Puncak haji adarah Arafah, bahkan haji adarah Arafah, begitu sabda Rasulullah. Siapa yang mendapatkan Arafah, insyaAllah mendapat haji. Tanpa Arrafah, tiada haji, meskipun  jauh jalan yang kita tempuh banyak pengorbanan yang dilalui susah payah dalam ibadah Haji adalah Arafah

Arafah menjadi tujuan utama jutaan manusia pada hari Arafah 9 Dzulhijjah’ Bahkan orang yang sedang sakit di tanah Makkah pun diajak bersafari wukuf dengan suara mobil ambulans meraung-raung Seperti menyambut clesis mulut jamaah haji yang bertalbiyah ‘Arafah, padang gersang yang membentang’ tempat masjid nmirah dan Jabal Rahmah berdiri tegak adalah padang pengukuhan, padang wisuda para jamaah haji padang impian setiap muslim di saat air mata tumpah berderai-derai dengan doa-doa yang terucap disela-sela tangis. Teringat sahabat, kerabat’ anak’ suami atau istri atau orangtua yang telah tiada’

Di Arafah yang terik, di siang hari bolong menuju senja, kita berusaha menggapai kearifan hidup ketika biasanya kita berasyik dan sibuk dengan urusan dunia. Terkadang angin bertiup kencang di Arafah atau bahkan hujan turun rintik-rintik, Apa pun yang Allah berikan disaat wukuf semuanya hanya terasa sebagai kiriman dari Allah. Dengan ridha dan berharap ridhNya, hanya ketuntukan dan kepasrahan diri kepada Allah.

Di Arafah, Allah “mewisuda” kita dan membangga-banggakan kita kepada para malaikat, dengan membuka pintu langit. dengan penuh kebanggaan Allah berfirman, “Lihatlah hamba-hamba-Ku yang datang dengan pakaian yang lusuh dan rambut kusut masai”

Arafah membuat kita merenung sejenak tentang kelahiran dan kematian: dua peristiwa dengan tingkat kepastian yang sempurna, namun tak pernah dapat diketahui sebelumnya.

Kita terhitung melakukan wukuf sejak zuhur hingga magrib Menjelang zuhur, kita berdesak-desakan memasuki Arafah, lantas berwukuf dan merenungi hidup kita. Menjelang magrib, kita telah bersiap-siap untuk meninggalkan Arafah, dengan berdesak-desakan  pula. Suasana berdesak-desakan di saat menuju Arafah, bagaikan saat kelahiran kita ke dunia: tempat dan waktu serta penyebabnya, Allah yang menentukan. bukankah kita tiada dapat memilih orang tua?

Beresak-desakan ketika meninggalkan Arafah, dengan pakaian ihram yang telah kumal dan kusut  masai serta badan yang telah letih dan bergerak menuju arah yang sama: Muzdalifah-Mina-Makkah, ibarat pergerakan ruh-ruh yang meninggalkan jasad, karena telah tiba waktu untuk kembali kepada sang khalik.

Lalu kita menyusuri Muzdalifah, Mina, dan Makkah. Kelak ruh kita akan menjalani alam barzakh, lantas berjejer di padang Mahsyar, kemudian dihiasi dan meniti jembatan shirath mustaqim yang setipis rambut dibelah tujuh tetapi kita akan menuju surga, atau neraka …?

Begitulah Arafah, padang kearifan, padang ketundukan, dan puncak kesadaran akan ke-Mahakuasaan Allah. Alangkah sayang seandainya kita berwukuf, namun tak mendapatkan kearifan tak merasakan kehadiran dan tatapan Allah, padahal Allah membukakan pintu langit dan membanggakan kita kepada para malaikat.

Sayang sekali jika di Arafah tangis kita tak tumpah, hati kita tak sempat memohon ampunan atas segala dosa. Sayang sekali jika doa-doa terbaik tertulus, tak disampaikan untuk ayah-bunda pasangan hidup, anak-anak tercinta, adik yang telah tiada, kakak yang mendoakan di tanah air tetangga yang mendoakan dan menandkan kadatangan kita atau orang-orang yang menderita dan hancur hatinya namun tak mampu kita menjangkaunya. Misalnya anak-anak di jalur gaza, yang tak mampu sekolah atau kedokter karena tak memiliki biaya.

Di Arafah kita belajar juga menjadi orang yang arif selalu merasakan kehadirat dan campur tanggan Allah dalam setiap detik hidup, melihat Allah dalam diri orang-orang mislin dan lalu kita terdorong untuk menolong mereka.

Komentar

Komentar