Kloter Pertama Jemaah Haji Akan Dipulangkan Tanggal 17 September Mendatang

Berhaji.com – Seluruh rentetan ibadah haji telah selesai dengan berakhirnya fase Arafah, Muzdalifah, dan Mina. Kolter gelombang pertama jemaah haji pun tengah disiapkan untuk kepulangannya pada Sabtu (17/9) mendatang.

Jamaah gelombang pertama akan dipulangkan melalui Bandara Internasional King Abdul Aziz (KAAIA) Jeddah,” ujar Kepala Bidang Transportasi, Subhan Cholid .

 

Sebanyak 10 kloter dijadwalkan untuk ikut pemulangan gelombang pertama. Daftar kloter dan juga jadwal pemulangan secara detail sudah disampaikan pada pihak muassasah, naqabah, dan syarikah agar disiapkan sarana transportasi yang akan membawa jemaah dari Makkah menuju Jeddah.

Jemaah haji diharapkan tidak membawa barang-barang terlarang termasuk air zam-zam dalam tas koper karena pemeriksaan akan dilakukan secara ketat. Hal ini dilakukan karena karena pada tahun ini check in barang akan langsung dilakukan di bandara, tidak lagi di Madinatul Hujjaj.

“Karena tahun ini ada perubahan di mana tidak ada lagi city check in, maka semua barang akan dikirim langsung ke bandara. Kalau di bandara, artinya barang tersebut akan dicek oleh pihak keamaanan arab Saudi,” tegas Kepala Daker Makkah, Arsyad Hidayat .

Berdasarkan data yang dirilis dalam aplikasi Haji Pintar, ke-10 kloter yang akan dipulangkan pada tahap awal adalah JKS 001, JKG 001 dan JKG 002, BTH 001, MES 001, PDG 001, BDJ 001, SUB 001 dan SUB 002, serta UPG 001.

Jamaah Haji Ilegal Diancam Hukuman Penjara dan Denda

Berhaji.com

Direktur Departemen Ekspatriat di Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Arab Saudi Mayjen Muhammad al Anzi mengatakan jamaah haji tanpa ijin haji yang tertangkap di Makkah atau tempat suci lainnya akan diadili dan dihukum dalam waktu 24 jam.

“Putusan penjara dan denda terhadap jamaah ilegal akan dikeluarkan dalam waktu 24 jam,” ujar dia. Putusan penjara dan denda untuk jamaah haji ilegal akan menjadi putusan final.

Komite Admnistrasi khusus di pos pemeriksaan sepanjang Makkah dan tempat suci akan mencantumkan vonis tersebut. Sebelum vonis keluar jamaah haji ilegal akan ditahan di pos pemeriksaan al Shumaisi di sepanjang jalan Jeddah-Makkah selama 48 jam.

Anzi mengatakan banyak rute sebelum Makkah dan pos pemeriksaan bagi mereka yang tanpa ijin haji kembali. Tetapi jika mereka mencoba memaksa menyebrangi pos pemeriksaan tanpa ijin maka akan ditangkap dan diadili.

Direktur Departemen Lalu Lintas Makkah Kolonel Basim al Badri mengatakan tidak ada kendaraan yang diizinkan untuk masuk jalan utama menuju tempat suci. Mereka kan dijaga oleh 27 ribu personel keamanan.

Panglima pasukan keamanan haji Jenderal Khaled al Harbi mengatakan pihaknya telah memiliki pengalaman panjang untuk mengendalikan lebih dari dua juta jamah haji yang berada di Mina, Arafah dan Makkah selama lima hari.

Sebelumnya pesawat keamanan Saudi mengamankan empat ekspatriat Arab yang sedang berasa di gunung Al Hada, Taif beruha untuk memasuki tempat suci tanpa ijin haji. Mereka dibawa turun dan diserahkan kepada Organisasi Bulan Sabit Merah untuk perawatan sebelum diserahkan kepada imigrasi.

Juru bicara Kementrian Haji dan Umrah Hatim Qadhi mengatakan sekitar 7 ribu jamaah umrah over stay saat ini tinggal setelah umrah karena sakit dan dan harus dirawat di rumah sakit. “Sekitar enma juta jamaah umrah telah kembali ke rumah masing-masing,” jelas dia.

Direktur polisi Makkah Mayjen Saed al Qarni mengatakan sebanyak 188.747 orang berusaha masuk Makkah tanpa ijin tetapi kemudian kembali. Sebanyak 84.965 kendaraan dihentikan di pintu masuk Makkah karena secara ilegal mencoba memasuki Makkah, seperti dikutip dari republika.co.id. Sebanyak 48 mini bus telah ditahan karena membawa jamaah haji ilegal. n Ratna Ajeng Tejomukti

 

 

 

Pemerintah Saudi Awasi Peredaran Makanan Selama Musim Haji

Berhaji.com

Lebih dari 140.000 item makanan kadaluarsa disita dari gudang sebelum didistribusikan ke toko-toko di Makkah. Angka itu, termasuk 3.000 susu formula bayi yang didapat selama musim haji 2016.

Kementerian Perdagangan dan Investasi Arab Saudi, telah meluncurkan kampanye guna memastikan ketersediaan makanan selama musim haji. Inspeksi terhadap kualitas makanan merupakan bagian dari kampanye tersebut.

Seorang pejabat di Kementerian Perdagangan dan Investasi, mengatakan ratusan ribu item yang disita itu merupakan makanan yang disimpan dalam kondisi yang melanggar peraturan kesehatan di Makkah. Ia menerangkan, praktek penyimpanan obat-obatan kadaluarsa dan item yang rusak secara medis akan menjadi bagian pemeriksaan.

“Semua item yang disita dalam persiapan untuk dihancurkan, semua pekerja bersama pemilik, berada di bawah penyelidikan, mereka menunggu sanksi hukum,” kata pejabat yang tidak disutkan namanya seperti dilansir Arab News, Rabu (7/9).

Selain itu, razia akan dilakukan di tempat-tempat suci, terutama toko-toko yang sebagian besar sering dikunjungi jamaah haji, seperti dikutip dari republika.co.id. Pemeriksaan rencananya turut mencakup pemeriksaan intensif perhiasan dan logam mulia, pompa bensin, toko-toko ponsel, lemari es dan truk makanan.

 

 

Hal yang Perlu Anda Ketahui tentang Badal Haji

Berhaji.com

Ibadah haji adalah dambaan setiap hamba. Namun, berbagai kondisi bisa menghalangi seseorang untuk menunaikan ibadah haji langsung ke Makkah. Seseorang yang memiliki uzur untuk berangkat haji kadang menunjuk seseorang untuk berangkat haji menggantikan dirinya. Hal ini kerap disebut dengan badal haji. Niat dan ibadah hajinya diperuntukkan bagi seseorang yang batal berangkat dan mengamanahkannya kepada orang lain. Soal ibadah haji, adakah syarat-syarat khususnya?

Badal haji menjadi perbincangan di kalangan fukaha. Ada yang berpendapat tidak bisa dibadalkan karena seseorang akan dihisab, karena amal perbuatannya sendiri. Ada juga yang membolehkan sebab ada nash khusus dalam hadits yang mengizinkan seseorang menghajikan orang lain.

Bagi yang berpendapat bahwa badal haji tidak sah, berpegang kepada beberapa ayat Al-Quran. Di antaranya surah Al-Baqarah ayat 286. “…ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya, dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya..”

Dalam ayat lain, Allah SWT berfirman, “(Yaitu) Bahwasanya seseorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Dan bahwasanya seseorang manusia tidak memperoleh seseuatu selain dari apa yang telah diusahakannya.” (QS. An-Najm [53]: ayat 38-39).

Sementara bagi yang membolehkan mengambil dalil dari beberapa hadits sahih soal badal haji. Di antaranya, dari Ibnu Abbas ra bahwa seorang wanita dari Juhainah datang kepada Nabi SAW dan berkata, “Ibu saya telah bernazar untuk pergi haji, tapi belum sempat pergi hingga wafat, apakah saya harus berhaji untuknya? Rasulullah SAW menjawab, “Ya pergi hajilah untuknya. Tidakkah kamu tahu bila ibumu punya utang, apakah kamu tahu bila ibumu punya utang, apakah kamu akan membayarkannya? Bayarkanlah utang kepada Allah karena hutang kepada-Nya lebih berhak untuk dibayarkan.” (HR. Bukhari).

Dalam hadits lain, seorang wanita dari Khas`am berkata kepada Rasulullah SAW, “Ya Rasulullah sesungguhnya ayahku telah tua renta, baginya ada kewajiban Allah dalam berhaji, dan dia tidak bisa duduk tegak di atas punggung onta,” Lalu Nabi SAW bersabda, “Hajikanlah dia.” (HR Muslim).

Lalu, apakah yang membadalkan haji harus berangkat dari negara orang yang digantikan ataukah bebas dari mana saja? Jumhur Ulama (mayoritas ulama) membolehkan orang yang menggantikan haji bebas berangkat dari negara mana saja. Tidak harus dari asal orang yang digantikan.

Namun, ada ulama dari kalangan Hanabilah yang mempersyaratkan bahwa haji yang digantikan oleh orang lain itu harus dilakukan dengan berangkat dari negeri orang tersebut. Karena menurut mereka, kewajiban haji bagi orang tersebut adalah dari negerinya, maka bila karena suatu alasan harus digantikan oleh orang lain, harus juga berangkat dari negeri tempat dia tinggal.

Soal ibadah haji, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. pertama, yang menghajikan harus sudah haji. Kedua, niat untuk orang yang dibadali. Ketiga, diniatkan untuk membayat utang bukan menggantikan amal. Keempat, seseorang hanya dapat membadali untuk satu orang, karena ihram itu untuk sekali haji dan menyebut nama satu orang. Kelima, pelaksanaan badal oleh naib (anak atau saudara) harus sukarela bukan terpaksa. Keenam, biaya badal haji dari kekayaan orang yang membadali, kecuali anak atau saudara sukarela membiayai.

Yang perlu diperhatikan bersama adalah komersialisasi badal haji. Ada orang-rang yang menawarkan jasa badal haji, tapi ternyata dia menerima tawaran badal haji dari beberapa orang. Sehingga badal hajinya tidak sah.

Jamaah Haji Diimbau Waspadai Joki Tawaf dan Sai`

Berhaji.com

Sebanyak 10 jamaah risiko tinggi (risti) sempat terlantar di Masjidil Haram, Makkah akibat memakai jasa joki tawaf dan sa`i dari mukimin. Beruntung, petugas Sektor Khusus (Seksus) Daerah Kerja (Daker) Makkah langsung bergerak cepat dalam menolong mereka yang sebagian dalam kondisi sakit.

Wakil Kepala Sektor Khusus Daker Makkah Harun al-Rosyid mengatakan, ada dua kasus yang peristiwanya terjadi dalam waktu berdekatan. “Kejadian pada dua hari lalu ini berlangsung pada pukul 02.00 dini hari dan 03.00 dini hari,” kata Harun ketika ditemui di Masjidil Haram, Makkah, Rabu (24/8).

Peristiwa yang pertama bermula ketika ada dua jamaah risti yang sedang dalam kondisi sakit menggunakan jasa mukimin untuk melakukan tawaf dan sa`i. Namun, keberadaan mukimin tersebut di luar koordinasi petugas Masjidil Haram alias tidak resmi.

Mukimin tersebut tiba-tiba ditangkap polisi Arab Saudi yang bertugas di Masjidil Haram wilayah sa`i dan tawaf. Dua jamaah risti tersebut akhirnya ditinggalkan begitu saja.

Akhirnya, laporan masuk ke Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH). Petugas sektor khusus (seksus) langsung bergerak cepat menangani kedua jamaah tersebut. Petugas membantu kedua jamaah menyelesaikan sa`i dan melakukan tahalul sebelum mereka diarahkan ke sektornya.

Ketika petugas kembali ke wilayah sa`i, kata Harun, peristiwa kedua yang lebih besar terjadi. “Kini, ada delapan jamaah yang tercecer akibat joki mereka ditangkap polisi Arab Saudi,” katanya.

Petugas seksus akhirnya membantu delapan jamaah menuntaskan prosesi sa`i. namun, karena jumlah sumber daya manusianya terbatas, petugas menyewa jasa petugas kursi roda resmi Masjidil Haram untuk membantu jamaah menyelesaikan sa`i dan tahalul.

Setelah proses sa`i dan tahalul selesai dilaksanakan, jamaah diantar dengan menggunakan kendaraan operasional seksus pada pukul 09.30 waktu setempat, seperti dikutip dari harian republika. “Kita antar ke sektornya masing-masing. Alhamdulillah, berkat kesigapan anggota seksus, 10 jamaah tersebut sudah bisa kami tangani dengan selamat dan aman,” katanya.

Petugas seksus menemukan mukimin yang bekerja sebagai joki Hajar Aswad. Namun, keberadaannya dinilai masih belum mengganggu atau merugikan jamaah.

“Joki Hajar Aswad kami ketahui tidak merugikan jamaah. Ketika kami dalamai, selama ini belum ada jamaah yang jadi korbannya,” kata Harun.

Jamaah dan mukimin sama-sama ikhlas. Jamaah merasa nyaman memanfaatkan jasa mereka. Sementara, joki Hajar Aswad merasa diuntungkan dengan uang yang mereka dapat.

Harun mengatakan, petugas seksus tetap terus memantau kemungkinan adanya joki nakal. Petugas terus memantau jamaah apakah ada yang menggunakan jasa joki Hajar Aswad, lalu diperas ratusan riyal. “Selama ini kasus seperti itu belum terjadi,” katanya.

Harun mengimbau mukimin jangan mengambil risiko dengan menjadi joki sa`i atau tawaf bagi jamaah yang tidak mampu melakukannya. Karena, jika ketahuan pihak keamanan Masjidil Haram, mereka bisa ditangkap dan jamaah menjadi terlantar.

Harun mengatakan, potensi mukimin ketahuan jadi joki itu sangat besar. Karena, pengawasan di wilayah Masjidil Haram sekarang sudah samakin ketat. Harun pun mengatakan, pihak keamanan itu sudah mampu membaca gelagat joki mukimin meski mereka mungkin berpakaian ihram, memakai gelang jamaah dan tas jamaah.

Ketua Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi 1437 H/ 2016 M Ahmad Dumiyati Basori mengimbau jamaah haji untuk mewaspadai keberadaan joki. Jika jamaah menemukan kesulitan, dapat menghubungi petugas PPIH. “Kita akan carikan solusi terbaik. Kami ingin menjaga keselamatan jamaah agar dapat kembali bertemu dengan keluarga,” katanya.

Pihaknya berharap jamaah dapat melaksanakan haji dengan baik.mereka juga diimbau untuk mengikuti petunjuk dan peraturan yang sudah ditetapkan PPIH.

Haid Datang saat Berhaji, Bagamanakah Hukumnya?

Berhaji.com

Pergi ke Tanah Suci menunaikan haji adalah impian setiap Muslim. Seseorang yang sudah mendapat panggilan guna menunaikan rukun Islam kelima ini, tentu berharap menjadi haji yang mabrur. Salah satu syarat agar ibadah hajinya diterima adalah menunaikan semua rangkaian ibadah haji.

Khusus bagi Muslimah yang menunaikan haji, tentu ada peluang datang haid bulanan saat sedang berihram. Padahal, saat haid, seorang Muslimah tidak boleh menunaikan tawaf sebagai bagian dari rukun haji.

Saat Aisyah ra sedang haid, Rasulullah SAW bersabda, “Lakukanlah segala sesuatu yang dilakukan orang yang berhaji, selain dair melakukan tawaf di Ka`bah hingga engkau suci.” (HR Muttafaq a`laih).

Lalu, bagaimana jika saat berhaji datang haid pada Muslimah? Di antara syarat sah tawaf adalah suci dari hadas kecil dan besar. Dengan demikian, orang yang bertawaf pada dasarnya, harus bersih dari haid dan nifas. Kesucian semacam ini merupakan syarat sah tawaf menurut sebagaian besar ulama. Orang yang bertawaf dalam kondisi tidak suci, tawafnya menjadi batal.

Berdasarkan pandangan ini, dalam Madzhab Syafii disebutkan, “Wanita haid yang belum melakukan tawaf ifadah harus bertahan di Makkah hingga suci. Kalau ada bahaya yang mengancam atau hendak pulang bersama rombongan sebelum tawaf ifadah, ia harus tetap dalam keadaan ihram hingga kembali ke Makkah untuk bertawaf walau beberapa tahun kemudian.” (Kitab Al-Majmu` juz 8, hal. 200).

Sementara menurut kalangan Hanafi, suci dalamtawaf hukumnya wajib. Karena itu, orang yang bertawaf dalam kondisi tidak suci seperti wanita yang sedang haid dan nifas, tawafnya sah, tetapi harus membayar dam (denda). Mereka berdalil dengan firman Allah SWT, “Hendaknya mereka melakukan tawaf di sekitar Ka`bah Baitullah itu.” (QS Al-Hajj [22] ayat 29). Menurut mereka ayat tersebut memerintahkan tawaf secara mutlak, tanpa dikaitkan dengan syarat kesucian.

Jika darah haidnya tidak keluar terus-menerus dan sempat berhenti untuk beberapa hari, pada masa itulah ia bertawaf. Ini sesuai dengan pandangan kalangan Syafiiah yang menyatakan, kondisi bersih pada hari-hari terputusnya haid dianggap suci.

Terakhir, Ibnu Taymiyyah dan Ibnul Qayyim berpendapat, tawaf ifadah wanita haid adalah sah jika memang kondisinya terpaksa, seperti ia harus pergi bersama rombongan untuk meninggalkan Makkah. Syaratnya, ia harus membalut tempat keluarnya darah.

Lalu, apakah boleh seorang Muslimah meminum pil antihaid agar selama ibadah haji tidak terganggu?

Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam keputusan Komisi Fatwa 12 Januari 1979 membahas singkat tentang penggunaan pil haid. Komisi Fatwa MUI yang saat itu dketuai KH Syukri Ghozali memutuskan tiga hal terkait mengonsumsi pil haid.

Pertama, jika niatnya untuk menunaikan ibadah haji, hukumnya mubah atau boleh.

Kedua, jika penggunaan pil haid dengan maksud untuk menunaikan puasa Ramadhan, hukumnya makruh. Akan tetapi bagi Muslimah yang sukar mengqadha puasa pada hari lain maka hukumnya mubah.

Ketiga, jika niat penggunaan selain untuk dia ibadah di atas, hukumnya bergantung pada niatnya. MUI menegaskan, jika penggunaan pil haid untuk perbuatan yang menjurus pada pelanggaran hukum agama, maka hukumnya haram.

Lakukan Hal Ini Jika Anda Tersesat di Masjidil Haram

Berhaji.com

Berada di tempat yang megah, luas, dan asing seperti Masjidil Haram, boleh jadi menyulitkan untuk sebagian orang. Tidak aneh bila akhirnya banyak jamaah yang tersesat saat berada di areal Masjidil Haram, Makkah.

Ketika akhirnya kita benar-benar tersesat di Masjidil Haram, langkah pertama yang harus dilakukan adalah tidak perlu panik dan bingung.

Setelah itu langkah yang paling mudah selanjutnya adalah mencari petugas Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Sektor Khusus Masjidil Haram yang akan bertugas selama 24 jam penuh melakukan patroli di sekitar Masjidil Haram untuk membantu para jamaah.

Para petugas tersebut akan sangat mudah dikenali karena tidak mengenakan pakaian ihram seperti jamaah haji umumnya, seperti dikutip dari harian republika. Mereka akan mengenakan seragam putih hitam dengan rompi atau jaket hitam bertuliskan “Petugas Haji Indonesia 2016.”

Jamaah diimbau untuk tidak ragu mendatangi petugas dan melapor jika terpisah dari rombongannya sehingga dapat diantar ke pemondokan ataupun terminal bus shalawat yang akan membawanya ke pemondokan.

Tak ketinggalan, jangan pernah lupa memakai gelang identitas serta membawa kartu bus dan nomor pemondokan karena akan memudahkan petugas menentukan pemondokan ataupun kelompok jamaah.

Pemerintah Saudi Kecam Haji Ilegal

Berhaji.com

Kerajaan Arab Saudi mengimbau agar jemaah haji menjalankan prosedur yang benar untuk melaksanakan ibadah haji. Mereka pun mengancam jemaah yang berencana melakanakan ibadah haji dengan cara-cara menipu alias berhaji dengan cara ilegal.

Hal ini dilontarkan oleh Mufti Besar Syeikh Abdul Aziz al-Asheikh yang menkritisi upaya beribadah haji dengan cara menipu. Menerut dia, seperti dikutip dari Arabnews, tindakan jemaah yang mengelabui petugas keamanan saat melewati pos pemeriksaan dengan menggunakan busana normal dan kemudian berganti menjadi pakaian ihram saat berada di Kota Suci. “Memasuki Makkah tanpa izin adalah tindakan melanggar hukum,” ujarnya.

Kecaman ini ditujukan kepada sejumlah jemaah haji domestik yang berusaha menyelundup masuk ke Kota Suci setiap tahun. Al-Asheikh memastikan jemaah haji yang berkelakuan seperti itu tahun ini adalah mereka yang telah menunaikan haji dalam lima tahun terakhir.

Padahal, kata sang mufti besar, pihak kerajaan telah menyiapkan cara untuk memudahkan jemaah domestik yang berniat menunaikan haji, sehingga mereka tidak perlu berdesakan dan dapat menyelesaikan ibadah haji dengan sempurna tanpa kerepotan berarti, seperti dikutip dari harian republika. “Setiap orang bertanggung jawab untuk menjaga keamanan dengan mematuhi aturan yang telah dikeluarkan oleh pihak otoritas,” kata Al-Asheikh.

Dia pun menekankan bahwa keputusan untuk mengizinkan jemaah yang memiliki dokumen lengkap saja diambil demi kepentingan individu yang bersangkutan, dan upaya melanggar aturan ini tidak dapat dibenarkan.

 

 

Ternyata Pendiri NU dan Muhammadiyah Belajar dari Guru yang Sama Selama di Tanah Suci

Berhaji.com

Pendiri dua ormas keagamaan besar di Indonesia yakni Nahdatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah juga sempat mempelajari agama saat sedang melaksanakan ibadah haji. KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asy`ari belajar dengan guru yang sama saat berada di Makkah.

Dalam buku Satu Abad Muhammadiyah diterangkan, KH Ahmad Dahlan lahir di Kampung Kauman, Yogyakarta 1868 dengan nama Muhammad Darwis.

Muhammad Darwis yang sudah tumbuh dewasa terus belajar ilmu agama maupun ilmu lain dari guru-guru yanglain, termasuk ulama di Arab Saudi ketika ia sedang menunaikan ibadah haji.

Ia pernah belajar ilmu hadits kepada Kiai Mahfudh Termas dan Syekh Khayat, belajar ilmu qiraah kepada Syekh Amien dan Sayid Bakri Syatha, belajar ilmu falak kepada KH Dahlan Semarang, dan ia juga pernah belajar kepada Syekh Hasan tentang mengatasi racun binatang.

Menurut beberapa catatan, kemampuan intelektual Muhammad Darwis semakin berkembang setelah menunaikan ibadah haji pertama pada tahun 1890, beberapa bulan setelah perkawinannya dengan Siti Walidah pada 1889.

Pemikiran baru yang ia pelajari selama bermukim di Makkah kurang lebih delapan bulan, telah membuka cakrawala baru dalam diri Muhammad Darwis yang telah berganti nama menjadi Ahmad Dahlan.

Pada 1903, Ahmad Dahlan menunaikan ibadah haji kedua dan bermukim di Makkah selama hampir dua tahun. Kesempatan ini digunakan Ahmad Dahlan untuk belajar ilmu agama Islam, baik dari para guru ketika ia menunaikan ibadah haji pertama maupun dari guru-guru yang lain. Ia belajar fikih kepada Syekh Saleh Bafadal, Syekh Sa`id Yamani, dan Syekh Sa`id Babusyel.

Selain itu, selama bermukim di Makkah, Ahmad Dahlan secara reguler mengadakan hubungan dan membicarakan berbagai masalah sosial-keagamaan, termasuk masalah yang terjadi di Indonesia, dengan para ulama Indonesia yang telah lama bermukim di Arab Saudi, seperti Syekh Ahmad Khatib dari Minangkabau, kiai Nawawi dari Banten, Kiai Mas Abdullah dari Surabaya dan Kiai Fakih dari Maskumbang.

Adapun KH Hasyim Asy`ari melakukan perjalanan ibadah haji pertamanya saat berumur 21 tahun. Tidak lama setelah menikah, Hasyim bersama istrinya berangkat ke Makkah guna menunaikan ibadah haji. Tujuh bulan di sana, Hasyim kembali ke Tanah Air, sesudah istri dan anaknya meninggal.

Pada 1893, ia berangkat lagi ke Tanah Suci. Sejak itulah ia menetap di Makkah selama 7 tahun dan berguru kepada Syekh Ahmad Khatib Minangkabau, Syekh Mahfudh at-Tarmasi, Syekh Ahmad Amin al-Aththar, Syekh Ibrahim Arab, Syekh Said Yamani, Syekh Rahmaullah, Syekh Sholeh Bafadhal, Sayid Abbas Maliki, Sayyid Alwi bin Ahmad as-Saqqaf, dan Sayyid Hussein al-Habsyi.

Kemampuannya dalam ilmu hadits, diwarisi dari gurunya, Syekh Mahfudh at-Tarmisi di Makkah. Selama tujuh tahun Hasyim berguru kepada Syekh ternama asal Pacitan, Jawa Timur itu, seperti dikutip dari harian republika. Di samping Syekh Mahfudh, Hasyim juga menimba ilmu kepada Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabau. Kepada dua guru besar itu pulalah Kiai Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, berguru.

Jadi, antara KH Hasyim Asy`ari dan KH Ahmad Dahlan sebenarnya tunggal guru. Yang perlu ditekankan, saat Hasyim belajar di Makkah, Muhammad Abduh sedang giat-giatnya melancarkan gerakan pembaruan pemikiran Islam.

 

Dimanakah Letak Maqam Ibrahim AS Sebelum Dipindahkan?

Berhaji.com

Maqam Ibrahim adalah batu yang digunakan Nabi Ibrahim AS untuk berpijak sewaktu beliau membangun Ka`bah. Beberapa keutamaan Maqam Ibrahim yakni dijadikan tempat shalat, taqut dari surga, dan tempat dikabulkannya doa.

Seperti dikutip dari buku Ensiklopedi Peradaban Islam (Makkah) karya Syafii Anonio, pada mulanya maqam ini menempel di dinding Ka`bah sebagai tempat berpijak Nabi Ibrahim AS dalam meninggikan Ka`bah. Kemudian di zaman Khalifah Umar bin Khattab, maqam ini digeser mundur untuk memperluas orang yang melakukan tawaf.

Sosok Umar sendiri merupakan orang yang mesti diikuti sebagaimana hadits Nabi Muhammad SAW, “Ikutilah dua sahabat setelah aku wafat, Abu Bakar dan Umar.” Tidak ada seorangpun dari kalangan sahabat yang mengingkari pemindahan maqam tersebut.

Kotak maqam Ibrahim terus mengalami perubahan. Mulanya, Maqam Ibrahim diletakkan di sebuah bangunan lemari perak yang di atasnya dibuat peti berukuran 6×3 meter. Luas kotak tersebut 18 meter. Bangunan ini memenuhi ruang tempat thawaf dan mempersulit jemaah yang melakukan thawaf.

Atas kesepakatan Rabitah Al-Alam Al-Islami (Organisasi Liga Umat Islam Dunia) pada 1387 Hijriyah, diubahlah menjadi kotak kaca kristal yang diliputi dengan besi di atas batu marmer berukuran 180×130 centimeter = 2,34 meter. Kemudian oleh pihak pemerintah, kotak tersebut dilapisi emas. Di luarnya dilapisi kaca bening setebal 10 centimeter yang tahan terhadap panas dan antipecah.

Seperti dikutip dari republika.co.id, saat ini jarak antara Maqam Ibrahim dengan sudut Ka`bah, dan Hajar Aswad = 14,5 meter. Jarak dengan Rukun Yamani = 14 meter, jarak dengan sudut saluran air = 13,25 meter.

Warna Maqam Ibrahim menyerupai warna perunggu, agak kehitam-hitaman. Cetakan kaki Nabi Ibrahim terbuat dari besi. Adapun rumah kaca sengaja dibuat untuk menghindari kerusakan prasasti jejak kaki Sang Pembangun Ka`bah, Nabi Ibrahim AS. Sama halnya dengan Hajar Aswad, posisi Maqam Ibrahim yang menempel di Ka`bah memiliki keistimewaan. Jika Hajar Aswad mengandung sunah penghormatan dengan cara mencium atau mengusapnya, Maqam Ibrahim dihormati dengan melakukan shalat sunah di belakangnya.

Saat musim haji, tentu bukan perkara mudah untuk bisa shalat sunah tepat di belakang Maqam Ibrahim. Selain dijaga petugas, ada larangan terhadap jemaah agar tidak berdoa di depan Maqam Ibrahim.

Alasannya, berdoa di depan Maqam Ibrahim dikhawatirkan mengandung penyembahan dan penghormatan yang berlebihan pada prasasti tersebut. Tidak heran kalau petugas di sana selalu menghalau jemaah yang terlihat berdoa di depan Maqam Ibrahim. Petugas biasanya memberi peringatan jika Maqam Ibrahim hanya sebatas untuk dilihat, bukan untuk disembah.