Mabit di Mina ialah bermalam di Mina pada hari-hari Tasyrik yaitu malam tanggal 11, 12 dan 13 dzulhijjah. Mina menurut Ali Sariarti berarti cinta.

Amalan yang dilakukan di Mina ini adalah melontar tiga jumrah. Hari pertama (hari nahar) melontar jumrah aqabah saja. Hari kedua dan seterusnya melontar jumrah berturut-turut mulai dari jumrah ula, wustha dan terakhir aqabah masing-masing sebanyak tujuh kali. Setiap melontar jumrah mengangkat tangan kanan sambil membaca takbir.[i] Di minalah dilakukan penyembelihan hewan kurban. Menurut riwayat, peristiwa penyembelihan Ismail as. oleh Nabi Ibrahim as. terjadi di Jabal ul Kabsyi di Mina. Bukit tersebut dinamakan demikian karena di atas gunung itulah domba pengganti Nabi Ismail diturunkan.[ii]

Menurut jumhur ulama hukum mabit di Mina adalah wajib, sebagian yang lain mengatakan sunat. Jika tidak melaksanakan mabit di Mina pada seluruh hari Tasyrik, maka diwajibkan membayar dam (satu ekor kambing). Tetapi apabila tidak mabit di Mina hanya satu atau dua malam, maka harus diganti dengan denda, yaitu satu malam 1 mud (3/4 beras atau makanan pokok), dua malam 2 mud (1 ½ kg beras atau makanan pokok), tiga malam membayar dam seekor kambing.[iii]

 

Hukum Mabit di Mina dan di Wilayah Perluasan Mina 

Hukum Mabit jamaah haji di Mina maupun di wilayah perluasan Mina adalah sebagai berikut.[iv]

  1. Hukum Mabit di Mina pada malam hari Tasyrik menurut sebagian besar madzhab Syafi’I, madzhab Maliki dan sebagian ulama madzhab Hambali serta fatwa MUI tahun 1981 adalah wajib. Bagi jamaah haji yang tidak melaksanakan mabit dikenakan dam. Namun ada sebagian dari madzhab Hanafi, sebagian Hambali, sebagian madzhab Syafii dan sebagian madzhab Dhahiri berpendapat bahwa mabit di Mina pada malam hari Tasrik hukumnya sunat.
  2. Mabit di perluasan kemah di kawasan perluasan Mina hukumnya sah seperti di Mina, sebagaimana pendapat para ulama Mekah saat ini dan para ulama lain, juga menurut ijtihad yang didasarkan pada keadaan darurat karena kondisi di Mina saat ini sudah penuh sesak, dan kemah di perluasan Mina masih bersambung dengan perkemahan di Mina, sesuai dengan Keputusan Hasil Mudzakarah Ulama tentang mabit di luar kawasan Mina, tanggal 10 Januari 2001.
  3. Bagi yang berpendapat bahwa mabit di Mina itu wajib dan perluasan kemah di Mina tidak sah untuk mabit, maka pelaksanaan mabitnya masuk ke wilayah Mina kemudian setelah mabit kembali ke kemahnya di perluasan Mina.

 


[i] Maisarah Zas. Haji dan Pencerahan Jati Diri Muslim. (Bandung: Alfabeta, 2005). hlm. 156.

[ii] Ibid.

[iii] Tri May Hadi.  Kumpulan Doa, Dzikir, dan Tanya Jawab untuk Ibadah Haji dan Umrah. (Jakarta: Kesaint Blanc, 2009). hlm. 149-150.

 

[iv] Ibid. hlm. 150–151.

Komentar

Komentar