Cara Memuliakan Kabah

Penjagaan Kabah      

Kabah selalu dijaga oleh “askar” atau polisi atau tim keamanan kota Mekah. Penjagaan ini di samping untuk mengatur jalannya thawaf agar tidak menimbulkan kecelakaan, juga untuk mencegah mereka yang terlalu emosional terhadap kabah serta benda-benda lainnya yang berada di sekitarnya.

Tidak jarang dari mereka yang sudah mencapai dinding kabah, kemudian menangis dan bahkan meranung-raung sambil mengemukakan maksudnya. Maka para askar (polisi atau keamanan) akan mengatakan “haram”. Bahkan bagi mereka yang terus menerus bandel, askar akan memukulkan kain seperti sajadah yang sudah digulungkan seperti kayu kepada badan mereka. Karena menurut syariat Islam, mendekati kabah cukup dengan mengusap atau mencium serta kemudian berdoa, seperti yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Saw.   

Cara Memuliakan Kabah

Memuliakan dan mengagungkan kabah bukan berarti kita menyembah atau mengkultuskan kabah. Jika sampai kabah yang kita sembah, maka itu berarti kita telah jatuh kepada syirik. Karena peranan kabah sebagai simbol itulah kita dapat memahami kenapa kabah bisa tertimbun pasir di zaman Nabi Nuh, atau tidak menjadi arah kiblat karena umat Islam pernah berkiblat ke Baitul Maqdis sebelum kabah ditetapkan sebagai arah kiblat seperti yang tercantum dalam Al-Quran Surat Al-Baqarah ayat 142 dan 144.       

Namun demikian jika kita menganggap enteng kabah sehingga tidak tersentuh sama sekali ketika melihatnya, ditakutkan kita juga jatuh ke dalam kondisi sesat, karena kabahlah satu-satunya rumah yang dimuliakan Allah di muka bumi, sehingga tepatlah Nabi mengatakan bahwa memandang kabah akan mendapatkan pahala.

Demikianlah Rasulullah memuliakan kabah, sehingga kita sebagai umatnya patut untuk memuliakannya pula dan berusaha untuk mendekatinya, berkumpul dan bersatu dengan umat Islam di seluruh belahan dunia.

Kabah, Pemersatu Umat Islam

KABAH,

PEMERSATU UMAT ISLAM

 

Sesungguhnya Allah Swt. telah menjanjikan kepada Rumah ini, bahwa setiap tahunnya ia akan dikunjungi oleh (paling sedikit) enam ratus ribu pengunjung. Jika jumlah mereka kurang dari itu, maka Allah Swt. mencukupkan bilangan itu dengan sejumlah malaikat. Dan sesungguhnya Ka’bah akan ditampilkan di padang Mahsyar bagaikan pengantin wanita yang dikelilingi oleh orang banyak. Maka setiap orang yang pernah mengunjunginya (dengan melaksanakan haji) akan bergantung pada kain penutup (kiswah)-nya dan berjalan di sekitarnya. Yang demikian itu sampai ia memasuki surga dan merekapun memasukinya bersamanya.”
— Al-Ghazali. Rahasia Haji dan Umrah. (Bandung: Karisma, 1997). hlm.20 —

Kabah adalah lambang kiblat manusia di seluruh dunia yang disebut juga Baitullah (Rumah Allah). Kiblat berarti “arah” yang akan kita sembah. Yang kita sembah adalah Allah Swt, berarti kabah sebagai kiblat adalah lambang keberadaan Allah Swt di dunia ini.

Makna Bentuk Kabah

Kabah yang berarti kubus (bersisi enam) menunjukkan bahwa kabah menghadap ke semua arah. Oleh karena itu amatlah tepat Allah melambangkan kiblatnya dengan kubus yang semua sisinya dapat dipergunakan untuk menghadap sesuai dengan sifat Allah, dan bukan dengan bentuk lain baik itu lingkaran, segitiga dan sebagainya, wallahu a’lam.

Kabah sebagai Pemersatu Umat Islam

Kabah setiap detiknya tidak pernah kosong dikelilingi oleh umat islam yang melakukan thawaf, apalagi di musim haji. Kegiatan thawaf atau mengelilingi kabah tersebut berlangsung sepanjang hari, kecuali tentunya ketika umat Islam mengerjakan shalat, maka pada saat itu pula mereka yang melaksanakan thawaf berhenti sejenak untuk mendirikan shalat berjamaah.

Pada saat jamaah mengunjungi Masjidil Haram, pada saat itu pula mereka akan berthawaf, mengelilingi kabah 7 kali sambil mengumandangkan doa-doa yang seragam dan sudah dibakukan. Setelah selesai mengelilingi kabah (berthawaf) tersebut, banyak jamaah yang melaksanakan shalat sunat, baik di daerah Multazam (antara lubang tempat melihat atau mencium hajar aswad) di antara makam Ibrahim as. dan kabah, atau di hijir Ismail.

Hukum Ibadah Haji Bagi Anak-Anak

HAJINYA ANAK-ANAK

Sah-nya Haji Anak-anak

Anak-anak tidak berkewajiban mengerjakan ibadah haji, namun jika mereka mengerjakannya hajinya tetap sah.[i] Hal ini berdasarkan hadits yang terdapat dalam shahih Muslim:

Dari Ibnu Abbas, bahwasanya ada seorang wanita mengangkat anak kecil ke hadapan Rasulullah Saw. lalu bertanya, ‘Apakah anak ini mendapatkan (pahala) haji?’ Beliau menjawab, ‘Ya, dan kamupun mendapatkan pahala”.[ii]

Disebutkan pula dalam shahih Bukhori:

Dari As-Sa’ib bin Yazid, ia berkata: Aku diajak malakukan haji bersama Rasulullah Saw. sedang saat itu aku berumur tujuh tahun.”[iii]

Kewajiban Berhaji lagi Setelah Dewasa

Meskipun dianggap sah, tetapi haji anak kecil di bawah umur ini, baik laki-laki maupun perempuan tidak menjadikannya terlepas dari kewajiban haji yang merupakan salah satu rukun Islam bagi seorang muslim yang mukallaf (dewasa). Demikian halnya hamba sahaya, baik lelaki maupun perempuan, haji mereka sah akan tetapi hajinya itu tidak menjadikannya terlepas dari kewajiban haji jika kelak merdeka. Ini berdasarkan hadits shahih dari Ibnu Abbas, Rasulullah Saw. bersabda: “Anak kecil yang telah mengerjakan haji kemudian ia memasuki usia dewasa tetap berkewajiban mengerjakan ibadah haji lagi, dan budak yang sudah mengerjakan haji kemudian ia dimerdekakan tetap berkewajiban menunaikan ibadah haji lagi.” (HR. Thabrani)[iv]

Hajinya Anak di Bawah Umur Mumayyiz

Selanjutnya, jika anak lelaki yang masih kecil itu di bawah umur mumayyiz, maka walinyalah yang meniatkan ihram untuknya. Walinyalah yang menanggalkan pakaian berjahitnya dan bertalbiyah untuknya. Dengan itu, anak lelaki kecil itu telah berihram. Ia harus dicegah melakukan apa yang menjadi larangan bagi orang dewasa yang sedang berihram. Demikian halnya anak perempuan yang masih kecil di bawah umur mumayyizah, walinyalah yang meniatkan ihram dan bertalbiyah untuknya. Dengan demikian anak perempuan yang masih kecil itu telah berihram. Iapun harus dicegah melakukan apa yang menjadi larangan bagi wanita dewasa yang sedang berihram. Anak kecil tadi, baik lelaki maupun perempuan, haruslah berbadan dan berpakaian suci saat melakukan thawaf, karena thawaf itu menyerupai shalat, sedangkan bersuci adalah syarat syahnya shalat.[v]

Untuk Melanjutkan membaca KLIK Link di bawah ini

Hajinya Anak yang Mencapai Umur Mumayyiz

 


[i] Sulaiman Al-Faifi. Mukhtashar Fiqih Sunnah Sayyid Sabiq. (Solo: Aqwam, 2010). hlm. 344.

[ii] Syeikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz. Haji, Umrah, dan Ziarah Menurut Kitab dan Sunnah. (Saudi Arabia: Departemen Urusan Ke-Islaman, Wakaf, Dakwah dan Bimbingan Islam, 2001). hlm. 47.

[iii] Ibid. hlm. 47-48.

[iv] Sulaiman Al-Faifi. Op.Cit. hlm. 344.

[v] Syeikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz. Op.Cit. hlm. 49.

 

Hajinya Anak Yang Mencapai Umur Mumayyiz


Sebelum membaca postingan ini alangkah baiknya membaca postingan sebelumnya KLIK Di Sini Hukum Ibadah Haji Bagi Anak-Anak
Hajinya Anak yang Mencapai Umur Mumayyiz

Jika anak kecil itu, baik perempuan maupun lelaki sudah mencapai umur mumayyiz, maka ia berihram atas izin walinya. Saat ia hendak ihram, ia harus melakukan apa dilakukan orang dewasa ketika hendak berihram; seperti mandi, memakai wangi-wangian di tubuh dan semacamnya. Dalam hal ini, walinya-lah yang mengatur dan mengurusi keperluan ihram anak itu. Dan walinya pula yang harus mengerjakan amalan yang tidak dapat dilakukan anak itu, seperti melempar jumrah atau semacamnya, dengan diniatkan untuk anak tersebut. Hal-hal lain seperti wukuf di Arafah, mabit (menginap) di Mina dan Muzdalifah, harus dilakukan oleh anak itu sendiri. Untuk thawaf dan sa’i, jika ia tidak mampu melakukannya, harus dipanggul untuk melakukan thawaf dan sa’inya tersebut. Yang utama bagi pemanggul, hendaknya tidak meniatkan thawaf dan sa’i untuk dirinya dan anak itu sekaligus, tetapi saat memanggul, ia harus meniatkan thawaf dan sa’i untuk anak itu saja, setelah itu mengerjakan thawaf dan sa’i untuk dirinya sendiri.

Namun, seandainya pemanggul anak itu meniatkan thawaf untuk dirinya dan untuk anak itu yang dipanggulnya sekaligus, inipun sudah sah menurut hukum. Dan ini adalah pendapat yang lebih shahih, karena Nabi Saw. tidak memerintahkan wanita yang bertanya kepada beliau tentang haji anak yang dibawanya itu untuk menthawafkan anak itu dalam waktu tersendiri. Seandainya hal itu adalah wajib, tentu Nabi Saw. menjelaskan kepada wanita penggendong anak itu.[i]

Selanjutnya, anak kecil yang sudah mencapai umur mumayyiz, baik lelaki maupun perempuan hendaknya diperintahkan untuk bersuci dari hadats juga dari najis, sebelum memulai thawaf, seperti halnya yang dilakukan oleh orang dewasa yang berihram. Sebenarnya, meniatkan ihram untuk anak kecil tidaklah wajib bagi walinya, melainkan hanya sunnah. Jika walinya melakukannya, maka ia mendapat pahala. Jika ia tidak melakukannyapun tidak mengapa. Wallahu a’lam.[ii]



[i] Ibid. hlm. 49-50.

[ii] Ibid. hlm. 51.

WUKUF DI ARAFAH

Wukuf dilaksanakan pada hari arafah mulai dari tergelincir matahari tanggal 9 dzulhijjah sampai dengan terbit fajar tanggal 10 dzulhijjah. Wujuf dinilai sah walaupun dilaksanakan hanya sesaat dalam rentang waktu tersebut, akan tetapi diutamakan mendapatkan sebagian waktu siang dan waktu malam.[i]

Pada saat wukuf, jamaah haji melaksanakan shalat, dzikir dan membaca doa serta memperbanyak membaca Al-Quran. Amalan yang disunahkan di Arafah adalah hendaklah setiap muslim bersungguh-sungguh berdzikir dan bertaubat, menyatakan ketundukan dan kepatuhan pada Allah Swt.[ii] Sedangkan pada saat persiapan wukuf hari-hari sebelumnya, pada tanggal 8 dzulhijjah jamaah haji berpakaian ihram dan niat haji bagi yang berhaji tamattu’ di penginapan masing-masing, sedangkan bagi yang berhaji ifrad dan qiran tidak niat haji lagi karena masih dalam keadaan ihram sejak dari miqat saat tiba, setelah itu berangkat ke Arafah. Pada tanggal 9 dzulhijjah bagi jamaah haji yang telah berada dalam kemah masing-masing menanti saat wukuf (ba;da zawal) sambil berzikir dan berdoa. [iii]

Di Arafah, wukuf boleh dilaksanakan di dalam maupun di luar tenda. Jamaah haji yang melakukan wukuf tidak disyaratkan suci dari hadats besar maupun kecil. Dengan demikian, wukuf jamaah haji yang sedang haid, nifas, junub dan hadats kecil adalah sah.[iv]

 

Kisah Arafah

Arafah merupakan nama suatu padang pasir yang luas. Menurut para ulama, asal penamaannya lebih dari satu kisah.[v]

Pertama, para malaikat mengingatkan Adam As. dan Hawa setelah keduanya ditirinkan ke bumi, yakni di Arafah, agar mereka mengakui dosa-dosanya dan memohon ampun kepada Allah. Dengan kata lain bibit manusia yang pertama (Adam dan Hawa) diturunkan ke muka bumi ini adalah di Arafah.

Kedua, ketika Adam dan Hawa diturunkan dari surge, keduanya berpisah tempat. Adam di India dan Hawa di Jeddah (Jeddah artinya nenek). Setelah seratus tahun kemudian mereka bertemu di padang Arafah (arafah berarti tahu atau kenal), tepatnya di Jabal Rahmah (bukit kasih sayang).

Ketiga, Ibrahim as. diberitahu Jibril cara menunaikan manasik haji di tempat ini. Jibril bertanya, “Arafta’, tahukah kamu?” Ibrahim menjawab, “Araftu, aku mengetahuinya.”

Keempat, pemberian nama Arafah berkaitan dengan penamaan hari-hari sebagai berikut: hari kedelapan dzulhijjah disebut haru Tarwiyah yang berarti merenung atau berpikir, erat kaitannya dengan peristiwa yang dialami oleh nabi Ibrahim as. yaitu pada hari Tarwiyah ini nabi Ibrahim bermimpi mendapat perintah untuk menyembelih anaknya, Ismail (QS. 37: 102-7). Pada malam itu sampai besoknya nabi Ibrahim sangat gelisaj, tyerus menerus merenung dan berpikir, mempertanyakan apakah mmpinya itu berasal dari Allah atau dari setan. Karena ragu beliau tidak segera melaksanakan mimpinya pada siang harinya. Pada malam kesembilan, Ibrahim as. bermimpi para malaikat mengingatkan lagi dengan perintah yang sama. Setelah mimpi yang kedua inilah nai Ibrahim as. baru yakin bahwa mimpinya itu merupakan wahyu dari Allah Swt. Oleh karena itu, hai kesembilan ini dinamakan hari Arafah (mengetahui). Pada malam hari kesepuluh, nabi Ismail as. bermimpi lagi untuk ketiga kalinya dengan mimpi yang sama pula. Maka keesokan harinya (10 Dzulhijah) nabi Ibrahim melaksanakan perintah itu, karena itu disebut hari Nahar yang berarti hari penyembelihan.



[i] Tri May Hadi. Kumpulan Doa, Dzikir, dan Tanya Jawab untuk Ibadah Haji dan Umrah. (Jakarta: Kesaint Blanc, 2009). Hlm. 142

[ii] Maisarah Zas. Haji dan Pencerahan Jati Diri Muslim. (Bandung: Alfabeta, 2005). hlm. 148.

[iii] Tri May Hadi. Op.Cit. hlm. 142

[iv] Ibid. hlm. 143

[v] Maisarah Zas. Op.Cit. 149

Macam-Macam Thawaf

Thawaf ialah mengelilingi ka’bah sebanyak tujuh kali putaran, yang dimulai dan diakhiri pada arah yang sejajar dengan hajar aswad.[i] Menurut berbagai riwayat, thawaf yang dilaukan Adam pada hakikatnya adalah meniru malaikat mengelilingi Baitul Makmur sebagai wujud permohonan karena telah membantah Allah dengan mengatakan, “Mengapa Engkau akan menjadikan di muka bumi ini orang-orang yang akan berbuat kerusakan dan menumpahkan darah”, sebagaimana yang tercantum dlam Q.S Al-Bararah ayat 20.[ii] Dalam hal ini, thawafnya orang yang berhaji dapat diserupakan dengan thawafnya para malaikat.[iii] Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Ibn Umar dengan sanad shahih, “Barangsiapa yang berusaha menyerupai suatu  kaum, maka ia (dianggap) seperti mereka juga.”.

Thawaf tidak harus selalu dilakukan oleh orang yang memsuki masjidil haram, akan tetapi jika memungkinkan thawaf dapat dilaksanakan sebagai pengganti shalat sunat tahiyyatul masjid. Setiap orang yang melakukan thawaf harus dalam keadaan suci dari hadas kecil maupun besar. Jamaah haji yang batal wudhunya hendaknya menghentikan thawafnyua kemudian berwudhu, lalu melanjutkan kembali thawafnya dari arah yang sejajar dengan hajar aswad tanpa harus mengulangi dari awal.[iv]

Jika datang waktu shalat wajib yang dilakukan berjamaah, jamaah haji yang thawaf harus menghentikan thawafnya untuk mengikuti shalat wajib berjamaah terlebih dahulu, dan putaran thawaf yang masih tersisa diteruskan setelah selesai shalat drai tempat dimana ia mulai niat memasuki shaf shalat.[v]

Macam-macam Thawaf

Ada empat macam thawaf sebagai berikut:[vi]

  1. Thawaf qudum
  2. Thawaf rukun (ifadah dan umrah)
  3. Thawaf sunat
  4. Thawaf wada’

 

Thawaf Qudum

Thawaf qudum adalah thawaf yang dilakukan oleh orng yang baru tiba di Mekah sebagai penghormatan terhadap Ka’bah. Seseorang yang baru tiba di Mekah hukumnya sunat melakukan thawaf qudum. Namun bagi yang melakukan haji tamattu’, thawaf qudumnya sudah termasuk dalam thawaf umrahnya. [vii]

Thawaf Ifadah

Thawaf ifadah adalah thawaf rukun haji, dikenal juga dengan thawaf sadr (inti) atau thawaf ziarah. Hukumnya adalah sebagai salah satu rukun haji dan apabila tidak dikerjakan, maka tidak sah hajinya. Thawaf ifadah dikerjakan setelah lewat tengah malam hari nahar (tanggal 10 dzulhijjah) sampai kapan saja, tetapi dianjurkan pada hari-hari tasyrik atau masih dalam bulan dzulhijjah. Bagi orang yang memiliki halangan tertentu, dapat melaksanakan thawaf pada waktu yang tidak ditentukan.[viii]

Thawaf Umrah

Thawaf umrah ialah thawaf yang dikerjakan setiap melakukan umrah wajib atau umrah sunat.[ix]

Thawaf Sunat

Thawaf sunat ialah thawaf yang dilakukan setiap saat ketika seseorang berada dalam Masjidil Haram tidak diikuti dengan sa’I dan yang bersangkutan mengenakan pakaian biasa.[x]

Thawaf Wada’

Thawaf wada’ ialah thawaf pamitan yang dilakukan oleh oleh setiap orang yang telah selesai melakukan ibadah haji atau umrah dan akan meninggalkan kota Mekah. Thawaf wada’ hukumnya wajib bagi setiap orang yang akan meninggalkan kota Mekah. Menurut pendapat Imam Malik hukumnya mustahab (dianjurkan). [xi]

 

 

 

 



[i]  Tri May Hadi.  Kumpulan Doa, Dzikir, dan Tanya Jawab untuk Ibadah Haji dan Umrah. (Jakarta: Kesaint Blanc, 2009). hlm. 132.

[ii] Maisarah Zas. Haji dan Pencerahan Jati Diri Muslim. (Bandung: Alfabeta, 2005). hlm. 160.

[iii] Al-Ghazali. Rahasia Haji dan Umrah. (Bandung: Karisma, 1997). hlm. 135.

[iv] Tri May Hadi.  Op.Cit. 133.

[v] Ibid.

[vi] Ibid. hlm. 135.

[vii] Ibid.

[viii] Ibid. hlm. 136.

[ix] Ibid.

[x] Ibid.

[xi] Ibid.

 

Hidangan Makanan di Arafah Terasa Nikmat (Part-2)

Tulisan ini adalah lanjutan dari Hidangan Makanan di Arafah Terasa Nikmat (Part-1)

Setiba di Arafah, Pak Anis mengeluarkan simpanannya: Dua lembar kain parasut yang sangat lebar, seutas tambang sepanjang sekitar 6 meter, dan bambu yang berfungsi sebagai patok untuk mengukuhkan kain parasut yang pada ujungnya sudah diberi ring. Kami mencari lokasi yang terdapat dua pohon. Kami menemukannya dekat dengan dapur, toilet dan kemah besar milik orang arab. Praktis sekali: Kami mengikatkan tambang diantara dua pohon, lantas kain parasut disampirkan di atasnya, sementara ujungnya dipancangkan dengan patok bambu melalui ring yang ada di ujung dan tepi kain parasut. Dalam hitungan kurang dari satu jam, tenda yang bisa menampung sekitar dua puluh jamaah pun telah siap. Kami segera memasukinya, menggelar tikar, dan bersiap untuk melaksanakan wukuf.

Usai shalat zuhur, Haji Anis berkhutbah, khutbah Arafah yang membuat kami bertafakur merenungi dosa dan maksiat yang pernah dilakukak. Merenungi betapa banyak perintah Allah yang belum dilaksanakan. Air mata menetes, bahkan tertumpah di sela-sela tangis di Arafah. Bahkan, Allah mengirimkan hujan ketika itu yang membuat kami semakin haru: diperciki hujan di Arafah, serasa diguyur sejuta nikmat dari surga.

Usai khutbah, rasa lapar mulai terasa. Jamaah koboi- karena paspor hijau-memang tidak termasuk yang dilayani oleh Muassasah Asia Tenggara sebagai mitra Depag RI untuk melayani jamaah, termasuk makan dan minum selama wukuf di Arafah dan selama melempar Jumrah di Mina. Kami memang sudah menyiapkan makanan kecil dan air secukupnya yang kami simpan dalam tas. Namun, Allah yang Maha Menyantuni tak mau membiarkan kami menjadi haji tanpa kegembiraan, atau tepatnya: Allah Yang Mahakaya tak akan membiarkan kita kelaparan.

Seorang pengemis masuk ke tenda dan meminta sedekah kami. Pengemis itu seorang wanita, tinggi sekitar 170 cm, usia sekitar 60-an, berpakaian lusuh tapi bersih, wajahnya memancarkan sesuatu yang sulit diungkapkan. Kami semua tak terkecuali, saling berlomba memberikan sedekah. Saya pun mengambil uang dari ikat pinggang haji saya, dan segera saya berikan kepada perempuan itu. Usai menerima sedekah, pengemis itu melontarkan ucapan terima kasih dan kemudian berlalu ……

Tidak lama kemudian, masuk seorang laki-laki bangsa Arab ke tenda kami, dia menatap kami satu per satu. Kami belum tahu apa maksudnya sehingga kami pun hanya tersenyum kepadanya. Ini juga sebagai pengganti bahasa karena hanya Pak Anis yang fasih berbahasa arab di antara kami. Lantas dia keluar dan tidak lama kemudian dia masuk lagi. Kali ini, laki-laki itu masuk dengan tangan penuh oleh-oleh: air mineral sera aneka jus. Dia keluar lagi sebelum kami sempat berterima kasih.

Tak lama kemudian, dia masuk lagi dan kali ini membawa hidangan yang sangat istimewa: Sajian kurma yang sangat lezat yang disajikan di atas nampan yang bersih. Kami serasa mendapat kiriman langsung dari Allah. Beberapa di antara kami mulai memakan kurma sambil meneteskan air mata haru. Bagaimana tidak? Kami bermimpi untuk dijamu sedemikian hebat, sebab kami hanya sekelompok jamaah biasa yang bertenda di antara dua pohon, berteduh dari terik matahari dengan berbekal kain parasut yang disampirkan diatas seutas tambang. Jika kemudian Allah memberikan jamuan seperti ini, rasa syukur rasanya tak pernah cukup untuk membalas segala kebaikan Allah kepada kami.

Di tengah suasana haru, saya dan beberapa jamaah masih sempat bercanda. Saya pun menyahut, “Wah, kalau ada nasi ayam, pasti lebih lezat.” Jamaah lain hanya tersenyum mendengar canda saya dan Haji Maman. Dengan ucapan itu, saya benar-benar bercanda, dan insya Allah bukan karena merasa tidak puas atas jamuan Allah yang sudah ada. Tapi hanya bergurau sambil membayangkan nasi ayam yang lezat.

Tak lama kemudain, laki-laki Arab yang sedari tadi menjadi “kurir Allah”untuk mengirimkan makanan kepada kami, masuk lagi kedalam tenda. Kali ini dia tidak membawa apa-apa. Namun, dia sepertinya menghitung ulang jumlah kami. Kami semua terdiam melihat wajahnya yang serius. Lalu dia keluar dan tak lama kemudian masuk lagi.

Subhanallah, lihatlah apa yang dia bawa: 4 bungkus besar nasi ayam, atau tepatnya ayam nasi. Setiap bungkus berisi 8 ekor ayam dan nasi yang dimasak dengan kuning khas Arab. Dia melakukannya di tenda kami dan berkata: Haji, halal, haji. Barakallah!

Saya tak mampu membendung air mata lagi: kami hanya bercanda meminta nasi ayam, tetapi Allah justru mengirimkan ayam nasi yang sangat berlimpah. Tiga puluh dua potong ayam untuk kami yang hanya sekitar 20 orang. Di tengah padang Arafah, di antara isak tangis, kami menyantap ayam kiriman Allah melalui saudara kami dari bangsa Arab yang dermawan.

Isak tangis saya tak henti-henti bahkan ketika mulai makan, Pak Isnu bertanya, “kenapa menangis terus, Mas Budi?”.

Saya pun menjawab “Pak, saya sangat terharu dengan kiriman ayam nasi ini. Lalu saya teringat anak sulung saya, Ahmad. Dia sangat suka ayam. Bahkan, setiap makan harus dengan ayam goreng. Setiap makan, dia bisa menghabiskan dua sampai tiga potong ayam. Di Arafah ini Allah mengirimkan ayam kepada saya. Ini membuat saya ingat pada anak dan istri di Tanah Air. Semoga suatu ketika, saya bisa berhaji dengan mereka. Bertafakur di Padang Arafah, bermunajat dan memohon kepada Allah. Insya Allah.”.

Di Arafah, tangis kam tertumpah, bersama doa dan harapan semoga Allah memperkenankan segala doa kami dan kelak suatu ketika dapat kembali berhaji bersama istri dan anak-anak. Amin

Inilah Kisah “Masbudpray” Sapaan akrab Ust. Budi Prayitno ketika berhaji untuk yang perama kalinay. Semoga dapat memberikan sepirit keimanan kita, dan lebih menguatkan niat kita untuk berhaji ke tanah suci. Aamiin Yaa Robbal A’alamiin.

Bandara Madinah akan memiliki Terminal Haji

Kementerian Haji akan membangun terminal untuk peziarah di Prince Muhammad International Airport di Madinah tahun ini untuk memenuhi persyaratan dari meningkatnya jumlah jamaah yang datang untuk haji dan umrah.

Sahel Al-Sabban, wakil menteri untuk transportasi dan proyek, mengatakan terminal haji baru akan selesai pada akhir tahun ini dengan biaya SR 30.140.000.

Bandara Madinah dengan proyek perluasan ini akan meningkatkan kapasitasnya hingga delapan juta penumpang pada tahap pertama dan 12 juta pada tahap kedua.

Proyek “New Madinah Airport” mencakup pembangunan terminal baru seluas 138.000 meter persegi.  Dan akan memiliki 18  gerbang keberangkatan dengan air-bridge yang terkait dengan pesawat sebanyak 20 pesawat. Total luas proyek ini sebesar empat juta meter persegi (4 juta m2).

Tahun lalu, GACA membuka terminal internasional baru yang dapat menangani 35 penerbangan setiap hari. “Terminal baru memiliki kapasitas untuk menampung 600 penumpang per jam,” kata GACA, menambahkan bahwa kapasitas akan dua kali lipat menjadi 1.200 penumpang setelah tahap kedua selesai.

Al-Sabban mengatakan pihaknya akan melaksanakan sejumlah proyek baru tahun ini, termasuk pembangunan bangunan kantor cabang dan lembaga untuk Umrah di Makkah, alokasi penambahan ini telah dibuat mereka dalam anggaran tahun ini.

“Proyek-proyek baru yang sedang dilaksanakan pada awal musim Umrah yang akan terus selama delapan bulan,” kata menteri.

Tahun lalu lebih dari 5,5 juta jamaah melakukan umrah. “Ini adalah 18 persen lebih dari jumlah tahun 2011 ketika 4,1 juta datang untuk umrah,” kata Al-Sabban.

Beliau memberikan penghargaan pada kerjasama antara instansi pemerintah dan swasta untuk keberhasilan operasi Haji dan Umrah tahun lalu.

Beliau  menekankan pentingnya sistem trek elektronik yang baru, dan akan dapat meningkatkan pelayanan kepada jamaah haji dan umrah.

“Sistem baru ini akan memungkinkan para peziarah untuk mengetahui layanan yang akan mereka terima di Makkah dan tempat-tempat suci lainnya dari negara asal mereka,” kata Al-Sabban.

Sistem ini juga akan memungkinkan jamaah untuk membayar jasa dengan menggunakan kartu kredit. Hal ini mensyaratkan pengambilan sidik jari dari peziarah sebelum mengeluarkan visa. Peziarah akan dapat memilih pilihan layanan yang berbeda-beda.

“Gateway elektronik kementerian akan diluncurkan segera setelah menyelesaikan infrastruktur yang diperlukan,” katanya. Infrastruktur yang sedang dikembangkan dengan standar tertinggi dan didukung oleh perusahaan khusus di bidangnya.

Kementerian telah melatih sejumlah besar orang Saudi untuk bekerja untuk haji dan Umrah di sektor jasa. Pemerintah telah mengizinkan sekitar 200 perusahaan untuk menyediakan jasa umrah. Dan ada lebih dari 2.700 agen asing di sektor ini.

Spiritualitas Ibadah Haji

Ibadah haji adalah ibadah yang penuh dengan nilai-nilai spiritualaitas. Sebagai rukun islam yang kelima, ibadah haji memiliki amaliah-amaliah khusus yang menjadi rukun dan syarat ibadah haji. Talbiyah dan ihram merupakan salah satu rukun dalam pelaksanaan ibadah haji. Talbiyah dan ihram memiliki nilai-nilai spiritualitas yang wajib direnungi oleh semua umat islam. Semoga tulisan ini menjadi pengantar bagi umat islam dalam meresapi makna yang terkandung dalam pelaksanaan ibadah haji.

Talbiyah dan Ihram

Labbaika allahumma labbaik, labbaika la syarika laka labbaik, innal hamda wanni’mata laka wal mulka la syarika laka.

            Lafal talbiyah inilah yang sanggup mengetarkan hati jutaan anak manusia yang berjalan menuju Makkah menuju Arafah, dalam perjalanan umrah dan haji.

Ketika kita mengenakan kain ihram, yang hanya 2 lembar kain tidak berjahit bagi laki-laki, kita seolah-olah sedang diingatkan oleh Allah bahwa sesungguhnya kita adalah hamba yang tidak memiliki apa-apa bahkan, dua lembar kain yang kita kenakan dengan gemetar itu adalah juga pemberian Allah. Bukankah tangan yang erat memegangnya dan jasad yang kita ditutupinya, juga adalah milik Allah?

Pada saat kita berniat umrah atau haji, berarti kita tengah berusaha menunjukkan ketaatan kita kepada Allah, seperti ketaatan Ibrahim a.s., Siti Hajar a.s. Dan Ismail a.s. Dengan bergetar bibir kita melafalkan talbiyah. Labbaika allahumma labbaik labbaika la syarika laka labbaik. Aku datang, ya Allah, aku datang, menyatakan kesaksian atas kesucian dan kemuliaan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu, ya Allah. . .

Sebuah hadis meriwayatkan bahwa seorang sahabat yang tengah dalam perjalanan menuju Arafah dalam rangka beribadah haji, terjatuh dari kendaraannya hingga wafat. Rasullullah Saw. memerintahkan para sahabat untuk memandikannya dengan air dan daun serta dikafani dengan kain ihram yang dikenakannya. Nabi Saw. bersabda, “Kelak dia akan dibangkitkan dalam keadaan bertalbiyah . . . ”

Maukah kita bangkin di hari kiamat kelak, sambil bibir kita bertalbiyah dan terus-menerus menyeru kepada Allah? Labbaika allahumma labbaik labbaika la syarika laka labbaik, innal hamda wanni’mata laka wal mulka la syarika laka.

Haji sungguh perintah yang istimewa. Apabila ibadah seperti shaum dijanjikan akan membuat pelakunya meraih ketakwaan, ibadah haji justru harus berbekal takwa. Firma Allah Swt., Berbekallah kamu dan bekal terbaik adalah takwa (QS Al-Baqarah [2]: 197).

Selain itu, secara eksplisit juga ditegaskan oleh Allah agar mereka yang berhaji melakukannya semata-mata karena Allah. Dalam Al-Quran ditegaskan, Diperintahkan semata-mata karena Allah kepada manusia untuk berhaji, bagi mereka yang memiliki kemampuan melakukan perjalanan ke Baitullah. Barang siapa kufur (tidak mau melaksanakan perintah Allah), ketahuilah Allah Mahakaya dan tidak memerlukan sesuatu pun dari semesta alam (QS Ali ‘Imran [3]: 97).

Ya, saya suka bercanda bahwa tidak ada satu rupiah pun dana yang kita setorkan ke bank untuk BPIH yang masuk ke rekening Allah. Dana itu masuk ke rekening Menteri Agama untuk didistribusikan ke perusahaan penerbangan dan trasportasi darat, penyewaan rumah, katering, serta urusan haji lainnya.

Disamping itu, ditegaskan pula agar dalam melaksanakan haji dan umrah, mulanya haruslah semata-mata karena Allah, bukan karena yang lain, bukan karena ingin yang lain. Jika pun kita termotivasi berhaji karena semua keluarga sudah haji dan tinggal kita yang belum, hal itu juga bisa dijadikan pemicu, tetapi hajinya semata-mata harus karena Allah.

Saat kain ihram dikenakan, saat kaki melangkah dari miqat, saat itulah setidak-tidaknya, hati kita disucibersihkan dari segala niat yang lain selain berniat haji semata-mata karena Allah. Setidak-tidaknya saat itulah kita tegaskan komitmen tertinggi kita pada Allah dan berserah diri pada Allah Yang Mahakuasa atas segala sesuatu.

Episode Haji Mengagumkan

Diantara episode haji yang memerlukan perhatian khusus adalah ritual usai wukuf. Usai wukuf, jamaah akan bergerak ke Muzdalifah. Bermalam disana dan kemudian bergerak ke Mina untuk melempar Jumrah Aqabah, lalu melanjutkan dengan tawaf ifadhah. Kemudian jamaah akan kembali ke Mina untuk mabit, hingga tanggal 12 Dzulhijjah (disebut dengan Nafar Awwal) atau hingga tanggal 13 Dzulhijjah (disebut Nafar Tsani).

Pernah rombongan jamaah kami membenahi tenda dan barang-barang, dan tak lupa membawa sisa daging ayam karena jika ditinggal begitu saja, khawatir dihukumi mubazir atau tak bersyukur atas nikmat Allah. Karena itu, barang bawaan kami pun sedikit bertambah isinya: Buah-buahan, jus dan daging ayam.

Kami memilih berjalan dari Arafah menuju Muzdalifah. Ketika rombongan baru berjalan sekitar 15 menit dan melalui dan melalui sebuah sungai pasir (bentuknya seperti sungai, tapi kering kerontang), hujan gerimis mulai turun. Hujan itu tampaknya tidak segera reda dan bukannya berkurang, melainkan malah terus bertambah. Dalam rombongan kami terdapat tiga orang ibu yang berusia sekitar 60 tahun, beberapa dengan keluhan rematik di kaki. Maka perjalanan diprogramkan untuk santai saja. Jika ada yang merasa kelelahan, semua akan berhenti untuk beristirahat. Namun, kami sama sekali tak terhitungkan hujan!

Lalu saya bertanya kepada para ibu yang luar biasa itu, “Kalau ibu-ibu merasa tidak nyaman oleh hujan ini dan khawatir sakit, tidak mengapa kita istirahat saja dan mencoba mencari tempat berteduh, “kata saya sambil berpikir tempat yang cocok untuk berteduh. Dalam hati saya berkata, paling juga kami membongkar lagi kain parasut bekas tenda.

Ketika saya berpikir keras, Ibu Rosika mewakili jamaah yang lain berkata, “Pak Budi, jangan khawatir, kami tidak apa-apa. Malah kami senang bisa kehujanan di Arafah. Tidak terbayangkan sebelumnya kami bisa dikirim hujan seperti ini, di Tanah Suci yang sebelumnya terbayang hanya panas terik. Kami ridha dan sangat bahagia bisa hujan-hujanan di Makkah,” jawab Ibu Rosika berapi-api.

Allahu Akbar! Jika seorang hamba ingat kepada Allah, Allah ingat kepadanya. Jika hamba itu ridha, Allah pun ridha kepadanya. Ingat dan ridha kepada Allah, tampaknya akan membuat  apa pun yang hadir dalam hidup kita menjadi bernilai positif. Benarlah sabda Rasullullah Saw., “Ajaib keadaan seorang mukmin. Jika ditimpa musibah, dia bersabar, dan jika mendapat kebahagiaan, dia bersyukur.”

ibu rosida dan kawan-kawan tampaknya sedang “mabuk kepayang” pada cinta Allah. Mereka tidak merasakan apa pun kecuali kebahagiaan dan rasa syukur yang mendalam karena Allah telah memberikan kesempatan berhaji den menjamu mereka di Padang Arafah dengan jamuan kebahagiaan. Hujan yang turun benar-benar dirasakan sebagai kenikmatan. Maka kami pun terus berjalan menuju Muzdalifahuntuk bermalam menunggu esok subuh dan mengisi perjalanan sepanjang Arafah-Muzdalifah dengan zikir, doa, dan istigfar.

Di muzdalifah kami beristirahat usai menunaikan shalat magrib dan isya. Kami lalu mengumpulkan batu untuk melempar jumrah. Banyak jamaah lain, dalam rombongan yang lebih besar, juga bermalam disekitar kami. Mereka berjamaah magrib dan isya dalam keadaan berkain ihram, di bawah langit Muzdalifah yang sudah kembali terang.

Sangat indah menyaksikan pemandangan itu: Sekelompok orang bertakbir, lalu ruku’ dan sujud bersama, kemudian berdoa usai shalat. Dalam keadaan berkain ihram, dalam perjalanan usai wukuf di Padang Arafah, menuju Mina dan Makkah. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar.

Saya sangat terpesona sehingga tidak dapat menahan perasaan ingin memotret sekelompok jamaah asal Iran yang sedang shlat berjamaah. Saya mengambilnya diam-diam, agak berjarak. Namun rupanya perbuatan saya ada yang melihat. Usai shalat, salah seorang jamaah itu mendekati saya dan bertanya dalam bahasa inggris: You make foto? Saya menjawab Yes. Dia kemudian berkata: Foto haram! Saya menjawab: For you haram, for me No ! Jawaban yang kemudian saya sesali. Meski saya menjawabnya dengan tetap tersenyum dan dia pun kemdian berlalu, saya tetap menyesalinya sebagai sebuah sikap yang kurang ajar. Setidaknya saya khawatir, saudara saya sesama jemaah haji itu menganggap kami, jemaah haji indonesia, tidak tahu etika : memotret orang lain tanpa izin. Ya Allah maafkanlah kesalahanku ini.

Usai bermalam di Muzdalifah, kamipun meneruskan perjalanan menuju mina dengan kondisi yang lebih segar karena istirahat yang cukup disana. Kami tiba di mIna dalam keadaan sudah terang. Kami berkumpul disekitar toilet, mengumpulkan ransel-ransel kami, dan membagi kelompok untuk bergantian melempar jumrah. Sebagian besar melempar jumrah Aqabah, sementara beberapa orang bertugas menjaga barang-barang kami.

Saya bertugas mengawal para ibu, termasuk diantaranya ibu Rosika, seorang karyawati PT yang bergabung karena ingin melaksanakan tanazul (ke Mina terlebih dahulu sebelum ke Arafah).

Melempar jumbrah ketika itu sangat padat. Oleh karena itu, kami memilih tetap melempar dilantai dasar. Kami bergerak perlahan mengikuti arus manusia yang sebagian seperti tak hendak melihat pada yang lain : Tatapannya terfokus pada Jumrah Aqabah, simbol setan yang akan segera dihancurkan dengan batu dari Muzdalifah, batu terbaik yang disepuh denagan sepuhan keikhlasan !

Saya dan regu terus bergerak, berusaha menghindari tabrakan dengan jamaah yang melawan arah, sambil tetap berusaha mendekati Aqabah, hingga jarak aman untuk melempar. Ini hal yang tidak terlalu mudah karena semua orang ingin bergegas, dan beberapa tampak begitu barnafsu, seperti pemburu tak mau kehilangan buruannya.

Ketika sudah berada dalam jarak yang baik, kami pun mulai melemparkan batu ke arah Jumrah Aqabah. Mulut kami merintih dan berucap : Bismillah Allahu Akbar. Lalu tangan kami melemparkan batu yang telah kami sepub dengan doa. Satu demi satu batu kami lemparkan, sambil mulut terus berucap : Bismillah Allahu Akbar.

Prosesi melempar Jumrah adalah sebuah ibadah ritual yang diajarkan Rasulullah Saw. Sebagai ibadah Mahdha, tentu kita tak hendak mempersoalkannya lagi. Namun menggali hikmah dibalik itu, tentu saja bermanfaat agar ritual melempar Jumrah dapat berbekas secara positif terhadap jiwa kita.

Diantara hikmah yang saya temukan adalah : ketika kita melempar Jumrah, sejatinya kita sudah memerangi hawa nafsu dan setan yang bersemayam dalam diri kita, ketika kita melempar Jumrah, kita sedang melemparkan sifat-sifat setan yang ada dalam diri kita. Kita bersihkan diri dengan melemparkan kebusukan kita; kita bersihkan jiwa dengan tunduk patuh pada perintah Allah. Allah perintahkan kita melempar Jumrah, kitalakukan dengan ketaatan. Dan pada saat yang sama, kita renungkan kebusukan dan kejelekan kita; kita campakkan semua itu di Mina. Kita hapus sifat jelek kita dengan batu yang kita kumpulkan di malam hari Muzdalifah! Bismillah Allahu Akbar!

Usai melempar Jumrah, kami bergegas meninggalkan Aqabah, menuju tempat istirahat, posko rombongan kami. Namun dalam hiruk-pikuk yang amat sangat, Ibu Rosika kehilangan sepatunya. “Pak Budi, sepatu saya hilang,” katanya sambil berusaha mencari-cari. Saya segera membaca situasi yang berbahaya, tapi tak ingin membuat Ibu Rosika lebih panik, maka saya katakan, “kalau kaki Ibu tentu masih ada?” canda saya yang dijawab Ibu Rosika, “ya ada atuh pak, Alhamdulillah.” Lalu saya segera meminta Ibu Rosika untuk melupakan sepatunya dan terus bergerak bersama kami untuk keluar dari kerumunan lautan manusia disekitar Aqabah, menuju posko.

Setiba di posko, kami saling berucap syukur karena telah usai melempar Jumrah hari pertama. Kami lalu bersiap menuju Makkah untuk melaksanakan tawaf Ifadha. Ibu Roska tak lupa menceritakan sepatunya yang hilang. Semua menghibur dengan mengatakan “Biarlah sepatu hilang asal kaki utuh dan ibadah lancar.” Ibu Rosika pun membeli sandal yang banyak di jual disekitar Mina. Maka kami pkun segera menuju Makkah, menuju terminal bus disekitar jamarat (sekarang sudah tidak ada).

Ketika kami sudah berjalan sekitar 5 menit, di antara aru smanusia yang padat, berjarak puluhan meter dari lokasi Jumrah Aqabah, tiba-tiba Ibu Rosika yang tepat berjalan didepan saya berteriak, “Pak, ini sepatu saya ketemu!” saya melihat dengan takjub. Di tengah kerumunan manusia yang bergerak tergesa-gesa menuju Makkah, dihadapan Ibu Rosika teronggok sepasang sepatu dengan rapinya, menghadap kearah Ka’bah, tempat kami menuju.

Di tengah keterkejutan saya mash bertanya, “Bagaimana Ibu yakin itu sepatu Ibu?”.

“Saya hafal betul, ini kotor dan sudah agak jelek. Ini bukan sepatu baru. Saya sengaja membawanya dari Tanah Air,” jawab Ibu Rosika sambil masih memandang sepatunya.

Allahu Akbar, bagaimana prosesnya; sepatu yang hilang ketika kami berdesak-desakan disekitar Jumrah Aqabah, lalu ditemukan di tengah jalan menuju terminal yang terpisah puluhan meter jauhnya. Lagi pula, sepatu itu seperti diletakan oleh tangan yang tak terlihat: diletakan dengan rapi mengarah ke Ka’bah, arah yang sedang kami tuju. Ibu Rosika lalu mengambil sepatunya dengan rasa bersyukur dan takjub atas kebesaran Allah! Dipeluknya sepapatunya dengan berlinang air mata. Saya yakin bukan karena semata-mata sepatu itu kembali yang membuat Ibu Rosika menangis haru, tapi perasaan dan keyakinan bahwa sepatu itu dikembalikan Allah untuknyalah yang membuat Ibu Rosika begitu terharu. Hingga saat ini, jika kami bertemu dan mengingat kisah sepatu ini, air mata Ibu Rosika tetap menetes. Allahu Akbar!

Haji memang membuat jarak kita dengan Allah jadi sangat dekat. Ketika melaksanakan Ibadah haji, Allah menjadi begitu dekat, begitu nyata! Sepatu kembali, meski jelek, namun dirasakan sebagai karunia dan kasih sayang Allah yang amat besar. Kebahagiaan bukan diperoleh dari seberapa banyak harta yang dimiliki, melainkan berasal dari sebarapa besar rasa syukur kita atas karunia Allah kepada kita. Kebahagiaan berasal dari seberapa dekat kita dengan Allah. Kebahagiaan diperoleh dari kemampuan merasakan kehadiran Allah dalam hidup kita.