Nasi Kuning, Makanan Siap Santap Favorit Jemaah Haji 2014

berhaji.com

Pada pelaksanaan haji kali ini ada  aturan baru yang berlaku di Arab Saudi bagi para jamaah haji yakni Jamaah haji dilarang memasak makanan sendiri untuk mengantisipasi terjadinya kebarakan.

Di kota Mekkah tidak satupun pemondokan jamaah haji menyediakan dapur khusus untuk memasak. Karena memang sudah ada larangan dari pemerintah Arab Saudi bagi para jamaah haji memasak, oleh karena itu Setiap jamaah haji mendapat uang saku sebesar 1500 real, sangat cukup untuk membeli makan selama di Mekkah.

Dengan adanya peraturan tersebut, sebagian dari para jemaah haji merasa akan kesulitan mendapat menu makanan khas Indoneisa. Namun, ternyata kita tidak perlu bingung mencari sarapan yang sesuai dengan lidah Indonesia, karena disekitar pemondokan/hotel selalu ada yang berjualan makanan siap santap yang sesuai dengan lidah Indonesia.

Ini adalah salah satu menu sarapan favorit para jemaah haji 2014 ,Nasi kuning dengan  irisan timun segar dan dadar telur yummii .  Rasanya enak , Murah meriah hanya 2 real saja, Alhamdulillah..  🙂

nasi kuning

IHRAM HAJI

IHRAM

Definisi “ihram” adalah niat mengerjakan salah satu “nusuk” (ibadah), yaitu ibadah haji atau umrah, atau niat melaksanakan keduanya sekaligus (bersamaan). Ihram itu adalah salah satu dari rukun-rukun haji. Tidak sepantasnya ber-ihram untuk haji kecuali pada musim haji berdasarkan filrman Allah SWT. Yang artinya: “Musim haji itu adadlah beberapa bulan yang telah dimaklumi. (Al-Baqarah: 197). Musim haji ialah pada bulan Syawal, Zulkaidah dan sepuluh hari pertama pada bulan Zulhijjah.

Ihram adalah niat yang dilakukan pada tempat atau waktu yang telah ditentukan (miqat zamani dan miqat makani).

Macam-macam Ihram

Ihram ada tiga macam yaitu:

  1. Qiran

Yaitu melaksanakan ihram dengan haji, bersama dengan umrah.

Pada waktu bertalbiyah, mengucapkan

Labbaika Allahumma labbaika hajjan wa ‘umratan”

Artinya; “Ya Allah, saya berniat haji dan umrah”

  1. Tamattu’

Yaitu melakukan umrah di dalam bulan-bulan haji (Syawal, Zulqaidah, Zulhijjah) kemudian melakukan haji pada tahun itu juga. Caranya seseorang pergi ke miqat melakukan ihram dengan niat Umrah saja. Kemudian mengcapkan talbiyah:

“Labbaika Allahumma labbaika ‘umratan”

Artinya: “Ya Allah, saya berniat umrah”

  1. Ifard.

Yaitu melakukan ihram dengan niat haji saja. Dari tempat miqat ia mengucapkan talbiyah:
Labbaika Allahumma labbaika hajjan

Artinya: “Ya Allah, saya berniat haji”

Adab dan Tata Tertib Ber-Ihram

          1. Bersih.

Dapat dilakukan dengan memeotong kuku, memendekkan kumis, berwudhu atau lebih utama mandi, menyisir jenggot dan rambut.

Berkata Ibnu ‘Umar r.a. yang artinya:

“Diantara yang termasuk sunnah ialah mandi bila hendak memesuki kota Mekkah.” (Diriwayatkan oleh Bazar dan Daruqutni, juga oleh Hakim yang menyatakan sahihnya)

          2. Meninggalkan semua pakaian yang dijahit.

Pakain ihram, yaitu rida’ atau selubung buat menutupi tubuhnya bagian atas kecuali kepala, dan izar atau sarung untuk  yang separuh lagi, yaitu bagian bawah.  Dan hendaklah keduanya itu berwarna putih karena pakaina putih lebih disukai oleh Allah Ta’ala. Diterimaa dari Ibnu ‘Abbas r.a.:

”Rasulullah saw. berangkat dari Madinah setelah ia menyisir rambut dan memekai minyak harum serta mengenakan kain sarung dan kain selubungnya. Hal Ini dilakukan oleh nabi sendiri, juga oleh para sahabatnya “

(Sampai akhir hadits yang diriayatkan oleh Bukhari)

          3. Memakai Minyak Wangi

Memakai minyak wangi baik pada tubuh maupun pada belahan rambut serta pakaian, walau akan tinggal bekasnya setelah ihram itu.

Diterima dari Aisyah r.a katanya:

“Rasanya saya akan melihat kilatan minyak wangi pada belahan rambut Rasulullah saw. di waktu ia sedang ihram.”

(Riwayat Bukhari dan Muslim)

Juga hadits lain

“Dari ‘Aisyah ia berkata “Saya biasa menggosokkan minyak wangi kepada Rasulullah saw. ketika ihram sebelum melakukan ihram itu, juga ketika tahallul sebelum ia thawaf di Ka’bah.””

(Riwayat Bukhari dan Muslim)

            4. Shalat dua rakaat dengan niat sunat Ihram

Shalat dua raka’at dengan niat sunat ihram. Pada raka’at pertama setelah Al-fatihah hendaklah membaca surat Al-Kafirun dan pada raka’at kedua setelah Al-fatihah membaca surat Al-Ikhlas

APAKAH PENTING MENGIKUTI BIMBINGAN MANASIK HAJI ATAU TURUT KELOMPOK BIMBINGAN IBADAH HAJI (KBIH)

APAKAH PENTING MENGIKUTI BIMBINGAN MANASIK HAJI ATAU TURUT KELOMPOK BIMBINGAN IBADAH HAJI (KBIH)?

 

“Bekerjasamalah kamu sekalian menuju kebajikan dan
menuju ketaqwaan. Dan jangan kalian bekerjasama
menuju dosa dan permusuhan.” (Al-Qur`an, 5:2)

 

Pemerintah Indonesia, dalam hal ini jajaran Departeman Agama, telah berusaha memberikan pelayanan yang terbaik bagi saudara saudaranya sebangsa yang akan melaksanakan ibadah haji. Mereka melakukan evaluasi dan perbaikan se­tiap tahun. Akan tetapi dana, sarana dan sumber daya manusia yang masih terbatas, serta etos dan budaya kerja yang belum mantap, maka masih saja dirasakan adanya kekurangan. Sehubungan dengan itu, maka jika anda berangkat dengan paket BPIH biasa, bukan haji khusus, maka lebih banyak manfaatnya, bila anda bergabung dengan suatu Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH). Sebab dalam rombongan Departeman Agama, untuk satu kelompok terbang (kloter) yang berjumlah lima ratus orang, hanya ada satu pembimbing ibadah yang tentu sangat sulit memberikan bimbingan yang optimum bagi seluruh jamaah kloter yang berjumlah 500 orang. Dengan bergabung kepada suatu KBIH, insya Allah anda akan banyak mendapat manfaat. Manfaat apa yang diperoleh dengan bergabung di KBIH? Manfaat yang diperoleh adalah men­dapatkan bekal utama haji yaitu taqwa, sebagai­mana firman Allah SWT.: “Wa tazawwaduu, fainna khoiroz zaadit-taqwaa” / “Siapkanlah perbekalan haji, dan sebaik baik perbekalan (haji) adalah taqwa. ” (QS, al-Baqarah, 2:197)

Selama ini, materi yang disampaikan dalam manasik di sebuah KBIH, masih didominasi oleh teori manasik berupa hukum-hukum dan do’a­-do’a haji. Bahkan terkadang masih banyak yang lebih memperbayak do’a saja, sehingga tidak sedikit jamaah yang menjadi gugup karena belum banyak do’a yang hafal. Padahal, jika kita melihat firman Allah tadi dan realita kebutuhan di lapangan, maka selain manasik atau tatacara haji dan ibadah selama di tanah suci, hal lain yang lebih penting adalah kataqwaan yaitu akhlak dan sikap perilaku seperti kesabaran, ketabahan, ketawakalan, kerajinan dan ke­khusyuan ibadah, toleransi, kerjasama, kekompakkan, keikhlasan dan lain lain. Untuk mendapat hal hal seperti inilah anda bergabung dengan KBIH. Termasuk dalam akhlak taqwa adalah semangat: “Ta’aawanuu ‘alal birri wat­taqwaa, wa laa ta’aawanuu ‘alai ismi wal­’udwaan” / “Tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. ” (QS, al-Ma’idah, 5:2) Yakni semangat tolong-menolong dalam kebajikan dan dalam ketaqwaan, serta saling menjauh dan menghindar dari dosa, kesalahan dan per­musuhan. Jadi, tidak cukup dan termasuk rugi

bila anda pergi haji dan masuk sebuah KBE jika hanya mendapat manasik haji, tanpa mendapat bekal haji yang utama yakni sikap d akhlak taqwa seperti disebut di atas

ACARA SYUKURAN SEBELUM HAJI, APA PERLU?

ACARA SYUKURAN SEBELUM HAJI,

APA PERLU?

“Dan berbuat baiklah kepada kedua orangtuamu, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnussabil dan hamba sahayL Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri.” (Al-Qur`an, 4:36)

Kepergian ke Makkah untuk melaksanakan ibadah haji, umrah dan thawaf mengelilingi Ka’bah semakin kuat di hati Rasulullah dan para sahabatnya ketika mereka sudah beberapa tahun tinggal di Madinah. Hal ini sampai termimpi­ mimpikan. Mimpi inilah yang kemudian diabadikan dalam al-Qur’an bahwa pada akhirnya Rasulullah dan para sahabat akan mewujudkan impiannya untuk melaksanakan ibadah umrah dan haji.

“Laqod shodaqolloohu rosuuluhur ru `yaa bil haqqi, latadkhulunnal masjidal harooma insyaa Alloohu aaminiin. ” / “Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya tentang kebenaran mimpinya (yaitu) bahwa sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidilharam, insya Allah dalam keadaan aman. ” (QS, al-Fat-h, 48:27)

Ketika Rasulullah mengumumkan hal itu, maka disambut dengan sangat antusias oleh para sahabat beliau. Mereka sangat bersyukur akan bisa melaksanakan ibadah umrah dan haji sekali­gus kembali melihat kampung halamannya. Tetapi tidak ada keterangan yang menjelaskan bahwa mereka mengadakan hajat syukuran untuk mengungkapkan kegembiraan tersebut. Kita wajib bersyukur atas kesempatan untuk pergi haji. Banyak orang yang diberi rizki, tapi tidak diberi dorongan untuk pergi haji. Banyak pula orang yang sudah bertahun-tahun berdo’a dan tahajud untuk dapat pergi haji, akan tetapi belum juga diberi rizki. Karena itu wajar bila kita bersyukur dan ungkapkanlah rasa syukur itu dengan cara yang paling tepat dan manfaat, misalnya memberi sodakoh kepada fakir miskin. Apakah syukuran berupa hajat mengundang handai taulan merupakan hal yang tepat? Syukurnya wajib, dan mengkomunikasikan nikmat yang kita terima, juga diharuskan.

Hajatan atau walimah hanya salah satu ben­tuk saja. Selain mengungkapkan rasa syukur, hal lain yang perlu diakukari adalah permohonan maaf dan minta dorongan do’a. Hal ini akan berguna untuk menambah kelancaran perjalanan kita di sana dan mengurangi hambatan, terutama menghindari do’a buruk dari orarig yang pernah kita sakiti. Ini adalah bagian dari mempersiapkan perbekalan terbaik untuk haji berupa ketaqwaan. Hal lain yang tidak kalah pentingnya adalah memaafkan kesalahan orang lain. Itu bagian dari ciri orang taqwa. Bila kita masih punya dendam kepada seseorang, maka sebelum berangkat haji, datangilah dia, tidak usah menunggu dia datang kepada kita. Sampaikanlah permohonan maaf anda kepadanya. Jadi bukan hanya meminta maaf, akan tetapi juga memberi maaf. Menurut pakar psychologi, membenci dan membawa dendam sama dengan membawa penyakit bagi jiwa kita. Memberi maaf adalah menyuntikan obat bagi penyakit itu. Apakah kita mau pergi haji sambil membawa penyakit berupa dendam? Jadi itu subtansi yang paling penting dalam acara sebelum berangkat haji yakni ungkapan syukur, permohonan maaf dan pemberian maaf serta permohonan do’a. Bentuknya, apa saja yang paling manfaat dan paling efisien. Bisa walimah atau hajatan, bisa juga bentuk lain. Bila orang tua anda masih ada, j angan lupa hadirkan mereka dalam acara ini. B ahagiakan dan mulia­kan mereka dan jangan acara ini justru membuat kesedihan dan kekecewaan bagi mereka. Anda memerlukan do’a mereka selama melaksanakan ibadah haji.

MENYEMBELIH HEWAN QURBAN KETIKA BERHAJI

MENYEMBELIH HEWAN QURBAN DI TANAH SUCI 

Menyembelih hewan qurban merupakan upaya memahami pengorbanan Nabi Ibrahim a.s. saat diperintahkan Allah agar menyembelih putranya Ismail. Dengan penuh ketegaran, melalui isyarat mimpi yang membenarkan perintah itu, Nabi Ibrahim-pun menaatinya. Dan atas kemurahan-Nya, Allah kemudian mengganti Ismail dengan binatang sembelihan yang besar.

Kurban ketika Haji

Jamaah haji hendaknya menyembelih hadyu (binatang kurban yang dibawanya), jika ada. Yang lebih utama ialah menyembelihnya dengan tangannya sendiri.

Berkurban dengan unta adalah lebih utama. Kemudian seekor sapi, setelah itu seekor domba. Dan berkurban sendiri dengan seekor domba adalah lebih utama dibandingkan dengan tujuh orang bersama-sama berkurban dengan seekor unta atau sapi. Demikian pula, seekor domba (kambing kibas) lebih utama dari pada kambing biasa. Sabda Rasulullah Saw,

“Sebaik-baiknya udh-hiyah (kurban) ialah domba bertanduk.” (HR. Abu dawud dari ‘Ubadah ibn as-Shamit, dan Tirmidzi dari Abu Umamah)

Adapun domba yang putih lebih utama dari pada yang abu-abu atau hitam. Dari Abu Hurairah, “Binatang kurban yang putih lebih utama dari pada dua ekor yang berwarna hitam.”

Dan diperbolehkan ia (yang berkurban) ikut makan sebagian darinya, jika itu merupakan hadyu sunnah (bukan yang diwajibkan baginya). Dan janganlah berkurban dengan hewan yang cacat seperti pincang, patah tanduknya, terpotong telinganya, berpenyakit kurap, sangat kurus, lumpuh dan sebagainya.

Hikmah Penyembelihan Hewan Qurban

Dalam penyembelihan hewan qurban ini terwujud dua hikmah.

Pertama, mengajarkan umat untuk memiliki ketaatan yang sempurna kepada Allah. Sebab, sejatinya perintah adalah ujian. Rasa kemanusiaan memang sisi sensitif manusia yang maha rentan dan menguras belas kasihan. Allah maha mengetahui hal itu dan Dia maha pemurah kepada hamba-hamba-Nya, karena itulah Ia mengganti Ismail dengan binatang sembelihan. Dari sini, ada sisi kemanusiaan yang dibela, di samping sedikit dipermainkan dengan perintah yang dalam kaca mata manusia sedikit berlebihan itu. Pesan intinya, cinta kepada Allah hendaknya ditempatkan di atas cinta pada apapun.

Kedua, karena menyembelih hewan tebusan pada dasarnya adalah bersedekah, dengan sendirinya hal itu menjadi wujud dari rasa syukur atas nikmat Allah, baik berupa kesempatan melaksanakan ibadah haji maupun nikmat lain yang jumlahnya tak terhitung. Sebab, tidak diragukan lagi bahwa hanya orang-orang tertentulah yang mampu melaksanakan ibadah haji. Di samping harus memiliki kesiapan (harta, fisik, mental, dan keilmuan), seseorang yang melaksanakan haji juga tidak bisa lepas dari garis ketentuan. Perpaduan dua hal inilah yang seseorang yang sudah memiliki kesiapan dalam segala hal, namun belum tergerak untuk menunaikan haji. Adapun salah satu sebab kewajiban menyembelih binatang atas orang yang menjalankan ibadah haji tamattu’ dan qiran, adalah keadaan dua model pelaksanaan haji tersebut yang berasal dari adat jahiliyah, yang sudah diubah.

Pada saat menyembelih hadyu (hewan kurban yang telah disediakan dalam rangka ibadah haji), hendaknya mengetahui bahwa hal itu merupakan upaya pendekatan diri kepada Allah dengan mematuhi perintah-Nya. Karena itu, hendaknya jamaah haji menyempurnakan hadyu dan berharap agar Allah membebaskan seluruh anggota tubuh dari siksa api neraka, sebagai imbalan atas setiap bagian dari hadyu yang dikurbankan.

Hukum Ibadah Haji Bagi Anak-Anak

HAJINYA ANAK-ANAK

Sah-nya Haji Anak-anak

Anak-anak tidak berkewajiban mengerjakan ibadah haji, namun jika mereka mengerjakannya hajinya tetap sah.[i] Hal ini berdasarkan hadits yang terdapat dalam shahih Muslim:

Dari Ibnu Abbas, bahwasanya ada seorang wanita mengangkat anak kecil ke hadapan Rasulullah Saw. lalu bertanya, ‘Apakah anak ini mendapatkan (pahala) haji?’ Beliau menjawab, ‘Ya, dan kamupun mendapatkan pahala”.[ii]

Disebutkan pula dalam shahih Bukhori:

Dari As-Sa’ib bin Yazid, ia berkata: Aku diajak malakukan haji bersama Rasulullah Saw. sedang saat itu aku berumur tujuh tahun.”[iii]

Kewajiban Berhaji lagi Setelah Dewasa

Meskipun dianggap sah, tetapi haji anak kecil di bawah umur ini, baik laki-laki maupun perempuan tidak menjadikannya terlepas dari kewajiban haji yang merupakan salah satu rukun Islam bagi seorang muslim yang mukallaf (dewasa). Demikian halnya hamba sahaya, baik lelaki maupun perempuan, haji mereka sah akan tetapi hajinya itu tidak menjadikannya terlepas dari kewajiban haji jika kelak merdeka. Ini berdasarkan hadits shahih dari Ibnu Abbas, Rasulullah Saw. bersabda: “Anak kecil yang telah mengerjakan haji kemudian ia memasuki usia dewasa tetap berkewajiban mengerjakan ibadah haji lagi, dan budak yang sudah mengerjakan haji kemudian ia dimerdekakan tetap berkewajiban menunaikan ibadah haji lagi.” (HR. Thabrani)[iv]

Hajinya Anak di Bawah Umur Mumayyiz

Selanjutnya, jika anak lelaki yang masih kecil itu di bawah umur mumayyiz, maka walinyalah yang meniatkan ihram untuknya. Walinyalah yang menanggalkan pakaian berjahitnya dan bertalbiyah untuknya. Dengan itu, anak lelaki kecil itu telah berihram. Ia harus dicegah melakukan apa yang menjadi larangan bagi orang dewasa yang sedang berihram. Demikian halnya anak perempuan yang masih kecil di bawah umur mumayyizah, walinyalah yang meniatkan ihram dan bertalbiyah untuknya. Dengan demikian anak perempuan yang masih kecil itu telah berihram. Iapun harus dicegah melakukan apa yang menjadi larangan bagi wanita dewasa yang sedang berihram. Anak kecil tadi, baik lelaki maupun perempuan, haruslah berbadan dan berpakaian suci saat melakukan thawaf, karena thawaf itu menyerupai shalat, sedangkan bersuci adalah syarat syahnya shalat.[v]

Untuk Melanjutkan membaca KLIK Link di bawah ini

Hajinya Anak yang Mencapai Umur Mumayyiz

 


[i] Sulaiman Al-Faifi. Mukhtashar Fiqih Sunnah Sayyid Sabiq. (Solo: Aqwam, 2010). hlm. 344.

[ii] Syeikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz. Haji, Umrah, dan Ziarah Menurut Kitab dan Sunnah. (Saudi Arabia: Departemen Urusan Ke-Islaman, Wakaf, Dakwah dan Bimbingan Islam, 2001). hlm. 47.

[iii] Ibid. hlm. 47-48.

[iv] Sulaiman Al-Faifi. Op.Cit. hlm. 344.

[v] Syeikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz. Op.Cit. hlm. 49.

 

Hajinya Anak Yang Mencapai Umur Mumayyiz


Sebelum membaca postingan ini alangkah baiknya membaca postingan sebelumnya KLIK Di Sini Hukum Ibadah Haji Bagi Anak-Anak
Hajinya Anak yang Mencapai Umur Mumayyiz

Jika anak kecil itu, baik perempuan maupun lelaki sudah mencapai umur mumayyiz, maka ia berihram atas izin walinya. Saat ia hendak ihram, ia harus melakukan apa dilakukan orang dewasa ketika hendak berihram; seperti mandi, memakai wangi-wangian di tubuh dan semacamnya. Dalam hal ini, walinya-lah yang mengatur dan mengurusi keperluan ihram anak itu. Dan walinya pula yang harus mengerjakan amalan yang tidak dapat dilakukan anak itu, seperti melempar jumrah atau semacamnya, dengan diniatkan untuk anak tersebut. Hal-hal lain seperti wukuf di Arafah, mabit (menginap) di Mina dan Muzdalifah, harus dilakukan oleh anak itu sendiri. Untuk thawaf dan sa’i, jika ia tidak mampu melakukannya, harus dipanggul untuk melakukan thawaf dan sa’inya tersebut. Yang utama bagi pemanggul, hendaknya tidak meniatkan thawaf dan sa’i untuk dirinya dan anak itu sekaligus, tetapi saat memanggul, ia harus meniatkan thawaf dan sa’i untuk anak itu saja, setelah itu mengerjakan thawaf dan sa’i untuk dirinya sendiri.

Namun, seandainya pemanggul anak itu meniatkan thawaf untuk dirinya dan untuk anak itu yang dipanggulnya sekaligus, inipun sudah sah menurut hukum. Dan ini adalah pendapat yang lebih shahih, karena Nabi Saw. tidak memerintahkan wanita yang bertanya kepada beliau tentang haji anak yang dibawanya itu untuk menthawafkan anak itu dalam waktu tersendiri. Seandainya hal itu adalah wajib, tentu Nabi Saw. menjelaskan kepada wanita penggendong anak itu.[i]

Selanjutnya, anak kecil yang sudah mencapai umur mumayyiz, baik lelaki maupun perempuan hendaknya diperintahkan untuk bersuci dari hadats juga dari najis, sebelum memulai thawaf, seperti halnya yang dilakukan oleh orang dewasa yang berihram. Sebenarnya, meniatkan ihram untuk anak kecil tidaklah wajib bagi walinya, melainkan hanya sunnah. Jika walinya melakukannya, maka ia mendapat pahala. Jika ia tidak melakukannyapun tidak mengapa. Wallahu a’lam.[ii]



[i] Ibid. hlm. 49-50.

[ii] Ibid. hlm. 51.

Kewajiban Dam dalam Ibadah Haji

KEWAJIBAN DAM

 Dam menurut bahasa artinya darah. Sedangkan menurut istilah yaitu mengalirkan darah (menyembelih ternak) dalam rangka memenuhi ketentuan manasik haji. Orang yang berhaji tamattu’ maupun berhaji qiran, sedang ia bukan penduduk tanah suci Mekah, maka ia wajib menyembelih dam, yaitu satu kambing atau sepertujuh unta atau sepertujuh sapi. Dam wajib didapatkan dari harta yang halal dan hasil usaha yang baik.

 

Jenis-jenis Dam

 Dam terdiri dari dua jenis, yaitu:

  1. Dam nusuk (sesuai ketentuan manasik) yaitu dam yang dikenakan bagi orang yang mengerjakan haji tamattu’ atau qiran (bukan karena melakukan kesalahan).
  2. Dam isa’ah yaitu dam yang dikenakan bagi orang yang melanggar aturan atau melakukan kesalahan, yaitu:
    • Melanggar aturan ihram haji atau umrah
    • Meninggalkan salah satu wajib haji atau umrah yang terdiri atas:

1)      Tidak berihram/niat dari Miqat

2)      Tidak mabit di Muzdalifah

3)      Tidak mabit di Mina

4)      Tidak melontar jumrah

5)      Tidak thawaf wada’.

Cara Melakukan Dam

Cara melaksanakan dam yaitu dengan ,menyembelih hewan ternak sesuai dengan ketentuan hewan qurban. Jika tidak mampu membeli binatang hadyu yang wajib disembelihnya, maka ia wajib berpuasa tiga hari pada masa-masa melakukan haji dan tujuh hari lagi setelah kembali ke tempat tinggalnya. Puasa tiga hari pada saat melaksanakan ibadah haji tersebut boleh dilakukan sebelum hari nahar atau pada tida hari Tasyrik. Apabila puasa tiga hari di Mekah tidak dapat dilaksanakan karena suatu hal, maka harus diqada sesampainya di kampung halaman dengan ketentuan puasa 3 hari dengan 7 hari dipisahkan 4 hari.

Perbedaan antara Qurban dan Penyembelihan Dam

Qurban adalah sembelihan yang berkaitan dengan hari Qurban dan hari Tasyrik, disunatkan untuk seluruh umat Islam baik yang sedang melaksanakan haji atau tidak, dan dapat dilaksanakan di mana saja termasuk di Tanah Air.

Sedangkan dam adalah sembelihan yang berkaitan dengan amalan manasik haji, baik karena ketentuan manasik haji seperti tamattu’ dan qiran atau karena pelanggaran dan harus dilaksanakan di Tanah Haram.

Syarat-Syarat Wajib Haji

Syarat wajib haji ialah kondisi (syarat-syarat) yang apabila terpenuhi pada seseorang, maka orang tersebut wajib menunaikan ibadah haji. Tetapi jika tidak terpenuhi seluruh atau sebagian syaratnya, maka orang tersebut tidak wajib menunaikan ibadah haji.[I]

Para ahli fikih telah sepakat bahwa syarat-syarat wajib haji yang dimaksud adalah sebagai berikut:[II]

  1. Islam.
  2. Baligh
  3. Berakal
  4. Merdeka
  5. Berkemampuan

ISLAM

Ibadah haji adalah salah satu rukun islam. Seperti ibadah-ibadah lain dalam islam, ibadah haji hanya wajib dilaksanakan oleh orang islam. Terlebih, ibadah haji adalah ibadah yang terikat oleh tempat dan waktu. Ibadah haji dilaksanakan di Makkah Al-Mukarramah, tempat yang haram diinjak oleh orang kafir (non muslim). Jadi, ibadah haji tidak sah dan haram dilaksanakan oleh orang kafir (non muslim).[III]

BALIGH

Anak-anak yang belum sampai umur taklifi, tidak wajib melaksanakan ibadah haji. Namun jika ia mengerjakan ibadah haji, maka hajinya itu sah. Akan tetapi tidak menggugurkan kewajiban haji setelah ia baligh. Jadi, setelah sampai umur taklifi (baligh), ia masih terkena kewajiban untuk haji. Dan tentu harus terpenuhi syarat-syarat haji yang lain.[IV]

BERAKAL SEHAT/TIDAK GILA

Orang-orang yang sakit jiwa/gila, sinting, dungu, tidak wajib haji. Sampai ia sembuh dari gilanya. Kalau mereka melaksanakan haji, maka hajinya tidak sah. Syarat berakal sehat ini sama dengan syarat baligh, berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abudaud, dan Tirmidzi, dari Ali ra, sabda Nabi Muhammad SAW, yang artinya

Diangkat pena dari tiga macam orang (tidak Mukallaf): (1) dari orang gila hingga ia sembuh, (2) dari orang yang tidur hingga ia bangun, dan (3) dari anak-anak hingga ia dewasa (baligh).[V]

MERDEKA

Orang yang masih bersetatus budak, tidak wajib haji, namun jika ia melakukan haji, maka hajinya sah. Dan jika ia telah merdeka dan mampu, maka ia wajib menunaikan ibadah haji itu.[VI]

BERKEMAMPUAN

Kemampuan yang dimaksud meliputi hal-hal berikut:[VII]

  1. Berbadan sehat, atau bebas dari penyakit yang dapat menghalanginya untuk melaksanakan ibadah haji. Hal ini dibuktikan dengan keterangan dari dokter ahli.
  2. Tidak lemah fisik karena usia lanjut, yang dikhawatirkan akan beresiko fatal atau bahkan meninggal dunia, jika ia tetap pergi haji.
  3. Terjamin keamanan dalam perjalanan. Terjamin dari hal-hal yang akan membahayakan dirinya dan hartanya.
  4. Adanya kelebihan nafkah dari kebutuhan pokoknya yang cukup untuk dirinya sendiri, dan keluarga yang ditinggalkan, hingga ia kembai kepada keluarganya.
  5. Tidak terdapat suatu halangan untuk pergi haji, misalnya: tahanan (penjara), hukuman, dan ancaman penguasa yang dzalim.
  6. Adanya kendaraan untuk pergi ke tanah suci, dan kendaraan untuk pulang kembali.

 



[I]  Muhammadiah Ja’far, Tuntunan Ibadat Zakat, Puasa dan Haji (Jakarta: Kalam Mulia, 1989), hlm.173

[II] Sayyid Sabiq, Fikih Sunnah, Jilid 5 (Bandung: Alma’arif, 1978), hlm. 42

[III] Muhammadiah Ja’far, Op.cit. hlm.174

[IV] Ibid.

[V] Ibid.

[VI] Ibid.

[VII] Ibid. hlm. 175

Pengurangan Kuota Haji 2013

menteri-agama-menag-suryadharma-ali

Jakarta (Sinhat), Kementerian Agama belum lama ini menerima surat dari Kementerian Haji Kerajaan Arab Saudi. Isi surat itu menyampaikan, kuota haji untuk Indonesia, dipotong 20 persen. “Benar surat itu sudah kami terima 6 Juni lalu. Isinya tentang pemotongan 20 % kuota haji untuk seluruh negara anggota OKI (Organisasi Konferensi Islam), termasuk Indonesia. Dalam surat itu disampaikan, keluarnya kebijakan itu, akibat lambatnya penyelesaian rehabilitasi Masjidil Haram. Sehingga, demi terjaminnya keselamatan jamaah haji, pemerintah Kerajaan Arab Saudi mengurangi kuota haji,” tukas Menteri Agama Surya Dharma Ali, kepada watawan di lantai dua Gedung Utama Kementerian Agama, Rabu sore (12/06).

Keterlambatan rehabilitasi Masjidil Haram, lanjut dia, berakibat pada berkurangnya kapasitas daya tampung tempat tawaf, yang semula dapat menampung 48.000 jamaah dalam satu jam. Menjadi 22.000 jamaah dalam satu jam. “Artinya terpotong setengah,” tuturnya. Tapi, kata dia, bila ini dipaksakan, dikhawatirkan bisa berakibat fatal, bagi keselamatan calon jamaah haji (Calhaj). Sehingga, pemerintah Arab Saudi mengambil kebijakan itu, demi keselamatan jamaah. Insya Allah kebijakan ini, cukup hanya tahun ini,”tutur Suryadharma lagi. Dengan kebijakan itu, sambung dia, dipastikan 42.200 Calhaj batal berangkat.

“Dengan begitu, terjadi penurunan jamaah haji Indonesia. Dari tahun lalu 211.000 jamaah menjadi 168.800 jamaah. Dengan demikian, dari angka itu jamaah haji khusus yang terpotong 3400 orang. Dan, jamah haji reguler 38.800 orang,” imbuh Suryadharma. Meski demikian, ucap dia, pemerintah tidak tinggal diam. “Upaya lobi sedang dilakukan. Khususnya dengan Menteri Haji Arab Saudi. Mudah-mudahan ada dispensasi implementasi atas kebijakan tersebut,” ujarnya lagi. Sementara, Direktur Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah, Kementerian Agama, Anggito Abimanyu memastikan calon jamaah haji yang terkena kebijakan itu, akan berangkat di tahun depan.

“Kami pastikan, musim haji 2014, yang terkena pengurangan kuota ini berangkat. Dan, apabila ada kenaikan Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH), alias bila terjadi selisih lebih, dari tahun ini, mereka tidak akan dikenakan biaya tambahan,” pungkasnya lagi. Ia kembali menjelaskan, yang paling krusial terkena pemotongan adalah jamaah haji usia muda. “Sedangkan jamaah usia lanjut di atas 83 tahun tetap diutamakan. Alias diprioritaskan,” jelasnya. (reporter:Mario/redaktur:rm)