Ketika melaksanakan sa’i, kita teringat siti Hajar,budak wanita bersahaja yang diperistri Nabi Ibrahim atas saran Siti Sarah, sebagai ikhtiar mendapatkan anak yang sudah lama didambakannya. Siti Hajar adalah perempuan mulia dan menjadi simbol segala ketegaran hidup. Budak perempuan yang hitam itu telah diangkat Allah untuk menjadi simbol penghargaan atas kesungguhan ikhtiar yang dilandasi dengan keyakinan kepada Allah. Jasad Siti Hajar konon dikuburkan di sekitar Hijir Isma’il, bagian dari Ka’bah tempat dirinya menggendong Isma’il. Allah seolah mengabadikan pengorbanan dan kesetiaan Siti Hajar kepada suami, anak, dan terutama. ketaatan pada Tuhan-nya dan membalasnya dengan

menempatkan kuburannya di tempat dimana tangis tertumpah di antara doa dan ketulusan jiwa dalam menyembah Allah. Siti Hajar mengajarkan bahwa ketaatan dan keyakinan akan adanya pertolongan Aliah justru harus diwujudkan dengan kerja keras yang kontinu. Sebagaimana Siti Hajar berlari-lari antara Shafa dan Marwah, dengan mengharap pertolongan Allah, begitulah seharusnya kita menjalani berbagai ikhtiar horizontal kita di dunia: Ikhtiar yang kuat dengan landasan cinta dan kasih, dengan senantiasa mengharap pertolongan Allah dan kelak berakhir di bukit kepuasan, penghargaan, dan kemurahan hati. Siti Hajar berlari antara Shafa dan Marwah mengejar-ngejar bayangan air yang hanya sebuah fatamorgana. Siti Hajar mengetahui hal itu. Dia memang wanita hitam dan budak, tapi dia bukan wanita bodoh. Lebih dari itu, Siti Hajar adalah perempuan Mukmin yang selalu yakin pada pertolongan Allah yang akanhadir pada hidup mereka yang menolong menegakkan agama Allah.

Namun lihatlah, dari mana Allah mengirimkan air? Bukan di Shafa, bukan di Marwah. Bukan di antara

Shafa dan Marwah. Air yang dirindukan itu Allah munculkan dari jemari Isma’il a.s. yang mengorek-ngorek pasir.

Ikhtiar tanpa henti dan tak mengenal putus asa antara Shafa dan Marwah, namun zamzam dihadirkan pada titik yang lain. Bukankah seperti itu kita menjalani hidup? Kita berikhtiar untuk mencari rezeki dengan pergi jauh ke luar kota, bolak-balik seperti sa’i, namun tak juga berhasil. Tiba-tiba di kampung

halaman sendiri, datang orang meminta kita mengerjakan sesuatu yang karenanya dia bersedia membayar untuk keahlian kita. Inilah antara lain hikmah sa’i, tak kenal menyerah dalam berikhtiar untuk menggapai asa, dilandasi keyakinan penuh akan pertolongan Allah, tidak memberontak jika gagal dan tidak menyesal jika rezeki dikirimkan dari sumber yang lain.

Dalam sa’i juga diajarkan agar kita tidak cepat-cepat melakukan tahallul: Jangan cepat bermanja diri Menjaga KekhusYuan Sa’i

 

Betul, kita memang harus menjaga kekhusyrkan dalam melakukan sa’i. Dikisahkan oleh ustad Athian Ali, suatu ketika dia membimbing rombongan jamaah haji.Di antara mereka terclapat sepasang suami-istri. Ljsai melaksanakan tawaf dan menuju mas’d (tempat sa’i), mereka membawa aJt zamzarn sebagai bekal. Pada saat itu, sumur zmnzarn masih terbuka dan kita bisa mengambil air ,,langsung” dari keran air di sekitar sumur zam-zam, sehingga terasa lebih eksklusif’ persoalan mulai muncul ketjka sang suarni mengusutan agar zamzam dalam botol itu disimpan di Bukit Marwah karena nanti bisa diambil. Tetapi isrrinya tidak sempat seraya berkata, “Bahwa saja, nanti hilang lho terdengar itu, suaminya marah clan berkata, ,,Simpan saja! Siapa yang mau mencuri?,,Maka sa’i pun diwarnai ,,doa,,tambahan : simpan, bawa, simpan. bawa… terus hingga , sa,i usai. Tampa disadari bahwa setan telah masuk ke dalam saluran darah dan mengalir deeras dalam tubuh mereka. Usai sa’i, mereka pulang ke maktab dengan menyewa taksi’ ditemani ustad athian yang memahami bahasa Arab dan sudah beberapa kali pergi ke Mkkah. Tetapi aneh, taksi berputar-putar. tak tentu arah, sehingga maktab yang hanya bejarak 2 km dari Harampun tak kurliung ciitemukan. rlna-tiba rarcsi berhenri, dan sopirnya marah, ,,Kalian pasti membawa setan, saya jadi hilang arah begini, turun cepat” bentaknya mengagetkan para penumpang. Bahkan, sopir itu tak berminat untuk meminta bayaran. Taksi. meninggalkan eka yang terheran-heran.

Pak Athian lalu bertanya, ,Ada apa antara Ibu dan bapak”Suami istri ini pun lalu bercerita bahwa mereka tadi bertengkar selama sa’i dan belum saling memaafkan hingga sekarang. “masya allah , itulah rupanya penyebabnya. Ayolah saling memaafkan dan beristigfar, mohon ampun pada Allah,” saran ustad Athian.

Tidak lama kemudian, sebuah taksi datang dan menawari mereka bertiga naik , lalu taksi bergerak ke arah maktab mereka. Hanya sebentar , mereka pun sampai dan sopir taksi enggan dibayar, “ Halal Haji….” Kat-nya sambil tersenyum.

Categories: KEAJAIBAN BERHAJI

Komentar

Komentar