Bangunan Ka’bah begitu sederhana, tanpa gebyar warna-warni, ada Hajar Aswad yang menjadi elemen estetis dan memperkukuh eksistensi Ka’bah. Ka’bah menghadap ke segala arah, berbentuk kubus, seolah hendak menunjukkan bahwa Allah akan dapat ditemui di mana pun dan kemana pun kita menghadap.

Memasuki Masjidil Haram kita tidak melaksanakan shalat tahiyyatul masjid, tapi menggantinya dengan tawaf. Sebuah ritual sederhana: mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali dengan garis awal dan akhir di Hajar Aswad. Ketika jasad kita berputar mengelilingi Ka’bah, ruh kita naik mendekat kepada keagungan, kemuliaan, dan ketinggian Allah. Perumpamaan ini diambil oleh seorang ilmuan yang merujuk pada sifat medan magnet yang akan mengarah ke atas jika sebuah gaya magnet berputar seperti kita tawaf, mengumpamakan bahwa ruh kita tengah melayang naik menuju dan mendekati keagungan Allah. Badan kita merunduk, ruh kita melayang jauh menuju Al-Khaliq.

Tiada bacaan wajib dengan tawaf, yang ada hanyalah anjuran. Yang paling mutawatir adalah doa antara rukun Yamani dan Hajar Aswad, sebuah doa yang amat paripurna, “Rabbana atina fid dunya hasanah wa fil akhirati hasanah wa qina adzabannar (Wahai Tuhan kami! Berikanlah kepada kami di dunia kebaikan dan di akhirat kebaikan, dan jauhkan kami dari api neraka).”

Saudaraku, nikmatilah kesempurnaan doa ini, dibawah langit Makkah yang bening, siang ataupun malam, sore ataupun subuh, dengan khusyuk dan mendekat kepada Allah.

Tawaf yang “bebas doa wajub” namun wajib dalam keadaan suci, juga antara lain, menggambarkan perjuangan hidup manusia. Tawaf seperti gambaran kala kita mengejar target hidup di dunia. Untuk mencapai target hidup kita (karier, jabatan, harta, jodoh, dan yang lainnya), kita dapat mengejarnya dengan cara sikut kiri-kanan, injak bawah-jilat atas. Hasilnya, kita melejit dengan meninggalkan luka dan rasa sakit pada orang lain.

Kita juga dapat menjalani hidup tanpa target: apatis dan tidak kreatif, menerima sesuatu dengan apa adanya, bahkan “swarga nunut nraka katut”, seolah semua adalah takdir dan kita terkurung dalam satu takdir, tanpa peluang keluar, atau memilih takdir yang lain.

Kita pun dapat menjalani hidup dengan penuh semangat, dengan rencana yang baik, persiapan yang paripurna, dijalankan dengan santun, tanpa menyakiti orang lain dan memercayai keyakinan bahwa karunia Allah adalah sangat terbatas. Seluas birunya air laut, bahkan lebih luas dari tujuh lautan. Insya Allah, kesuksesan dapt kita raih tanpa mengobarkan orang lain. Nikmat Allah sebiru air laut, maka tak usah takut apabila kita tak mendapatkan nikmat-Nya. Bukankah The Blue Ocean Strategy belakangan juga mengajarkan hal yang mirip?

Begitulah ketika kita bertawaf. Kita bisa tawafdengan sukses, lantas juga mencium Hajar Aswad, tapi meninggalkan etika: sikut orang, dorong teman, terabas kiri-terbas kanan, bahkan melakukannya berulang-ulang, 3-5 kali sehari, meski aurat tersingkap ke mana-mana, badan berimpit di antara lawan jenis.

Kita bisa jadi hanya tiga kali tawaf selama berhaji: qudum, ifadhah, dan wada, lalu membiarkan saat-saat tawaf berlalu, atau berganti dengan tawaf Hilton, tawaf Pasar seng, dan tawaf-tawaf lainnya.

Kita juga bisa melakukan tawaf dengan baik, tanpa menyakiti orang lain, tetap memelihara etika, dengan penuh ikhlas dan memohon ridha Allah. Tawaf seperti inilah yang insya Allah akan dipenuhi dengan pertolongan demi pertolongan dari Allah. Seorang jamaah Ustad Miftah Faridl berhasil memenuhi target tawaf sebanyak satu set. Artinya, selama tinggal di Makkah sekitar 30 hari, dia mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh ratus kali. Subhanallah!

Komentar

Komentar