Manasik Haji Cerminan Bagi Akhlak Mulia

berhaji.com

Haji adalah salah satu rukun islam, haji adalah ibadah yang tergabung padanya antara amalan badan dan pengorbanan harta, dan haji adalah salah satu ibadah yang paling agung, yang memiliki kandungan makna, dan hikmah yang sangat luas lagi mendalam. Para ulama menyatakan, bahwa haji adalah salah satu madrasah yang sangat agung, untuk menggembleng keimanan seorang muslim.

وأَذِّن فِي النَّاسِ يَأْتُوكَ رِجَالاً وَعَلَى كُلِّ ضَامِرٍ يَأتِيْنَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُم وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللهِ فِيْ أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ عَلَى مَا رَزَقَهُم مِنْ بَهِيمَة الأَنْعَام

“Dan kumandangkanlah ibadah haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta yang kurus, yang datang dari segenap penjuru yang jauh. Agar mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka, dan agar mereka menyebut Nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan, atas rezeki yang telah Allah berikan kepada mereka berupa binatang ternak.” (QS. Al Haj: 27-28)

Ulama mengomentari bahwa yang dimaksudkan dengan kata “menyaksikan manfaat” adalah mendapatkannya, bukan sekedar melihat, akan tetapi mendapatkannya.

Ibnu Abbas menafsiri kata ( مَنَافع ) ayat ini dengan mengatakan: “Manfaat di dunia dan manfaat di akhirat, adapun manfaat di akhirat adalah keridhoan Allah ‘azza wa jalla, dan manfaat di dunia adalah mendapatkan pembagian daging korban, sesembelihan, dan perdagangan.” (Ad Durrul Mantsur 6/37)

Dan Al Mujahid menafsirkan dengan berkata: “Manfaat adalah perdagangan dan setiap hal yang menjadikan Allah ridho dari urusan dunia dan akhirat.” (Tafsir At Thobari 17/147)

Ibadah haji bukan hanya sebuah rentetan amalan sakral yang tidak diketahui manfaat dan hikmah dari pelaksanaannya. Akan tetapi ibadah haji –sebagaimana ibadah-ibadah lainnya- penuh dengan maksud-maksud dan hikmah-hikmah yang sangat indah dan besar. Kalau kita perhatikan fakta yang ada pada jamaah haji pada umumnya, dan pada diri kita saat melaksanakan ibadah yang mulia ini, akan kita lihat terjadinya perbedaan antara sesama mereka dalam mengambil hikmah, dan menyelami kandungan makna ibadah ini.

Menapaki Madrasah Pendidikan Keimanan dengan Berhaji

berhaji.com

Sahabatku kaum muslimin, ibadah haji merupakan madrasah yang dipenuhi berkah, media pembelajaran untuk melatih jiwa, menyucikan hati, dan memperkuat iman. Kaum muslimin akan menjumpai berbagai pelajaran dan faedah yang terkait dengan akidah, ibadah, dan akhlak di tengah-tengah pelaksanaan haji mereka.

Dapat dipastikan, bahwa ibadah haji merupakan madrasah pendidikan keimanan dimana lulusannya adalah para hamba-Nya yang beriman dan bertakwa, mereka yang mereguk manfaat dari ibadah tersebut adalah para hamba Allah yang diberi taufik oleh-Nya. Allah ta’ala berfirman,

وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالا وَعَلَى كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ (٢٧)لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ (٢٨)

“Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh, supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka …” (Al Hajj: 27-28).

Berbagai manfaat, faedah, dan pelajaran berharga yang terdapat dalam ibadah haji tidak mungkin untuk dihitung, karena sebagaimana di dalam ayat di atas, Allah berfirman dengan kata “مَنَافِعَ” yang merupakan bentuk plural dari kata “منفعة” yang disebutkan secara indefinitif (nakirah) sehingga mengisyaratkan betapa banyak dan beragam manfaat yang akan diperoleh dari ibadah haji.

Tujuan ibadah haji ini adalah agar berbagai manfaat tersebut diperoleh oleh mereka yang melaksanakannya, karena huruf lam pada firman-Nya “لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ” berfungsi untuk menerangkan alasan yang terkait dengan firman-Nya yang sebelumnya, yaitu ayat “وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالا وَعَلَى كُلِّ ضَامِرٍ”, sehingga redaksi ayat tersebut bermakna, “(Wahai Muhammad), jika engkau menyeru mereka untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu, baik dengan berjalan kaki dan berkendara untuk memperoleh berbagai manfaat haji.”

Oleh karena itu, mereka yang diberi taufik untuk melaksanakan ibadah ini hendaklah bersemangat dengan sungguh-sungguh untuk memperoleh manfaat tersebut, di samping dirinya akan memperoleh pahala yang besar dan pengampunan dosa dari Allah ta’ala. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ حَجَّ هَذَا الْبَيْتَ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ

“Barangsiapa yang berhaji di rumah ini, kemudian tidak berbuat keji dan maksiat, niscaya dia akan kembali dalam kondisi seperti tatkala dirinya dilahirkan oleh ibunya (tidak memiliko dosa apapun).”[1]

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

تَابِعُوا بَيْنَ الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ فَإِنَّهُمَا يَنْفِيَانِ الْفَقْرَ وَالذُّنُوبَ كَمَا يَنْفِي الْكِيرُ خَبَثَ الْحَدِيدِ

“Laksanakanlah haji dan umrah, karena keduanya menghapus kefakiran dan dosa sebagaimana api menghilangkan karat dari besi.”[2]

Tentunya, seorang yang memperoleh keuntungan ini kembali ke negaranya dengan kondisi yang suci, jiwa yang bersih, dan kehidupan baru yang dipenuhi dengan cahaya iman dan takwa, penuh dengan kebaikan, keshalihan, serta berkomitmen dan konsisten menjalankan ketaatan kepada Allah ta’ala.

Ulama telah menyebutkan bahwa apabila keshalihan dan kesucian jiwa ini terdapat dalam diri hamba, maka hal tersebut merupakan tanda bahwa Allah telah ridha kepadanya dan ciri bahwa amalannya telah diterima oleh-Nya. Apabila kondisi seorang yang telah melaksanakan haji menjadi baik, dengan berpindah dari kondisi yang buruk menjadi baik, atau dari kondisi baik menjadi lebih baik, maka hal ini merupakan tanda bahwa hajinya bermanfaat, karena balasan dari suatu kebaikan adalah tumbuhnya kebaikan sesudah kebaikan yang pertama sebagaimana firman Allah ta’ala,

هَلْ جَزَاءُ الإحْسَانِ إِلا الإحْسَانُ (٦٠)

“Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).” (Ar Rahman: 60).

Dengan demikian, barangsiapa yang melaksanakan ibadah haji dengan baik dan bersungguh-sungguh menyempurnakannya, serta menjauhi berbagai hal yang mampu membatalkan dan mengurangi pahala berhaji, tentulah dia akan keluar dari madrasah tersebut dengan kondisi yang lebih baik.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ

“Tiada balasan bagi haji mabrur melainkan surga.”[3]

Tentu setiap orang yang berhaji ingin dan berharap ibadah haji yang dikerjakannya menjadi haji yang mabrur dan segala upaya yang dikerahkannya mendapat pahala dan diterima di sisi-Nya. Tanda yang jelas bahwa ibadah haji yang dikerjakan mabrur dan diterima adalah ibadah haji tersebut  dilaksanakan ikhlas mengharap Wajah Allah ta’ala dan sesuai dengan tuntunan rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kedua syarat ini merupakan syarat mutlak agar suatu amal ibadah diterima di sisi-Nya, di samping itu (keduanya harus ditunjang dengan tanda yang lain, yaitu) kondisi seorang yang berhaji menjadi lebih baik daripada sebelumnya.

 

Doa Nabi Ibrahim, Agar Hati Manusia Jadi Cenderung Ke Ka’bah

berhaji.com

“kapan ya saya bisa berdoa di dekat ka’bah”

“kalau sudah pernah pergi, pengen pergi lagi lihat ka’bah”

“saya mau dikirim ke mekkah pas musim haji, walapun jadi petugas bersih-bersih”

Demikianlah komentar orang-orang yang menunjukkan mereka sangat ingin dan cenderung hati mereka untuk melihat ka’bah dan menunaikan ibadah haji. Hal ini karena memang doa dari nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Beliau berdoa,

رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ

Ya Rabb kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Rabb kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur” (QS. Ibrahim: 37).

Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah berkata, “Allah mewajibkan haji ke Baitullah di mana Allah menempatkan anak keturuan nabi Ibrahim dan Allah menjadikannya suatu rahasia mengagumkan yang memikat di hati. Yaitu orang berhaji (ke Ka’bah) dan tidak ditunaikan terus menerus, namun setiap kali seorang hamba pergi bolak-balik ke ka’bah maka semakin bertambah kerinduannya, semakin besar kecintaannya dan kerinduannya“ (Taisir karimir rahman, hal. 427)

Fairuz Abadi rahimahullah membawakan tafsir Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu,  “(maka jadikanlah hati sebagian manusia), yaitu hati sebagian manusia, (cenderung kepada mereka) yaitu rindu dan menginginkan (pergi ke Ka’bah / Mekkah) setiap tahun” (Tanwirul Miqbas, hal. 214).

Dalam kitab At-tafsir Al-Muyassar, “(Nabi Ibrahim berkata) Wahai Rabb sesungguhnya saya melakukan ini karena perintah-Mu, agar mereka menunaikan shalat sesuai dengan tuntunan-Mu, jadikan hati sebagian mahkluk-Mu agar cenderung kepada ka’bah/Mekkah dan mencintainya” (At-tafsir Al-Muyassar, hal 260).

Dua Tanda yang menjadi Ciri Ibadah Haji Anda Mabrur

berhaji.com

Terdapat dua tanda yang menjadi ciri bahwa ibadah haji yang dikerjakan diterima di sisi-Nya. Pertama, tanda yang terdapat di tengah-tengah pelaksanaan ibadah haji, yaitu orang yang berhaji melaksanakannya dengan ikhlas dan sesuai dengan tuntunan rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kedua, tanda yang muncul setelah ibadah haji dikerjakan, yaitu tumbuhnya keshalihan pada diri orang yang telah berhaji, yang ditandai dengan bertambahnya ketaatan dan semakin jauhnya dia dari kemaksiatan dan dosa. Dia memulai kehidupan yang baik, kehidupan yang dipenuhi dengan keshalihan dan istiqamah.

Patut diperhatikan bahwa seorang muslim tidak boleh memastikan bahwa amalnya telah diterima oleh Allah, meski dia telah mengerjakannya dengan sebaik mungkin. Allah ta’ala telah menjelaskan kondisi orang-orang yang memiliki keimanan yang sempurna perihal amal ketaatan yang mereka kerjakan untuk mendekatkan diri kepada-Nya,

وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ (٦٠)

“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka.” (Al Mukminun: 60).

Maksud dari ayat di atas adalah mereka telah mengerjakan ibadah yang diperintahkan kepada mereka berupa shalat, zakat, puasa ,haji dan selainnya, namun mereka merasa takut tatkala amalan tersebut dihadapkan kepada Allah dan tatkala mereka berdiri di hadapan Allah, ternyata amalan tersebut tidak mampu menyelamatkan dan ketaatan yang telah dilakukan tidak diterima oleh-Nya.

Imam Ahmad meriwayatkan dalam Musnad-nya dari Ummul Mukminin, ‘Aisyah rdah, bahwa dia berkata,

“Aku berkata kepada rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai firman Allah (yang artinya), “Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut “, “Apakah yang dimaksud adalah pria yang berzina dan meminum khamr?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Tidak, wahai putrid Abu Bakr” atau “Tidak, wahai putrid Ash Shiddiq, akan tetapi dia adalah pria yang berpuasa, shalat, dan bersedekah, akan tetapi dia takut amalannya tersebut tidak diterima oleh Allah ta’ala.”[4]

Al Hasan Al Bashri rahimahullah mengatakan,

إن المؤمن جمع إحسانا وشفقة ، وإن المنافق جمع إساءة وأمنا

“Sesungguhnya seorang mukmin mengumpulkan amal kebaikan dan rasa takut sedangkan seorang munafik menggabungkan amal keburukan dan rasa aman.”[5]

Telah menjadi kebiasaan kaum mukminin sejak dahulu hingga saat ini tatkala selesai melaksanakan ibadah ini mereka saling mengucapkan, “Taqabbalallahu minna wa minkum.

Mereka semua mengharapkan amalan mereka diterima.[6] Allah pun telah menyebutkan dalam kitab-Nya yang mulia bahwa nabi Ibrahim dan anaknya Isma’il a.s., tatkala mereka berdua selesai mengerjakan pndasi Ka’bah, keduanya berdo’a kepada-Nya  dengan ucapan

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ (١٢٧)

“Ya Rabb kami, terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkau-lah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Al Baqarah: 127).

Mereka tetap mengucapkannya, padahal mereka telah menunaikan sebuah amal shalih yang agung, meski demikian mereka memohon kepada Allah agar sudi menerima amal mereka berdua tersebut.

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Wuhaib ibnul Ward, bahwa ketika dia selesai membaca ayat ini, dirinya menangis, dan berkata,

يا خليل الرحمن، ترفع قوائم بيت الرحمن وأنت مُشْفق أن لا يتقبل منك

“Wahai kekasih Ar Rahman, engkau telah membangun pondasi rumah Ar Rahman, namun engkau masih saja takut amalan tersebut tidak diterima.”[7]

Jika kondisi pemimpin kaum yang hanif dan teladan bagi kaum yang bertauhid sedemikian rupa, maka bagaimanakah kiranya kondisi yang harus dimiliki oleh orang yang derajatnya di bawah beliau?

Kami memohon kepada Allah agar menerima seluruh amalan kaum muslimin, memberikan taufik dan hidayah kepada kita, menetapkan keselamatan dan perlindungan bagi mereka yang berhaji, menerima amalan shalih kita, dan memberi petunjuk kepada kita semua agar menempuh jalan yang lurus.

Diterjemahkan dari Al Hajju wa Tahdzib an Nufus, Syaikh ‘Abdurrazaq al Badr. Ibnu Baththah dalam kitab beliau Al Ibanah (2/873) berkata, “…demikian pula seorang yang baru saja pulang dari melaksanakan haji dan ‘umrah serta menyelesaikan seluruh kegiatan manasik, apabila dirinya ditanya mengenai haji yang telah dilaksanakannya, maka ia akan mengatakan, “Kami telah berhaji, tidak ada lagi yang tersisa selain harapan agar amal tersebut diterima oleh-Nya.”

Demikian pula, do’a orang-orang bagi diri mereka sendiri atau do’a mereka kepada sesamanya adalah, “Ya Allah, terimalah puasa dan zakat kami.” Tatkala seorang menemui seorang yang telah berhaji, telah menjadi kebiasaan, dia mengucapkan, “Semoga Allah menerima hajimu dan membersihkan amalanmu.” Demikian juga, tatkala manusia saling bertemu ketika penghujung Ramadhan, maka mereka saling mengucapkan, “Semoga Allah menerima amalan kami dan amalan kalian.”

Sudahkah Anda Mempersiapakan diri dan Menata Hati Sebelum Berhaji?

berhaji.com

Sahabatku yang dirahmati oleh Allah swt, perlu kita ketahui bawasanya dalam berhaji diperlukan kesiapan spiritual, untuk menunjang kematangan spiritual banyak beberapa hal yang harus kita pahami dan dikaji lebih luas. Pada umumnya kesiapan spiritual berhaji yang seringkali dikaji dan dipelajari hanya mengenai manasik haji,pemahaman ilmu fiqih, dan menjelang keberangkatan baru mulai mengikuti pelatihan tatacara melakukan ritual haji, hal tersebut memang sudah benar dan harus dilakukan pada saat kaum muslim ingin berhaji.

Tapi coba pikirkan kembali sudahkah kita mempersiapakan diri dan menata hati sebaik mungkin….? atau sudahkah terbentuk niat kokoh berhaji hanya untuk meraih ridho allah dan menyempurnakan rukun islam….? sahabatku kaum muslim diseluruh dunia coba kita renungkan terkadang kita terbawa oleh kenikmatan duniawi semata, dan terbawa arus kehidupan yang sudah serba modern saat orang-orang ingin memanfaatkan materinya hanya untuk pencitraan saja dan meraih berbagai pujian yang dirasanya dapat memperbaiki diri. Bahkan saat ini mulai banyak yang ingin pergi haji dengan tujuan dipandang kaya dan pulang dengan gelar haji, selain itu ada yang berhaji hingga berkali-kali hanya karna ingin mendapat berbagai pujian dari banyak orang atau ingin dipandang baik dan hebat karna uang hasil kerjanya digunakan beribadah.

Kaum muslimin tentu kita tidak mau menjadi hamba allah yang haus akan pujian dan citra baik yang terkadang sudah menjadi kebutuhan, dan malah membuat ibadah kita menjadi nol besar dihadapan Allah. mari sahabatku kita mulai renungkan diri dan mawas diri kita bersihkan hati terlebih dahulu dari rasa ria karna sesungguhnya allah tidak suka pada umatnya yang ria, mulai saat ini tanamkan dalam diri hati yang bersih niat yang kokoh beribadah hanya untuk meraih ridho allah semata jangan tertipu dengan bayang-bayang pujian yang hanya datang sementara namun hal tersebut dapat memutus hubungan baik kita dengan Allah SWT.

Berhaji salah satu rukun islam yang ke lima tentu Allah sangat senang ketika melihat umatnya berniat untuk melaksanakan salah satu ibadah tersebut, dan allah akan lebih senang saat umatnya beribadah tanpa didasari rasa ria, memang bukan hal yang mudah untuk menghindari rasa ria karna kita hanya manusia biasa yang terkadang haus akan pujian dan ingin selalu meraih citra baik, namun kita akan menjadi lebih hebat dihadapan sang pencipta kita ketika kita mampu meredan rasa egois kita dan membersihkan hati dari rasa ria.

Sahabatku itu lah hal yang paling utama ketika kita memutuskan untuk berhaji, dan bagaimana cara kita mengelola hati sebaik mungkin agar tetap bersih dan terhindar dari rasa ria, dan alangkah baiknya ketika kita ingin berhaji persiapkan spiritual kita sebaik mungkin agar ibadah haji dapat terlaksana sesuai syariat dan ketentuan islam yang sesungguhnya, dan mari kita raih gelar terhebat dari Allah SWT yaitu haji mabrur.

3 Pilar Penting Yang Wajib Anda Ketahui Sebelum Berhaji

Sahabatku seluruh umat muslim didunia, sudah paham kan mengenai beberapa persiapan berhaji..? jika dikaji kembali ada tiga hal terpenting dalam berhaji yaitu kemampuan materi,mental,dan spiritual. Mari kita lanjutkan ke persiapan berikutnya yang tidak kalah penting dan harus kita pahami secara matang agar niat berhaji semakin mantap.

Jika dikaji dari istilah berhaji dibagi menjadi beberapa istilah berikut, yang pertama sering kali kita mendengan kata haji atau kata lain dari berkunjung ke baitullah untuk melakukan beberapa amalan thawaf,sa’i dan wukuf di arafah serta amalan lainnya pada masa tertentu demi memenuhi panggilan allah. Selain itu sering kaliyang kita dengan selain berhaji yaitu UMRAH merupakan hal yang sama yaitu berkunjung ke baitullah untuk melakuakn thawaf,sa’i dan cukur demi mengharap ridho allah.

Selain kedua istilah tersebut ada beberapa istilah lain yang mungkin sering kita dengar namun kurang dipahami, oleh karna itusedikitnya akan saya coba jelaskan, diantaranya ada istilah ISTITHA’AH yang artinya mampu yaitu mampu melaksakan ibadah haji atau umrah ditinjau dari segi jasmani, rohani dan ekonomi. Selain itu ada yang dinamakan rukun haji yang merupakan rangkaian amalan yang harus dilakuakn dalam ibadah haji dan tidak dapat diganti dengan yang lain walaupun dengan dam, jika rukun haji ditinggalkan maka tidak sah hajinya.

Selain itu adaistilah lain yaitu wajib haji yang merupakan rangkaian amalan yang harus dikerjakan dalam ibadah haji namun bila tidfak dikerjakan karena udzur syar’i sah hajinya akan tetapi harus membayar dam. Kemudian BADAL yaitu mengganti atau menukar, dalam kaitan dengan ibadah haji atau umrah adalah menggantikan orang lain karena udzur atau tealh meninggal dunia, untuk mengerjakan haji atau umrah atau juga menolong orang lain dalam hal melontar jumroh.

Setelah berangkat tentu disana kita akan melihat yang dinamakn KA’BAH sudah paham kah mengenai KA’BAH …? mari kita bahas lebih lanjut, KA’BAH merupakan rumah yang berbentu persegi empat atau kubus, dan menjadi kiblat bagi seluruh umat muslim ketika mengerjakan ibadah shalat. Berlanjut ke beberapa istilah berikutnya yaitu ada yangdinamkan MIQAT ZAMANI yang merupakan batasan waktu melaksanakan haji, menurut jumhur ulama MIQAT zamani mulai tanggal 1 syawal sampai dengan terbit fajar 10 dzulhijah. Sedangkan MIKAT MAKANI merupakan batasan tempat untuk mulai melaksanakan ihram haji atau umrah.  Berikutnya ada istilah IHRAM yaitu niat ketika memulai mengerjakan ibadah haji atau umrah dan orang yang berpakaian ihram disebut muhrim namun hal tersebut sering tertukar dengan istilah mahram oarang yang haram untukdinikahi.

Kemudian sering kali kita mendengan beberapa istilah lain yang mungkin belum kita pahami lebih luas, mari kita telusuri istilah penting lainnya mengenai berhaji, THAWAF merupakan mengelilingi ka’bah sebanyak 7 kali, dimana ka’bah selalu ada disebelah kirinya dimulai dan diakhiri disudut rukun sejajar hajar aswad. Kemudian ada istilah THAWAF IFADAH yaitu thawaf rukun haji yang harus dilaksanakan tidak boleh ditinggalkan dalam pelaksanaan ibadah haji. THAWAF WADA ialah thawaf yang dilaksankan sebagai penghormatan akhir sebelum meninggalkan makkah, thawaf wada hukumnya wajib dalam pelaksanaan haji. THAWAF QUDUM ialah thawaf yang dilaksanakan sebagai penghormatan pada saat pertama masuk Masjidil haram, thawaf qudum hukumnya sunah. Bagi jamaah haji yang mengambil haji tamattu tawaf qudumnya sudah termasuk dalam tawaf umrah.

Mari Kita Kaji Kembali Pemahaman Wukuf

berhaji.com

Assalamualaikum sahabatku dan seluruh kaum muslimin di dunia, alhamdulilah hari raya idul adha tahun ini telah kita lewati, tentu sangat banyak makna yang terkandung dan hikmah yang kita dapat dari perayaan idul adha kemarin. Sahabatku sebelumnya sempat kita bahas mengenai perjalanan dan tatacara wukuf di arafah yang merupakan hal paling utama dan suatu keharusan yang dilakukan oleh para umat muslim yang telah melaksanakan ibadah haji, sebelumnya sudah kita bahas mengenai wukuf namun untuk menambah wawasan kita dan mengingatkan kita kembali mengenai pemahaman wukuf mari kita kaji kembali.

Wukuf merupakan keberadaan diri seseorang di arafah walaupun sejenak dalam waktu antara tergelincirnya matahari tanggal 9 dzulhijjah (hari arfah) sampai terbit fajar tanggal 10 dzulhijjah (hari nahar). Pelaksanaan wukuf memang hanya berkisar sebentar namun banyak hal yang dapat dipetik dalam pelaksanaannya karena dalam batas waktu yang singkat tersebut kita dapat lebih merasakan betapa nikmatnya ketika kita berada ditempat yang menjadi wadah sebagai pendekatan kita terhadap sang kholik, terhadap sang pencipta, saat dimana kita dapat merasakan kekhusuan yang begitu damai dan menenangkan jiwa.

Sahabatku keberlangsungan wukuf merupakan puncak utama dari pelaksanaan ibadah haji dan tujuan utama kita ketika memutuskan untuk melaksanakan ibadah haji, karena pada saat pelaksanaan wukuf kita dapat merasakan betapa agungnya dan betapa nikmatnya ketika kita berupaya mendekatkan diri kepada sang pencipta dengan tujuan yang baik dan disertai hati yang tulus dan niat yang bersih.

Diarafah kita berkumpul dengan seluruh umat muslim didunia bersama-sama saling mencari keberkahan dan rindho allah, dalam situasi seperti ini kita diajarkan untuk saling menghargai dan menghormati meskipun berbeda suku dan berbeda kebudayaan, karena sesungguhnya allah sangat menyukai kebersamaan yang damai demikian juga dengan rosul kita yang selalu mengajarkan kedamaian dan empati terhadap sesama umat terutama sesama umat muslim diseluruh dunia. Itu merupakan salah satu hikmah dan manfaat dari pelaksanaan wukuf.

Wahai para sahabatku yang sudah melaksanakan ibadah haji, semoga dapat memetik hikmah dan manfaat dari pelaksanaan haji dan semoga para jamaah haji dapat pulang dengan gelar terindah dari allah SWT sebagai gelar haji mabrur, namun bagi sahabatku yang belum sempat melaksanakan ibadah haji jangan berkecil hati semoga pemaparan saya lewati pemahaman berhaji ini dapat menjadi motivasi dan semangat sebagai pencipta kekokohan hati dalam melaksanakan ibadah haji.

 

 

 

 

 

Sisi Lain Keindahan Kota Jeddah yang sayang untuk Anda Lewatkan

berhaji.com

Kota Jeddah merupakan kota paling ramai dikunjungi jutaan ummat islam dari seluruh pelosok dunia baik dalam moment rangkaian perjalanan ibadah haji ataupun umrah. Jeddah sering dijuluki “Pengantin Laut Merah” karena berbatasan langsung dengan tepian laut merah tepatnya  75 km dari kota suci Mekah.

Kota terbesar kedua di Arab Saudi setelah Ar-riyad ini telah berubah menjadi kota islam yang cosmopolitan dan relative terbuka dengan dunia luar. Namun, Jeddah tetaplah memiliki arti penting dalam pengembangan Islam terutama dengan kedudukannya sebagai pintu gerbang bagi para jemaah haji yang datang ke kota Mekah, Madinah dan Arafah. Keamanan dan keterbukaan kota ini sepanjang sejarah sangat mempengaruhi kelancaran pelaksaan rukun islam yang kelima menentukan bagi syarat istitaah (kesanggupan) seorang jemaah haji.

Disamping peranannya yang cukup sentral, Jeddah memiliki sisi lain yang dapat menjadi pesona keindahan wisata bagi para jemaah haji dan umrah. Berikut adalah sisi lain kota jeddah yang dapat Anda nikmati

Corniche Road

Pada akhir tahun 2012, proses pembangunan sebagian wilayah utara  corniche road baru selesai dirampungkan dan menghasilkan tempat rekreasi baru dipesisir pantai jeddah yakni nort corniche yg. Keindahannya menjadi salah satu tempat favorit para jemaah haji.

Senja di gurun pasir Bahran

Membentangkan tikar dan karpet ditengah gurun, menata bahan makanan sambil menikmati hamparan bukit-bukit gurun pasir Bahran yang menjulang bersama rombongan dikala senja akan menghadirkan sensasi yang indah dan sayang untuk Anda lewatkan.

Wisata Kuliner di Distrik Sharafiyah

Salah satu daerah yang memiliki banyak rumah makan yang menyediakan aneka rupa masakan asal tanah air dan menjadi favorit pemukim asal Indonesoa adalah Distrik Sharafiyah.

Bagaimana apakah ketiga tempat ini sudah menjadi target kunjungan Anda?

 

Nasi Kuning, Makanan Siap Santap Favorit Jemaah Haji 2014

berhaji.com

Pada pelaksanaan haji kali ini ada  aturan baru yang berlaku di Arab Saudi bagi para jamaah haji yakni Jamaah haji dilarang memasak makanan sendiri untuk mengantisipasi terjadinya kebarakan.

Di kota Mekkah tidak satupun pemondokan jamaah haji menyediakan dapur khusus untuk memasak. Karena memang sudah ada larangan dari pemerintah Arab Saudi bagi para jamaah haji memasak, oleh karena itu Setiap jamaah haji mendapat uang saku sebesar 1500 real, sangat cukup untuk membeli makan selama di Mekkah.

Dengan adanya peraturan tersebut, sebagian dari para jemaah haji merasa akan kesulitan mendapat menu makanan khas Indoneisa. Namun, ternyata kita tidak perlu bingung mencari sarapan yang sesuai dengan lidah Indonesia, karena disekitar pemondokan/hotel selalu ada yang berjualan makanan siap santap yang sesuai dengan lidah Indonesia.

Ini adalah salah satu menu sarapan favorit para jemaah haji 2014 ,Nasi kuning dengan  irisan timun segar dan dadar telur yummii .  Rasanya enak , Murah meriah hanya 2 real saja, Alhamdulillah..  :)

nasi kuning

APAKAH PENTING MENGIKUTI BIMBINGAN MANASIK HAJI ATAU TURUT KELOMPOK BIMBINGAN IBADAH HAJI (KBIH)

APAKAH PENTING MENGIKUTI BIMBINGAN MANASIK HAJI ATAU TURUT KELOMPOK BIMBINGAN IBADAH HAJI (KBIH)?

 

“Bekerjasamalah kamu sekalian menuju kebajikan dan
menuju ketaqwaan. Dan jangan kalian bekerjasama
menuju dosa dan permusuhan.” (Al-Qur`an, 5:2)

 

Pemerintah Indonesia, dalam hal ini jajaran Departeman Agama, telah berusaha memberikan pelayanan yang terbaik bagi saudara saudaranya sebangsa yang akan melaksanakan ibadah haji. Mereka melakukan evaluasi dan perbaikan se­tiap tahun. Akan tetapi dana, sarana dan sumber daya manusia yang masih terbatas, serta etos dan budaya kerja yang belum mantap, maka masih saja dirasakan adanya kekurangan. Sehubungan dengan itu, maka jika anda berangkat dengan paket BPIH biasa, bukan haji khusus, maka lebih banyak manfaatnya, bila anda bergabung dengan suatu Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH). Sebab dalam rombongan Departeman Agama, untuk satu kelompok terbang (kloter) yang berjumlah lima ratus orang, hanya ada satu pembimbing ibadah yang tentu sangat sulit memberikan bimbingan yang optimum bagi seluruh jamaah kloter yang berjumlah 500 orang. Dengan bergabung kepada suatu KBIH, insya Allah anda akan banyak mendapat manfaat. Manfaat apa yang diperoleh dengan bergabung di KBIH? Manfaat yang diperoleh adalah men­dapatkan bekal utama haji yaitu taqwa, sebagai­mana firman Allah SWT.: “Wa tazawwaduu, fainna khoiroz zaadit-taqwaa” / “Siapkanlah perbekalan haji, dan sebaik baik perbekalan (haji) adalah taqwa. ” (QS, al-Baqarah, 2:197)

Selama ini, materi yang disampaikan dalam manasik di sebuah KBIH, masih didominasi oleh teori manasik berupa hukum-hukum dan do’a­-do’a haji. Bahkan terkadang masih banyak yang lebih memperbayak do’a saja, sehingga tidak sedikit jamaah yang menjadi gugup karena belum banyak do’a yang hafal. Padahal, jika kita melihat firman Allah tadi dan realita kebutuhan di lapangan, maka selain manasik atau tatacara haji dan ibadah selama di tanah suci, hal lain yang lebih penting adalah kataqwaan yaitu akhlak dan sikap perilaku seperti kesabaran, ketabahan, ketawakalan, kerajinan dan ke­khusyuan ibadah, toleransi, kerjasama, kekompakkan, keikhlasan dan lain lain. Untuk mendapat hal hal seperti inilah anda bergabung dengan KBIH. Termasuk dalam akhlak taqwa adalah semangat: “Ta’aawanuu ‘alal birri wat­taqwaa, wa laa ta’aawanuu ‘alai ismi wal­’udwaan” / “Tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. ” (QS, al-Ma’idah, 5:2) Yakni semangat tolong-menolong dalam kebajikan dan dalam ketaqwaan, serta saling menjauh dan menghindar dari dosa, kesalahan dan per­musuhan. Jadi, tidak cukup dan termasuk rugi

bila anda pergi haji dan masuk sebuah KBE jika hanya mendapat manasik haji, tanpa mendapat bekal haji yang utama yakni sikap d akhlak taqwa seperti disebut di atas