Kumpulan Foto Berhaji Di Masa Lalu yang Ternyata Lebih Menyejukkan Dipandang Mata

Berhaji.com

Tanah suci Mekkah dan Madinah telah mengalami berbagai kemajuan seiring perkembangan zaman. Bahkan, Masjidil Haram juga saat ini tengah mengalami perluasan untuk desain terbaru di tahun 2020 mendatang.

Berbagai kemewahan seperti lapisan marmer dan emas dapat kita lihat hampir di setiap sudut Mekkah dan Madinah, terutama di tempat-tempat melaksanakan ibadah haji. Pembangunan besar-besaran ini juga disebut-sebut sebagai salah satu tanda kiamat, sebagaimana disabdakan Rasulullah Salallahu ‘Alaihi wa Salam.

Ibnu Syaibah meriwayatkan dengan sanadnya kepada Ya’la ibn Atha’ dari ayahnya, dia berkata: pada suatu hari, aku menuntun tali kekang onta Abdullah ibn Amr, lalu beliau berkata: “Bagaimana pendapat kalian, jika kalian hancurkan Ka’bah dan tidak menyisakan ada batu yang masih menumpuk? Mereka menjawab: oleh kita yang beragama Islam? Beliau menjawab: benar, kalian yang beragama Islam. Seseorang bertanya: lalu apa lagi? Beliau menjawab: kemudian ia akan dibangun dengan yang lebih bagus darinya. Apabila kalian telah melihat galian-galian besar di Makkah, dan bangunan-bangunannya menjulang tinggi melebihi pegunungannya, maka ketahuilah bahwa kiamat telah mendekatimu”(HR. Ibnu Abi Syaibah dan al-Arzaqi)

Mekkah dan Madinah di masa lalu memang tidak semegah dan mewah sekarang, namun ternyata lebih sejuk dipandang mata dengan berbagai kesederhanaannya.

Lagi, Jemaah Haji Ditemukan Bunuh Diri Di Mina

Berhaji.com

Di tengah berbagai tragedi di musim haji yang memakan ratusan korban jiwa kali ini, ternyata masih ada jemaah haji yang diberikan Allah kesempatan untuk hidup namun lebih memilih untuk bunuh diri.

Seorang jemaah asal Bangladesh ditemukan tewas tergantung di sebuah kamar mandi di Mina pada pukul 5 pagi. Korban terlihat mengantri di kamar mandi seperti biasa, namun ia tak juga keluar dari kamar mandi hingga jemaah lain mengetuk pintu dan memutuskan untuk mendobraknya.

Jasad jemaah asal Bangladesh tersebut ditemukan tergantung di dalam kamar mandi, dilansir dari dailymoslem.com. Menurut temen-temannya, korban tidak menderita penyakit psikologi apapun yang memungkinkannya melakukan percobaan bunuh diri. Hanya saja, korban mengaku ingin meninggal dalam keadaan mengenakan ihram di tanah suci.

Peristiwa serupa pernah terjadi di awal tahun ini ketika seorang jemaah haji asal Cina bunuh diri dengan cara melompat dari mataf di Masjidil Haram.

Kronologi Tragedi Mina yang Menewaskan Hingga 700an Jemaah Haji

Berhaji.com

Setelah tragedi jatuhnya crane yang menewaskan hingga lebih dari 150 orang, umat Muslim kembali berduka dengan tragedi mina yang memakan korban tewas hingga 700an lebih dan 800an orang luka-luka.

Peristiwa ini bermula dari rombongan jemaah yang baru selesai lempar jumroh di waktu subuh berpapasan dengan rombongan jemaah dari Mekkah yang hendak melaksanakan ritual lempar Jumroh. Pada pukul 7 pagi para rombongan jema’ah ini berpapasan di Jalan Arab 204 yang menyebabkan jemaah berdesakan, kehabisan oksigen hingga terinjak-injak.

Jama’ah yang berdesakan ditambah dengan cuaca panas menyebabkan banyak orang melemah hingga akhirnya tewas terinjak jemaah lainnya. Dalam hitungan menit, jumlah korban tewas bertambah hingga 300an orang. Kebanyakan korban diduga berasal dari Afrika dan Mesir.

Pemerintah Saudi langsung mengerahkan 4000 orang tim penyelamat besarta 200 ambulans untuk mengevakuasi korban.

Potret Jema’ah Haji Dari Berbagai Negara Di Dunia

Berhaji.com

Bagi seorang muslim, menunaikan ibadah haji merupakan salah satu keistimewaan dalam beribadah. Apalagi bagi umat muslim di negara selain Arab, menuju ke Mekkah dan Madinah untuk beribadah di hadapan Ka’bah bukanlah persoalan mudah. Berbagai usaha dan perjuangan harus dilakukan untuk sekali perjalanan ibadah haji.

Santunan 3,8 Miliar dan Gratis Naik Haji untuk Keluarga korban Tragedi Mekkah

Berhaji – Pemerintah Saudi tampaknya menanggapi serius tragedi Mekkah yang meninggalkan duka mendalam bagi umat Muslim seluruh dunia.

Raja Arab Saudi, King Salman bin Abdul Aziz telah mengumumkan bahwa pihaknya akan memberikan sejumlah santunan bagi keluarga korban tragedi Mekkah yang tewas maupun yang masih dalam perawatan dokter.

Untuk korban meninggal, King Salman akan memberikan santunan sebesar 1 juta riyal yang setara dengan 3,8 miliar rupiah lengkap dengan undangan berhaji sebagai tamu kehormatan di musim haji tahun depan untuk dua orang anggota keluarga korban.

Sementara untuk korban yang menderita cacat seumur hidup, permerintah Saudi juga memberikan santunan sebesar 1 juta riyal atau 3,8 miliar rupiah.

Untuk korban selamat yang tidak wafat dan tidak cacat namun harus menjalani perawatan di rumah sakit, King Salman akan memberikan santunan sebesar 500.000 riyal. Selain itu, pemerintah Saudi juga akan memperpanjang jangka waktu visa untuk korban yang masih dirawat di rumah sakit hingga sembuh total dan bisa pulang ke negara masing-masing.

Pemerintah Saudi juga menindak dengan tegas perusahaan Bin Laden Corporation yang menjadi menjalani proyek raksasa perluasan Masjidil Haram, yaitu dengan mencabut izin kerja untuk tahun mendatang.

Wah, India Buat Aplikasi Anti Hilang untuk Jamaah Haji

Berhaji – Menunaikan Ibadah Haji merupakan kewajiban bagi seorang muslim yang memiliki kemampuan untuk melakukannya. Memiliki kemampuan disini terdiri dari kemampuan fisik, mental dan tentunya kemampuan finansial yang mumpuni. Luar biasanya, meskipun biaya menunaikan ibadah haji terus mengalami peningkatan namun tak mengakibatkan terjadinya penurunan dari jumlah jemaah haji. Sebaliknya, menurut data statistik jemaah haji menunjukan peningkatan di setiap tahunnya.

Dengan banyaknya jemaah haji yang datang disetiap tahunnya, banyak sekali laporan jemaah haji hilang atau tersesat. Untuk mengatasi hal itu, India menciptakan sebuah mobile application yang berbasis internet untuk memudahkan jamaah dalam melaksanakan ibadah haji. Aplikasi tersebut bernama “Indian Haj Accomodation Locator”.

Dengan adanya aplikasi ini, jemaah haji memungkinkan untuk mengakses semua informasi yang berhubungan dengan segala prosesi ibadah haji. Indian Haj Accomodation Locator bisa digunakan pada Android maupun Apple dan dapat diunduh secara gratis di play store atau di Mac app store.

Menggunakan aplikasi ini pun sangat mudah, cukup dengan memasukan cover number jemaah haji atau nomor passport kita akan mendapatkan rinician tentang akomodasi termasuk jumlah bangunan, jumlah tenda atau nomor kantor dan juga peta dari jalur yang biasa digunakan oleh para pejabat dan relawan di Mekkah, Mina atau Madina.


unnamed

Biasanya, jemaah haji asal India akan diberikan kartu SIM yang dapat digunakan saat menunaikan ibadah haji. Dengan begitu para jemaah bisa terus berhubungan dengan pihak konsulat negara untuk mendapatkan pengumuman penting. Indian Haj Accomodation Locator juga dapat memungkinkan keluarga dari jemaah untuk melacak lokasi keberadaan anggota keluarga yang menunaikan ibadah haji.

Wah, sungguh sangat bermanfaat sekali yah. Para jemaah dimudahkan untuk mengetahui informasi tentang lokasi-lokasi di Mekkah, Mina atau Madina. Sehingga dapat memudahkan para jemaah jika terpisah dari rombongan. Semoga, aplikasi tersebut bisa digunakan oleh jemaah haji asal Indonesia juga.

Di Tajikistan, Berhaji Hanya Boleh Dilakukan Mereka yang Berusia 35 Tahun Ke Atas

Berhaji.com – Terhitung mulai tanggal 13 April kemarin, Tajikistan menerapkan peraturan baru bagi warganya yang berniat menunaikan ibadah haji. Pemerintah hanya memperbolehkan mereka yang berusia di atas 35 tahun yang boleh berhaji.

Beberapa isu menghembus akibat munculnya peraturan ini, di antaranya adalah isu bahwa ini adalah usaha agar para orang-orang muda di Tajikistan terlibat dalam organisasi Islam sekuler, seperti ISIL.

Namun, seperti dilansir dari worldbulletin.net, pemerintah menyanggahnya dan mengatakan bahwa peraturan ini ditetapkan karena pemerintah ingin memberikan kesempatan bagi mereka yang berusia lebih lanjut untuk menunaikan ibadah haji. Pasalnya, Arab Saudi juga membatasi kuota jema’ah haji.

Tajikistan merupakan salah satu negara dengan jema’ah haji yang paling banyak. Di tahun-tahun sebelumnya, sekitar 8.000 warga Tajikistan pergi ke Mekkah dan Madinah untuk menunaikan ibadah haji setiap tahunnya. Namun, untuk tahun ini Arab Saudi telah membatasi kuota yang tersedia untuk Tajikistan.

Tahun ini, hanya 6.300 kuota yang disediakan oleh Arab Saudi untuk jema’ah dari Tajikistan.

Sebelum peraturan tentang berhaji ini, sebelumnya Tajikistan telah melarang pelajar muslimah untuk mengenakan hijab, melarang anak-anak ke masjid, dan memaksa ribuan siswa yang tengah menuntut ilmu di sekolah Islam di luar negeri untuk pulang karena banyaknya laporan bahwa banyak orang Tajikistan yang terlibat sebagai jihadis di Iraq dan Syria.

Jamaah Sering Selfie saat Umrah dan Haji, Haruskah Peraturan Tentang Smartphone Diterapkan di Masjidil Haram?

Berhaji.com – Saat ini, mengunjungi Mekah untuk menunaikan ibadah haji dan umrah bukanlah sekedar ibadah sakral, malah sudah menjadi lifestyle bagi beberapa kalangan tertentu.

Bahkan, berfoto selfie di tempat-tempat di Mekah dan Madinah juga menjadi suatu kebanggaan tersendiri bagi orang-orang tertentu. Ironisnya lagi, sekarang bahkan kita juga sering menjumpai foto selfie di depan ka’bah dan Masjidil Haram, yang seharusnya menjadi tempat sakral untuk beribadah dan berdo’a kepada Allah.

Dilansir dari arabnews.com, kolonel Badr bin Saud Al-Saud yang bekerja untuk pasukan keamanan Masjidil Haram mengatakan bahwa kebanyakan orang yang mengunjungi ka’bah merasa dirinya sedang piknik, sehingga mereka lebih fokus pada smartphone mereka dan minta difoto di sekitar ka’bah. Menurutnya, seharusnya orang-orang menggunakan smartphone mereka di kawasan Masjidil Haram hanya untuk keperluan komunikasi.

Saat ini, pemandangan jama’ah haji yang sibuk berfoto selfie di depan ka’bah adalah pemandangan yang umum.

Al-Saud mengutaraan hal ini di sebuah seminar yang diselenggarakan oleh King Fahad Security College mengenai isu-isu keselamatan dan keamanan di Kerajaan, dilansir dari media lokal.

Namun, peserta lain dalam seminar tersebut, di antaranya Abdulrahman Al-Faraj seorang penduduk Mesir tidak menyetujui hal tersebut karena bisa saja aplikasi smartphone yang mereka miliki dapat membantu dalam operasi penyelamatan.

Sungguh sebuah kesempatan yang baik jika kita bisa mengunjungi ka’bah dan beribadah di sana. Semoga hal tersebut tidak menjadikan kita orang yang riya dan menyombongkan diri. Aamiin.

Manasik Haji Cerminan Bagi Akhlak Mulia

berhaji.com

Haji adalah salah satu rukun islam, haji adalah ibadah yang tergabung padanya antara amalan badan dan pengorbanan harta, dan haji adalah salah satu ibadah yang paling agung, yang memiliki kandungan makna, dan hikmah yang sangat luas lagi mendalam. Para ulama menyatakan, bahwa haji adalah salah satu madrasah yang sangat agung, untuk menggembleng keimanan seorang muslim.

وأَذِّن فِي النَّاسِ يَأْتُوكَ رِجَالاً وَعَلَى كُلِّ ضَامِرٍ يَأتِيْنَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُم وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللهِ فِيْ أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ عَلَى مَا رَزَقَهُم مِنْ بَهِيمَة الأَنْعَام

“Dan kumandangkanlah ibadah haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta yang kurus, yang datang dari segenap penjuru yang jauh. Agar mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka, dan agar mereka menyebut Nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan, atas rezeki yang telah Allah berikan kepada mereka berupa binatang ternak.” (QS. Al Haj: 27-28)

Ulama mengomentari bahwa yang dimaksudkan dengan kata “menyaksikan manfaat” adalah mendapatkannya, bukan sekedar melihat, akan tetapi mendapatkannya.

Ibnu Abbas menafsiri kata ( مَنَافع ) ayat ini dengan mengatakan: “Manfaat di dunia dan manfaat di akhirat, adapun manfaat di akhirat adalah keridhoan Allah ‘azza wa jalla, dan manfaat di dunia adalah mendapatkan pembagian daging korban, sesembelihan, dan perdagangan.” (Ad Durrul Mantsur 6/37)

Dan Al Mujahid menafsirkan dengan berkata: “Manfaat adalah perdagangan dan setiap hal yang menjadikan Allah ridho dari urusan dunia dan akhirat.” (Tafsir At Thobari 17/147)

Ibadah haji bukan hanya sebuah rentetan amalan sakral yang tidak diketahui manfaat dan hikmah dari pelaksanaannya. Akan tetapi ibadah haji –sebagaimana ibadah-ibadah lainnya- penuh dengan maksud-maksud dan hikmah-hikmah yang sangat indah dan besar. Kalau kita perhatikan fakta yang ada pada jamaah haji pada umumnya, dan pada diri kita saat melaksanakan ibadah yang mulia ini, akan kita lihat terjadinya perbedaan antara sesama mereka dalam mengambil hikmah, dan menyelami kandungan makna ibadah ini.

Menapaki Madrasah Pendidikan Keimanan dengan Berhaji

berhaji.com

Sahabatku kaum muslimin, ibadah haji merupakan madrasah yang dipenuhi berkah, media pembelajaran untuk melatih jiwa, menyucikan hati, dan memperkuat iman. Kaum muslimin akan menjumpai berbagai pelajaran dan faedah yang terkait dengan akidah, ibadah, dan akhlak di tengah-tengah pelaksanaan haji mereka.

Dapat dipastikan, bahwa ibadah haji merupakan madrasah pendidikan keimanan dimana lulusannya adalah para hamba-Nya yang beriman dan bertakwa, mereka yang mereguk manfaat dari ibadah tersebut adalah para hamba Allah yang diberi taufik oleh-Nya. Allah ta’ala berfirman,

وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالا وَعَلَى كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ (٢٧)لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ (٢٨)

“Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh, supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka …” (Al Hajj: 27-28).

Berbagai manfaat, faedah, dan pelajaran berharga yang terdapat dalam ibadah haji tidak mungkin untuk dihitung, karena sebagaimana di dalam ayat di atas, Allah berfirman dengan kata “مَنَافِعَ” yang merupakan bentuk plural dari kata “منفعة” yang disebutkan secara indefinitif (nakirah) sehingga mengisyaratkan betapa banyak dan beragam manfaat yang akan diperoleh dari ibadah haji.

Tujuan ibadah haji ini adalah agar berbagai manfaat tersebut diperoleh oleh mereka yang melaksanakannya, karena huruf lam pada firman-Nya “لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ” berfungsi untuk menerangkan alasan yang terkait dengan firman-Nya yang sebelumnya, yaitu ayat “وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالا وَعَلَى كُلِّ ضَامِرٍ”, sehingga redaksi ayat tersebut bermakna, “(Wahai Muhammad), jika engkau menyeru mereka untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu, baik dengan berjalan kaki dan berkendara untuk memperoleh berbagai manfaat haji.”

Oleh karena itu, mereka yang diberi taufik untuk melaksanakan ibadah ini hendaklah bersemangat dengan sungguh-sungguh untuk memperoleh manfaat tersebut, di samping dirinya akan memperoleh pahala yang besar dan pengampunan dosa dari Allah ta’ala. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ حَجَّ هَذَا الْبَيْتَ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ

“Barangsiapa yang berhaji di rumah ini, kemudian tidak berbuat keji dan maksiat, niscaya dia akan kembali dalam kondisi seperti tatkala dirinya dilahirkan oleh ibunya (tidak memiliko dosa apapun).”[1]

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

تَابِعُوا بَيْنَ الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ فَإِنَّهُمَا يَنْفِيَانِ الْفَقْرَ وَالذُّنُوبَ كَمَا يَنْفِي الْكِيرُ خَبَثَ الْحَدِيدِ

“Laksanakanlah haji dan umrah, karena keduanya menghapus kefakiran dan dosa sebagaimana api menghilangkan karat dari besi.”[2]

Tentunya, seorang yang memperoleh keuntungan ini kembali ke negaranya dengan kondisi yang suci, jiwa yang bersih, dan kehidupan baru yang dipenuhi dengan cahaya iman dan takwa, penuh dengan kebaikan, keshalihan, serta berkomitmen dan konsisten menjalankan ketaatan kepada Allah ta’ala.

Ulama telah menyebutkan bahwa apabila keshalihan dan kesucian jiwa ini terdapat dalam diri hamba, maka hal tersebut merupakan tanda bahwa Allah telah ridha kepadanya dan ciri bahwa amalannya telah diterima oleh-Nya. Apabila kondisi seorang yang telah melaksanakan haji menjadi baik, dengan berpindah dari kondisi yang buruk menjadi baik, atau dari kondisi baik menjadi lebih baik, maka hal ini merupakan tanda bahwa hajinya bermanfaat, karena balasan dari suatu kebaikan adalah tumbuhnya kebaikan sesudah kebaikan yang pertama sebagaimana firman Allah ta’ala,

هَلْ جَزَاءُ الإحْسَانِ إِلا الإحْسَانُ (٦٠)

“Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).” (Ar Rahman: 60).

Dengan demikian, barangsiapa yang melaksanakan ibadah haji dengan baik dan bersungguh-sungguh menyempurnakannya, serta menjauhi berbagai hal yang mampu membatalkan dan mengurangi pahala berhaji, tentulah dia akan keluar dari madrasah tersebut dengan kondisi yang lebih baik.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ

“Tiada balasan bagi haji mabrur melainkan surga.”[3]

Tentu setiap orang yang berhaji ingin dan berharap ibadah haji yang dikerjakannya menjadi haji yang mabrur dan segala upaya yang dikerahkannya mendapat pahala dan diterima di sisi-Nya. Tanda yang jelas bahwa ibadah haji yang dikerjakan mabrur dan diterima adalah ibadah haji tersebut  dilaksanakan ikhlas mengharap Wajah Allah ta’ala dan sesuai dengan tuntunan rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kedua syarat ini merupakan syarat mutlak agar suatu amal ibadah diterima di sisi-Nya, di samping itu (keduanya harus ditunjang dengan tanda yang lain, yaitu) kondisi seorang yang berhaji menjadi lebih baik daripada sebelumnya.