Ternyata Pendiri NU dan Muhammadiyah Belajar dari Guru yang Sama Selama di Tanah Suci

Berhaji.com

Pendiri dua ormas keagamaan besar di Indonesia yakni Nahdatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah juga sempat mempelajari agama saat sedang melaksanakan ibadah haji. KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asy`ari belajar dengan guru yang sama saat berada di Makkah.

Dalam buku Satu Abad Muhammadiyah diterangkan, KH Ahmad Dahlan lahir di Kampung Kauman, Yogyakarta 1868 dengan nama Muhammad Darwis.

Muhammad Darwis yang sudah tumbuh dewasa terus belajar ilmu agama maupun ilmu lain dari guru-guru yanglain, termasuk ulama di Arab Saudi ketika ia sedang menunaikan ibadah haji.

Ia pernah belajar ilmu hadits kepada Kiai Mahfudh Termas dan Syekh Khayat, belajar ilmu qiraah kepada Syekh Amien dan Sayid Bakri Syatha, belajar ilmu falak kepada KH Dahlan Semarang, dan ia juga pernah belajar kepada Syekh Hasan tentang mengatasi racun binatang.

Menurut beberapa catatan, kemampuan intelektual Muhammad Darwis semakin berkembang setelah menunaikan ibadah haji pertama pada tahun 1890, beberapa bulan setelah perkawinannya dengan Siti Walidah pada 1889.

Pemikiran baru yang ia pelajari selama bermukim di Makkah kurang lebih delapan bulan, telah membuka cakrawala baru dalam diri Muhammad Darwis yang telah berganti nama menjadi Ahmad Dahlan.

Pada 1903, Ahmad Dahlan menunaikan ibadah haji kedua dan bermukim di Makkah selama hampir dua tahun. Kesempatan ini digunakan Ahmad Dahlan untuk belajar ilmu agama Islam, baik dari para guru ketika ia menunaikan ibadah haji pertama maupun dari guru-guru yang lain. Ia belajar fikih kepada Syekh Saleh Bafadal, Syekh Sa`id Yamani, dan Syekh Sa`id Babusyel.

Selain itu, selama bermukim di Makkah, Ahmad Dahlan secara reguler mengadakan hubungan dan membicarakan berbagai masalah sosial-keagamaan, termasuk masalah yang terjadi di Indonesia, dengan para ulama Indonesia yang telah lama bermukim di Arab Saudi, seperti Syekh Ahmad Khatib dari Minangkabau, kiai Nawawi dari Banten, Kiai Mas Abdullah dari Surabaya dan Kiai Fakih dari Maskumbang.

Adapun KH Hasyim Asy`ari melakukan perjalanan ibadah haji pertamanya saat berumur 21 tahun. Tidak lama setelah menikah, Hasyim bersama istrinya berangkat ke Makkah guna menunaikan ibadah haji. Tujuh bulan di sana, Hasyim kembali ke Tanah Air, sesudah istri dan anaknya meninggal.

Pada 1893, ia berangkat lagi ke Tanah Suci. Sejak itulah ia menetap di Makkah selama 7 tahun dan berguru kepada Syekh Ahmad Khatib Minangkabau, Syekh Mahfudh at-Tarmasi, Syekh Ahmad Amin al-Aththar, Syekh Ibrahim Arab, Syekh Said Yamani, Syekh Rahmaullah, Syekh Sholeh Bafadhal, Sayid Abbas Maliki, Sayyid Alwi bin Ahmad as-Saqqaf, dan Sayyid Hussein al-Habsyi.

Kemampuannya dalam ilmu hadits, diwarisi dari gurunya, Syekh Mahfudh at-Tarmisi di Makkah. Selama tujuh tahun Hasyim berguru kepada Syekh ternama asal Pacitan, Jawa Timur itu, seperti dikutip dari harian republika. Di samping Syekh Mahfudh, Hasyim juga menimba ilmu kepada Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabau. Kepada dua guru besar itu pulalah Kiai Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, berguru.

Jadi, antara KH Hasyim Asy`ari dan KH Ahmad Dahlan sebenarnya tunggal guru. Yang perlu ditekankan, saat Hasyim belajar di Makkah, Muhammad Abduh sedang giat-giatnya melancarkan gerakan pembaruan pemikiran Islam.

 

Dimanakah Letak Maqam Ibrahim AS Sebelum Dipindahkan?

Berhaji.com

Maqam Ibrahim adalah batu yang digunakan Nabi Ibrahim AS untuk berpijak sewaktu beliau membangun Ka`bah. Beberapa keutamaan Maqam Ibrahim yakni dijadikan tempat shalat, taqut dari surga, dan tempat dikabulkannya doa.

Seperti dikutip dari buku Ensiklopedi Peradaban Islam (Makkah) karya Syafii Anonio, pada mulanya maqam ini menempel di dinding Ka`bah sebagai tempat berpijak Nabi Ibrahim AS dalam meninggikan Ka`bah. Kemudian di zaman Khalifah Umar bin Khattab, maqam ini digeser mundur untuk memperluas orang yang melakukan tawaf.

Sosok Umar sendiri merupakan orang yang mesti diikuti sebagaimana hadits Nabi Muhammad SAW, “Ikutilah dua sahabat setelah aku wafat, Abu Bakar dan Umar.” Tidak ada seorangpun dari kalangan sahabat yang mengingkari pemindahan maqam tersebut.

Kotak maqam Ibrahim terus mengalami perubahan. Mulanya, Maqam Ibrahim diletakkan di sebuah bangunan lemari perak yang di atasnya dibuat peti berukuran 6×3 meter. Luas kotak tersebut 18 meter. Bangunan ini memenuhi ruang tempat thawaf dan mempersulit jemaah yang melakukan thawaf.

Atas kesepakatan Rabitah Al-Alam Al-Islami (Organisasi Liga Umat Islam Dunia) pada 1387 Hijriyah, diubahlah menjadi kotak kaca kristal yang diliputi dengan besi di atas batu marmer berukuran 180×130 centimeter = 2,34 meter. Kemudian oleh pihak pemerintah, kotak tersebut dilapisi emas. Di luarnya dilapisi kaca bening setebal 10 centimeter yang tahan terhadap panas dan antipecah.

Seperti dikutip dari republika.co.id, saat ini jarak antara Maqam Ibrahim dengan sudut Ka`bah, dan Hajar Aswad = 14,5 meter. Jarak dengan Rukun Yamani = 14 meter, jarak dengan sudut saluran air = 13,25 meter.

Warna Maqam Ibrahim menyerupai warna perunggu, agak kehitam-hitaman. Cetakan kaki Nabi Ibrahim terbuat dari besi. Adapun rumah kaca sengaja dibuat untuk menghindari kerusakan prasasti jejak kaki Sang Pembangun Ka`bah, Nabi Ibrahim AS. Sama halnya dengan Hajar Aswad, posisi Maqam Ibrahim yang menempel di Ka`bah memiliki keistimewaan. Jika Hajar Aswad mengandung sunah penghormatan dengan cara mencium atau mengusapnya, Maqam Ibrahim dihormati dengan melakukan shalat sunah di belakangnya.

Saat musim haji, tentu bukan perkara mudah untuk bisa shalat sunah tepat di belakang Maqam Ibrahim. Selain dijaga petugas, ada larangan terhadap jemaah agar tidak berdoa di depan Maqam Ibrahim.

Alasannya, berdoa di depan Maqam Ibrahim dikhawatirkan mengandung penyembahan dan penghormatan yang berlebihan pada prasasti tersebut. Tidak heran kalau petugas di sana selalu menghalau jemaah yang terlihat berdoa di depan Maqam Ibrahim. Petugas biasanya memberi peringatan jika Maqam Ibrahim hanya sebatas untuk dilihat, bukan untuk disembah.

Menikmati Indahnya Masjid Quba di Madinah yang Dibangun Nabi SAW

Berhaji.com

Pada bulan Ramadhan ribuan jamaah yang berasal dari dalam dan luar Kota Madinah, ramai memadati Masjid Quba di Madinah. Para jamaah tersebut khusyuk beribadah sambil mananti menanti hidangan berbuka puasa yang disajikan di masjid tersebut.

Quba Mosque

Quba Mosque1

 

Ramainya jamaah di masjid ini tak lain karena melaksanakan shalat di masjid ini memiliki keutamaan. Menurut hadist Nabi yang diriwayatkan oleh Abu bin Sahl bin Hunaif ra, ia pernah menderngar Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang bersuci di rumahnya, kemudian pergi ke Masjid Quba, lalu ia shalat di dalam Masjid Quba, maka baginya pahala seperti pahala umrah.” (HR. Tirmidzi)

Masjid Quba ini terletak di rute hijrah Nabi, di antara kota Makkah dan Madinah, tepatnya 3,5 kilometer dari Masjid Nabawi. Masjid Quba ini merupakan masjid pertama yang didirikan Nabi Muhammad SAW ketika tiba di Madinah saat hijrah.

Dalam pembangunan masjid ini, Rasulullah SAW lah yang melakukan peletakan batu pertama, dilanjutkan oleh putrinya, lalu disempurnakan oleh para sahabat.

Allah SWT memuji masjid ini dan orang yang mendirikan sembahyang di dalamnya dari kalangan penduduk Quba’ dengan Firman-Nya:

Sesungguhnya masjid itu yang didirikan atas dasar takwa (Masjid Quba) sejak hari pertama adalah lebih patut bagimu (Hai Muhammad) bersembahyang di dalamnya. Di dalamnya terdapat orang-orang yang ingin membersihkan diri…….(QS. At Taubah: ayat 108).

Masjid ini telah beberapa kali mengalami renovasi. Khalifah Umar bin Abdul Aziz adalah orang pertama yang membangun menara masjid ini. Sakarang renovasi masjid ini ditangani oleh keluarga Kerajaan Saudi. Mengutip buku berjudul Sejarah Madinah Munawarah yang ditulis Dr Muhamad Ilyas Abdul Ghani, masjid Quba ini telah direnovasi dan diperluas pada masa Raja Fahd ibn Abdul Aziz pada 1986. Renovasi dan peluasan ini menelan biaya sebesar 90 juta riyal yang membuat masjid ini memiliki daya tampung hingga 20 ribu jamaah.

 

Kumpulan Foto Berhaji Di Masa Lalu yang Ternyata Lebih Menyejukkan Dipandang Mata

Berhaji.com

Tanah suci Mekkah dan Madinah telah mengalami berbagai kemajuan seiring perkembangan zaman. Bahkan, Masjidil Haram juga saat ini tengah mengalami perluasan untuk desain terbaru di tahun 2020 mendatang.

Berbagai kemewahan seperti lapisan marmer dan emas dapat kita lihat hampir di setiap sudut Mekkah dan Madinah, terutama di tempat-tempat melaksanakan ibadah haji. Pembangunan besar-besaran ini juga disebut-sebut sebagai salah satu tanda kiamat, sebagaimana disabdakan Rasulullah Salallahu ‘Alaihi wa Salam.

Ibnu Syaibah meriwayatkan dengan sanadnya kepada Ya’la ibn Atha’ dari ayahnya, dia berkata: pada suatu hari, aku menuntun tali kekang onta Abdullah ibn Amr, lalu beliau berkata: “Bagaimana pendapat kalian, jika kalian hancurkan Ka’bah dan tidak menyisakan ada batu yang masih menumpuk? Mereka menjawab: oleh kita yang beragama Islam? Beliau menjawab: benar, kalian yang beragama Islam. Seseorang bertanya: lalu apa lagi? Beliau menjawab: kemudian ia akan dibangun dengan yang lebih bagus darinya. Apabila kalian telah melihat galian-galian besar di Makkah, dan bangunan-bangunannya menjulang tinggi melebihi pegunungannya, maka ketahuilah bahwa kiamat telah mendekatimu”(HR. Ibnu Abi Syaibah dan al-Arzaqi)

Mekkah dan Madinah di masa lalu memang tidak semegah dan mewah sekarang, namun ternyata lebih sejuk dipandang mata dengan berbagai kesederhanaannya.

Foto-Foto Perbandingan Ka’bah Zaman Dulu dan Masa Kini

Berhaji – Sejak zaman para nabi dulu, Ka’bah selalu dipadati umat muslim seluruh dunia untuk menyelesaikan rukun Islam yang ke-5, yaitu menunaikan ibadah haji dan umrah.

Seiring dengan perkembangan zaman, Ka’bah terus mengalami perubahan dan renovasi untuk meningkatkan pelayanan pada seluruh umat muslim yang sedang menunaikan ibadah haji dan umrah. Saat ini bahkan Masjidil Haram tengah mengalami renovasi besar-besaran yang menjadi salah satu giga proyek pemerintah Saudi.

Sebelum kita menyambut kondisi Ka’bah dan Masjidil Haram yang baru di tahun 2020 mendatang, tidak ada salahnya kita menengok sebentar kondisi Ka’bah di tahun-tahun silam untuk mengenang betapa besar kemajuan yang sudah ditempun umat Islam sejauh ini.

Meski bentuk Ka’bah-nya sendiri tidak pernah berubah, banyak perubahan yang terjadi di sekitar Ka’bah. Mulai dari design Masjidil Haram yang kini lebih modern, sampai perubahan cara mengganti kiswah yang dulu sangat manual dan kini lebih modern.

Berikut ini beberapa foto perbandingan Ka’bah di tahun 1940-an dan foto terbaru Ka’bah masa kini.

 ka'bah changing kiswa

ka'bah perbandingan 2
wirausaha

Doa Nabi Ibrahim, Agar Hati Manusia Jadi Cenderung Ke Ka’bah

berhaji.com

“kapan ya saya bisa berdoa di dekat ka’bah”

“kalau sudah pernah pergi, pengen pergi lagi lihat ka’bah”

“saya mau dikirim ke mekkah pas musim haji, walapun jadi petugas bersih-bersih”

Demikianlah komentar orang-orang yang menunjukkan mereka sangat ingin dan cenderung hati mereka untuk melihat ka’bah dan menunaikan ibadah haji. Hal ini karena memang doa dari nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Beliau berdoa,

رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ

Ya Rabb kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Rabb kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur” (QS. Ibrahim: 37).

Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah berkata, “Allah mewajibkan haji ke Baitullah di mana Allah menempatkan anak keturuan nabi Ibrahim dan Allah menjadikannya suatu rahasia mengagumkan yang memikat di hati. Yaitu orang berhaji (ke Ka’bah) dan tidak ditunaikan terus menerus, namun setiap kali seorang hamba pergi bolak-balik ke ka’bah maka semakin bertambah kerinduannya, semakin besar kecintaannya dan kerinduannya“ (Taisir karimir rahman, hal. 427)

Fairuz Abadi rahimahullah membawakan tafsir Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu,  “(maka jadikanlah hati sebagian manusia), yaitu hati sebagian manusia, (cenderung kepada mereka) yaitu rindu dan menginginkan (pergi ke Ka’bah / Mekkah) setiap tahun” (Tanwirul Miqbas, hal. 214).

Dalam kitab At-tafsir Al-Muyassar, “(Nabi Ibrahim berkata) Wahai Rabb sesungguhnya saya melakukan ini karena perintah-Mu, agar mereka menunaikan shalat sesuai dengan tuntunan-Mu, jadikan hati sebagian mahkluk-Mu agar cenderung kepada ka’bah/Mekkah dan mencintainya” (At-tafsir Al-Muyassar, hal 260).

Mekah

MEKAH

Sejarawan muslim menganggap Mekah sebagai pusat bumi. Dan bagi kaum muslim, Mekah juga punya arti penting pada zaman modern: ke kota inilah mereka menghadap saat shalat.

Mekah penting bagi kaum muslim tidak hanya karena Nabi Muhammad Saw lahir dan menghabiskan sebagian besar hayatnya di sini, tetapi juga karena Mekah merupakan tempat terdapatnya kabah. Selama ibadah  haji, ada ritus-ritus yang membawa jamaah haji menyusuri sejarah ke masa-masa awal kota ini dahulu.

Letak Geografis Mekah

Mekah yang mempunyai 11 nama lain seperti Bakkah, Al Balad Al-Amin, Um Al-Qura, dan sebagainya, merupakan kawasan yang dikelilingi bukit gersang, kering dan berbatu dengan ketinggian sampai 300 meter di atas permukaan laut, terletak berdekatan dengan Lembah Ibrahim. Bukit-bukit berbatu yang mengelilingi kota Mekah di bagian utara bernama Al-Falaq dan Qu’ Aqi’an. Di bagian selatan bernama Abu Hudaidah, Kuday dan Abu Qubais, serta di bagian lainnya Khindimah dan sebagainya. Memasuki kota Mekah harus melalui 3 pintu utama yang dinamakan Al-Mu’allat, Al-Musfalah dan Al-Shubaikah, yang pada umumnya letak pintu masuk ini lebih tinggi dari letak Masjidil Haram dengan kabahnya.

Ayat dan Hadits Mengenai Keutamaan Mekah

Di Mekah tanah yang mulia ini, ganjaran amal perbuatan dilipatgandakan Allah. Sabda Rasul: “Dan shalat di Masjidil Haram lebih baik seratus ribu kali lipat dari pada shalat di masjid lainnya.” (HR. Ibnu Majah). Dengan kata lain, satu kali shalat di Masjidil Haram sama nilainya dengan 55 tahun shalat di luar Masjidil Haram. Demikian juga sangsi untuk perbuatan buruk. Firman Allah Swt: “Siapa yang bermaksud di dalamnya (Masjidil Haram) melakukan kejahatan dzolim, niscaya akan Kami rasakan kepadanya siksa yang pedih.” (QS. 22: 25)

Dan telah diriwayatkan dari Hasan Al-Bashri r.a. bahwa berpuasa satu hari di Mekah sama (pahalanya) dengan berpuasa saratus ribu hari, bersedekah satu dirham sama dengan seratus ribu dirham, demikian pula satu perbuatan baik sama dengan seratus ribu.”

Diberitakan dalam sebuah atsar: Sesungguhnya Allah Swt setiap malamnya memandang kepada para penghuni bumi. Maka yang pertama kali dipandang oleh-Nya ialah para penghuni Al-Haram (Mekah). Dan yang pertama kali dipandang oleh-Nya di antara para penghuni Al-Haram adalah yang berada di Masjidil Haram. Dan barang siapa yang dilihat-Nya sedang berthawaf, maka Ia-pun memberinya ampunan. Dan barang siapa dilihatnya sedang berdiri menghadap kabah, maka Ia memberinya ampunan.

Mengungkap Fakta Ilmiah Keajaiban Ka’bah

Mengungkap Fakta Ilmiah Keajaiban Ka’bah

Ternyata Bukan GMT Bukan Di Greenwich bukan dimanapun, Tapi Semuanya ada Di Ka’bah (Fakta Ilmiah)

Ka’bah, rumah Allah sejuta umat muslim merindukan berkunjung dan menjadi tamu – tamu Allah sang maha pencipta. Kiblatnya (arah) ummat muslim dalam melaksanakan sholat, dari negaramanapun semua ibadah sholat menghadap ke kiblat ini.

Istilah Ka’bah adalah bahasa al quran dari kata “ka’bu” yg berarti “mata kaki” atau tempat
kaki berputar bergerak untuk melangkah. Ayat 5/6dalam Al-quran menjelaskan istilah itu dg “Ka’bain” yg berarti ‘dua matakaki’ dan ayat 5/95-96 mengandung istilah ‘ka’bah’ yg artinya nyata “mata bumi” atau “sumbu bumi” atau kutub putaran utara bumi.

Neil Amstrong telah membuktikan bahwa kota Mekahadalah pusat dari planet Bumi. Fakta ini telah di diteliti melalui sebuah penelitian Ilmiah.

Ketika Neil Amstrong untuk pertama kalinya melakukan perjalanan ke luar angkasa dan mengambil gambar planet Bumi, dia berkata, “Planet Bumi ternyata menggantung di area yang sangat gelap, siapa yang menggantungnya ?.”

Para astronot telah menemukan bahwa planet Bumi itu mengeluarkan semacam radiasi, secara resmi mereka mengumumkannya di Internet, tetapi sayang nya 21 hari kemudian website tersebut raib yang sepertinya ada alasan tersembunyi dibalik penghapusan website tersebut.

Setelah melakukan penelitian lebih lanjut, ternyata radiasi tersebut berpusat di kota Mekah, tepatnya berasal dari Ka’Bah. Yang mengejutkan adalah radiasitersebut bersifat infinite ( tidak berujung ), hal ini terbuktikan ketika mereka mengambil foto planet Mars, radiasi tersebut masih berlanjut terus.

Para peneliti Muslim mempercayai bahwa radiasi ini memiliki karakteristik dan menghubungkan antara Ka’Bah di planet Bumi dengan Ka’bah di alam akhirat.

Makkah Pusat Bumi
Prof. Hussain Kamel menemukan suatu fakta mengejutkan bahwa Makkah adalah pusat bumi. Pada mulanya ia meneliti suatu cara untuk menentukan arah kiblat di kota-kota besar di dunia.

Untuk tujuan ini, ia menarik garis-garis pada peta, dan sesudah itu ia mengamati dengan seksama posisi ketujuh benua terhadap Makkah dan jarak masing-masing. Ia memulaiuntuk menggambar garis-garis sejajar hanya untuk memudahkan proyeksi garis bujur dan garis lintang.

Setelah dua tahun dari pekerjaanyang sulit dan berat itu, ia terbantu oleh program-program komputer untuk menentukan jarak-jarak yang benar dan variasi-variasi yang berbeda, serta banyak hal lainnya. Ia kagum dengan apa yang ditemukan, bahwa Makkah merupakan pusat bumi Ia menyadari kemungkinan menggambar suatu lingkaran dengan Makkah sebagai titik pusatnya, dan garis luar lingkaran itu adalah benua-benuanya. Dan pada waktu yang sama, ia bergerak bersamaan dengan keliling luar benua-benua tersebut. (Majalah al-Arabiyyah, edisi 237, Agustus 1978).

Gambar-gambar Satelit, yang muncul kemudian pada tahun 90-an, menekankan hasil yang sama ketika studi-studi lebih lanjut mengarah kepada topografi lapisan-lapisan bumi dan geografi waktu daratan itu diciptakan.

Telah menjadi teori yang mapan secara ilmiah bahwa lempengan-lempengan bumi terbentuk selama usia geologi yang panjang, bergerak secara teratur di sekitar lempengan Arab. Lempengan-lempengan ini terus menerus memusat ke arah itu seolah-olah menunjuk ke Makkah.

Studi ilmiah ini dilaksanakan untuk tujuan yang berbeda, bukan dimaksud untuk membuktikan bahwa Makkah adalah pusat dari bumi. Bagaimanapun, studi ini diterbitkan di dalam banyak majalah sain di Barat.

Allah berfirman di dalam al-Qur’an al-Karim sebagai berikut:
‘Demikianlah Kami wahyukan kepadamu Al Qur’an dalam bahasa Arab supaya kamu memberi peringatan kepada Ummul Qura (penduduk Makkah)dan penduduk (negeri-negeri) sekelilingnya..’ (asy-Syura: 7)

Kata ‘Ummul Qura’ berarti induk bagi kota-kota lain, dan kota-kota di sekelilingnya menunjukkan Makkah adalah pusat bagi kota-kota lain, dan yang lain hanyalah berada di sekelilingnya. Lebih dari itu, kata ummu (ibu) mempunyai arti yangpenting di dalam kultur Islam.

Sebagaimana seorang ibu adalahsumber dari keturunan, maka Makkah juga merupakan sumber dari semua negeri lain, sebagaimana dijelaskan pada awal kajian ini. Selain itu, kata ‘ibu’ memberi Makkah keunggulan di atas semua kota lain.

Makkah atau Greenwich
Berdasarkan pertimbangan yang seksama bahwa Makkah berada tengah-tengah bumi sebagaimana yang dikuatkan oleh studi-studi dan gambar-gambar geologi yang dihasilkan satelit, maka benar-benar diyakini bahwa Kota Suci Makkah,bukan Greenwich, yang seharusnya dijadikan rujukan waktu dunia. Hal ini akan mengakhiri kontroversi lama yang dimulai empat dekade yanglalu.

Ada banyak argumentasi ilmiah untuk membuktikan bahwa Makkah merupakan wilayah nol bujur sangkar yang melalui kota suci tersebut, dan ia tidak melewati Greenwich di Inggris. GMT dipaksakan pada dunia ketika mayoritas negeri di dunia berada di bawah jajahan Inggris.Jika waktu Makkah yang diterapkan, maka mudah bagi setiap orang untuk mengetahui waktu shalat.

Kabah, Pemersatu Umat Islam

KABAH,

PEMERSATU UMAT ISLAM

 

Sesungguhnya Allah Swt. telah menjanjikan kepada Rumah ini, bahwa setiap tahunnya ia akan dikunjungi oleh (paling sedikit) enam ratus ribu pengunjung. Jika jumlah mereka kurang dari itu, maka Allah Swt. mencukupkan bilangan itu dengan sejumlah malaikat. Dan sesungguhnya Ka’bah akan ditampilkan di padang Mahsyar bagaikan pengantin wanita yang dikelilingi oleh orang banyak. Maka setiap orang yang pernah mengunjunginya (dengan melaksanakan haji) akan bergantung pada kain penutup (kiswah)-nya dan berjalan di sekitarnya. Yang demikian itu sampai ia memasuki surga dan merekapun memasukinya bersamanya.”
— Al-Ghazali. Rahasia Haji dan Umrah. (Bandung: Karisma, 1997). hlm.20 —

Kabah adalah lambang kiblat manusia di seluruh dunia yang disebut juga Baitullah (Rumah Allah). Kiblat berarti “arah” yang akan kita sembah. Yang kita sembah adalah Allah Swt, berarti kabah sebagai kiblat adalah lambang keberadaan Allah Swt di dunia ini.

Makna Bentuk Kabah

Kabah yang berarti kubus (bersisi enam) menunjukkan bahwa kabah menghadap ke semua arah. Oleh karena itu amatlah tepat Allah melambangkan kiblatnya dengan kubus yang semua sisinya dapat dipergunakan untuk menghadap sesuai dengan sifat Allah, dan bukan dengan bentuk lain baik itu lingkaran, segitiga dan sebagainya, wallahu a’lam.

Kabah sebagai Pemersatu Umat Islam

Kabah setiap detiknya tidak pernah kosong dikelilingi oleh umat islam yang melakukan thawaf, apalagi di musim haji. Kegiatan thawaf atau mengelilingi kabah tersebut berlangsung sepanjang hari, kecuali tentunya ketika umat Islam mengerjakan shalat, maka pada saat itu pula mereka yang melaksanakan thawaf berhenti sejenak untuk mendirikan shalat berjamaah.

Pada saat jamaah mengunjungi Masjidil Haram, pada saat itu pula mereka akan berthawaf, mengelilingi kabah 7 kali sambil mengumandangkan doa-doa yang seragam dan sudah dibakukan. Setelah selesai mengelilingi kabah (berthawaf) tersebut, banyak jamaah yang melaksanakan shalat sunat, baik di daerah Multazam (antara lubang tempat melihat atau mencium hajar aswad) di antara makam Ibrahim as. dan kabah, atau di hijir Ismail.

WUKUF DI ARAFAH

Wukuf dilaksanakan pada hari arafah mulai dari tergelincir matahari tanggal 9 dzulhijjah sampai dengan terbit fajar tanggal 10 dzulhijjah. Wujuf dinilai sah walaupun dilaksanakan hanya sesaat dalam rentang waktu tersebut, akan tetapi diutamakan mendapatkan sebagian waktu siang dan waktu malam.[i]

Pada saat wukuf, jamaah haji melaksanakan shalat, dzikir dan membaca doa serta memperbanyak membaca Al-Quran. Amalan yang disunahkan di Arafah adalah hendaklah setiap muslim bersungguh-sungguh berdzikir dan bertaubat, menyatakan ketundukan dan kepatuhan pada Allah Swt.[ii] Sedangkan pada saat persiapan wukuf hari-hari sebelumnya, pada tanggal 8 dzulhijjah jamaah haji berpakaian ihram dan niat haji bagi yang berhaji tamattu’ di penginapan masing-masing, sedangkan bagi yang berhaji ifrad dan qiran tidak niat haji lagi karena masih dalam keadaan ihram sejak dari miqat saat tiba, setelah itu berangkat ke Arafah. Pada tanggal 9 dzulhijjah bagi jamaah haji yang telah berada dalam kemah masing-masing menanti saat wukuf (ba;da zawal) sambil berzikir dan berdoa. [iii]

Di Arafah, wukuf boleh dilaksanakan di dalam maupun di luar tenda. Jamaah haji yang melakukan wukuf tidak disyaratkan suci dari hadats besar maupun kecil. Dengan demikian, wukuf jamaah haji yang sedang haid, nifas, junub dan hadats kecil adalah sah.[iv]

 

Kisah Arafah

Arafah merupakan nama suatu padang pasir yang luas. Menurut para ulama, asal penamaannya lebih dari satu kisah.[v]

Pertama, para malaikat mengingatkan Adam As. dan Hawa setelah keduanya ditirinkan ke bumi, yakni di Arafah, agar mereka mengakui dosa-dosanya dan memohon ampun kepada Allah. Dengan kata lain bibit manusia yang pertama (Adam dan Hawa) diturunkan ke muka bumi ini adalah di Arafah.

Kedua, ketika Adam dan Hawa diturunkan dari surge, keduanya berpisah tempat. Adam di India dan Hawa di Jeddah (Jeddah artinya nenek). Setelah seratus tahun kemudian mereka bertemu di padang Arafah (arafah berarti tahu atau kenal), tepatnya di Jabal Rahmah (bukit kasih sayang).

Ketiga, Ibrahim as. diberitahu Jibril cara menunaikan manasik haji di tempat ini. Jibril bertanya, “Arafta’, tahukah kamu?” Ibrahim menjawab, “Araftu, aku mengetahuinya.”

Keempat, pemberian nama Arafah berkaitan dengan penamaan hari-hari sebagai berikut: hari kedelapan dzulhijjah disebut haru Tarwiyah yang berarti merenung atau berpikir, erat kaitannya dengan peristiwa yang dialami oleh nabi Ibrahim as. yaitu pada hari Tarwiyah ini nabi Ibrahim bermimpi mendapat perintah untuk menyembelih anaknya, Ismail (QS. 37: 102-7). Pada malam itu sampai besoknya nabi Ibrahim sangat gelisaj, tyerus menerus merenung dan berpikir, mempertanyakan apakah mmpinya itu berasal dari Allah atau dari setan. Karena ragu beliau tidak segera melaksanakan mimpinya pada siang harinya. Pada malam kesembilan, Ibrahim as. bermimpi para malaikat mengingatkan lagi dengan perintah yang sama. Setelah mimpi yang kedua inilah nai Ibrahim as. baru yakin bahwa mimpinya itu merupakan wahyu dari Allah Swt. Oleh karena itu, hai kesembilan ini dinamakan hari Arafah (mengetahui). Pada malam hari kesepuluh, nabi Ismail as. bermimpi lagi untuk ketiga kalinya dengan mimpi yang sama pula. Maka keesokan harinya (10 Dzulhijah) nabi Ibrahim melaksanakan perintah itu, karena itu disebut hari Nahar yang berarti hari penyembelihan.



[i] Tri May Hadi. Kumpulan Doa, Dzikir, dan Tanya Jawab untuk Ibadah Haji dan Umrah. (Jakarta: Kesaint Blanc, 2009). Hlm. 142

[ii] Maisarah Zas. Haji dan Pencerahan Jati Diri Muslim. (Bandung: Alfabeta, 2005). hlm. 148.

[iii] Tri May Hadi. Op.Cit. hlm. 142

[iv] Ibid. hlm. 143

[v] Maisarah Zas. Op.Cit. 149