Foto-Foto Perbedaan Jamarat (Lokasi Lempar Jumroh) Masa Lalu dan Masa Kini

Berhaji.com

Dalam pelaksanaan ibadah haji, ada satu ritual yang dilaksanakan di Jamarat, tepatnya di kota Mina. Dalam ritual ini, jema’ah haji melemparkan tujuh kerikil yang sebelumnya sudah mereka kumpulkan di Muzdalifah, ke tiga tiang di jamarat yaitu Aqabah, Wusta dan Ula.

Ritual ini menyimbolkan peperangan melawan syaitan. Tiang-tiang jamarat yang dilempari batu diibaratkan syaitan yang harus dilawan para jema’ah haji.

Nah, lokasi Jamarat juga merupakan salah satu titik pelaksanaan ritual haji yang mengalami perubahan yang signifikan. Dari yang dulunya hanya tiang yang dikelilingi tembok, kini dilengkapi dengan dua helipad, eskalator dan lima lantai untuk melempar jumroh agar jemaah tidak bertumpuk di satu titik.

Berikut ini foto-foto perbedaan Jamarat di masa lalu dan masa kini yang terlihat jelas perbedaannya.

Jamarat Masa Lalu

Jamarat Masa Kini

Terowongan Mina

Sebelum sampai ke Jamarat, jemaah haji juga harus terlebih dulu melewati terowongan Mina yang juga kini telah dilengkapi berbagai fasilitas untuk menunjang kebutuhan jemaah haji. Terowongan yang dulunya sering menjadi tempat para jemaah haji berdesakan kini sudah dilengkapi dengan pendingin ruangan untuk kenyamanan jemaah haji dan juga kamera CCTV untuk memantau kepadatan jemaah haji.

Foto-Foto Perbedaan Jamarat (Lokasi Lempar Jumroh) Masa Lalu dan Masa Kini Foto-Foto Perbedaan Jamarat (Lokasi Lempar Jumroh) Masa Lalu dan Masa Kini Foto-Foto Perbedaan Jamarat (Lokasi Lempar Jumroh) Masa Lalu dan Masa Kini

Lagi, Jemaah Haji Ditemukan Bunuh Diri Di Mina

Berhaji.com

Di tengah berbagai tragedi di musim haji yang memakan ratusan korban jiwa kali ini, ternyata masih ada jemaah haji yang diberikan Allah kesempatan untuk hidup namun lebih memilih untuk bunuh diri.

Seorang jemaah asal Bangladesh ditemukan tewas tergantung di sebuah kamar mandi di Mina pada pukul 5 pagi. Korban terlihat mengantri di kamar mandi seperti biasa, namun ia tak juga keluar dari kamar mandi hingga jemaah lain mengetuk pintu dan memutuskan untuk mendobraknya.

Jasad jemaah asal Bangladesh tersebut ditemukan tergantung di dalam kamar mandi, dilansir dari dailymoslem.com. Menurut temen-temannya, korban tidak menderita penyakit psikologi apapun yang memungkinkannya melakukan percobaan bunuh diri. Hanya saja, korban mengaku ingin meninggal dalam keadaan mengenakan ihram di tanah suci.

Peristiwa serupa pernah terjadi di awal tahun ini ketika seorang jemaah haji asal Cina bunuh diri dengan cara melompat dari mataf di Masjidil Haram.

Muzdalifah, Mina, dan Makkah

Kita tertunduk di Muzdalifah, kita mencari batu senjata rahasia untuk melawan setan yang telah menantikan kedatangan kita di Mina. Setan di Mina seolah tak pernah mati, walau jutaan batu yang dibalut dengan sentuhan keikhlasan, dilemparkan oleh jutaan jamaah haji di hari adha dan di hari-hari thsyrik.

Kita memang melempar jumrah di Mina, namun kita sejatinya tengah menundukan setan yang bersemayam dalam hati kita sifat-sifat busuk yang terselip di antara kepribadian kita, harus disingkirkan dengan peluru yang berselaput keikhlasan.

Berbahagialah seseorang yang sepulang haji memiliki jiwa yang bersih dari penyakit hati, yang lapang menerima apa pun yang Allah anugrahkan baik duka ataupun suka. Apabila demikian, berati kita telah mengalahkan setan  Mina dan meninggalkannya di sana.

Usai melempar Jumrah Aqabah, kita melaksanakan tawaf ifadhah sebuah tawaf dengan tingkat spirituallitas  yang amat tinggi. Dalam sebuah riwayat disebutkan, sewaktu kita melaksanakan tawaf  ifadhah, malaikat takan memegangi pundak kita dan berbisik.”kamu sudah diampuni, kamu sudah tidak punya dosa, maka janganlah berbuat salah lagi jagalah kesucian diri yang telah kau raih dengan ketundukan dipadang Arafah”

Lantas kita kembali bertafakur di Mina, dua malam atau tiga malam, sambil diselingi prosesi memotong hadyu sembelihan sebagai kewajiban bagi mereka yang melaksanakn haji tamattu’.

Di akhir rangkaian haji, kita pun meninggalkan Makkah Kita bertawaf wada’,berpamitan kepada Ka’bah, kepada Makkah, lalu yang menjadi tempat lahir manusia paling mulia Muhammad Saw Kita seperti melakukan napak tilas atas perjalnan hijrah Rasul, meningggalkan Makkah menuju Madinah , atau pergi kembali menuju Tanah air dengan jutaan bekal yang telah Allah titipkan ke dalam hati.

Usai melaksanakan haji, air mata kembali berderai, ketika meninggalkan Makkufr, atau meninggalkan Madinah usai berziarah ke makam Rasulullah. Terima kasih Ya Allah atas segala nikmat yang tiada terkira penuh sesak dada ini dengan nikmat dan karuniaMu.

Mata senantiasa basah dengan air mata kerinduan yang tertumpah hanya untuk-Mu. Kami malu atas segala khilaf dan dosa, yang senantiasa kami lakukan. Sementara Engkau terus-menerus melimpahkan kepada kami nikmat, karunia, kebahagiaan dan pertolongan yang tiada berujung.

Bagaimana kami kelak, ya Allah , jika menghadap Engkau ?  Akankah Engkau memandang kami dengan mesra dan memanggil dengan sayang?

Atau Engkau berpaling, sebagaimana sering kami berpaling dari-Mu ? Jangan, ya Allah jangan berpaling dari yang lemah ini, sayangi kami, ya Allah, dengan sayang dan cinta-mu yang tiada tertepi

Sayangi kedua orang tua kami serta muliakan mereka disisi-Mu, muliakan setiap tetes keringat dan setiap rasa sakit yang mereka rasakan ketika membesarkan kami

Sayangi pasangan hidup kami, belahan jiwa, pelengkap hati, yang sangat kami sayangi. Sayangi anak-anak keturunan kami ya tuhan ku, jaga dan lindungi mereka dari mara bahaya dan kekejaman makhluk. Berikan perlindungan kepada mereka, di saat kami tak dapat melindunginya di saat kami jauh darinya di saat mereka jauh dari kami. kami titipkan kepada-Mu, ya Allah, anak-anak dan keturunan yang kami berharap bertemu kembali dengan mereka disurga-Mu kelak.

Sayangi seluruh kerabat dan sahabat kami ya Rabb, limpahkan rasa bahagia dan kekalkanlah kebahagiaan ke dalam kalbu orang-orang Mukmin dan kepada hamba-hamba-Mu yang berserah diri kepada Engkau, yang sujud dan ruku’ serta menyembah hanya kepada-mu,

Kasih dan nikmat-Mu tiada bertepi Subhanallah wal hamdulillah wa laa ilaha illallah wallahu akbar.

Selamat berjuang para jamaah haji, tamu Allah yang mulia. Kembalilah dengan penuh cinta dan kasih sayang. Seperti cinta dan kasih sayang Allah telah ajarkan dan limpahkan. Amin.

Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah sebagian dari syiar Allah maka barang siapa yang beribadah haji ke Baitullah atau berumrah, tidak ada dosa baginya mengerjakan sa’i antara ke-duanya. Dan barang siapa yang mengerjakan suatu kebaikan dengan kerelaan hati maka sesungguhnya AIlah Maha Mensyukuri kebaikan Lagi Maha Mengetahui.

(QS Al-Baqarah (2): 158)