WUKUF DI ARAFAH

Wukuf dilaksanakan pada hari arafah mulai dari tergelincir matahari tanggal 9 dzulhijjah sampai dengan terbit fajar tanggal 10 dzulhijjah. Wujuf dinilai sah walaupun dilaksanakan hanya sesaat dalam rentang waktu tersebut, akan tetapi diutamakan mendapatkan sebagian waktu siang dan waktu malam.[i]

Pada saat wukuf, jamaah haji melaksanakan shalat, dzikir dan membaca doa serta memperbanyak membaca Al-Quran. Amalan yang disunahkan di Arafah adalah hendaklah setiap muslim bersungguh-sungguh berdzikir dan bertaubat, menyatakan ketundukan dan kepatuhan pada Allah Swt.[ii] Sedangkan pada saat persiapan wukuf hari-hari sebelumnya, pada tanggal 8 dzulhijjah jamaah haji berpakaian ihram dan niat haji bagi yang berhaji tamattu’ di penginapan masing-masing, sedangkan bagi yang berhaji ifrad dan qiran tidak niat haji lagi karena masih dalam keadaan ihram sejak dari miqat saat tiba, setelah itu berangkat ke Arafah. Pada tanggal 9 dzulhijjah bagi jamaah haji yang telah berada dalam kemah masing-masing menanti saat wukuf (ba;da zawal) sambil berzikir dan berdoa. [iii]

Di Arafah, wukuf boleh dilaksanakan di dalam maupun di luar tenda. Jamaah haji yang melakukan wukuf tidak disyaratkan suci dari hadats besar maupun kecil. Dengan demikian, wukuf jamaah haji yang sedang haid, nifas, junub dan hadats kecil adalah sah.[iv]

 

Kisah Arafah

Arafah merupakan nama suatu padang pasir yang luas. Menurut para ulama, asal penamaannya lebih dari satu kisah.[v]

Pertama, para malaikat mengingatkan Adam As. dan Hawa setelah keduanya ditirinkan ke bumi, yakni di Arafah, agar mereka mengakui dosa-dosanya dan memohon ampun kepada Allah. Dengan kata lain bibit manusia yang pertama (Adam dan Hawa) diturunkan ke muka bumi ini adalah di Arafah.

Kedua, ketika Adam dan Hawa diturunkan dari surge, keduanya berpisah tempat. Adam di India dan Hawa di Jeddah (Jeddah artinya nenek). Setelah seratus tahun kemudian mereka bertemu di padang Arafah (arafah berarti tahu atau kenal), tepatnya di Jabal Rahmah (bukit kasih sayang).

Ketiga, Ibrahim as. diberitahu Jibril cara menunaikan manasik haji di tempat ini. Jibril bertanya, “Arafta’, tahukah kamu?” Ibrahim menjawab, “Araftu, aku mengetahuinya.”

Keempat, pemberian nama Arafah berkaitan dengan penamaan hari-hari sebagai berikut: hari kedelapan dzulhijjah disebut haru Tarwiyah yang berarti merenung atau berpikir, erat kaitannya dengan peristiwa yang dialami oleh nabi Ibrahim as. yaitu pada hari Tarwiyah ini nabi Ibrahim bermimpi mendapat perintah untuk menyembelih anaknya, Ismail (QS. 37: 102-7). Pada malam itu sampai besoknya nabi Ibrahim sangat gelisaj, tyerus menerus merenung dan berpikir, mempertanyakan apakah mmpinya itu berasal dari Allah atau dari setan. Karena ragu beliau tidak segera melaksanakan mimpinya pada siang harinya. Pada malam kesembilan, Ibrahim as. bermimpi para malaikat mengingatkan lagi dengan perintah yang sama. Setelah mimpi yang kedua inilah nai Ibrahim as. baru yakin bahwa mimpinya itu merupakan wahyu dari Allah Swt. Oleh karena itu, hai kesembilan ini dinamakan hari Arafah (mengetahui). Pada malam hari kesepuluh, nabi Ismail as. bermimpi lagi untuk ketiga kalinya dengan mimpi yang sama pula. Maka keesokan harinya (10 Dzulhijah) nabi Ibrahim melaksanakan perintah itu, karena itu disebut hari Nahar yang berarti hari penyembelihan.



[i] Tri May Hadi. Kumpulan Doa, Dzikir, dan Tanya Jawab untuk Ibadah Haji dan Umrah. (Jakarta: Kesaint Blanc, 2009). Hlm. 142

[ii] Maisarah Zas. Haji dan Pencerahan Jati Diri Muslim. (Bandung: Alfabeta, 2005). hlm. 148.

[iii] Tri May Hadi. Op.Cit. hlm. 142

[iv] Ibid. hlm. 143

[v] Maisarah Zas. Op.Cit. 149

Arafah: Puncak Perenungan Menuju Kearifan

Puncak haji adarah Arafah, bahkan haji adarah Arafah, begitu sabda Rasulullah. Siapa yang mendapatkan Arafah, insyaAllah mendapat haji. Tanpa Arrafah, tiada haji, meskipun  jauh jalan yang kita tempuh banyak pengorbanan yang dilalui susah payah dalam ibadah Haji adalah Arafah

Arafah menjadi tujuan utama jutaan manusia pada hari Arafah 9 Dzulhijjah’ Bahkan orang yang sedang sakit di tanah Makkah pun diajak bersafari wukuf dengan suara mobil ambulans meraung-raung Seperti menyambut clesis mulut jamaah haji yang bertalbiyah ‘Arafah, padang gersang yang membentang’ tempat masjid nmirah dan Jabal Rahmah berdiri tegak adalah padang pengukuhan, padang wisuda para jamaah haji padang impian setiap muslim di saat air mata tumpah berderai-derai dengan doa-doa yang terucap disela-sela tangis. Teringat sahabat, kerabat’ anak’ suami atau istri atau orangtua yang telah tiada’

Di Arafah yang terik, di siang hari bolong menuju senja, kita berusaha menggapai kearifan hidup ketika biasanya kita berasyik dan sibuk dengan urusan dunia. Terkadang angin bertiup kencang di Arafah atau bahkan hujan turun rintik-rintik, Apa pun yang Allah berikan disaat wukuf semuanya hanya terasa sebagai kiriman dari Allah. Dengan ridha dan berharap ridhNya, hanya ketuntukan dan kepasrahan diri kepada Allah.

Di Arafah, Allah “mewisuda” kita dan membangga-banggakan kita kepada para malaikat, dengan membuka pintu langit. dengan penuh kebanggaan Allah berfirman, “Lihatlah hamba-hamba-Ku yang datang dengan pakaian yang lusuh dan rambut kusut masai”

Arafah membuat kita merenung sejenak tentang kelahiran dan kematian: dua peristiwa dengan tingkat kepastian yang sempurna, namun tak pernah dapat diketahui sebelumnya.

Kita terhitung melakukan wukuf sejak zuhur hingga magrib Menjelang zuhur, kita berdesak-desakan memasuki Arafah, lantas berwukuf dan merenungi hidup kita. Menjelang magrib, kita telah bersiap-siap untuk meninggalkan Arafah, dengan berdesak-desakan  pula. Suasana berdesak-desakan di saat menuju Arafah, bagaikan saat kelahiran kita ke dunia: tempat dan waktu serta penyebabnya, Allah yang menentukan. bukankah kita tiada dapat memilih orang tua?

Beresak-desakan ketika meninggalkan Arafah, dengan pakaian ihram yang telah kumal dan kusut  masai serta badan yang telah letih dan bergerak menuju arah yang sama: Muzdalifah-Mina-Makkah, ibarat pergerakan ruh-ruh yang meninggalkan jasad, karena telah tiba waktu untuk kembali kepada sang khalik.

Lalu kita menyusuri Muzdalifah, Mina, dan Makkah. Kelak ruh kita akan menjalani alam barzakh, lantas berjejer di padang Mahsyar, kemudian dihiasi dan meniti jembatan shirath mustaqim yang setipis rambut dibelah tujuh tetapi kita akan menuju surga, atau neraka …?

Begitulah Arafah, padang kearifan, padang ketundukan, dan puncak kesadaran akan ke-Mahakuasaan Allah. Alangkah sayang seandainya kita berwukuf, namun tak mendapatkan kearifan tak merasakan kehadiran dan tatapan Allah, padahal Allah membukakan pintu langit dan membanggakan kita kepada para malaikat.

Sayang sekali jika di Arafah tangis kita tak tumpah, hati kita tak sempat memohon ampunan atas segala dosa. Sayang sekali jika doa-doa terbaik tertulus, tak disampaikan untuk ayah-bunda pasangan hidup, anak-anak tercinta, adik yang telah tiada, kakak yang mendoakan di tanah air tetangga yang mendoakan dan menandkan kadatangan kita atau orang-orang yang menderita dan hancur hatinya namun tak mampu kita menjangkaunya. Misalnya anak-anak di jalur gaza, yang tak mampu sekolah atau kedokter karena tak memiliki biaya.

Di Arafah kita belajar juga menjadi orang yang arif selalu merasakan kehadirat dan campur tanggan Allah dalam setiap detik hidup, melihat Allah dalam diri orang-orang mislin dan lalu kita terdorong untuk menolong mereka.

Jangan Sampai Salah Niat

Niat berhaji menjadi penting bagi calon jamaah haji. Jika niat tidak lurus karena Allah, maka Allah akan memberikan pelajaran dengan cara yang tidak disangka-sangka. Tulisan ini memberikan pelajaran bagi kita untuk senantiasa menjaga niat ketika ingin beribadah kepada Allah SWT. Semoga kita dapat mengambil pelajaran dari setiap kisah yang terjadi kepada saudara kita.

Seorang wanita yang sangat ingin berhaji, mempersiapkan hajinya dengan sangat saksama. Maklum dia sudah tidak punya suami, dia akan pergi haji sendiri, tidak juga dengan anak-anak.

Agar hajinya thuma’ninah dan dapat dilaksanakan tanpa “gangguan tehnis”, maka dia pun mengajak pembantunya untuk berhaji dengan catatan: di Tanah Suci pembantunya itu harus tetap melayani semua keperluannya dengan baik. Menyiapkan makanan, mencuci, menyetrika, tetap menjadi tugas pembantu. Dia ingin khusu beribadah. Tentu saja sang pembantu setuju dan gembira menyambut ajakan haji majikannya tersebut.

Berangkatlah mereka dengan penuh keikhlasan. Tetapi ada sedikit kesalahan yang dilakukan ibu ini: dia menggantungkan keperluannya, urusan-urusannya kepada pembantunya, bukan kepada Allah.

Di Tanah Suci terjadi hal yang tak terbayangkan sebelumnya. Pembantunya yang tak terbiasa melakukan perjalanan jauh, apalagi dengan pesawat terbang, jatuh sakit.

Akhirnya, skenario pun berubah total:Majikan menjadi pelayan bagi pembantu. Bibi terbaring, majikannya mencarikan makanan, mencucikan pakaian, dan melayani segala keperluannya.

Semata-mata hanya untuk Allah, diperintahkan kepada manusia untuk berhaji.

Semata-mata hanya bergantung kepada Allah dan jangan bergantung kepada mahluk, siapa pun dia: pembantu, pembimbing, ustad. Semuanya hanya hamba Allah yang tak memilki kekuatan, kecuali kekuatan yang Allah berikan.

Allah Tak Pernah Ingkar Janji

Banyak kejadian yang dialami oleh para jama’ah haji Indonesia. Kejadian tersebut memberikan banyak ibrah dan pelajaran berharga. Seperti kisah seseorang yang diuji keimanannya oleh Allah dengan kehilangan benda yang penting baginya. selamat membaca dan menyelami lautan spiritual ibadah haji dan umrah. Semoga kisah ini menambah keimanan dan kecintaan kita kepada Allah.

Kegelisahan melanda hati H. Bastian, eksekutif PT Pusri yang berhaji untuk kesekian kalinya beserta istri dan kerabatnya. Rupanya ikat pinggang hajinya hilang. Bukan ikat pinggangnya yang menjadi pikiran, tetapi didalamnya terdapat 500 dolar AS dan beberapa ratus riyal.

“Bukan uang itu pula yang sangat mengganggu saya,”katanya di Aziziyah, maktab kami selama haji.

“Kalau uang insya Allah saya masih ada, lebih dari cukup untuk bekal selama haji,” katanya lagi

“Lantas apa yang membuat Bapak sedih?” tanya saya

“Ketika saya tahu ikat pinggang haji saya beserta uang didalamnya telah hilang, saya merasa sedih dan bertanya-tanya kepada Allah: Ya Allahh, Hamba datang ke Tanah Suci untuk memenuhi panggilan-Mu. Hamba datang dengan uang yang insya Allah halal, hasil keringat hamba bekerja dan berdagang. Kini Engkau mengambil sebagian, apakah ini artinya, ya Allah ?”

“Kalau itu berati ada yang tidak halal dalam harta yang hamba bawa, hamba ridha Engkau sebagai pemiliknya, mengambilnya dari hamba. Namun jika itu semua yang hamba bawa sebagai bekal ini halal, ya Allah, kembalikanlah uang hamba,” isak tangisnya tak lagi dibendung.

H. Bastian lalu menuju loket lost & Found yang terletak diarah pintu Babussalam menuju hotel Hilton. Kepada petugas, dia melaporkan kehilangan ikat pinggang haji dan uang. Petugas menunjukkan  beberapa ikat pinggang yang ditemukan. H. Bastian menunjuk satu sebagai miliknya. Petugas bertanya apa isinya. H. Bastian menyebutkan jumlah uang yang diyakininya berada didalamnya.

Petugas lalu memeriksa buku catatan barang temuan dan berkata, “Data anda tidak cocok dengan isi yang dicatat disini.”

H. Bastian yakin betul bahwa ikat pinggang itu adalah kepunyaannya. Namun petugas yang hendak mengakhiri waktu tugasnya itu tetap menolak untuk memeriksa kembali. H. Bastian tidak menyerah, dia menunggu pergantian petugas. Lalu setelah dilihatnya petugas berganti, dia melapor lagi. Petugas bertanya lagi dan meminta H. Bastian menunjukkan ikat pinggang miliknya, lalu menanyakan apa isinya.

H. Bastian mengulang jawabannya, “lima ratus dolar, dan beberapa ratus riyal.”

petugas segera memeriksa buku cacatan dan sambil tersenyum dia berkata, “Benar! Itu ikat pinggang Anda, dan isinya cocok dengan yang tercatat.”

Subhanallah, ketika ikat pinggang itu diterimanya kembali beserta uangnya, H. Bastian menangis haru dan bersyukur kepada Allah.

“Saya bersyukur, Allah menjawab pertanyaan saya, Allah kembalikan uang saya dan semoga ini adalah jawaban bahwa yang saya bawa dan saya jadikan bekal haji benar-benar halal, “kata H. Bastian sambil berlinang air mata yang juga tertumpa di Arafah ketika menjadi khatib dalam khutbah Arafah, saya mengingatkan kembali peristiwa dialog H. Bastian dengan Allah. Dialog melalui hilangnya ikat pinggang dan uang.

Mabrur Tanpa Haji


Seberapa banyak orang yang berhaji tapi hajinya tidak diterima. Ada pula orang yang tidak jadi berhaji tapi ia dinyatakan sebagai haji mabrur. Inilah kisah yang dapat menjadi renungan bagi umat islam. Memahami esensi haji mabrur dari kisah-kisah yang hadir di sekelilng kita, namun sering kali kita luput menyadari hal itu. Semoga kisah ini menjadi bahan tafakkur bagi siapapun yang hendak pergi berhaji.

Konon Cak Nun, panggilan akrab budayawan Emha Ainun Najib, ayahanda vokalis band Letto berkali-kali urung pergi haji. Bukan karena dicekal, atau termasuk waiting-list. Cak Nun tak jadi pergi meskipun uang sudah siap karena sering terbentur kepada pemandangan kemiskinan disekitarnya. Maka Cak Nun selalu menunda hajinya dan memberikan uangnya untuk mereka yang memerlukan: orang miskin yang sakit, atau orang miskin yang tak bisa sekolah.

Kisah Cak Nun tersebut mengingatkan kita kepada Abdullah bin Al-Mubarak yang berkata, “Pada suatu masa ketika selesai pergi haji, aku tertidur di Masjidil Haram. Tiba-tiba aku bermimpi melihat dua malaikat turun dari langit, lalu yang satu bertanya:

‘Berapa banyak orang berhaji tahun ini?’

‘Enam ratus ribu orang.’

‘Berapa banyak yang diterima?’

 

‘Tidak seorang pun yang diterima, kecuali seorang tukang sepatu di Damsyiq yang bernama Muwaffaq. Dia tidak jadi berhaji, tetapi hajinya diterima, sehingga semua yang berhaji tahun ini diterima berkat diterimanya Haji Muwaffaq itu.’

ketika mendengar percakapan itu,  aku pun terbangun dari tidur dan berangkat menuju Damsyiq untuk mencari Muwaffaq. Ketika tiba di rumahnya  dan kuketuk pintunya, keluarlah seorang laki-laki. Langsung aku bertanya, ‘Benarkah kau Muwaffaq?’ ‘Ya,’ katanya.

Lalu aku bertanya , ‘Kebaikan apakah yang telah kau lakukan sehingga mendapat derajat yang demikian tinggi?’

Muwaffaq menjawab, ‘sudah lama sekali aku bermaksud melaksanakan ibadah haji, tetapi tidak bisa karena keadaan ekonomiku tidak memungkinkan. Mendadak aku mendapat uang tiga ratus dirham  dari pekerjaan membuat dan menambal sepatu. Lalu aku pun berniat ingin menunaikan ibadah haji tahun ini.’

Sejenak ia mengambil napas, dan kemudian melanjutkan pembicaraannya lagi, ‘Suatu hari istriku yang tengah hamil mencium bau makanan dari tetangga sebelah, dan dia menginginkan makanan itu. Maka aku pun pergi ke rumah tetanggaku. Setelah kuketuk pintu, keluarlah seorang wanita, lalu kusampaikan maksudku.’ Maka jawabnya: ‘Saya terpaksa membuka rahasia. Sebenarnya anak-anak yatimku sudah tidak makan selama tiga hari, sehingga akupun keluar mencari makanan untuk mereka. Tiba-tiba aku mendapati bangkai keledai, lalu saya potong sebagian dagingnya dan saya masak. Maka makanan ini halal bagi kami dan haram bagimu,’ kata wanita tersebut.

Mendengar jawaban itu, aku kembali ke rumah mengambil semua uangku sebesar tiga ratus dirham itu dan aku serahkan pada tetanggaku tersebut. Aku katakan kepada ibu anak-anak yatim itu, ‘Belanjakanlah uang ini untuk anak-anakmu yang yatim itu!’ Dan aku berkata pada diriku sendiri: ‘Hajiku dipintu rumahku, maka kemanakah aku akan pergi?”’

Subhanallah, sungguh Allah Mahakaya dan tak pernah kekurangan pahala untuk dibagikan pada hamba-hamba-Nya. Jika pun kita tak mampu pergi haji, karena miskin atau sakit, atau dihalangi oleh penguasa yang zalim, tetaplah menumbuhkan semangat dalam hati untuk memohon diberikan kesempatan untuk berhaji.

Apabila kita tak juga dapat pergi haji, lihatlah pahala yang setara dengan pahala haji:

  • Mengerjakan puasa pada hari Arafah di Tanah Air akan berbuah pahala seperti pahala ibadah haji.
  • Barang siapa di waktu pagi berniat membela orang yang teraniaya dan memenuhi kebutuhan seorang muslim, baginya ganjaran seperti ganjaran haji  yang mabrur.

 

Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Kita telah dikasihi oleh Al-Rahman dan kita bergerak naik untuk menjadi hamba yang disayangi Al-Rahim. Allah, tak pernah membiarkan hamba-hamba-Nya diam sedih dan tak berjawab, sebagaimana Allah berfirman dalam Al-Quran, Dan bila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, katakan Aku dekat, Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila mereka memohon kepadaku (QS Al-Baqarah [2]: 186).

Allah Swt, juga yang memberikan jaminan: Barang siapa memohon kepada-Ku, maka akan aku ijabah. Allah melihat, Allah mendengar, segala sikap dan ucapan kita. Tiada yang luput, satu pun jua. Allah takkan lupa selama-lamanya, Allah takkan lupa sampai akhir masa.

Pergi Haji: Belajar Mati (Part-2)

Tulisan ini adalah lanjuta dari tulisan sebelumnya “Pergi Haji: Balajar Mati”Semoga menambah spirit ruhuyah kita untuk memaknai ibadah haji. Dan semoga Allah menjadikan kita sebagai tamu-Nya, dan memampukan kita pergi ke tanah suci untuk melaksanakan rukun islam yang kelima. Mari kita belajar mati dari hikmah ibadah haji. Selamat menyelami lautan spiritual Ibadah Haji Dan Umrah melalui tulisan ini.

 

Siap Menghadapi Segala Peristiwa Yang Akan Terjadi

www.berhaji.com
pergi haji belajar mati

 

Bagaimana dengan di Tanah Suci? Betulkah jika di sini kita sering berperilaku buruk, di sana akan menuai keburukan? Jika di sini kita selalu menyuruh, di sana  pun akan menjadi suruhan orang?

Dikasihkan, seorang jaksa yang pernah menyiram, seorang tahanan yang kabur dengan segelas kopi panas sudah bersiap-siap jika di Makkah dirinya akan diguyur Allah dengan kopi panas pula.

“Saya siap kalau Allah membalas segala tingkah saya yang berlebihan, dengan balasan apa pun, asal Allah mengampuni saya dan melimpahkan kasih sayang-Nya pada saya,” ucapnya dengan air mata yang menggenang.

Namun apa yang terjadi? Alih-alih kopi panas, yang ditemuinya malah lautan kebahagiaan, kesejukan air zamzam, dan kenikmatan air mata yang senantiasa membasahi tempat sujudnya di kala shalat.

“Memang banyak kopi panas di sekitar Masjidil Haram, tapi harus beli,” kata Pak Jaksa ini sambil tersenyum senang menceritakan pengalamannya di Tanah Suci.

Tapi, bagaimana kalau kita mendapat perlakuan tidak baik di Tanah Suci? Bagaimana jika haji juga dipenuhi dengan kesulitan dan penderitaan? Jangankan kita, saudaraku,Rasullullahyang mulia, makhluk kekasih Allah yang begitu ikhlas dalam mengemban amamah berupa islam pun mengalami perlakuan buruk. Bahkan Beliau di usir, dicoba dibunuh, dihina, dilempari kotoran, sambil tetap harus bertahan di Makkah hingga datang perintah hijrah. Dan ketika hijrah ke Madinah pun bBeliau masih dikejar-kejar dan hampir terbunuh ketika seorang pemburu hadiah berhasil menyusul dan menodongkan pedang tajam di leher Nabi. Allahu akbar!

Jadi, kalau ada peristiwa tidak menyenangkan dan itu kita rasakan sebagai balasan atas dosa-dosa kita di Tanah Air, bersyukurlah, bahwa Allah mempercepat proses penjatuhan hukuman itu, hingga kelak di akhirat, insya Allah kita terbebas dari siksa neraka. Bukankah tiada balasan bagi haji mabrur kecuali surga?

Lain lagi dengan kisah rombongan KBIH BISRI PT Pusri yang berjumlah sekitar120 jamaah. Kami mendapat maktab di Aziziyah, tempat yang tidak kami temukan namanya dalam peta Makkah. Ya, Aziziyah lebih dekat ke Mina, hanya 30 menit perjalanan santai ketempat melempar jumrah.

Setiap pukul 3 dini hari, regu demmi regu bergelombang menuju ke Masjidil Haram. Demikian pula regu kami. Dalam regu kami terdapat seorang dokter beserta istrinya yangsedang hamil. Suaminya yang dokter mengambil tanggung jawab penuh atas kondisi kehamilan istrinya. “Kami sudah berazam, maka kami bertawakal kepada Allah, “kata Dokter Zaini ketika ditanya dengan kondisi istrinya yang berhaji dalam keadaan hamil.

Sehari sebelumnya seorang jmaah berkata, entah apa maksudnya, “Wah saya belum nangis , nih,” katanya. Mungkin karena dia melihat jamaah lain sudah tumpah air matanya sejak melihat Ka’bah, bahkan sejak meninggalkan rumah. Sementara dia masih tenang-tenang saja.

Kami masuk lift, namun Pak Dokter dan istrinya keluar lagi. Biar nanti saja, katanya, karena lift terlihat sudah penuh. Maka turunlah kamidari lantai lima menuju lantai dasar. Lift berjalan normal, namun ketika sampai dilantai dasar, lift tidak berhenti melainkan terus terperosok ke basement, dan … bum! Suara keras pun terdengar.

Di dalam lift kami berseru menyebut nama Allah: Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar! Setelah agak tenang, seseorang mengeluarkan ponselnya dan bersyukur sinyalnya masih baik. Lalu dia menghubungi H. Lukman, salah seorang tim pembimbing. Kami bersyukur karena dia masih berada di sekitar maktab, padahal regu yang dia pimpin biasanya paling awal berangkat ke Haram.

Kemudian kami semua berdoa. Pada saat itu, seorang ustad mengingatkan tentang peristiwa seorang sahabat yang terperangkap dalam gua: mohonlah pertolongan kepada Allah dan berwasilahlah dengan amal shaleh kita, sebutkan dalam hati, mohonlah pertolongan kepada Allah.

Suasana hening beberapa menit lamanya, hingga kemudian terdengar pintu lift digedor dari luar. Kami membalas memukul-mukul pintu lift. Dan kemudian, pintu lift tampak dicoba dibuka secara paksa dengan kayu, tetapi tidak berhasil. “kemana kuncinya?” tanya salah seorang dari kami yang mengerti masalah teknis. Rupanya kuncinya terbawa oleh seorang pengurus maktab. Kami harus menunggu beberapa menit lagi sampai dia yang membawa kunci datang dan membuka lift. Mata kami melihat pemandangan yang tidak beres; Basement ini rupanya belum selesai. Tumpukan bahan bangunan dan sisa-sisa material teronggok disana-sini, tidaak ada listrik yang meneranginya.

Ya Allah, ketika tiba, kami bersyukur karena kami yang tadinya akan mendapat kamar di lantai 12 ke atas, ternyata kemudian dipindah ke kamar lantai 3 dan 5. namun kami pun harus mendapati kenyataan bahwa di maktab belum tersedia air untuk wudhu,apalagi mandi. Sekarang kami melihat, gedung ini ternyata belum tuntas pembangunannya.

Saya mencoba mengklarifikasi pada Kadaker Makkah, Bapak Wardhani. Dia pun menjawab, “Mas, jujur saja, bangunan itu memang belum selesai. Pemilik gedung yang sebelumnya sudah sepakat dengan kami, tiba-tiba menaikkan uang sewa secara sepihak. Kami tidak terima dan membawa persoalan ini ke pihak yang berwenang. Tapi jamaah tetap harus dilayani. Maka, hanya satu hari sebelum anda dan rombongan datang, saya menyepakati harga dengan pemilik gedung yang sekarang anda tempati ini.”

ya Allah, kami ridha dengan apa pun yang engkau timpakan pada kami. Saya lirik teman yang tadi berkata bahwa dia belum menangis, matanya sembap karena tangis dan bibirnya tak putus bertasbih menyebut-nyebut nama Allah. Subhanallah walhamdulillah wa la ilaha illallah wallahu akbar.

            “Bagaimana sekarang, apa sudah menangis?”tanya saya yang dibalasannya dengan senyum dan anggukan haru.

Pergi Haji: Belajar Mati

Tulisan ini mengajak umat islam untuk dapat meresapi makna ibadah haji lebih mendalam. Penting bagi umat islam yang akan pergi haji untuk menggali spiritual ibah haji lebih mendalam, karena ibadah haji adalah rukun islam yang kelima dan hanya diwajibkan sekali seumur hidup. Semoga tulisan ini manjadi jalan bagi umat islam untuk menyelami lautan spiritual ibadah haji. Selamat mambaca dan meresapi lautan spritual ibadah haji.

www.berhaji.com
pergi haji belajar mati

Menurut Ibn Arabi dalam Al-Futuhat Al-Makkiyyah, kita akan kembali pada Allah dengan cara yang berbeda. Ada yang kembali kepada Allah dengan cara terpaksa, disebut ruju idhthirari. Setuju atau tidak setuju, kita semua akan kembali menghadap yang Maha hidup. Proses itulah yang disebut kematian.

Ada pula cara kembali yang lain. Yaitu kita disuruh kembali kepada Allah dengan cara yang tidak terpaksa. Kita kembali dengan sukarela. Cara kembali seperti ini disebut ruju ikhtiyari. Kembali kepada Allah dengan cara seperti inilah yang dilakukan para jamaah haji.

Saya pernah melihat sepasang suami-istri, menangis terisak-isak di pangkuan ibu mereka yang telah renta, memohon doa dan ampunan karena merekaakan segera berangkat melaksanakan haji. Mereka ibarat sepasang pengantin baru yang memohon doa kepada kedua orangtuanya untuk mengarungi hidup baru. Padahal mereka tidak muda lagi. Sang suami adalah seorang anggota DPRD Kota Bandung, sementara sang istri adalah pejabat di lingkungan dinas pendidikan Kota Bandung.

Memang, pergi haji selama kurang lebih empat puluh hari (atau sekitar 14-20 hari untuk haji khusus), membuat para jamaah haji belajar untuk berpisah dengan berbagai persoalan duniawi yang selama ini digeluti, dicintai, dikejar-kejar untuk dimiliki, atau dihindari untuk ditemui.

Keluarga yang ditinggalkanbelajar untuk tabah dan mandiri. Wasiat atas harta dan urusan dunia harus diucapkan oleh jamaah haji, disertai sikap tawakal dan istiqomah atas segala kemungkinan yang akan terjadi.

Bukankah urusan kita dengan dunia hanya dua: kita yang meninggalkan atau kita yang ditinggalkan oleh dunia. Maka tepatlah senandung Aa Gym, “. . . barang siapa Allah tujuannya, niscaya  dunia akan melayaninya. Namun siapa saja dunia tujuannya, niscaya akan letih dan pastri sengsara, diperbudak dunia, sampai akhir masa. Astagfirullah . . . .”

Seorang istri Kolonel AD, bernama Lilis, yang suaminya akan berangkat haji dengan kedua orangtuanya, ketika ditanya, “Apakah ibu ridha karena suami akan berangkat haji dengan orangtuanya (mertua ibu)? Apakah ibu siap melepas mereka dengan doa yang tulus?”

“Saya siap,” jawab ibu Lilis sambil mengusap air mata yang menetes membasahi kedua pipinya. “Saya sering melepas suami bertugas keluar negeri, tapi rasanya tidak seperti saat ini. Melepas suami berhaji rasanya memang sedang belajar berpisah selama-lamanya . . . .”

 

Dua tahun kemudian, Allah mengundang ibu Lilis ini ke Makkah, yang sedianya akan ditemani anak laki-lakinya. Namun karena sang anak diterima di Akabri, diusahakanlah agar sang suami bisa berangkat menemaninya. Tapi tidak bisa juga. Maka, Ibu Lilis berangkat haji tanpa ditemani suami atau anak. Air matanya juga menetes ketika harus meninggalkan suami dan anak-anak tercinta.

Lain lagi dengan kisah seorang mantan anggota dewan yang juga aktivis organisasi sepak bola nasional. Dia merasakan getaran luar biasa yang menyebabkannya tidak punya pilihan lain kecuali tunduk dan patuh pada kekuatan dan kekuasaan Allah, termasuk jika dia harus mati di Tanah Suci.

Dia berujar, “Saya sangat bersyukur pada Allah atas kesempatan berhaji tahun ini. Saya sebenarnya malu; malu pada Allah. Dulu, saya mendapat dua kali tawaran berhaji, tapi tidak saya terima. Dulu, saya sangat mampu secara materi, tapi saya tidak berhaji. Sekarang saya berhaji apa adanya . . . dengan bekal pas-pasan, sementara usia tidak lagi muda dan fisik tidak sesehat dahulu. Saya siap jika Allah menakdirkan saya tidak kembali ke tanah air. Saya siap …,” ujarnya disebuah mushala kecil di kantor PSSI Komda Jawa Barat. Ketika tulisan ini dibuat, saya masih menantikan kedatangannya dari Tanah Suci. Bukan untuk meminta oleh-oleh kurma dan kacang arab, melainkan menanti berbagai kisah menakjubkan yang menggetarkan hati, mendekatkan kita pada Allah, kisah dari Hamba yang kembali dari Tabnah Suci, padahal dia siap jika mati.