“Jika kamu telah selesai dari Arafah, maka berzikirlah kepada Allah di Masy’aril Haram (Muzdalifah).” (Q.S. Al-Baqarah: 198)

Setelah selesai wukuf di Arafah, jamaah harus berangkat menuju Muzdalifah. Amalan yang dilakukan di Muzdalifah adalah shalat maghrib dan isya dengan menjamak serta dzikir. Disini digunakan pula kesempatan untuk mengambil batu guna melempar jumrah di Mina.[i]

Mabit di Muzdalifah mulai setelah maghrib sampai terbit fajar 10 dzulhijjah. Diperbolehkan hanya sesaat saja asalkan sudah lewat tengah malam. Bagi yang sehat wajib mabit di Muzdalifah, tetapi bagi yang sakit dan yang mengurus orang yang sakit ataupun yang mengalami kesulitan, diperbolehkan untuk tidak mabit di Muzdalifah, dan tidak dikenakan dam.[ii]

 

Mengambil Batu di Muzdalifah

Ketika di Muzdalifah, jamaah haji tidak harus turun dari kendaraanya. Maka jika hendak mengambil kerikil untuk melaksanakan jumrah aqabah, jamaah haji cukup mengambil tujuh batu kerikil saja, karena untuk melontar jumrah pada hari-hari Tasyrik boleh diambil di Mina. Boleh juga diambil di Muzdalifah sebanyak yang diperlukan yaitu 49 butir kerikil bagi yang nafar awal atau 70 butir bagi yang akan nafar tsani.[iii]

 

Hikmah Mabit di Muzdalifah

Terdapat hikmah dari dilaksanakannya mabit di Muzdalifah, berikut di antaranya.[iv]

Pertama, sebagai tahap persiapan atau perbekalan. Bekal itu adalah menjalin “komunikasi yang intensif” dengan Allah yang dilambangkan dengan shalat maghrib dan isya di Muzdalifah. Itulah bekal yang akan membantu manusia melawan setan. Secara materiil bekal itu disimbolkan dengan mengambil batu dari Mina. Dengan demikian dapatlah difahami mengapa mabit di Muzdalifah ini diwajibkan, padahal shalat dan dzikir dapat saja dilakukan di Arafah atau di Mina.  Tepatlah jika para ulama sepakat bahwa ketika mabit di Muzdalifah wajib mengerjakan shalat maghrib dan isya dengan menjamak. Rasul bersabda kepada Usamah bin Zaid sahabat Rasulullah Saw. ketika hendak shalat sebelum sampai di Muzdalifah: “Shalat itu tempatnya di depan kamu (Muzdalifah).” Peranan Muzdalifah sebagai symbol perbekalan yang ikut menentukan keberhasilan perang di Mina dapatlah disebut sebagai simbol “Monumen Abadi Perbekalan” untuk melawan musuh.

Kedua, dari segi rukun Islam termasuk dalam tahap kedua, yaitu shalat.  Setelah meyakini dan menyaksikan kebenaran syahadat di Arafah, maka jamaah haji dapatlah memasuki tahap berikutnya yakni shalat, sebagaimana disunnahkannya (sebagian ulama mengatakan diwajibkan) shalat maghrib dan isya di Muzdalifah. Rasul bersabda, “Haji adalah wukuf di Arafah.” Dilihat dari rukun Islam wukuf di Arafah ini merupakan ritual yang termasuk ke dalam rukun yang pertama yaitu syahadat. Maka tidak akan seseorang melakukan shalat (dalam hal ini di Muzdalifah) tanpa sebelumnya ia meyakini syahadat (di Arafah).



[i] Maisarah Zas. Haji dan Pencerahan Jati Diri Muslim. (Bandung: Alfabeta, 2005). hlm. 153.

 

[ii] Tri May Hadi.  Kumpulan Doa, Dzikir, dan Tanya Jawab untuk Ibadah Haji dan Umrah. (Jakarta: Kesaint Blanc, 2009). hlm. 144.

[iii] Ibid.

[iv] Maisarah Zas. Op.Cit. hlm. 154

Komentar

Komentar