Hamil dan Berhaji ala Riana Garniati Rahayu

Berhaji.com

Hamil dan berhaji mungkin dua hal yang sangat sulit dilakukans secara bersamaan. Berhaji merupakan kegiatan ibadah yang membutuhkan stamina dan energi yang tinggi dengan berbagai ritual dan rukun-rukunnya. Mulai dari mengelilingi ka’bah sampai melakukan perjalanan ke Mina untuk lempar jumrah.

Sementara itu, saat perempuan hamil biasanya banyak kesakitan yang dirasakan. Mulai dari mual-mual, morning sick, hingga kelelahan yang berlebihan. Namun, Riana Garniati Rahayu membuktikan bahwa perempuan cukup kuat untuk melaksanakan ibadah haji meskipun tengah berbadan dua.

Bukan hanya ritual ibadah berat yang harus dijalaninya selama berhaji, Riana juga harus melewati berbagai vaksin agar kondisi kehamilannya tetap baik dan sehat selama proses berhaji hingga pulang lagi ke tempat tinggalnya.

Selengkapnya baca di sini.

Mengungkap Fakta Ilmiah Keajaiban Ka’bah

Mengungkap Fakta Ilmiah Keajaiban Ka’bah

Ternyata Bukan GMT Bukan Di Greenwich bukan dimanapun, Tapi Semuanya ada Di Ka’bah (Fakta Ilmiah)

Ka’bah, rumah Allah sejuta umat muslim merindukan berkunjung dan menjadi tamu – tamu Allah sang maha pencipta. Kiblatnya (arah) ummat muslim dalam melaksanakan sholat, dari negaramanapun semua ibadah sholat menghadap ke kiblat ini.

Istilah Ka’bah adalah bahasa al quran dari kata “ka’bu” yg berarti “mata kaki” atau tempat
kaki berputar bergerak untuk melangkah. Ayat 5/6dalam Al-quran menjelaskan istilah itu dg “Ka’bain” yg berarti ‘dua matakaki’ dan ayat 5/95-96 mengandung istilah ‘ka’bah’ yg artinya nyata “mata bumi” atau “sumbu bumi” atau kutub putaran utara bumi.

Neil Amstrong telah membuktikan bahwa kota Mekahadalah pusat dari planet Bumi. Fakta ini telah di diteliti melalui sebuah penelitian Ilmiah.

Ketika Neil Amstrong untuk pertama kalinya melakukan perjalanan ke luar angkasa dan mengambil gambar planet Bumi, dia berkata, “Planet Bumi ternyata menggantung di area yang sangat gelap, siapa yang menggantungnya ?.”

Para astronot telah menemukan bahwa planet Bumi itu mengeluarkan semacam radiasi, secara resmi mereka mengumumkannya di Internet, tetapi sayang nya 21 hari kemudian website tersebut raib yang sepertinya ada alasan tersembunyi dibalik penghapusan website tersebut.

Setelah melakukan penelitian lebih lanjut, ternyata radiasi tersebut berpusat di kota Mekah, tepatnya berasal dari Ka’Bah. Yang mengejutkan adalah radiasitersebut bersifat infinite ( tidak berujung ), hal ini terbuktikan ketika mereka mengambil foto planet Mars, radiasi tersebut masih berlanjut terus.

Para peneliti Muslim mempercayai bahwa radiasi ini memiliki karakteristik dan menghubungkan antara Ka’Bah di planet Bumi dengan Ka’bah di alam akhirat.

Makkah Pusat Bumi
Prof. Hussain Kamel menemukan suatu fakta mengejutkan bahwa Makkah adalah pusat bumi. Pada mulanya ia meneliti suatu cara untuk menentukan arah kiblat di kota-kota besar di dunia.

Untuk tujuan ini, ia menarik garis-garis pada peta, dan sesudah itu ia mengamati dengan seksama posisi ketujuh benua terhadap Makkah dan jarak masing-masing. Ia memulaiuntuk menggambar garis-garis sejajar hanya untuk memudahkan proyeksi garis bujur dan garis lintang.

Setelah dua tahun dari pekerjaanyang sulit dan berat itu, ia terbantu oleh program-program komputer untuk menentukan jarak-jarak yang benar dan variasi-variasi yang berbeda, serta banyak hal lainnya. Ia kagum dengan apa yang ditemukan, bahwa Makkah merupakan pusat bumi Ia menyadari kemungkinan menggambar suatu lingkaran dengan Makkah sebagai titik pusatnya, dan garis luar lingkaran itu adalah benua-benuanya. Dan pada waktu yang sama, ia bergerak bersamaan dengan keliling luar benua-benua tersebut. (Majalah al-Arabiyyah, edisi 237, Agustus 1978).

Gambar-gambar Satelit, yang muncul kemudian pada tahun 90-an, menekankan hasil yang sama ketika studi-studi lebih lanjut mengarah kepada topografi lapisan-lapisan bumi dan geografi waktu daratan itu diciptakan.

Telah menjadi teori yang mapan secara ilmiah bahwa lempengan-lempengan bumi terbentuk selama usia geologi yang panjang, bergerak secara teratur di sekitar lempengan Arab. Lempengan-lempengan ini terus menerus memusat ke arah itu seolah-olah menunjuk ke Makkah.

Studi ilmiah ini dilaksanakan untuk tujuan yang berbeda, bukan dimaksud untuk membuktikan bahwa Makkah adalah pusat dari bumi. Bagaimanapun, studi ini diterbitkan di dalam banyak majalah sain di Barat.

Allah berfirman di dalam al-Qur’an al-Karim sebagai berikut:
‘Demikianlah Kami wahyukan kepadamu Al Qur’an dalam bahasa Arab supaya kamu memberi peringatan kepada Ummul Qura (penduduk Makkah)dan penduduk (negeri-negeri) sekelilingnya..’ (asy-Syura: 7)

Kata ‘Ummul Qura’ berarti induk bagi kota-kota lain, dan kota-kota di sekelilingnya menunjukkan Makkah adalah pusat bagi kota-kota lain, dan yang lain hanyalah berada di sekelilingnya. Lebih dari itu, kata ummu (ibu) mempunyai arti yangpenting di dalam kultur Islam.

Sebagaimana seorang ibu adalahsumber dari keturunan, maka Makkah juga merupakan sumber dari semua negeri lain, sebagaimana dijelaskan pada awal kajian ini. Selain itu, kata ‘ibu’ memberi Makkah keunggulan di atas semua kota lain.

Makkah atau Greenwich
Berdasarkan pertimbangan yang seksama bahwa Makkah berada tengah-tengah bumi sebagaimana yang dikuatkan oleh studi-studi dan gambar-gambar geologi yang dihasilkan satelit, maka benar-benar diyakini bahwa Kota Suci Makkah,bukan Greenwich, yang seharusnya dijadikan rujukan waktu dunia. Hal ini akan mengakhiri kontroversi lama yang dimulai empat dekade yanglalu.

Ada banyak argumentasi ilmiah untuk membuktikan bahwa Makkah merupakan wilayah nol bujur sangkar yang melalui kota suci tersebut, dan ia tidak melewati Greenwich di Inggris. GMT dipaksakan pada dunia ketika mayoritas negeri di dunia berada di bawah jajahan Inggris.Jika waktu Makkah yang diterapkan, maka mudah bagi setiap orang untuk mengetahui waktu shalat.

WUKUF DI ARAFAH

Wukuf dilaksanakan pada hari arafah mulai dari tergelincir matahari tanggal 9 dzulhijjah sampai dengan terbit fajar tanggal 10 dzulhijjah. Wujuf dinilai sah walaupun dilaksanakan hanya sesaat dalam rentang waktu tersebut, akan tetapi diutamakan mendapatkan sebagian waktu siang dan waktu malam.[i]

Pada saat wukuf, jamaah haji melaksanakan shalat, dzikir dan membaca doa serta memperbanyak membaca Al-Quran. Amalan yang disunahkan di Arafah adalah hendaklah setiap muslim bersungguh-sungguh berdzikir dan bertaubat, menyatakan ketundukan dan kepatuhan pada Allah Swt.[ii] Sedangkan pada saat persiapan wukuf hari-hari sebelumnya, pada tanggal 8 dzulhijjah jamaah haji berpakaian ihram dan niat haji bagi yang berhaji tamattu’ di penginapan masing-masing, sedangkan bagi yang berhaji ifrad dan qiran tidak niat haji lagi karena masih dalam keadaan ihram sejak dari miqat saat tiba, setelah itu berangkat ke Arafah. Pada tanggal 9 dzulhijjah bagi jamaah haji yang telah berada dalam kemah masing-masing menanti saat wukuf (ba;da zawal) sambil berzikir dan berdoa. [iii]

Di Arafah, wukuf boleh dilaksanakan di dalam maupun di luar tenda. Jamaah haji yang melakukan wukuf tidak disyaratkan suci dari hadats besar maupun kecil. Dengan demikian, wukuf jamaah haji yang sedang haid, nifas, junub dan hadats kecil adalah sah.[iv]

 

Kisah Arafah

Arafah merupakan nama suatu padang pasir yang luas. Menurut para ulama, asal penamaannya lebih dari satu kisah.[v]

Pertama, para malaikat mengingatkan Adam As. dan Hawa setelah keduanya ditirinkan ke bumi, yakni di Arafah, agar mereka mengakui dosa-dosanya dan memohon ampun kepada Allah. Dengan kata lain bibit manusia yang pertama (Adam dan Hawa) diturunkan ke muka bumi ini adalah di Arafah.

Kedua, ketika Adam dan Hawa diturunkan dari surge, keduanya berpisah tempat. Adam di India dan Hawa di Jeddah (Jeddah artinya nenek). Setelah seratus tahun kemudian mereka bertemu di padang Arafah (arafah berarti tahu atau kenal), tepatnya di Jabal Rahmah (bukit kasih sayang).

Ketiga, Ibrahim as. diberitahu Jibril cara menunaikan manasik haji di tempat ini. Jibril bertanya, “Arafta’, tahukah kamu?” Ibrahim menjawab, “Araftu, aku mengetahuinya.”

Keempat, pemberian nama Arafah berkaitan dengan penamaan hari-hari sebagai berikut: hari kedelapan dzulhijjah disebut haru Tarwiyah yang berarti merenung atau berpikir, erat kaitannya dengan peristiwa yang dialami oleh nabi Ibrahim as. yaitu pada hari Tarwiyah ini nabi Ibrahim bermimpi mendapat perintah untuk menyembelih anaknya, Ismail (QS. 37: 102-7). Pada malam itu sampai besoknya nabi Ibrahim sangat gelisaj, tyerus menerus merenung dan berpikir, mempertanyakan apakah mmpinya itu berasal dari Allah atau dari setan. Karena ragu beliau tidak segera melaksanakan mimpinya pada siang harinya. Pada malam kesembilan, Ibrahim as. bermimpi para malaikat mengingatkan lagi dengan perintah yang sama. Setelah mimpi yang kedua inilah nai Ibrahim as. baru yakin bahwa mimpinya itu merupakan wahyu dari Allah Swt. Oleh karena itu, hai kesembilan ini dinamakan hari Arafah (mengetahui). Pada malam hari kesepuluh, nabi Ismail as. bermimpi lagi untuk ketiga kalinya dengan mimpi yang sama pula. Maka keesokan harinya (10 Dzulhijah) nabi Ibrahim melaksanakan perintah itu, karena itu disebut hari Nahar yang berarti hari penyembelihan.



[i] Tri May Hadi. Kumpulan Doa, Dzikir, dan Tanya Jawab untuk Ibadah Haji dan Umrah. (Jakarta: Kesaint Blanc, 2009). Hlm. 142

[ii] Maisarah Zas. Haji dan Pencerahan Jati Diri Muslim. (Bandung: Alfabeta, 2005). hlm. 148.

[iii] Tri May Hadi. Op.Cit. hlm. 142

[iv] Ibid. hlm. 143

[v] Maisarah Zas. Op.Cit. 149

ZAM-ZAM, AIR MUKJIZAT

 

Secara lahiriah di tengah tempat yang terletak di lekukan tanah kering gersang yang dikelilingi batu dan pasir, akan sangat sulit untuk mendapatkan sumber air, apalagi secara berlimpah.

Tetapi inilah salah satu tanda kebesaran Allah, karena pada bagian tengah lekukan kota Makkah yang dikelilingi oleh kekeringan, kegersangan serta curah hujan setiap tahun tidak lebih dari 10 cm, justru keluar sumber air yang berlimpah, air jernih, menyejukkan dan memiliki rasa alami yang dapat diterima secara langsung oleh siapapun yang meminumnya, tanpa harus menderita sakit meskipun tidak dimasak.[i]

Sejarah Keluarnya Sumber Air Zamzam

Dikisahkan bahwa pada suatu saat Nabi Ibrahim a.s. diperintahkan oleh Allah untuk meninggalkan istrinya, Hajar, bersama bayinya yang baru lahir, Ismail, di lembah gersang tanpa penghuni yang bernama Bakah (sekarang Makkah) hanya dengan berbekalkan sedikit air dan makanan. Padahal saat itu musim panas dan kering sedang melanda kawasan tersebut.

Tetapi inilah perjuangan keluarga Nabi yang tidak pernah mengenal takut, kelaparan dan kesusahan, walau Hajar dan bayinya berada di lembah yang penuh bahaya. Lama kelamaan semua bekal akhirnya habis, sehingga dengan berat hati Hajar harus meninggalkan putranya Ismail sendirian, untuk mencari makanan dan air.

Hajar berlari ke sana ke mari terutama antara bukit Shafa dan Marwah untuk melihat apakah ada oasis (sumber air) yang dekat dengannya, atau ada kafilah (rombongan) yang melintasi daerah tersebut untuk dimintakan bantuannya. Tetapi semua harapannya tidak terkabul karena memang mereka berada di daerah kering dan gersang yang tidak ditumbuhi oleh pohon dan perdu, tidak dijadikan tempat hidup untuk binatang manapun, serta jarang dilalui kafilah.

Tetapi mukjizat Allah kemudian tiba. Di ujung kaki bayi kecil Ismail, keluar sumber air yang makin lama makin membesar, sehingga jumlah air tak terbatas pada jumlah yang dibutuhkan oleh Hajar untuk sekedar penawar dahaga.

Inilah awal terjadinya sumur zamzam, sumber air berlimpah, sehat dan menyejukkan yang terletak tidak jauh dari bangunan ka’bah sekarang.[ii]

Khasiat Air Zamzam

Di antara khasiat air zamzam ialah sebagaimana disabdakan oleh Nabi Saw.

Air zamzam menurut apa yang diniatkan oleh orang yang meminumnya.” (HR. Imam Ahmad dan Ibnu Majah)

Hadits tersebut dinilai shahih oleh Al-Albani di dalam Irwa’ Al-Ghalil (1123).

Dengan demikian, apabila seseorang meminumnya karena haus, maka dia akan merasa segar, apabila dia meminumnya karena lapar, maka dia akan kenyang. Demikianlah khasiat air zamzam.[iii]

Sunah Meminum Air Zamzam

Setelah selesai thawaf dan mengerjakan shalat sunah dua rakaat, orang yang thawaf disunahkan meminum air zamzam. Telah disebutkan dalam Ash-Shalihain bahwa Rasulullah Saw. minum air zamzam dan beliau telah bersabda, “Air zamzam diberkahi, dia adalah makanan yang menghilangkan rasa lapar dan obat yang menyembuhkan penyakit.” Jibril a.s juga telah mencuci hati Rasulullah Saw. dengan air zamzam pada malam Isra’ dan Mi’raj.[iv]

Adab Minum Air Zamzam

Orang yang minum air zamzam disunahkan meniatkan kesembuhan dan niat-niat lain yang mengandung kebaikan dunia dan akhirat, karena khasiat air zamzam tergantung niat meminumnya.

Orang yang meminum air zamzam disunahkan pula untuk menghentikan minumnya setiap kali ia bernafas tiga kali, menghadap kiblat, minum hingga kenyang, memuji Allah, dan berdoa.[v]

 

 



[i] H. Unus Suriawiria. Jalan Panjang ke Tanah Suci. (Bandung: Penerbit Angkasa, 1995). hlm. 93

[ii] Ibid. hlm. 93-94.

[iii] Dr. Abdullah bin Muhammad bin Ahmad Ath-Thayyar. Fiqih Ibadah: Kumpulan Fatwa Lengkap Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin. (Surakarta: Media Zikir, 2010). hlm. 536.

[iv] Sulaiman Al-Faifi. Mukhtashar Fiqih Sunnah Sayyid Sabiq. (Solo: Aqwam, 2010). hlm. 374.

[v] Ibid.

Masjid Al-Haram

Lihat Masjid Al-Haram
Lihat Masjidil Haram!

Biru langitnya begitu bening

Menara-menara menjulang

Azan berkumandang

Ayat-ayat suci menerobos setiap relung hati yang datang untuk memenuhi panggilan-Nya

 

Lihat Masjidil Haram!

Seperti sebuah super stadion Para atlet berlomba untuk menjadi Yang terdekat dengan_Nya

Lihat para arler yang  juga menjadi pelatih, wasit, dan suporter bagi dirinya

Tiada yang menang,

kecuali yang mampu mewujudkan kedekatan dengan-Nya

Tiada yang kalah,

kecuali yang dipecundangi oleh nafsu dan keserakahan

 

 

Lihat Masjidil Haram!

Sebuah panggung teater raksasa

para aktor juga menjadi sutradara menentukan sendiri peran yang akan dimainkan-nya

Para aktor boleh menentukan sendiri di barisan mana mereka akan tawaf

Mendekat-dekat ke arah Ka’bah atau menjauh saja karena takut tiada tempat

 

 

Lihat Masjidil Haram!

Di sana setiap hati boleh meminta

Setiap jiwa boleh berteriak,

atau merintih Aku datang,

ya Allah,

aku datang memenuhi Panggilan-Mu yang diserukan Ibrahim, kekasih-Mu

 

Lihat Masjidil Haram!

Panggung Pertunjukan raksasa

Mengundang setiap insan untuk tampil menjadi pemeran terbaik bagi lakon yang dipilihnya

Kalau Aku Memang Pantas Menjadi Kekasih’Mu

Ya Allah, kalau aku memang pantas menjadi kekasih-Mu berikan kesempatan padaku untuk selalu tunduk dan sujud hanya pada-Mu

Ya Allah kalau aku memang pantas menjadi kekasih-Mu, izinkan aku menyerahkan seluruh diriku hanya kepada-Mu .

Ya Allah, kalau aku memang pantas menjadi kekasih-Mu jauhkan aku dari perbuatan-perbuatan yang tidak Kau ridhai

Ya Allah kalau aku memang pantas menjadi kekasih-Mu, terimalah aku dengan segala kekuranganan-Ku dan sempurnakanlah amal ibadahku dengan cinta dan kasih sayang-mu

Ya Allah, kalau aku memang pantas menjadi kekasih-Mu, biarlah hanya ada nama-Mu di hatiku,di iidahku, di hari-hariku Allah Allah, Allah

Ya Allah, kalau aku memang pantas menjadi kekasih-Mu ikanlah jalan bagiku untuk masuk ke rumah-Mu, agar kuhirup wangi surga-Mu

Ya Allah, kalau.aku memang pantas menjadi kekasih-Mu, lapangkan jalan menuju hajar aswad-Mu, agar kucium dengan sepenuh mesraku

Ya Allah, kalau aku memang pantas menjadi kekasih-Mu, biarlah kutatap ka’bah-mu dengan sepenuh rasa hormat dan takjub kepada-Mu

Ya Allah, kalau aku memang pantas menjadi kekasih-Mu, biarkanlah kurasakan kehadiran Siti Hajar, ketika aku melangkah di lintasan sa,i-Mu

Ya Ailah, kalau aku memang pantas menjadi kekasih-Mu, biarkanlah kurasakan kehadiran Isma’il a.s., ketika kureguk air zamzam-Mu

Ya Allah, kalau aku memang pantas menjadi kekasih-Mu, biarkanrah tangisku tumpah di Arafah-Mu, menggerus dosa-dosaku kepada-Mu

Ya Allah, kalau aku memang pantas menjadi kekasih-Mu, hadirkanlah Rasurulah dalam perjaranan haji-ku, sampaikanlah shalawat dan salamku kepada Rasulullah Saw yang mulia kekasih yang sangat Kau kasihi

 

Labbaika allahumma labbaik

Labbaika la syarikalaka labbaik

Innal hamda wanni’mata laka wal mulka laa syarika laka

Muzdalifah, Mina, dan Makkah

Kita tertunduk di Muzdalifah, kita mencari batu senjata rahasia untuk melawan setan yang telah menantikan kedatangan kita di Mina. Setan di Mina seolah tak pernah mati, walau jutaan batu yang dibalut dengan sentuhan keikhlasan, dilemparkan oleh jutaan jamaah haji di hari adha dan di hari-hari thsyrik.

Kita memang melempar jumrah di Mina, namun kita sejatinya tengah menundukan setan yang bersemayam dalam hati kita sifat-sifat busuk yang terselip di antara kepribadian kita, harus disingkirkan dengan peluru yang berselaput keikhlasan.

Berbahagialah seseorang yang sepulang haji memiliki jiwa yang bersih dari penyakit hati, yang lapang menerima apa pun yang Allah anugrahkan baik duka ataupun suka. Apabila demikian, berati kita telah mengalahkan setan  Mina dan meninggalkannya di sana.

Usai melempar Jumrah Aqabah, kita melaksanakan tawaf ifadhah sebuah tawaf dengan tingkat spirituallitas  yang amat tinggi. Dalam sebuah riwayat disebutkan, sewaktu kita melaksanakan tawaf  ifadhah, malaikat takan memegangi pundak kita dan berbisik.”kamu sudah diampuni, kamu sudah tidak punya dosa, maka janganlah berbuat salah lagi jagalah kesucian diri yang telah kau raih dengan ketundukan dipadang Arafah”

Lantas kita kembali bertafakur di Mina, dua malam atau tiga malam, sambil diselingi prosesi memotong hadyu sembelihan sebagai kewajiban bagi mereka yang melaksanakn haji tamattu’.

Di akhir rangkaian haji, kita pun meninggalkan Makkah Kita bertawaf wada’,berpamitan kepada Ka’bah, kepada Makkah, lalu yang menjadi tempat lahir manusia paling mulia Muhammad Saw Kita seperti melakukan napak tilas atas perjalnan hijrah Rasul, meningggalkan Makkah menuju Madinah , atau pergi kembali menuju Tanah air dengan jutaan bekal yang telah Allah titipkan ke dalam hati.

Usai melaksanakan haji, air mata kembali berderai, ketika meninggalkan Makkufr, atau meninggalkan Madinah usai berziarah ke makam Rasulullah. Terima kasih Ya Allah atas segala nikmat yang tiada terkira penuh sesak dada ini dengan nikmat dan karuniaMu.

Mata senantiasa basah dengan air mata kerinduan yang tertumpah hanya untuk-Mu. Kami malu atas segala khilaf dan dosa, yang senantiasa kami lakukan. Sementara Engkau terus-menerus melimpahkan kepada kami nikmat, karunia, kebahagiaan dan pertolongan yang tiada berujung.

Bagaimana kami kelak, ya Allah , jika menghadap Engkau ?  Akankah Engkau memandang kami dengan mesra dan memanggil dengan sayang?

Atau Engkau berpaling, sebagaimana sering kami berpaling dari-Mu ? Jangan, ya Allah jangan berpaling dari yang lemah ini, sayangi kami, ya Allah, dengan sayang dan cinta-mu yang tiada tertepi

Sayangi kedua orang tua kami serta muliakan mereka disisi-Mu, muliakan setiap tetes keringat dan setiap rasa sakit yang mereka rasakan ketika membesarkan kami

Sayangi pasangan hidup kami, belahan jiwa, pelengkap hati, yang sangat kami sayangi. Sayangi anak-anak keturunan kami ya tuhan ku, jaga dan lindungi mereka dari mara bahaya dan kekejaman makhluk. Berikan perlindungan kepada mereka, di saat kami tak dapat melindunginya di saat kami jauh darinya di saat mereka jauh dari kami. kami titipkan kepada-Mu, ya Allah, anak-anak dan keturunan yang kami berharap bertemu kembali dengan mereka disurga-Mu kelak.

Sayangi seluruh kerabat dan sahabat kami ya Rabb, limpahkan rasa bahagia dan kekalkanlah kebahagiaan ke dalam kalbu orang-orang Mukmin dan kepada hamba-hamba-Mu yang berserah diri kepada Engkau, yang sujud dan ruku’ serta menyembah hanya kepada-mu,

Kasih dan nikmat-Mu tiada bertepi Subhanallah wal hamdulillah wa laa ilaha illallah wallahu akbar.

Selamat berjuang para jamaah haji, tamu Allah yang mulia. Kembalilah dengan penuh cinta dan kasih sayang. Seperti cinta dan kasih sayang Allah telah ajarkan dan limpahkan. Amin.

Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah sebagian dari syiar Allah maka barang siapa yang beribadah haji ke Baitullah atau berumrah, tidak ada dosa baginya mengerjakan sa’i antara ke-duanya. Dan barang siapa yang mengerjakan suatu kebaikan dengan kerelaan hati maka sesungguhnya AIlah Maha Mensyukuri kebaikan Lagi Maha Mengetahui.

(QS Al-Baqarah (2): 158)

Arafah: Puncak Perenungan Menuju Kearifan

Puncak haji adarah Arafah, bahkan haji adarah Arafah, begitu sabda Rasulullah. Siapa yang mendapatkan Arafah, insyaAllah mendapat haji. Tanpa Arrafah, tiada haji, meskipun  jauh jalan yang kita tempuh banyak pengorbanan yang dilalui susah payah dalam ibadah Haji adalah Arafah

Arafah menjadi tujuan utama jutaan manusia pada hari Arafah 9 Dzulhijjah’ Bahkan orang yang sedang sakit di tanah Makkah pun diajak bersafari wukuf dengan suara mobil ambulans meraung-raung Seperti menyambut clesis mulut jamaah haji yang bertalbiyah ‘Arafah, padang gersang yang membentang’ tempat masjid nmirah dan Jabal Rahmah berdiri tegak adalah padang pengukuhan, padang wisuda para jamaah haji padang impian setiap muslim di saat air mata tumpah berderai-derai dengan doa-doa yang terucap disela-sela tangis. Teringat sahabat, kerabat’ anak’ suami atau istri atau orangtua yang telah tiada’

Di Arafah yang terik, di siang hari bolong menuju senja, kita berusaha menggapai kearifan hidup ketika biasanya kita berasyik dan sibuk dengan urusan dunia. Terkadang angin bertiup kencang di Arafah atau bahkan hujan turun rintik-rintik, Apa pun yang Allah berikan disaat wukuf semuanya hanya terasa sebagai kiriman dari Allah. Dengan ridha dan berharap ridhNya, hanya ketuntukan dan kepasrahan diri kepada Allah.

Di Arafah, Allah “mewisuda” kita dan membangga-banggakan kita kepada para malaikat, dengan membuka pintu langit. dengan penuh kebanggaan Allah berfirman, “Lihatlah hamba-hamba-Ku yang datang dengan pakaian yang lusuh dan rambut kusut masai”

Arafah membuat kita merenung sejenak tentang kelahiran dan kematian: dua peristiwa dengan tingkat kepastian yang sempurna, namun tak pernah dapat diketahui sebelumnya.

Kita terhitung melakukan wukuf sejak zuhur hingga magrib Menjelang zuhur, kita berdesak-desakan memasuki Arafah, lantas berwukuf dan merenungi hidup kita. Menjelang magrib, kita telah bersiap-siap untuk meninggalkan Arafah, dengan berdesak-desakan  pula. Suasana berdesak-desakan di saat menuju Arafah, bagaikan saat kelahiran kita ke dunia: tempat dan waktu serta penyebabnya, Allah yang menentukan. bukankah kita tiada dapat memilih orang tua?

Beresak-desakan ketika meninggalkan Arafah, dengan pakaian ihram yang telah kumal dan kusut  masai serta badan yang telah letih dan bergerak menuju arah yang sama: Muzdalifah-Mina-Makkah, ibarat pergerakan ruh-ruh yang meninggalkan jasad, karena telah tiba waktu untuk kembali kepada sang khalik.

Lalu kita menyusuri Muzdalifah, Mina, dan Makkah. Kelak ruh kita akan menjalani alam barzakh, lantas berjejer di padang Mahsyar, kemudian dihiasi dan meniti jembatan shirath mustaqim yang setipis rambut dibelah tujuh tetapi kita akan menuju surga, atau neraka …?

Begitulah Arafah, padang kearifan, padang ketundukan, dan puncak kesadaran akan ke-Mahakuasaan Allah. Alangkah sayang seandainya kita berwukuf, namun tak mendapatkan kearifan tak merasakan kehadiran dan tatapan Allah, padahal Allah membukakan pintu langit dan membanggakan kita kepada para malaikat.

Sayang sekali jika di Arafah tangis kita tak tumpah, hati kita tak sempat memohon ampunan atas segala dosa. Sayang sekali jika doa-doa terbaik tertulus, tak disampaikan untuk ayah-bunda pasangan hidup, anak-anak tercinta, adik yang telah tiada, kakak yang mendoakan di tanah air tetangga yang mendoakan dan menandkan kadatangan kita atau orang-orang yang menderita dan hancur hatinya namun tak mampu kita menjangkaunya. Misalnya anak-anak di jalur gaza, yang tak mampu sekolah atau kedokter karena tak memiliki biaya.

Di Arafah kita belajar juga menjadi orang yang arif selalu merasakan kehadirat dan campur tanggan Allah dalam setiap detik hidup, melihat Allah dalam diri orang-orang mislin dan lalu kita terdorong untuk menolong mereka.

Sa’i Sebagai Keikhlasan Ikhtiar dan Jaminan Allah

Ketika melaksanakan sa’i, kita teringat siti Hajar,budak wanita bersahaja yang diperistri Nabi Ibrahim atas saran Siti Sarah, sebagai ikhtiar mendapatkan anak yang sudah lama didambakannya. Siti Hajar adalah perempuan mulia dan menjadi simbol segala ketegaran hidup. Budak perempuan yang hitam itu telah diangkat Allah untuk menjadi simbol penghargaan atas kesungguhan ikhtiar yang dilandasi dengan keyakinan kepada Allah. Jasad Siti Hajar konon dikuburkan di sekitar Hijir Isma’il, bagian dari Ka’bah tempat dirinya menggendong Isma’il. Allah seolah mengabadikan pengorbanan dan kesetiaan Siti Hajar kepada suami, anak, dan terutama. ketaatan pada Tuhan-nya dan membalasnya dengan

menempatkan kuburannya di tempat dimana tangis tertumpah di antara doa dan ketulusan jiwa dalam menyembah Allah. Siti Hajar mengajarkan bahwa ketaatan dan keyakinan akan adanya pertolongan Aliah justru harus diwujudkan dengan kerja keras yang kontinu. Sebagaimana Siti Hajar berlari-lari antara Shafa dan Marwah, dengan mengharap pertolongan Allah, begitulah seharusnya kita menjalani berbagai ikhtiar horizontal kita di dunia: Ikhtiar yang kuat dengan landasan cinta dan kasih, dengan senantiasa mengharap pertolongan Allah dan kelak berakhir di bukit kepuasan, penghargaan, dan kemurahan hati. Siti Hajar berlari antara Shafa dan Marwah mengejar-ngejar bayangan air yang hanya sebuah fatamorgana. Siti Hajar mengetahui hal itu. Dia memang wanita hitam dan budak, tapi dia bukan wanita bodoh. Lebih dari itu, Siti Hajar adalah perempuan Mukmin yang selalu yakin pada pertolongan Allah yang akanhadir pada hidup mereka yang menolong menegakkan agama Allah.

Namun lihatlah, dari mana Allah mengirimkan air? Bukan di Shafa, bukan di Marwah. Bukan di antara

Shafa dan Marwah. Air yang dirindukan itu Allah munculkan dari jemari Isma’il a.s. yang mengorek-ngorek pasir.

Ikhtiar tanpa henti dan tak mengenal putus asa antara Shafa dan Marwah, namun zamzam dihadirkan pada titik yang lain. Bukankah seperti itu kita menjalani hidup? Kita berikhtiar untuk mencari rezeki dengan pergi jauh ke luar kota, bolak-balik seperti sa’i, namun tak juga berhasil. Tiba-tiba di kampung

halaman sendiri, datang orang meminta kita mengerjakan sesuatu yang karenanya dia bersedia membayar untuk keahlian kita. Inilah antara lain hikmah sa’i, tak kenal menyerah dalam berikhtiar untuk menggapai asa, dilandasi keyakinan penuh akan pertolongan Allah, tidak memberontak jika gagal dan tidak menyesal jika rezeki dikirimkan dari sumber yang lain.

Dalam sa’i juga diajarkan agar kita tidak cepat-cepat melakukan tahallul: Jangan cepat bermanja diri Menjaga KekhusYuan Sa’i

 

Betul, kita memang harus menjaga kekhusyrkan dalam melakukan sa’i. Dikisahkan oleh ustad Athian Ali, suatu ketika dia membimbing rombongan jamaah haji.Di antara mereka terclapat sepasang suami-istri. Ljsai melaksanakan tawaf dan menuju mas’d (tempat sa’i), mereka membawa aJt zamzarn sebagai bekal. Pada saat itu, sumur zmnzarn masih terbuka dan kita bisa mengambil air ,,langsung” dari keran air di sekitar sumur zam-zam, sehingga terasa lebih eksklusif’ persoalan mulai muncul ketjka sang suarni mengusutan agar zamzam dalam botol itu disimpan di Bukit Marwah karena nanti bisa diambil. Tetapi isrrinya tidak sempat seraya berkata, “Bahwa saja, nanti hilang lho terdengar itu, suaminya marah clan berkata, ,,Simpan saja! Siapa yang mau mencuri?,,Maka sa’i pun diwarnai ,,doa,,tambahan : simpan, bawa, simpan. bawa… terus hingga , sa,i usai. Tampa disadari bahwa setan telah masuk ke dalam saluran darah dan mengalir deeras dalam tubuh mereka. Usai sa’i, mereka pulang ke maktab dengan menyewa taksi’ ditemani ustad athian yang memahami bahasa Arab dan sudah beberapa kali pergi ke Mkkah. Tetapi aneh, taksi berputar-putar. tak tentu arah, sehingga maktab yang hanya bejarak 2 km dari Harampun tak kurliung ciitemukan. rlna-tiba rarcsi berhenri, dan sopirnya marah, ,,Kalian pasti membawa setan, saya jadi hilang arah begini, turun cepat” bentaknya mengagetkan para penumpang. Bahkan, sopir itu tak berminat untuk meminta bayaran. Taksi. meninggalkan eka yang terheran-heran.

Pak Athian lalu bertanya, ,Ada apa antara Ibu dan bapak”Suami istri ini pun lalu bercerita bahwa mereka tadi bertengkar selama sa’i dan belum saling memaafkan hingga sekarang. “masya allah , itulah rupanya penyebabnya. Ayolah saling memaafkan dan beristigfar, mohon ampun pada Allah,” saran ustad Athian.

Tidak lama kemudian, sebuah taksi datang dan menawari mereka bertiga naik , lalu taksi bergerak ke arah maktab mereka. Hanya sebentar , mereka pun sampai dan sopir taksi enggan dibayar, “ Halal Haji….” Kat-nya sambil tersenyum.

Hidangan Makanan di Arafah Terasa Nikmat (Part-1)

Musim haji tahun 2001 adalah pengalaman pertama saya berhaji, sangat istimewa, karena penuh dengan warna-warni pengalaman. Saya berangkat denagan KBIH Salman ITB, dan bergabung dengan KBIH Amanah PT. Pos Indonesia. Setibanya di Makkah, rombongan bergabung dengan sekitar 15 jamaah yang menggunakan paspor hijau yang dipimpin oleh Hj. Lilis. Saya tinggal di Maktab di Ja’fariyah, sekitar 1,5 km dari Masjidil Haram. Para jamaah haji dengan paspor hijau tinggal di Ghararah, di sekitar belakang Pasar Seng. Dengan gambaran ini saja, sudah terbayang serunya perjalanan haji ini.

Dari Makkah ke Mina, kami berjalan kaki, lalu menginap di sekitar Jamarat. Pada saat itu, bermalam di Jamarat masih diperbolehkan, dan bukan hanya kami, tapi ribuan jamaah termasuk penduduk Makkah dan para TKI yang sedang “haji”, juga bermalam disekitar Jamarat sebelum ke Arafah.

Perjalanan Makkah-Mina dengan berjalan menyusuri terowongan yang tertutup bagi kendaraan tersebut sangat terkesan. Sepanjang perjalanan, kami bertalbiyah, secara perlahan dan sekuat hati. Deru suara kipas angin disepanjang terowongan, membuat suara kami tenggelam. Kami pun memilih berdzikir dan bertalbihyah: kaki melangkah satu-satu, mulut berucap perlahan, hati merintih mengingat dosa dan kesalahan.

Seorang jamaah sempat bertutur tentang gejolak hatinya ketika saya tanya, doa apa yang dipanjatkannya sepanjang perjalanan ini? Jawabannya sangat mengejutkan, “Saya hanya meminta agar Allah memberikan hidayah kepada suami saya. Suami saya bukan Muslim,”katanya dengan air mata berlinang.

Mendengar jawaban itu , langkah saya semakin terasa ringan: karena hati terbang mengingat Allah, dan ikut merasakan kegalauan hati seorang Muslimah yang  suaminya bukan Muslim. “Ya Allah, dengar dan kabulkanlah doanya,” pinta saya.

Menjelang tiba di Jamarat, kami beristirahat sejenak, untuk menghindari teriknya sengatan matahari. Menjelang asar, kami merapat ke Jamarat yang mulai dipenuhi Jamaah. Kami menggelar tikar istimewa kami: Tikar Plastik dengan kantung udara disatu ujungnya yang berfunsi sebagai bantal. Kami berbagi dengan ribuan Jamaah lainnya. Di sana, saya berjumpa dengan para TKI dan TKW yang diliburkan dan dihajikan oleh majikannya.

Beberapa TKI sudah tiga tahun tidak pulang ke Indonesia. Iseng saja saya tunjukan uang rupiah terbaru seri seribu, sepuluh ribu, dan seratus ribu yang saya bawa. Ternyata mereka sangat suka pada uang rupiah saya dan berani membeli denagn harga beberapa kali lipat dan menukarnya dengan riyal saudi. Saya yang tak sedang berdagang, meminta mereka menukar dengan riyal sejumlah yang setara. Betapa suka cita tergambar di wajah mereka.

“Ya Allah! Betapa luas jalan untuk membahagiakan sesama hamba-Mu,”rintih saya dalam hati melihat kebahagiaan para TKI yang memamerkan “üang baru” yang mereka miliki. Ini menjadi catatan bagi saya; ladang amal amt luas, bahkan untuk amal terbaik setelah iman, yakin memasukan rasa bahagia kedalam hati kaum Mukmin.

Esok hari selepas subuh dan usai sarapan, kami bergerak ke Arafah. Jalanan sudah sesak dengan kendaraan yang mengangkut jamaah haji. Tampak sekelompok jamaah asal Iran menggunakan bus tanpa atap. Semula saya pikir itu karena mereka mau mengirit. “Mengapa sewa bus harus yang rusak dan tidak ada atapnya?”pikir saya dalam hati. Namun ternyata saya keliru. Menurut Haji Anis Rosidi, pembmbing kami, bus tanpa atap itu memang sengaja disewa, agar perjalanan mereka berhaji tidak melanggar aturan. Bukankah ketika berkain ihram, kaum laki-laki tidak diperkenankan menggunakan penutup kepala? Wah, saya benar terkagum-kagum. Betapa ketaatan pada Allah telah menghilangkan rasa takut akan panas dan cuaca. Ketaatan berpanas-panas sepanjang perjalanan Makkah-Mina-Arafah dijalani sebagai bagian ketaatan atas perintah Allah.

Dengan apa kami menuju Arafah? Kami menyetop mobil yang melintas. Polisi Kerajaan Arab membantu kami. Rupanya semua kendaraan yang menuju Arafah diwajibkan membolehkan jamaah haji untuk ikut. Tentu saja boleh disewakan.

Kami pun mendapatkan tumpangan Mobil Opel Blazer yang masih baru. Mobil Jerman dengan kapasitas 4.500 cc itu pun kami isi penuh sesak. Bahkan, saya bersama Pak Anis, Pak Isnu Wardianto (mantan PR III ITB, sekarang Rektor Institut Tekhnologi Indonesia-Tangerang) dan seorang jamaah lain, mendapat bagian di atap.

Saya berfikir, ini benar-benar melebihi kapasitas. Saya berkain ihram, naik ke atap mobil dan kemudian melaju dengan nyaman diatara penuh sesak kendaraan menuju Arafah. Perlu diingat, ketika berihram, kaum adam hanya menggunakan dua lembar kain tanpa jahitan dan tidak menggunakan apa-apa selain itu. Jadi betapa serunya memegangi kain ihram agar tak tersingkap oleh angin gurun di atas atap kendaraan yang melaju.

Bersambung… ke Hidangan Makanan di Arafah Terasa Nikmat (Part-2)