Kewajiban Haji Bagi Wanita

Kaum wanita juga diwajibkan berhaji sebagaimana kaum pria tanpa perbedaan apapun, selama syarat-syarat wajib hajinya telah terpenuhi, ditambah satu syarat lagi yakni ditemani oleh mahramnya.[i]

Ibnu Abbas menuturkan, “Suatu hari aku mendengar Rasulullah SAW bersabda,’seorang laki-laki dan seorang perempuan tidak boleh berduaan kecuali dengan mahramnya. Dan seorang wanita tidak boleh bepergian melainkan dengan mahramnya.’ Seorang pria lantas berdiri dan mengatakan, ‘Ya Rasulullah, istriku akan pergi haji sedangkan aku harus ikut perang anu dan anu.’ Beliau bersabda, ‘Pulang dan temanilah istrimu menunaikan ibadah haji.” (HR. Bukhari dan Muslim, dan ini adalah redaksi Muslim).

Seorang wanita yang melanggar peraturan ini dan menunaikan ibadah haji tanpa ditemani mahram (suami), hajinya tetap sah namun dia berdosa jika bepergian tanpa mahramnya (keluarga).[ii]

Izin Seorang Istri dari Suaminya Untuk Berhaji

Seorang istri disunahkan meminta izin kepada suaminya untuk mengerjakan haji. Lalu apakah wanita boleh berangkat haji tanpa izin suami? Dalam hal ini ada dua pendapat, bagi Imam Syafii, haruslah ada izin suami, akan tetapi Imam Hambali berpendapat bahwa jika suaminya mengizinkan ia berangkat, dan walaupun suaminya tidak mengizinkan ia tetap berangkat, sebab seorang suami tidak punya hak untuk melarang istrinya mengerjakan haji wajib. Haji wajib adalah ibadah yang wajib dilaksanakan dan tidak ada keharusan menaati makhluk bila ia menyebabkan kemaksiatan terhadap Allah SWT. Selain itu, istrinya juga wajib bersegera melaksanakannya untuk menggugurkan kewajibannya.[iii]

Hak yang sama diperoleh seorang wanita dalam melaksanakan haji nazar, karena hukumnya juga wajib seperti haji wajib. Adapun bila haji sunah, suaminya berhak untuk melarangnya.

Thawaf Ifadah Haji Wanita yang Haid

Berikut ini adalah yang perlu dilakukan oleh haji wanita yang belum melaksanakan thawaf ifadah karena sedang haid, sedangkan rombongannya akan segera kembali ke kampung halaman.[iv]

  1. Ia harus menunggu sampai suci dari haid, dan melapor kepada ketua kloternya (TPHI) untuk diusulkan pindah ke kloter lain, sehingga dapat melakukan thawaf ifadah.
  2. Meskipun demikian, dalam keadaan uzur syar’i, menurut pendapat Imam Ibnu Qoyyim dari mazhab Hambali bahwa wanita haid atau nifas dibolehkan dan dipandang sah melakukan thawaf ifadah dan tidak membayar dam. Sedangkan menurit Abu Hanifah haruslah membayar dam satu ekor unta.
  3. Boleh menggunakan obat untuk menangguhkan haid.

Ketentuan Khusus bagi Wanita yang Berhaji

Beberapa ketentuan khusus yang berlaku bagi wanita yang melaksanakan ibadah haji atau umrah adalah sebagai berikut:[v]

  1. Wanita menutup auratnya kecuali muka dan telapak tangannya (ketika ihram).
  2. Wanita tidak mengeraskan suaranya pada waktu membaca talbiyah atau berdoa.
  3. Wanita tidak perlu lari-lari kecil ketika thawaf pada 3 putaran yang pertama dan ketika melintas 2 pilar hijau waktu sa’i.
  4. Wanita tidak mencukur rambutnya ketika bertahallul, tetapi cukup memotong sedikitnya 3 helai atau memotong ujung rambutnya sepanjang jari.

Hal-hal yang Perlu Diperhatikan Haji Wanita Selama di Tanah Suci

Berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan haji wanita saat berada di Arab Saudi:[vi]

  1. Berpakaian rapi dan sesuai dengan syari’at Islam.
  2. Tidak memakai make-up yang berlebihan.
  3. Bertutur kata yang baik, tidak berbohong, tidak memfitnah dan menggunjingkan orang lain.
  4. Menghindari bepergian berduaan dengan orang lain yang bukan mahramnya.
  5. Tetap berpegang pada akhlaqul karimah.
  6. Menghindari perilaku yang tidak wajar.

[i] Sulaiman Al-Faifi. Mukhtashar Fiqih Sunnah Sayyid Sabiq. (Solo: Aqwam, 2010). hlm. 345.

[ii] Ibid.

[iii] Ibid.

[iv] Tri May Hadi.  Kumpulan Doa, Dzikir, dan Tanya Jawab untuk Ibadah Haji dan Umrah. (Jakarta: Kesaint Blanc, 2009). hlm. 160.

[v] Ibid.

[vi] Ibid. hlm. 161.

Pergi Haji: Belajar Mati

Tulisan ini mengajak umat islam untuk dapat meresapi makna ibadah haji lebih mendalam. Penting bagi umat islam yang akan pergi haji untuk menggali spiritual ibah haji lebih mendalam, karena ibadah haji adalah rukun islam yang kelima dan hanya diwajibkan sekali seumur hidup. Semoga tulisan ini manjadi jalan bagi umat islam untuk menyelami lautan spiritual ibadah haji. Selamat mambaca dan meresapi lautan spritual ibadah haji.

www.berhaji.com
pergi haji belajar mati

Menurut Ibn Arabi dalam Al-Futuhat Al-Makkiyyah, kita akan kembali pada Allah dengan cara yang berbeda. Ada yang kembali kepada Allah dengan cara terpaksa, disebut ruju idhthirari. Setuju atau tidak setuju, kita semua akan kembali menghadap yang Maha hidup. Proses itulah yang disebut kematian.

Ada pula cara kembali yang lain. Yaitu kita disuruh kembali kepada Allah dengan cara yang tidak terpaksa. Kita kembali dengan sukarela. Cara kembali seperti ini disebut ruju ikhtiyari. Kembali kepada Allah dengan cara seperti inilah yang dilakukan para jamaah haji.

Saya pernah melihat sepasang suami-istri, menangis terisak-isak di pangkuan ibu mereka yang telah renta, memohon doa dan ampunan karena merekaakan segera berangkat melaksanakan haji. Mereka ibarat sepasang pengantin baru yang memohon doa kepada kedua orangtuanya untuk mengarungi hidup baru. Padahal mereka tidak muda lagi. Sang suami adalah seorang anggota DPRD Kota Bandung, sementara sang istri adalah pejabat di lingkungan dinas pendidikan Kota Bandung.

Memang, pergi haji selama kurang lebih empat puluh hari (atau sekitar 14-20 hari untuk haji khusus), membuat para jamaah haji belajar untuk berpisah dengan berbagai persoalan duniawi yang selama ini digeluti, dicintai, dikejar-kejar untuk dimiliki, atau dihindari untuk ditemui.

Keluarga yang ditinggalkanbelajar untuk tabah dan mandiri. Wasiat atas harta dan urusan dunia harus diucapkan oleh jamaah haji, disertai sikap tawakal dan istiqomah atas segala kemungkinan yang akan terjadi.

Bukankah urusan kita dengan dunia hanya dua: kita yang meninggalkan atau kita yang ditinggalkan oleh dunia. Maka tepatlah senandung Aa Gym, “. . . barang siapa Allah tujuannya, niscaya  dunia akan melayaninya. Namun siapa saja dunia tujuannya, niscaya akan letih dan pastri sengsara, diperbudak dunia, sampai akhir masa. Astagfirullah . . . .”

Seorang istri Kolonel AD, bernama Lilis, yang suaminya akan berangkat haji dengan kedua orangtuanya, ketika ditanya, “Apakah ibu ridha karena suami akan berangkat haji dengan orangtuanya (mertua ibu)? Apakah ibu siap melepas mereka dengan doa yang tulus?”

“Saya siap,” jawab ibu Lilis sambil mengusap air mata yang menetes membasahi kedua pipinya. “Saya sering melepas suami bertugas keluar negeri, tapi rasanya tidak seperti saat ini. Melepas suami berhaji rasanya memang sedang belajar berpisah selama-lamanya . . . .”

 

Dua tahun kemudian, Allah mengundang ibu Lilis ini ke Makkah, yang sedianya akan ditemani anak laki-lakinya. Namun karena sang anak diterima di Akabri, diusahakanlah agar sang suami bisa berangkat menemaninya. Tapi tidak bisa juga. Maka, Ibu Lilis berangkat haji tanpa ditemani suami atau anak. Air matanya juga menetes ketika harus meninggalkan suami dan anak-anak tercinta.

Lain lagi dengan kisah seorang mantan anggota dewan yang juga aktivis organisasi sepak bola nasional. Dia merasakan getaran luar biasa yang menyebabkannya tidak punya pilihan lain kecuali tunduk dan patuh pada kekuatan dan kekuasaan Allah, termasuk jika dia harus mati di Tanah Suci.

Dia berujar, “Saya sangat bersyukur pada Allah atas kesempatan berhaji tahun ini. Saya sebenarnya malu; malu pada Allah. Dulu, saya mendapat dua kali tawaran berhaji, tapi tidak saya terima. Dulu, saya sangat mampu secara materi, tapi saya tidak berhaji. Sekarang saya berhaji apa adanya . . . dengan bekal pas-pasan, sementara usia tidak lagi muda dan fisik tidak sesehat dahulu. Saya siap jika Allah menakdirkan saya tidak kembali ke tanah air. Saya siap …,” ujarnya disebuah mushala kecil di kantor PSSI Komda Jawa Barat. Ketika tulisan ini dibuat, saya masih menantikan kedatangannya dari Tanah Suci. Bukan untuk meminta oleh-oleh kurma dan kacang arab, melainkan menanti berbagai kisah menakjubkan yang menggetarkan hati, mendekatkan kita pada Allah, kisah dari Hamba yang kembali dari Tabnah Suci, padahal dia siap jika mati.