Niat berhaji menjadi penting bagi calon jamaah haji. Jika niat tidak lurus karena Allah, maka Allah akan memberikan pelajaran dengan cara yang tidak disangka-sangka. Tulisan ini memberikan pelajaran bagi kita untuk senantiasa menjaga niat ketika ingin beribadah kepada Allah SWT. Semoga kita dapat mengambil pelajaran dari setiap kisah yang terjadi kepada saudara kita.

Seorang wanita yang sangat ingin berhaji, mempersiapkan hajinya dengan sangat saksama. Maklum dia sudah tidak punya suami, dia akan pergi haji sendiri, tidak juga dengan anak-anak.

Agar hajinya thuma’ninah dan dapat dilaksanakan tanpa “gangguan tehnis”, maka dia pun mengajak pembantunya untuk berhaji dengan catatan: di Tanah Suci pembantunya itu harus tetap melayani semua keperluannya dengan baik. Menyiapkan makanan, mencuci, menyetrika, tetap menjadi tugas pembantu. Dia ingin khusu beribadah. Tentu saja sang pembantu setuju dan gembira menyambut ajakan haji majikannya tersebut.

Berangkatlah mereka dengan penuh keikhlasan. Tetapi ada sedikit kesalahan yang dilakukan ibu ini: dia menggantungkan keperluannya, urusan-urusannya kepada pembantunya, bukan kepada Allah.

Di Tanah Suci terjadi hal yang tak terbayangkan sebelumnya. Pembantunya yang tak terbiasa melakukan perjalanan jauh, apalagi dengan pesawat terbang, jatuh sakit.

Akhirnya, skenario pun berubah total:Majikan menjadi pelayan bagi pembantu. Bibi terbaring, majikannya mencarikan makanan, mencucikan pakaian, dan melayani segala keperluannya.

Semata-mata hanya untuk Allah, diperintahkan kepada manusia untuk berhaji.

Semata-mata hanya bergantung kepada Allah dan jangan bergantung kepada mahluk, siapa pun dia: pembantu, pembimbing, ustad. Semuanya hanya hamba Allah yang tak memilki kekuatan, kecuali kekuatan yang Allah berikan.

Komentar

Komentar