Hidangan Makanan di Arafah Terasa Nikmat (Part-2)

Tulisan ini adalah lanjutan dari Hidangan Makanan di Arafah Terasa Nikmat (Part-1)

Setiba di Arafah, Pak Anis mengeluarkan simpanannya: Dua lembar kain parasut yang sangat lebar, seutas tambang sepanjang sekitar 6 meter, dan bambu yang berfungsi sebagai patok untuk mengukuhkan kain parasut yang pada ujungnya sudah diberi ring. Kami mencari lokasi yang terdapat dua pohon. Kami menemukannya dekat dengan dapur, toilet dan kemah besar milik orang arab. Praktis sekali: Kami mengikatkan tambang diantara dua pohon, lantas kain parasut disampirkan di atasnya, sementara ujungnya dipancangkan dengan patok bambu melalui ring yang ada di ujung dan tepi kain parasut. Dalam hitungan kurang dari satu jam, tenda yang bisa menampung sekitar dua puluh jamaah pun telah siap. Kami segera memasukinya, menggelar tikar, dan bersiap untuk melaksanakan wukuf.

Usai shalat zuhur, Haji Anis berkhutbah, khutbah Arafah yang membuat kami bertafakur merenungi dosa dan maksiat yang pernah dilakukak. Merenungi betapa banyak perintah Allah yang belum dilaksanakan. Air mata menetes, bahkan tertumpah di sela-sela tangis di Arafah. Bahkan, Allah mengirimkan hujan ketika itu yang membuat kami semakin haru: diperciki hujan di Arafah, serasa diguyur sejuta nikmat dari surga.

Usai khutbah, rasa lapar mulai terasa. Jamaah koboi- karena paspor hijau-memang tidak termasuk yang dilayani oleh Muassasah Asia Tenggara sebagai mitra Depag RI untuk melayani jamaah, termasuk makan dan minum selama wukuf di Arafah dan selama melempar Jumrah di Mina. Kami memang sudah menyiapkan makanan kecil dan air secukupnya yang kami simpan dalam tas. Namun, Allah yang Maha Menyantuni tak mau membiarkan kami menjadi haji tanpa kegembiraan, atau tepatnya: Allah Yang Mahakaya tak akan membiarkan kita kelaparan.

Seorang pengemis masuk ke tenda dan meminta sedekah kami. Pengemis itu seorang wanita, tinggi sekitar 170 cm, usia sekitar 60-an, berpakaian lusuh tapi bersih, wajahnya memancarkan sesuatu yang sulit diungkapkan. Kami semua tak terkecuali, saling berlomba memberikan sedekah. Saya pun mengambil uang dari ikat pinggang haji saya, dan segera saya berikan kepada perempuan itu. Usai menerima sedekah, pengemis itu melontarkan ucapan terima kasih dan kemudian berlalu ……

Tidak lama kemudian, masuk seorang laki-laki bangsa Arab ke tenda kami, dia menatap kami satu per satu. Kami belum tahu apa maksudnya sehingga kami pun hanya tersenyum kepadanya. Ini juga sebagai pengganti bahasa karena hanya Pak Anis yang fasih berbahasa arab di antara kami. Lantas dia keluar dan tidak lama kemudian dia masuk lagi. Kali ini, laki-laki itu masuk dengan tangan penuh oleh-oleh: air mineral sera aneka jus. Dia keluar lagi sebelum kami sempat berterima kasih.

Tak lama kemudian, dia masuk lagi dan kali ini membawa hidangan yang sangat istimewa: Sajian kurma yang sangat lezat yang disajikan di atas nampan yang bersih. Kami serasa mendapat kiriman langsung dari Allah. Beberapa di antara kami mulai memakan kurma sambil meneteskan air mata haru. Bagaimana tidak? Kami bermimpi untuk dijamu sedemikian hebat, sebab kami hanya sekelompok jamaah biasa yang bertenda di antara dua pohon, berteduh dari terik matahari dengan berbekal kain parasut yang disampirkan diatas seutas tambang. Jika kemudian Allah memberikan jamuan seperti ini, rasa syukur rasanya tak pernah cukup untuk membalas segala kebaikan Allah kepada kami.

Di tengah suasana haru, saya dan beberapa jamaah masih sempat bercanda. Saya pun menyahut, “Wah, kalau ada nasi ayam, pasti lebih lezat.” Jamaah lain hanya tersenyum mendengar canda saya dan Haji Maman. Dengan ucapan itu, saya benar-benar bercanda, dan insya Allah bukan karena merasa tidak puas atas jamuan Allah yang sudah ada. Tapi hanya bergurau sambil membayangkan nasi ayam yang lezat.

Tak lama kemudain, laki-laki Arab yang sedari tadi menjadi “kurir Allah”untuk mengirimkan makanan kepada kami, masuk lagi kedalam tenda. Kali ini dia tidak membawa apa-apa. Namun, dia sepertinya menghitung ulang jumlah kami. Kami semua terdiam melihat wajahnya yang serius. Lalu dia keluar dan tak lama kemudian masuk lagi.

Subhanallah, lihatlah apa yang dia bawa: 4 bungkus besar nasi ayam, atau tepatnya ayam nasi. Setiap bungkus berisi 8 ekor ayam dan nasi yang dimasak dengan kuning khas Arab. Dia melakukannya di tenda kami dan berkata: Haji, halal, haji. Barakallah!

Saya tak mampu membendung air mata lagi: kami hanya bercanda meminta nasi ayam, tetapi Allah justru mengirimkan ayam nasi yang sangat berlimpah. Tiga puluh dua potong ayam untuk kami yang hanya sekitar 20 orang. Di tengah padang Arafah, di antara isak tangis, kami menyantap ayam kiriman Allah melalui saudara kami dari bangsa Arab yang dermawan.

Isak tangis saya tak henti-henti bahkan ketika mulai makan, Pak Isnu bertanya, “kenapa menangis terus, Mas Budi?”.

Saya pun menjawab “Pak, saya sangat terharu dengan kiriman ayam nasi ini. Lalu saya teringat anak sulung saya, Ahmad. Dia sangat suka ayam. Bahkan, setiap makan harus dengan ayam goreng. Setiap makan, dia bisa menghabiskan dua sampai tiga potong ayam. Di Arafah ini Allah mengirimkan ayam kepada saya. Ini membuat saya ingat pada anak dan istri di Tanah Air. Semoga suatu ketika, saya bisa berhaji dengan mereka. Bertafakur di Padang Arafah, bermunajat dan memohon kepada Allah. Insya Allah.”.

Di Arafah, tangis kam tertumpah, bersama doa dan harapan semoga Allah memperkenankan segala doa kami dan kelak suatu ketika dapat kembali berhaji bersama istri dan anak-anak. Amin

Inilah Kisah “Masbudpray” Sapaan akrab Ust. Budi Prayitno ketika berhaji untuk yang perama kalinay. Semoga dapat memberikan sepirit keimanan kita, dan lebih menguatkan niat kita untuk berhaji ke tanah suci. Aamiin Yaa Robbal A’alamiin.

Tawaf dan Menatap Ka’bah yang Indah

Bangunan Ka’bah begitu sederhana, tanpa gebyar warna-warni, ada Hajar Aswad yang menjadi elemen estetis dan memperkukuh eksistensi Ka’bah. Ka’bah menghadap ke segala arah, berbentuk kubus, seolah hendak menunjukkan bahwa Allah akan dapat ditemui di mana pun dan kemana pun kita menghadap.

Memasuki Masjidil Haram kita tidak melaksanakan shalat tahiyyatul masjid, tapi menggantinya dengan tawaf. Sebuah ritual sederhana: mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali dengan garis awal dan akhir di Hajar Aswad. Ketika jasad kita berputar mengelilingi Ka’bah, ruh kita naik mendekat kepada keagungan, kemuliaan, dan ketinggian Allah. Perumpamaan ini diambil oleh seorang ilmuan yang merujuk pada sifat medan magnet yang akan mengarah ke atas jika sebuah gaya magnet berputar seperti kita tawaf, mengumpamakan bahwa ruh kita tengah melayang naik menuju dan mendekati keagungan Allah. Badan kita merunduk, ruh kita melayang jauh menuju Al-Khaliq.

Tiada bacaan wajib dengan tawaf, yang ada hanyalah anjuran. Yang paling mutawatir adalah doa antara rukun Yamani dan Hajar Aswad, sebuah doa yang amat paripurna, “Rabbana atina fid dunya hasanah wa fil akhirati hasanah wa qina adzabannar (Wahai Tuhan kami! Berikanlah kepada kami di dunia kebaikan dan di akhirat kebaikan, dan jauhkan kami dari api neraka).”

Saudaraku, nikmatilah kesempurnaan doa ini, dibawah langit Makkah yang bening, siang ataupun malam, sore ataupun subuh, dengan khusyuk dan mendekat kepada Allah.

Tawaf yang “bebas doa wajub” namun wajib dalam keadaan suci, juga antara lain, menggambarkan perjuangan hidup manusia. Tawaf seperti gambaran kala kita mengejar target hidup di dunia. Untuk mencapai target hidup kita (karier, jabatan, harta, jodoh, dan yang lainnya), kita dapat mengejarnya dengan cara sikut kiri-kanan, injak bawah-jilat atas. Hasilnya, kita melejit dengan meninggalkan luka dan rasa sakit pada orang lain.

Kita juga dapat menjalani hidup tanpa target: apatis dan tidak kreatif, menerima sesuatu dengan apa adanya, bahkan “swarga nunut nraka katut”, seolah semua adalah takdir dan kita terkurung dalam satu takdir, tanpa peluang keluar, atau memilih takdir yang lain.

Kita pun dapat menjalani hidup dengan penuh semangat, dengan rencana yang baik, persiapan yang paripurna, dijalankan dengan santun, tanpa menyakiti orang lain dan memercayai keyakinan bahwa karunia Allah adalah sangat terbatas. Seluas birunya air laut, bahkan lebih luas dari tujuh lautan. Insya Allah, kesuksesan dapt kita raih tanpa mengobarkan orang lain. Nikmat Allah sebiru air laut, maka tak usah takut apabila kita tak mendapatkan nikmat-Nya. Bukankah The Blue Ocean Strategy belakangan juga mengajarkan hal yang mirip?

Begitulah ketika kita bertawaf. Kita bisa tawafdengan sukses, lantas juga mencium Hajar Aswad, tapi meninggalkan etika: sikut orang, dorong teman, terabas kiri-terbas kanan, bahkan melakukannya berulang-ulang, 3-5 kali sehari, meski aurat tersingkap ke mana-mana, badan berimpit di antara lawan jenis.

Kita bisa jadi hanya tiga kali tawaf selama berhaji: qudum, ifadhah, dan wada, lalu membiarkan saat-saat tawaf berlalu, atau berganti dengan tawaf Hilton, tawaf Pasar seng, dan tawaf-tawaf lainnya.

Kita juga bisa melakukan tawaf dengan baik, tanpa menyakiti orang lain, tetap memelihara etika, dengan penuh ikhlas dan memohon ridha Allah. Tawaf seperti inilah yang insya Allah akan dipenuhi dengan pertolongan demi pertolongan dari Allah. Seorang jamaah Ustad Miftah Faridl berhasil memenuhi target tawaf sebanyak satu set. Artinya, selama tinggal di Makkah sekitar 30 hari, dia mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh ratus kali. Subhanallah!

Jangan Sampai Salah Niat

Niat berhaji menjadi penting bagi calon jamaah haji. Jika niat tidak lurus karena Allah, maka Allah akan memberikan pelajaran dengan cara yang tidak disangka-sangka. Tulisan ini memberikan pelajaran bagi kita untuk senantiasa menjaga niat ketika ingin beribadah kepada Allah SWT. Semoga kita dapat mengambil pelajaran dari setiap kisah yang terjadi kepada saudara kita.

Seorang wanita yang sangat ingin berhaji, mempersiapkan hajinya dengan sangat saksama. Maklum dia sudah tidak punya suami, dia akan pergi haji sendiri, tidak juga dengan anak-anak.

Agar hajinya thuma’ninah dan dapat dilaksanakan tanpa “gangguan tehnis”, maka dia pun mengajak pembantunya untuk berhaji dengan catatan: di Tanah Suci pembantunya itu harus tetap melayani semua keperluannya dengan baik. Menyiapkan makanan, mencuci, menyetrika, tetap menjadi tugas pembantu. Dia ingin khusu beribadah. Tentu saja sang pembantu setuju dan gembira menyambut ajakan haji majikannya tersebut.

Berangkatlah mereka dengan penuh keikhlasan. Tetapi ada sedikit kesalahan yang dilakukan ibu ini: dia menggantungkan keperluannya, urusan-urusannya kepada pembantunya, bukan kepada Allah.

Di Tanah Suci terjadi hal yang tak terbayangkan sebelumnya. Pembantunya yang tak terbiasa melakukan perjalanan jauh, apalagi dengan pesawat terbang, jatuh sakit.

Akhirnya, skenario pun berubah total:Majikan menjadi pelayan bagi pembantu. Bibi terbaring, majikannya mencarikan makanan, mencucikan pakaian, dan melayani segala keperluannya.

Semata-mata hanya untuk Allah, diperintahkan kepada manusia untuk berhaji.

Semata-mata hanya bergantung kepada Allah dan jangan bergantung kepada mahluk, siapa pun dia: pembantu, pembimbing, ustad. Semuanya hanya hamba Allah yang tak memilki kekuatan, kecuali kekuatan yang Allah berikan.

Allah Tak Pernah Ingkar Janji

Banyak kejadian yang dialami oleh para jama’ah haji Indonesia. Kejadian tersebut memberikan banyak ibrah dan pelajaran berharga. Seperti kisah seseorang yang diuji keimanannya oleh Allah dengan kehilangan benda yang penting baginya. selamat membaca dan menyelami lautan spiritual ibadah haji dan umrah. Semoga kisah ini menambah keimanan dan kecintaan kita kepada Allah.

Kegelisahan melanda hati H. Bastian, eksekutif PT Pusri yang berhaji untuk kesekian kalinya beserta istri dan kerabatnya. Rupanya ikat pinggang hajinya hilang. Bukan ikat pinggangnya yang menjadi pikiran, tetapi didalamnya terdapat 500 dolar AS dan beberapa ratus riyal.

“Bukan uang itu pula yang sangat mengganggu saya,”katanya di Aziziyah, maktab kami selama haji.

“Kalau uang insya Allah saya masih ada, lebih dari cukup untuk bekal selama haji,” katanya lagi

“Lantas apa yang membuat Bapak sedih?” tanya saya

“Ketika saya tahu ikat pinggang haji saya beserta uang didalamnya telah hilang, saya merasa sedih dan bertanya-tanya kepada Allah: Ya Allahh, Hamba datang ke Tanah Suci untuk memenuhi panggilan-Mu. Hamba datang dengan uang yang insya Allah halal, hasil keringat hamba bekerja dan berdagang. Kini Engkau mengambil sebagian, apakah ini artinya, ya Allah ?”

“Kalau itu berati ada yang tidak halal dalam harta yang hamba bawa, hamba ridha Engkau sebagai pemiliknya, mengambilnya dari hamba. Namun jika itu semua yang hamba bawa sebagai bekal ini halal, ya Allah, kembalikanlah uang hamba,” isak tangisnya tak lagi dibendung.

H. Bastian lalu menuju loket lost & Found yang terletak diarah pintu Babussalam menuju hotel Hilton. Kepada petugas, dia melaporkan kehilangan ikat pinggang haji dan uang. Petugas menunjukkan  beberapa ikat pinggang yang ditemukan. H. Bastian menunjuk satu sebagai miliknya. Petugas bertanya apa isinya. H. Bastian menyebutkan jumlah uang yang diyakininya berada didalamnya.

Petugas lalu memeriksa buku catatan barang temuan dan berkata, “Data anda tidak cocok dengan isi yang dicatat disini.”

H. Bastian yakin betul bahwa ikat pinggang itu adalah kepunyaannya. Namun petugas yang hendak mengakhiri waktu tugasnya itu tetap menolak untuk memeriksa kembali. H. Bastian tidak menyerah, dia menunggu pergantian petugas. Lalu setelah dilihatnya petugas berganti, dia melapor lagi. Petugas bertanya lagi dan meminta H. Bastian menunjukkan ikat pinggang miliknya, lalu menanyakan apa isinya.

H. Bastian mengulang jawabannya, “lima ratus dolar, dan beberapa ratus riyal.”

petugas segera memeriksa buku cacatan dan sambil tersenyum dia berkata, “Benar! Itu ikat pinggang Anda, dan isinya cocok dengan yang tercatat.”

Subhanallah, ketika ikat pinggang itu diterimanya kembali beserta uangnya, H. Bastian menangis haru dan bersyukur kepada Allah.

“Saya bersyukur, Allah menjawab pertanyaan saya, Allah kembalikan uang saya dan semoga ini adalah jawaban bahwa yang saya bawa dan saya jadikan bekal haji benar-benar halal, “kata H. Bastian sambil berlinang air mata yang juga tertumpa di Arafah ketika menjadi khatib dalam khutbah Arafah, saya mengingatkan kembali peristiwa dialog H. Bastian dengan Allah. Dialog melalui hilangnya ikat pinggang dan uang.

Rahasia Tuhan atas Peristiwa Menakjubkan


Tulisan ini terinspirasi dari banyaknya kisah misteri yang terjadi kepada jamaah haji indonesia. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, tidak terkecuali Allah mengundang seseorang untuk menjadi tamuNya ke tanah suci. Ketika Allah menjadikan seseorang untuk  berhaji, tidak ada yang bisa merubah ketetapaNya. Tidak melihat seseorang itu kaya atau miskn. Allah akan memberi cara di luar nalar manusia. Selamat menikmati kisah penuh misteri dan teka-teki, semoga kita dapat mengambil hikamh dari kisah ini.

Para jamaah haji sering mendengar cerita, baik yang sifatnya ajaib-seram (mirip kisah-kisah misteri) maupun ajaib-seram (mirip Mimpi kali Yee . . .). namun juga tidak jarang yang biasa saja tapi informatif dan sedikit menghibur, atau berita tentang pusat belanja murah dan perilaku jamaah kita.

Pengalaman menggembirakan tentu akan menambah semangat. Hal ini pula yang dialami seorang jamaah haji asal Bandung tentang seorang lelaki tua yang saking inginnya pergi haji, selalu menyempatkan untuk mengantar hingga Pondok Gede apabila ada kerabat atau tetangga yang akan pergi haji. Hingga pada suatu ketika, dia ditanya oleh seorang tua di Pondok Gede, “Pak, Bapak mau pergi haji?”

“Bukan begitu, maksud saya, apakah Bapak ingin pergi haji ke Baitullah?” tanya orang tua itu.

“Oh tentu saja kalau soal ingin, sudah sejak lama saya ingin pergi haji. Karenanya saya selalu sempatkan untuk mengantar keluarga atau tetangga yang pergi haji hingga ke Pondok Gede,” jawabnnya lagi.

“Kalau begitu, silahkan temui anak saya di Bandung, mudah-mudahan dia bisa membantu niat Bapak untuk pergi haji,” ujar orang tua itu sambil memberikan secarik kertas beralamat.

Singkat kata, lelaki tua ini pun mendatangi alamat yang diberikan, dan bertemu dengan seorang anak muda yang lantas mengajaknya ke bank, untuk membayar ONH, tanpa banyak komentar. Ketika tiba waktunya, berangkatlah Bapak tersebut ke Tanah Suci dan dengan sisa living cost yang ada, ia pun membeli oleh-oleh untuk keluarga yang telah mebayarinya ONH.

Sesampainya di Tanah Air, usia melaksanakan haji, ia segera menuju alamat yang dahulu didatanginya, untuk mengantarkan oleh-oleh dan berterima kasih serta menunjukkan rasa syukur atas telah terlaksananya niat untuk melaksanakan haji. Namun apa yang terjadi?

Berpura-pura beberapa kali, ia tidak menemukan rumah yang dahulu didatanginya. Ditanyakannya kepada orang disekitar daerah itu, mereka hanya menunjukkan sebuah lahan kosong. “sejak dahulu, disitu tidak ada rumah, kok, Pak,” komentar penduduk yang melihat dirinya kebingungan. Peristiwa ini memang agak menyeramkan, tapi amat menggembirakan, bahkan menyentuh dasar kalbu kita dan menyadarkan kita bahwa tiada yang mustahil bagi Allah. Subhanallah!

Mohon Kemudahan Ibadah

Hal yang didambakan oleh semua calon jamaan haji/umroh adalah kelancaran dan kemudahan dalam melakukan ibadah.  Karena ada saja kejadian-kejadian yang merupakan ujian dari Allah.  Dari hilang arah, fasilitas yang tidak sesuai, terpisah dengan pasangan, kehilangan barang berharga dan lain-lain.

 

Matematika Sedekah

www.berhaji.com

Pengantar

Sedekah bisa mendatangkan ampunan Allah, menghapus dosa dan menutup kesalahan dan keburukan. Sedekah bisa mendatangkan ridha Allah, dan sedekah bisa mendatangkan kasih sayang dan bantuan Allah. Inilah sekian fadilah sedekah yang ditawarkan Allah bagi para pelakunya.

Sebagaimana kita ketahui, hidup kita jadi susah, lantaran memang kita banyak betul dosanya. Dosa-dosa kita mengakibatkan kehidupan kita menjadi tertutup dari Kasih Sayangnya Allah. Kesalahan- kesalahan yang kita buat, baik terhadap Allah, maupun terhadap manusia, membuat kita terperangkap dalam lautan kesusahan yang sejatinya kita buat sendiri. Hidup kita pun banyak masalah. Lalu Allah datang menawarkan bantuan-Nya, menawarkan kasih sayang-Nya, menawarkan ridha-Nya terhadap ikhtiar kita, dan menawarkan ampunan-Nya. Tapi kepada siapa yang Allah bisa berikan ini semua? Kepada siapa yang mau bersedekah. Kepada yang mau membantu orang lain. Kepada yang mau peduli dan berbagi.

Kita memang susah. Tapi pasti ada yang lebih susah. Kita memang sulit, tapi pasti ada yang lebih sulit. Kita memang sedih, tapi barangkali ada yang lebih sedih. Terhadap mereka inilah Allah minta kita memperhatikan jika ingin diperhatikan.

Di pembahasan-pembahasan tentang sedekah, saya akan banyak mendorong diri saya dan saudara, untuk melakukan sedekah, dengan mengemukakan fadilah-fadilah/ keutamaannya. Insya Allah pembahasan akan sampai kepada Ihsan, Mahabbah, Ikhlas dan Ridha Allah. Apa yang tertulis, adalah untuk memotivasi supaya tumbuh keringanan dalam berbagi, kemauan dalam bersedekah. Sebab biar bagaimanapun, manusia adalah pedagang. Ia perlu dimotivasi untuk melakukan Akhirnya, mintalah doa kepada Allah, agar Allah terus menerus membukakan pintu ilmu, hikmah, taufiq dan hidayah-Nya hingga sampai kepada derajat ‘mukhlishiina lahuddien’, derajat orang-orang yang mengikhlaskan diri kepada Allah.

Matematika Dasar Sedekah

Apa yang kita lihat dari matematika di bawah ini?

10 – 1 = 19

Pertambahan ya? Bukan pengurangan? Kenapa matematikanya begitu? Matematika pengurangan darimana? Koq ketika dikurangi, hasilnya malah lebih besar? Kenapa bukan 10-1 = 9?

Inilah kiranya matematika sedekah. Dimana ketika kita memberi dari apa yang kita punya, Allah justru akan mengembalikan lebih banyak lagi. Matematika sedekah di atas, matematika sederhana yang diambil dari QS. 6: 160, dimana Allah menjanjikan balasan 10x lipat bagi mereka yang mau berbuat baik.

Jadi, ketika kita punya 10, lalu kita sedekahkan 1 di antara yang sepuluh itu, maka hasil akhirnya, bukan 9. Melainkan 19. Sebab yang satu yang kita keluarkan, dikembalikan Allah sepuluh kali lipat. Hasil akhir, atau jumlah akhir, bagi mereka yang mau bersedekah, tentu akan lebih banyak lagi, tergantung Kehendak Allah. Sebab Allah juga menjanjikan balasan berkali-kali lipat lebih dari sekedar sepuluh kali lipat.

Dalam QS. 2: 261, Allah menjanjikan 700x lipat. Tinggallah kita yang kemudian membuka mata, bahwa pengembalian Allah itu bentuknya apa? Bukalah mata hati, dan kembangkan ke- husnudzdzanan, atau positif thinking ke Allah. Bahwa Allah pasti membalas dengan balasan yang pas buat kita.

Memberi Lebih Banyak, Menuai Lebih Banyak

Kita sudah belajar matematika dasar sedekah, dimana setiap kita bersedekah Allah menjanjikan minimal pengembalian sepuluh kali lipat (walaupun ada di ayat lain yg Allah menyatakan akan membayar 2x lipat). Atas dasar ini pula, kita coba bermain-main dengan matematika sedekah yang mengagumkan. Bahwa semakin banyak kita bersedekah, ternyata betul Allah akan semakin banyak juga memberikan gantinya, memberikan pengambalian dari-Nya.

Coba lihat ilustrasi matematika berikut ini:

Pada pembahasan diatas, kita belajar: 10 – 1 = 19. Maka, ketemulah ilustrasi matematika ini:

  • 10 – 2= 28
  • 10 – 3= 37
  • 10 – 4= 46
  • 10 – 5= 55
  • 10 – 6= 64
  • 10 – 7= 73
  • 10 – 8= 82
  • 10 – 9= 91
  • 10 – 10= 100

Menarik bukan? Lihat hasil akhirnya? Semakin banyak dan semakin banyak. Sekali lagi, semakin banyak bersedekah, semakin banyak penggantian dari Allah. Mudah-mudahan Allah senantiasa memudahkan kita untuk bersedekah, meringankan langkah untuk bersedekah, dan membuat balasan Allah tidak terhalang sebab dosa dan kesalahan kita.

2.5 % Tidaklah Cukup

Saudaraku, barangkali sekarang ini zamannya minimalis. Sehingga ke sedekah juga hitung-hitungannya jadi minimalis. Angka yang biasa diangkat, 2,5%. Kita akan coba ilustrasikan, dengan perkalian sepuluh kali lipat, bahwa sedekah minimalis itu tidak punya pengaruh yang signifikan.

Contoh berikut ini, adalah contoh seorang karyawan yang punya gaji 1jt. Dia punya pengeluaran rutin sebesar 2jt. Kemudian dia bersedekah 2,5% dari penghasilan yang 1jt itu. Maka kita dapat perhitungannya sebagai berikut:

Sedekah: Sebesar 2,5%

2,5% dari 1.000.000 = 25.000

Maka, tercatat di atas kertas:

1.000.000 – 25.000 = 975.000

Tapi kita belajar, bahwa 975.000 bukan hasil akhir. Allah akan mengembalikan lagi yang 2,5% yang dia keluarkan sebanyak sepuluh kali lipat, atau sebesar 250.000. Sehingga dia bakal mendapatkan rizki min haitsu laa yahtasib (rizki tak terduga) sebesar: 975.000 + 250.000 = 1.225.000 Lihat, ‘hasil akhir’ dari perhitungan sedekah 2,5% dari 1jt, ‘hanya’ jadi Rp. 1.225.000,-. Masih jauh dari pengeluaran dia yang sebesar Rp. 2jt. Boleh dibilang secara bercanda, bahwa jika dia sedekahnya ‘hanya’ 2,5%, dia masih akan keringetan untuk mencari sisa 775.000 untuk menutupi kebutuhannya.

Coba Sedekah 10 %.

Saudara sudah belajar, bahwa sedekah 2,5% itu tidaklah cukup. Ketika diterapkan dalam kasus seorang karyawan yang memiliki gaji 1jt dan pengeluarannya 2jt, maka dia hanya mendapatkan pertambahan 250rb, yang merupakan perkalian sedekah 2,5% dari 1jt, dikalikan sepuluh. Sehingga ‘skor’ akhir, pendapatan dia hanya berubah menjadi Rp. 1.225.000. Masih cukup jauh dari kebutuhan dia yang 2jt.

Sekarang kita coba terapkan ilustrasi berbeda. Ilustrasi sedekah 10%.

Sedekah: Sebesar 10%

10% dari 1.000.000 = 100.000

Maka, tercatat di atas kertas:

1.000.000 – 100.000 = 900.000

Kita lihat, memang kurangnya semakin banyak, dibandingkan dengan kita bersedekah 2,5%. Tapi kita belajar, bahwa 900.000 itu bukanlah hasil akhir. Allah akan mengembalikan lagi yang 2,5% yang dia keluarkan sebanyak sepuluh kali lipat, atau dikembalikan sebesar 1.000.000. Sehingga dia bakal mendapatkan rizki min haitsu laa yahtasib (rizki tak terduga) sebesar: 900.000 + 1.000.000 = 1.900.000

Dengan perhitungan ini, dia ‘berhasil’ mengubah penghasilannya, menjadi mendekati angka pengeluaran yang 2 juta nya. Dia cukup butuh 100 rb tambahan lagi, yang barangkali Allah yang akan menggenapkan 2 juta.

Dan satu hal yang saya kagumi dari matematika Allah, bahwa Spiritual Values, ternyata selalu punya keterkaitan dengan Economic Values. Kita akan bahas pelan-pelan sisi ini, sampai kepada pemahaman yang mengagumkan tentang kebenaran janji Allah tentang perbuatan baik dan perbuatan buruk. Kita sedang membicarakan bahwa sedekah 2,5% itu tidaklah cukup. Mestinya sedekah kita, haruslah minimal 10%. Dengan bersedekah 10%, insya Allah kebutuhan- kebutuhan kita, yang memang kita hidup di dunia pasti punya kebutuhan, akan tercukupi.

Dari ilustrasi diatas, saya memaparkan bahwa ketika seorang karyawan bersedekah 2,5% dari gajinya yang 1jt, maka ‘pertambahannya’ menjadi Rp. 1.225.000. Yakni didapat dari Rp.975.000, sebagai uang tercatat setelah dipotong sedekah, ditambah dengan pengembalian sepuluh kali lipat dari Allah dari 2,5% nya.

Bila sedekah 2,5% ini yang dia tempuh, sedangkan dia punya pengeluaran 2jt, maka kekurangannya teramat jauh. Dia masih butuh Rp. 775.000,-. Maka kemudian saya mengajukan agar kita bersedekah jangan 2,5%, tapi lebihkan. Misalnya 10%.

Saudaraku, ada pernyataan menarik dari guru-guru sedekah, bahwa katanya, sedekah kita yang 2,5% itu sebenarnya tetap akan mencukupi kebutuhan-kebutuhan kita, di dunia ini, maupun kebutuhan yang lebih hebat lagi di akhirat, kalau kita bagus dalam amaliyah lain selain sedekah. Misalnya, bagus dalam mengerjakan shalat. Shalat dilakukan selalu berjamaah. Shalat dilakukan dengan menambah sunnah-sunnahnya; qabliyah ba’diyah, hajat, dhuha, tahajjud. Bagus juga dalam hubungan dengan orang tua, dengan keluarga, dengan tetangga, dengan kawan sekerja, kawan usaha. Terus, kita punya maksiat sedikit, keburukan sedikit. Bila ini yang terjadi, maka insya Allah, cukuplah kita akan segala hajat kita. Allah akan menambah poin demi poin dari apa yang kita lakukan. Hanya sayangnya, kita-kita ini justru orang yang sedikit beramal, dan banyak maksiatnya. Jadilah kita orang-orang yang merugi. Skor akhir yang sebenarnya sudah bertambah, dengan sedekah 2,5% itu, malah harus melorot, harus tekor, sebab kita tidak menjaga diri. Perbuatan buruk kita, memakan perbuatan baik kita. Tambahi terus amaliyah kita, dan kurangi terus maksiat kita

Kalikan Dari Target Supaya Beroleh Lebih.

Saudaraku, ini menyambung tulisan diatas. Kasusnya, tetap sama: Seorang karyawan dengan gaji 1jt, yang punya pengeluaran 2jt. Bila karyawan tersebut mau hidup tidak pas-pasan, dan mau dicukupkan Allah, dia harus menjaga dirinya dari keburukan, dan terus memacu dirinya dengan berbuat kebaikan dan kebaikan. Kemudian, lakukan sedekah 10% bukan dari gajinya, melainkan dari pengeluarannya.

Sedekah 10% dari 2jt (bukan dari gajinya yang 1jt), maka akan didapat angka sedekah sebesar Rp. 200rb. Gaji pokok sebesar 1jt, dikurang 200rb, menjadi tinggal 800rb. Lihat, angka tercatatnya tambah mengecil, menjadi tinggal 800.000. Tapi di sinilah misteri sedekah yang ajaib. Yang 200rb yang disedekahkan, akan dikembalikan sepuluh kali lipat oleh Allah, atau menjadi 2jt. sehingga skor akhirnya bukan 800rb, melainkan 2,8jt.

Dengan perhitungan di atas, kebutuhannya yang 2jt, malah terlampaui. Dia lebih 800rb. Subhanallah. Apalagi kalau kemudian dia betul-betul mau memelihara diri dari maksiat dan dosa, dan mempertahankan perbuatan baik, maka lompatan besar akan terjadi dalam hidupnya. Sebuah perubahan besar, sungguh-sungguh akan terjadi. Baik kemuliaan hidup, kejayaan, kekayaan, hingga keberkahan dan ketenangan hidup. Sekali lagi, subhanallah.

***

Artikel Ustadz Yusuf Mansur

Tentang Kami

Kami adalah Media sosialisasi dan informasi online seputar haji, berlokasi di Bandung dan saat ini kami sedang mempersiapkan informasi dan sosialisasi berkaitan dengan Ibadah Haji sehingga melaksanakan Ibadah haji bagi orang yang baru pertama kali menjadi akan lebih mudah lagi.