UMRAH

Definisi Umrah

Umrah diambil dari kata “I’timar” yang berarti “Ziarah” (berkunjung). Namun yang dimaksud dengan kata “umrah” di sini adalah mengunjungi kabah, thawaf, sa’i antara shafa dan marwah, dan mencukur atau menggunting rambut. Para ulama sepakat menyatakan bahwa umrah adalah sesuatu yang disyariatkan. Abu Hurairah menuturkan, “Rasulullah Saw. bersabda, ‘Umrah yang satu dengan umrah yang lain adalah penghapus dosa yang ada di antara keduanya, dan pahala haji mabrur adalah surga.”[i]

Rukun-rukun Umrah

Para ulama mengatakan bahwa rukum umrah ada tiga, yaitu ihram, thawaf, dan sa’i. Kewajiban-kewajiban umrah ada dua, yaitu melakukan ihram dari miqat dan mencukur atau memendekkan rambut. Sedangkan kegiatan lainnya adalah sunnah.[ii]

Melakukan Umrah Lebih dari Sekali

Abdullah bin Umar melakukan umrah dua kali setiap tahun selama bertahun-tahun di zaman Ibnu Zubair. Ini adalah pendapat yang dipegang mayoritas ulama, namun Malik memakruhkan pelaksanaannya lebih dari sekali dalam setahun.[iii]

Umrah Sebelum Haji dan pada Bulan-bulan Haji

Seseorang diperbolehkan mengerjakan umrah di bulan-bulan haji sekalipun dia tidak mengerjakan ibadah haji, karena Umar r.a telah mengerjakan umrah di bulan Syawal dan langsung pulang ke Madinah tanpa mengerjakan haji. Seseorang juga diizinkan untuk mengerjakan umrah walaupun dia belum pernah melaksanakan haji.[iv]

Jumlah Umrah Nabi

Ibnu Abbas r.a. menuturkan, “Rasulullah Saw melakukan umrah sebanyak empat kali: umrah hudaibiyah, umrah qadha’, umrah dari Ji’irinah, dan umrah yang beliau kerjakan bersama haji.” (HR Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Majah dengan sanad yang para perawinya adalah perawi yang terpercaya).[v]

Hukum Umrah

Mazhab Hanafi dan mazhab Maliki mengatakan bahwa hukum umrah adalah sunah. Sedangkan menurut mazhab Syafi’I dan mazhab Hambali hukumnya adalah wajib. Hal ini didasarkan pada firman Allah Swt:

“Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah.” (QS. Al-Baqarah: 196)

Dalam ayat ini, umrah telah disamakan dengan haji yang hukumnya wajib. Namun, pandapat pertama (bahwa umrah hukumnya sunah) lebih unggul.[vi]

Sebagian ulama yang lain memilah-milah antara penduduk Mekah dan selain penduduk Mekah. Mereka berpendapat bahwa umrah diwajibkan atas penduduk Mekah dan tidak diwajibkan atas selain penduduk Mekah. Adapun bagi yang berpendapat bahwa hukum umrah adalah wajib, akan tetapi kewajibannya tidak sebesar haji, karena kewajiban haji ialah kewajiban yang ditekankan dikarenakan haji merupakan salah satu di antara rukun Islam, berbeda dengan umrah.[vii]

Waktu Umrah

Mayoritas ulama berpendapat, waktu umrah adalah seluruh hari yang ada, sehingga bisa dikerjakan kapan saja. Namun, Abu Hanifah memakruhkan pelaksanaanya pada lima hari; hari Arafah, hari raya Idul Adha, dan tiga hari tasyrik. Dan waktu terbaiknya adalah pada bulan Ramadhan.

Miqat Umrah

Orang yang akan mengerjakan umrah memiliki dua kemungkinan; ada di luar miqat haji yang telah disebutkan, atau ada di dalamnya. Jika ia ada di luarnya, ia tidak boleh melewatinya tanpa ihram. Tapi bila ia ada di dalamnya, miqat umrahnya adalah tanah Halal sekalipun ia tinggal di Tanah Haram.[viii]

 



[i] Sulaiman Al-Faifi. Mukhtashar Fiqih Sunnah Sayyid Sabiq. (Solo: Aqwam, 2010). hlm. 397.

[ii] Dr. Abdullah bin Muhammad bin Ahmad Ath-Thayyar. Fiqih Ibadah: Kumpulan Fatwa Lengkap Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin. (Surakarta: Media Zikir, 2010). hlm. 466.

[iii] Ibid.

[iv] Ibid.

[v] Ibid. hlm 397-398.

[vi] Ibid. hlm. 398

[vii] Dr. Abdullah bin Muhammad bin Ahmad Ath-Thayyar. Op.Cit. hlm. 434.

[viii] Ibid.

ZAM-ZAM, AIR MUKJIZAT

 

Secara lahiriah di tengah tempat yang terletak di lekukan tanah kering gersang yang dikelilingi batu dan pasir, akan sangat sulit untuk mendapatkan sumber air, apalagi secara berlimpah.

Tetapi inilah salah satu tanda kebesaran Allah, karena pada bagian tengah lekukan kota Makkah yang dikelilingi oleh kekeringan, kegersangan serta curah hujan setiap tahun tidak lebih dari 10 cm, justru keluar sumber air yang berlimpah, air jernih, menyejukkan dan memiliki rasa alami yang dapat diterima secara langsung oleh siapapun yang meminumnya, tanpa harus menderita sakit meskipun tidak dimasak.[i]

Sejarah Keluarnya Sumber Air Zamzam

Dikisahkan bahwa pada suatu saat Nabi Ibrahim a.s. diperintahkan oleh Allah untuk meninggalkan istrinya, Hajar, bersama bayinya yang baru lahir, Ismail, di lembah gersang tanpa penghuni yang bernama Bakah (sekarang Makkah) hanya dengan berbekalkan sedikit air dan makanan. Padahal saat itu musim panas dan kering sedang melanda kawasan tersebut.

Tetapi inilah perjuangan keluarga Nabi yang tidak pernah mengenal takut, kelaparan dan kesusahan, walau Hajar dan bayinya berada di lembah yang penuh bahaya. Lama kelamaan semua bekal akhirnya habis, sehingga dengan berat hati Hajar harus meninggalkan putranya Ismail sendirian, untuk mencari makanan dan air.

Hajar berlari ke sana ke mari terutama antara bukit Shafa dan Marwah untuk melihat apakah ada oasis (sumber air) yang dekat dengannya, atau ada kafilah (rombongan) yang melintasi daerah tersebut untuk dimintakan bantuannya. Tetapi semua harapannya tidak terkabul karena memang mereka berada di daerah kering dan gersang yang tidak ditumbuhi oleh pohon dan perdu, tidak dijadikan tempat hidup untuk binatang manapun, serta jarang dilalui kafilah.

Tetapi mukjizat Allah kemudian tiba. Di ujung kaki bayi kecil Ismail, keluar sumber air yang makin lama makin membesar, sehingga jumlah air tak terbatas pada jumlah yang dibutuhkan oleh Hajar untuk sekedar penawar dahaga.

Inilah awal terjadinya sumur zamzam, sumber air berlimpah, sehat dan menyejukkan yang terletak tidak jauh dari bangunan ka’bah sekarang.[ii]

Khasiat Air Zamzam

Di antara khasiat air zamzam ialah sebagaimana disabdakan oleh Nabi Saw.

Air zamzam menurut apa yang diniatkan oleh orang yang meminumnya.” (HR. Imam Ahmad dan Ibnu Majah)

Hadits tersebut dinilai shahih oleh Al-Albani di dalam Irwa’ Al-Ghalil (1123).

Dengan demikian, apabila seseorang meminumnya karena haus, maka dia akan merasa segar, apabila dia meminumnya karena lapar, maka dia akan kenyang. Demikianlah khasiat air zamzam.[iii]

Sunah Meminum Air Zamzam

Setelah selesai thawaf dan mengerjakan shalat sunah dua rakaat, orang yang thawaf disunahkan meminum air zamzam. Telah disebutkan dalam Ash-Shalihain bahwa Rasulullah Saw. minum air zamzam dan beliau telah bersabda, “Air zamzam diberkahi, dia adalah makanan yang menghilangkan rasa lapar dan obat yang menyembuhkan penyakit.” Jibril a.s juga telah mencuci hati Rasulullah Saw. dengan air zamzam pada malam Isra’ dan Mi’raj.[iv]

Adab Minum Air Zamzam

Orang yang minum air zamzam disunahkan meniatkan kesembuhan dan niat-niat lain yang mengandung kebaikan dunia dan akhirat, karena khasiat air zamzam tergantung niat meminumnya.

Orang yang meminum air zamzam disunahkan pula untuk menghentikan minumnya setiap kali ia bernafas tiga kali, menghadap kiblat, minum hingga kenyang, memuji Allah, dan berdoa.[v]

 

 



[i] H. Unus Suriawiria. Jalan Panjang ke Tanah Suci. (Bandung: Penerbit Angkasa, 1995). hlm. 93

[ii] Ibid. hlm. 93-94.

[iii] Dr. Abdullah bin Muhammad bin Ahmad Ath-Thayyar. Fiqih Ibadah: Kumpulan Fatwa Lengkap Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin. (Surakarta: Media Zikir, 2010). hlm. 536.

[iv] Sulaiman Al-Faifi. Mukhtashar Fiqih Sunnah Sayyid Sabiq. (Solo: Aqwam, 2010). hlm. 374.

[v] Ibid.

Madinah, Pusat Perjuanan dan Penyebaran Islam

Madinah merupakan simbol perjuangan Nabi Muhammad Saw dalam “menggali, memperagakan dan mengokohkan nilai tauhid” di muka bumi kembali, setelah hal yang sama dilakukan oleh Nabi Ibrahim as. Perjuangan beliau yang amat berat dalam menegakkan nilai-nilai tauhid diabadikan Allah dengan menjadikan Madinah Al-Munawarah sebagai kota yang diharamkan sesudah Mekah.[i] Banyak hadits yang berbicara mengenai keutamaan Madinah dibandingkan dengan kota lain.

Hadits-hadits yang mengemukakan keutamaan Madinah

Abu Hurairah berkata: Sabda Rasulullah Saw, “Satu kali shalat di masjidku ini, lebih utama dari pada seribu kali shalat di mesjid lain, kecuali Masjidil Haram.” (HR. Bukhari Muslim)[ii]

Diriwayatkan oleh Ibnu Abbas bahwa Rasulullah Saw. bersabda: “Satu kali shalat di Masjid Madinah sama dengan sepuluh ribu kali (di tempat lain) dan shalat di Masjid Al-Aqsa sama dengan seribu kali, sedangkan shalat di Masjidil Haram sama dengan seratus ribu kali shalat di mesjid lain.”[iii]

Sabda beliau lagi dari Abu Hurairah, ibn Umar dan Abu Sa’id, “Barang siapa bersabar menahan kesulitan hidup di dalamnya (yakni Madinah), maka aku akan bersafaat baginya pada hari kiamat.”[iv]

Dari Ibn Umar, Rasul bersabda: “Barang siapa berkesempatan (tinggal dan) mati di Madinah, hendaknya ia berusaha untuk itu. Tidak seorangpun mati di sana, kecuali aku akan bersafaat untuknya pada hari kiamat.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah).[v]

Hadits-hadits di atas merupakan empat diantara beberapa hadits lain yang menggambarkan keutamaan Madinah dibandingkan dengan kota lainnya. Selain itu, Madinah memiliki 95 nama. Lebih banyak dari Kota Mekah yang memiliki 11 nama.

 

Nama Lain Madinah

Nama lain dari Madinah diantaranya Tabah, Taibah, Qubbat, Al-Islam, Al-Mumina, Al-Mubarakah, Al-Mukhtarah, Dar Al-Abrar, Dar As-Sunnah, Dar Al-Akhyar, Dar Al-Fateh, dan sebagainya. Nama yang paling terkenal untuk Madinah adalah sebagai kota Nabi Muhammad, karena dari tempat inilah selain dibangun Masjid Nabawi yang di dalamnya terdapat makam beliau, juga sebagai pusat ilmu, kebesaran dan penyebaran Islam, bukan hanya ke kawasan Arab Saudi dan sekitarnya, tetapi juga ke segenap pelosok dunia.[vi]

Monumen Sejarah di Madinah

Masih di kota Madinah, terdapat percetakan kitab suci Al-Quran terbesar dan termegah di dunia dengan nama “Percetakan Kitab Suci Quran Raja Fahd” yang mencetak Al-Quran secara benar sesuai dengan ajaran Islam yang telah dikemukakan oleh Nabi Muhammad Saw.[vii] Selain itu, di kota mulia ini terdapat berbagai monumen sejarah perjuangan Nabi Muhammad yakni Masjid Nabawi, Raudah (daerah antara rumah atau makan beliau dengan mimbar), Masjid Kuba, Masjid Kiblatain, Masjid Al-Jum’at, Masjid Al-Fath, Masjid Al-Ijabah, Masjid Al-Ghamamah, Jabal Uhud, Khandak, dan Pemakaman Baqi.[viii]

Terdapat pula Universitas Islam Madinah yang merupakan perguruan tinggi internasional yang mengkaji sudi Islam. Universitas ini sangat terkenal dan merupakan Universitas terbesar kedua setelah Universitas Riyadh untuk kawasan Arab Saudi.[ix]

Madinah adalah kota yang penuh dengan latar belakang dan sejarah penyebaran agama Islam, karena di kota inilah tempat hijrah dan perjuangan Nabi Muhammad beserta para sahabat dan umatnya.[x]

 

 



[i] Maisarah Zas. Haji dan Pencerahan Jati Diri Muslim. (Bandung: Alfabeta, 2005). hlm. 174-175.

[ii] Al-Ghazali. Rahasia Haji dan Umrah. (Bandung: Karisma, 1997). hlm.27.

[iii] Ibid.

[iv] Ibid. hlm. 28

[v] Ibid.

[vi] H. Unus Suriawiria. Jalan Panjang ke Tanah Suci. (Bandung: Penerbit Angkasa, 1995). hlm. 65

[vii] Ibid. hlm. 66

[viii] Maisarah Zas. Op.Cit. hlm. 175.

[ix]  H. Unus Suriawiria. Op.Cit. hlm. 66

[x] Ibid. hlm. 67

Kalau Aku Memang Pantas Menjadi Kekasih’Mu

Ya Allah, kalau aku memang pantas menjadi kekasih-Mu berikan kesempatan padaku untuk selalu tunduk dan sujud hanya pada-Mu

Ya Allah kalau aku memang pantas menjadi kekasih-Mu, izinkan aku menyerahkan seluruh diriku hanya kepada-Mu .

Ya Allah, kalau aku memang pantas menjadi kekasih-Mu jauhkan aku dari perbuatan-perbuatan yang tidak Kau ridhai

Ya Allah kalau aku memang pantas menjadi kekasih-Mu, terimalah aku dengan segala kekuranganan-Ku dan sempurnakanlah amal ibadahku dengan cinta dan kasih sayang-mu

Ya Allah, kalau aku memang pantas menjadi kekasih-Mu, biarlah hanya ada nama-Mu di hatiku,di iidahku, di hari-hariku Allah Allah, Allah

Ya Allah, kalau aku memang pantas menjadi kekasih-Mu ikanlah jalan bagiku untuk masuk ke rumah-Mu, agar kuhirup wangi surga-Mu

Ya Allah, kalau.aku memang pantas menjadi kekasih-Mu, lapangkan jalan menuju hajar aswad-Mu, agar kucium dengan sepenuh mesraku

Ya Allah, kalau aku memang pantas menjadi kekasih-Mu, biarlah kutatap ka’bah-mu dengan sepenuh rasa hormat dan takjub kepada-Mu

Ya Allah, kalau aku memang pantas menjadi kekasih-Mu, biarkanlah kurasakan kehadiran Siti Hajar, ketika aku melangkah di lintasan sa,i-Mu

Ya Ailah, kalau aku memang pantas menjadi kekasih-Mu, biarkanlah kurasakan kehadiran Isma’il a.s., ketika kureguk air zamzam-Mu

Ya Allah, kalau aku memang pantas menjadi kekasih-Mu, biarkanrah tangisku tumpah di Arafah-Mu, menggerus dosa-dosaku kepada-Mu

Ya Allah, kalau aku memang pantas menjadi kekasih-Mu, hadirkanlah Rasurulah dalam perjaranan haji-ku, sampaikanlah shalawat dan salamku kepada Rasulullah Saw yang mulia kekasih yang sangat Kau kasihi

 

Labbaika allahumma labbaik

Labbaika la syarikalaka labbaik

Innal hamda wanni’mata laka wal mulka laa syarika laka

Muzdalifah, Mina, dan Makkah

Kita tertunduk di Muzdalifah, kita mencari batu senjata rahasia untuk melawan setan yang telah menantikan kedatangan kita di Mina. Setan di Mina seolah tak pernah mati, walau jutaan batu yang dibalut dengan sentuhan keikhlasan, dilemparkan oleh jutaan jamaah haji di hari adha dan di hari-hari thsyrik.

Kita memang melempar jumrah di Mina, namun kita sejatinya tengah menundukan setan yang bersemayam dalam hati kita sifat-sifat busuk yang terselip di antara kepribadian kita, harus disingkirkan dengan peluru yang berselaput keikhlasan.

Berbahagialah seseorang yang sepulang haji memiliki jiwa yang bersih dari penyakit hati, yang lapang menerima apa pun yang Allah anugrahkan baik duka ataupun suka. Apabila demikian, berati kita telah mengalahkan setan  Mina dan meninggalkannya di sana.

Usai melempar Jumrah Aqabah, kita melaksanakan tawaf ifadhah sebuah tawaf dengan tingkat spirituallitas  yang amat tinggi. Dalam sebuah riwayat disebutkan, sewaktu kita melaksanakan tawaf  ifadhah, malaikat takan memegangi pundak kita dan berbisik.”kamu sudah diampuni, kamu sudah tidak punya dosa, maka janganlah berbuat salah lagi jagalah kesucian diri yang telah kau raih dengan ketundukan dipadang Arafah”

Lantas kita kembali bertafakur di Mina, dua malam atau tiga malam, sambil diselingi prosesi memotong hadyu sembelihan sebagai kewajiban bagi mereka yang melaksanakn haji tamattu’.

Di akhir rangkaian haji, kita pun meninggalkan Makkah Kita bertawaf wada’,berpamitan kepada Ka’bah, kepada Makkah, lalu yang menjadi tempat lahir manusia paling mulia Muhammad Saw Kita seperti melakukan napak tilas atas perjalnan hijrah Rasul, meningggalkan Makkah menuju Madinah , atau pergi kembali menuju Tanah air dengan jutaan bekal yang telah Allah titipkan ke dalam hati.

Usai melaksanakan haji, air mata kembali berderai, ketika meninggalkan Makkufr, atau meninggalkan Madinah usai berziarah ke makam Rasulullah. Terima kasih Ya Allah atas segala nikmat yang tiada terkira penuh sesak dada ini dengan nikmat dan karuniaMu.

Mata senantiasa basah dengan air mata kerinduan yang tertumpah hanya untuk-Mu. Kami malu atas segala khilaf dan dosa, yang senantiasa kami lakukan. Sementara Engkau terus-menerus melimpahkan kepada kami nikmat, karunia, kebahagiaan dan pertolongan yang tiada berujung.

Bagaimana kami kelak, ya Allah , jika menghadap Engkau ?  Akankah Engkau memandang kami dengan mesra dan memanggil dengan sayang?

Atau Engkau berpaling, sebagaimana sering kami berpaling dari-Mu ? Jangan, ya Allah jangan berpaling dari yang lemah ini, sayangi kami, ya Allah, dengan sayang dan cinta-mu yang tiada tertepi

Sayangi kedua orang tua kami serta muliakan mereka disisi-Mu, muliakan setiap tetes keringat dan setiap rasa sakit yang mereka rasakan ketika membesarkan kami

Sayangi pasangan hidup kami, belahan jiwa, pelengkap hati, yang sangat kami sayangi. Sayangi anak-anak keturunan kami ya tuhan ku, jaga dan lindungi mereka dari mara bahaya dan kekejaman makhluk. Berikan perlindungan kepada mereka, di saat kami tak dapat melindunginya di saat kami jauh darinya di saat mereka jauh dari kami. kami titipkan kepada-Mu, ya Allah, anak-anak dan keturunan yang kami berharap bertemu kembali dengan mereka disurga-Mu kelak.

Sayangi seluruh kerabat dan sahabat kami ya Rabb, limpahkan rasa bahagia dan kekalkanlah kebahagiaan ke dalam kalbu orang-orang Mukmin dan kepada hamba-hamba-Mu yang berserah diri kepada Engkau, yang sujud dan ruku’ serta menyembah hanya kepada-mu,

Kasih dan nikmat-Mu tiada bertepi Subhanallah wal hamdulillah wa laa ilaha illallah wallahu akbar.

Selamat berjuang para jamaah haji, tamu Allah yang mulia. Kembalilah dengan penuh cinta dan kasih sayang. Seperti cinta dan kasih sayang Allah telah ajarkan dan limpahkan. Amin.

Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah sebagian dari syiar Allah maka barang siapa yang beribadah haji ke Baitullah atau berumrah, tidak ada dosa baginya mengerjakan sa’i antara ke-duanya. Dan barang siapa yang mengerjakan suatu kebaikan dengan kerelaan hati maka sesungguhnya AIlah Maha Mensyukuri kebaikan Lagi Maha Mengetahui.

(QS Al-Baqarah (2): 158)

Arafah: Puncak Perenungan Menuju Kearifan

Puncak haji adarah Arafah, bahkan haji adarah Arafah, begitu sabda Rasulullah. Siapa yang mendapatkan Arafah, insyaAllah mendapat haji. Tanpa Arrafah, tiada haji, meskipun  jauh jalan yang kita tempuh banyak pengorbanan yang dilalui susah payah dalam ibadah Haji adalah Arafah

Arafah menjadi tujuan utama jutaan manusia pada hari Arafah 9 Dzulhijjah’ Bahkan orang yang sedang sakit di tanah Makkah pun diajak bersafari wukuf dengan suara mobil ambulans meraung-raung Seperti menyambut clesis mulut jamaah haji yang bertalbiyah ‘Arafah, padang gersang yang membentang’ tempat masjid nmirah dan Jabal Rahmah berdiri tegak adalah padang pengukuhan, padang wisuda para jamaah haji padang impian setiap muslim di saat air mata tumpah berderai-derai dengan doa-doa yang terucap disela-sela tangis. Teringat sahabat, kerabat’ anak’ suami atau istri atau orangtua yang telah tiada’

Di Arafah yang terik, di siang hari bolong menuju senja, kita berusaha menggapai kearifan hidup ketika biasanya kita berasyik dan sibuk dengan urusan dunia. Terkadang angin bertiup kencang di Arafah atau bahkan hujan turun rintik-rintik, Apa pun yang Allah berikan disaat wukuf semuanya hanya terasa sebagai kiriman dari Allah. Dengan ridha dan berharap ridhNya, hanya ketuntukan dan kepasrahan diri kepada Allah.

Di Arafah, Allah “mewisuda” kita dan membangga-banggakan kita kepada para malaikat, dengan membuka pintu langit. dengan penuh kebanggaan Allah berfirman, “Lihatlah hamba-hamba-Ku yang datang dengan pakaian yang lusuh dan rambut kusut masai”

Arafah membuat kita merenung sejenak tentang kelahiran dan kematian: dua peristiwa dengan tingkat kepastian yang sempurna, namun tak pernah dapat diketahui sebelumnya.

Kita terhitung melakukan wukuf sejak zuhur hingga magrib Menjelang zuhur, kita berdesak-desakan memasuki Arafah, lantas berwukuf dan merenungi hidup kita. Menjelang magrib, kita telah bersiap-siap untuk meninggalkan Arafah, dengan berdesak-desakan  pula. Suasana berdesak-desakan di saat menuju Arafah, bagaikan saat kelahiran kita ke dunia: tempat dan waktu serta penyebabnya, Allah yang menentukan. bukankah kita tiada dapat memilih orang tua?

Beresak-desakan ketika meninggalkan Arafah, dengan pakaian ihram yang telah kumal dan kusut  masai serta badan yang telah letih dan bergerak menuju arah yang sama: Muzdalifah-Mina-Makkah, ibarat pergerakan ruh-ruh yang meninggalkan jasad, karena telah tiba waktu untuk kembali kepada sang khalik.

Lalu kita menyusuri Muzdalifah, Mina, dan Makkah. Kelak ruh kita akan menjalani alam barzakh, lantas berjejer di padang Mahsyar, kemudian dihiasi dan meniti jembatan shirath mustaqim yang setipis rambut dibelah tujuh tetapi kita akan menuju surga, atau neraka …?

Begitulah Arafah, padang kearifan, padang ketundukan, dan puncak kesadaran akan ke-Mahakuasaan Allah. Alangkah sayang seandainya kita berwukuf, namun tak mendapatkan kearifan tak merasakan kehadiran dan tatapan Allah, padahal Allah membukakan pintu langit dan membanggakan kita kepada para malaikat.

Sayang sekali jika di Arafah tangis kita tak tumpah, hati kita tak sempat memohon ampunan atas segala dosa. Sayang sekali jika doa-doa terbaik tertulus, tak disampaikan untuk ayah-bunda pasangan hidup, anak-anak tercinta, adik yang telah tiada, kakak yang mendoakan di tanah air tetangga yang mendoakan dan menandkan kadatangan kita atau orang-orang yang menderita dan hancur hatinya namun tak mampu kita menjangkaunya. Misalnya anak-anak di jalur gaza, yang tak mampu sekolah atau kedokter karena tak memiliki biaya.

Di Arafah kita belajar juga menjadi orang yang arif selalu merasakan kehadirat dan campur tanggan Allah dalam setiap detik hidup, melihat Allah dalam diri orang-orang mislin dan lalu kita terdorong untuk menolong mereka.

Sa’i Sebagai Keikhlasan Ikhtiar dan Jaminan Allah

Ketika melaksanakan sa’i, kita teringat siti Hajar,budak wanita bersahaja yang diperistri Nabi Ibrahim atas saran Siti Sarah, sebagai ikhtiar mendapatkan anak yang sudah lama didambakannya. Siti Hajar adalah perempuan mulia dan menjadi simbol segala ketegaran hidup. Budak perempuan yang hitam itu telah diangkat Allah untuk menjadi simbol penghargaan atas kesungguhan ikhtiar yang dilandasi dengan keyakinan kepada Allah. Jasad Siti Hajar konon dikuburkan di sekitar Hijir Isma’il, bagian dari Ka’bah tempat dirinya menggendong Isma’il. Allah seolah mengabadikan pengorbanan dan kesetiaan Siti Hajar kepada suami, anak, dan terutama. ketaatan pada Tuhan-nya dan membalasnya dengan

menempatkan kuburannya di tempat dimana tangis tertumpah di antara doa dan ketulusan jiwa dalam menyembah Allah. Siti Hajar mengajarkan bahwa ketaatan dan keyakinan akan adanya pertolongan Aliah justru harus diwujudkan dengan kerja keras yang kontinu. Sebagaimana Siti Hajar berlari-lari antara Shafa dan Marwah, dengan mengharap pertolongan Allah, begitulah seharusnya kita menjalani berbagai ikhtiar horizontal kita di dunia: Ikhtiar yang kuat dengan landasan cinta dan kasih, dengan senantiasa mengharap pertolongan Allah dan kelak berakhir di bukit kepuasan, penghargaan, dan kemurahan hati. Siti Hajar berlari antara Shafa dan Marwah mengejar-ngejar bayangan air yang hanya sebuah fatamorgana. Siti Hajar mengetahui hal itu. Dia memang wanita hitam dan budak, tapi dia bukan wanita bodoh. Lebih dari itu, Siti Hajar adalah perempuan Mukmin yang selalu yakin pada pertolongan Allah yang akanhadir pada hidup mereka yang menolong menegakkan agama Allah.

Namun lihatlah, dari mana Allah mengirimkan air? Bukan di Shafa, bukan di Marwah. Bukan di antara

Shafa dan Marwah. Air yang dirindukan itu Allah munculkan dari jemari Isma’il a.s. yang mengorek-ngorek pasir.

Ikhtiar tanpa henti dan tak mengenal putus asa antara Shafa dan Marwah, namun zamzam dihadirkan pada titik yang lain. Bukankah seperti itu kita menjalani hidup? Kita berikhtiar untuk mencari rezeki dengan pergi jauh ke luar kota, bolak-balik seperti sa’i, namun tak juga berhasil. Tiba-tiba di kampung

halaman sendiri, datang orang meminta kita mengerjakan sesuatu yang karenanya dia bersedia membayar untuk keahlian kita. Inilah antara lain hikmah sa’i, tak kenal menyerah dalam berikhtiar untuk menggapai asa, dilandasi keyakinan penuh akan pertolongan Allah, tidak memberontak jika gagal dan tidak menyesal jika rezeki dikirimkan dari sumber yang lain.

Dalam sa’i juga diajarkan agar kita tidak cepat-cepat melakukan tahallul: Jangan cepat bermanja diri Menjaga KekhusYuan Sa’i

 

Betul, kita memang harus menjaga kekhusyrkan dalam melakukan sa’i. Dikisahkan oleh ustad Athian Ali, suatu ketika dia membimbing rombongan jamaah haji.Di antara mereka terclapat sepasang suami-istri. Ljsai melaksanakan tawaf dan menuju mas’d (tempat sa’i), mereka membawa aJt zamzarn sebagai bekal. Pada saat itu, sumur zmnzarn masih terbuka dan kita bisa mengambil air ,,langsung” dari keran air di sekitar sumur zam-zam, sehingga terasa lebih eksklusif’ persoalan mulai muncul ketjka sang suarni mengusutan agar zamzam dalam botol itu disimpan di Bukit Marwah karena nanti bisa diambil. Tetapi isrrinya tidak sempat seraya berkata, “Bahwa saja, nanti hilang lho terdengar itu, suaminya marah clan berkata, ,,Simpan saja! Siapa yang mau mencuri?,,Maka sa’i pun diwarnai ,,doa,,tambahan : simpan, bawa, simpan. bawa… terus hingga , sa,i usai. Tampa disadari bahwa setan telah masuk ke dalam saluran darah dan mengalir deeras dalam tubuh mereka. Usai sa’i, mereka pulang ke maktab dengan menyewa taksi’ ditemani ustad athian yang memahami bahasa Arab dan sudah beberapa kali pergi ke Mkkah. Tetapi aneh, taksi berputar-putar. tak tentu arah, sehingga maktab yang hanya bejarak 2 km dari Harampun tak kurliung ciitemukan. rlna-tiba rarcsi berhenri, dan sopirnya marah, ,,Kalian pasti membawa setan, saya jadi hilang arah begini, turun cepat” bentaknya mengagetkan para penumpang. Bahkan, sopir itu tak berminat untuk meminta bayaran. Taksi. meninggalkan eka yang terheran-heran.

Pak Athian lalu bertanya, ,Ada apa antara Ibu dan bapak”Suami istri ini pun lalu bercerita bahwa mereka tadi bertengkar selama sa’i dan belum saling memaafkan hingga sekarang. “masya allah , itulah rupanya penyebabnya. Ayolah saling memaafkan dan beristigfar, mohon ampun pada Allah,” saran ustad Athian.

Tidak lama kemudian, sebuah taksi datang dan menawari mereka bertiga naik , lalu taksi bergerak ke arah maktab mereka. Hanya sebentar , mereka pun sampai dan sopir taksi enggan dibayar, “ Halal Haji….” Kat-nya sambil tersenyum.

Hidangan Makanan di Arafah Terasa Nikmat (Part-1)

Musim haji tahun 2001 adalah pengalaman pertama saya berhaji, sangat istimewa, karena penuh dengan warna-warni pengalaman. Saya berangkat denagan KBIH Salman ITB, dan bergabung dengan KBIH Amanah PT. Pos Indonesia. Setibanya di Makkah, rombongan bergabung dengan sekitar 15 jamaah yang menggunakan paspor hijau yang dipimpin oleh Hj. Lilis. Saya tinggal di Maktab di Ja’fariyah, sekitar 1,5 km dari Masjidil Haram. Para jamaah haji dengan paspor hijau tinggal di Ghararah, di sekitar belakang Pasar Seng. Dengan gambaran ini saja, sudah terbayang serunya perjalanan haji ini.

Dari Makkah ke Mina, kami berjalan kaki, lalu menginap di sekitar Jamarat. Pada saat itu, bermalam di Jamarat masih diperbolehkan, dan bukan hanya kami, tapi ribuan jamaah termasuk penduduk Makkah dan para TKI yang sedang “haji”, juga bermalam disekitar Jamarat sebelum ke Arafah.

Perjalanan Makkah-Mina dengan berjalan menyusuri terowongan yang tertutup bagi kendaraan tersebut sangat terkesan. Sepanjang perjalanan, kami bertalbiyah, secara perlahan dan sekuat hati. Deru suara kipas angin disepanjang terowongan, membuat suara kami tenggelam. Kami pun memilih berdzikir dan bertalbihyah: kaki melangkah satu-satu, mulut berucap perlahan, hati merintih mengingat dosa dan kesalahan.

Seorang jamaah sempat bertutur tentang gejolak hatinya ketika saya tanya, doa apa yang dipanjatkannya sepanjang perjalanan ini? Jawabannya sangat mengejutkan, “Saya hanya meminta agar Allah memberikan hidayah kepada suami saya. Suami saya bukan Muslim,”katanya dengan air mata berlinang.

Mendengar jawaban itu , langkah saya semakin terasa ringan: karena hati terbang mengingat Allah, dan ikut merasakan kegalauan hati seorang Muslimah yang  suaminya bukan Muslim. “Ya Allah, dengar dan kabulkanlah doanya,” pinta saya.

Menjelang tiba di Jamarat, kami beristirahat sejenak, untuk menghindari teriknya sengatan matahari. Menjelang asar, kami merapat ke Jamarat yang mulai dipenuhi Jamaah. Kami menggelar tikar istimewa kami: Tikar Plastik dengan kantung udara disatu ujungnya yang berfunsi sebagai bantal. Kami berbagi dengan ribuan Jamaah lainnya. Di sana, saya berjumpa dengan para TKI dan TKW yang diliburkan dan dihajikan oleh majikannya.

Beberapa TKI sudah tiga tahun tidak pulang ke Indonesia. Iseng saja saya tunjukan uang rupiah terbaru seri seribu, sepuluh ribu, dan seratus ribu yang saya bawa. Ternyata mereka sangat suka pada uang rupiah saya dan berani membeli denagn harga beberapa kali lipat dan menukarnya dengan riyal saudi. Saya yang tak sedang berdagang, meminta mereka menukar dengan riyal sejumlah yang setara. Betapa suka cita tergambar di wajah mereka.

“Ya Allah! Betapa luas jalan untuk membahagiakan sesama hamba-Mu,”rintih saya dalam hati melihat kebahagiaan para TKI yang memamerkan “üang baru” yang mereka miliki. Ini menjadi catatan bagi saya; ladang amal amt luas, bahkan untuk amal terbaik setelah iman, yakin memasukan rasa bahagia kedalam hati kaum Mukmin.

Esok hari selepas subuh dan usai sarapan, kami bergerak ke Arafah. Jalanan sudah sesak dengan kendaraan yang mengangkut jamaah haji. Tampak sekelompok jamaah asal Iran menggunakan bus tanpa atap. Semula saya pikir itu karena mereka mau mengirit. “Mengapa sewa bus harus yang rusak dan tidak ada atapnya?”pikir saya dalam hati. Namun ternyata saya keliru. Menurut Haji Anis Rosidi, pembmbing kami, bus tanpa atap itu memang sengaja disewa, agar perjalanan mereka berhaji tidak melanggar aturan. Bukankah ketika berkain ihram, kaum laki-laki tidak diperkenankan menggunakan penutup kepala? Wah, saya benar terkagum-kagum. Betapa ketaatan pada Allah telah menghilangkan rasa takut akan panas dan cuaca. Ketaatan berpanas-panas sepanjang perjalanan Makkah-Mina-Arafah dijalani sebagai bagian ketaatan atas perintah Allah.

Dengan apa kami menuju Arafah? Kami menyetop mobil yang melintas. Polisi Kerajaan Arab membantu kami. Rupanya semua kendaraan yang menuju Arafah diwajibkan membolehkan jamaah haji untuk ikut. Tentu saja boleh disewakan.

Kami pun mendapatkan tumpangan Mobil Opel Blazer yang masih baru. Mobil Jerman dengan kapasitas 4.500 cc itu pun kami isi penuh sesak. Bahkan, saya bersama Pak Anis, Pak Isnu Wardianto (mantan PR III ITB, sekarang Rektor Institut Tekhnologi Indonesia-Tangerang) dan seorang jamaah lain, mendapat bagian di atap.

Saya berfikir, ini benar-benar melebihi kapasitas. Saya berkain ihram, naik ke atap mobil dan kemudian melaju dengan nyaman diatara penuh sesak kendaraan menuju Arafah. Perlu diingat, ketika berihram, kaum adam hanya menggunakan dua lembar kain tanpa jahitan dan tidak menggunakan apa-apa selain itu. Jadi betapa serunya memegangi kain ihram agar tak tersingkap oleh angin gurun di atas atap kendaraan yang melaju.

Bersambung… ke Hidangan Makanan di Arafah Terasa Nikmat (Part-2)

Hidangan Makanan di Arafah Terasa Nikmat (Part-2)

Tulisan ini adalah lanjutan dari Hidangan Makanan di Arafah Terasa Nikmat (Part-1)

Setiba di Arafah, Pak Anis mengeluarkan simpanannya: Dua lembar kain parasut yang sangat lebar, seutas tambang sepanjang sekitar 6 meter, dan bambu yang berfungsi sebagai patok untuk mengukuhkan kain parasut yang pada ujungnya sudah diberi ring. Kami mencari lokasi yang terdapat dua pohon. Kami menemukannya dekat dengan dapur, toilet dan kemah besar milik orang arab. Praktis sekali: Kami mengikatkan tambang diantara dua pohon, lantas kain parasut disampirkan di atasnya, sementara ujungnya dipancangkan dengan patok bambu melalui ring yang ada di ujung dan tepi kain parasut. Dalam hitungan kurang dari satu jam, tenda yang bisa menampung sekitar dua puluh jamaah pun telah siap. Kami segera memasukinya, menggelar tikar, dan bersiap untuk melaksanakan wukuf.

Usai shalat zuhur, Haji Anis berkhutbah, khutbah Arafah yang membuat kami bertafakur merenungi dosa dan maksiat yang pernah dilakukak. Merenungi betapa banyak perintah Allah yang belum dilaksanakan. Air mata menetes, bahkan tertumpah di sela-sela tangis di Arafah. Bahkan, Allah mengirimkan hujan ketika itu yang membuat kami semakin haru: diperciki hujan di Arafah, serasa diguyur sejuta nikmat dari surga.

Usai khutbah, rasa lapar mulai terasa. Jamaah koboi- karena paspor hijau-memang tidak termasuk yang dilayani oleh Muassasah Asia Tenggara sebagai mitra Depag RI untuk melayani jamaah, termasuk makan dan minum selama wukuf di Arafah dan selama melempar Jumrah di Mina. Kami memang sudah menyiapkan makanan kecil dan air secukupnya yang kami simpan dalam tas. Namun, Allah yang Maha Menyantuni tak mau membiarkan kami menjadi haji tanpa kegembiraan, atau tepatnya: Allah Yang Mahakaya tak akan membiarkan kita kelaparan.

Seorang pengemis masuk ke tenda dan meminta sedekah kami. Pengemis itu seorang wanita, tinggi sekitar 170 cm, usia sekitar 60-an, berpakaian lusuh tapi bersih, wajahnya memancarkan sesuatu yang sulit diungkapkan. Kami semua tak terkecuali, saling berlomba memberikan sedekah. Saya pun mengambil uang dari ikat pinggang haji saya, dan segera saya berikan kepada perempuan itu. Usai menerima sedekah, pengemis itu melontarkan ucapan terima kasih dan kemudian berlalu ……

Tidak lama kemudian, masuk seorang laki-laki bangsa Arab ke tenda kami, dia menatap kami satu per satu. Kami belum tahu apa maksudnya sehingga kami pun hanya tersenyum kepadanya. Ini juga sebagai pengganti bahasa karena hanya Pak Anis yang fasih berbahasa arab di antara kami. Lantas dia keluar dan tidak lama kemudian dia masuk lagi. Kali ini, laki-laki itu masuk dengan tangan penuh oleh-oleh: air mineral sera aneka jus. Dia keluar lagi sebelum kami sempat berterima kasih.

Tak lama kemudian, dia masuk lagi dan kali ini membawa hidangan yang sangat istimewa: Sajian kurma yang sangat lezat yang disajikan di atas nampan yang bersih. Kami serasa mendapat kiriman langsung dari Allah. Beberapa di antara kami mulai memakan kurma sambil meneteskan air mata haru. Bagaimana tidak? Kami bermimpi untuk dijamu sedemikian hebat, sebab kami hanya sekelompok jamaah biasa yang bertenda di antara dua pohon, berteduh dari terik matahari dengan berbekal kain parasut yang disampirkan diatas seutas tambang. Jika kemudian Allah memberikan jamuan seperti ini, rasa syukur rasanya tak pernah cukup untuk membalas segala kebaikan Allah kepada kami.

Di tengah suasana haru, saya dan beberapa jamaah masih sempat bercanda. Saya pun menyahut, “Wah, kalau ada nasi ayam, pasti lebih lezat.” Jamaah lain hanya tersenyum mendengar canda saya dan Haji Maman. Dengan ucapan itu, saya benar-benar bercanda, dan insya Allah bukan karena merasa tidak puas atas jamuan Allah yang sudah ada. Tapi hanya bergurau sambil membayangkan nasi ayam yang lezat.

Tak lama kemudain, laki-laki Arab yang sedari tadi menjadi “kurir Allah”untuk mengirimkan makanan kepada kami, masuk lagi kedalam tenda. Kali ini dia tidak membawa apa-apa. Namun, dia sepertinya menghitung ulang jumlah kami. Kami semua terdiam melihat wajahnya yang serius. Lalu dia keluar dan tak lama kemudian masuk lagi.

Subhanallah, lihatlah apa yang dia bawa: 4 bungkus besar nasi ayam, atau tepatnya ayam nasi. Setiap bungkus berisi 8 ekor ayam dan nasi yang dimasak dengan kuning khas Arab. Dia melakukannya di tenda kami dan berkata: Haji, halal, haji. Barakallah!

Saya tak mampu membendung air mata lagi: kami hanya bercanda meminta nasi ayam, tetapi Allah justru mengirimkan ayam nasi yang sangat berlimpah. Tiga puluh dua potong ayam untuk kami yang hanya sekitar 20 orang. Di tengah padang Arafah, di antara isak tangis, kami menyantap ayam kiriman Allah melalui saudara kami dari bangsa Arab yang dermawan.

Isak tangis saya tak henti-henti bahkan ketika mulai makan, Pak Isnu bertanya, “kenapa menangis terus, Mas Budi?”.

Saya pun menjawab “Pak, saya sangat terharu dengan kiriman ayam nasi ini. Lalu saya teringat anak sulung saya, Ahmad. Dia sangat suka ayam. Bahkan, setiap makan harus dengan ayam goreng. Setiap makan, dia bisa menghabiskan dua sampai tiga potong ayam. Di Arafah ini Allah mengirimkan ayam kepada saya. Ini membuat saya ingat pada anak dan istri di Tanah Air. Semoga suatu ketika, saya bisa berhaji dengan mereka. Bertafakur di Padang Arafah, bermunajat dan memohon kepada Allah. Insya Allah.”.

Di Arafah, tangis kam tertumpah, bersama doa dan harapan semoga Allah memperkenankan segala doa kami dan kelak suatu ketika dapat kembali berhaji bersama istri dan anak-anak. Amin

Inilah Kisah “Masbudpray” Sapaan akrab Ust. Budi Prayitno ketika berhaji untuk yang perama kalinay. Semoga dapat memberikan sepirit keimanan kita, dan lebih menguatkan niat kita untuk berhaji ke tanah suci. Aamiin Yaa Robbal A’alamiin.

Tawaf dan Menatap Ka’bah yang Indah

Bangunan Ka’bah begitu sederhana, tanpa gebyar warna-warni, ada Hajar Aswad yang menjadi elemen estetis dan memperkukuh eksistensi Ka’bah. Ka’bah menghadap ke segala arah, berbentuk kubus, seolah hendak menunjukkan bahwa Allah akan dapat ditemui di mana pun dan kemana pun kita menghadap.

Memasuki Masjidil Haram kita tidak melaksanakan shalat tahiyyatul masjid, tapi menggantinya dengan tawaf. Sebuah ritual sederhana: mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali dengan garis awal dan akhir di Hajar Aswad. Ketika jasad kita berputar mengelilingi Ka’bah, ruh kita naik mendekat kepada keagungan, kemuliaan, dan ketinggian Allah. Perumpamaan ini diambil oleh seorang ilmuan yang merujuk pada sifat medan magnet yang akan mengarah ke atas jika sebuah gaya magnet berputar seperti kita tawaf, mengumpamakan bahwa ruh kita tengah melayang naik menuju dan mendekati keagungan Allah. Badan kita merunduk, ruh kita melayang jauh menuju Al-Khaliq.

Tiada bacaan wajib dengan tawaf, yang ada hanyalah anjuran. Yang paling mutawatir adalah doa antara rukun Yamani dan Hajar Aswad, sebuah doa yang amat paripurna, “Rabbana atina fid dunya hasanah wa fil akhirati hasanah wa qina adzabannar (Wahai Tuhan kami! Berikanlah kepada kami di dunia kebaikan dan di akhirat kebaikan, dan jauhkan kami dari api neraka).”

Saudaraku, nikmatilah kesempurnaan doa ini, dibawah langit Makkah yang bening, siang ataupun malam, sore ataupun subuh, dengan khusyuk dan mendekat kepada Allah.

Tawaf yang “bebas doa wajub” namun wajib dalam keadaan suci, juga antara lain, menggambarkan perjuangan hidup manusia. Tawaf seperti gambaran kala kita mengejar target hidup di dunia. Untuk mencapai target hidup kita (karier, jabatan, harta, jodoh, dan yang lainnya), kita dapat mengejarnya dengan cara sikut kiri-kanan, injak bawah-jilat atas. Hasilnya, kita melejit dengan meninggalkan luka dan rasa sakit pada orang lain.

Kita juga dapat menjalani hidup tanpa target: apatis dan tidak kreatif, menerima sesuatu dengan apa adanya, bahkan “swarga nunut nraka katut”, seolah semua adalah takdir dan kita terkurung dalam satu takdir, tanpa peluang keluar, atau memilih takdir yang lain.

Kita pun dapat menjalani hidup dengan penuh semangat, dengan rencana yang baik, persiapan yang paripurna, dijalankan dengan santun, tanpa menyakiti orang lain dan memercayai keyakinan bahwa karunia Allah adalah sangat terbatas. Seluas birunya air laut, bahkan lebih luas dari tujuh lautan. Insya Allah, kesuksesan dapt kita raih tanpa mengobarkan orang lain. Nikmat Allah sebiru air laut, maka tak usah takut apabila kita tak mendapatkan nikmat-Nya. Bukankah The Blue Ocean Strategy belakangan juga mengajarkan hal yang mirip?

Begitulah ketika kita bertawaf. Kita bisa tawafdengan sukses, lantas juga mencium Hajar Aswad, tapi meninggalkan etika: sikut orang, dorong teman, terabas kiri-terbas kanan, bahkan melakukannya berulang-ulang, 3-5 kali sehari, meski aurat tersingkap ke mana-mana, badan berimpit di antara lawan jenis.

Kita bisa jadi hanya tiga kali tawaf selama berhaji: qudum, ifadhah, dan wada, lalu membiarkan saat-saat tawaf berlalu, atau berganti dengan tawaf Hilton, tawaf Pasar seng, dan tawaf-tawaf lainnya.

Kita juga bisa melakukan tawaf dengan baik, tanpa menyakiti orang lain, tetap memelihara etika, dengan penuh ikhlas dan memohon ridha Allah. Tawaf seperti inilah yang insya Allah akan dipenuhi dengan pertolongan demi pertolongan dari Allah. Seorang jamaah Ustad Miftah Faridl berhasil memenuhi target tawaf sebanyak satu set. Artinya, selama tinggal di Makkah sekitar 30 hari, dia mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh ratus kali. Subhanallah!