Pengertian Sa’i dan Proses Melaksanakan Sa’i

 

Apabila telah melaksanakan thawaf, hendaknya keluar melalui Bab (pintu) Ash-Shafa, menuju bukit Shafa lalu menaiki beberapa anak tangganya.[i]

Diriwayatkan bahwa, “Rasulullah Saw. menaiki bukit Shafa sehingga dapat melihat Ka’bah.”

Meskipun demikian, sa’I cukup dimulai dari kaki bukit. Menaikinya lebih dari itu merupakan sesuatu yang mustahab (dianjurkan).[ii]

 

Pengertian Sa’I

Sa’i ialah berjalan dari buki Safa ke bukit Marwah dan sebaliknya, sebanyak tujuh kali yang berakhir di bukit Marwah.[iii] Perjalanan dari bukit Safa ke bukit Marwah dihitung satu kali dan juga dari bukit Marwah ke bukit Safa dihitung satu kali.

 

Proses Melaksanakan Sa’I

Pada mulanya, hendaknya sa’I dimulai dengan langkah-langkah biasa, sampai dekat dengan tanda pertama berwarna hijau, kira-kira sejauh enam hasta. Dari tempat itu, hendaknya jamaah haji mempercepat langkah atau berlari-lari kecil sehingga sampai di tanda hijau yang kedua, kemudian dari sana berjalan kembali dengan langkah-langkah biasa.

Apabila telah sampai di bukit Marwah, hendaknya menaiki bukit Marwah seperti yang dilakukan ketika di bukit Safa. Setelah itu menghadap ke arah Shafa dan berdoa seperti sebelumnya. Dengan demikian, jamaah haji telah selesai melakukan satu kali lintasan sa’i. jika telah kembali lagi ke bukit Shafa, maka dihitung dua kali. Begitulah selanjutnya sampai tujuh kali lintasan.

Dengan selesainya tujuh kali lintasan itu, maka jamaah haji telah menyelesaikan dua hal, yakni thawaf qudum dan sa’i. [iv]

Jika jamaah haji memulai sa’Inya dari Marwah, sa’I dianggap sah akan tetapi harus menambah satu perjalanan lagi sehingga berakhir di Marwah.[v] Bagi jamaah haji yang sakit boleh menggunakan kursi roda.

Adapun persyaratan bersuci dari hadats besar maupun kecil ketika mengerjakan sa’I, hukumnya mustahab (dianjurkan) dan bukan wajib seperti dalam mengerjakan thawaf.[vi]

 

Hikmah Sa’i

Ritual sa’I ini merupakan napak tilas dari upaya yang dilakukan Hajar untuk mencarikan air bagi putranya Ismail yang kehausan.[vii] Hikmah yang dapat diambil dari pelaksanaan sa’I ini diantaranya, bolak-baliknya jamaah haji antara bukit Shafa dan Marwah di halaman Ka’bah, menyerupai perbuatan seorang hamba yang berjalan pulang pergi secara berulang-ulang di halaman rumah sang Raja. Hal itu dilakukannya demi menunjukkan kesetiaannya dalam berkhidmat, seraya mengharap agar dirinya memperoleh perhatian yang disertai kasih sayang.[viii]

 


[i] Al-Ghazali. Rahasia Haji dan Umrah. (Bandung: Karisma, 1997). hlm. 65.

[ii]  Ibid.

[iii] Tri May Hadi.  Kumpulan Doa, Dzikir, dan Tanya Jawab untuk Ibadah Haji dan Umrah. (Jakarta: Kesaint Blanc, 2009). hlm. 140.

[iv] Al-Ghazali. Op.Cit. hlm. 67-68.

[v] Tri May Hadi. Op.Cit. hlm. 141.

[vi] Al-Ghazali. Op.Cit. hlm. 68.

[vii] Maisarah Zas. Haji dan Pencerahan Jati Diri Muslim. (Bandung: Alfabeta, 2005). hlm. 163.

 [viii] Al-Ghazali. Op.Cit. hlm. 136-137.

Mabit di Mina

Mabit di Mina ialah bermalam di Mina pada hari-hari Tasyrik yaitu malam tanggal 11, 12 dan 13 dzulhijjah. Mina menurut Ali Sariarti berarti cinta.

Amalan yang dilakukan di Mina ini adalah melontar tiga jumrah. Hari pertama (hari nahar) melontar jumrah aqabah saja. Hari kedua dan seterusnya melontar jumrah berturut-turut mulai dari jumrah ula, wustha dan terakhir aqabah masing-masing sebanyak tujuh kali. Setiap melontar jumrah mengangkat tangan kanan sambil membaca takbir.[i] Di minalah dilakukan penyembelihan hewan kurban. Menurut riwayat, peristiwa penyembelihan Ismail as. oleh Nabi Ibrahim as. terjadi di Jabal ul Kabsyi di Mina. Bukit tersebut dinamakan demikian karena di atas gunung itulah domba pengganti Nabi Ismail diturunkan.[ii]

Menurut jumhur ulama hukum mabit di Mina adalah wajib, sebagian yang lain mengatakan sunat. Jika tidak melaksanakan mabit di Mina pada seluruh hari Tasyrik, maka diwajibkan membayar dam (satu ekor kambing). Tetapi apabila tidak mabit di Mina hanya satu atau dua malam, maka harus diganti dengan denda, yaitu satu malam 1 mud (3/4 beras atau makanan pokok), dua malam 2 mud (1 ½ kg beras atau makanan pokok), tiga malam membayar dam seekor kambing.[iii]

 

Hukum Mabit di Mina dan di Wilayah Perluasan Mina 

Hukum Mabit jamaah haji di Mina maupun di wilayah perluasan Mina adalah sebagai berikut.[iv]

  1. Hukum Mabit di Mina pada malam hari Tasyrik menurut sebagian besar madzhab Syafi’I, madzhab Maliki dan sebagian ulama madzhab Hambali serta fatwa MUI tahun 1981 adalah wajib. Bagi jamaah haji yang tidak melaksanakan mabit dikenakan dam. Namun ada sebagian dari madzhab Hanafi, sebagian Hambali, sebagian madzhab Syafii dan sebagian madzhab Dhahiri berpendapat bahwa mabit di Mina pada malam hari Tasrik hukumnya sunat.
  2. Mabit di perluasan kemah di kawasan perluasan Mina hukumnya sah seperti di Mina, sebagaimana pendapat para ulama Mekah saat ini dan para ulama lain, juga menurut ijtihad yang didasarkan pada keadaan darurat karena kondisi di Mina saat ini sudah penuh sesak, dan kemah di perluasan Mina masih bersambung dengan perkemahan di Mina, sesuai dengan Keputusan Hasil Mudzakarah Ulama tentang mabit di luar kawasan Mina, tanggal 10 Januari 2001.
  3. Bagi yang berpendapat bahwa mabit di Mina itu wajib dan perluasan kemah di Mina tidak sah untuk mabit, maka pelaksanaan mabitnya masuk ke wilayah Mina kemudian setelah mabit kembali ke kemahnya di perluasan Mina.

 


[i] Maisarah Zas. Haji dan Pencerahan Jati Diri Muslim. (Bandung: Alfabeta, 2005). hlm. 156.

[ii] Ibid.

[iii] Tri May Hadi.  Kumpulan Doa, Dzikir, dan Tanya Jawab untuk Ibadah Haji dan Umrah. (Jakarta: Kesaint Blanc, 2009). hlm. 149-150.

 

[iv] Ibid. hlm. 150–151.

Mabit Di Muzdalifah

“Jika kamu telah selesai dari Arafah, maka berzikirlah kepada Allah di Masy’aril Haram (Muzdalifah).” (Q.S. Al-Baqarah: 198)

Setelah selesai wukuf di Arafah, jamaah harus berangkat menuju Muzdalifah. Amalan yang dilakukan di Muzdalifah adalah shalat maghrib dan isya dengan menjamak serta dzikir. Disini digunakan pula kesempatan untuk mengambil batu guna melempar jumrah di Mina.[i]

Mabit di Muzdalifah mulai setelah maghrib sampai terbit fajar 10 dzulhijjah. Diperbolehkan hanya sesaat saja asalkan sudah lewat tengah malam. Bagi yang sehat wajib mabit di Muzdalifah, tetapi bagi yang sakit dan yang mengurus orang yang sakit ataupun yang mengalami kesulitan, diperbolehkan untuk tidak mabit di Muzdalifah, dan tidak dikenakan dam.[ii]

 

Mengambil Batu di Muzdalifah

Ketika di Muzdalifah, jamaah haji tidak harus turun dari kendaraanya. Maka jika hendak mengambil kerikil untuk melaksanakan jumrah aqabah, jamaah haji cukup mengambil tujuh batu kerikil saja, karena untuk melontar jumrah pada hari-hari Tasyrik boleh diambil di Mina. Boleh juga diambil di Muzdalifah sebanyak yang diperlukan yaitu 49 butir kerikil bagi yang nafar awal atau 70 butir bagi yang akan nafar tsani.[iii]

 

Hikmah Mabit di Muzdalifah

Terdapat hikmah dari dilaksanakannya mabit di Muzdalifah, berikut di antaranya.[iv]

Pertama, sebagai tahap persiapan atau perbekalan. Bekal itu adalah menjalin “komunikasi yang intensif” dengan Allah yang dilambangkan dengan shalat maghrib dan isya di Muzdalifah. Itulah bekal yang akan membantu manusia melawan setan. Secara materiil bekal itu disimbolkan dengan mengambil batu dari Mina. Dengan demikian dapatlah difahami mengapa mabit di Muzdalifah ini diwajibkan, padahal shalat dan dzikir dapat saja dilakukan di Arafah atau di Mina.  Tepatlah jika para ulama sepakat bahwa ketika mabit di Muzdalifah wajib mengerjakan shalat maghrib dan isya dengan menjamak. Rasul bersabda kepada Usamah bin Zaid sahabat Rasulullah Saw. ketika hendak shalat sebelum sampai di Muzdalifah: “Shalat itu tempatnya di depan kamu (Muzdalifah).” Peranan Muzdalifah sebagai symbol perbekalan yang ikut menentukan keberhasilan perang di Mina dapatlah disebut sebagai simbol “Monumen Abadi Perbekalan” untuk melawan musuh.

Kedua, dari segi rukun Islam termasuk dalam tahap kedua, yaitu shalat.  Setelah meyakini dan menyaksikan kebenaran syahadat di Arafah, maka jamaah haji dapatlah memasuki tahap berikutnya yakni shalat, sebagaimana disunnahkannya (sebagian ulama mengatakan diwajibkan) shalat maghrib dan isya di Muzdalifah. Rasul bersabda, “Haji adalah wukuf di Arafah.” Dilihat dari rukun Islam wukuf di Arafah ini merupakan ritual yang termasuk ke dalam rukun yang pertama yaitu syahadat. Maka tidak akan seseorang melakukan shalat (dalam hal ini di Muzdalifah) tanpa sebelumnya ia meyakini syahadat (di Arafah).



[i] Maisarah Zas. Haji dan Pencerahan Jati Diri Muslim. (Bandung: Alfabeta, 2005). hlm. 153.

 

[ii] Tri May Hadi.  Kumpulan Doa, Dzikir, dan Tanya Jawab untuk Ibadah Haji dan Umrah. (Jakarta: Kesaint Blanc, 2009). hlm. 144.

[iii] Ibid.

[iv] Maisarah Zas. Op.Cit. hlm. 154

WUKUF DI ARAFAH

Wukuf dilaksanakan pada hari arafah mulai dari tergelincir matahari tanggal 9 dzulhijjah sampai dengan terbit fajar tanggal 10 dzulhijjah. Wujuf dinilai sah walaupun dilaksanakan hanya sesaat dalam rentang waktu tersebut, akan tetapi diutamakan mendapatkan sebagian waktu siang dan waktu malam.[i]

Pada saat wukuf, jamaah haji melaksanakan shalat, dzikir dan membaca doa serta memperbanyak membaca Al-Quran. Amalan yang disunahkan di Arafah adalah hendaklah setiap muslim bersungguh-sungguh berdzikir dan bertaubat, menyatakan ketundukan dan kepatuhan pada Allah Swt.[ii] Sedangkan pada saat persiapan wukuf hari-hari sebelumnya, pada tanggal 8 dzulhijjah jamaah haji berpakaian ihram dan niat haji bagi yang berhaji tamattu’ di penginapan masing-masing, sedangkan bagi yang berhaji ifrad dan qiran tidak niat haji lagi karena masih dalam keadaan ihram sejak dari miqat saat tiba, setelah itu berangkat ke Arafah. Pada tanggal 9 dzulhijjah bagi jamaah haji yang telah berada dalam kemah masing-masing menanti saat wukuf (ba;da zawal) sambil berzikir dan berdoa. [iii]

Di Arafah, wukuf boleh dilaksanakan di dalam maupun di luar tenda. Jamaah haji yang melakukan wukuf tidak disyaratkan suci dari hadats besar maupun kecil. Dengan demikian, wukuf jamaah haji yang sedang haid, nifas, junub dan hadats kecil adalah sah.[iv]

 

Kisah Arafah

Arafah merupakan nama suatu padang pasir yang luas. Menurut para ulama, asal penamaannya lebih dari satu kisah.[v]

Pertama, para malaikat mengingatkan Adam As. dan Hawa setelah keduanya ditirinkan ke bumi, yakni di Arafah, agar mereka mengakui dosa-dosanya dan memohon ampun kepada Allah. Dengan kata lain bibit manusia yang pertama (Adam dan Hawa) diturunkan ke muka bumi ini adalah di Arafah.

Kedua, ketika Adam dan Hawa diturunkan dari surge, keduanya berpisah tempat. Adam di India dan Hawa di Jeddah (Jeddah artinya nenek). Setelah seratus tahun kemudian mereka bertemu di padang Arafah (arafah berarti tahu atau kenal), tepatnya di Jabal Rahmah (bukit kasih sayang).

Ketiga, Ibrahim as. diberitahu Jibril cara menunaikan manasik haji di tempat ini. Jibril bertanya, “Arafta’, tahukah kamu?” Ibrahim menjawab, “Araftu, aku mengetahuinya.”

Keempat, pemberian nama Arafah berkaitan dengan penamaan hari-hari sebagai berikut: hari kedelapan dzulhijjah disebut haru Tarwiyah yang berarti merenung atau berpikir, erat kaitannya dengan peristiwa yang dialami oleh nabi Ibrahim as. yaitu pada hari Tarwiyah ini nabi Ibrahim bermimpi mendapat perintah untuk menyembelih anaknya, Ismail (QS. 37: 102-7). Pada malam itu sampai besoknya nabi Ibrahim sangat gelisaj, tyerus menerus merenung dan berpikir, mempertanyakan apakah mmpinya itu berasal dari Allah atau dari setan. Karena ragu beliau tidak segera melaksanakan mimpinya pada siang harinya. Pada malam kesembilan, Ibrahim as. bermimpi para malaikat mengingatkan lagi dengan perintah yang sama. Setelah mimpi yang kedua inilah nai Ibrahim as. baru yakin bahwa mimpinya itu merupakan wahyu dari Allah Swt. Oleh karena itu, hai kesembilan ini dinamakan hari Arafah (mengetahui). Pada malam hari kesepuluh, nabi Ismail as. bermimpi lagi untuk ketiga kalinya dengan mimpi yang sama pula. Maka keesokan harinya (10 Dzulhijah) nabi Ibrahim melaksanakan perintah itu, karena itu disebut hari Nahar yang berarti hari penyembelihan.



[i] Tri May Hadi. Kumpulan Doa, Dzikir, dan Tanya Jawab untuk Ibadah Haji dan Umrah. (Jakarta: Kesaint Blanc, 2009). Hlm. 142

[ii] Maisarah Zas. Haji dan Pencerahan Jati Diri Muslim. (Bandung: Alfabeta, 2005). hlm. 148.

[iii] Tri May Hadi. Op.Cit. hlm. 142

[iv] Ibid. hlm. 143

[v] Maisarah Zas. Op.Cit. 149

ZIARAH KE MASJID NABAWI DAN MAKAM RASULULLAH

Dari Ibnu Umar, telah bersabda Rasulullah Saw, “Barang siapa berziarah kepadaku setelah aku meninggal, maka seakan-akan ia berziarah pada waktu aku masih hidup.” (HR. Baihaqi, Daruqutni, dan Tabrani)[i]

 

Banyak hadits yang menguraikan keutamaan ziarah. Dalam hadits lain dikatakan, “Barang siapa datang menziarahiku tanpa tanpa tujuan lain kecuali  untuk berziarah kepadaku, maka aku berhak menjadi pemberi syafaat baginya di hari kiamat.” (HR. Ath-Thabrani dari Ibnu Umar).

Hadits tersebut merupakan dalil dilarangnya mengunjungi makam Rasul dengan niat lain selain ziarah, seperti meminta doa dan dengan sengaja meminta syafaat di hadapan makam Rasulullah Saw.

Hukum Ziarah ke Masjid Nabawi dan Makam Rasul

Ziarah ke masjid Nabawi adalah sunnah. Hal ini berdasarkan sabda Nabi Saw. “Janganlah mengadakan ziarah kecuali ke tiga masjid, yakni Masjidil Haram, masjid saya ini, dan Masjidil Aqsha.” (HR. Bukhari – Muslim)

Maka hendaklah orang-orang berziarah ke masjid Nabawi, karena satu kali shalat di dalamnya lebih baik daripada seribu kali shalat di masjid lainnya selain Masjidil Haram. Apabila seseorang akan pergi ke Madinah, seharusnya tujuan awalnya adalah melaksanakan shalat di masjid Rasulullah. Dan ketika dia telah sampai di sana, hendaknya berziarah ke makam Rasulullah Saw., serta makam kedua sahabat beliau yaitu Abu Bakar dan Umar r.a., sesuai dengan cara yang disyariatkan, tanpa melakukan bid’ah ataupun berlebih-lebihan.[ii]

Hubungan Ziarah dengan Haji

Tidak ada hubungan antara ziarah ke masjid Nabawi dan Makam Rasulullah dengan ibadah haji. Sesungguhnya ziarah ke masjid Nabawi ialah urusan di luar haji dan umrah. Akan tetapi, ahli ilmu membahasnya di dalam bab haji, karena pada zaman dahulu orang-orang mengalami kesulitan jika harus melaksanakan haji dan umrah dalam suatu perjalanan, sedangkan untuk ziarah ke masjid Nabawi dalam perjalanan yang lain. Jadi apabila mereka melakukan ibadah haji dan umrah, maka mereka sekaligus melewati Madinah untuk ziarah ke masjid Rasulullah Saw.[iii]

Adab Masuk Masjid Nabawi dan Ziarah ke Makam Rasul

Peziarah masjid Nabawi disunnahkan untuk mendatanginya dengan tenang dan sopan, memakai wewangian, mengenakan pakaian terbaik, memasukinya dengan kaki kanan, dan membaca do’a ma’tsur. Dia disunnahkan pula mendatangi raudhoh (taman) terlebih dahulu untuk mengerjakan shalat sunnah tahiyyatulmasjid dengan khusyuk. Sesudah selesai mengerjakan shalat sunnah ini, dia disunnahkan pergi ke makan Nabi Saw dengan menghadap kepadanya dan membelakangi kiblat untuk mengucapkan salam kepada Rasulullah Saw, kemudian bergerak mundur sekitar satu hasta ke arah kanan untuk mengucapkan salam kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a., lalu bergerak mundur lagi sekitar satu hasta ke arah kanan untuk mengucapkan salam kepada Umar bin Khattab, lantas menghadap kiblat dan berdoa untuk dirinya, orang-orang yang dicintainya, sadara-saudaranya dan seluruh umat Islam, lalu langsung pulang ke kampung halamannya. Seorang peziarah hanya boleh mengeraskan suaranya hingga terdengar bagi dirinya saja. Dia juga harus menjauhi perbuatan mengusap-ngusap dan mencium makam Nabi Saw. karena itu termasuk perkara yang dilarang oleh beliau.[iv]

Larangan dalam Berziarah

Apa yang dilakukan sebagian orang dalam berziarah, yakni mengusap-usap dinding kamar makam Rasulullah, mengambil berkah dengannya, dan sebagainya, maka semua ini termasuk bid’ah. Dan yang lebih parah, lebih mungkar, dan lebih berat lagi ialah memohon kepada Nabi Saw. agar dimudahkan dari segala kesulitan dan tercapainya segala harapan, maka hal ini merupakan syirik besar, yang mengeluarkannya dari agama. Sesungguhnya Nabi Saw. tidak dapat mendatangkan manfaat maupun menolak madhorot terhadap dirinya sendiri, demikian pula terhadap orang lain. Beliau tidak mengetahui segala sesuatu yang ghaib. Beliau meninggal dunia sebagaimana anak cucu Adam meninggal dunia. Beliau tidak mengatur sedikitpun dari alam raya ini selamanya. Allah Swt. berfirman kepada Rasulullah Saw.[v]

Katakankah (Muhammad), ‘Aku tidak kuasa menolak madharat maupun mendatangkan kebaikan kepadamu.’ Katakanlah (Muhammad), ‘Sesungguhnya tidak ada sesuatupun yang dapat melindungiku dari (adzab) Allah dan aku tidak akan memperoleh tempat berlindung selain-Nya.” (QS. Al-Jin: 21-22)[vi]

Jadi, Rasulullah adalah manusia yang membutuhkan Allah. Beliau tidak akan bisa berbuat sesuatu tanpa izin Allah. Beliau adalah yang dipelihara oleh Allah dan diberi beban sebagaimana beban yang diberikan kepada manusia lainnya. Hanya saja beliau mempunyai kelebihan karena anugerah yang diberikan Allah kepadanya, yang tidak diberikan kepada orang lain sesudahnya.[vii]

 


[i] Al-Ghazali. Rahasia Haji dan Umrah. (Bandung: Karisma, 1997). hlm. 94.

[ii] Dr. Abdullah bin Muhammad bin Ahmad Ath-Thayyar. Fiqih Ibadah: Kumpulan Fatwa Lengkap Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin. (Surakarta: Media Zikir, 2010). hlm. 636.

[iii] Ibid. hlm. 637.

[iv] Sulaiman Al-Faifi. Mukhtashar Fiqih Sunnah Sayyid Sabiq. (Solo: Aqwam, 2010). hlm. 407.

[v] Dr. Abdullah bin Muhammad bin Ahmad Ath-Thayyar. Op.Cit. hlm. 639

[vi] Ibid. hlm. 640

[vii] Ibid.

JENIS-JENIS HAJI

Terdapat tiga jenis haji yang disepakati oleh para ulama, yakni:[i]

  1. Haji qiran
  2. Haji tamattu’
  3. Haji ifrad

Haji Qiran

Haji qiran berarti mengerjakan haji dan umrah secara bersamaan dan ketika membaca talbiyah mengucapkan: labaika bi haj wa umrah (aku datang memenuhi panggilan-Mu untuk menunaikan haji dan umrah), dan ini mengharuskan pelakunya untuk tetap dalam keadaan ihram hingga selesai mengerjakan umrah dan haji sekaligus.[ii]

Adapun haji qiran ini terbagi ke dalam dua jenis:[iii]

  1. Berihram dengan niat umrah dan haji sekaligus dari miqat dengan mengucapkan ‘labbaika umratan wa hajjan’.
  2. Berihram dengan niat umrah terlebih dahulu kemudian memasukkan niat haji ke dalam niat umrah sebelum melakukan thawaf umrah.

Ada bentuk lain dari haji qiran yang menjadi perselisihan para ulama, yaitu berihram dengan niat hanya akan melakukan haji saja, lalu mengerjakan umrah sebelum melakukan apapun dari rangkaian kegiatan haji, seperti thawaf dan sa’i.[iv]

Orang yang melakukan haji qiran harus tetap dalam keadaan ihram, dan apabila telah tiba di Makkah, dia melakukan thawaf qudum lalu melakukan sa’i untuk haji dan umrah. Setelah itu tetap dalam keadaan ihram hingga tiba saat bertahallul pada hari Idul Adha. Dia wajib membayar hadyu (menyembelih seekor domba) sebagaimana dalam haji tamattu’.[v]

Haji Tamattu’

Haji tamattu’ berarti mengerjakan umrah di bulan-bulan haji, kemudian menunaikan haji di tahun yang sama. Cara mengerjakannya ialah: niat mengerjakan umrah dari miqat dan ketika membaca talbiyah mengucapkan: labbaika bi umrah (aku datang memenuhi panggilan-Mu untuk menunaikan umrah), dan ini mengharuskan pelakunya untuk tetap dalam keadaan ihram hngga ia tiba di Makkah dan mengerjakan thawaf, sa’i, memotong atau mencukur rambut, tahallul, menanggalkan pakaian ihram, mengenakan pakaian biasa, serta melakukan apa-apa yang sebelumnya dilarang karena ihram, hingga tibanya hari Tarwiyah (tanggal 8 Dzulhijjah), saat itulah dia berniat haji dari Makkah.[vi]

Haji Ifrad

Haji ifrad berarti mengerjakan haji saja dari miqat, dan ketika membaca talbiyah mengucapkan: labbaik bi hajj (aku datang memenuhi panggilan-Mu untuk menunaikan haji), dan orang yang mengerjakannya tetap berada dalam keadaan ihram hingga selesainya seluruh rangkaian ibadah haji.[vii]

Apabila dia tiba di Makkah, langsung melakukan thawaf qudum dan sa’i haji, dan tidak boleh bertahallul kecuali pada hari raya (10 Dzulhijjah). Dengan demikian, sebenarnya kegiatan orang yang melakukan haji qiran dan orang yang melakukan haji ifrad itu sama, perbedaannya bahwa orang yang melakukan haji qiran mendapatkan ibadah umrah dan haji (sekaligus) dan harus membayar hadyu, sedangkan orang yang melakukan haji ifrad hanya melakukan haji dan tidak wajib membayar hadyu.[viii]

Jenis Haji yang Paling Utama

Para ulama berbeda pendapat tentang jenis haji yang paling utama. Mazhad Syafi’i mengatakan, haji ifrad dan haji tamattu’ lebih utama daripada haji qiran. Mazhab Hanafi berpendapat, haji qiran lebih utama daripada haji tamattu’, dan haji tamattu’ lebih utama dari haji ifrad. Mazhab Maliki mengatakan, haji ifrad lebih utama daripada haji tamattu’ dan haji qiran. Sementara mazhab Hanbali berpendapat, haji tamattu’ lebih utama daripada haji qiran dan ifrad, dan inilah pendapat yang lebih pas dan lebih mudah dilaksanakan oleh orang yang menunaikan ibadah haji. Ini juga merupakan cara pelaksanaan ibadah haji yang dicita-citakan Rasulullah Saw. dan telah diperintahkan kepada sahabat-sahabatnya.[ix]

 



[i] Sulaiman Al-Faifi. Mukhtashar Fiqih Sunnah Sayyid Sabiq. (Solo: Aqwam, 2010). hlm. 352.

[ii] Ibid.

[iii] Dr. Abdullah bin Muhammad bin Ahmad Ath-Thayyar. Fiqih Ibadah: Kumpulan Fatwa Lengkap Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin. (Surakarta: Media Zikir, 2010). hlm. 471.

[iv] Ibid.

[v] Ibid.

[vi] Sulaiman Al-Faifi. Op.Cit. hlm. 352.

[vii] Ibid. hlm. 353.

[viii] Dr. Abdullah bin Muhammad bin Ahmad Ath-Thayyar. Op.Cit. hlm. 471-472

[ix] Sulaiman Al-Faifi. Op.Cit. hlm. 353.

 

Hidangan Makanan di Arafah Terasa Nikmat (Part-1)

Musim haji tahun 2001 adalah pengalaman pertama saya berhaji, sangat istimewa, karena penuh dengan warna-warni pengalaman. Saya berangkat denagan KBIH Salman ITB, dan bergabung dengan KBIH Amanah PT. Pos Indonesia. Setibanya di Makkah, rombongan bergabung dengan sekitar 15 jamaah yang menggunakan paspor hijau yang dipimpin oleh Hj. Lilis. Saya tinggal di Maktab di Ja’fariyah, sekitar 1,5 km dari Masjidil Haram. Para jamaah haji dengan paspor hijau tinggal di Ghararah, di sekitar belakang Pasar Seng. Dengan gambaran ini saja, sudah terbayang serunya perjalanan haji ini.

Dari Makkah ke Mina, kami berjalan kaki, lalu menginap di sekitar Jamarat. Pada saat itu, bermalam di Jamarat masih diperbolehkan, dan bukan hanya kami, tapi ribuan jamaah termasuk penduduk Makkah dan para TKI yang sedang “haji”, juga bermalam disekitar Jamarat sebelum ke Arafah.

Perjalanan Makkah-Mina dengan berjalan menyusuri terowongan yang tertutup bagi kendaraan tersebut sangat terkesan. Sepanjang perjalanan, kami bertalbiyah, secara perlahan dan sekuat hati. Deru suara kipas angin disepanjang terowongan, membuat suara kami tenggelam. Kami pun memilih berdzikir dan bertalbihyah: kaki melangkah satu-satu, mulut berucap perlahan, hati merintih mengingat dosa dan kesalahan.

Seorang jamaah sempat bertutur tentang gejolak hatinya ketika saya tanya, doa apa yang dipanjatkannya sepanjang perjalanan ini? Jawabannya sangat mengejutkan, “Saya hanya meminta agar Allah memberikan hidayah kepada suami saya. Suami saya bukan Muslim,”katanya dengan air mata berlinang.

Mendengar jawaban itu , langkah saya semakin terasa ringan: karena hati terbang mengingat Allah, dan ikut merasakan kegalauan hati seorang Muslimah yang  suaminya bukan Muslim. “Ya Allah, dengar dan kabulkanlah doanya,” pinta saya.

Menjelang tiba di Jamarat, kami beristirahat sejenak, untuk menghindari teriknya sengatan matahari. Menjelang asar, kami merapat ke Jamarat yang mulai dipenuhi Jamaah. Kami menggelar tikar istimewa kami: Tikar Plastik dengan kantung udara disatu ujungnya yang berfunsi sebagai bantal. Kami berbagi dengan ribuan Jamaah lainnya. Di sana, saya berjumpa dengan para TKI dan TKW yang diliburkan dan dihajikan oleh majikannya.

Beberapa TKI sudah tiga tahun tidak pulang ke Indonesia. Iseng saja saya tunjukan uang rupiah terbaru seri seribu, sepuluh ribu, dan seratus ribu yang saya bawa. Ternyata mereka sangat suka pada uang rupiah saya dan berani membeli denagn harga beberapa kali lipat dan menukarnya dengan riyal saudi. Saya yang tak sedang berdagang, meminta mereka menukar dengan riyal sejumlah yang setara. Betapa suka cita tergambar di wajah mereka.

“Ya Allah! Betapa luas jalan untuk membahagiakan sesama hamba-Mu,”rintih saya dalam hati melihat kebahagiaan para TKI yang memamerkan “üang baru” yang mereka miliki. Ini menjadi catatan bagi saya; ladang amal amt luas, bahkan untuk amal terbaik setelah iman, yakin memasukan rasa bahagia kedalam hati kaum Mukmin.

Esok hari selepas subuh dan usai sarapan, kami bergerak ke Arafah. Jalanan sudah sesak dengan kendaraan yang mengangkut jamaah haji. Tampak sekelompok jamaah asal Iran menggunakan bus tanpa atap. Semula saya pikir itu karena mereka mau mengirit. “Mengapa sewa bus harus yang rusak dan tidak ada atapnya?”pikir saya dalam hati. Namun ternyata saya keliru. Menurut Haji Anis Rosidi, pembmbing kami, bus tanpa atap itu memang sengaja disewa, agar perjalanan mereka berhaji tidak melanggar aturan. Bukankah ketika berkain ihram, kaum laki-laki tidak diperkenankan menggunakan penutup kepala? Wah, saya benar terkagum-kagum. Betapa ketaatan pada Allah telah menghilangkan rasa takut akan panas dan cuaca. Ketaatan berpanas-panas sepanjang perjalanan Makkah-Mina-Arafah dijalani sebagai bagian ketaatan atas perintah Allah.

Dengan apa kami menuju Arafah? Kami menyetop mobil yang melintas. Polisi Kerajaan Arab membantu kami. Rupanya semua kendaraan yang menuju Arafah diwajibkan membolehkan jamaah haji untuk ikut. Tentu saja boleh disewakan.

Kami pun mendapatkan tumpangan Mobil Opel Blazer yang masih baru. Mobil Jerman dengan kapasitas 4.500 cc itu pun kami isi penuh sesak. Bahkan, saya bersama Pak Anis, Pak Isnu Wardianto (mantan PR III ITB, sekarang Rektor Institut Tekhnologi Indonesia-Tangerang) dan seorang jamaah lain, mendapat bagian di atap.

Saya berfikir, ini benar-benar melebihi kapasitas. Saya berkain ihram, naik ke atap mobil dan kemudian melaju dengan nyaman diatara penuh sesak kendaraan menuju Arafah. Perlu diingat, ketika berihram, kaum adam hanya menggunakan dua lembar kain tanpa jahitan dan tidak menggunakan apa-apa selain itu. Jadi betapa serunya memegangi kain ihram agar tak tersingkap oleh angin gurun di atas atap kendaraan yang melaju.

Bersambung… ke Hidangan Makanan di Arafah Terasa Nikmat (Part-2)

Pengalaman – Pengalaman Menggetarkan Ibadah Haji

Penelusuran momen-momen titik balik spiritual (spiritual tipping point) dapat dimulai ketika seorang muslim mulai memikirkan untuk melaksanakan haji: mulai menabung atau langsung membayar biaya perjalanan ibadah haji (BPIH). Saat ini pun pengalaman mulai beragam dan getar-getar kasih Ilahi mulai tertangkap.makkah1

Semoga tulisan ini memberi spirit ruhiah kepada kita yang ingin berhaji dan juga untuk umat muslim secara keseluruhan. Karena kisah-kisah ini dapat memberikan pelajaran berharga tentang keimanan, kesabaran, dan ketauhidan kita kepada Allah. Selamat menyelami lautan spiritual ibadah haji.

Haji dan Air mata Bahagia

 Seorang ibu, bernama Rosiko, pensiunan pegawai PT Pos Indonesia, bergetar hatinya ketika dia merasa dibiarkan untuk mengurus sendiri proses penyetoran BPIH-nya. Suaminya justru melepasnya sendirian dan mengatakan bahwa proses haji mandiri harus dimulai sejak membayar BPIH. Asal tahu saja, sang suami memang tidak pergi haji bersama ibu ini, dan semoga Allah segera membukakan kesempatan untuknya. Amin.

Dengan menggunakan mobil angkutan kota, Ibu Rosika ini pergi menuju bank untuk melakukan transaksi pembayaran. Namun bank yang didatangi Ibu Rosika ternyata tidak menerima setoran BPIH, dan dia disarankan untuk membayar di kantor cabang bank tersebut. Sesampainya dikantos cabang bank yang dimaksud, Ibu Rosika diminta untuk terlebih dahulu mendatangi Depag. Luar biasa, padahal biasanya bank berebut menawarkan diri untuk mengurus kepentingan jamaah sebagai sebuah bentuk pelayanan kepada nasabah. Bukankah bank mendapatkan dana tak sedikit dari kegiatan haji?

Ketika akhirnya proses pembayaran dan pendaftaran haji selesai, Ibu Rosika pun terpesona dengan cara Allah memperlakukannya. Apapun kejadiannya, Ibu Rosika merasa Allah telah memulai proses pengujian kesabaran kepadanya: petugas bank yang tidak ramah, disuruh pergi kesana kemari, sembari merasa cemas karena membawa uang tunai puluhan juta rupiah dalam angkutan kota!

Dengan bercucur air mata, pengalamannya tersebut dituturkan kepada saya di pelataran Masjidil  Haram, usia shalat subuh, menunggu waktu dhuha. Hingga tulisan ini dibuat, tujuh tahun telah lewat dari dari perjalanan haji bersama KBIH Salman ITB dan KBIH Al-Amanah PT Pos Indonesia. Sungguh, air mata kami mudah menetes jika berjumpa dan mengenang setiap langkah dan pengalaman haji.

Ada lagi kisah mengharukan lainnya.seorang ibu,Dedeh Saodah, bergetar hatinya ketika anak sulungnya, dengan ikhlas memberikan  sejumlah uang untuk biaya perjalanan ibadah haji. Ibu yang membesarkan tiga anaknya sendirian, sejak suaminya wafat meninggalkan mereka, bertanya, “Nak, bukankah kamu belum punya mobil? Kamu juga masih tinggal di rumah kontrakan? Bagaimana pula dengan istrimu, apa dia ridha kamu berikan uang ini pada ibu?”

Anak yang shaleh itu menjawab, “Bu, rumah dan mobil insya Allah akan dapat dibeli. Sekarang ibu sehat dan Aa Ridha uang ini untuk  biaya ibu menunaikan haji ke Makkah. Istri Aa sangat setuju justru kalau ibu berangkat haji sekarang, mumpung ibu sehat dan Allah memberikan rezekinya melalui ikhtiar Aa.”

Allahu Akbar, bagaimana jika kita yang merasakannya? Diberangkatkan haji oleh anak! Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar!

Ibu Dedeh segera mengenang kembali bagaimana rasanya ketika sang suami, Ustad Yunus Anis, wafat dengan meninggalkan 3 orang anak yang sedang lucu-lucunya. Irfan si sulung berusia sekitar 7 tahun, imran dan Duis-nama panggilan si bungsu, wanita satu-satunya.

Pada saat itu, banyak orang yang menyarankan Ibu Dedeh untuk menikah lagi. Namun dengan bijak, Ibu Dedeh menjawab, “Anak-anak sudah kehilangan ayahnya. Saya tidak mau mereka juga kehilangan ibunya!”

Karena itu, Ibu Dedeh membesarkan tiga permata hatinya sebagai single parent, dia menjadi ibu dan ayah sekaligus bagi anak-anaknya. Berbagai profesi digelutinya. Pekerjaan semula sebagai perawat ditinggalkannya, lalu kemudian Bu Dedeh menerima pekerjaan menjahit agar dapat dikerjakan di rumah sambil menjaga dan mejaga anak-anaknya. Belakangan, dengan dukungan dan bimbingan keluarga, dia menjadi seorang guru di salah satu pesantren di Bandung, juga menjadi salah seorang pengelola majalah islam, dan mengisi pengajian di berbagai majlis taklim.

Irfan dan kedua adiknya dibesarkan dengan penuh cinta Ibunda dan keluarga besarnya. Kakek Irfan adalah seorang ulama, pemimpin Ormas Islam selama puluhan tahun, yakni Ustad Abdurrahman, akan tetapi sang kakek merelakan cucu kesayangannya untuk bersekolah di sekolah umum dan kemudian menempuh kuliahnya di ITB.

Sewaktu menjalani semester kedua di ITB, Irfan menolak pemberian uang dari ibunya. “Berikan saja untuk adik-adik, Bu. Saya sudah dapat beasiswa dan juga sudah punya penghasilan dari memberikan les privat,” katanya pada ibunya yang tak putus bersyukur.

Setelah lulus kuliah dan bekerja di indosat, dia menikah dengan teman sesama aktivis Masjid Salman ITB, dan dikaruniai anak. Kecintaan Irfan pada ibunya diwujudkan dengan sangat manis: Membiayai haji.

Allah Yang Maha Penyayang rupanya sangat menyayangi Irfan. Di usia 30-an Irfan terkena kanker lenjar getah bening. Perawatan terbaik diberikan hingga kemudian dia dirawat selama beberapa bulan di singapur. Namun, Allah lebih memilih Irfan untuk kembali kepada-Nya. Irfan meninggal dalam pelukan ibunya. Berbahagialah, wahai anak shaleh, yang dengan ikhlas membiayai ibumu pergi haji ke Baitullah. Semoga Allah pun memberikan tempat yang membahagiakanmu di alam barzakh, seperti Allah memuliakan Isma’il karena ketaatannya kepada Allah dan ketaatannya kepada Ibrahim a.s., dan juga kelak menempatkanmu di dalam surga yang istimewa. Amin.

Tak terhitung banyaknya anak-anak seperti Irfan yang membahagiakan orang tuanya dengan cara memberangkatkan haji. Seorang anak yang dikenal nakal saat kecil hingga remaja, memberikan kejutan indah ketika ayahnya pensiun: memberangkatkan haji berdua, ayah dan ibunya, melalui program haji khusus.

“Aa tahu, Ibu dan Bapak ingin berhaji sejak lama sekarang Aa punya uang dan sudah Aa bayarkan , Ibu dan Bapak tinggal Manasik dan berangkat ke Tanah Suci, “katanya disambut isak tangis ayah dan ibunya.

Seorang anak perempuan, ditanya oleh rekanan bisnisnya, “Mau ganti mobil, Bu?”

“Ah tidak juga, mobil yang ada masih jalan dengan baik,” jawabnya.

“Terus buat apa keuntungan yang sekarang?” tanya temannya lagi.

“Keuntungan yang ini untuk membiayai ibu saya pergi haji,” katanya mantap.