Kemilau Pesona Kota Madinah

berhaji.com

Nuansa spiritual yang mendalam begitu terasa di Masjid Nabawi dan tempat-tempat bersejarah lain di Kota Madinah, terutama selama bulan Ramadhan.

Kemilau Pesona Kota Madinah

Ada banyak lokasi yang memiliki tempat penting dalam sejarah dan pertumbuhan Islam di dalam hati umat Islam, termasuk masjid, sumur, rumah, istana, mata air, gunung dan jurang.

Kemilau Pesona Kota Madinah Kemilau Pesona Kota Madinah

Masjid Nabawi memiliki sejarah yang kaya sendiri untuk menceritakan kedatangan Rasulullah SAW ke Madinatul Munawwaroh. Bangunan itu sendiri telah menjadi sebuah keajaiban arsitektural di bawah perawatan Kerajaan Saudi.

Kata-kata sering tidak bisa menggambarkan rasa kepuasan dan kekaguman yang dialami oleh pengunjung ketika mereka tiba di sini untuk berdoa pertama kalinya, terutama di taman di komplek Rawdhah, yang dihiasi dengan cat hijau dan emas, serta ubin, di mana Nabi SAW biasa memimpin doa dan menyampaikan khotbah-khotbahnya.

Beberapa meter dari masjid, ke arah timur, terletak komplek pekuburan Baqi yang dikelilingi oleh dinding, di mana lebih dari 10.000 Muslimin dikebumikan di sana, termasuk sahabat dan keluarga Nabi SAW.

Ada banyak masjid bersejarah di arah barat daya yang telah direnovasi dan dibangun kembali berkali-kali, termasuk Masjid Abu Bakar Al-Siddiq, Masjid Umar dan Masjid Ali bin Abi Thalib, seperti dikutip dari arabnews.com. Empat kilometer ke selatan terdapat Masjid Quba, tempat di mana para kaum Anshar pertama kali bertemu Nabi SAW seraya bersenandung ‘thalaa`l badru a`laina’, dan mengundangnya untuk tinggal di rumah mereka.

Para pengunjung juga biasa menziarahi makam para pemanah di Gunung Uhud untuk mendoakaan dan mengenang keberanian mereka melawan kaum kafir Quraisy.

Tempat lain untuk mengunjungi termasuk lokasi perang Khandaq, dimana pada perang tersebut kaum Muslim dapat mengalahkan kaum Kafir Quraisy dengan menggali parit yang dalam untuk menjebak mereka.

Proses Pembersihan Masjidil Haram yang Mungkin Tidak Pernah Kita Bayangkan Sebelumnya

Berhaji.com

Di balik indah dan bersihnya Masjidil Haram, ada ratusan hamba Allah yang mengais rezeki dengan membersihkan rumah Allah tersebut. Mulai dari mengepel Masjidil Haram, membersihkan batu bukit Safa Marwah, membersihkan hiasan-hiasan di dinding masjid, mencuci karpet-karpet besar yang jumlahnya ratusan, hingga memberi wewangian di ruangan masjid.

Masjidil Haram yang memiliki luas yang besar, lengkap dengan detail di setiap sudutnya, tentunya Masjidil Haram membutuhkan perawatan ekstra untuk bisa menjadi tempat yang nyaman bagi para jemaah dalam melaksanakan ibadah haji.

Inilah orang-orang dibalik selalu rapi dan bersihnya Masjidil Haram.

Kumpulan Foto Berhaji Di Masa Lalu yang Ternyata Lebih Menyejukkan Dipandang Mata

Berhaji.com

Tanah suci Mekkah dan Madinah telah mengalami berbagai kemajuan seiring perkembangan zaman. Bahkan, Masjidil Haram juga saat ini tengah mengalami perluasan untuk desain terbaru di tahun 2020 mendatang.

Berbagai kemewahan seperti lapisan marmer dan emas dapat kita lihat hampir di setiap sudut Mekkah dan Madinah, terutama di tempat-tempat melaksanakan ibadah haji. Pembangunan besar-besaran ini juga disebut-sebut sebagai salah satu tanda kiamat, sebagaimana disabdakan Rasulullah Salallahu ‘Alaihi wa Salam.

Ibnu Syaibah meriwayatkan dengan sanadnya kepada Ya’la ibn Atha’ dari ayahnya, dia berkata: pada suatu hari, aku menuntun tali kekang onta Abdullah ibn Amr, lalu beliau berkata: “Bagaimana pendapat kalian, jika kalian hancurkan Ka’bah dan tidak menyisakan ada batu yang masih menumpuk? Mereka menjawab: oleh kita yang beragama Islam? Beliau menjawab: benar, kalian yang beragama Islam. Seseorang bertanya: lalu apa lagi? Beliau menjawab: kemudian ia akan dibangun dengan yang lebih bagus darinya. Apabila kalian telah melihat galian-galian besar di Makkah, dan bangunan-bangunannya menjulang tinggi melebihi pegunungannya, maka ketahuilah bahwa kiamat telah mendekatimu”(HR. Ibnu Abi Syaibah dan al-Arzaqi)

Mekkah dan Madinah di masa lalu memang tidak semegah dan mewah sekarang, namun ternyata lebih sejuk dipandang mata dengan berbagai kesederhanaannya.

Potret Jema’ah Haji Dari Berbagai Negara Di Dunia

Berhaji.com

Bagi seorang muslim, menunaikan ibadah haji merupakan salah satu keistimewaan dalam beribadah. Apalagi bagi umat muslim di negara selain Arab, menuju ke Mekkah dan Madinah untuk beribadah di hadapan Ka’bah bukanlah persoalan mudah. Berbagai usaha dan perjuangan harus dilakukan untuk sekali perjalanan ibadah haji.

Haraman Railway, Kereta Cepat yang Hubungkan Mekkah dan Madinah Sudah Siap Diuji Coba

Berhaji.com – Belakangan ini, pemerintah Saudi sedang menjalankan banyak proyek untuk meningkatkan pelayanan bagi para jamaah haji. Salah satunya adalah kereta cepat yang akan menghubungkan Mekkah dan Madinah dalam waktu 1 jam 50 menit saja.

Dilansir dari Saudi Gazette, seluruh rel stasiun yang akan disinggahi oleh Haraman Railyway ini telah rampung, sedangkan rel kereta di sebelah selatan yang akan menghubungkan Jeddah dan Mekkah telah 94% selesai.

“Uji coba kereta ini akan dilakukan setelah delapan bulan dan akan mulai dioperasikan pada 2016,” ujar salah satu sumber di proyek ini pada Saudi Gazette.

Beberapa lokomotif sudah diuji coba dan telah sampai dengan baik di Madinah dari Jeddah. Kereta paling cepat akan menghubungkan jarak sejauh 453 kilometer dari Mekkah ke Madinah dengan waktu sekitar 1 jam 50 menit saja.

Sumber juga mengatakan bahwa seluruh jembatan yang menghubungkan Jeddah dan Mekkah sudah hampir selesai.

Proyek di sekitar utara yaitu antara Madinah dan Rabigh seharusnya sudah rampung sejak 2013, namun proyek ini semapt tertunda karena alasan teknis.

Cara Memuliakan Kabah

Penjagaan Kabah      

Kabah selalu dijaga oleh “askar” atau polisi atau tim keamanan kota Mekah. Penjagaan ini di samping untuk mengatur jalannya thawaf agar tidak menimbulkan kecelakaan, juga untuk mencegah mereka yang terlalu emosional terhadap kabah serta benda-benda lainnya yang berada di sekitarnya.

Tidak jarang dari mereka yang sudah mencapai dinding kabah, kemudian menangis dan bahkan meranung-raung sambil mengemukakan maksudnya. Maka para askar (polisi atau keamanan) akan mengatakan “haram”. Bahkan bagi mereka yang terus menerus bandel, askar akan memukulkan kain seperti sajadah yang sudah digulungkan seperti kayu kepada badan mereka. Karena menurut syariat Islam, mendekati kabah cukup dengan mengusap atau mencium serta kemudian berdoa, seperti yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Saw.   

Cara Memuliakan Kabah

Memuliakan dan mengagungkan kabah bukan berarti kita menyembah atau mengkultuskan kabah. Jika sampai kabah yang kita sembah, maka itu berarti kita telah jatuh kepada syirik. Karena peranan kabah sebagai simbol itulah kita dapat memahami kenapa kabah bisa tertimbun pasir di zaman Nabi Nuh, atau tidak menjadi arah kiblat karena umat Islam pernah berkiblat ke Baitul Maqdis sebelum kabah ditetapkan sebagai arah kiblat seperti yang tercantum dalam Al-Quran Surat Al-Baqarah ayat 142 dan 144.       

Namun demikian jika kita menganggap enteng kabah sehingga tidak tersentuh sama sekali ketika melihatnya, ditakutkan kita juga jatuh ke dalam kondisi sesat, karena kabahlah satu-satunya rumah yang dimuliakan Allah di muka bumi, sehingga tepatlah Nabi mengatakan bahwa memandang kabah akan mendapatkan pahala.

Demikianlah Rasulullah memuliakan kabah, sehingga kita sebagai umatnya patut untuk memuliakannya pula dan berusaha untuk mendekatinya, berkumpul dan bersatu dengan umat Islam di seluruh belahan dunia.

Kabah, Pemersatu Umat Islam

KABAH,

PEMERSATU UMAT ISLAM

 

Sesungguhnya Allah Swt. telah menjanjikan kepada Rumah ini, bahwa setiap tahunnya ia akan dikunjungi oleh (paling sedikit) enam ratus ribu pengunjung. Jika jumlah mereka kurang dari itu, maka Allah Swt. mencukupkan bilangan itu dengan sejumlah malaikat. Dan sesungguhnya Ka’bah akan ditampilkan di padang Mahsyar bagaikan pengantin wanita yang dikelilingi oleh orang banyak. Maka setiap orang yang pernah mengunjunginya (dengan melaksanakan haji) akan bergantung pada kain penutup (kiswah)-nya dan berjalan di sekitarnya. Yang demikian itu sampai ia memasuki surga dan merekapun memasukinya bersamanya.”
— Al-Ghazali. Rahasia Haji dan Umrah. (Bandung: Karisma, 1997). hlm.20 —

Kabah adalah lambang kiblat manusia di seluruh dunia yang disebut juga Baitullah (Rumah Allah). Kiblat berarti “arah” yang akan kita sembah. Yang kita sembah adalah Allah Swt, berarti kabah sebagai kiblat adalah lambang keberadaan Allah Swt di dunia ini.

Makna Bentuk Kabah

Kabah yang berarti kubus (bersisi enam) menunjukkan bahwa kabah menghadap ke semua arah. Oleh karena itu amatlah tepat Allah melambangkan kiblatnya dengan kubus yang semua sisinya dapat dipergunakan untuk menghadap sesuai dengan sifat Allah, dan bukan dengan bentuk lain baik itu lingkaran, segitiga dan sebagainya, wallahu a’lam.

Kabah sebagai Pemersatu Umat Islam

Kabah setiap detiknya tidak pernah kosong dikelilingi oleh umat islam yang melakukan thawaf, apalagi di musim haji. Kegiatan thawaf atau mengelilingi kabah tersebut berlangsung sepanjang hari, kecuali tentunya ketika umat Islam mengerjakan shalat, maka pada saat itu pula mereka yang melaksanakan thawaf berhenti sejenak untuk mendirikan shalat berjamaah.

Pada saat jamaah mengunjungi Masjidil Haram, pada saat itu pula mereka akan berthawaf, mengelilingi kabah 7 kali sambil mengumandangkan doa-doa yang seragam dan sudah dibakukan. Setelah selesai mengelilingi kabah (berthawaf) tersebut, banyak jamaah yang melaksanakan shalat sunat, baik di daerah Multazam (antara lubang tempat melihat atau mencium hajar aswad) di antara makam Ibrahim as. dan kabah, atau di hijir Ismail.

Masjid Al-Haram

Lihat Masjid Al-Haram
Lihat Masjidil Haram!

Biru langitnya begitu bening

Menara-menara menjulang

Azan berkumandang

Ayat-ayat suci menerobos setiap relung hati yang datang untuk memenuhi panggilan-Nya

 

Lihat Masjidil Haram!

Seperti sebuah super stadion Para atlet berlomba untuk menjadi Yang terdekat dengan_Nya

Lihat para arler yang  juga menjadi pelatih, wasit, dan suporter bagi dirinya

Tiada yang menang,

kecuali yang mampu mewujudkan kedekatan dengan-Nya

Tiada yang kalah,

kecuali yang dipecundangi oleh nafsu dan keserakahan

 

 

Lihat Masjidil Haram!

Sebuah panggung teater raksasa

para aktor juga menjadi sutradara menentukan sendiri peran yang akan dimainkan-nya

Para aktor boleh menentukan sendiri di barisan mana mereka akan tawaf

Mendekat-dekat ke arah Ka’bah atau menjauh saja karena takut tiada tempat

 

 

Lihat Masjidil Haram!

Di sana setiap hati boleh meminta

Setiap jiwa boleh berteriak,

atau merintih Aku datang,

ya Allah,

aku datang memenuhi Panggilan-Mu yang diserukan Ibrahim, kekasih-Mu

 

Lihat Masjidil Haram!

Panggung Pertunjukan raksasa

Mengundang setiap insan untuk tampil menjadi pemeran terbaik bagi lakon yang dipilihnya

Madinah, Pusat Perjuanan dan Penyebaran Islam

Madinah merupakan simbol perjuangan Nabi Muhammad Saw dalam “menggali, memperagakan dan mengokohkan nilai tauhid” di muka bumi kembali, setelah hal yang sama dilakukan oleh Nabi Ibrahim as. Perjuangan beliau yang amat berat dalam menegakkan nilai-nilai tauhid diabadikan Allah dengan menjadikan Madinah Al-Munawarah sebagai kota yang diharamkan sesudah Mekah.[i] Banyak hadits yang berbicara mengenai keutamaan Madinah dibandingkan dengan kota lain.

Hadits-hadits yang mengemukakan keutamaan Madinah

Abu Hurairah berkata: Sabda Rasulullah Saw, “Satu kali shalat di masjidku ini, lebih utama dari pada seribu kali shalat di mesjid lain, kecuali Masjidil Haram.” (HR. Bukhari Muslim)[ii]

Diriwayatkan oleh Ibnu Abbas bahwa Rasulullah Saw. bersabda: “Satu kali shalat di Masjid Madinah sama dengan sepuluh ribu kali (di tempat lain) dan shalat di Masjid Al-Aqsa sama dengan seribu kali, sedangkan shalat di Masjidil Haram sama dengan seratus ribu kali shalat di mesjid lain.”[iii]

Sabda beliau lagi dari Abu Hurairah, ibn Umar dan Abu Sa’id, “Barang siapa bersabar menahan kesulitan hidup di dalamnya (yakni Madinah), maka aku akan bersafaat baginya pada hari kiamat.”[iv]

Dari Ibn Umar, Rasul bersabda: “Barang siapa berkesempatan (tinggal dan) mati di Madinah, hendaknya ia berusaha untuk itu. Tidak seorangpun mati di sana, kecuali aku akan bersafaat untuknya pada hari kiamat.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah).[v]

Hadits-hadits di atas merupakan empat diantara beberapa hadits lain yang menggambarkan keutamaan Madinah dibandingkan dengan kota lainnya. Selain itu, Madinah memiliki 95 nama. Lebih banyak dari Kota Mekah yang memiliki 11 nama.

 

Nama Lain Madinah

Nama lain dari Madinah diantaranya Tabah, Taibah, Qubbat, Al-Islam, Al-Mumina, Al-Mubarakah, Al-Mukhtarah, Dar Al-Abrar, Dar As-Sunnah, Dar Al-Akhyar, Dar Al-Fateh, dan sebagainya. Nama yang paling terkenal untuk Madinah adalah sebagai kota Nabi Muhammad, karena dari tempat inilah selain dibangun Masjid Nabawi yang di dalamnya terdapat makam beliau, juga sebagai pusat ilmu, kebesaran dan penyebaran Islam, bukan hanya ke kawasan Arab Saudi dan sekitarnya, tetapi juga ke segenap pelosok dunia.[vi]

Monumen Sejarah di Madinah

Masih di kota Madinah, terdapat percetakan kitab suci Al-Quran terbesar dan termegah di dunia dengan nama “Percetakan Kitab Suci Quran Raja Fahd” yang mencetak Al-Quran secara benar sesuai dengan ajaran Islam yang telah dikemukakan oleh Nabi Muhammad Saw.[vii] Selain itu, di kota mulia ini terdapat berbagai monumen sejarah perjuangan Nabi Muhammad yakni Masjid Nabawi, Raudah (daerah antara rumah atau makan beliau dengan mimbar), Masjid Kuba, Masjid Kiblatain, Masjid Al-Jum’at, Masjid Al-Fath, Masjid Al-Ijabah, Masjid Al-Ghamamah, Jabal Uhud, Khandak, dan Pemakaman Baqi.[viii]

Terdapat pula Universitas Islam Madinah yang merupakan perguruan tinggi internasional yang mengkaji sudi Islam. Universitas ini sangat terkenal dan merupakan Universitas terbesar kedua setelah Universitas Riyadh untuk kawasan Arab Saudi.[ix]

Madinah adalah kota yang penuh dengan latar belakang dan sejarah penyebaran agama Islam, karena di kota inilah tempat hijrah dan perjuangan Nabi Muhammad beserta para sahabat dan umatnya.[x]

 

 



[i] Maisarah Zas. Haji dan Pencerahan Jati Diri Muslim. (Bandung: Alfabeta, 2005). hlm. 174-175.

[ii] Al-Ghazali. Rahasia Haji dan Umrah. (Bandung: Karisma, 1997). hlm.27.

[iii] Ibid.

[iv] Ibid. hlm. 28

[v] Ibid.

[vi] H. Unus Suriawiria. Jalan Panjang ke Tanah Suci. (Bandung: Penerbit Angkasa, 1995). hlm. 65

[vii] Ibid. hlm. 66

[viii] Maisarah Zas. Op.Cit. hlm. 175.

[ix]  H. Unus Suriawiria. Op.Cit. hlm. 66

[x] Ibid. hlm. 67

Muzdalifah, Mina, dan Makkah

Kita tertunduk di Muzdalifah, kita mencari batu senjata rahasia untuk melawan setan yang telah menantikan kedatangan kita di Mina. Setan di Mina seolah tak pernah mati, walau jutaan batu yang dibalut dengan sentuhan keikhlasan, dilemparkan oleh jutaan jamaah haji di hari adha dan di hari-hari thsyrik.

Kita memang melempar jumrah di Mina, namun kita sejatinya tengah menundukan setan yang bersemayam dalam hati kita sifat-sifat busuk yang terselip di antara kepribadian kita, harus disingkirkan dengan peluru yang berselaput keikhlasan.

Berbahagialah seseorang yang sepulang haji memiliki jiwa yang bersih dari penyakit hati, yang lapang menerima apa pun yang Allah anugrahkan baik duka ataupun suka. Apabila demikian, berati kita telah mengalahkan setan  Mina dan meninggalkannya di sana.

Usai melempar Jumrah Aqabah, kita melaksanakan tawaf ifadhah sebuah tawaf dengan tingkat spirituallitas  yang amat tinggi. Dalam sebuah riwayat disebutkan, sewaktu kita melaksanakan tawaf  ifadhah, malaikat takan memegangi pundak kita dan berbisik.”kamu sudah diampuni, kamu sudah tidak punya dosa, maka janganlah berbuat salah lagi jagalah kesucian diri yang telah kau raih dengan ketundukan dipadang Arafah”

Lantas kita kembali bertafakur di Mina, dua malam atau tiga malam, sambil diselingi prosesi memotong hadyu sembelihan sebagai kewajiban bagi mereka yang melaksanakn haji tamattu’.

Di akhir rangkaian haji, kita pun meninggalkan Makkah Kita bertawaf wada’,berpamitan kepada Ka’bah, kepada Makkah, lalu yang menjadi tempat lahir manusia paling mulia Muhammad Saw Kita seperti melakukan napak tilas atas perjalnan hijrah Rasul, meningggalkan Makkah menuju Madinah , atau pergi kembali menuju Tanah air dengan jutaan bekal yang telah Allah titipkan ke dalam hati.

Usai melaksanakan haji, air mata kembali berderai, ketika meninggalkan Makkufr, atau meninggalkan Madinah usai berziarah ke makam Rasulullah. Terima kasih Ya Allah atas segala nikmat yang tiada terkira penuh sesak dada ini dengan nikmat dan karuniaMu.

Mata senantiasa basah dengan air mata kerinduan yang tertumpah hanya untuk-Mu. Kami malu atas segala khilaf dan dosa, yang senantiasa kami lakukan. Sementara Engkau terus-menerus melimpahkan kepada kami nikmat, karunia, kebahagiaan dan pertolongan yang tiada berujung.

Bagaimana kami kelak, ya Allah , jika menghadap Engkau ?  Akankah Engkau memandang kami dengan mesra dan memanggil dengan sayang?

Atau Engkau berpaling, sebagaimana sering kami berpaling dari-Mu ? Jangan, ya Allah jangan berpaling dari yang lemah ini, sayangi kami, ya Allah, dengan sayang dan cinta-mu yang tiada tertepi

Sayangi kedua orang tua kami serta muliakan mereka disisi-Mu, muliakan setiap tetes keringat dan setiap rasa sakit yang mereka rasakan ketika membesarkan kami

Sayangi pasangan hidup kami, belahan jiwa, pelengkap hati, yang sangat kami sayangi. Sayangi anak-anak keturunan kami ya tuhan ku, jaga dan lindungi mereka dari mara bahaya dan kekejaman makhluk. Berikan perlindungan kepada mereka, di saat kami tak dapat melindunginya di saat kami jauh darinya di saat mereka jauh dari kami. kami titipkan kepada-Mu, ya Allah, anak-anak dan keturunan yang kami berharap bertemu kembali dengan mereka disurga-Mu kelak.

Sayangi seluruh kerabat dan sahabat kami ya Rabb, limpahkan rasa bahagia dan kekalkanlah kebahagiaan ke dalam kalbu orang-orang Mukmin dan kepada hamba-hamba-Mu yang berserah diri kepada Engkau, yang sujud dan ruku’ serta menyembah hanya kepada-mu,

Kasih dan nikmat-Mu tiada bertepi Subhanallah wal hamdulillah wa laa ilaha illallah wallahu akbar.

Selamat berjuang para jamaah haji, tamu Allah yang mulia. Kembalilah dengan penuh cinta dan kasih sayang. Seperti cinta dan kasih sayang Allah telah ajarkan dan limpahkan. Amin.

Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah sebagian dari syiar Allah maka barang siapa yang beribadah haji ke Baitullah atau berumrah, tidak ada dosa baginya mengerjakan sa’i antara ke-duanya. Dan barang siapa yang mengerjakan suatu kebaikan dengan kerelaan hati maka sesungguhnya AIlah Maha Mensyukuri kebaikan Lagi Maha Mengetahui.

(QS Al-Baqarah (2): 158)