ZAM-ZAM, AIR MUKJIZAT

 

Secara lahiriah di tengah tempat yang terletak di lekukan tanah kering gersang yang dikelilingi batu dan pasir, akan sangat sulit untuk mendapatkan sumber air, apalagi secara berlimpah.

Tetapi inilah salah satu tanda kebesaran Allah, karena pada bagian tengah lekukan kota Makkah yang dikelilingi oleh kekeringan, kegersangan serta curah hujan setiap tahun tidak lebih dari 10 cm, justru keluar sumber air yang berlimpah, air jernih, menyejukkan dan memiliki rasa alami yang dapat diterima secara langsung oleh siapapun yang meminumnya, tanpa harus menderita sakit meskipun tidak dimasak.[i]

Sejarah Keluarnya Sumber Air Zamzam

Dikisahkan bahwa pada suatu saat Nabi Ibrahim a.s. diperintahkan oleh Allah untuk meninggalkan istrinya, Hajar, bersama bayinya yang baru lahir, Ismail, di lembah gersang tanpa penghuni yang bernama Bakah (sekarang Makkah) hanya dengan berbekalkan sedikit air dan makanan. Padahal saat itu musim panas dan kering sedang melanda kawasan tersebut.

Tetapi inilah perjuangan keluarga Nabi yang tidak pernah mengenal takut, kelaparan dan kesusahan, walau Hajar dan bayinya berada di lembah yang penuh bahaya. Lama kelamaan semua bekal akhirnya habis, sehingga dengan berat hati Hajar harus meninggalkan putranya Ismail sendirian, untuk mencari makanan dan air.

Hajar berlari ke sana ke mari terutama antara bukit Shafa dan Marwah untuk melihat apakah ada oasis (sumber air) yang dekat dengannya, atau ada kafilah (rombongan) yang melintasi daerah tersebut untuk dimintakan bantuannya. Tetapi semua harapannya tidak terkabul karena memang mereka berada di daerah kering dan gersang yang tidak ditumbuhi oleh pohon dan perdu, tidak dijadikan tempat hidup untuk binatang manapun, serta jarang dilalui kafilah.

Tetapi mukjizat Allah kemudian tiba. Di ujung kaki bayi kecil Ismail, keluar sumber air yang makin lama makin membesar, sehingga jumlah air tak terbatas pada jumlah yang dibutuhkan oleh Hajar untuk sekedar penawar dahaga.

Inilah awal terjadinya sumur zamzam, sumber air berlimpah, sehat dan menyejukkan yang terletak tidak jauh dari bangunan ka’bah sekarang.[ii]

Khasiat Air Zamzam

Di antara khasiat air zamzam ialah sebagaimana disabdakan oleh Nabi Saw.

Air zamzam menurut apa yang diniatkan oleh orang yang meminumnya.” (HR. Imam Ahmad dan Ibnu Majah)

Hadits tersebut dinilai shahih oleh Al-Albani di dalam Irwa’ Al-Ghalil (1123).

Dengan demikian, apabila seseorang meminumnya karena haus, maka dia akan merasa segar, apabila dia meminumnya karena lapar, maka dia akan kenyang. Demikianlah khasiat air zamzam.[iii]

Sunah Meminum Air Zamzam

Setelah selesai thawaf dan mengerjakan shalat sunah dua rakaat, orang yang thawaf disunahkan meminum air zamzam. Telah disebutkan dalam Ash-Shalihain bahwa Rasulullah Saw. minum air zamzam dan beliau telah bersabda, “Air zamzam diberkahi, dia adalah makanan yang menghilangkan rasa lapar dan obat yang menyembuhkan penyakit.” Jibril a.s juga telah mencuci hati Rasulullah Saw. dengan air zamzam pada malam Isra’ dan Mi’raj.[iv]

Adab Minum Air Zamzam

Orang yang minum air zamzam disunahkan meniatkan kesembuhan dan niat-niat lain yang mengandung kebaikan dunia dan akhirat, karena khasiat air zamzam tergantung niat meminumnya.

Orang yang meminum air zamzam disunahkan pula untuk menghentikan minumnya setiap kali ia bernafas tiga kali, menghadap kiblat, minum hingga kenyang, memuji Allah, dan berdoa.[v]

 

 



[i] H. Unus Suriawiria. Jalan Panjang ke Tanah Suci. (Bandung: Penerbit Angkasa, 1995). hlm. 93

[ii] Ibid. hlm. 93-94.

[iii] Dr. Abdullah bin Muhammad bin Ahmad Ath-Thayyar. Fiqih Ibadah: Kumpulan Fatwa Lengkap Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin. (Surakarta: Media Zikir, 2010). hlm. 536.

[iv] Sulaiman Al-Faifi. Mukhtashar Fiqih Sunnah Sayyid Sabiq. (Solo: Aqwam, 2010). hlm. 374.

[v] Ibid.

Masjid Al-Haram

Lihat Masjid Al-Haram
Lihat Masjidil Haram!

Biru langitnya begitu bening

Menara-menara menjulang

Azan berkumandang

Ayat-ayat suci menerobos setiap relung hati yang datang untuk memenuhi panggilan-Nya

 

Lihat Masjidil Haram!

Seperti sebuah super stadion Para atlet berlomba untuk menjadi Yang terdekat dengan_Nya

Lihat para arler yang  juga menjadi pelatih, wasit, dan suporter bagi dirinya

Tiada yang menang,

kecuali yang mampu mewujudkan kedekatan dengan-Nya

Tiada yang kalah,

kecuali yang dipecundangi oleh nafsu dan keserakahan

 

 

Lihat Masjidil Haram!

Sebuah panggung teater raksasa

para aktor juga menjadi sutradara menentukan sendiri peran yang akan dimainkan-nya

Para aktor boleh menentukan sendiri di barisan mana mereka akan tawaf

Mendekat-dekat ke arah Ka’bah atau menjauh saja karena takut tiada tempat

 

 

Lihat Masjidil Haram!

Di sana setiap hati boleh meminta

Setiap jiwa boleh berteriak,

atau merintih Aku datang,

ya Allah,

aku datang memenuhi Panggilan-Mu yang diserukan Ibrahim, kekasih-Mu

 

Lihat Masjidil Haram!

Panggung Pertunjukan raksasa

Mengundang setiap insan untuk tampil menjadi pemeran terbaik bagi lakon yang dipilihnya

Madinah, Pusat Perjuanan dan Penyebaran Islam

Madinah merupakan simbol perjuangan Nabi Muhammad Saw dalam “menggali, memperagakan dan mengokohkan nilai tauhid” di muka bumi kembali, setelah hal yang sama dilakukan oleh Nabi Ibrahim as. Perjuangan beliau yang amat berat dalam menegakkan nilai-nilai tauhid diabadikan Allah dengan menjadikan Madinah Al-Munawarah sebagai kota yang diharamkan sesudah Mekah.[i] Banyak hadits yang berbicara mengenai keutamaan Madinah dibandingkan dengan kota lain.

Hadits-hadits yang mengemukakan keutamaan Madinah

Abu Hurairah berkata: Sabda Rasulullah Saw, “Satu kali shalat di masjidku ini, lebih utama dari pada seribu kali shalat di mesjid lain, kecuali Masjidil Haram.” (HR. Bukhari Muslim)[ii]

Diriwayatkan oleh Ibnu Abbas bahwa Rasulullah Saw. bersabda: “Satu kali shalat di Masjid Madinah sama dengan sepuluh ribu kali (di tempat lain) dan shalat di Masjid Al-Aqsa sama dengan seribu kali, sedangkan shalat di Masjidil Haram sama dengan seratus ribu kali shalat di mesjid lain.”[iii]

Sabda beliau lagi dari Abu Hurairah, ibn Umar dan Abu Sa’id, “Barang siapa bersabar menahan kesulitan hidup di dalamnya (yakni Madinah), maka aku akan bersafaat baginya pada hari kiamat.”[iv]

Dari Ibn Umar, Rasul bersabda: “Barang siapa berkesempatan (tinggal dan) mati di Madinah, hendaknya ia berusaha untuk itu. Tidak seorangpun mati di sana, kecuali aku akan bersafaat untuknya pada hari kiamat.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah).[v]

Hadits-hadits di atas merupakan empat diantara beberapa hadits lain yang menggambarkan keutamaan Madinah dibandingkan dengan kota lainnya. Selain itu, Madinah memiliki 95 nama. Lebih banyak dari Kota Mekah yang memiliki 11 nama.

 

Nama Lain Madinah

Nama lain dari Madinah diantaranya Tabah, Taibah, Qubbat, Al-Islam, Al-Mumina, Al-Mubarakah, Al-Mukhtarah, Dar Al-Abrar, Dar As-Sunnah, Dar Al-Akhyar, Dar Al-Fateh, dan sebagainya. Nama yang paling terkenal untuk Madinah adalah sebagai kota Nabi Muhammad, karena dari tempat inilah selain dibangun Masjid Nabawi yang di dalamnya terdapat makam beliau, juga sebagai pusat ilmu, kebesaran dan penyebaran Islam, bukan hanya ke kawasan Arab Saudi dan sekitarnya, tetapi juga ke segenap pelosok dunia.[vi]

Monumen Sejarah di Madinah

Masih di kota Madinah, terdapat percetakan kitab suci Al-Quran terbesar dan termegah di dunia dengan nama “Percetakan Kitab Suci Quran Raja Fahd” yang mencetak Al-Quran secara benar sesuai dengan ajaran Islam yang telah dikemukakan oleh Nabi Muhammad Saw.[vii] Selain itu, di kota mulia ini terdapat berbagai monumen sejarah perjuangan Nabi Muhammad yakni Masjid Nabawi, Raudah (daerah antara rumah atau makan beliau dengan mimbar), Masjid Kuba, Masjid Kiblatain, Masjid Al-Jum’at, Masjid Al-Fath, Masjid Al-Ijabah, Masjid Al-Ghamamah, Jabal Uhud, Khandak, dan Pemakaman Baqi.[viii]

Terdapat pula Universitas Islam Madinah yang merupakan perguruan tinggi internasional yang mengkaji sudi Islam. Universitas ini sangat terkenal dan merupakan Universitas terbesar kedua setelah Universitas Riyadh untuk kawasan Arab Saudi.[ix]

Madinah adalah kota yang penuh dengan latar belakang dan sejarah penyebaran agama Islam, karena di kota inilah tempat hijrah dan perjuangan Nabi Muhammad beserta para sahabat dan umatnya.[x]

 

 



[i] Maisarah Zas. Haji dan Pencerahan Jati Diri Muslim. (Bandung: Alfabeta, 2005). hlm. 174-175.

[ii] Al-Ghazali. Rahasia Haji dan Umrah. (Bandung: Karisma, 1997). hlm.27.

[iii] Ibid.

[iv] Ibid. hlm. 28

[v] Ibid.

[vi] H. Unus Suriawiria. Jalan Panjang ke Tanah Suci. (Bandung: Penerbit Angkasa, 1995). hlm. 65

[vii] Ibid. hlm. 66

[viii] Maisarah Zas. Op.Cit. hlm. 175.

[ix]  H. Unus Suriawiria. Op.Cit. hlm. 66

[x] Ibid. hlm. 67

JENIS-JENIS HAJI

Terdapat tiga jenis haji yang disepakati oleh para ulama, yakni:[i]

  1. Haji qiran
  2. Haji tamattu’
  3. Haji ifrad

Haji Qiran

Haji qiran berarti mengerjakan haji dan umrah secara bersamaan dan ketika membaca talbiyah mengucapkan: labaika bi haj wa umrah (aku datang memenuhi panggilan-Mu untuk menunaikan haji dan umrah), dan ini mengharuskan pelakunya untuk tetap dalam keadaan ihram hingga selesai mengerjakan umrah dan haji sekaligus.[ii]

Adapun haji qiran ini terbagi ke dalam dua jenis:[iii]

  1. Berihram dengan niat umrah dan haji sekaligus dari miqat dengan mengucapkan ‘labbaika umratan wa hajjan’.
  2. Berihram dengan niat umrah terlebih dahulu kemudian memasukkan niat haji ke dalam niat umrah sebelum melakukan thawaf umrah.

Ada bentuk lain dari haji qiran yang menjadi perselisihan para ulama, yaitu berihram dengan niat hanya akan melakukan haji saja, lalu mengerjakan umrah sebelum melakukan apapun dari rangkaian kegiatan haji, seperti thawaf dan sa’i.[iv]

Orang yang melakukan haji qiran harus tetap dalam keadaan ihram, dan apabila telah tiba di Makkah, dia melakukan thawaf qudum lalu melakukan sa’i untuk haji dan umrah. Setelah itu tetap dalam keadaan ihram hingga tiba saat bertahallul pada hari Idul Adha. Dia wajib membayar hadyu (menyembelih seekor domba) sebagaimana dalam haji tamattu’.[v]

Haji Tamattu’

Haji tamattu’ berarti mengerjakan umrah di bulan-bulan haji, kemudian menunaikan haji di tahun yang sama. Cara mengerjakannya ialah: niat mengerjakan umrah dari miqat dan ketika membaca talbiyah mengucapkan: labbaika bi umrah (aku datang memenuhi panggilan-Mu untuk menunaikan umrah), dan ini mengharuskan pelakunya untuk tetap dalam keadaan ihram hngga ia tiba di Makkah dan mengerjakan thawaf, sa’i, memotong atau mencukur rambut, tahallul, menanggalkan pakaian ihram, mengenakan pakaian biasa, serta melakukan apa-apa yang sebelumnya dilarang karena ihram, hingga tibanya hari Tarwiyah (tanggal 8 Dzulhijjah), saat itulah dia berniat haji dari Makkah.[vi]

Haji Ifrad

Haji ifrad berarti mengerjakan haji saja dari miqat, dan ketika membaca talbiyah mengucapkan: labbaik bi hajj (aku datang memenuhi panggilan-Mu untuk menunaikan haji), dan orang yang mengerjakannya tetap berada dalam keadaan ihram hingga selesainya seluruh rangkaian ibadah haji.[vii]

Apabila dia tiba di Makkah, langsung melakukan thawaf qudum dan sa’i haji, dan tidak boleh bertahallul kecuali pada hari raya (10 Dzulhijjah). Dengan demikian, sebenarnya kegiatan orang yang melakukan haji qiran dan orang yang melakukan haji ifrad itu sama, perbedaannya bahwa orang yang melakukan haji qiran mendapatkan ibadah umrah dan haji (sekaligus) dan harus membayar hadyu, sedangkan orang yang melakukan haji ifrad hanya melakukan haji dan tidak wajib membayar hadyu.[viii]

Jenis Haji yang Paling Utama

Para ulama berbeda pendapat tentang jenis haji yang paling utama. Mazhad Syafi’i mengatakan, haji ifrad dan haji tamattu’ lebih utama daripada haji qiran. Mazhab Hanafi berpendapat, haji qiran lebih utama daripada haji tamattu’, dan haji tamattu’ lebih utama dari haji ifrad. Mazhab Maliki mengatakan, haji ifrad lebih utama daripada haji tamattu’ dan haji qiran. Sementara mazhab Hanbali berpendapat, haji tamattu’ lebih utama daripada haji qiran dan ifrad, dan inilah pendapat yang lebih pas dan lebih mudah dilaksanakan oleh orang yang menunaikan ibadah haji. Ini juga merupakan cara pelaksanaan ibadah haji yang dicita-citakan Rasulullah Saw. dan telah diperintahkan kepada sahabat-sahabatnya.[ix]

 



[i] Sulaiman Al-Faifi. Mukhtashar Fiqih Sunnah Sayyid Sabiq. (Solo: Aqwam, 2010). hlm. 352.

[ii] Ibid.

[iii] Dr. Abdullah bin Muhammad bin Ahmad Ath-Thayyar. Fiqih Ibadah: Kumpulan Fatwa Lengkap Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin. (Surakarta: Media Zikir, 2010). hlm. 471.

[iv] Ibid.

[v] Ibid.

[vi] Sulaiman Al-Faifi. Op.Cit. hlm. 352.

[vii] Ibid. hlm. 353.

[viii] Dr. Abdullah bin Muhammad bin Ahmad Ath-Thayyar. Op.Cit. hlm. 471-472

[ix] Sulaiman Al-Faifi. Op.Cit. hlm. 353.

 

Adzan Maghrib di Mekkah

Beautiful Makkah Maghrib Adhan 8th March 2013

Muzdalifah, Mina, dan Makkah

Kita tertunduk di Muzdalifah, kita mencari batu senjata rahasia untuk melawan setan yang telah menantikan kedatangan kita di Mina. Setan di Mina seolah tak pernah mati, walau jutaan batu yang dibalut dengan sentuhan keikhlasan, dilemparkan oleh jutaan jamaah haji di hari adha dan di hari-hari thsyrik.

Kita memang melempar jumrah di Mina, namun kita sejatinya tengah menundukan setan yang bersemayam dalam hati kita sifat-sifat busuk yang terselip di antara kepribadian kita, harus disingkirkan dengan peluru yang berselaput keikhlasan.

Berbahagialah seseorang yang sepulang haji memiliki jiwa yang bersih dari penyakit hati, yang lapang menerima apa pun yang Allah anugrahkan baik duka ataupun suka. Apabila demikian, berati kita telah mengalahkan setan  Mina dan meninggalkannya di sana.

Usai melempar Jumrah Aqabah, kita melaksanakan tawaf ifadhah sebuah tawaf dengan tingkat spirituallitas  yang amat tinggi. Dalam sebuah riwayat disebutkan, sewaktu kita melaksanakan tawaf  ifadhah, malaikat takan memegangi pundak kita dan berbisik.”kamu sudah diampuni, kamu sudah tidak punya dosa, maka janganlah berbuat salah lagi jagalah kesucian diri yang telah kau raih dengan ketundukan dipadang Arafah”

Lantas kita kembali bertafakur di Mina, dua malam atau tiga malam, sambil diselingi prosesi memotong hadyu sembelihan sebagai kewajiban bagi mereka yang melaksanakn haji tamattu’.

Di akhir rangkaian haji, kita pun meninggalkan Makkah Kita bertawaf wada’,berpamitan kepada Ka’bah, kepada Makkah, lalu yang menjadi tempat lahir manusia paling mulia Muhammad Saw Kita seperti melakukan napak tilas atas perjalnan hijrah Rasul, meningggalkan Makkah menuju Madinah , atau pergi kembali menuju Tanah air dengan jutaan bekal yang telah Allah titipkan ke dalam hati.

Usai melaksanakan haji, air mata kembali berderai, ketika meninggalkan Makkufr, atau meninggalkan Madinah usai berziarah ke makam Rasulullah. Terima kasih Ya Allah atas segala nikmat yang tiada terkira penuh sesak dada ini dengan nikmat dan karuniaMu.

Mata senantiasa basah dengan air mata kerinduan yang tertumpah hanya untuk-Mu. Kami malu atas segala khilaf dan dosa, yang senantiasa kami lakukan. Sementara Engkau terus-menerus melimpahkan kepada kami nikmat, karunia, kebahagiaan dan pertolongan yang tiada berujung.

Bagaimana kami kelak, ya Allah , jika menghadap Engkau ?  Akankah Engkau memandang kami dengan mesra dan memanggil dengan sayang?

Atau Engkau berpaling, sebagaimana sering kami berpaling dari-Mu ? Jangan, ya Allah jangan berpaling dari yang lemah ini, sayangi kami, ya Allah, dengan sayang dan cinta-mu yang tiada tertepi

Sayangi kedua orang tua kami serta muliakan mereka disisi-Mu, muliakan setiap tetes keringat dan setiap rasa sakit yang mereka rasakan ketika membesarkan kami

Sayangi pasangan hidup kami, belahan jiwa, pelengkap hati, yang sangat kami sayangi. Sayangi anak-anak keturunan kami ya tuhan ku, jaga dan lindungi mereka dari mara bahaya dan kekejaman makhluk. Berikan perlindungan kepada mereka, di saat kami tak dapat melindunginya di saat kami jauh darinya di saat mereka jauh dari kami. kami titipkan kepada-Mu, ya Allah, anak-anak dan keturunan yang kami berharap bertemu kembali dengan mereka disurga-Mu kelak.

Sayangi seluruh kerabat dan sahabat kami ya Rabb, limpahkan rasa bahagia dan kekalkanlah kebahagiaan ke dalam kalbu orang-orang Mukmin dan kepada hamba-hamba-Mu yang berserah diri kepada Engkau, yang sujud dan ruku’ serta menyembah hanya kepada-mu,

Kasih dan nikmat-Mu tiada bertepi Subhanallah wal hamdulillah wa laa ilaha illallah wallahu akbar.

Selamat berjuang para jamaah haji, tamu Allah yang mulia. Kembalilah dengan penuh cinta dan kasih sayang. Seperti cinta dan kasih sayang Allah telah ajarkan dan limpahkan. Amin.

Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah sebagian dari syiar Allah maka barang siapa yang beribadah haji ke Baitullah atau berumrah, tidak ada dosa baginya mengerjakan sa’i antara ke-duanya. Dan barang siapa yang mengerjakan suatu kebaikan dengan kerelaan hati maka sesungguhnya AIlah Maha Mensyukuri kebaikan Lagi Maha Mengetahui.

(QS Al-Baqarah (2): 158)

Arafah: Puncak Perenungan Menuju Kearifan

Puncak haji adarah Arafah, bahkan haji adarah Arafah, begitu sabda Rasulullah. Siapa yang mendapatkan Arafah, insyaAllah mendapat haji. Tanpa Arrafah, tiada haji, meskipun  jauh jalan yang kita tempuh banyak pengorbanan yang dilalui susah payah dalam ibadah Haji adalah Arafah

Arafah menjadi tujuan utama jutaan manusia pada hari Arafah 9 Dzulhijjah’ Bahkan orang yang sedang sakit di tanah Makkah pun diajak bersafari wukuf dengan suara mobil ambulans meraung-raung Seperti menyambut clesis mulut jamaah haji yang bertalbiyah ‘Arafah, padang gersang yang membentang’ tempat masjid nmirah dan Jabal Rahmah berdiri tegak adalah padang pengukuhan, padang wisuda para jamaah haji padang impian setiap muslim di saat air mata tumpah berderai-derai dengan doa-doa yang terucap disela-sela tangis. Teringat sahabat, kerabat’ anak’ suami atau istri atau orangtua yang telah tiada’

Di Arafah yang terik, di siang hari bolong menuju senja, kita berusaha menggapai kearifan hidup ketika biasanya kita berasyik dan sibuk dengan urusan dunia. Terkadang angin bertiup kencang di Arafah atau bahkan hujan turun rintik-rintik, Apa pun yang Allah berikan disaat wukuf semuanya hanya terasa sebagai kiriman dari Allah. Dengan ridha dan berharap ridhNya, hanya ketuntukan dan kepasrahan diri kepada Allah.

Di Arafah, Allah “mewisuda” kita dan membangga-banggakan kita kepada para malaikat, dengan membuka pintu langit. dengan penuh kebanggaan Allah berfirman, “Lihatlah hamba-hamba-Ku yang datang dengan pakaian yang lusuh dan rambut kusut masai”

Arafah membuat kita merenung sejenak tentang kelahiran dan kematian: dua peristiwa dengan tingkat kepastian yang sempurna, namun tak pernah dapat diketahui sebelumnya.

Kita terhitung melakukan wukuf sejak zuhur hingga magrib Menjelang zuhur, kita berdesak-desakan memasuki Arafah, lantas berwukuf dan merenungi hidup kita. Menjelang magrib, kita telah bersiap-siap untuk meninggalkan Arafah, dengan berdesak-desakan  pula. Suasana berdesak-desakan di saat menuju Arafah, bagaikan saat kelahiran kita ke dunia: tempat dan waktu serta penyebabnya, Allah yang menentukan. bukankah kita tiada dapat memilih orang tua?

Beresak-desakan ketika meninggalkan Arafah, dengan pakaian ihram yang telah kumal dan kusut  masai serta badan yang telah letih dan bergerak menuju arah yang sama: Muzdalifah-Mina-Makkah, ibarat pergerakan ruh-ruh yang meninggalkan jasad, karena telah tiba waktu untuk kembali kepada sang khalik.

Lalu kita menyusuri Muzdalifah, Mina, dan Makkah. Kelak ruh kita akan menjalani alam barzakh, lantas berjejer di padang Mahsyar, kemudian dihiasi dan meniti jembatan shirath mustaqim yang setipis rambut dibelah tujuh tetapi kita akan menuju surga, atau neraka …?

Begitulah Arafah, padang kearifan, padang ketundukan, dan puncak kesadaran akan ke-Mahakuasaan Allah. Alangkah sayang seandainya kita berwukuf, namun tak mendapatkan kearifan tak merasakan kehadiran dan tatapan Allah, padahal Allah membukakan pintu langit dan membanggakan kita kepada para malaikat.

Sayang sekali jika di Arafah tangis kita tak tumpah, hati kita tak sempat memohon ampunan atas segala dosa. Sayang sekali jika doa-doa terbaik tertulus, tak disampaikan untuk ayah-bunda pasangan hidup, anak-anak tercinta, adik yang telah tiada, kakak yang mendoakan di tanah air tetangga yang mendoakan dan menandkan kadatangan kita atau orang-orang yang menderita dan hancur hatinya namun tak mampu kita menjangkaunya. Misalnya anak-anak di jalur gaza, yang tak mampu sekolah atau kedokter karena tak memiliki biaya.

Di Arafah kita belajar juga menjadi orang yang arif selalu merasakan kehadirat dan campur tanggan Allah dalam setiap detik hidup, melihat Allah dalam diri orang-orang mislin dan lalu kita terdorong untuk menolong mereka.

Tawaf dan Menatap Ka’bah yang Indah

Bangunan Ka’bah begitu sederhana, tanpa gebyar warna-warni, ada Hajar Aswad yang menjadi elemen estetis dan memperkukuh eksistensi Ka’bah. Ka’bah menghadap ke segala arah, berbentuk kubus, seolah hendak menunjukkan bahwa Allah akan dapat ditemui di mana pun dan kemana pun kita menghadap.

Memasuki Masjidil Haram kita tidak melaksanakan shalat tahiyyatul masjid, tapi menggantinya dengan tawaf. Sebuah ritual sederhana: mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali dengan garis awal dan akhir di Hajar Aswad. Ketika jasad kita berputar mengelilingi Ka’bah, ruh kita naik mendekat kepada keagungan, kemuliaan, dan ketinggian Allah. Perumpamaan ini diambil oleh seorang ilmuan yang merujuk pada sifat medan magnet yang akan mengarah ke atas jika sebuah gaya magnet berputar seperti kita tawaf, mengumpamakan bahwa ruh kita tengah melayang naik menuju dan mendekati keagungan Allah. Badan kita merunduk, ruh kita melayang jauh menuju Al-Khaliq.

Tiada bacaan wajib dengan tawaf, yang ada hanyalah anjuran. Yang paling mutawatir adalah doa antara rukun Yamani dan Hajar Aswad, sebuah doa yang amat paripurna, “Rabbana atina fid dunya hasanah wa fil akhirati hasanah wa qina adzabannar (Wahai Tuhan kami! Berikanlah kepada kami di dunia kebaikan dan di akhirat kebaikan, dan jauhkan kami dari api neraka).”

Saudaraku, nikmatilah kesempurnaan doa ini, dibawah langit Makkah yang bening, siang ataupun malam, sore ataupun subuh, dengan khusyuk dan mendekat kepada Allah.

Tawaf yang “bebas doa wajub” namun wajib dalam keadaan suci, juga antara lain, menggambarkan perjuangan hidup manusia. Tawaf seperti gambaran kala kita mengejar target hidup di dunia. Untuk mencapai target hidup kita (karier, jabatan, harta, jodoh, dan yang lainnya), kita dapat mengejarnya dengan cara sikut kiri-kanan, injak bawah-jilat atas. Hasilnya, kita melejit dengan meninggalkan luka dan rasa sakit pada orang lain.

Kita juga dapat menjalani hidup tanpa target: apatis dan tidak kreatif, menerima sesuatu dengan apa adanya, bahkan “swarga nunut nraka katut”, seolah semua adalah takdir dan kita terkurung dalam satu takdir, tanpa peluang keluar, atau memilih takdir yang lain.

Kita pun dapat menjalani hidup dengan penuh semangat, dengan rencana yang baik, persiapan yang paripurna, dijalankan dengan santun, tanpa menyakiti orang lain dan memercayai keyakinan bahwa karunia Allah adalah sangat terbatas. Seluas birunya air laut, bahkan lebih luas dari tujuh lautan. Insya Allah, kesuksesan dapt kita raih tanpa mengobarkan orang lain. Nikmat Allah sebiru air laut, maka tak usah takut apabila kita tak mendapatkan nikmat-Nya. Bukankah The Blue Ocean Strategy belakangan juga mengajarkan hal yang mirip?

Begitulah ketika kita bertawaf. Kita bisa tawafdengan sukses, lantas juga mencium Hajar Aswad, tapi meninggalkan etika: sikut orang, dorong teman, terabas kiri-terbas kanan, bahkan melakukannya berulang-ulang, 3-5 kali sehari, meski aurat tersingkap ke mana-mana, badan berimpit di antara lawan jenis.

Kita bisa jadi hanya tiga kali tawaf selama berhaji: qudum, ifadhah, dan wada, lalu membiarkan saat-saat tawaf berlalu, atau berganti dengan tawaf Hilton, tawaf Pasar seng, dan tawaf-tawaf lainnya.

Kita juga bisa melakukan tawaf dengan baik, tanpa menyakiti orang lain, tetap memelihara etika, dengan penuh ikhlas dan memohon ridha Allah. Tawaf seperti inilah yang insya Allah akan dipenuhi dengan pertolongan demi pertolongan dari Allah. Seorang jamaah Ustad Miftah Faridl berhasil memenuhi target tawaf sebanyak satu set. Artinya, selama tinggal di Makkah sekitar 30 hari, dia mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh ratus kali. Subhanallah!

Progres Perluasan Mataf

28 Februari 2013

Pembongkaran Minarets

Kolom dan Pondasi

Masjid al Haram Under Construction

25 Februari 2013