Hal yang Perlu Anda Ketahui tentang Badal Haji

Berhaji.com

Ibadah haji adalah dambaan setiap hamba. Namun, berbagai kondisi bisa menghalangi seseorang untuk menunaikan ibadah haji langsung ke Makkah. Seseorang yang memiliki uzur untuk berangkat haji kadang menunjuk seseorang untuk berangkat haji menggantikan dirinya. Hal ini kerap disebut dengan badal haji. Niat dan ibadah hajinya diperuntukkan bagi seseorang yang batal berangkat dan mengamanahkannya kepada orang lain. Soal ibadah haji, adakah syarat-syarat khususnya?

Badal haji menjadi perbincangan di kalangan fukaha. Ada yang berpendapat tidak bisa dibadalkan karena seseorang akan dihisab, karena amal perbuatannya sendiri. Ada juga yang membolehkan sebab ada nash khusus dalam hadits yang mengizinkan seseorang menghajikan orang lain.

Bagi yang berpendapat bahwa badal haji tidak sah, berpegang kepada beberapa ayat Al-Quran. Di antaranya surah Al-Baqarah ayat 286. “…ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya, dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya..”

Dalam ayat lain, Allah SWT berfirman, “(Yaitu) Bahwasanya seseorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Dan bahwasanya seseorang manusia tidak memperoleh seseuatu selain dari apa yang telah diusahakannya.” (QS. An-Najm [53]: ayat 38-39).

Sementara bagi yang membolehkan mengambil dalil dari beberapa hadits sahih soal badal haji. Di antaranya, dari Ibnu Abbas ra bahwa seorang wanita dari Juhainah datang kepada Nabi SAW dan berkata, “Ibu saya telah bernazar untuk pergi haji, tapi belum sempat pergi hingga wafat, apakah saya harus berhaji untuknya? Rasulullah SAW menjawab, “Ya pergi hajilah untuknya. Tidakkah kamu tahu bila ibumu punya utang, apakah kamu tahu bila ibumu punya utang, apakah kamu akan membayarkannya? Bayarkanlah utang kepada Allah karena hutang kepada-Nya lebih berhak untuk dibayarkan.” (HR. Bukhari).

Dalam hadits lain, seorang wanita dari Khas`am berkata kepada Rasulullah SAW, “Ya Rasulullah sesungguhnya ayahku telah tua renta, baginya ada kewajiban Allah dalam berhaji, dan dia tidak bisa duduk tegak di atas punggung onta,” Lalu Nabi SAW bersabda, “Hajikanlah dia.” (HR Muslim).

Lalu, apakah yang membadalkan haji harus berangkat dari negara orang yang digantikan ataukah bebas dari mana saja? Jumhur Ulama (mayoritas ulama) membolehkan orang yang menggantikan haji bebas berangkat dari negara mana saja. Tidak harus dari asal orang yang digantikan.

Namun, ada ulama dari kalangan Hanabilah yang mempersyaratkan bahwa haji yang digantikan oleh orang lain itu harus dilakukan dengan berangkat dari negeri orang tersebut. Karena menurut mereka, kewajiban haji bagi orang tersebut adalah dari negerinya, maka bila karena suatu alasan harus digantikan oleh orang lain, harus juga berangkat dari negeri tempat dia tinggal.

Soal ibadah haji, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. pertama, yang menghajikan harus sudah haji. Kedua, niat untuk orang yang dibadali. Ketiga, diniatkan untuk membayat utang bukan menggantikan amal. Keempat, seseorang hanya dapat membadali untuk satu orang, karena ihram itu untuk sekali haji dan menyebut nama satu orang. Kelima, pelaksanaan badal oleh naib (anak atau saudara) harus sukarela bukan terpaksa. Keenam, biaya badal haji dari kekayaan orang yang membadali, kecuali anak atau saudara sukarela membiayai.

Yang perlu diperhatikan bersama adalah komersialisasi badal haji. Ada orang-rang yang menawarkan jasa badal haji, tapi ternyata dia menerima tawaran badal haji dari beberapa orang. Sehingga badal hajinya tidak sah.

Adab dalam Mengenakan Ihram yang Harus Anda Ketahui

Berhaji.com

Ihram adalah pakaian yang harus dikenakan jamaah haji sebelum memasuki tanah Suci. Tempat-tempat memakai ihram atau miqat makani sudah ditentukan sejak zaman Rasulullah SAW.

Tak ada yang istimewa dari pakaian ini. Bagi jamaah haji pria, ihram hanyalah dua helai kain putih. Yang satu berfungsi menutupi area pinggang hingga mendekati mata kaki, atau disebut juga dengan izar. Satu helai lainnya menutupi bagian atas.

Hujjatul Islam, Imam Ghazali, dalam Ihya Ulumuddin menjelaskan, putih adalah warna yang disukai Allah.

Meski pun hanya pakaian sederhana, berihram ternyata akan lebih baik bila disertai dengan sejumlah amalan. Sebelum berihram, jamaah haji dianjurkan untuk mandi dengan niatan untuk memakai ihram. Ini dilakukan ketika mereka sudah sampai di miqat makani.

Selama membersihkan diri, jamaah haji membersihkan tubuhnya. Kemudian merapihkan janggut, kumis, rambut, dan memotong kuku.

Selesai mandi, jamaah dapat langsung mengenakan ihram.selama mengenakan ihram, mereka tidak lagi mengenakan pakaian berjahit.

Selama mengenakan ihram, jamaah tidak boleh mengenakan wewangian. Namun, apabila masih ada wewangian tersisa di badan, maka tidak menjadi masalah. Dalam sebuah hadist diceritakan sebelum memulai ihram, ada sisa wewangian atau misik di sela-sela rambut Rasulullah SAW. Wewangian itu tidak dihilangkan meski pun Rasululah SAW sudah mengenakan ihram. (HR. Bukhari dan Muslim, dari Aisyah).

Dalam sebuah hadits diceritakan, istri Rasulullah, Aisyah, biasa menggosokkan minyak wangi kepada Rasulullah ketika ihram, juga ketika tahallul sebelum ia tawaf. (Bukhari dan Muslim).

Ketika berjalan menuju Tanah Suci, jamaah sudah bisa meniatkan untuk apa berihram.ada yang berniat untuk berhaji. Ada juga yang berumrah, atau keduanya.

Jamaah disunahkan mendirikan shalat dua rakaat dengan niat sunah ihram. Pada rakaat pertama, jamaah membaca Surah Al-Kafirun setelah membaca Al-Fatihah. Pada rakaat kedua, jamaah dianjurkan membaca Surah Al-Ikhlas setelah membaca Al-Fatihah.

Jamaah disunnahkan untuk selalu mengcapkan talbiyah, labbail Allahumma labbaik… dan seterusnya. Lafaz ini tak harus diucapkan dengan keras. Cukup dengan suara perlahan agar tidak mengganggu kenyamanan.dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya kalian tidak memanggil zat yang tuli atau pun yang tidak hadir.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Selama menjalankan iabdah haji, jamaah dianjurkan untuk dapat malaksanakan berbagai amalan sunah. Hal ini dimaksudkan untuk memaksimalkan ibadah selama berada di Tanah Suci. Ibadah di Tanah Suci akan diganjar dengan pahala yang lebih besar dibandingkan beribadah di tempat lain.

 

Haid Datang saat Berhaji, Bagamanakah Hukumnya?

Berhaji.com

Pergi ke Tanah Suci menunaikan haji adalah impian setiap Muslim. Seseorang yang sudah mendapat panggilan guna menunaikan rukun Islam kelima ini, tentu berharap menjadi haji yang mabrur. Salah satu syarat agar ibadah hajinya diterima adalah menunaikan semua rangkaian ibadah haji.

Khusus bagi Muslimah yang menunaikan haji, tentu ada peluang datang haid bulanan saat sedang berihram. Padahal, saat haid, seorang Muslimah tidak boleh menunaikan tawaf sebagai bagian dari rukun haji.

Saat Aisyah ra sedang haid, Rasulullah SAW bersabda, “Lakukanlah segala sesuatu yang dilakukan orang yang berhaji, selain dair melakukan tawaf di Ka`bah hingga engkau suci.” (HR Muttafaq a`laih).

Lalu, bagaimana jika saat berhaji datang haid pada Muslimah? Di antara syarat sah tawaf adalah suci dari hadas kecil dan besar. Dengan demikian, orang yang bertawaf pada dasarnya, harus bersih dari haid dan nifas. Kesucian semacam ini merupakan syarat sah tawaf menurut sebagaian besar ulama. Orang yang bertawaf dalam kondisi tidak suci, tawafnya menjadi batal.

Berdasarkan pandangan ini, dalam Madzhab Syafii disebutkan, “Wanita haid yang belum melakukan tawaf ifadah harus bertahan di Makkah hingga suci. Kalau ada bahaya yang mengancam atau hendak pulang bersama rombongan sebelum tawaf ifadah, ia harus tetap dalam keadaan ihram hingga kembali ke Makkah untuk bertawaf walau beberapa tahun kemudian.” (Kitab Al-Majmu` juz 8, hal. 200).

Sementara menurut kalangan Hanafi, suci dalamtawaf hukumnya wajib. Karena itu, orang yang bertawaf dalam kondisi tidak suci seperti wanita yang sedang haid dan nifas, tawafnya sah, tetapi harus membayar dam (denda). Mereka berdalil dengan firman Allah SWT, “Hendaknya mereka melakukan tawaf di sekitar Ka`bah Baitullah itu.” (QS Al-Hajj [22] ayat 29). Menurut mereka ayat tersebut memerintahkan tawaf secara mutlak, tanpa dikaitkan dengan syarat kesucian.

Jika darah haidnya tidak keluar terus-menerus dan sempat berhenti untuk beberapa hari, pada masa itulah ia bertawaf. Ini sesuai dengan pandangan kalangan Syafiiah yang menyatakan, kondisi bersih pada hari-hari terputusnya haid dianggap suci.

Terakhir, Ibnu Taymiyyah dan Ibnul Qayyim berpendapat, tawaf ifadah wanita haid adalah sah jika memang kondisinya terpaksa, seperti ia harus pergi bersama rombongan untuk meninggalkan Makkah. Syaratnya, ia harus membalut tempat keluarnya darah.

Lalu, apakah boleh seorang Muslimah meminum pil antihaid agar selama ibadah haji tidak terganggu?

Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam keputusan Komisi Fatwa 12 Januari 1979 membahas singkat tentang penggunaan pil haid. Komisi Fatwa MUI yang saat itu dketuai KH Syukri Ghozali memutuskan tiga hal terkait mengonsumsi pil haid.

Pertama, jika niatnya untuk menunaikan ibadah haji, hukumnya mubah atau boleh.

Kedua, jika penggunaan pil haid dengan maksud untuk menunaikan puasa Ramadhan, hukumnya makruh. Akan tetapi bagi Muslimah yang sukar mengqadha puasa pada hari lain maka hukumnya mubah.

Ketiga, jika niat penggunaan selain untuk dia ibadah di atas, hukumnya bergantung pada niatnya. MUI menegaskan, jika penggunaan pil haid untuk perbuatan yang menjurus pada pelanggaran hukum agama, maka hukumnya haram.

Larangan-larangan dalam Berihram

Berhaji.com

Salah satu dari wajib haji adalah berihram. Selama mengenakan ihram, jamaah haji harus menghindari hal-hal yang dilarang dalam ihram. Pakaian yang hanya sebatas kain putih ini bukan semata-mata untuk menutup aurat. Pakaian ini juga bermakna seseorang harus menjaga dirinya dari perbuatan terlarang.

Larangan dalam berihram terbagi menjadi dua. Pertama adalah yang membatalkan haji. Kedua yang tidak membatalkan haji, namun harus membayar dam (denda).

Hal yang membatalkan haji adalah hubungan seks. Ulama memberikan catatan tersendiri terkait hal ini. Imam Syaifi`i mencatat, hubungan tersebut terjadi dalam bentuk pertemuan dua alat kelamin atau pun bentuk apa pun.

Hubungan ini terjadi sebelum mencukur rambut atau tahalul awal, yakni melakukan dua dari tiga hal: melontar jumrah, tawaf ifadah, dan bercukur.

Kalau sudah melaksanakan hubungan intim, maka hajinya tidak sah. Namun demikian, jamaah haji tersebut masih berkewajiban melanjutkan hajinya sambil membayar denda atau dam. Bentuknya berupa unta atau membayar senilai unta. Suami membayar satu unta. Istri juga membayar satu unta. Semuanya menjadi dua unta. Kemudian pada tahun berikutnya, mereka harus kembali berhaji dengan baik dan benar.

Percumbuan dengan syahwat tanpa disertai hubungan alat kelamin, tidak membatalkan haji. Yang melakukan hal itu selama berihram dikenakan fidyah berupa satu ekor kambing. Ulama memberikan toleransi bagi yang lupa dan terlanjur melakukannya tanpa mengetahui akibatnya. Allah tidak meminta pertanggungjawaban yang dilakukan karena tidak mengerahui, lupa, dan terpaksa.

Terkait pelanggaran yang tidak membatalkan haji tetapi harus membayar fidyah, ada yang diakibatkan pelanggaran berpakaian, menggunakan parfum, dan semacamnya. Ada juga yang disebabkan berburu, atau hubungan suami istri tanpa hubungan alat kelamin.

Perlu diketahui, tak ada perbedaan antara laki-laki dan wanita dalam hal pelanggaran, kecuali tentang hal pakaian. Pertama, adalah memakai pakaian yang berjahit. Maksudnya adalah pakaian tersebut didesain membentuk badan. Pakaian ihram yang sobek tak apa dijahit selama tidak membentuk anggota tubuh.

Tidak diperbolehkan memakai pakaian berjahit untuk menutup kepala berbentuk peci, kopiah, sorban, atau memakai sepat yang menutupi jari.

Wanita boleh menggunakan pakaian berjahit seperti yang dikenakan sehari-hari. Yang dilarang adalah menutup wajah dan telapak tangannya.

Ulama sepakat melarang jamaah haji memotong kuku, bercukur dan menggunting rambut selama berihram.

Selama berihram, jamaah haji juga dilarang menikah dan menikahkan orang lain. Jamaah haji juga dilarang menyembelih hewan kurban.

Syarat Mampu untuk Berhaji

Berhaji.com

Ulama menyepakati, haji wajib dilaksanakan sekali seumur hidup selama memiliki kemampuan. Syarat mampu di sini bukan sekedar fisik, tapi juga batin.

Allah mengundang seluruh manusia yang mampu, sekali dalam seumur hidupnya, agar berkunjung ke rumah Allah. Walau dapat diselesaikan dalam waktu singkat, ibadah ini membutuhkan persiapan yang matang. Allah SWT berfirman, “(Musim) haji itu (pada) bulan-bulan yang telah dimaklumi.” (QS. Al-Baqarah: ayat 197). Beberapa bulan yang yang dimaksud adalah Syawal, Dzulqa`dah, dan Dzulhijjah.

Waktu yang panjang itu dimaksudkan agar Muslim dapat mempersiapkan diri dengan matang. Mereka akan meninggalkan keluarganya untuk mengunjungi Tanah Suci.

Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi sebelum berangkat haji. Pakar Ilmu Al-Quran, Prof Quraish Shihab, dalam buku Haji dan Umrah menyebutkan, syarat pertama untuk yang hendak melaksanakan haji adalah Muslim. Bukan saja karena ibadah ini adalah puncak rukun Islam, tapi juga karena di sanalah hendaknya nampak jelas penyerahan diri kepada Allah semata. Siapa pun yang hendak ke sana, diharapkan membersihakan diri dari dosa dengan bertaubat.

Kemudian, pelaksanaan haji jangan sampai dinodai dengan sesuatu yang haram. Harta untuk haji hendaknya diperoleh dengan cara halal.

Syarat kedua dan ketiga, adalah berakal sehat, dan berstatus merdeka, bukan budak. Akal yang sehat akan mengjasilkan pemahaman yang sempurna tentang ibadah haji. Status tak terikat dalam perbudakan membuat Muslim bebas menentukan pilihannya saat berhaji.

Syarat keempat, adalah kemamuan atau isthithaa`ah. Ini mencakup beberapa aspek, yaitu kemampuan material yang diperoleh dengan halal. Jangan sampai memaksakan berhaji dengan menjual satu-satunya sumber harta yang dimiliki, atau menjual sesuatu-satunya sumber harta yang dimiliki, atau menjual sesuatu yang mengakibatkan kesulitan hidup.

Kemamuan ini bukan semata bisa membayar biaya penyelenggaraan ibadah haji dan kebutuhan hidup di sana. Materi juga harus mampu menutupi kebutuhan hidup keluarga yang ditinggalkan selama perjalanan haji.

Selanjutnya, adalah kemampuan fisik. Ibadah ini membutuhkan fisik yang kuat. Karena jemaah haji akan bergerak dan berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Syarat fisik ini semakin ditekankan, karena jumlah jemaah haji semakin banyak. Oleh karenanya, hal yang harus dipenuhi adalah fisik yang sehat.

Kemampuan yang lain berkaitan dengan keamanan dalam perjalanan, tempat yang dituju, serta tempat dan waktu pelaksanaan ibadah, hingga kembali berkumpul dengan keluarga. Keamanan keluarga yang ditinggal juga tak boleh diabaikan.

Syarat berikutnya dalah kemampuan berhaji pada waktunya. Kalau berhalangan, maka bisa ditangguhkan hingga bisa berangkat. Hendaknya tidak menunda keberangkatan haji jika tidak ada alasan kuat. Penundaan tanpa alasan dapat mengakibatkan dosa.

Ada sebagian ulama yang menambahkan syarat untuk perempuan. Muslimah harus didampingi mahramnya saat berhaji. Namun, syarat ini tidak ditekankan oleh Imam Syafi`i. Sebagian ulama mensyaratkan Muslimah dapat berhaji, asalkan didampingi orang yang terpercaya.

Kalau syarat yang disebutkan di atas sudah terpenuhi, maka kuatkan niat untuk berhaji.

 

IHRAM HAJI

IHRAM

Definisi “ihram” adalah niat mengerjakan salah satu “nusuk” (ibadah), yaitu ibadah haji atau umrah, atau niat melaksanakan keduanya sekaligus (bersamaan). Ihram itu adalah salah satu dari rukun-rukun haji. Tidak sepantasnya ber-ihram untuk haji kecuali pada musim haji berdasarkan filrman Allah SWT. Yang artinya: “Musim haji itu adadlah beberapa bulan yang telah dimaklumi. (Al-Baqarah: 197). Musim haji ialah pada bulan Syawal, Zulkaidah dan sepuluh hari pertama pada bulan Zulhijjah.

Ihram adalah niat yang dilakukan pada tempat atau waktu yang telah ditentukan (miqat zamani dan miqat makani).

Macam-macam Ihram

Ihram ada tiga macam yaitu:

  1. Qiran

Yaitu melaksanakan ihram dengan haji, bersama dengan umrah.

Pada waktu bertalbiyah, mengucapkan

Labbaika Allahumma labbaika hajjan wa ‘umratan”

Artinya; “Ya Allah, saya berniat haji dan umrah”

  1. Tamattu’

Yaitu melakukan umrah di dalam bulan-bulan haji (Syawal, Zulqaidah, Zulhijjah) kemudian melakukan haji pada tahun itu juga. Caranya seseorang pergi ke miqat melakukan ihram dengan niat Umrah saja. Kemudian mengcapkan talbiyah:

“Labbaika Allahumma labbaika ‘umratan”

Artinya: “Ya Allah, saya berniat umrah”

  1. Ifard.

Yaitu melakukan ihram dengan niat haji saja. Dari tempat miqat ia mengucapkan talbiyah:
Labbaika Allahumma labbaika hajjan

Artinya: “Ya Allah, saya berniat haji”

Adab dan Tata Tertib Ber-Ihram

          1. Bersih.

Dapat dilakukan dengan memeotong kuku, memendekkan kumis, berwudhu atau lebih utama mandi, menyisir jenggot dan rambut.

Berkata Ibnu ‘Umar r.a. yang artinya:

“Diantara yang termasuk sunnah ialah mandi bila hendak memesuki kota Mekkah.” (Diriwayatkan oleh Bazar dan Daruqutni, juga oleh Hakim yang menyatakan sahihnya)

          2. Meninggalkan semua pakaian yang dijahit.

Pakain ihram, yaitu rida’ atau selubung buat menutupi tubuhnya bagian atas kecuali kepala, dan izar atau sarung untuk  yang separuh lagi, yaitu bagian bawah.  Dan hendaklah keduanya itu berwarna putih karena pakaina putih lebih disukai oleh Allah Ta’ala. Diterimaa dari Ibnu ‘Abbas r.a.:

”Rasulullah saw. berangkat dari Madinah setelah ia menyisir rambut dan memekai minyak harum serta mengenakan kain sarung dan kain selubungnya. Hal Ini dilakukan oleh nabi sendiri, juga oleh para sahabatnya “

(Sampai akhir hadits yang diriayatkan oleh Bukhari)

          3. Memakai Minyak Wangi

Memakai minyak wangi baik pada tubuh maupun pada belahan rambut serta pakaian, walau akan tinggal bekasnya setelah ihram itu.

Diterima dari Aisyah r.a katanya:

“Rasanya saya akan melihat kilatan minyak wangi pada belahan rambut Rasulullah saw. di waktu ia sedang ihram.”

(Riwayat Bukhari dan Muslim)

Juga hadits lain

“Dari ‘Aisyah ia berkata “Saya biasa menggosokkan minyak wangi kepada Rasulullah saw. ketika ihram sebelum melakukan ihram itu, juga ketika tahallul sebelum ia thawaf di Ka’bah.””

(Riwayat Bukhari dan Muslim)

            4. Shalat dua rakaat dengan niat sunat Ihram

Shalat dua raka’at dengan niat sunat ihram. Pada raka’at pertama setelah Al-fatihah hendaklah membaca surat Al-Kafirun dan pada raka’at kedua setelah Al-fatihah membaca surat Al-Ikhlas

MENYEMBELIH HEWAN QURBAN KETIKA BERHAJI

MENYEMBELIH HEWAN QURBAN DI TANAH SUCI 

Menyembelih hewan qurban merupakan upaya memahami pengorbanan Nabi Ibrahim a.s. saat diperintahkan Allah agar menyembelih putranya Ismail. Dengan penuh ketegaran, melalui isyarat mimpi yang membenarkan perintah itu, Nabi Ibrahim-pun menaatinya. Dan atas kemurahan-Nya, Allah kemudian mengganti Ismail dengan binatang sembelihan yang besar.

Kurban ketika Haji

Jamaah haji hendaknya menyembelih hadyu (binatang kurban yang dibawanya), jika ada. Yang lebih utama ialah menyembelihnya dengan tangannya sendiri.

Berkurban dengan unta adalah lebih utama. Kemudian seekor sapi, setelah itu seekor domba. Dan berkurban sendiri dengan seekor domba adalah lebih utama dibandingkan dengan tujuh orang bersama-sama berkurban dengan seekor unta atau sapi. Demikian pula, seekor domba (kambing kibas) lebih utama dari pada kambing biasa. Sabda Rasulullah Saw,

“Sebaik-baiknya udh-hiyah (kurban) ialah domba bertanduk.” (HR. Abu dawud dari ‘Ubadah ibn as-Shamit, dan Tirmidzi dari Abu Umamah)

Adapun domba yang putih lebih utama dari pada yang abu-abu atau hitam. Dari Abu Hurairah, “Binatang kurban yang putih lebih utama dari pada dua ekor yang berwarna hitam.”

Dan diperbolehkan ia (yang berkurban) ikut makan sebagian darinya, jika itu merupakan hadyu sunnah (bukan yang diwajibkan baginya). Dan janganlah berkurban dengan hewan yang cacat seperti pincang, patah tanduknya, terpotong telinganya, berpenyakit kurap, sangat kurus, lumpuh dan sebagainya.

Hikmah Penyembelihan Hewan Qurban

Dalam penyembelihan hewan qurban ini terwujud dua hikmah.

Pertama, mengajarkan umat untuk memiliki ketaatan yang sempurna kepada Allah. Sebab, sejatinya perintah adalah ujian. Rasa kemanusiaan memang sisi sensitif manusia yang maha rentan dan menguras belas kasihan. Allah maha mengetahui hal itu dan Dia maha pemurah kepada hamba-hamba-Nya, karena itulah Ia mengganti Ismail dengan binatang sembelihan. Dari sini, ada sisi kemanusiaan yang dibela, di samping sedikit dipermainkan dengan perintah yang dalam kaca mata manusia sedikit berlebihan itu. Pesan intinya, cinta kepada Allah hendaknya ditempatkan di atas cinta pada apapun.

Kedua, karena menyembelih hewan tebusan pada dasarnya adalah bersedekah, dengan sendirinya hal itu menjadi wujud dari rasa syukur atas nikmat Allah, baik berupa kesempatan melaksanakan ibadah haji maupun nikmat lain yang jumlahnya tak terhitung. Sebab, tidak diragukan lagi bahwa hanya orang-orang tertentulah yang mampu melaksanakan ibadah haji. Di samping harus memiliki kesiapan (harta, fisik, mental, dan keilmuan), seseorang yang melaksanakan haji juga tidak bisa lepas dari garis ketentuan. Perpaduan dua hal inilah yang seseorang yang sudah memiliki kesiapan dalam segala hal, namun belum tergerak untuk menunaikan haji. Adapun salah satu sebab kewajiban menyembelih binatang atas orang yang menjalankan ibadah haji tamattu’ dan qiran, adalah keadaan dua model pelaksanaan haji tersebut yang berasal dari adat jahiliyah, yang sudah diubah.

Pada saat menyembelih hadyu (hewan kurban yang telah disediakan dalam rangka ibadah haji), hendaknya mengetahui bahwa hal itu merupakan upaya pendekatan diri kepada Allah dengan mematuhi perintah-Nya. Karena itu, hendaknya jamaah haji menyempurnakan hadyu dan berharap agar Allah membebaskan seluruh anggota tubuh dari siksa api neraka, sebagai imbalan atas setiap bagian dari hadyu yang dikurbankan.

Hajinya Anak Yang Mencapai Umur Mumayyiz


Sebelum membaca postingan ini alangkah baiknya membaca postingan sebelumnya KLIK Di Sini Hukum Ibadah Haji Bagi Anak-Anak
Hajinya Anak yang Mencapai Umur Mumayyiz

Jika anak kecil itu, baik perempuan maupun lelaki sudah mencapai umur mumayyiz, maka ia berihram atas izin walinya. Saat ia hendak ihram, ia harus melakukan apa dilakukan orang dewasa ketika hendak berihram; seperti mandi, memakai wangi-wangian di tubuh dan semacamnya. Dalam hal ini, walinya-lah yang mengatur dan mengurusi keperluan ihram anak itu. Dan walinya pula yang harus mengerjakan amalan yang tidak dapat dilakukan anak itu, seperti melempar jumrah atau semacamnya, dengan diniatkan untuk anak tersebut. Hal-hal lain seperti wukuf di Arafah, mabit (menginap) di Mina dan Muzdalifah, harus dilakukan oleh anak itu sendiri. Untuk thawaf dan sa’i, jika ia tidak mampu melakukannya, harus dipanggul untuk melakukan thawaf dan sa’inya tersebut. Yang utama bagi pemanggul, hendaknya tidak meniatkan thawaf dan sa’i untuk dirinya dan anak itu sekaligus, tetapi saat memanggul, ia harus meniatkan thawaf dan sa’i untuk anak itu saja, setelah itu mengerjakan thawaf dan sa’i untuk dirinya sendiri.

Namun, seandainya pemanggul anak itu meniatkan thawaf untuk dirinya dan untuk anak itu yang dipanggulnya sekaligus, inipun sudah sah menurut hukum. Dan ini adalah pendapat yang lebih shahih, karena Nabi Saw. tidak memerintahkan wanita yang bertanya kepada beliau tentang haji anak yang dibawanya itu untuk menthawafkan anak itu dalam waktu tersendiri. Seandainya hal itu adalah wajib, tentu Nabi Saw. menjelaskan kepada wanita penggendong anak itu.[i]

Selanjutnya, anak kecil yang sudah mencapai umur mumayyiz, baik lelaki maupun perempuan hendaknya diperintahkan untuk bersuci dari hadats juga dari najis, sebelum memulai thawaf, seperti halnya yang dilakukan oleh orang dewasa yang berihram. Sebenarnya, meniatkan ihram untuk anak kecil tidaklah wajib bagi walinya, melainkan hanya sunnah. Jika walinya melakukannya, maka ia mendapat pahala. Jika ia tidak melakukannyapun tidak mengapa. Wallahu a’lam.[ii]



[i] Ibid. hlm. 49-50.

[ii] Ibid. hlm. 51.

Kewajiban Dam dalam Ibadah Haji

KEWAJIBAN DAM

 Dam menurut bahasa artinya darah. Sedangkan menurut istilah yaitu mengalirkan darah (menyembelih ternak) dalam rangka memenuhi ketentuan manasik haji. Orang yang berhaji tamattu’ maupun berhaji qiran, sedang ia bukan penduduk tanah suci Mekah, maka ia wajib menyembelih dam, yaitu satu kambing atau sepertujuh unta atau sepertujuh sapi. Dam wajib didapatkan dari harta yang halal dan hasil usaha yang baik.

 

Jenis-jenis Dam

 Dam terdiri dari dua jenis, yaitu:

  1. Dam nusuk (sesuai ketentuan manasik) yaitu dam yang dikenakan bagi orang yang mengerjakan haji tamattu’ atau qiran (bukan karena melakukan kesalahan).
  2. Dam isa’ah yaitu dam yang dikenakan bagi orang yang melanggar aturan atau melakukan kesalahan, yaitu:
    • Melanggar aturan ihram haji atau umrah
    • Meninggalkan salah satu wajib haji atau umrah yang terdiri atas:

1)      Tidak berihram/niat dari Miqat

2)      Tidak mabit di Muzdalifah

3)      Tidak mabit di Mina

4)      Tidak melontar jumrah

5)      Tidak thawaf wada’.

Cara Melakukan Dam

Cara melaksanakan dam yaitu dengan ,menyembelih hewan ternak sesuai dengan ketentuan hewan qurban. Jika tidak mampu membeli binatang hadyu yang wajib disembelihnya, maka ia wajib berpuasa tiga hari pada masa-masa melakukan haji dan tujuh hari lagi setelah kembali ke tempat tinggalnya. Puasa tiga hari pada saat melaksanakan ibadah haji tersebut boleh dilakukan sebelum hari nahar atau pada tida hari Tasyrik. Apabila puasa tiga hari di Mekah tidak dapat dilaksanakan karena suatu hal, maka harus diqada sesampainya di kampung halaman dengan ketentuan puasa 3 hari dengan 7 hari dipisahkan 4 hari.

Perbedaan antara Qurban dan Penyembelihan Dam

Qurban adalah sembelihan yang berkaitan dengan hari Qurban dan hari Tasyrik, disunatkan untuk seluruh umat Islam baik yang sedang melaksanakan haji atau tidak, dan dapat dilaksanakan di mana saja termasuk di Tanah Air.

Sedangkan dam adalah sembelihan yang berkaitan dengan amalan manasik haji, baik karena ketentuan manasik haji seperti tamattu’ dan qiran atau karena pelanggaran dan harus dilaksanakan di Tanah Haram.

Syarat-Syarat Wajib Haji

Syarat wajib haji ialah kondisi (syarat-syarat) yang apabila terpenuhi pada seseorang, maka orang tersebut wajib menunaikan ibadah haji. Tetapi jika tidak terpenuhi seluruh atau sebagian syaratnya, maka orang tersebut tidak wajib menunaikan ibadah haji.[I]

Para ahli fikih telah sepakat bahwa syarat-syarat wajib haji yang dimaksud adalah sebagai berikut:[II]

  1. Islam.
  2. Baligh
  3. Berakal
  4. Merdeka
  5. Berkemampuan

ISLAM

Ibadah haji adalah salah satu rukun islam. Seperti ibadah-ibadah lain dalam islam, ibadah haji hanya wajib dilaksanakan oleh orang islam. Terlebih, ibadah haji adalah ibadah yang terikat oleh tempat dan waktu. Ibadah haji dilaksanakan di Makkah Al-Mukarramah, tempat yang haram diinjak oleh orang kafir (non muslim). Jadi, ibadah haji tidak sah dan haram dilaksanakan oleh orang kafir (non muslim).[III]

BALIGH

Anak-anak yang belum sampai umur taklifi, tidak wajib melaksanakan ibadah haji. Namun jika ia mengerjakan ibadah haji, maka hajinya itu sah. Akan tetapi tidak menggugurkan kewajiban haji setelah ia baligh. Jadi, setelah sampai umur taklifi (baligh), ia masih terkena kewajiban untuk haji. Dan tentu harus terpenuhi syarat-syarat haji yang lain.[IV]

BERAKAL SEHAT/TIDAK GILA

Orang-orang yang sakit jiwa/gila, sinting, dungu, tidak wajib haji. Sampai ia sembuh dari gilanya. Kalau mereka melaksanakan haji, maka hajinya tidak sah. Syarat berakal sehat ini sama dengan syarat baligh, berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abudaud, dan Tirmidzi, dari Ali ra, sabda Nabi Muhammad SAW, yang artinya

Diangkat pena dari tiga macam orang (tidak Mukallaf): (1) dari orang gila hingga ia sembuh, (2) dari orang yang tidur hingga ia bangun, dan (3) dari anak-anak hingga ia dewasa (baligh).[V]

MERDEKA

Orang yang masih bersetatus budak, tidak wajib haji, namun jika ia melakukan haji, maka hajinya sah. Dan jika ia telah merdeka dan mampu, maka ia wajib menunaikan ibadah haji itu.[VI]

BERKEMAMPUAN

Kemampuan yang dimaksud meliputi hal-hal berikut:[VII]

  1. Berbadan sehat, atau bebas dari penyakit yang dapat menghalanginya untuk melaksanakan ibadah haji. Hal ini dibuktikan dengan keterangan dari dokter ahli.
  2. Tidak lemah fisik karena usia lanjut, yang dikhawatirkan akan beresiko fatal atau bahkan meninggal dunia, jika ia tetap pergi haji.
  3. Terjamin keamanan dalam perjalanan. Terjamin dari hal-hal yang akan membahayakan dirinya dan hartanya.
  4. Adanya kelebihan nafkah dari kebutuhan pokoknya yang cukup untuk dirinya sendiri, dan keluarga yang ditinggalkan, hingga ia kembai kepada keluarganya.
  5. Tidak terdapat suatu halangan untuk pergi haji, misalnya: tahanan (penjara), hukuman, dan ancaman penguasa yang dzalim.
  6. Adanya kendaraan untuk pergi ke tanah suci, dan kendaraan untuk pulang kembali.

 



[I]  Muhammadiah Ja’far, Tuntunan Ibadat Zakat, Puasa dan Haji (Jakarta: Kalam Mulia, 1989), hlm.173

[II] Sayyid Sabiq, Fikih Sunnah, Jilid 5 (Bandung: Alma’arif, 1978), hlm. 42

[III] Muhammadiah Ja’far, Op.cit. hlm.174

[IV] Ibid.

[V] Ibid.

[VI] Ibid.

[VII] Ibid. hlm. 175