Sebelum membaca postingan ini alangkah baiknya membaca postingan sebelumnya KLIK Di Sini Hukum Ibadah Haji Bagi Anak-Anak
Hajinya Anak yang Mencapai Umur Mumayyiz

Jika anak kecil itu, baik perempuan maupun lelaki sudah mencapai umur mumayyiz, maka ia berihram atas izin walinya. Saat ia hendak ihram, ia harus melakukan apa dilakukan orang dewasa ketika hendak berihram; seperti mandi, memakai wangi-wangian di tubuh dan semacamnya. Dalam hal ini, walinya-lah yang mengatur dan mengurusi keperluan ihram anak itu. Dan walinya pula yang harus mengerjakan amalan yang tidak dapat dilakukan anak itu, seperti melempar jumrah atau semacamnya, dengan diniatkan untuk anak tersebut. Hal-hal lain seperti wukuf di Arafah, mabit (menginap) di Mina dan Muzdalifah, harus dilakukan oleh anak itu sendiri. Untuk thawaf dan sa’i, jika ia tidak mampu melakukannya, harus dipanggul untuk melakukan thawaf dan sa’inya tersebut. Yang utama bagi pemanggul, hendaknya tidak meniatkan thawaf dan sa’i untuk dirinya dan anak itu sekaligus, tetapi saat memanggul, ia harus meniatkan thawaf dan sa’i untuk anak itu saja, setelah itu mengerjakan thawaf dan sa’i untuk dirinya sendiri.

Namun, seandainya pemanggul anak itu meniatkan thawaf untuk dirinya dan untuk anak itu yang dipanggulnya sekaligus, inipun sudah sah menurut hukum. Dan ini adalah pendapat yang lebih shahih, karena Nabi Saw. tidak memerintahkan wanita yang bertanya kepada beliau tentang haji anak yang dibawanya itu untuk menthawafkan anak itu dalam waktu tersendiri. Seandainya hal itu adalah wajib, tentu Nabi Saw. menjelaskan kepada wanita penggendong anak itu.[i]

Selanjutnya, anak kecil yang sudah mencapai umur mumayyiz, baik lelaki maupun perempuan hendaknya diperintahkan untuk bersuci dari hadats juga dari najis, sebelum memulai thawaf, seperti halnya yang dilakukan oleh orang dewasa yang berihram. Sebenarnya, meniatkan ihram untuk anak kecil tidaklah wajib bagi walinya, melainkan hanya sunnah. Jika walinya melakukannya, maka ia mendapat pahala. Jika ia tidak melakukannyapun tidak mengapa. Wallahu a’lam.[ii]



[i] Ibid. hlm. 49-50.

[ii] Ibid. hlm. 51.

Komentar

Komentar