Larangan-larangan dalam Berihram

Berhaji.com

Salah satu dari wajib haji adalah berihram. Selama mengenakan ihram, jamaah haji harus menghindari hal-hal yang dilarang dalam ihram. Pakaian yang hanya sebatas kain putih ini bukan semata-mata untuk menutup aurat. Pakaian ini juga bermakna seseorang harus menjaga dirinya dari perbuatan terlarang.

Larangan dalam berihram terbagi menjadi dua. Pertama adalah yang membatalkan haji. Kedua yang tidak membatalkan haji, namun harus membayar dam (denda).

Hal yang membatalkan haji adalah hubungan seks. Ulama memberikan catatan tersendiri terkait hal ini. Imam Syaifi`i mencatat, hubungan tersebut terjadi dalam bentuk pertemuan dua alat kelamin atau pun bentuk apa pun.

Hubungan ini terjadi sebelum mencukur rambut atau tahalul awal, yakni melakukan dua dari tiga hal: melontar jumrah, tawaf ifadah, dan bercukur.

Kalau sudah melaksanakan hubungan intim, maka hajinya tidak sah. Namun demikian, jamaah haji tersebut masih berkewajiban melanjutkan hajinya sambil membayar denda atau dam. Bentuknya berupa unta atau membayar senilai unta. Suami membayar satu unta. Istri juga membayar satu unta. Semuanya menjadi dua unta. Kemudian pada tahun berikutnya, mereka harus kembali berhaji dengan baik dan benar.

Percumbuan dengan syahwat tanpa disertai hubungan alat kelamin, tidak membatalkan haji. Yang melakukan hal itu selama berihram dikenakan fidyah berupa satu ekor kambing. Ulama memberikan toleransi bagi yang lupa dan terlanjur melakukannya tanpa mengetahui akibatnya. Allah tidak meminta pertanggungjawaban yang dilakukan karena tidak mengerahui, lupa, dan terpaksa.

Terkait pelanggaran yang tidak membatalkan haji tetapi harus membayar fidyah, ada yang diakibatkan pelanggaran berpakaian, menggunakan parfum, dan semacamnya. Ada juga yang disebabkan berburu, atau hubungan suami istri tanpa hubungan alat kelamin.

Perlu diketahui, tak ada perbedaan antara laki-laki dan wanita dalam hal pelanggaran, kecuali tentang hal pakaian. Pertama, adalah memakai pakaian yang berjahit. Maksudnya adalah pakaian tersebut didesain membentuk badan. Pakaian ihram yang sobek tak apa dijahit selama tidak membentuk anggota tubuh.

Tidak diperbolehkan memakai pakaian berjahit untuk menutup kepala berbentuk peci, kopiah, sorban, atau memakai sepat yang menutupi jari.

Wanita boleh menggunakan pakaian berjahit seperti yang dikenakan sehari-hari. Yang dilarang adalah menutup wajah dan telapak tangannya.

Ulama sepakat melarang jamaah haji memotong kuku, bercukur dan menggunting rambut selama berihram.

Selama berihram, jamaah haji juga dilarang menikah dan menikahkan orang lain. Jamaah haji juga dilarang menyembelih hewan kurban.

Syarat Mampu untuk Berhaji

Berhaji.com

Ulama menyepakati, haji wajib dilaksanakan sekali seumur hidup selama memiliki kemampuan. Syarat mampu di sini bukan sekedar fisik, tapi juga batin.

Allah mengundang seluruh manusia yang mampu, sekali dalam seumur hidupnya, agar berkunjung ke rumah Allah. Walau dapat diselesaikan dalam waktu singkat, ibadah ini membutuhkan persiapan yang matang. Allah SWT berfirman, “(Musim) haji itu (pada) bulan-bulan yang telah dimaklumi.” (QS. Al-Baqarah: ayat 197). Beberapa bulan yang yang dimaksud adalah Syawal, Dzulqa`dah, dan Dzulhijjah.

Waktu yang panjang itu dimaksudkan agar Muslim dapat mempersiapkan diri dengan matang. Mereka akan meninggalkan keluarganya untuk mengunjungi Tanah Suci.

Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi sebelum berangkat haji. Pakar Ilmu Al-Quran, Prof Quraish Shihab, dalam buku Haji dan Umrah menyebutkan, syarat pertama untuk yang hendak melaksanakan haji adalah Muslim. Bukan saja karena ibadah ini adalah puncak rukun Islam, tapi juga karena di sanalah hendaknya nampak jelas penyerahan diri kepada Allah semata. Siapa pun yang hendak ke sana, diharapkan membersihakan diri dari dosa dengan bertaubat.

Kemudian, pelaksanaan haji jangan sampai dinodai dengan sesuatu yang haram. Harta untuk haji hendaknya diperoleh dengan cara halal.

Syarat kedua dan ketiga, adalah berakal sehat, dan berstatus merdeka, bukan budak. Akal yang sehat akan mengjasilkan pemahaman yang sempurna tentang ibadah haji. Status tak terikat dalam perbudakan membuat Muslim bebas menentukan pilihannya saat berhaji.

Syarat keempat, adalah kemamuan atau isthithaa`ah. Ini mencakup beberapa aspek, yaitu kemampuan material yang diperoleh dengan halal. Jangan sampai memaksakan berhaji dengan menjual satu-satunya sumber harta yang dimiliki, atau menjual sesuatu-satunya sumber harta yang dimiliki, atau menjual sesuatu yang mengakibatkan kesulitan hidup.

Kemamuan ini bukan semata bisa membayar biaya penyelenggaraan ibadah haji dan kebutuhan hidup di sana. Materi juga harus mampu menutupi kebutuhan hidup keluarga yang ditinggalkan selama perjalanan haji.

Selanjutnya, adalah kemampuan fisik. Ibadah ini membutuhkan fisik yang kuat. Karena jemaah haji akan bergerak dan berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Syarat fisik ini semakin ditekankan, karena jumlah jemaah haji semakin banyak. Oleh karenanya, hal yang harus dipenuhi adalah fisik yang sehat.

Kemampuan yang lain berkaitan dengan keamanan dalam perjalanan, tempat yang dituju, serta tempat dan waktu pelaksanaan ibadah, hingga kembali berkumpul dengan keluarga. Keamanan keluarga yang ditinggal juga tak boleh diabaikan.

Syarat berikutnya dalah kemampuan berhaji pada waktunya. Kalau berhalangan, maka bisa ditangguhkan hingga bisa berangkat. Hendaknya tidak menunda keberangkatan haji jika tidak ada alasan kuat. Penundaan tanpa alasan dapat mengakibatkan dosa.

Ada sebagian ulama yang menambahkan syarat untuk perempuan. Muslimah harus didampingi mahramnya saat berhaji. Namun, syarat ini tidak ditekankan oleh Imam Syafi`i. Sebagian ulama mensyaratkan Muslimah dapat berhaji, asalkan didampingi orang yang terpercaya.

Kalau syarat yang disebutkan di atas sudah terpenuhi, maka kuatkan niat untuk berhaji.

 

IHRAM HAJI

IHRAM

Definisi “ihram” adalah niat mengerjakan salah satu “nusuk” (ibadah), yaitu ibadah haji atau umrah, atau niat melaksanakan keduanya sekaligus (bersamaan). Ihram itu adalah salah satu dari rukun-rukun haji. Tidak sepantasnya ber-ihram untuk haji kecuali pada musim haji berdasarkan filrman Allah SWT. Yang artinya: “Musim haji itu adadlah beberapa bulan yang telah dimaklumi. (Al-Baqarah: 197). Musim haji ialah pada bulan Syawal, Zulkaidah dan sepuluh hari pertama pada bulan Zulhijjah.

Ihram adalah niat yang dilakukan pada tempat atau waktu yang telah ditentukan (miqat zamani dan miqat makani).

Macam-macam Ihram

Ihram ada tiga macam yaitu:

  1. Qiran

Yaitu melaksanakan ihram dengan haji, bersama dengan umrah.

Pada waktu bertalbiyah, mengucapkan

Labbaika Allahumma labbaika hajjan wa ‘umratan”

Artinya; “Ya Allah, saya berniat haji dan umrah”

  1. Tamattu’

Yaitu melakukan umrah di dalam bulan-bulan haji (Syawal, Zulqaidah, Zulhijjah) kemudian melakukan haji pada tahun itu juga. Caranya seseorang pergi ke miqat melakukan ihram dengan niat Umrah saja. Kemudian mengcapkan talbiyah:

“Labbaika Allahumma labbaika ‘umratan”

Artinya: “Ya Allah, saya berniat umrah”

  1. Ifard.

Yaitu melakukan ihram dengan niat haji saja. Dari tempat miqat ia mengucapkan talbiyah:
Labbaika Allahumma labbaika hajjan

Artinya: “Ya Allah, saya berniat haji”

Adab dan Tata Tertib Ber-Ihram

          1. Bersih.

Dapat dilakukan dengan memeotong kuku, memendekkan kumis, berwudhu atau lebih utama mandi, menyisir jenggot dan rambut.

Berkata Ibnu ‘Umar r.a. yang artinya:

“Diantara yang termasuk sunnah ialah mandi bila hendak memesuki kota Mekkah.” (Diriwayatkan oleh Bazar dan Daruqutni, juga oleh Hakim yang menyatakan sahihnya)

          2. Meninggalkan semua pakaian yang dijahit.

Pakain ihram, yaitu rida’ atau selubung buat menutupi tubuhnya bagian atas kecuali kepala, dan izar atau sarung untuk  yang separuh lagi, yaitu bagian bawah.  Dan hendaklah keduanya itu berwarna putih karena pakaina putih lebih disukai oleh Allah Ta’ala. Diterimaa dari Ibnu ‘Abbas r.a.:

”Rasulullah saw. berangkat dari Madinah setelah ia menyisir rambut dan memekai minyak harum serta mengenakan kain sarung dan kain selubungnya. Hal Ini dilakukan oleh nabi sendiri, juga oleh para sahabatnya “

(Sampai akhir hadits yang diriayatkan oleh Bukhari)

          3. Memakai Minyak Wangi

Memakai minyak wangi baik pada tubuh maupun pada belahan rambut serta pakaian, walau akan tinggal bekasnya setelah ihram itu.

Diterima dari Aisyah r.a katanya:

“Rasanya saya akan melihat kilatan minyak wangi pada belahan rambut Rasulullah saw. di waktu ia sedang ihram.”

(Riwayat Bukhari dan Muslim)

Juga hadits lain

“Dari ‘Aisyah ia berkata “Saya biasa menggosokkan minyak wangi kepada Rasulullah saw. ketika ihram sebelum melakukan ihram itu, juga ketika tahallul sebelum ia thawaf di Ka’bah.””

(Riwayat Bukhari dan Muslim)

            4. Shalat dua rakaat dengan niat sunat Ihram

Shalat dua raka’at dengan niat sunat ihram. Pada raka’at pertama setelah Al-fatihah hendaklah membaca surat Al-Kafirun dan pada raka’at kedua setelah Al-fatihah membaca surat Al-Ikhlas

MENYEMBELIH HEWAN QURBAN KETIKA BERHAJI

MENYEMBELIH HEWAN QURBAN DI TANAH SUCI 

Menyembelih hewan qurban merupakan upaya memahami pengorbanan Nabi Ibrahim a.s. saat diperintahkan Allah agar menyembelih putranya Ismail. Dengan penuh ketegaran, melalui isyarat mimpi yang membenarkan perintah itu, Nabi Ibrahim-pun menaatinya. Dan atas kemurahan-Nya, Allah kemudian mengganti Ismail dengan binatang sembelihan yang besar.

Kurban ketika Haji

Jamaah haji hendaknya menyembelih hadyu (binatang kurban yang dibawanya), jika ada. Yang lebih utama ialah menyembelihnya dengan tangannya sendiri.

Berkurban dengan unta adalah lebih utama. Kemudian seekor sapi, setelah itu seekor domba. Dan berkurban sendiri dengan seekor domba adalah lebih utama dibandingkan dengan tujuh orang bersama-sama berkurban dengan seekor unta atau sapi. Demikian pula, seekor domba (kambing kibas) lebih utama dari pada kambing biasa. Sabda Rasulullah Saw,

“Sebaik-baiknya udh-hiyah (kurban) ialah domba bertanduk.” (HR. Abu dawud dari ‘Ubadah ibn as-Shamit, dan Tirmidzi dari Abu Umamah)

Adapun domba yang putih lebih utama dari pada yang abu-abu atau hitam. Dari Abu Hurairah, “Binatang kurban yang putih lebih utama dari pada dua ekor yang berwarna hitam.”

Dan diperbolehkan ia (yang berkurban) ikut makan sebagian darinya, jika itu merupakan hadyu sunnah (bukan yang diwajibkan baginya). Dan janganlah berkurban dengan hewan yang cacat seperti pincang, patah tanduknya, terpotong telinganya, berpenyakit kurap, sangat kurus, lumpuh dan sebagainya.

Hikmah Penyembelihan Hewan Qurban

Dalam penyembelihan hewan qurban ini terwujud dua hikmah.

Pertama, mengajarkan umat untuk memiliki ketaatan yang sempurna kepada Allah. Sebab, sejatinya perintah adalah ujian. Rasa kemanusiaan memang sisi sensitif manusia yang maha rentan dan menguras belas kasihan. Allah maha mengetahui hal itu dan Dia maha pemurah kepada hamba-hamba-Nya, karena itulah Ia mengganti Ismail dengan binatang sembelihan. Dari sini, ada sisi kemanusiaan yang dibela, di samping sedikit dipermainkan dengan perintah yang dalam kaca mata manusia sedikit berlebihan itu. Pesan intinya, cinta kepada Allah hendaknya ditempatkan di atas cinta pada apapun.

Kedua, karena menyembelih hewan tebusan pada dasarnya adalah bersedekah, dengan sendirinya hal itu menjadi wujud dari rasa syukur atas nikmat Allah, baik berupa kesempatan melaksanakan ibadah haji maupun nikmat lain yang jumlahnya tak terhitung. Sebab, tidak diragukan lagi bahwa hanya orang-orang tertentulah yang mampu melaksanakan ibadah haji. Di samping harus memiliki kesiapan (harta, fisik, mental, dan keilmuan), seseorang yang melaksanakan haji juga tidak bisa lepas dari garis ketentuan. Perpaduan dua hal inilah yang seseorang yang sudah memiliki kesiapan dalam segala hal, namun belum tergerak untuk menunaikan haji. Adapun salah satu sebab kewajiban menyembelih binatang atas orang yang menjalankan ibadah haji tamattu’ dan qiran, adalah keadaan dua model pelaksanaan haji tersebut yang berasal dari adat jahiliyah, yang sudah diubah.

Pada saat menyembelih hadyu (hewan kurban yang telah disediakan dalam rangka ibadah haji), hendaknya mengetahui bahwa hal itu merupakan upaya pendekatan diri kepada Allah dengan mematuhi perintah-Nya. Karena itu, hendaknya jamaah haji menyempurnakan hadyu dan berharap agar Allah membebaskan seluruh anggota tubuh dari siksa api neraka, sebagai imbalan atas setiap bagian dari hadyu yang dikurbankan.

Hajinya Anak Yang Mencapai Umur Mumayyiz


Sebelum membaca postingan ini alangkah baiknya membaca postingan sebelumnya KLIK Di Sini Hukum Ibadah Haji Bagi Anak-Anak
Hajinya Anak yang Mencapai Umur Mumayyiz

Jika anak kecil itu, baik perempuan maupun lelaki sudah mencapai umur mumayyiz, maka ia berihram atas izin walinya. Saat ia hendak ihram, ia harus melakukan apa dilakukan orang dewasa ketika hendak berihram; seperti mandi, memakai wangi-wangian di tubuh dan semacamnya. Dalam hal ini, walinya-lah yang mengatur dan mengurusi keperluan ihram anak itu. Dan walinya pula yang harus mengerjakan amalan yang tidak dapat dilakukan anak itu, seperti melempar jumrah atau semacamnya, dengan diniatkan untuk anak tersebut. Hal-hal lain seperti wukuf di Arafah, mabit (menginap) di Mina dan Muzdalifah, harus dilakukan oleh anak itu sendiri. Untuk thawaf dan sa’i, jika ia tidak mampu melakukannya, harus dipanggul untuk melakukan thawaf dan sa’inya tersebut. Yang utama bagi pemanggul, hendaknya tidak meniatkan thawaf dan sa’i untuk dirinya dan anak itu sekaligus, tetapi saat memanggul, ia harus meniatkan thawaf dan sa’i untuk anak itu saja, setelah itu mengerjakan thawaf dan sa’i untuk dirinya sendiri.

Namun, seandainya pemanggul anak itu meniatkan thawaf untuk dirinya dan untuk anak itu yang dipanggulnya sekaligus, inipun sudah sah menurut hukum. Dan ini adalah pendapat yang lebih shahih, karena Nabi Saw. tidak memerintahkan wanita yang bertanya kepada beliau tentang haji anak yang dibawanya itu untuk menthawafkan anak itu dalam waktu tersendiri. Seandainya hal itu adalah wajib, tentu Nabi Saw. menjelaskan kepada wanita penggendong anak itu.[i]

Selanjutnya, anak kecil yang sudah mencapai umur mumayyiz, baik lelaki maupun perempuan hendaknya diperintahkan untuk bersuci dari hadats juga dari najis, sebelum memulai thawaf, seperti halnya yang dilakukan oleh orang dewasa yang berihram. Sebenarnya, meniatkan ihram untuk anak kecil tidaklah wajib bagi walinya, melainkan hanya sunnah. Jika walinya melakukannya, maka ia mendapat pahala. Jika ia tidak melakukannyapun tidak mengapa. Wallahu a’lam.[ii]



[i] Ibid. hlm. 49-50.

[ii] Ibid. hlm. 51.

Kewajiban Dam dalam Ibadah Haji

KEWAJIBAN DAM

 Dam menurut bahasa artinya darah. Sedangkan menurut istilah yaitu mengalirkan darah (menyembelih ternak) dalam rangka memenuhi ketentuan manasik haji. Orang yang berhaji tamattu’ maupun berhaji qiran, sedang ia bukan penduduk tanah suci Mekah, maka ia wajib menyembelih dam, yaitu satu kambing atau sepertujuh unta atau sepertujuh sapi. Dam wajib didapatkan dari harta yang halal dan hasil usaha yang baik.

 

Jenis-jenis Dam

 Dam terdiri dari dua jenis, yaitu:

  1. Dam nusuk (sesuai ketentuan manasik) yaitu dam yang dikenakan bagi orang yang mengerjakan haji tamattu’ atau qiran (bukan karena melakukan kesalahan).
  2. Dam isa’ah yaitu dam yang dikenakan bagi orang yang melanggar aturan atau melakukan kesalahan, yaitu:
    • Melanggar aturan ihram haji atau umrah
    • Meninggalkan salah satu wajib haji atau umrah yang terdiri atas:

1)      Tidak berihram/niat dari Miqat

2)      Tidak mabit di Muzdalifah

3)      Tidak mabit di Mina

4)      Tidak melontar jumrah

5)      Tidak thawaf wada’.

Cara Melakukan Dam

Cara melaksanakan dam yaitu dengan ,menyembelih hewan ternak sesuai dengan ketentuan hewan qurban. Jika tidak mampu membeli binatang hadyu yang wajib disembelihnya, maka ia wajib berpuasa tiga hari pada masa-masa melakukan haji dan tujuh hari lagi setelah kembali ke tempat tinggalnya. Puasa tiga hari pada saat melaksanakan ibadah haji tersebut boleh dilakukan sebelum hari nahar atau pada tida hari Tasyrik. Apabila puasa tiga hari di Mekah tidak dapat dilaksanakan karena suatu hal, maka harus diqada sesampainya di kampung halaman dengan ketentuan puasa 3 hari dengan 7 hari dipisahkan 4 hari.

Perbedaan antara Qurban dan Penyembelihan Dam

Qurban adalah sembelihan yang berkaitan dengan hari Qurban dan hari Tasyrik, disunatkan untuk seluruh umat Islam baik yang sedang melaksanakan haji atau tidak, dan dapat dilaksanakan di mana saja termasuk di Tanah Air.

Sedangkan dam adalah sembelihan yang berkaitan dengan amalan manasik haji, baik karena ketentuan manasik haji seperti tamattu’ dan qiran atau karena pelanggaran dan harus dilaksanakan di Tanah Haram.

Syarat-Syarat Wajib Haji

Syarat wajib haji ialah kondisi (syarat-syarat) yang apabila terpenuhi pada seseorang, maka orang tersebut wajib menunaikan ibadah haji. Tetapi jika tidak terpenuhi seluruh atau sebagian syaratnya, maka orang tersebut tidak wajib menunaikan ibadah haji.[I]

Para ahli fikih telah sepakat bahwa syarat-syarat wajib haji yang dimaksud adalah sebagai berikut:[II]

  1. Islam.
  2. Baligh
  3. Berakal
  4. Merdeka
  5. Berkemampuan

ISLAM

Ibadah haji adalah salah satu rukun islam. Seperti ibadah-ibadah lain dalam islam, ibadah haji hanya wajib dilaksanakan oleh orang islam. Terlebih, ibadah haji adalah ibadah yang terikat oleh tempat dan waktu. Ibadah haji dilaksanakan di Makkah Al-Mukarramah, tempat yang haram diinjak oleh orang kafir (non muslim). Jadi, ibadah haji tidak sah dan haram dilaksanakan oleh orang kafir (non muslim).[III]

BALIGH

Anak-anak yang belum sampai umur taklifi, tidak wajib melaksanakan ibadah haji. Namun jika ia mengerjakan ibadah haji, maka hajinya itu sah. Akan tetapi tidak menggugurkan kewajiban haji setelah ia baligh. Jadi, setelah sampai umur taklifi (baligh), ia masih terkena kewajiban untuk haji. Dan tentu harus terpenuhi syarat-syarat haji yang lain.[IV]

BERAKAL SEHAT/TIDAK GILA

Orang-orang yang sakit jiwa/gila, sinting, dungu, tidak wajib haji. Sampai ia sembuh dari gilanya. Kalau mereka melaksanakan haji, maka hajinya tidak sah. Syarat berakal sehat ini sama dengan syarat baligh, berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abudaud, dan Tirmidzi, dari Ali ra, sabda Nabi Muhammad SAW, yang artinya

Diangkat pena dari tiga macam orang (tidak Mukallaf): (1) dari orang gila hingga ia sembuh, (2) dari orang yang tidur hingga ia bangun, dan (3) dari anak-anak hingga ia dewasa (baligh).[V]

MERDEKA

Orang yang masih bersetatus budak, tidak wajib haji, namun jika ia melakukan haji, maka hajinya sah. Dan jika ia telah merdeka dan mampu, maka ia wajib menunaikan ibadah haji itu.[VI]

BERKEMAMPUAN

Kemampuan yang dimaksud meliputi hal-hal berikut:[VII]

  1. Berbadan sehat, atau bebas dari penyakit yang dapat menghalanginya untuk melaksanakan ibadah haji. Hal ini dibuktikan dengan keterangan dari dokter ahli.
  2. Tidak lemah fisik karena usia lanjut, yang dikhawatirkan akan beresiko fatal atau bahkan meninggal dunia, jika ia tetap pergi haji.
  3. Terjamin keamanan dalam perjalanan. Terjamin dari hal-hal yang akan membahayakan dirinya dan hartanya.
  4. Adanya kelebihan nafkah dari kebutuhan pokoknya yang cukup untuk dirinya sendiri, dan keluarga yang ditinggalkan, hingga ia kembai kepada keluarganya.
  5. Tidak terdapat suatu halangan untuk pergi haji, misalnya: tahanan (penjara), hukuman, dan ancaman penguasa yang dzalim.
  6. Adanya kendaraan untuk pergi ke tanah suci, dan kendaraan untuk pulang kembali.

 



[I]  Muhammadiah Ja’far, Tuntunan Ibadat Zakat, Puasa dan Haji (Jakarta: Kalam Mulia, 1989), hlm.173

[II] Sayyid Sabiq, Fikih Sunnah, Jilid 5 (Bandung: Alma’arif, 1978), hlm. 42

[III] Muhammadiah Ja’far, Op.cit. hlm.174

[IV] Ibid.

[V] Ibid.

[VI] Ibid.

[VII] Ibid. hlm. 175

Pengertian Sa’i dan Proses Melaksanakan Sa’i

 

Apabila telah melaksanakan thawaf, hendaknya keluar melalui Bab (pintu) Ash-Shafa, menuju bukit Shafa lalu menaiki beberapa anak tangganya.[i]

Diriwayatkan bahwa, “Rasulullah Saw. menaiki bukit Shafa sehingga dapat melihat Ka’bah.”

Meskipun demikian, sa’I cukup dimulai dari kaki bukit. Menaikinya lebih dari itu merupakan sesuatu yang mustahab (dianjurkan).[ii]

 

Pengertian Sa’I

Sa’i ialah berjalan dari buki Safa ke bukit Marwah dan sebaliknya, sebanyak tujuh kali yang berakhir di bukit Marwah.[iii] Perjalanan dari bukit Safa ke bukit Marwah dihitung satu kali dan juga dari bukit Marwah ke bukit Safa dihitung satu kali.

 

Proses Melaksanakan Sa’I

Pada mulanya, hendaknya sa’I dimulai dengan langkah-langkah biasa, sampai dekat dengan tanda pertama berwarna hijau, kira-kira sejauh enam hasta. Dari tempat itu, hendaknya jamaah haji mempercepat langkah atau berlari-lari kecil sehingga sampai di tanda hijau yang kedua, kemudian dari sana berjalan kembali dengan langkah-langkah biasa.

Apabila telah sampai di bukit Marwah, hendaknya menaiki bukit Marwah seperti yang dilakukan ketika di bukit Safa. Setelah itu menghadap ke arah Shafa dan berdoa seperti sebelumnya. Dengan demikian, jamaah haji telah selesai melakukan satu kali lintasan sa’i. jika telah kembali lagi ke bukit Shafa, maka dihitung dua kali. Begitulah selanjutnya sampai tujuh kali lintasan.

Dengan selesainya tujuh kali lintasan itu, maka jamaah haji telah menyelesaikan dua hal, yakni thawaf qudum dan sa’i. [iv]

Jika jamaah haji memulai sa’Inya dari Marwah, sa’I dianggap sah akan tetapi harus menambah satu perjalanan lagi sehingga berakhir di Marwah.[v] Bagi jamaah haji yang sakit boleh menggunakan kursi roda.

Adapun persyaratan bersuci dari hadats besar maupun kecil ketika mengerjakan sa’I, hukumnya mustahab (dianjurkan) dan bukan wajib seperti dalam mengerjakan thawaf.[vi]

 

Hikmah Sa’i

Ritual sa’I ini merupakan napak tilas dari upaya yang dilakukan Hajar untuk mencarikan air bagi putranya Ismail yang kehausan.[vii] Hikmah yang dapat diambil dari pelaksanaan sa’I ini diantaranya, bolak-baliknya jamaah haji antara bukit Shafa dan Marwah di halaman Ka’bah, menyerupai perbuatan seorang hamba yang berjalan pulang pergi secara berulang-ulang di halaman rumah sang Raja. Hal itu dilakukannya demi menunjukkan kesetiaannya dalam berkhidmat, seraya mengharap agar dirinya memperoleh perhatian yang disertai kasih sayang.[viii]

 


[i] Al-Ghazali. Rahasia Haji dan Umrah. (Bandung: Karisma, 1997). hlm. 65.

[ii]  Ibid.

[iii] Tri May Hadi.  Kumpulan Doa, Dzikir, dan Tanya Jawab untuk Ibadah Haji dan Umrah. (Jakarta: Kesaint Blanc, 2009). hlm. 140.

[iv] Al-Ghazali. Op.Cit. hlm. 67-68.

[v] Tri May Hadi. Op.Cit. hlm. 141.

[vi] Al-Ghazali. Op.Cit. hlm. 68.

[vii] Maisarah Zas. Haji dan Pencerahan Jati Diri Muslim. (Bandung: Alfabeta, 2005). hlm. 163.

 [viii] Al-Ghazali. Op.Cit. hlm. 136-137.

Mabit di Mina

Mabit di Mina ialah bermalam di Mina pada hari-hari Tasyrik yaitu malam tanggal 11, 12 dan 13 dzulhijjah. Mina menurut Ali Sariarti berarti cinta.

Amalan yang dilakukan di Mina ini adalah melontar tiga jumrah. Hari pertama (hari nahar) melontar jumrah aqabah saja. Hari kedua dan seterusnya melontar jumrah berturut-turut mulai dari jumrah ula, wustha dan terakhir aqabah masing-masing sebanyak tujuh kali. Setiap melontar jumrah mengangkat tangan kanan sambil membaca takbir.[i] Di minalah dilakukan penyembelihan hewan kurban. Menurut riwayat, peristiwa penyembelihan Ismail as. oleh Nabi Ibrahim as. terjadi di Jabal ul Kabsyi di Mina. Bukit tersebut dinamakan demikian karena di atas gunung itulah domba pengganti Nabi Ismail diturunkan.[ii]

Menurut jumhur ulama hukum mabit di Mina adalah wajib, sebagian yang lain mengatakan sunat. Jika tidak melaksanakan mabit di Mina pada seluruh hari Tasyrik, maka diwajibkan membayar dam (satu ekor kambing). Tetapi apabila tidak mabit di Mina hanya satu atau dua malam, maka harus diganti dengan denda, yaitu satu malam 1 mud (3/4 beras atau makanan pokok), dua malam 2 mud (1 ½ kg beras atau makanan pokok), tiga malam membayar dam seekor kambing.[iii]

 

Hukum Mabit di Mina dan di Wilayah Perluasan Mina 

Hukum Mabit jamaah haji di Mina maupun di wilayah perluasan Mina adalah sebagai berikut.[iv]

  1. Hukum Mabit di Mina pada malam hari Tasyrik menurut sebagian besar madzhab Syafi’I, madzhab Maliki dan sebagian ulama madzhab Hambali serta fatwa MUI tahun 1981 adalah wajib. Bagi jamaah haji yang tidak melaksanakan mabit dikenakan dam. Namun ada sebagian dari madzhab Hanafi, sebagian Hambali, sebagian madzhab Syafii dan sebagian madzhab Dhahiri berpendapat bahwa mabit di Mina pada malam hari Tasrik hukumnya sunat.
  2. Mabit di perluasan kemah di kawasan perluasan Mina hukumnya sah seperti di Mina, sebagaimana pendapat para ulama Mekah saat ini dan para ulama lain, juga menurut ijtihad yang didasarkan pada keadaan darurat karena kondisi di Mina saat ini sudah penuh sesak, dan kemah di perluasan Mina masih bersambung dengan perkemahan di Mina, sesuai dengan Keputusan Hasil Mudzakarah Ulama tentang mabit di luar kawasan Mina, tanggal 10 Januari 2001.
  3. Bagi yang berpendapat bahwa mabit di Mina itu wajib dan perluasan kemah di Mina tidak sah untuk mabit, maka pelaksanaan mabitnya masuk ke wilayah Mina kemudian setelah mabit kembali ke kemahnya di perluasan Mina.

 


[i] Maisarah Zas. Haji dan Pencerahan Jati Diri Muslim. (Bandung: Alfabeta, 2005). hlm. 156.

[ii] Ibid.

[iii] Tri May Hadi.  Kumpulan Doa, Dzikir, dan Tanya Jawab untuk Ibadah Haji dan Umrah. (Jakarta: Kesaint Blanc, 2009). hlm. 149-150.

 

[iv] Ibid. hlm. 150–151.

Mabit Di Muzdalifah

“Jika kamu telah selesai dari Arafah, maka berzikirlah kepada Allah di Masy’aril Haram (Muzdalifah).” (Q.S. Al-Baqarah: 198)

Setelah selesai wukuf di Arafah, jamaah harus berangkat menuju Muzdalifah. Amalan yang dilakukan di Muzdalifah adalah shalat maghrib dan isya dengan menjamak serta dzikir. Disini digunakan pula kesempatan untuk mengambil batu guna melempar jumrah di Mina.[i]

Mabit di Muzdalifah mulai setelah maghrib sampai terbit fajar 10 dzulhijjah. Diperbolehkan hanya sesaat saja asalkan sudah lewat tengah malam. Bagi yang sehat wajib mabit di Muzdalifah, tetapi bagi yang sakit dan yang mengurus orang yang sakit ataupun yang mengalami kesulitan, diperbolehkan untuk tidak mabit di Muzdalifah, dan tidak dikenakan dam.[ii]

 

Mengambil Batu di Muzdalifah

Ketika di Muzdalifah, jamaah haji tidak harus turun dari kendaraanya. Maka jika hendak mengambil kerikil untuk melaksanakan jumrah aqabah, jamaah haji cukup mengambil tujuh batu kerikil saja, karena untuk melontar jumrah pada hari-hari Tasyrik boleh diambil di Mina. Boleh juga diambil di Muzdalifah sebanyak yang diperlukan yaitu 49 butir kerikil bagi yang nafar awal atau 70 butir bagi yang akan nafar tsani.[iii]

 

Hikmah Mabit di Muzdalifah

Terdapat hikmah dari dilaksanakannya mabit di Muzdalifah, berikut di antaranya.[iv]

Pertama, sebagai tahap persiapan atau perbekalan. Bekal itu adalah menjalin “komunikasi yang intensif” dengan Allah yang dilambangkan dengan shalat maghrib dan isya di Muzdalifah. Itulah bekal yang akan membantu manusia melawan setan. Secara materiil bekal itu disimbolkan dengan mengambil batu dari Mina. Dengan demikian dapatlah difahami mengapa mabit di Muzdalifah ini diwajibkan, padahal shalat dan dzikir dapat saja dilakukan di Arafah atau di Mina.  Tepatlah jika para ulama sepakat bahwa ketika mabit di Muzdalifah wajib mengerjakan shalat maghrib dan isya dengan menjamak. Rasul bersabda kepada Usamah bin Zaid sahabat Rasulullah Saw. ketika hendak shalat sebelum sampai di Muzdalifah: “Shalat itu tempatnya di depan kamu (Muzdalifah).” Peranan Muzdalifah sebagai symbol perbekalan yang ikut menentukan keberhasilan perang di Mina dapatlah disebut sebagai simbol “Monumen Abadi Perbekalan” untuk melawan musuh.

Kedua, dari segi rukun Islam termasuk dalam tahap kedua, yaitu shalat.  Setelah meyakini dan menyaksikan kebenaran syahadat di Arafah, maka jamaah haji dapatlah memasuki tahap berikutnya yakni shalat, sebagaimana disunnahkannya (sebagian ulama mengatakan diwajibkan) shalat maghrib dan isya di Muzdalifah. Rasul bersabda, “Haji adalah wukuf di Arafah.” Dilihat dari rukun Islam wukuf di Arafah ini merupakan ritual yang termasuk ke dalam rukun yang pertama yaitu syahadat. Maka tidak akan seseorang melakukan shalat (dalam hal ini di Muzdalifah) tanpa sebelumnya ia meyakini syahadat (di Arafah).



[i] Maisarah Zas. Haji dan Pencerahan Jati Diri Muslim. (Bandung: Alfabeta, 2005). hlm. 153.

 

[ii] Tri May Hadi.  Kumpulan Doa, Dzikir, dan Tanya Jawab untuk Ibadah Haji dan Umrah. (Jakarta: Kesaint Blanc, 2009). hlm. 144.

[iii] Ibid.

[iv] Maisarah Zas. Op.Cit. hlm. 154