8 Hal yang Perlu Dituntaskan Sebelum Berangkat Haji

berhaji.com

Ibadah haji merupakan salah satu ibadah berat yang dilakukan seorang Muslim. Tak sembarangan, hanya orang yang terpanggil yang pada akhirnya bisa menginjakkan kaki di tanah suci dan beribadah di sana. Oleh karena itu, berbagai persiapan fisik, mental maupun spiritual perlu kita selesaikan sebelum melangsungkan ibadah haji.

Berikut ini 8 hal yang perlu dituntaskan sebalum berangkat untuk menunaikan ibadah haji.

Taubat

“Labbaik” yang merupakan sebuah seruan saat menjalankan ibadah haji memiliki arti kata “aku datang memenuhi panggilanMu.” Maka sebelum kita datang memenuhi panggilan Yang Maha Suci dan berseru kepadaNya, alangkah baiknya jika kita bertaubat dulu akan dosa kita yang lalu, baik yang kita sadari ataupun tidak.

Melunasi hutang

Coba ingat-ingat lagi, apakah kita masih memiliki hutang kepada kerabat, teman atau saudara, meskipun jumlahnya sangat kecil. Lunasi dulu segala jenis hutang, baik dalam bentuk uang, barang maupun janji. Melunasi hutang juga bukan hanya hutang pada teman atau saudara, tapi juga hutang pada bank, pinjaman yang belum lunas, termasuk cicilan KPR.

Mengembalikan titipan-titipan

Sama halnya seperti hutang, titipan adalah hak orang lain, amanat yang perlu kita sampaikan pada tangan orang yang berhak menerimanya dengan selamat sesuai bentuknya semula.

Mengembalikan hak orang lain

Sebelum bertamu ke rumah Allah, bersihkan diri kita dari berbagai racun seperti mengambil hak orang lain atau mendzolimi orang lain. Jika masih ada dalam harta kita hak orang lain yang pernah kita ambil, maka kembalikanlah. Hal ini juga termasuk membayar berbagai zakat untuk setiap harta kita, karena selalu ada hak orang lain dalam setiap penghasilan dan harta kita. Inilah yang selalu diajarkan Islam, yaitu membagi harta kita dengan mereka yang fakir dan miski melalui zakat.

Mengikhlaskan niat hanya untuk Allah

Lupakan berbagai niat lainnya seperti ingin mendapatkan gelar haji, ingin dihormati orang lain, apalagi sekedar ingin berfoto di depan Ka’bah untuk bisa diunggah di media sosial. Ikhlaskan niat hanya untuk beribadah kepada Allah semata dan memenuhi panggilanNya.

Pamit dengan keluarga

Tak hanya dengan keluarga dekat, tak ada salahnya mengabari seluruh keluarga besar untuk berpamitan dan memohon do’a agar menjadi haji mabrur. Selain itu, berpamitan jugalah pada tetangga dengan mengadakan syukuran kecil untuk berpamitan dan memohon do’a.

Sholat dua rakaat di rumah

Sebelum berangkat bersama rombongan, sempatkanlah untuk shalat dua rakaat di rumah dengan membaca surat Al-Kafirun dan Al-Ikhlas.

Berjanji kepada diri sendiri

Berjanjilah kepada diri sendiri untuk menghindari perbuatan maksiat di tanah suci, betul-betul menghormati sunnah-sunnah Rasulullah selama di tanah suci, menjadikan tujuan dan segenap pikiran hanya untuk mendapatkan ridha Allah, menggunakan semua kesempatan hanya untuk beribadah semata, serta meninggalkan perdebatan, pertikaian, keributan dan berbagai konflikdengan orang lain selama di tanah suci.

Tips Agar Tidak Tersesat Saat Menunaikan Ibadah Haji Di Masjidil Haram

berhaji.com

Pada saat menunaikan ibadah haji, tak jarang kita terpisah dari rombongan, apalagi ketika kita terlalu khusyuk beribadah dan kehilangan jejak rombongan. Di saat-saat terntu kita juga bisa mencari waktu untuk datang ke Masjidil Haram lebih awal untuk bisa beribadah lebih lama dan mendapat tempat di shaf depan.

Nah, agar kita tidak tersesat di Masjidil Haram pada saat menunaikan ibadah haji, ikut tips-tips berikut ini.

Pertama, jangan lupakan kartu identitas jemaah haji Indonesia Anda, biasanya berupa gelang jamaah, gelang maktab dan ID card jamaah. Sehingga jika Anda hilang, petugas bisa mendeteksi rombongan Anda.

Kedua, selalu bawa serta identitas hotel berupa kartu nama yang berisi alamat dan contact person. Jika Anda tersesat, Anda bisa minta pada petugas untuk ditunjukkan ke alamat hotel.

Ketiga, usahakan untuk tidak terpisah dari rombongan, setidaknya selalu bersama salah satu teman dari rombongan sehingga kita tidak terpisah seorang diri.

Keempat, saat akan memasuki Masjidil Haram, perhatikan nomor pintu masuk, ingat-ingat nomornya atau bisa juga dicatat atau difoto sehingga kita bisa keluar melalu pintu tempat kita masuk.

Kelima, jika menggunakan bus shalawat, perhatikan stiker bus karena ada 12 rute yang mempunyai stiker dan nomor berbeda.

Semoga bermanfaat!

8 Hal yang Harus Disiapkan Matang Sebelum Berangkat Umrah atau Haji

berhaji.com

Ibadah umrah dan haji merupakan ibadah yang membutuhkan banyak persiapan. Bukan hanya persiapan materi, namun juga persiapan fisik dan mental agar semua ibadah dapat dijalankan dengan baik. Berikut 8 hal yang perlu disiapkan sebelum berangkat umrah dan haji.

Niat

Luruskan niat hanya untuk beribadah dan memenuhi panggilan Allah, kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di Tanah Suci kelak. Lupakan niat-niat lainnya seperti ingin pamer foto umrah di Mekkah atau ingin mendapatkan gelar haji untuk mendapatkan derajat tinggi di masyarakat, fokuskan niat hanya untuk beribadah dengan ikhlas.

Persiapan Fisik

Agar semua rukun haji bisa dilaksanakan dengan baik, pastikan Anda juga melakukan beberapa latihan fisik seperti berjalan pagi dan sore atau jogging jika memungkinkan. Lakukan juga olahraga ringan dan jaga kesehatan agar tetap fit.

Persiapan Ilmu

Manasik haji saja tak cukup untuk membekali kita dengan ilmu-ilmu ibadah haji. Bacalah buku saku yang diberikan agen haji dengan baik, juga baca beberapa artikel dan ayat-ayat Al-Qur’an mengenai ibadah haji, agar semua ibadah dapat dilakukan dengan nilai yang tinggi.

Membuat Target Ibadah

Tidak ada salahnya membuat target ibadah seperti khatam Qur’an minimal sekali selam berhaji atau selalu sholat berjama’ah di masjid. Namun, buatlah target yang wajar dan jangan sampai target tersebut justru membuat kita mengabaikan ibadah lain atau membuat ibadah menjadi tidak khusyuk karena terburu-buru.

Persiapkan Mental

Siapkan juga mental Anda untuk menghadapi berbagai hal, misalnya fasilitas toilet, menghadapi kelakuan orang dan juga menghadapi hal lainnya. Jangan sampai kita banyak mengeluh karena memiliki ekspektasi yang tinggi dalam beribadah haji.

Manajemen Waktu

Pelajari juga kebiasaan di Mekkah dan Madinah untuk dapat memanajemen waktu. Misalnya datang lebih awal sebelum sholat wajib untuk thawaf dan mencari tempat untuk sholat. Anda bisa menanyakan dan mengonsultasikan hal ini pada agen penyedia travel umrah dan haji yang Anda ikuti.

Packing

Jangan sampai ada barang bawaan yang tertinggal, terutama yang sering Anda butuhkan. (Baca: Tips Packinh Umrah dan Haji)

Menjalin Silaturahmi

Di Tanah Suci nanti, semua orang dari berbagai belahan dunia akan tumpah menjadi satu untuk memenuhi panggilan Allah. Anda bisa memanfaatkan kesempatan ini untuk menjalin silaturahmi dengan saudara sesama Muslim dari berbagai penjuru dunia, untuk menambah pengalaman dan juga ilmu dalam beribadah.

Pria Ini Rela Berjalan Sejauh 5.700 Kilometer Demi Menunaikan Ibadah Haji

berhaji.com

Dahulu kala, orang menunaikan haji dari berbagai negara dengan menggunakan hewan tunggangan atau kapal laut. Di masa kini, mungkin hampir semua orang dari berbagai negara menuju Mekkah dengan menggunakan pesawat.

Namun berbeda dengan yang dilakukan Senad Hadzic, ia rela berjalan sejauh 57.000 kilometer dari tempat tinggalnya di Bosnia menuju Mekkah untuk dapat menunaikan ibadah haji.

Tepatnya pada Desember 2012 lalu, Senad Hadzic memulai perjalanannya melewati enam negara yaitu Turki, Yordania, Suriah, Serbia, Bulgaria hingga akhirnya tiba di Arab Saudi. Senad mengaku tidak memiliki yang yang cukup untuk melakukan perjalanan dengan pesawat, sehingga ia memutuskan untuk berjalan kaki.

Dengan berbekal 200 euro, Senad Hadzic nekat berjalan dari ribuan kilometer karena cintanya yang besar kepada Allah.

Kumpulan Foto Berhaji Di Masa Lalu yang Ternyata Lebih Menyejukkan Dipandang Mata

Berhaji.com

Tanah suci Mekkah dan Madinah telah mengalami berbagai kemajuan seiring perkembangan zaman. Bahkan, Masjidil Haram juga saat ini tengah mengalami perluasan untuk desain terbaru di tahun 2020 mendatang.

Berbagai kemewahan seperti lapisan marmer dan emas dapat kita lihat hampir di setiap sudut Mekkah dan Madinah, terutama di tempat-tempat melaksanakan ibadah haji. Pembangunan besar-besaran ini juga disebut-sebut sebagai salah satu tanda kiamat, sebagaimana disabdakan Rasulullah Salallahu ‘Alaihi wa Salam.

Ibnu Syaibah meriwayatkan dengan sanadnya kepada Ya’la ibn Atha’ dari ayahnya, dia berkata: pada suatu hari, aku menuntun tali kekang onta Abdullah ibn Amr, lalu beliau berkata: “Bagaimana pendapat kalian, jika kalian hancurkan Ka’bah dan tidak menyisakan ada batu yang masih menumpuk? Mereka menjawab: oleh kita yang beragama Islam? Beliau menjawab: benar, kalian yang beragama Islam. Seseorang bertanya: lalu apa lagi? Beliau menjawab: kemudian ia akan dibangun dengan yang lebih bagus darinya. Apabila kalian telah melihat galian-galian besar di Makkah, dan bangunan-bangunannya menjulang tinggi melebihi pegunungannya, maka ketahuilah bahwa kiamat telah mendekatimu”(HR. Ibnu Abi Syaibah dan al-Arzaqi)

Mekkah dan Madinah di masa lalu memang tidak semegah dan mewah sekarang, namun ternyata lebih sejuk dipandang mata dengan berbagai kesederhanaannya.

Menapaki Madrasah Pendidikan Keimanan dengan Berhaji

berhaji.com

Sahabatku kaum muslimin, ibadah haji merupakan madrasah yang dipenuhi berkah, media pembelajaran untuk melatih jiwa, menyucikan hati, dan memperkuat iman. Kaum muslimin akan menjumpai berbagai pelajaran dan faedah yang terkait dengan akidah, ibadah, dan akhlak di tengah-tengah pelaksanaan haji mereka.

Dapat dipastikan, bahwa ibadah haji merupakan madrasah pendidikan keimanan dimana lulusannya adalah para hamba-Nya yang beriman dan bertakwa, mereka yang mereguk manfaat dari ibadah tersebut adalah para hamba Allah yang diberi taufik oleh-Nya. Allah ta’ala berfirman,

وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالا وَعَلَى كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ (٢٧)لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ (٢٨)

“Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh, supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka …” (Al Hajj: 27-28).

Berbagai manfaat, faedah, dan pelajaran berharga yang terdapat dalam ibadah haji tidak mungkin untuk dihitung, karena sebagaimana di dalam ayat di atas, Allah berfirman dengan kata “مَنَافِعَ” yang merupakan bentuk plural dari kata “منفعة” yang disebutkan secara indefinitif (nakirah) sehingga mengisyaratkan betapa banyak dan beragam manfaat yang akan diperoleh dari ibadah haji.

Tujuan ibadah haji ini adalah agar berbagai manfaat tersebut diperoleh oleh mereka yang melaksanakannya, karena huruf lam pada firman-Nya “لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ” berfungsi untuk menerangkan alasan yang terkait dengan firman-Nya yang sebelumnya, yaitu ayat “وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالا وَعَلَى كُلِّ ضَامِرٍ”, sehingga redaksi ayat tersebut bermakna, “(Wahai Muhammad), jika engkau menyeru mereka untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu, baik dengan berjalan kaki dan berkendara untuk memperoleh berbagai manfaat haji.”

Oleh karena itu, mereka yang diberi taufik untuk melaksanakan ibadah ini hendaklah bersemangat dengan sungguh-sungguh untuk memperoleh manfaat tersebut, di samping dirinya akan memperoleh pahala yang besar dan pengampunan dosa dari Allah ta’ala. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ حَجَّ هَذَا الْبَيْتَ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ

“Barangsiapa yang berhaji di rumah ini, kemudian tidak berbuat keji dan maksiat, niscaya dia akan kembali dalam kondisi seperti tatkala dirinya dilahirkan oleh ibunya (tidak memiliko dosa apapun).”[1]

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

تَابِعُوا بَيْنَ الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ فَإِنَّهُمَا يَنْفِيَانِ الْفَقْرَ وَالذُّنُوبَ كَمَا يَنْفِي الْكِيرُ خَبَثَ الْحَدِيدِ

“Laksanakanlah haji dan umrah, karena keduanya menghapus kefakiran dan dosa sebagaimana api menghilangkan karat dari besi.”[2]

Tentunya, seorang yang memperoleh keuntungan ini kembali ke negaranya dengan kondisi yang suci, jiwa yang bersih, dan kehidupan baru yang dipenuhi dengan cahaya iman dan takwa, penuh dengan kebaikan, keshalihan, serta berkomitmen dan konsisten menjalankan ketaatan kepada Allah ta’ala.

Ulama telah menyebutkan bahwa apabila keshalihan dan kesucian jiwa ini terdapat dalam diri hamba, maka hal tersebut merupakan tanda bahwa Allah telah ridha kepadanya dan ciri bahwa amalannya telah diterima oleh-Nya. Apabila kondisi seorang yang telah melaksanakan haji menjadi baik, dengan berpindah dari kondisi yang buruk menjadi baik, atau dari kondisi baik menjadi lebih baik, maka hal ini merupakan tanda bahwa hajinya bermanfaat, karena balasan dari suatu kebaikan adalah tumbuhnya kebaikan sesudah kebaikan yang pertama sebagaimana firman Allah ta’ala,

هَلْ جَزَاءُ الإحْسَانِ إِلا الإحْسَانُ (٦٠)

“Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).” (Ar Rahman: 60).

Dengan demikian, barangsiapa yang melaksanakan ibadah haji dengan baik dan bersungguh-sungguh menyempurnakannya, serta menjauhi berbagai hal yang mampu membatalkan dan mengurangi pahala berhaji, tentulah dia akan keluar dari madrasah tersebut dengan kondisi yang lebih baik.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ

“Tiada balasan bagi haji mabrur melainkan surga.”[3]

Tentu setiap orang yang berhaji ingin dan berharap ibadah haji yang dikerjakannya menjadi haji yang mabrur dan segala upaya yang dikerahkannya mendapat pahala dan diterima di sisi-Nya. Tanda yang jelas bahwa ibadah haji yang dikerjakan mabrur dan diterima adalah ibadah haji tersebut  dilaksanakan ikhlas mengharap Wajah Allah ta’ala dan sesuai dengan tuntunan rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kedua syarat ini merupakan syarat mutlak agar suatu amal ibadah diterima di sisi-Nya, di samping itu (keduanya harus ditunjang dengan tanda yang lain, yaitu) kondisi seorang yang berhaji menjadi lebih baik daripada sebelumnya.

 

Haji Mabrur Dambaam Setiap Ummat Muslim

berhaji.com

Sahabatku yang di rahmati oleh allah swt, mengkaji pembahasan yang sebelumnya sudahkah anda pahami makna dari berhaji? dalam melaksanakan haji yang perlu kita garis bawahi yaitu kata mabrur.  Haji mabrur yaitu melaksanakan semua proses haji dengan khusu semata-mata hanya ingin mendapatkan ridho allah swt dan yang terpenting setelah kita pulang ke kampung halaman masing-masing mendapatkan predikat haji yang menjadi panutan bagi setiap orang sekitar.

Gelar haji mabrur yang diberikan Allah SWT tentu menjadi dambaan setiap umat muslim diseluruh dunia yang sudah melaksanakan ibadah haji, atau yang sedang melaksanakan ibadah haji, begitu juga bagi yang sudah berniat untuk berhaji. Sahabatku tentu kita semua ingin mendapatkan gelar tersebut, namun sahabatku sudahkah kita mengikuti segala ketentuan yang sebenarnya untuk meraih gelar haji mabrur…

Sahabatku ketika kita ingin meraih kebaikan tentunya membutuhkan proses yang panjang dan tidak mudah akan banyak hal yang perlu kita pahami dan terapkan, tentunya segala sesuatu akan menjadi sulit dan melelahkan ketika niat kita kurang kokoh, oleh karena itu segala hal yang baik dan yang buruk selalu berawal dari niat yang tertanam, karena sesungguhnya niat adalah awal dari hasil yang baik begitu juga hasil yang tidak baik.

Menanamkan niat yang baik tentu bukan hal yang mudah, namun kita bisa memulai niat baik tersebut dengan berkomunikasi dengan Allah SWT yang maha membolak-balikkan hati dan, yang maha menata hati setiap manusia awali semuanya dengan mendekatkan diri pada sang kholik maka insyaallah segala hal akan menjadi mudah begitu juga dengan niat kita yang tersembunyi dalam hati akan terungkap dengan hal yang baik dan menghasilkan kebaikan pula.

Sahabatku bagaimana sudah mulai tergugat untuk mulai dan menanamkan sejak dini niat yang baik, mengokohkan diri untuk meraih ridho Allah SWT dengan melaksanakan segala perintahnya dan amlan-amalan yang baik, begitu juga dengan niat berhaji dengan tujuan meraih ridho Allah SWT dan meraih gelar terbaik dari Allah SWT yaitu haji mabrur.

Sahabatku yang selalu ada dalam rahmat Allah, begitu banyak kebaikan yang tercipta karena niat yang baik dan keinginan yang kuat untuk meraih kebaikan, dan bukan hal yang sulit pula untuk meraihnya saat niat kita berawal dari LILAHITA’LA maka akan muncul kebaikan-kebaikan pula, bagi para sahabatku yang sudah berpulang dari berhaji mari mulai tanamkan kebaikan-kebaikan dan amalan-amalan shaleh agar ibadah yang terlaksana berbuah baik dan bermanfaat bagi kita semua. amin

Sudahkah Anda Mempersiapakan diri dan Menata Hati Sebelum Berhaji?

berhaji.com

Sahabatku yang dirahmati oleh Allah swt, perlu kita ketahui bawasanya dalam berhaji diperlukan kesiapan spiritual, untuk menunjang kematangan spiritual banyak beberapa hal yang harus kita pahami dan dikaji lebih luas. Pada umumnya kesiapan spiritual berhaji yang seringkali dikaji dan dipelajari hanya mengenai manasik haji,pemahaman ilmu fiqih, dan menjelang keberangkatan baru mulai mengikuti pelatihan tatacara melakukan ritual haji, hal tersebut memang sudah benar dan harus dilakukan pada saat kaum muslim ingin berhaji.

Tapi coba pikirkan kembali sudahkah kita mempersiapakan diri dan menata hati sebaik mungkin….? atau sudahkah terbentuk niat kokoh berhaji hanya untuk meraih ridho allah dan menyempurnakan rukun islam….? sahabatku kaum muslim diseluruh dunia coba kita renungkan terkadang kita terbawa oleh kenikmatan duniawi semata, dan terbawa arus kehidupan yang sudah serba modern saat orang-orang ingin memanfaatkan materinya hanya untuk pencitraan saja dan meraih berbagai pujian yang dirasanya dapat memperbaiki diri. Bahkan saat ini mulai banyak yang ingin pergi haji dengan tujuan dipandang kaya dan pulang dengan gelar haji, selain itu ada yang berhaji hingga berkali-kali hanya karna ingin mendapat berbagai pujian dari banyak orang atau ingin dipandang baik dan hebat karna uang hasil kerjanya digunakan beribadah.

Kaum muslimin tentu kita tidak mau menjadi hamba allah yang haus akan pujian dan citra baik yang terkadang sudah menjadi kebutuhan, dan malah membuat ibadah kita menjadi nol besar dihadapan Allah. mari sahabatku kita mulai renungkan diri dan mawas diri kita bersihkan hati terlebih dahulu dari rasa ria karna sesungguhnya allah tidak suka pada umatnya yang ria, mulai saat ini tanamkan dalam diri hati yang bersih niat yang kokoh beribadah hanya untuk meraih ridho allah semata jangan tertipu dengan bayang-bayang pujian yang hanya datang sementara namun hal tersebut dapat memutus hubungan baik kita dengan Allah SWT.

Berhaji salah satu rukun islam yang ke lima tentu Allah sangat senang ketika melihat umatnya berniat untuk melaksanakan salah satu ibadah tersebut, dan allah akan lebih senang saat umatnya beribadah tanpa didasari rasa ria, memang bukan hal yang mudah untuk menghindari rasa ria karna kita hanya manusia biasa yang terkadang haus akan pujian dan ingin selalu meraih citra baik, namun kita akan menjadi lebih hebat dihadapan sang pencipta kita ketika kita mampu meredan rasa egois kita dan membersihkan hati dari rasa ria.

Sahabatku itu lah hal yang paling utama ketika kita memutuskan untuk berhaji, dan bagaimana cara kita mengelola hati sebaik mungkin agar tetap bersih dan terhindar dari rasa ria, dan alangkah baiknya ketika kita ingin berhaji persiapkan spiritual kita sebaik mungkin agar ibadah haji dapat terlaksana sesuai syariat dan ketentuan islam yang sesungguhnya, dan mari kita raih gelar terhebat dari Allah SWT yaitu haji mabrur.

3 Pilar Penting Yang Wajib Anda Ketahui Sebelum Berhaji

Sahabatku seluruh umat muslim didunia, sudah paham kan mengenai beberapa persiapan berhaji..? jika dikaji kembali ada tiga hal terpenting dalam berhaji yaitu kemampuan materi,mental,dan spiritual. Mari kita lanjutkan ke persiapan berikutnya yang tidak kalah penting dan harus kita pahami secara matang agar niat berhaji semakin mantap.

Jika dikaji dari istilah berhaji dibagi menjadi beberapa istilah berikut, yang pertama sering kali kita mendengan kata haji atau kata lain dari berkunjung ke baitullah untuk melakukan beberapa amalan thawaf,sa’i dan wukuf di arafah serta amalan lainnya pada masa tertentu demi memenuhi panggilan allah. Selain itu sering kaliyang kita dengan selain berhaji yaitu UMRAH merupakan hal yang sama yaitu berkunjung ke baitullah untuk melakuakn thawaf,sa’i dan cukur demi mengharap ridho allah.

Selain kedua istilah tersebut ada beberapa istilah lain yang mungkin sering kita dengar namun kurang dipahami, oleh karna itusedikitnya akan saya coba jelaskan, diantaranya ada istilah ISTITHA’AH yang artinya mampu yaitu mampu melaksakan ibadah haji atau umrah ditinjau dari segi jasmani, rohani dan ekonomi. Selain itu ada yang dinamakan rukun haji yang merupakan rangkaian amalan yang harus dilakuakn dalam ibadah haji dan tidak dapat diganti dengan yang lain walaupun dengan dam, jika rukun haji ditinggalkan maka tidak sah hajinya.

Selain itu adaistilah lain yaitu wajib haji yang merupakan rangkaian amalan yang harus dikerjakan dalam ibadah haji namun bila tidfak dikerjakan karena udzur syar’i sah hajinya akan tetapi harus membayar dam. Kemudian BADAL yaitu mengganti atau menukar, dalam kaitan dengan ibadah haji atau umrah adalah menggantikan orang lain karena udzur atau tealh meninggal dunia, untuk mengerjakan haji atau umrah atau juga menolong orang lain dalam hal melontar jumroh.

Setelah berangkat tentu disana kita akan melihat yang dinamakn KA’BAH sudah paham kah mengenai KA’BAH …? mari kita bahas lebih lanjut, KA’BAH merupakan rumah yang berbentu persegi empat atau kubus, dan menjadi kiblat bagi seluruh umat muslim ketika mengerjakan ibadah shalat. Berlanjut ke beberapa istilah berikutnya yaitu ada yangdinamkan MIQAT ZAMANI yang merupakan batasan waktu melaksanakan haji, menurut jumhur ulama MIQAT zamani mulai tanggal 1 syawal sampai dengan terbit fajar 10 dzulhijah. Sedangkan MIKAT MAKANI merupakan batasan tempat untuk mulai melaksanakan ihram haji atau umrah.  Berikutnya ada istilah IHRAM yaitu niat ketika memulai mengerjakan ibadah haji atau umrah dan orang yang berpakaian ihram disebut muhrim namun hal tersebut sering tertukar dengan istilah mahram oarang yang haram untukdinikahi.

Kemudian sering kali kita mendengan beberapa istilah lain yang mungkin belum kita pahami lebih luas, mari kita telusuri istilah penting lainnya mengenai berhaji, THAWAF merupakan mengelilingi ka’bah sebanyak 7 kali, dimana ka’bah selalu ada disebelah kirinya dimulai dan diakhiri disudut rukun sejajar hajar aswad. Kemudian ada istilah THAWAF IFADAH yaitu thawaf rukun haji yang harus dilaksanakan tidak boleh ditinggalkan dalam pelaksanaan ibadah haji. THAWAF WADA ialah thawaf yang dilaksankan sebagai penghormatan akhir sebelum meninggalkan makkah, thawaf wada hukumnya wajib dalam pelaksanaan haji. THAWAF QUDUM ialah thawaf yang dilaksanakan sebagai penghormatan pada saat pertama masuk Masjidil haram, thawaf qudum hukumnya sunah. Bagi jamaah haji yang mengambil haji tamattu tawaf qudumnya sudah termasuk dalam tawaf umrah.

Sudahkah anda berhaji… ? dan apa yang anda ketahui tentang berhaji…?

Ketika mendengar kata berhaji pada umumnya yang pertama kali kita pikirkan adalah kesiapan secara materi, karena terkadang yang kita pikirkan adalah bagaimana kita bisa melakukan persiapan untuk berhaji jika secara materi belum siap, dan jika materi sudah memadai maka baru mulai memikirkan mengenai niat untuk melaksanakan ibadah haji. Realitanya yang kita pikirkan hanya kesiapan materi saja, tampa kita telusuri lagi apa hal utama yang seharusnya kita perhatikan jika kita berniat untuk memulai menanamkan niat berhaji.

Oleh karena itu mari kita kembangkan pemahaman kita mengenai berhaji, dikaji dari definisi dan latar belakang berhaji maka dapat disimpulkan, berhaji merupakan rukun (tiang agama) islam yang kelima setelah syahadat,shalat,zakat, dan puasa. Menunaikan ibadah haji merupakan ritual tahunan yang dilakukan oleh umat muslim diseluruh dunia yang mampu secara materi dan fisik. Berdasarkan definisi diatas benar bahwa berhaji tentu harus ada kesiapan secara materi, namun jika kita hanya berpikir mengenai materi tidak semua umat muslim dikategorikan mampu secara materi, bahkan sangat banyak umat muslim yang rendah secara materi. Melihat realita tersebut tentu banyak umat muslim yang menunda niatnya untuk berhaji, namun apakah kita akan terhenti dan mundur hanya karna masalah materi..?

Setiap umat muslim tentu mengetahui rukun islam yang kelima ini, dan bagi umat muslim yang ingin menyempurnakan rukun islam yang kelima tentu mempunyai keinginan yang sangat besar untuk mengunjungi kota makkah dan melaksanakan ibadah haji, dan jika hambatannya materi maka mari kita cari solusinya terlebih dahulu agar niat kita berhaji semakin mantap.

Allah SWT sungguh maha kaya dan maha segalanya mungkin kita sering mendengan kata kun faya kun yang artinya tidak ada yang tidak mungkin, dan jika ada niat yang kuat dan kokoh maka segala kesulitan akan menjadi mudah untuk dijalani, oleh karena itu mari kita kuat kan terlebih dahulu niat kita untuk berhaji. Seperti kita ketahui bumi ini sangat luas dan kaya akan isinya dan tentu hal yang mudah bagi umat muslim untuk meraih materi, naun terkadang kita hanya mengejar kekayaan duniawi saja tampa memahami dan mempelajari cara dan manfaatnya.

Sahabatku mari kita gali ilmu-ilmu yang telah allah paparkan dalam al-qu’an dan hadist, allah sangat senang ketika umatnya meminta padanya, namun terkadang yang kita ketahui hanya meminta dan jika tidak terpenuhi maka kita mulai malas dan mundur, dan pada ahirnya timbul rasa putus asa. Dan sesungguhnya allah sedang menguji atau menunda permintaan umatnya untuk waktu yang lebih tepat, wahai sahabatku allah maha baik tentu allah akan memberikan apa yang kita pinta terutama yang berhubungan dengan aqidah atau untuk menyempurnakanya  namun allah maha tau apa yang terbaik dan apa yang kita butuhkan, dan tugas kita hanya berusaha dan bertawakal.

Sekilas dari pembahasan tersebut dapat disimpulkan bahwa ketika kita memiliki niat atau keinginan untuk meraih ridho allah dan menyempurnakan aqidah tentu allah akan mempermudah jika ada kesungguhan, niat yang kuat dan kerja keras. Untuk seluruh umat muslim yang sudah memiliki keinginan berhaji mari kita mulai dengan menanamkan keyakinan yang kokoh, dengan modal kerja keras dan kesungguhan maka allah akan mempermudah masalah kita dalam meraih kesiapan secara materi.

sekilas pembahasan mengenai berhaji terkait kesiapan materi, jika kita telusuri lebih dalam ternyata berhaji tidak hanya mengutamakan kematangan materi saja namun masih banyak poin-poin lain yang perlu kita ketahui. Ibadah haji memerlukan persiapan fisik,mental yang sungguh-sungguh dan tidak hanya diperlukan ilmu mengenai manasik haji, ilmu fiqih dan lain-lain, tapi juga pengetahuan mengenai bagaimana melakukan ritual tersebut, mulai persiapan ditanah air, apa dan bagaimana selama di asrama haji, di pesawat, di bandara bahkan hingga bagaimana menyiasati situasi di tanah suci yang kadang-kadang luar biasa.

penambahan syarat” bagi yang sudah mampu” untuk wajib pergi haji, merupakan gambaran bahwa: ibadah haji itu tidak hanya disyaratkan mampu secara material (ONH) tapi juga mampu secara fisik dan mental-spiritual, juga tersedianya sarana pendukung yang memadai seperti kendaraan, akomodasi, pemondokan, makan-minim, transportasi, dan lain-lain. Termasuk didalam syarat “ mampu ” tersebut adalah : adanya situasi yang kondutif atau aman selama pelaksanaannya.