Tawaf dan Menatap Ka’bah yang Indah

Bangunan Ka’bah begitu sederhana, tanpa gebyar warna-warni, ada Hajar Aswad yang menjadi elemen estetis dan memperkukuh eksistensi Ka’bah. Ka’bah menghadap ke segala arah, berbentuk kubus, seolah hendak menunjukkan bahwa Allah akan dapat ditemui di mana pun dan kemana pun kita menghadap.

Memasuki Masjidil Haram kita tidak melaksanakan shalat tahiyyatul masjid, tapi menggantinya dengan tawaf. Sebuah ritual sederhana: mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali dengan garis awal dan akhir di Hajar Aswad. Ketika jasad kita berputar mengelilingi Ka’bah, ruh kita naik mendekat kepada keagungan, kemuliaan, dan ketinggian Allah. Perumpamaan ini diambil oleh seorang ilmuan yang merujuk pada sifat medan magnet yang akan mengarah ke atas jika sebuah gaya magnet berputar seperti kita tawaf, mengumpamakan bahwa ruh kita tengah melayang naik menuju dan mendekati keagungan Allah. Badan kita merunduk, ruh kita melayang jauh menuju Al-Khaliq.

Tiada bacaan wajib dengan tawaf, yang ada hanyalah anjuran. Yang paling mutawatir adalah doa antara rukun Yamani dan Hajar Aswad, sebuah doa yang amat paripurna, “Rabbana atina fid dunya hasanah wa fil akhirati hasanah wa qina adzabannar (Wahai Tuhan kami! Berikanlah kepada kami di dunia kebaikan dan di akhirat kebaikan, dan jauhkan kami dari api neraka).”

Saudaraku, nikmatilah kesempurnaan doa ini, dibawah langit Makkah yang bening, siang ataupun malam, sore ataupun subuh, dengan khusyuk dan mendekat kepada Allah.

Tawaf yang “bebas doa wajub” namun wajib dalam keadaan suci, juga antara lain, menggambarkan perjuangan hidup manusia. Tawaf seperti gambaran kala kita mengejar target hidup di dunia. Untuk mencapai target hidup kita (karier, jabatan, harta, jodoh, dan yang lainnya), kita dapat mengejarnya dengan cara sikut kiri-kanan, injak bawah-jilat atas. Hasilnya, kita melejit dengan meninggalkan luka dan rasa sakit pada orang lain.

Kita juga dapat menjalani hidup tanpa target: apatis dan tidak kreatif, menerima sesuatu dengan apa adanya, bahkan “swarga nunut nraka katut”, seolah semua adalah takdir dan kita terkurung dalam satu takdir, tanpa peluang keluar, atau memilih takdir yang lain.

Kita pun dapat menjalani hidup dengan penuh semangat, dengan rencana yang baik, persiapan yang paripurna, dijalankan dengan santun, tanpa menyakiti orang lain dan memercayai keyakinan bahwa karunia Allah adalah sangat terbatas. Seluas birunya air laut, bahkan lebih luas dari tujuh lautan. Insya Allah, kesuksesan dapt kita raih tanpa mengobarkan orang lain. Nikmat Allah sebiru air laut, maka tak usah takut apabila kita tak mendapatkan nikmat-Nya. Bukankah The Blue Ocean Strategy belakangan juga mengajarkan hal yang mirip?

Begitulah ketika kita bertawaf. Kita bisa tawafdengan sukses, lantas juga mencium Hajar Aswad, tapi meninggalkan etika: sikut orang, dorong teman, terabas kiri-terbas kanan, bahkan melakukannya berulang-ulang, 3-5 kali sehari, meski aurat tersingkap ke mana-mana, badan berimpit di antara lawan jenis.

Kita bisa jadi hanya tiga kali tawaf selama berhaji: qudum, ifadhah, dan wada, lalu membiarkan saat-saat tawaf berlalu, atau berganti dengan tawaf Hilton, tawaf Pasar seng, dan tawaf-tawaf lainnya.

Kita juga bisa melakukan tawaf dengan baik, tanpa menyakiti orang lain, tetap memelihara etika, dengan penuh ikhlas dan memohon ridha Allah. Tawaf seperti inilah yang insya Allah akan dipenuhi dengan pertolongan demi pertolongan dari Allah. Seorang jamaah Ustad Miftah Faridl berhasil memenuhi target tawaf sebanyak satu set. Artinya, selama tinggal di Makkah sekitar 30 hari, dia mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh ratus kali. Subhanallah!

Jangan Sampai Salah Niat

Niat berhaji menjadi penting bagi calon jamaah haji. Jika niat tidak lurus karena Allah, maka Allah akan memberikan pelajaran dengan cara yang tidak disangka-sangka. Tulisan ini memberikan pelajaran bagi kita untuk senantiasa menjaga niat ketika ingin beribadah kepada Allah SWT. Semoga kita dapat mengambil pelajaran dari setiap kisah yang terjadi kepada saudara kita.

Seorang wanita yang sangat ingin berhaji, mempersiapkan hajinya dengan sangat saksama. Maklum dia sudah tidak punya suami, dia akan pergi haji sendiri, tidak juga dengan anak-anak.

Agar hajinya thuma’ninah dan dapat dilaksanakan tanpa “gangguan tehnis”, maka dia pun mengajak pembantunya untuk berhaji dengan catatan: di Tanah Suci pembantunya itu harus tetap melayani semua keperluannya dengan baik. Menyiapkan makanan, mencuci, menyetrika, tetap menjadi tugas pembantu. Dia ingin khusu beribadah. Tentu saja sang pembantu setuju dan gembira menyambut ajakan haji majikannya tersebut.

Berangkatlah mereka dengan penuh keikhlasan. Tetapi ada sedikit kesalahan yang dilakukan ibu ini: dia menggantungkan keperluannya, urusan-urusannya kepada pembantunya, bukan kepada Allah.

Di Tanah Suci terjadi hal yang tak terbayangkan sebelumnya. Pembantunya yang tak terbiasa melakukan perjalanan jauh, apalagi dengan pesawat terbang, jatuh sakit.

Akhirnya, skenario pun berubah total:Majikan menjadi pelayan bagi pembantu. Bibi terbaring, majikannya mencarikan makanan, mencucikan pakaian, dan melayani segala keperluannya.

Semata-mata hanya untuk Allah, diperintahkan kepada manusia untuk berhaji.

Semata-mata hanya bergantung kepada Allah dan jangan bergantung kepada mahluk, siapa pun dia: pembantu, pembimbing, ustad. Semuanya hanya hamba Allah yang tak memilki kekuatan, kecuali kekuatan yang Allah berikan.

Spiritualitas Ibadah Haji

Ibadah haji adalah ibadah yang penuh dengan nilai-nilai spiritualaitas. Sebagai rukun islam yang kelima, ibadah haji memiliki amaliah-amaliah khusus yang menjadi rukun dan syarat ibadah haji. Talbiyah dan ihram merupakan salah satu rukun dalam pelaksanaan ibadah haji. Talbiyah dan ihram memiliki nilai-nilai spiritualitas yang wajib direnungi oleh semua umat islam. Semoga tulisan ini menjadi pengantar bagi umat islam dalam meresapi makna yang terkandung dalam pelaksanaan ibadah haji.

Talbiyah dan Ihram

Labbaika allahumma labbaik, labbaika la syarika laka labbaik, innal hamda wanni’mata laka wal mulka la syarika laka.

            Lafal talbiyah inilah yang sanggup mengetarkan hati jutaan anak manusia yang berjalan menuju Makkah menuju Arafah, dalam perjalanan umrah dan haji.

Ketika kita mengenakan kain ihram, yang hanya 2 lembar kain tidak berjahit bagi laki-laki, kita seolah-olah sedang diingatkan oleh Allah bahwa sesungguhnya kita adalah hamba yang tidak memiliki apa-apa bahkan, dua lembar kain yang kita kenakan dengan gemetar itu adalah juga pemberian Allah. Bukankah tangan yang erat memegangnya dan jasad yang kita ditutupinya, juga adalah milik Allah?

Pada saat kita berniat umrah atau haji, berarti kita tengah berusaha menunjukkan ketaatan kita kepada Allah, seperti ketaatan Ibrahim a.s., Siti Hajar a.s. Dan Ismail a.s. Dengan bergetar bibir kita melafalkan talbiyah. Labbaika allahumma labbaik labbaika la syarika laka labbaik. Aku datang, ya Allah, aku datang, menyatakan kesaksian atas kesucian dan kemuliaan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu, ya Allah. . .

Sebuah hadis meriwayatkan bahwa seorang sahabat yang tengah dalam perjalanan menuju Arafah dalam rangka beribadah haji, terjatuh dari kendaraannya hingga wafat. Rasullullah Saw. memerintahkan para sahabat untuk memandikannya dengan air dan daun serta dikafani dengan kain ihram yang dikenakannya. Nabi Saw. bersabda, “Kelak dia akan dibangkitkan dalam keadaan bertalbiyah . . . ”

Maukah kita bangkin di hari kiamat kelak, sambil bibir kita bertalbiyah dan terus-menerus menyeru kepada Allah? Labbaika allahumma labbaik labbaika la syarika laka labbaik, innal hamda wanni’mata laka wal mulka la syarika laka.

Haji sungguh perintah yang istimewa. Apabila ibadah seperti shaum dijanjikan akan membuat pelakunya meraih ketakwaan, ibadah haji justru harus berbekal takwa. Firma Allah Swt., Berbekallah kamu dan bekal terbaik adalah takwa (QS Al-Baqarah [2]: 197).

Selain itu, secara eksplisit juga ditegaskan oleh Allah agar mereka yang berhaji melakukannya semata-mata karena Allah. Dalam Al-Quran ditegaskan, Diperintahkan semata-mata karena Allah kepada manusia untuk berhaji, bagi mereka yang memiliki kemampuan melakukan perjalanan ke Baitullah. Barang siapa kufur (tidak mau melaksanakan perintah Allah), ketahuilah Allah Mahakaya dan tidak memerlukan sesuatu pun dari semesta alam (QS Ali ‘Imran [3]: 97).

Ya, saya suka bercanda bahwa tidak ada satu rupiah pun dana yang kita setorkan ke bank untuk BPIH yang masuk ke rekening Allah. Dana itu masuk ke rekening Menteri Agama untuk didistribusikan ke perusahaan penerbangan dan trasportasi darat, penyewaan rumah, katering, serta urusan haji lainnya.

Disamping itu, ditegaskan pula agar dalam melaksanakan haji dan umrah, mulanya haruslah semata-mata karena Allah, bukan karena yang lain, bukan karena ingin yang lain. Jika pun kita termotivasi berhaji karena semua keluarga sudah haji dan tinggal kita yang belum, hal itu juga bisa dijadikan pemicu, tetapi hajinya semata-mata harus karena Allah.

Saat kain ihram dikenakan, saat kaki melangkah dari miqat, saat itulah setidak-tidaknya, hati kita disucibersihkan dari segala niat yang lain selain berniat haji semata-mata karena Allah. Setidak-tidaknya saat itulah kita tegaskan komitmen tertinggi kita pada Allah dan berserah diri pada Allah Yang Mahakuasa atas segala sesuatu.

Allah Tak Pernah Ingkar Janji

Banyak kejadian yang dialami oleh para jama’ah haji Indonesia. Kejadian tersebut memberikan banyak ibrah dan pelajaran berharga. Seperti kisah seseorang yang diuji keimanannya oleh Allah dengan kehilangan benda yang penting baginya. selamat membaca dan menyelami lautan spiritual ibadah haji dan umrah. Semoga kisah ini menambah keimanan dan kecintaan kita kepada Allah.

Kegelisahan melanda hati H. Bastian, eksekutif PT Pusri yang berhaji untuk kesekian kalinya beserta istri dan kerabatnya. Rupanya ikat pinggang hajinya hilang. Bukan ikat pinggangnya yang menjadi pikiran, tetapi didalamnya terdapat 500 dolar AS dan beberapa ratus riyal.

“Bukan uang itu pula yang sangat mengganggu saya,”katanya di Aziziyah, maktab kami selama haji.

“Kalau uang insya Allah saya masih ada, lebih dari cukup untuk bekal selama haji,” katanya lagi

“Lantas apa yang membuat Bapak sedih?” tanya saya

“Ketika saya tahu ikat pinggang haji saya beserta uang didalamnya telah hilang, saya merasa sedih dan bertanya-tanya kepada Allah: Ya Allahh, Hamba datang ke Tanah Suci untuk memenuhi panggilan-Mu. Hamba datang dengan uang yang insya Allah halal, hasil keringat hamba bekerja dan berdagang. Kini Engkau mengambil sebagian, apakah ini artinya, ya Allah ?”

“Kalau itu berati ada yang tidak halal dalam harta yang hamba bawa, hamba ridha Engkau sebagai pemiliknya, mengambilnya dari hamba. Namun jika itu semua yang hamba bawa sebagai bekal ini halal, ya Allah, kembalikanlah uang hamba,” isak tangisnya tak lagi dibendung.

H. Bastian lalu menuju loket lost & Found yang terletak diarah pintu Babussalam menuju hotel Hilton. Kepada petugas, dia melaporkan kehilangan ikat pinggang haji dan uang. Petugas menunjukkan  beberapa ikat pinggang yang ditemukan. H. Bastian menunjuk satu sebagai miliknya. Petugas bertanya apa isinya. H. Bastian menyebutkan jumlah uang yang diyakininya berada didalamnya.

Petugas lalu memeriksa buku catatan barang temuan dan berkata, “Data anda tidak cocok dengan isi yang dicatat disini.”

H. Bastian yakin betul bahwa ikat pinggang itu adalah kepunyaannya. Namun petugas yang hendak mengakhiri waktu tugasnya itu tetap menolak untuk memeriksa kembali. H. Bastian tidak menyerah, dia menunggu pergantian petugas. Lalu setelah dilihatnya petugas berganti, dia melapor lagi. Petugas bertanya lagi dan meminta H. Bastian menunjukkan ikat pinggang miliknya, lalu menanyakan apa isinya.

H. Bastian mengulang jawabannya, “lima ratus dolar, dan beberapa ratus riyal.”

petugas segera memeriksa buku cacatan dan sambil tersenyum dia berkata, “Benar! Itu ikat pinggang Anda, dan isinya cocok dengan yang tercatat.”

Subhanallah, ketika ikat pinggang itu diterimanya kembali beserta uangnya, H. Bastian menangis haru dan bersyukur kepada Allah.

“Saya bersyukur, Allah menjawab pertanyaan saya, Allah kembalikan uang saya dan semoga ini adalah jawaban bahwa yang saya bawa dan saya jadikan bekal haji benar-benar halal, “kata H. Bastian sambil berlinang air mata yang juga tertumpa di Arafah ketika menjadi khatib dalam khutbah Arafah, saya mengingatkan kembali peristiwa dialog H. Bastian dengan Allah. Dialog melalui hilangnya ikat pinggang dan uang.

Episode Haji Mengagumkan

Diantara episode haji yang memerlukan perhatian khusus adalah ritual usai wukuf. Usai wukuf, jamaah akan bergerak ke Muzdalifah. Bermalam disana dan kemudian bergerak ke Mina untuk melempar Jumrah Aqabah, lalu melanjutkan dengan tawaf ifadhah. Kemudian jamaah akan kembali ke Mina untuk mabit, hingga tanggal 12 Dzulhijjah (disebut dengan Nafar Awwal) atau hingga tanggal 13 Dzulhijjah (disebut Nafar Tsani).

Pernah rombongan jamaah kami membenahi tenda dan barang-barang, dan tak lupa membawa sisa daging ayam karena jika ditinggal begitu saja, khawatir dihukumi mubazir atau tak bersyukur atas nikmat Allah. Karena itu, barang bawaan kami pun sedikit bertambah isinya: Buah-buahan, jus dan daging ayam.

Kami memilih berjalan dari Arafah menuju Muzdalifah. Ketika rombongan baru berjalan sekitar 15 menit dan melalui dan melalui sebuah sungai pasir (bentuknya seperti sungai, tapi kering kerontang), hujan gerimis mulai turun. Hujan itu tampaknya tidak segera reda dan bukannya berkurang, melainkan malah terus bertambah. Dalam rombongan kami terdapat tiga orang ibu yang berusia sekitar 60 tahun, beberapa dengan keluhan rematik di kaki. Maka perjalanan diprogramkan untuk santai saja. Jika ada yang merasa kelelahan, semua akan berhenti untuk beristirahat. Namun, kami sama sekali tak terhitungkan hujan!

Lalu saya bertanya kepada para ibu yang luar biasa itu, “Kalau ibu-ibu merasa tidak nyaman oleh hujan ini dan khawatir sakit, tidak mengapa kita istirahat saja dan mencoba mencari tempat berteduh, “kata saya sambil berpikir tempat yang cocok untuk berteduh. Dalam hati saya berkata, paling juga kami membongkar lagi kain parasut bekas tenda.

Ketika saya berpikir keras, Ibu Rosika mewakili jamaah yang lain berkata, “Pak Budi, jangan khawatir, kami tidak apa-apa. Malah kami senang bisa kehujanan di Arafah. Tidak terbayangkan sebelumnya kami bisa dikirim hujan seperti ini, di Tanah Suci yang sebelumnya terbayang hanya panas terik. Kami ridha dan sangat bahagia bisa hujan-hujanan di Makkah,” jawab Ibu Rosika berapi-api.

Allahu Akbar! Jika seorang hamba ingat kepada Allah, Allah ingat kepadanya. Jika hamba itu ridha, Allah pun ridha kepadanya. Ingat dan ridha kepada Allah, tampaknya akan membuat  apa pun yang hadir dalam hidup kita menjadi bernilai positif. Benarlah sabda Rasullullah Saw., “Ajaib keadaan seorang mukmin. Jika ditimpa musibah, dia bersabar, dan jika mendapat kebahagiaan, dia bersyukur.”

ibu rosida dan kawan-kawan tampaknya sedang “mabuk kepayang” pada cinta Allah. Mereka tidak merasakan apa pun kecuali kebahagiaan dan rasa syukur yang mendalam karena Allah telah memberikan kesempatan berhaji den menjamu mereka di Padang Arafah dengan jamuan kebahagiaan. Hujan yang turun benar-benar dirasakan sebagai kenikmatan. Maka kami pun terus berjalan menuju Muzdalifahuntuk bermalam menunggu esok subuh dan mengisi perjalanan sepanjang Arafah-Muzdalifah dengan zikir, doa, dan istigfar.

Di muzdalifah kami beristirahat usai menunaikan shalat magrib dan isya. Kami lalu mengumpulkan batu untuk melempar jumrah. Banyak jamaah lain, dalam rombongan yang lebih besar, juga bermalam disekitar kami. Mereka berjamaah magrib dan isya dalam keadaan berkain ihram, di bawah langit Muzdalifah yang sudah kembali terang.

Sangat indah menyaksikan pemandangan itu: Sekelompok orang bertakbir, lalu ruku’ dan sujud bersama, kemudian berdoa usai shalat. Dalam keadaan berkain ihram, dalam perjalanan usai wukuf di Padang Arafah, menuju Mina dan Makkah. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar.

Saya sangat terpesona sehingga tidak dapat menahan perasaan ingin memotret sekelompok jamaah asal Iran yang sedang shlat berjamaah. Saya mengambilnya diam-diam, agak berjarak. Namun rupanya perbuatan saya ada yang melihat. Usai shalat, salah seorang jamaah itu mendekati saya dan bertanya dalam bahasa inggris: You make foto? Saya menjawab Yes. Dia kemudian berkata: Foto haram! Saya menjawab: For you haram, for me No ! Jawaban yang kemudian saya sesali. Meski saya menjawabnya dengan tetap tersenyum dan dia pun kemdian berlalu, saya tetap menyesalinya sebagai sebuah sikap yang kurang ajar. Setidaknya saya khawatir, saudara saya sesama jemaah haji itu menganggap kami, jemaah haji indonesia, tidak tahu etika : memotret orang lain tanpa izin. Ya Allah maafkanlah kesalahanku ini.

Usai bermalam di Muzdalifah, kamipun meneruskan perjalanan menuju mina dengan kondisi yang lebih segar karena istirahat yang cukup disana. Kami tiba di mIna dalam keadaan sudah terang. Kami berkumpul disekitar toilet, mengumpulkan ransel-ransel kami, dan membagi kelompok untuk bergantian melempar jumrah. Sebagian besar melempar jumrah Aqabah, sementara beberapa orang bertugas menjaga barang-barang kami.

Saya bertugas mengawal para ibu, termasuk diantaranya ibu Rosika, seorang karyawati PT yang bergabung karena ingin melaksanakan tanazul (ke Mina terlebih dahulu sebelum ke Arafah).

Melempar jumbrah ketika itu sangat padat. Oleh karena itu, kami memilih tetap melempar dilantai dasar. Kami bergerak perlahan mengikuti arus manusia yang sebagian seperti tak hendak melihat pada yang lain : Tatapannya terfokus pada Jumrah Aqabah, simbol setan yang akan segera dihancurkan dengan batu dari Muzdalifah, batu terbaik yang disepuh denagan sepuhan keikhlasan !

Saya dan regu terus bergerak, berusaha menghindari tabrakan dengan jamaah yang melawan arah, sambil tetap berusaha mendekati Aqabah, hingga jarak aman untuk melempar. Ini hal yang tidak terlalu mudah karena semua orang ingin bergegas, dan beberapa tampak begitu barnafsu, seperti pemburu tak mau kehilangan buruannya.

Ketika sudah berada dalam jarak yang baik, kami pun mulai melemparkan batu ke arah Jumrah Aqabah. Mulut kami merintih dan berucap : Bismillah Allahu Akbar. Lalu tangan kami melemparkan batu yang telah kami sepub dengan doa. Satu demi satu batu kami lemparkan, sambil mulut terus berucap : Bismillah Allahu Akbar.

Prosesi melempar Jumrah adalah sebuah ibadah ritual yang diajarkan Rasulullah Saw. Sebagai ibadah Mahdha, tentu kita tak hendak mempersoalkannya lagi. Namun menggali hikmah dibalik itu, tentu saja bermanfaat agar ritual melempar Jumrah dapat berbekas secara positif terhadap jiwa kita.

Diantara hikmah yang saya temukan adalah : ketika kita melempar Jumrah, sejatinya kita sudah memerangi hawa nafsu dan setan yang bersemayam dalam diri kita, ketika kita melempar Jumrah, kita sedang melemparkan sifat-sifat setan yang ada dalam diri kita. Kita bersihkan diri dengan melemparkan kebusukan kita; kita bersihkan jiwa dengan tunduk patuh pada perintah Allah. Allah perintahkan kita melempar Jumrah, kitalakukan dengan ketaatan. Dan pada saat yang sama, kita renungkan kebusukan dan kejelekan kita; kita campakkan semua itu di Mina. Kita hapus sifat jelek kita dengan batu yang kita kumpulkan di malam hari Muzdalifah! Bismillah Allahu Akbar!

Usai melempar Jumrah, kami bergegas meninggalkan Aqabah, menuju tempat istirahat, posko rombongan kami. Namun dalam hiruk-pikuk yang amat sangat, Ibu Rosika kehilangan sepatunya. “Pak Budi, sepatu saya hilang,” katanya sambil berusaha mencari-cari. Saya segera membaca situasi yang berbahaya, tapi tak ingin membuat Ibu Rosika lebih panik, maka saya katakan, “kalau kaki Ibu tentu masih ada?” canda saya yang dijawab Ibu Rosika, “ya ada atuh pak, Alhamdulillah.” Lalu saya segera meminta Ibu Rosika untuk melupakan sepatunya dan terus bergerak bersama kami untuk keluar dari kerumunan lautan manusia disekitar Aqabah, menuju posko.

Setiba di posko, kami saling berucap syukur karena telah usai melempar Jumrah hari pertama. Kami lalu bersiap menuju Makkah untuk melaksanakan tawaf Ifadha. Ibu Roska tak lupa menceritakan sepatunya yang hilang. Semua menghibur dengan mengatakan “Biarlah sepatu hilang asal kaki utuh dan ibadah lancar.” Ibu Rosika pun membeli sandal yang banyak di jual disekitar Mina. Maka kami pkun segera menuju Makkah, menuju terminal bus disekitar jamarat (sekarang sudah tidak ada).

Ketika kami sudah berjalan sekitar 5 menit, di antara aru smanusia yang padat, berjarak puluhan meter dari lokasi Jumrah Aqabah, tiba-tiba Ibu Rosika yang tepat berjalan didepan saya berteriak, “Pak, ini sepatu saya ketemu!” saya melihat dengan takjub. Di tengah kerumunan manusia yang bergerak tergesa-gesa menuju Makkah, dihadapan Ibu Rosika teronggok sepasang sepatu dengan rapinya, menghadap kearah Ka’bah, tempat kami menuju.

Di tengah keterkejutan saya mash bertanya, “Bagaimana Ibu yakin itu sepatu Ibu?”.

“Saya hafal betul, ini kotor dan sudah agak jelek. Ini bukan sepatu baru. Saya sengaja membawanya dari Tanah Air,” jawab Ibu Rosika sambil masih memandang sepatunya.

Allahu Akbar, bagaimana prosesnya; sepatu yang hilang ketika kami berdesak-desakan disekitar Jumrah Aqabah, lalu ditemukan di tengah jalan menuju terminal yang terpisah puluhan meter jauhnya. Lagi pula, sepatu itu seperti diletakan oleh tangan yang tak terlihat: diletakan dengan rapi mengarah ke Ka’bah, arah yang sedang kami tuju. Ibu Rosika lalu mengambil sepatunya dengan rasa bersyukur dan takjub atas kebesaran Allah! Dipeluknya sepapatunya dengan berlinang air mata. Saya yakin bukan karena semata-mata sepatu itu kembali yang membuat Ibu Rosika menangis haru, tapi perasaan dan keyakinan bahwa sepatu itu dikembalikan Allah untuknyalah yang membuat Ibu Rosika begitu terharu. Hingga saat ini, jika kami bertemu dan mengingat kisah sepatu ini, air mata Ibu Rosika tetap menetes. Allahu Akbar!

Haji memang membuat jarak kita dengan Allah jadi sangat dekat. Ketika melaksanakan Ibadah haji, Allah menjadi begitu dekat, begitu nyata! Sepatu kembali, meski jelek, namun dirasakan sebagai karunia dan kasih sayang Allah yang amat besar. Kebahagiaan bukan diperoleh dari seberapa banyak harta yang dimiliki, melainkan berasal dari sebarapa besar rasa syukur kita atas karunia Allah kepada kita. Kebahagiaan berasal dari seberapa dekat kita dengan Allah. Kebahagiaan diperoleh dari kemampuan merasakan kehadiran Allah dalam hidup kita.

Mabrur Tanpa Haji


Seberapa banyak orang yang berhaji tapi hajinya tidak diterima. Ada pula orang yang tidak jadi berhaji tapi ia dinyatakan sebagai haji mabrur. Inilah kisah yang dapat menjadi renungan bagi umat islam. Memahami esensi haji mabrur dari kisah-kisah yang hadir di sekelilng kita, namun sering kali kita luput menyadari hal itu. Semoga kisah ini menjadi bahan tafakkur bagi siapapun yang hendak pergi berhaji.

Konon Cak Nun, panggilan akrab budayawan Emha Ainun Najib, ayahanda vokalis band Letto berkali-kali urung pergi haji. Bukan karena dicekal, atau termasuk waiting-list. Cak Nun tak jadi pergi meskipun uang sudah siap karena sering terbentur kepada pemandangan kemiskinan disekitarnya. Maka Cak Nun selalu menunda hajinya dan memberikan uangnya untuk mereka yang memerlukan: orang miskin yang sakit, atau orang miskin yang tak bisa sekolah.

Kisah Cak Nun tersebut mengingatkan kita kepada Abdullah bin Al-Mubarak yang berkata, “Pada suatu masa ketika selesai pergi haji, aku tertidur di Masjidil Haram. Tiba-tiba aku bermimpi melihat dua malaikat turun dari langit, lalu yang satu bertanya:

‘Berapa banyak orang berhaji tahun ini?’

‘Enam ratus ribu orang.’

‘Berapa banyak yang diterima?’

 

‘Tidak seorang pun yang diterima, kecuali seorang tukang sepatu di Damsyiq yang bernama Muwaffaq. Dia tidak jadi berhaji, tetapi hajinya diterima, sehingga semua yang berhaji tahun ini diterima berkat diterimanya Haji Muwaffaq itu.’

ketika mendengar percakapan itu,  aku pun terbangun dari tidur dan berangkat menuju Damsyiq untuk mencari Muwaffaq. Ketika tiba di rumahnya  dan kuketuk pintunya, keluarlah seorang laki-laki. Langsung aku bertanya, ‘Benarkah kau Muwaffaq?’ ‘Ya,’ katanya.

Lalu aku bertanya , ‘Kebaikan apakah yang telah kau lakukan sehingga mendapat derajat yang demikian tinggi?’

Muwaffaq menjawab, ‘sudah lama sekali aku bermaksud melaksanakan ibadah haji, tetapi tidak bisa karena keadaan ekonomiku tidak memungkinkan. Mendadak aku mendapat uang tiga ratus dirham  dari pekerjaan membuat dan menambal sepatu. Lalu aku pun berniat ingin menunaikan ibadah haji tahun ini.’

Sejenak ia mengambil napas, dan kemudian melanjutkan pembicaraannya lagi, ‘Suatu hari istriku yang tengah hamil mencium bau makanan dari tetangga sebelah, dan dia menginginkan makanan itu. Maka aku pun pergi ke rumah tetanggaku. Setelah kuketuk pintu, keluarlah seorang wanita, lalu kusampaikan maksudku.’ Maka jawabnya: ‘Saya terpaksa membuka rahasia. Sebenarnya anak-anak yatimku sudah tidak makan selama tiga hari, sehingga akupun keluar mencari makanan untuk mereka. Tiba-tiba aku mendapati bangkai keledai, lalu saya potong sebagian dagingnya dan saya masak. Maka makanan ini halal bagi kami dan haram bagimu,’ kata wanita tersebut.

Mendengar jawaban itu, aku kembali ke rumah mengambil semua uangku sebesar tiga ratus dirham itu dan aku serahkan pada tetanggaku tersebut. Aku katakan kepada ibu anak-anak yatim itu, ‘Belanjakanlah uang ini untuk anak-anakmu yang yatim itu!’ Dan aku berkata pada diriku sendiri: ‘Hajiku dipintu rumahku, maka kemanakah aku akan pergi?”’

Subhanallah, sungguh Allah Mahakaya dan tak pernah kekurangan pahala untuk dibagikan pada hamba-hamba-Nya. Jika pun kita tak mampu pergi haji, karena miskin atau sakit, atau dihalangi oleh penguasa yang zalim, tetaplah menumbuhkan semangat dalam hati untuk memohon diberikan kesempatan untuk berhaji.

Apabila kita tak juga dapat pergi haji, lihatlah pahala yang setara dengan pahala haji:

  • Mengerjakan puasa pada hari Arafah di Tanah Air akan berbuah pahala seperti pahala ibadah haji.
  • Barang siapa di waktu pagi berniat membela orang yang teraniaya dan memenuhi kebutuhan seorang muslim, baginya ganjaran seperti ganjaran haji  yang mabrur.

 

Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Kita telah dikasihi oleh Al-Rahman dan kita bergerak naik untuk menjadi hamba yang disayangi Al-Rahim. Allah, tak pernah membiarkan hamba-hamba-Nya diam sedih dan tak berjawab, sebagaimana Allah berfirman dalam Al-Quran, Dan bila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, katakan Aku dekat, Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila mereka memohon kepadaku (QS Al-Baqarah [2]: 186).

Allah Swt, juga yang memberikan jaminan: Barang siapa memohon kepada-Ku, maka akan aku ijabah. Allah melihat, Allah mendengar, segala sikap dan ucapan kita. Tiada yang luput, satu pun jua. Allah takkan lupa selama-lamanya, Allah takkan lupa sampai akhir masa.

Rahasia Tuhan atas Peristiwa Menakjubkan


Tulisan ini terinspirasi dari banyaknya kisah misteri yang terjadi kepada jamaah haji indonesia. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, tidak terkecuali Allah mengundang seseorang untuk menjadi tamuNya ke tanah suci. Ketika Allah menjadikan seseorang untuk  berhaji, tidak ada yang bisa merubah ketetapaNya. Tidak melihat seseorang itu kaya atau miskn. Allah akan memberi cara di luar nalar manusia. Selamat menikmati kisah penuh misteri dan teka-teki, semoga kita dapat mengambil hikamh dari kisah ini.

Para jamaah haji sering mendengar cerita, baik yang sifatnya ajaib-seram (mirip kisah-kisah misteri) maupun ajaib-seram (mirip Mimpi kali Yee . . .). namun juga tidak jarang yang biasa saja tapi informatif dan sedikit menghibur, atau berita tentang pusat belanja murah dan perilaku jamaah kita.

Pengalaman menggembirakan tentu akan menambah semangat. Hal ini pula yang dialami seorang jamaah haji asal Bandung tentang seorang lelaki tua yang saking inginnya pergi haji, selalu menyempatkan untuk mengantar hingga Pondok Gede apabila ada kerabat atau tetangga yang akan pergi haji. Hingga pada suatu ketika, dia ditanya oleh seorang tua di Pondok Gede, “Pak, Bapak mau pergi haji?”

“Bukan begitu, maksud saya, apakah Bapak ingin pergi haji ke Baitullah?” tanya orang tua itu.

“Oh tentu saja kalau soal ingin, sudah sejak lama saya ingin pergi haji. Karenanya saya selalu sempatkan untuk mengantar keluarga atau tetangga yang pergi haji hingga ke Pondok Gede,” jawabnnya lagi.

“Kalau begitu, silahkan temui anak saya di Bandung, mudah-mudahan dia bisa membantu niat Bapak untuk pergi haji,” ujar orang tua itu sambil memberikan secarik kertas beralamat.

Singkat kata, lelaki tua ini pun mendatangi alamat yang diberikan, dan bertemu dengan seorang anak muda yang lantas mengajaknya ke bank, untuk membayar ONH, tanpa banyak komentar. Ketika tiba waktunya, berangkatlah Bapak tersebut ke Tanah Suci dan dengan sisa living cost yang ada, ia pun membeli oleh-oleh untuk keluarga yang telah mebayarinya ONH.

Sesampainya di Tanah Air, usia melaksanakan haji, ia segera menuju alamat yang dahulu didatanginya, untuk mengantarkan oleh-oleh dan berterima kasih serta menunjukkan rasa syukur atas telah terlaksananya niat untuk melaksanakan haji. Namun apa yang terjadi?

Berpura-pura beberapa kali, ia tidak menemukan rumah yang dahulu didatanginya. Ditanyakannya kepada orang disekitar daerah itu, mereka hanya menunjukkan sebuah lahan kosong. “sejak dahulu, disitu tidak ada rumah, kok, Pak,” komentar penduduk yang melihat dirinya kebingungan. Peristiwa ini memang agak menyeramkan, tapi amat menggembirakan, bahkan menyentuh dasar kalbu kita dan menyadarkan kita bahwa tiada yang mustahil bagi Allah. Subhanallah!

Pengalaman – Pengalaman Menggetarkan Ibadah Haji

Penelusuran momen-momen titik balik spiritual (spiritual tipping point) dapat dimulai ketika seorang muslim mulai memikirkan untuk melaksanakan haji: mulai menabung atau langsung membayar biaya perjalanan ibadah haji (BPIH). Saat ini pun pengalaman mulai beragam dan getar-getar kasih Ilahi mulai tertangkap.makkah1

Semoga tulisan ini memberi spirit ruhiah kepada kita yang ingin berhaji dan juga untuk umat muslim secara keseluruhan. Karena kisah-kisah ini dapat memberikan pelajaran berharga tentang keimanan, kesabaran, dan ketauhidan kita kepada Allah. Selamat menyelami lautan spiritual ibadah haji.

Haji dan Air mata Bahagia

 Seorang ibu, bernama Rosiko, pensiunan pegawai PT Pos Indonesia, bergetar hatinya ketika dia merasa dibiarkan untuk mengurus sendiri proses penyetoran BPIH-nya. Suaminya justru melepasnya sendirian dan mengatakan bahwa proses haji mandiri harus dimulai sejak membayar BPIH. Asal tahu saja, sang suami memang tidak pergi haji bersama ibu ini, dan semoga Allah segera membukakan kesempatan untuknya. Amin.

Dengan menggunakan mobil angkutan kota, Ibu Rosika ini pergi menuju bank untuk melakukan transaksi pembayaran. Namun bank yang didatangi Ibu Rosika ternyata tidak menerima setoran BPIH, dan dia disarankan untuk membayar di kantor cabang bank tersebut. Sesampainya dikantos cabang bank yang dimaksud, Ibu Rosika diminta untuk terlebih dahulu mendatangi Depag. Luar biasa, padahal biasanya bank berebut menawarkan diri untuk mengurus kepentingan jamaah sebagai sebuah bentuk pelayanan kepada nasabah. Bukankah bank mendapatkan dana tak sedikit dari kegiatan haji?

Ketika akhirnya proses pembayaran dan pendaftaran haji selesai, Ibu Rosika pun terpesona dengan cara Allah memperlakukannya. Apapun kejadiannya, Ibu Rosika merasa Allah telah memulai proses pengujian kesabaran kepadanya: petugas bank yang tidak ramah, disuruh pergi kesana kemari, sembari merasa cemas karena membawa uang tunai puluhan juta rupiah dalam angkutan kota!

Dengan bercucur air mata, pengalamannya tersebut dituturkan kepada saya di pelataran Masjidil  Haram, usia shalat subuh, menunggu waktu dhuha. Hingga tulisan ini dibuat, tujuh tahun telah lewat dari dari perjalanan haji bersama KBIH Salman ITB dan KBIH Al-Amanah PT Pos Indonesia. Sungguh, air mata kami mudah menetes jika berjumpa dan mengenang setiap langkah dan pengalaman haji.

Ada lagi kisah mengharukan lainnya.seorang ibu,Dedeh Saodah, bergetar hatinya ketika anak sulungnya, dengan ikhlas memberikan  sejumlah uang untuk biaya perjalanan ibadah haji. Ibu yang membesarkan tiga anaknya sendirian, sejak suaminya wafat meninggalkan mereka, bertanya, “Nak, bukankah kamu belum punya mobil? Kamu juga masih tinggal di rumah kontrakan? Bagaimana pula dengan istrimu, apa dia ridha kamu berikan uang ini pada ibu?”

Anak yang shaleh itu menjawab, “Bu, rumah dan mobil insya Allah akan dapat dibeli. Sekarang ibu sehat dan Aa Ridha uang ini untuk  biaya ibu menunaikan haji ke Makkah. Istri Aa sangat setuju justru kalau ibu berangkat haji sekarang, mumpung ibu sehat dan Allah memberikan rezekinya melalui ikhtiar Aa.”

Allahu Akbar, bagaimana jika kita yang merasakannya? Diberangkatkan haji oleh anak! Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar!

Ibu Dedeh segera mengenang kembali bagaimana rasanya ketika sang suami, Ustad Yunus Anis, wafat dengan meninggalkan 3 orang anak yang sedang lucu-lucunya. Irfan si sulung berusia sekitar 7 tahun, imran dan Duis-nama panggilan si bungsu, wanita satu-satunya.

Pada saat itu, banyak orang yang menyarankan Ibu Dedeh untuk menikah lagi. Namun dengan bijak, Ibu Dedeh menjawab, “Anak-anak sudah kehilangan ayahnya. Saya tidak mau mereka juga kehilangan ibunya!”

Karena itu, Ibu Dedeh membesarkan tiga permata hatinya sebagai single parent, dia menjadi ibu dan ayah sekaligus bagi anak-anaknya. Berbagai profesi digelutinya. Pekerjaan semula sebagai perawat ditinggalkannya, lalu kemudian Bu Dedeh menerima pekerjaan menjahit agar dapat dikerjakan di rumah sambil menjaga dan mejaga anak-anaknya. Belakangan, dengan dukungan dan bimbingan keluarga, dia menjadi seorang guru di salah satu pesantren di Bandung, juga menjadi salah seorang pengelola majalah islam, dan mengisi pengajian di berbagai majlis taklim.

Irfan dan kedua adiknya dibesarkan dengan penuh cinta Ibunda dan keluarga besarnya. Kakek Irfan adalah seorang ulama, pemimpin Ormas Islam selama puluhan tahun, yakni Ustad Abdurrahman, akan tetapi sang kakek merelakan cucu kesayangannya untuk bersekolah di sekolah umum dan kemudian menempuh kuliahnya di ITB.

Sewaktu menjalani semester kedua di ITB, Irfan menolak pemberian uang dari ibunya. “Berikan saja untuk adik-adik, Bu. Saya sudah dapat beasiswa dan juga sudah punya penghasilan dari memberikan les privat,” katanya pada ibunya yang tak putus bersyukur.

Setelah lulus kuliah dan bekerja di indosat, dia menikah dengan teman sesama aktivis Masjid Salman ITB, dan dikaruniai anak. Kecintaan Irfan pada ibunya diwujudkan dengan sangat manis: Membiayai haji.

Allah Yang Maha Penyayang rupanya sangat menyayangi Irfan. Di usia 30-an Irfan terkena kanker lenjar getah bening. Perawatan terbaik diberikan hingga kemudian dia dirawat selama beberapa bulan di singapur. Namun, Allah lebih memilih Irfan untuk kembali kepada-Nya. Irfan meninggal dalam pelukan ibunya. Berbahagialah, wahai anak shaleh, yang dengan ikhlas membiayai ibumu pergi haji ke Baitullah. Semoga Allah pun memberikan tempat yang membahagiakanmu di alam barzakh, seperti Allah memuliakan Isma’il karena ketaatannya kepada Allah dan ketaatannya kepada Ibrahim a.s., dan juga kelak menempatkanmu di dalam surga yang istimewa. Amin.

Tak terhitung banyaknya anak-anak seperti Irfan yang membahagiakan orang tuanya dengan cara memberangkatkan haji. Seorang anak yang dikenal nakal saat kecil hingga remaja, memberikan kejutan indah ketika ayahnya pensiun: memberangkatkan haji berdua, ayah dan ibunya, melalui program haji khusus.

“Aa tahu, Ibu dan Bapak ingin berhaji sejak lama sekarang Aa punya uang dan sudah Aa bayarkan , Ibu dan Bapak tinggal Manasik dan berangkat ke Tanah Suci, “katanya disambut isak tangis ayah dan ibunya.

Seorang anak perempuan, ditanya oleh rekanan bisnisnya, “Mau ganti mobil, Bu?”

“Ah tidak juga, mobil yang ada masih jalan dengan baik,” jawabnya.

“Terus buat apa keuntungan yang sekarang?” tanya temannya lagi.

“Keuntungan yang ini untuk membiayai ibu saya pergi haji,” katanya mantap.

Pergi Haji: Belajar Mati (Part-2)

Tulisan ini adalah lanjuta dari tulisan sebelumnya “Pergi Haji: Balajar Mati”Semoga menambah spirit ruhuyah kita untuk memaknai ibadah haji. Dan semoga Allah menjadikan kita sebagai tamu-Nya, dan memampukan kita pergi ke tanah suci untuk melaksanakan rukun islam yang kelima. Mari kita belajar mati dari hikmah ibadah haji. Selamat menyelami lautan spiritual Ibadah Haji Dan Umrah melalui tulisan ini.

 

Siap Menghadapi Segala Peristiwa Yang Akan Terjadi

www.berhaji.com
pergi haji belajar mati

 

Bagaimana dengan di Tanah Suci? Betulkah jika di sini kita sering berperilaku buruk, di sana akan menuai keburukan? Jika di sini kita selalu menyuruh, di sana  pun akan menjadi suruhan orang?

Dikasihkan, seorang jaksa yang pernah menyiram, seorang tahanan yang kabur dengan segelas kopi panas sudah bersiap-siap jika di Makkah dirinya akan diguyur Allah dengan kopi panas pula.

“Saya siap kalau Allah membalas segala tingkah saya yang berlebihan, dengan balasan apa pun, asal Allah mengampuni saya dan melimpahkan kasih sayang-Nya pada saya,” ucapnya dengan air mata yang menggenang.

Namun apa yang terjadi? Alih-alih kopi panas, yang ditemuinya malah lautan kebahagiaan, kesejukan air zamzam, dan kenikmatan air mata yang senantiasa membasahi tempat sujudnya di kala shalat.

“Memang banyak kopi panas di sekitar Masjidil Haram, tapi harus beli,” kata Pak Jaksa ini sambil tersenyum senang menceritakan pengalamannya di Tanah Suci.

Tapi, bagaimana kalau kita mendapat perlakuan tidak baik di Tanah Suci? Bagaimana jika haji juga dipenuhi dengan kesulitan dan penderitaan? Jangankan kita, saudaraku,Rasullullahyang mulia, makhluk kekasih Allah yang begitu ikhlas dalam mengemban amamah berupa islam pun mengalami perlakuan buruk. Bahkan Beliau di usir, dicoba dibunuh, dihina, dilempari kotoran, sambil tetap harus bertahan di Makkah hingga datang perintah hijrah. Dan ketika hijrah ke Madinah pun bBeliau masih dikejar-kejar dan hampir terbunuh ketika seorang pemburu hadiah berhasil menyusul dan menodongkan pedang tajam di leher Nabi. Allahu akbar!

Jadi, kalau ada peristiwa tidak menyenangkan dan itu kita rasakan sebagai balasan atas dosa-dosa kita di Tanah Air, bersyukurlah, bahwa Allah mempercepat proses penjatuhan hukuman itu, hingga kelak di akhirat, insya Allah kita terbebas dari siksa neraka. Bukankah tiada balasan bagi haji mabrur kecuali surga?

Lain lagi dengan kisah rombongan KBIH BISRI PT Pusri yang berjumlah sekitar120 jamaah. Kami mendapat maktab di Aziziyah, tempat yang tidak kami temukan namanya dalam peta Makkah. Ya, Aziziyah lebih dekat ke Mina, hanya 30 menit perjalanan santai ketempat melempar jumrah.

Setiap pukul 3 dini hari, regu demmi regu bergelombang menuju ke Masjidil Haram. Demikian pula regu kami. Dalam regu kami terdapat seorang dokter beserta istrinya yangsedang hamil. Suaminya yang dokter mengambil tanggung jawab penuh atas kondisi kehamilan istrinya. “Kami sudah berazam, maka kami bertawakal kepada Allah, “kata Dokter Zaini ketika ditanya dengan kondisi istrinya yang berhaji dalam keadaan hamil.

Sehari sebelumnya seorang jmaah berkata, entah apa maksudnya, “Wah saya belum nangis , nih,” katanya. Mungkin karena dia melihat jamaah lain sudah tumpah air matanya sejak melihat Ka’bah, bahkan sejak meninggalkan rumah. Sementara dia masih tenang-tenang saja.

Kami masuk lift, namun Pak Dokter dan istrinya keluar lagi. Biar nanti saja, katanya, karena lift terlihat sudah penuh. Maka turunlah kamidari lantai lima menuju lantai dasar. Lift berjalan normal, namun ketika sampai dilantai dasar, lift tidak berhenti melainkan terus terperosok ke basement, dan … bum! Suara keras pun terdengar.

Di dalam lift kami berseru menyebut nama Allah: Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar! Setelah agak tenang, seseorang mengeluarkan ponselnya dan bersyukur sinyalnya masih baik. Lalu dia menghubungi H. Lukman, salah seorang tim pembimbing. Kami bersyukur karena dia masih berada di sekitar maktab, padahal regu yang dia pimpin biasanya paling awal berangkat ke Haram.

Kemudian kami semua berdoa. Pada saat itu, seorang ustad mengingatkan tentang peristiwa seorang sahabat yang terperangkap dalam gua: mohonlah pertolongan kepada Allah dan berwasilahlah dengan amal shaleh kita, sebutkan dalam hati, mohonlah pertolongan kepada Allah.

Suasana hening beberapa menit lamanya, hingga kemudian terdengar pintu lift digedor dari luar. Kami membalas memukul-mukul pintu lift. Dan kemudian, pintu lift tampak dicoba dibuka secara paksa dengan kayu, tetapi tidak berhasil. “kemana kuncinya?” tanya salah seorang dari kami yang mengerti masalah teknis. Rupanya kuncinya terbawa oleh seorang pengurus maktab. Kami harus menunggu beberapa menit lagi sampai dia yang membawa kunci datang dan membuka lift. Mata kami melihat pemandangan yang tidak beres; Basement ini rupanya belum selesai. Tumpukan bahan bangunan dan sisa-sisa material teronggok disana-sini, tidaak ada listrik yang meneranginya.

Ya Allah, ketika tiba, kami bersyukur karena kami yang tadinya akan mendapat kamar di lantai 12 ke atas, ternyata kemudian dipindah ke kamar lantai 3 dan 5. namun kami pun harus mendapati kenyataan bahwa di maktab belum tersedia air untuk wudhu,apalagi mandi. Sekarang kami melihat, gedung ini ternyata belum tuntas pembangunannya.

Saya mencoba mengklarifikasi pada Kadaker Makkah, Bapak Wardhani. Dia pun menjawab, “Mas, jujur saja, bangunan itu memang belum selesai. Pemilik gedung yang sebelumnya sudah sepakat dengan kami, tiba-tiba menaikkan uang sewa secara sepihak. Kami tidak terima dan membawa persoalan ini ke pihak yang berwenang. Tapi jamaah tetap harus dilayani. Maka, hanya satu hari sebelum anda dan rombongan datang, saya menyepakati harga dengan pemilik gedung yang sekarang anda tempati ini.”

ya Allah, kami ridha dengan apa pun yang engkau timpakan pada kami. Saya lirik teman yang tadi berkata bahwa dia belum menangis, matanya sembap karena tangis dan bibirnya tak putus bertasbih menyebut-nyebut nama Allah. Subhanallah walhamdulillah wa la ilaha illallah wallahu akbar.

            “Bagaimana sekarang, apa sudah menangis?”tanya saya yang dibalasannya dengan senyum dan anggukan haru.

Pergi Haji: Belajar Mati

Tulisan ini mengajak umat islam untuk dapat meresapi makna ibadah haji lebih mendalam. Penting bagi umat islam yang akan pergi haji untuk menggali spiritual ibah haji lebih mendalam, karena ibadah haji adalah rukun islam yang kelima dan hanya diwajibkan sekali seumur hidup. Semoga tulisan ini manjadi jalan bagi umat islam untuk menyelami lautan spiritual ibadah haji. Selamat mambaca dan meresapi lautan spritual ibadah haji.

www.berhaji.com
pergi haji belajar mati

Menurut Ibn Arabi dalam Al-Futuhat Al-Makkiyyah, kita akan kembali pada Allah dengan cara yang berbeda. Ada yang kembali kepada Allah dengan cara terpaksa, disebut ruju idhthirari. Setuju atau tidak setuju, kita semua akan kembali menghadap yang Maha hidup. Proses itulah yang disebut kematian.

Ada pula cara kembali yang lain. Yaitu kita disuruh kembali kepada Allah dengan cara yang tidak terpaksa. Kita kembali dengan sukarela. Cara kembali seperti ini disebut ruju ikhtiyari. Kembali kepada Allah dengan cara seperti inilah yang dilakukan para jamaah haji.

Saya pernah melihat sepasang suami-istri, menangis terisak-isak di pangkuan ibu mereka yang telah renta, memohon doa dan ampunan karena merekaakan segera berangkat melaksanakan haji. Mereka ibarat sepasang pengantin baru yang memohon doa kepada kedua orangtuanya untuk mengarungi hidup baru. Padahal mereka tidak muda lagi. Sang suami adalah seorang anggota DPRD Kota Bandung, sementara sang istri adalah pejabat di lingkungan dinas pendidikan Kota Bandung.

Memang, pergi haji selama kurang lebih empat puluh hari (atau sekitar 14-20 hari untuk haji khusus), membuat para jamaah haji belajar untuk berpisah dengan berbagai persoalan duniawi yang selama ini digeluti, dicintai, dikejar-kejar untuk dimiliki, atau dihindari untuk ditemui.

Keluarga yang ditinggalkanbelajar untuk tabah dan mandiri. Wasiat atas harta dan urusan dunia harus diucapkan oleh jamaah haji, disertai sikap tawakal dan istiqomah atas segala kemungkinan yang akan terjadi.

Bukankah urusan kita dengan dunia hanya dua: kita yang meninggalkan atau kita yang ditinggalkan oleh dunia. Maka tepatlah senandung Aa Gym, “. . . barang siapa Allah tujuannya, niscaya  dunia akan melayaninya. Namun siapa saja dunia tujuannya, niscaya akan letih dan pastri sengsara, diperbudak dunia, sampai akhir masa. Astagfirullah . . . .”

Seorang istri Kolonel AD, bernama Lilis, yang suaminya akan berangkat haji dengan kedua orangtuanya, ketika ditanya, “Apakah ibu ridha karena suami akan berangkat haji dengan orangtuanya (mertua ibu)? Apakah ibu siap melepas mereka dengan doa yang tulus?”

“Saya siap,” jawab ibu Lilis sambil mengusap air mata yang menetes membasahi kedua pipinya. “Saya sering melepas suami bertugas keluar negeri, tapi rasanya tidak seperti saat ini. Melepas suami berhaji rasanya memang sedang belajar berpisah selama-lamanya . . . .”

 

Dua tahun kemudian, Allah mengundang ibu Lilis ini ke Makkah, yang sedianya akan ditemani anak laki-lakinya. Namun karena sang anak diterima di Akabri, diusahakanlah agar sang suami bisa berangkat menemaninya. Tapi tidak bisa juga. Maka, Ibu Lilis berangkat haji tanpa ditemani suami atau anak. Air matanya juga menetes ketika harus meninggalkan suami dan anak-anak tercinta.

Lain lagi dengan kisah seorang mantan anggota dewan yang juga aktivis organisasi sepak bola nasional. Dia merasakan getaran luar biasa yang menyebabkannya tidak punya pilihan lain kecuali tunduk dan patuh pada kekuatan dan kekuasaan Allah, termasuk jika dia harus mati di Tanah Suci.

Dia berujar, “Saya sangat bersyukur pada Allah atas kesempatan berhaji tahun ini. Saya sebenarnya malu; malu pada Allah. Dulu, saya mendapat dua kali tawaran berhaji, tapi tidak saya terima. Dulu, saya sangat mampu secara materi, tapi saya tidak berhaji. Sekarang saya berhaji apa adanya . . . dengan bekal pas-pasan, sementara usia tidak lagi muda dan fisik tidak sesehat dahulu. Saya siap jika Allah menakdirkan saya tidak kembali ke tanah air. Saya siap …,” ujarnya disebuah mushala kecil di kantor PSSI Komda Jawa Barat. Ketika tulisan ini dibuat, saya masih menantikan kedatangannya dari Tanah Suci. Bukan untuk meminta oleh-oleh kurma dan kacang arab, melainkan menanti berbagai kisah menakjubkan yang menggetarkan hati, mendekatkan kita pada Allah, kisah dari Hamba yang kembali dari Tabnah Suci, padahal dia siap jika mati.