobaan, Allah memberinya sebuah anugerah, sebuah kehormatan “Khalilullah” (kekasih Allah).

Setelah gelar Al-khalil disandangnya, Malaikat bertanya kepada Allah: “Ya Tuhanku, mengapa Engkau menjadikan Ibrahim sebagai kekasihmu. Padahal ia disibukkan oleh urusan kekayaannya dan keluarganya?” Allah berfirman: “Jangan menilai hambaku Ibrahim ini dengan ukuran lahiriyah, tengoklah isi hatinya dan amal baktinya!”

Sebagai realisasi dari firmannya ini, Allah SWT mengizinkan pada para malaikat menguji keimanan serta ketaqwaan Nabi Ibrahim. Ternyata, kekayaan dan keluarganya dan tidak membuatnya lalai dalam taatnya kepada Allah.

Dalam kitab “Misykatul Anwar” disebutkan bahwa konon, Nabi Ibrahim memiliki kekayaan 1000 ekor domba, 300 lembu, dan 100 ekor unta. Riwayat lain mengatakan, kekayaan Nabi Ibrahim mencapai 12.000 ekor ternak. Suatu jumlah yang menurut orang di zamannya adalah tergolong milliuner. Ketika pada suatu hari, Ibrahim ditanya oleh seseorang “milik siapa ternak sebanyak ini?” maka dijawabnya: “Kepunyaan Allah, tapi kini masih milikku. Sewaktu-waktu bila Allah menghendaki, aku serahkan semuanya. Jangankan cuma ternak, bila Allah meminta anak kesayanganku Ismail, niscaya akan aku serahkan juga.”

Ibnu Katsir dalam tafsir Al-Qur’anul ‘adzim mengemukakan bahwa, pernyataan Nabi Ibrahim yang akan mengorbankan anaknya jika dikehendaki oleh Allah itulah yang kemudian dijadikan bahan ujian, yaitu Allah menguji iman dan taqwa Nabi Ibrahim melalui mimpinya yang haq, agar ia mengorbankan putranya yang kala itu masih berusia 7 tahun. Anak yang elok rupawan, sehat lagi cekatan ini, supaya dikorbankan dan disembelih dengan menggunakan tangannya sendiri. Sungguh sangat mengerikan! Peristiwa spektakuler itu dinyatakan dalam Al-Qur’an: