Sudahkah Anda Melakukan Persiapan Secara Mental untuk berhaji?

Sahabatku pemuda muslim Sudahkah anda melakukan persiapan secara mental untuk berhaji? realitanya yang sering kali kita lihat persiapan berhaji direncanakan pada usia dewasa atau setelah mapan bahkan terkadang kita mencanangkan rencana berhaji setelah lansia,hal  tersebut terjadi karna pola pikir kita mengenai kematangan materi dan mental akan terbentuk diusia kita yang sudah dewasa atau menjelang usia 40 tahun hingga 50 tahun.

Pola pikir yang terbentuk demikian memang benar namun pernah kah kita berpikir menjelang usia tua merupakan masa menurunnya daya ingat, fisik mulai lemah, kemampuan berpikir rendah bahkan terkadang penyakit pun mulai menyerang, memang yang kita lihat pada umumnya menjelang tua harta mulai menimbun dan masa kerja pun mulai berhenti saat dimana mulai rehat dengan segala aktivitas pekerjaan. Jika dikaji secara materi tentunya dapat dikategorikan sudah matang secara materi dan siap untuk melaksankan ibadah haji, akan tetapi coba kita perhatikan secara mental usia tua kita mulai mengalami penurunan secara fisik dan mental apakah hal tersebut dapat mempengaruhi iabadah berhaji ? jika dikaji lebih dalam tentu saja hal tersebut akan menjadi hambatan ketika kita melaksankan ibadah haji.

Berhaji itu diperlukan kesiapan materi, mental, spiritual, diusia tua saya yakin memang secara materi dapat dikategorikan matang dan mampu, secara mental siap secara spiritual pun siap, namun jika dikaji lebih jauh secara mental diusia tua mulai ada penurunan mental mulai mudah merasa takut dalam melakukan hal-hal yang baru, mulai mudah merasa takut dalam melakukan hal-hal yang tidak biasa seperti menghadapi iklim cuaca yang berbeda, orang-orang yang berbeda, dan hambatan-hambatan lainnya yang dihadapi saat melaksanakan ibadah haji.

Sahabatku jika rencana berhaji diusia tua banyak hambatan, alangkah baiknya kita para kaum muda mulai merencanakan berhaji sejak dini, karna saat ini mulai banyak para umat muslim muda yang sudah sukses dengan usahanya atau mapan dalam pekerjaannya, tapi terkadang yang pertama kali yang dipikirkan hanya investasi untuk hal-hal lain sedangkan rencana haji dicanangkan setelah menginjak usia tua. Memang saat ini mulai banyak pemuda yang berkeinginan untuk berangkat ke mekkah tapi realitanya hanya ingin  berumroh dengan niat ingin pencitraan, jalan-jalan, agar keinginannya terkabul tanpa ada makna ibadah ataupun pemahaman spiritual yang lebih baik. Apakah hal tersebut menjadi ibadah..? atau kah hanya menghabiskan uang semata..? jika dipikir kembali hal tersebut hanya perbuatan mubah saja, oleh karena itu mari kita mulai tanamkan niat berhaji sesuai kentuan yang sebenarnya sejak dini.

Kesiapan secara mental alangkah baiknya mulai ditanamkan sejak dini diusia muda, untuk para sahabatku yang sudah sukses dan mampu secara materi mari bergegas dan tanamkan niat berhaji yang kuat dan buat perencanaan berhaji sebaik mungkin jangan sampai kalah dengan saudara-saudara kita yang sudah lansia. Kita bentuk pemuda-pemuda sukses secara materi dan secara spiritual.

Pengertian Sa’i dan Proses Melaksanakan Sa’i

 

Apabila telah melaksanakan thawaf, hendaknya keluar melalui Bab (pintu) Ash-Shafa, menuju bukit Shafa lalu menaiki beberapa anak tangganya.[i]

Diriwayatkan bahwa, “Rasulullah Saw. menaiki bukit Shafa sehingga dapat melihat Ka’bah.”

Meskipun demikian, sa’I cukup dimulai dari kaki bukit. Menaikinya lebih dari itu merupakan sesuatu yang mustahab (dianjurkan).[ii]

 

Pengertian Sa’I

Sa’i ialah berjalan dari buki Safa ke bukit Marwah dan sebaliknya, sebanyak tujuh kali yang berakhir di bukit Marwah.[iii] Perjalanan dari bukit Safa ke bukit Marwah dihitung satu kali dan juga dari bukit Marwah ke bukit Safa dihitung satu kali.

 

Proses Melaksanakan Sa’I

Pada mulanya, hendaknya sa’I dimulai dengan langkah-langkah biasa, sampai dekat dengan tanda pertama berwarna hijau, kira-kira sejauh enam hasta. Dari tempat itu, hendaknya jamaah haji mempercepat langkah atau berlari-lari kecil sehingga sampai di tanda hijau yang kedua, kemudian dari sana berjalan kembali dengan langkah-langkah biasa.

Apabila telah sampai di bukit Marwah, hendaknya menaiki bukit Marwah seperti yang dilakukan ketika di bukit Safa. Setelah itu menghadap ke arah Shafa dan berdoa seperti sebelumnya. Dengan demikian, jamaah haji telah selesai melakukan satu kali lintasan sa’i. jika telah kembali lagi ke bukit Shafa, maka dihitung dua kali. Begitulah selanjutnya sampai tujuh kali lintasan.

Dengan selesainya tujuh kali lintasan itu, maka jamaah haji telah menyelesaikan dua hal, yakni thawaf qudum dan sa’i. [iv]

Jika jamaah haji memulai sa’Inya dari Marwah, sa’I dianggap sah akan tetapi harus menambah satu perjalanan lagi sehingga berakhir di Marwah.[v] Bagi jamaah haji yang sakit boleh menggunakan kursi roda.

Adapun persyaratan bersuci dari hadats besar maupun kecil ketika mengerjakan sa’I, hukumnya mustahab (dianjurkan) dan bukan wajib seperti dalam mengerjakan thawaf.[vi]

 

Hikmah Sa’i

Ritual sa’I ini merupakan napak tilas dari upaya yang dilakukan Hajar untuk mencarikan air bagi putranya Ismail yang kehausan.[vii] Hikmah yang dapat diambil dari pelaksanaan sa’I ini diantaranya, bolak-baliknya jamaah haji antara bukit Shafa dan Marwah di halaman Ka’bah, menyerupai perbuatan seorang hamba yang berjalan pulang pergi secara berulang-ulang di halaman rumah sang Raja. Hal itu dilakukannya demi menunjukkan kesetiaannya dalam berkhidmat, seraya mengharap agar dirinya memperoleh perhatian yang disertai kasih sayang.[viii]

 


[i] Al-Ghazali. Rahasia Haji dan Umrah. (Bandung: Karisma, 1997). hlm. 65.

[ii]  Ibid.

[iii] Tri May Hadi.  Kumpulan Doa, Dzikir, dan Tanya Jawab untuk Ibadah Haji dan Umrah. (Jakarta: Kesaint Blanc, 2009). hlm. 140.

[iv] Al-Ghazali. Op.Cit. hlm. 67-68.

[v] Tri May Hadi. Op.Cit. hlm. 141.

[vi] Al-Ghazali. Op.Cit. hlm. 68.

[vii] Maisarah Zas. Haji dan Pencerahan Jati Diri Muslim. (Bandung: Alfabeta, 2005). hlm. 163.

 [viii] Al-Ghazali. Op.Cit. hlm. 136-137.

Mabit di Mina

Mabit di Mina ialah bermalam di Mina pada hari-hari Tasyrik yaitu malam tanggal 11, 12 dan 13 dzulhijjah. Mina menurut Ali Sariarti berarti cinta.

Amalan yang dilakukan di Mina ini adalah melontar tiga jumrah. Hari pertama (hari nahar) melontar jumrah aqabah saja. Hari kedua dan seterusnya melontar jumrah berturut-turut mulai dari jumrah ula, wustha dan terakhir aqabah masing-masing sebanyak tujuh kali. Setiap melontar jumrah mengangkat tangan kanan sambil membaca takbir.[i] Di minalah dilakukan penyembelihan hewan kurban. Menurut riwayat, peristiwa penyembelihan Ismail as. oleh Nabi Ibrahim as. terjadi di Jabal ul Kabsyi di Mina. Bukit tersebut dinamakan demikian karena di atas gunung itulah domba pengganti Nabi Ismail diturunkan.[ii]

Menurut jumhur ulama hukum mabit di Mina adalah wajib, sebagian yang lain mengatakan sunat. Jika tidak melaksanakan mabit di Mina pada seluruh hari Tasyrik, maka diwajibkan membayar dam (satu ekor kambing). Tetapi apabila tidak mabit di Mina hanya satu atau dua malam, maka harus diganti dengan denda, yaitu satu malam 1 mud (3/4 beras atau makanan pokok), dua malam 2 mud (1 ½ kg beras atau makanan pokok), tiga malam membayar dam seekor kambing.[iii]

 

Hukum Mabit di Mina dan di Wilayah Perluasan Mina 

Hukum Mabit jamaah haji di Mina maupun di wilayah perluasan Mina adalah sebagai berikut.[iv]

  1. Hukum Mabit di Mina pada malam hari Tasyrik menurut sebagian besar madzhab Syafi’I, madzhab Maliki dan sebagian ulama madzhab Hambali serta fatwa MUI tahun 1981 adalah wajib. Bagi jamaah haji yang tidak melaksanakan mabit dikenakan dam. Namun ada sebagian dari madzhab Hanafi, sebagian Hambali, sebagian madzhab Syafii dan sebagian madzhab Dhahiri berpendapat bahwa mabit di Mina pada malam hari Tasrik hukumnya sunat.
  2. Mabit di perluasan kemah di kawasan perluasan Mina hukumnya sah seperti di Mina, sebagaimana pendapat para ulama Mekah saat ini dan para ulama lain, juga menurut ijtihad yang didasarkan pada keadaan darurat karena kondisi di Mina saat ini sudah penuh sesak, dan kemah di perluasan Mina masih bersambung dengan perkemahan di Mina, sesuai dengan Keputusan Hasil Mudzakarah Ulama tentang mabit di luar kawasan Mina, tanggal 10 Januari 2001.
  3. Bagi yang berpendapat bahwa mabit di Mina itu wajib dan perluasan kemah di Mina tidak sah untuk mabit, maka pelaksanaan mabitnya masuk ke wilayah Mina kemudian setelah mabit kembali ke kemahnya di perluasan Mina.

 


[i] Maisarah Zas. Haji dan Pencerahan Jati Diri Muslim. (Bandung: Alfabeta, 2005). hlm. 156.

[ii] Ibid.

[iii] Tri May Hadi.  Kumpulan Doa, Dzikir, dan Tanya Jawab untuk Ibadah Haji dan Umrah. (Jakarta: Kesaint Blanc, 2009). hlm. 149-150.

 

[iv] Ibid. hlm. 150–151.

ZIARAH KE MASJID NABAWI DAN MAKAM RASULULLAH

Dari Ibnu Umar, telah bersabda Rasulullah Saw, “Barang siapa berziarah kepadaku setelah aku meninggal, maka seakan-akan ia berziarah pada waktu aku masih hidup.” (HR. Baihaqi, Daruqutni, dan Tabrani)[i]

 

Banyak hadits yang menguraikan keutamaan ziarah. Dalam hadits lain dikatakan, “Barang siapa datang menziarahiku tanpa tanpa tujuan lain kecuali  untuk berziarah kepadaku, maka aku berhak menjadi pemberi syafaat baginya di hari kiamat.” (HR. Ath-Thabrani dari Ibnu Umar).

Hadits tersebut merupakan dalil dilarangnya mengunjungi makam Rasul dengan niat lain selain ziarah, seperti meminta doa dan dengan sengaja meminta syafaat di hadapan makam Rasulullah Saw.

Hukum Ziarah ke Masjid Nabawi dan Makam Rasul

Ziarah ke masjid Nabawi adalah sunnah. Hal ini berdasarkan sabda Nabi Saw. “Janganlah mengadakan ziarah kecuali ke tiga masjid, yakni Masjidil Haram, masjid saya ini, dan Masjidil Aqsha.” (HR. Bukhari – Muslim)

Maka hendaklah orang-orang berziarah ke masjid Nabawi, karena satu kali shalat di dalamnya lebih baik daripada seribu kali shalat di masjid lainnya selain Masjidil Haram. Apabila seseorang akan pergi ke Madinah, seharusnya tujuan awalnya adalah melaksanakan shalat di masjid Rasulullah. Dan ketika dia telah sampai di sana, hendaknya berziarah ke makam Rasulullah Saw., serta makam kedua sahabat beliau yaitu Abu Bakar dan Umar r.a., sesuai dengan cara yang disyariatkan, tanpa melakukan bid’ah ataupun berlebih-lebihan.[ii]

Hubungan Ziarah dengan Haji

Tidak ada hubungan antara ziarah ke masjid Nabawi dan Makam Rasulullah dengan ibadah haji. Sesungguhnya ziarah ke masjid Nabawi ialah urusan di luar haji dan umrah. Akan tetapi, ahli ilmu membahasnya di dalam bab haji, karena pada zaman dahulu orang-orang mengalami kesulitan jika harus melaksanakan haji dan umrah dalam suatu perjalanan, sedangkan untuk ziarah ke masjid Nabawi dalam perjalanan yang lain. Jadi apabila mereka melakukan ibadah haji dan umrah, maka mereka sekaligus melewati Madinah untuk ziarah ke masjid Rasulullah Saw.[iii]

Adab Masuk Masjid Nabawi dan Ziarah ke Makam Rasul

Peziarah masjid Nabawi disunnahkan untuk mendatanginya dengan tenang dan sopan, memakai wewangian, mengenakan pakaian terbaik, memasukinya dengan kaki kanan, dan membaca do’a ma’tsur. Dia disunnahkan pula mendatangi raudhoh (taman) terlebih dahulu untuk mengerjakan shalat sunnah tahiyyatulmasjid dengan khusyuk. Sesudah selesai mengerjakan shalat sunnah ini, dia disunnahkan pergi ke makan Nabi Saw dengan menghadap kepadanya dan membelakangi kiblat untuk mengucapkan salam kepada Rasulullah Saw, kemudian bergerak mundur sekitar satu hasta ke arah kanan untuk mengucapkan salam kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a., lalu bergerak mundur lagi sekitar satu hasta ke arah kanan untuk mengucapkan salam kepada Umar bin Khattab, lantas menghadap kiblat dan berdoa untuk dirinya, orang-orang yang dicintainya, sadara-saudaranya dan seluruh umat Islam, lalu langsung pulang ke kampung halamannya. Seorang peziarah hanya boleh mengeraskan suaranya hingga terdengar bagi dirinya saja. Dia juga harus menjauhi perbuatan mengusap-ngusap dan mencium makam Nabi Saw. karena itu termasuk perkara yang dilarang oleh beliau.[iv]

Larangan dalam Berziarah

Apa yang dilakukan sebagian orang dalam berziarah, yakni mengusap-usap dinding kamar makam Rasulullah, mengambil berkah dengannya, dan sebagainya, maka semua ini termasuk bid’ah. Dan yang lebih parah, lebih mungkar, dan lebih berat lagi ialah memohon kepada Nabi Saw. agar dimudahkan dari segala kesulitan dan tercapainya segala harapan, maka hal ini merupakan syirik besar, yang mengeluarkannya dari agama. Sesungguhnya Nabi Saw. tidak dapat mendatangkan manfaat maupun menolak madhorot terhadap dirinya sendiri, demikian pula terhadap orang lain. Beliau tidak mengetahui segala sesuatu yang ghaib. Beliau meninggal dunia sebagaimana anak cucu Adam meninggal dunia. Beliau tidak mengatur sedikitpun dari alam raya ini selamanya. Allah Swt. berfirman kepada Rasulullah Saw.[v]

Katakankah (Muhammad), ‘Aku tidak kuasa menolak madharat maupun mendatangkan kebaikan kepadamu.’ Katakanlah (Muhammad), ‘Sesungguhnya tidak ada sesuatupun yang dapat melindungiku dari (adzab) Allah dan aku tidak akan memperoleh tempat berlindung selain-Nya.” (QS. Al-Jin: 21-22)[vi]

Jadi, Rasulullah adalah manusia yang membutuhkan Allah. Beliau tidak akan bisa berbuat sesuatu tanpa izin Allah. Beliau adalah yang dipelihara oleh Allah dan diberi beban sebagaimana beban yang diberikan kepada manusia lainnya. Hanya saja beliau mempunyai kelebihan karena anugerah yang diberikan Allah kepadanya, yang tidak diberikan kepada orang lain sesudahnya.[vii]

 


[i] Al-Ghazali. Rahasia Haji dan Umrah. (Bandung: Karisma, 1997). hlm. 94.

[ii] Dr. Abdullah bin Muhammad bin Ahmad Ath-Thayyar. Fiqih Ibadah: Kumpulan Fatwa Lengkap Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin. (Surakarta: Media Zikir, 2010). hlm. 636.

[iii] Ibid. hlm. 637.

[iv] Sulaiman Al-Faifi. Mukhtashar Fiqih Sunnah Sayyid Sabiq. (Solo: Aqwam, 2010). hlm. 407.

[v] Dr. Abdullah bin Muhammad bin Ahmad Ath-Thayyar. Op.Cit. hlm. 639

[vi] Ibid. hlm. 640

[vii] Ibid.

Larangan dalam Haji Dan Umrah

Rasulullah Saw. bersabda: “Sesungguhnya Ibrahim (atas perintah Allah) mengharamkan kota Mekah, dan aku (atas perintah Allah pula) mengharamkan kota Madinah. Tidak dibenarkan mencabut pohonnya tidak juga memburu binatangnya.” (HR. Bukhari)[i]

Terdapat enam hal yang terlarang untuk dilakukan selama haji dan umrah, yakni:[ii]

  1. Terlarang bagi laki-laki mengenakan pakaian yang berjahit seperti kemeja, celana, sepatu dan sebagainya, atau yang melingkungi badan seperti sarung, sorban dan sebagainya. Jamaah haji hanya doperbolehkan mengenakan semacam kain panjang atau handuk yang dililitkan ke tubuhnya, juga diperbolehkan baginya mengenakan sandal yang terbuka. Kecuali jika sama sekali tidak mendapatkan kain seperti itu, maka boleh memakai celana. Diperbolehkan juga mengenakan ikat pinggang dan berteduh ketika dalam kendaraan (bangunan). Tetapi tidak diperbolehkan menggunakan penutup kepala (yang langsung menyentuh kepala). Jika sekiranya melanggar larangan ini, maka wajib membayar dam (denda) seekor domba.

Adapun bagi wanita, diperbolehkan mengenakan pakaian yang berjahit, tetapi terlarang baginya menutupi wajahnya dengan sesuatu yang bersentuhan langsung dengannya seperti cadar.

  1. Terlarang memakai wangi-wangian (kecuali yang dipakai sebelum ihram). Oleh sebab itu, hendaknya dijauhi segala sesuatu yang dianggap sebagai wangi-wangian menurut kebiasaan.
  2. Memotong kuku dan mencukur (menghilangkan) rambut, termasuk larangan bagi siapa saja yang sedang ber-ihram. Bagi yang melanggar, diharuskan membayar dam. Tetapi diperbolehkan baginya memakai celak mata, mandi, berbekam dan menyisir rambut.
  3. Terlarang pula melakukan jima’ (bersenggama). Melakukannya sebelum tahallul pertama, merusak (membatalkan) haji disamping mewajibkan pembayaran dam berupa seekor unta atau sapi, atau tujuh ekor domba. Dan apabila hal itu dilakukan setelah tahallul pertama, maka hajinya tidak menjadi batal, tetapi tetap diharuskan membayar denda seekor unta, atau sapi atau tujuh ekor domba.
  4. Disamping jima’, terlarang pula melakukan hal-hal yang merupakan pendahuluan jima’, seperti mencium istri atau bersentuhan dengan sengaja. Demikian pula melakukan istimna (masturbasi). Semuanya itu hukumnya haram dan mewajibkan denda seekor domba. Diharamkan pula melakukan akad nikah atauu menikahkan orang lain, tetapi hal tersebut tidak mewajibkan denda, karena akad tersebut tidak sah dan dianggap tidak ada.
  5. Membunuh binatang buruan. Jika hal ini dilanggar, maka diharuskan membayar denda seekor hewan ternak yang besar tubuhnya mirip dan menyerupai yang terbunuh. Adapun binatang laut, tidak ada larangan dalam membunuhnya.

 

Larangan Selama di Tanah Suci

Adapun yang diharamkan untuk dilakukan di tanah suci adalah sebagai berikut:[iii]

  1. Non muslim dilarang memasuki tanah haram (tanah suci) dimulai sejak turunnya firman Allah pada tahun ke 9 Hijriyah. Ini adalah ketetapan Allah sesuai dengan firman-Nya: “Hai orang-orang yang beriman sesungguhnya orang-orang musyrik itu najis (jiwanya karena mempersekutukan Allah), maka janganlah mereka mendekati Masjidil haram setelah tahun ini.” (QS. 9:28)
  2. Berburu atau membunuh binatang kecuali yang berbahaya
  3. Mencabut tumbuh-tumbuhan yang tumbuh dengan sendirinya
  4. Membuang atau membawa sebagian tanah atau batuan yang ada di tanah haram
  5. Memungut barang yang ditemukan kecuali untuk dikembalikan
  6. Peperangan di tanah haram.

 


[i] Maisarah Zas. Haji dan Pencerahan Jati Diri Muslim. (Bandung: Alfabeta, 2005). hlm. 167.

[ii] Al-Ghazali. Rahasia Haji dan Umrah. (Bandung: Karisma, 1997). hlm. 37-38.

[iii]Maisarah Zas. Op.Cit. hlm. 167.

 

Kewajiban Haji Bagi Wanita

Kaum wanita juga diwajibkan berhaji sebagaimana kaum pria tanpa perbedaan apapun, selama syarat-syarat wajib hajinya telah terpenuhi, ditambah satu syarat lagi yakni ditemani oleh mahramnya.[i]

Ibnu Abbas menuturkan, “Suatu hari aku mendengar Rasulullah SAW bersabda,’seorang laki-laki dan seorang perempuan tidak boleh berduaan kecuali dengan mahramnya. Dan seorang wanita tidak boleh bepergian melainkan dengan mahramnya.’ Seorang pria lantas berdiri dan mengatakan, ‘Ya Rasulullah, istriku akan pergi haji sedangkan aku harus ikut perang anu dan anu.’ Beliau bersabda, ‘Pulang dan temanilah istrimu menunaikan ibadah haji.” (HR. Bukhari dan Muslim, dan ini adalah redaksi Muslim).

Seorang wanita yang melanggar peraturan ini dan menunaikan ibadah haji tanpa ditemani mahram (suami), hajinya tetap sah namun dia berdosa jika bepergian tanpa mahramnya (keluarga).[ii]

Izin Seorang Istri dari Suaminya Untuk Berhaji

Seorang istri disunahkan meminta izin kepada suaminya untuk mengerjakan haji. Lalu apakah wanita boleh berangkat haji tanpa izin suami? Dalam hal ini ada dua pendapat, bagi Imam Syafii, haruslah ada izin suami, akan tetapi Imam Hambali berpendapat bahwa jika suaminya mengizinkan ia berangkat, dan walaupun suaminya tidak mengizinkan ia tetap berangkat, sebab seorang suami tidak punya hak untuk melarang istrinya mengerjakan haji wajib. Haji wajib adalah ibadah yang wajib dilaksanakan dan tidak ada keharusan menaati makhluk bila ia menyebabkan kemaksiatan terhadap Allah SWT. Selain itu, istrinya juga wajib bersegera melaksanakannya untuk menggugurkan kewajibannya.[iii]

Hak yang sama diperoleh seorang wanita dalam melaksanakan haji nazar, karena hukumnya juga wajib seperti haji wajib. Adapun bila haji sunah, suaminya berhak untuk melarangnya.

Thawaf Ifadah Haji Wanita yang Haid

Berikut ini adalah yang perlu dilakukan oleh haji wanita yang belum melaksanakan thawaf ifadah karena sedang haid, sedangkan rombongannya akan segera kembali ke kampung halaman.[iv]

  1. Ia harus menunggu sampai suci dari haid, dan melapor kepada ketua kloternya (TPHI) untuk diusulkan pindah ke kloter lain, sehingga dapat melakukan thawaf ifadah.
  2. Meskipun demikian, dalam keadaan uzur syar’i, menurut pendapat Imam Ibnu Qoyyim dari mazhab Hambali bahwa wanita haid atau nifas dibolehkan dan dipandang sah melakukan thawaf ifadah dan tidak membayar dam. Sedangkan menurit Abu Hanifah haruslah membayar dam satu ekor unta.
  3. Boleh menggunakan obat untuk menangguhkan haid.

Ketentuan Khusus bagi Wanita yang Berhaji

Beberapa ketentuan khusus yang berlaku bagi wanita yang melaksanakan ibadah haji atau umrah adalah sebagai berikut:[v]

  1. Wanita menutup auratnya kecuali muka dan telapak tangannya (ketika ihram).
  2. Wanita tidak mengeraskan suaranya pada waktu membaca talbiyah atau berdoa.
  3. Wanita tidak perlu lari-lari kecil ketika thawaf pada 3 putaran yang pertama dan ketika melintas 2 pilar hijau waktu sa’i.
  4. Wanita tidak mencukur rambutnya ketika bertahallul, tetapi cukup memotong sedikitnya 3 helai atau memotong ujung rambutnya sepanjang jari.

Hal-hal yang Perlu Diperhatikan Haji Wanita Selama di Tanah Suci

Berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan haji wanita saat berada di Arab Saudi:[vi]

  1. Berpakaian rapi dan sesuai dengan syari’at Islam.
  2. Tidak memakai make-up yang berlebihan.
  3. Bertutur kata yang baik, tidak berbohong, tidak memfitnah dan menggunjingkan orang lain.
  4. Menghindari bepergian berduaan dengan orang lain yang bukan mahramnya.
  5. Tetap berpegang pada akhlaqul karimah.
  6. Menghindari perilaku yang tidak wajar.

[i] Sulaiman Al-Faifi. Mukhtashar Fiqih Sunnah Sayyid Sabiq. (Solo: Aqwam, 2010). hlm. 345.

[ii] Ibid.

[iii] Ibid.

[iv] Tri May Hadi.  Kumpulan Doa, Dzikir, dan Tanya Jawab untuk Ibadah Haji dan Umrah. (Jakarta: Kesaint Blanc, 2009). hlm. 160.

[v] Ibid.

[vi] Ibid. hlm. 161.

ZAM-ZAM, AIR MUKJIZAT

 

Secara lahiriah di tengah tempat yang terletak di lekukan tanah kering gersang yang dikelilingi batu dan pasir, akan sangat sulit untuk mendapatkan sumber air, apalagi secara berlimpah.

Tetapi inilah salah satu tanda kebesaran Allah, karena pada bagian tengah lekukan kota Makkah yang dikelilingi oleh kekeringan, kegersangan serta curah hujan setiap tahun tidak lebih dari 10 cm, justru keluar sumber air yang berlimpah, air jernih, menyejukkan dan memiliki rasa alami yang dapat diterima secara langsung oleh siapapun yang meminumnya, tanpa harus menderita sakit meskipun tidak dimasak.[i]

Sejarah Keluarnya Sumber Air Zamzam

Dikisahkan bahwa pada suatu saat Nabi Ibrahim a.s. diperintahkan oleh Allah untuk meninggalkan istrinya, Hajar, bersama bayinya yang baru lahir, Ismail, di lembah gersang tanpa penghuni yang bernama Bakah (sekarang Makkah) hanya dengan berbekalkan sedikit air dan makanan. Padahal saat itu musim panas dan kering sedang melanda kawasan tersebut.

Tetapi inilah perjuangan keluarga Nabi yang tidak pernah mengenal takut, kelaparan dan kesusahan, walau Hajar dan bayinya berada di lembah yang penuh bahaya. Lama kelamaan semua bekal akhirnya habis, sehingga dengan berat hati Hajar harus meninggalkan putranya Ismail sendirian, untuk mencari makanan dan air.

Hajar berlari ke sana ke mari terutama antara bukit Shafa dan Marwah untuk melihat apakah ada oasis (sumber air) yang dekat dengannya, atau ada kafilah (rombongan) yang melintasi daerah tersebut untuk dimintakan bantuannya. Tetapi semua harapannya tidak terkabul karena memang mereka berada di daerah kering dan gersang yang tidak ditumbuhi oleh pohon dan perdu, tidak dijadikan tempat hidup untuk binatang manapun, serta jarang dilalui kafilah.

Tetapi mukjizat Allah kemudian tiba. Di ujung kaki bayi kecil Ismail, keluar sumber air yang makin lama makin membesar, sehingga jumlah air tak terbatas pada jumlah yang dibutuhkan oleh Hajar untuk sekedar penawar dahaga.

Inilah awal terjadinya sumur zamzam, sumber air berlimpah, sehat dan menyejukkan yang terletak tidak jauh dari bangunan ka’bah sekarang.[ii]

Khasiat Air Zamzam

Di antara khasiat air zamzam ialah sebagaimana disabdakan oleh Nabi Saw.

Air zamzam menurut apa yang diniatkan oleh orang yang meminumnya.” (HR. Imam Ahmad dan Ibnu Majah)

Hadits tersebut dinilai shahih oleh Al-Albani di dalam Irwa’ Al-Ghalil (1123).

Dengan demikian, apabila seseorang meminumnya karena haus, maka dia akan merasa segar, apabila dia meminumnya karena lapar, maka dia akan kenyang. Demikianlah khasiat air zamzam.[iii]

Sunah Meminum Air Zamzam

Setelah selesai thawaf dan mengerjakan shalat sunah dua rakaat, orang yang thawaf disunahkan meminum air zamzam. Telah disebutkan dalam Ash-Shalihain bahwa Rasulullah Saw. minum air zamzam dan beliau telah bersabda, “Air zamzam diberkahi, dia adalah makanan yang menghilangkan rasa lapar dan obat yang menyembuhkan penyakit.” Jibril a.s juga telah mencuci hati Rasulullah Saw. dengan air zamzam pada malam Isra’ dan Mi’raj.[iv]

Adab Minum Air Zamzam

Orang yang minum air zamzam disunahkan meniatkan kesembuhan dan niat-niat lain yang mengandung kebaikan dunia dan akhirat, karena khasiat air zamzam tergantung niat meminumnya.

Orang yang meminum air zamzam disunahkan pula untuk menghentikan minumnya setiap kali ia bernafas tiga kali, menghadap kiblat, minum hingga kenyang, memuji Allah, dan berdoa.[v]

 

 



[i] H. Unus Suriawiria. Jalan Panjang ke Tanah Suci. (Bandung: Penerbit Angkasa, 1995). hlm. 93

[ii] Ibid. hlm. 93-94.

[iii] Dr. Abdullah bin Muhammad bin Ahmad Ath-Thayyar. Fiqih Ibadah: Kumpulan Fatwa Lengkap Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin. (Surakarta: Media Zikir, 2010). hlm. 536.

[iv] Sulaiman Al-Faifi. Mukhtashar Fiqih Sunnah Sayyid Sabiq. (Solo: Aqwam, 2010). hlm. 374.

[v] Ibid.

Masjid Al-Haram

Lihat Masjid Al-Haram
Lihat Masjidil Haram!

Biru langitnya begitu bening

Menara-menara menjulang

Azan berkumandang

Ayat-ayat suci menerobos setiap relung hati yang datang untuk memenuhi panggilan-Nya

 

Lihat Masjidil Haram!

Seperti sebuah super stadion Para atlet berlomba untuk menjadi Yang terdekat dengan_Nya

Lihat para arler yang  juga menjadi pelatih, wasit, dan suporter bagi dirinya

Tiada yang menang,

kecuali yang mampu mewujudkan kedekatan dengan-Nya

Tiada yang kalah,

kecuali yang dipecundangi oleh nafsu dan keserakahan

 

 

Lihat Masjidil Haram!

Sebuah panggung teater raksasa

para aktor juga menjadi sutradara menentukan sendiri peran yang akan dimainkan-nya

Para aktor boleh menentukan sendiri di barisan mana mereka akan tawaf

Mendekat-dekat ke arah Ka’bah atau menjauh saja karena takut tiada tempat

 

 

Lihat Masjidil Haram!

Di sana setiap hati boleh meminta

Setiap jiwa boleh berteriak,

atau merintih Aku datang,

ya Allah,

aku datang memenuhi Panggilan-Mu yang diserukan Ibrahim, kekasih-Mu

 

Lihat Masjidil Haram!

Panggung Pertunjukan raksasa

Mengundang setiap insan untuk tampil menjadi pemeran terbaik bagi lakon yang dipilihnya

Adzan Maghrib di Mekkah

Beautiful Makkah Maghrib Adhan 8th March 2013

Muzdalifah, Mina, dan Makkah

Kita tertunduk di Muzdalifah, kita mencari batu senjata rahasia untuk melawan setan yang telah menantikan kedatangan kita di Mina. Setan di Mina seolah tak pernah mati, walau jutaan batu yang dibalut dengan sentuhan keikhlasan, dilemparkan oleh jutaan jamaah haji di hari adha dan di hari-hari thsyrik.

Kita memang melempar jumrah di Mina, namun kita sejatinya tengah menundukan setan yang bersemayam dalam hati kita sifat-sifat busuk yang terselip di antara kepribadian kita, harus disingkirkan dengan peluru yang berselaput keikhlasan.

Berbahagialah seseorang yang sepulang haji memiliki jiwa yang bersih dari penyakit hati, yang lapang menerima apa pun yang Allah anugrahkan baik duka ataupun suka. Apabila demikian, berati kita telah mengalahkan setan  Mina dan meninggalkannya di sana.

Usai melempar Jumrah Aqabah, kita melaksanakan tawaf ifadhah sebuah tawaf dengan tingkat spirituallitas  yang amat tinggi. Dalam sebuah riwayat disebutkan, sewaktu kita melaksanakan tawaf  ifadhah, malaikat takan memegangi pundak kita dan berbisik.”kamu sudah diampuni, kamu sudah tidak punya dosa, maka janganlah berbuat salah lagi jagalah kesucian diri yang telah kau raih dengan ketundukan dipadang Arafah”

Lantas kita kembali bertafakur di Mina, dua malam atau tiga malam, sambil diselingi prosesi memotong hadyu sembelihan sebagai kewajiban bagi mereka yang melaksanakn haji tamattu’.

Di akhir rangkaian haji, kita pun meninggalkan Makkah Kita bertawaf wada’,berpamitan kepada Ka’bah, kepada Makkah, lalu yang menjadi tempat lahir manusia paling mulia Muhammad Saw Kita seperti melakukan napak tilas atas perjalnan hijrah Rasul, meningggalkan Makkah menuju Madinah , atau pergi kembali menuju Tanah air dengan jutaan bekal yang telah Allah titipkan ke dalam hati.

Usai melaksanakan haji, air mata kembali berderai, ketika meninggalkan Makkufr, atau meninggalkan Madinah usai berziarah ke makam Rasulullah. Terima kasih Ya Allah atas segala nikmat yang tiada terkira penuh sesak dada ini dengan nikmat dan karuniaMu.

Mata senantiasa basah dengan air mata kerinduan yang tertumpah hanya untuk-Mu. Kami malu atas segala khilaf dan dosa, yang senantiasa kami lakukan. Sementara Engkau terus-menerus melimpahkan kepada kami nikmat, karunia, kebahagiaan dan pertolongan yang tiada berujung.

Bagaimana kami kelak, ya Allah , jika menghadap Engkau ?  Akankah Engkau memandang kami dengan mesra dan memanggil dengan sayang?

Atau Engkau berpaling, sebagaimana sering kami berpaling dari-Mu ? Jangan, ya Allah jangan berpaling dari yang lemah ini, sayangi kami, ya Allah, dengan sayang dan cinta-mu yang tiada tertepi

Sayangi kedua orang tua kami serta muliakan mereka disisi-Mu, muliakan setiap tetes keringat dan setiap rasa sakit yang mereka rasakan ketika membesarkan kami

Sayangi pasangan hidup kami, belahan jiwa, pelengkap hati, yang sangat kami sayangi. Sayangi anak-anak keturunan kami ya tuhan ku, jaga dan lindungi mereka dari mara bahaya dan kekejaman makhluk. Berikan perlindungan kepada mereka, di saat kami tak dapat melindunginya di saat kami jauh darinya di saat mereka jauh dari kami. kami titipkan kepada-Mu, ya Allah, anak-anak dan keturunan yang kami berharap bertemu kembali dengan mereka disurga-Mu kelak.

Sayangi seluruh kerabat dan sahabat kami ya Rabb, limpahkan rasa bahagia dan kekalkanlah kebahagiaan ke dalam kalbu orang-orang Mukmin dan kepada hamba-hamba-Mu yang berserah diri kepada Engkau, yang sujud dan ruku’ serta menyembah hanya kepada-mu,

Kasih dan nikmat-Mu tiada bertepi Subhanallah wal hamdulillah wa laa ilaha illallah wallahu akbar.

Selamat berjuang para jamaah haji, tamu Allah yang mulia. Kembalilah dengan penuh cinta dan kasih sayang. Seperti cinta dan kasih sayang Allah telah ajarkan dan limpahkan. Amin.

Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah sebagian dari syiar Allah maka barang siapa yang beribadah haji ke Baitullah atau berumrah, tidak ada dosa baginya mengerjakan sa’i antara ke-duanya. Dan barang siapa yang mengerjakan suatu kebaikan dengan kerelaan hati maka sesungguhnya AIlah Maha Mensyukuri kebaikan Lagi Maha Mengetahui.

(QS Al-Baqarah (2): 158)