Larangan dalam Haji Dan Umrah

Rasulullah Saw. bersabda: “Sesungguhnya Ibrahim (atas perintah Allah) mengharamkan kota Mekah, dan aku (atas perintah Allah pula) mengharamkan kota Madinah. Tidak dibenarkan mencabut pohonnya tidak juga memburu binatangnya.” (HR. Bukhari)[i]

Terdapat enam hal yang terlarang untuk dilakukan selama haji dan umrah, yakni:[ii]

  1. Terlarang bagi laki-laki mengenakan pakaian yang berjahit seperti kemeja, celana, sepatu dan sebagainya, atau yang melingkungi badan seperti sarung, sorban dan sebagainya. Jamaah haji hanya doperbolehkan mengenakan semacam kain panjang atau handuk yang dililitkan ke tubuhnya, juga diperbolehkan baginya mengenakan sandal yang terbuka. Kecuali jika sama sekali tidak mendapatkan kain seperti itu, maka boleh memakai celana. Diperbolehkan juga mengenakan ikat pinggang dan berteduh ketika dalam kendaraan (bangunan). Tetapi tidak diperbolehkan menggunakan penutup kepala (yang langsung menyentuh kepala). Jika sekiranya melanggar larangan ini, maka wajib membayar dam (denda) seekor domba.

Adapun bagi wanita, diperbolehkan mengenakan pakaian yang berjahit, tetapi terlarang baginya menutupi wajahnya dengan sesuatu yang bersentuhan langsung dengannya seperti cadar.

  1. Terlarang memakai wangi-wangian (kecuali yang dipakai sebelum ihram). Oleh sebab itu, hendaknya dijauhi segala sesuatu yang dianggap sebagai wangi-wangian menurut kebiasaan.
  2. Memotong kuku dan mencukur (menghilangkan) rambut, termasuk larangan bagi siapa saja yang sedang ber-ihram. Bagi yang melanggar, diharuskan membayar dam. Tetapi diperbolehkan baginya memakai celak mata, mandi, berbekam dan menyisir rambut.
  3. Terlarang pula melakukan jima’ (bersenggama). Melakukannya sebelum tahallul pertama, merusak (membatalkan) haji disamping mewajibkan pembayaran dam berupa seekor unta atau sapi, atau tujuh ekor domba. Dan apabila hal itu dilakukan setelah tahallul pertama, maka hajinya tidak menjadi batal, tetapi tetap diharuskan membayar denda seekor unta, atau sapi atau tujuh ekor domba.
  4. Disamping jima’, terlarang pula melakukan hal-hal yang merupakan pendahuluan jima’, seperti mencium istri atau bersentuhan dengan sengaja. Demikian pula melakukan istimna (masturbasi). Semuanya itu hukumnya haram dan mewajibkan denda seekor domba. Diharamkan pula melakukan akad nikah atauu menikahkan orang lain, tetapi hal tersebut tidak mewajibkan denda, karena akad tersebut tidak sah dan dianggap tidak ada.
  5. Membunuh binatang buruan. Jika hal ini dilanggar, maka diharuskan membayar denda seekor hewan ternak yang besar tubuhnya mirip dan menyerupai yang terbunuh. Adapun binatang laut, tidak ada larangan dalam membunuhnya.

 

Larangan Selama di Tanah Suci

Adapun yang diharamkan untuk dilakukan di tanah suci adalah sebagai berikut:[iii]

  1. Non muslim dilarang memasuki tanah haram (tanah suci) dimulai sejak turunnya firman Allah pada tahun ke 9 Hijriyah. Ini adalah ketetapan Allah sesuai dengan firman-Nya: “Hai orang-orang yang beriman sesungguhnya orang-orang musyrik itu najis (jiwanya karena mempersekutukan Allah), maka janganlah mereka mendekati Masjidil haram setelah tahun ini.” (QS. 9:28)
  2. Berburu atau membunuh binatang kecuali yang berbahaya
  3. Mencabut tumbuh-tumbuhan yang tumbuh dengan sendirinya
  4. Membuang atau membawa sebagian tanah atau batuan yang ada di tanah haram
  5. Memungut barang yang ditemukan kecuali untuk dikembalikan
  6. Peperangan di tanah haram.

 


[i] Maisarah Zas. Haji dan Pencerahan Jati Diri Muslim. (Bandung: Alfabeta, 2005). hlm. 167.

[ii] Al-Ghazali. Rahasia Haji dan Umrah. (Bandung: Karisma, 1997). hlm. 37-38.

[iii]Maisarah Zas. Op.Cit. hlm. 167.

 

ZAM-ZAM, AIR MUKJIZAT

 

Secara lahiriah di tengah tempat yang terletak di lekukan tanah kering gersang yang dikelilingi batu dan pasir, akan sangat sulit untuk mendapatkan sumber air, apalagi secara berlimpah.

Tetapi inilah salah satu tanda kebesaran Allah, karena pada bagian tengah lekukan kota Makkah yang dikelilingi oleh kekeringan, kegersangan serta curah hujan setiap tahun tidak lebih dari 10 cm, justru keluar sumber air yang berlimpah, air jernih, menyejukkan dan memiliki rasa alami yang dapat diterima secara langsung oleh siapapun yang meminumnya, tanpa harus menderita sakit meskipun tidak dimasak.[i]

Sejarah Keluarnya Sumber Air Zamzam

Dikisahkan bahwa pada suatu saat Nabi Ibrahim a.s. diperintahkan oleh Allah untuk meninggalkan istrinya, Hajar, bersama bayinya yang baru lahir, Ismail, di lembah gersang tanpa penghuni yang bernama Bakah (sekarang Makkah) hanya dengan berbekalkan sedikit air dan makanan. Padahal saat itu musim panas dan kering sedang melanda kawasan tersebut.

Tetapi inilah perjuangan keluarga Nabi yang tidak pernah mengenal takut, kelaparan dan kesusahan, walau Hajar dan bayinya berada di lembah yang penuh bahaya. Lama kelamaan semua bekal akhirnya habis, sehingga dengan berat hati Hajar harus meninggalkan putranya Ismail sendirian, untuk mencari makanan dan air.

Hajar berlari ke sana ke mari terutama antara bukit Shafa dan Marwah untuk melihat apakah ada oasis (sumber air) yang dekat dengannya, atau ada kafilah (rombongan) yang melintasi daerah tersebut untuk dimintakan bantuannya. Tetapi semua harapannya tidak terkabul karena memang mereka berada di daerah kering dan gersang yang tidak ditumbuhi oleh pohon dan perdu, tidak dijadikan tempat hidup untuk binatang manapun, serta jarang dilalui kafilah.

Tetapi mukjizat Allah kemudian tiba. Di ujung kaki bayi kecil Ismail, keluar sumber air yang makin lama makin membesar, sehingga jumlah air tak terbatas pada jumlah yang dibutuhkan oleh Hajar untuk sekedar penawar dahaga.

Inilah awal terjadinya sumur zamzam, sumber air berlimpah, sehat dan menyejukkan yang terletak tidak jauh dari bangunan ka’bah sekarang.[ii]

Khasiat Air Zamzam

Di antara khasiat air zamzam ialah sebagaimana disabdakan oleh Nabi Saw.

Air zamzam menurut apa yang diniatkan oleh orang yang meminumnya.” (HR. Imam Ahmad dan Ibnu Majah)

Hadits tersebut dinilai shahih oleh Al-Albani di dalam Irwa’ Al-Ghalil (1123).

Dengan demikian, apabila seseorang meminumnya karena haus, maka dia akan merasa segar, apabila dia meminumnya karena lapar, maka dia akan kenyang. Demikianlah khasiat air zamzam.[iii]

Sunah Meminum Air Zamzam

Setelah selesai thawaf dan mengerjakan shalat sunah dua rakaat, orang yang thawaf disunahkan meminum air zamzam. Telah disebutkan dalam Ash-Shalihain bahwa Rasulullah Saw. minum air zamzam dan beliau telah bersabda, “Air zamzam diberkahi, dia adalah makanan yang menghilangkan rasa lapar dan obat yang menyembuhkan penyakit.” Jibril a.s juga telah mencuci hati Rasulullah Saw. dengan air zamzam pada malam Isra’ dan Mi’raj.[iv]

Adab Minum Air Zamzam

Orang yang minum air zamzam disunahkan meniatkan kesembuhan dan niat-niat lain yang mengandung kebaikan dunia dan akhirat, karena khasiat air zamzam tergantung niat meminumnya.

Orang yang meminum air zamzam disunahkan pula untuk menghentikan minumnya setiap kali ia bernafas tiga kali, menghadap kiblat, minum hingga kenyang, memuji Allah, dan berdoa.[v]

 

 



[i] H. Unus Suriawiria. Jalan Panjang ke Tanah Suci. (Bandung: Penerbit Angkasa, 1995). hlm. 93

[ii] Ibid. hlm. 93-94.

[iii] Dr. Abdullah bin Muhammad bin Ahmad Ath-Thayyar. Fiqih Ibadah: Kumpulan Fatwa Lengkap Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin. (Surakarta: Media Zikir, 2010). hlm. 536.

[iv] Sulaiman Al-Faifi. Mukhtashar Fiqih Sunnah Sayyid Sabiq. (Solo: Aqwam, 2010). hlm. 374.

[v] Ibid.

Allah Tak Pernah Ingkar Janji

Banyak kejadian yang dialami oleh para jama’ah haji Indonesia. Kejadian tersebut memberikan banyak ibrah dan pelajaran berharga. Seperti kisah seseorang yang diuji keimanannya oleh Allah dengan kehilangan benda yang penting baginya. selamat membaca dan menyelami lautan spiritual ibadah haji dan umrah. Semoga kisah ini menambah keimanan dan kecintaan kita kepada Allah.

Kegelisahan melanda hati H. Bastian, eksekutif PT Pusri yang berhaji untuk kesekian kalinya beserta istri dan kerabatnya. Rupanya ikat pinggang hajinya hilang. Bukan ikat pinggangnya yang menjadi pikiran, tetapi didalamnya terdapat 500 dolar AS dan beberapa ratus riyal.

“Bukan uang itu pula yang sangat mengganggu saya,”katanya di Aziziyah, maktab kami selama haji.

“Kalau uang insya Allah saya masih ada, lebih dari cukup untuk bekal selama haji,” katanya lagi

“Lantas apa yang membuat Bapak sedih?” tanya saya

“Ketika saya tahu ikat pinggang haji saya beserta uang didalamnya telah hilang, saya merasa sedih dan bertanya-tanya kepada Allah: Ya Allahh, Hamba datang ke Tanah Suci untuk memenuhi panggilan-Mu. Hamba datang dengan uang yang insya Allah halal, hasil keringat hamba bekerja dan berdagang. Kini Engkau mengambil sebagian, apakah ini artinya, ya Allah ?”

“Kalau itu berati ada yang tidak halal dalam harta yang hamba bawa, hamba ridha Engkau sebagai pemiliknya, mengambilnya dari hamba. Namun jika itu semua yang hamba bawa sebagai bekal ini halal, ya Allah, kembalikanlah uang hamba,” isak tangisnya tak lagi dibendung.

H. Bastian lalu menuju loket lost & Found yang terletak diarah pintu Babussalam menuju hotel Hilton. Kepada petugas, dia melaporkan kehilangan ikat pinggang haji dan uang. Petugas menunjukkan  beberapa ikat pinggang yang ditemukan. H. Bastian menunjuk satu sebagai miliknya. Petugas bertanya apa isinya. H. Bastian menyebutkan jumlah uang yang diyakininya berada didalamnya.

Petugas lalu memeriksa buku catatan barang temuan dan berkata, “Data anda tidak cocok dengan isi yang dicatat disini.”

H. Bastian yakin betul bahwa ikat pinggang itu adalah kepunyaannya. Namun petugas yang hendak mengakhiri waktu tugasnya itu tetap menolak untuk memeriksa kembali. H. Bastian tidak menyerah, dia menunggu pergantian petugas. Lalu setelah dilihatnya petugas berganti, dia melapor lagi. Petugas bertanya lagi dan meminta H. Bastian menunjukkan ikat pinggang miliknya, lalu menanyakan apa isinya.

H. Bastian mengulang jawabannya, “lima ratus dolar, dan beberapa ratus riyal.”

petugas segera memeriksa buku cacatan dan sambil tersenyum dia berkata, “Benar! Itu ikat pinggang Anda, dan isinya cocok dengan yang tercatat.”

Subhanallah, ketika ikat pinggang itu diterimanya kembali beserta uangnya, H. Bastian menangis haru dan bersyukur kepada Allah.

“Saya bersyukur, Allah menjawab pertanyaan saya, Allah kembalikan uang saya dan semoga ini adalah jawaban bahwa yang saya bawa dan saya jadikan bekal haji benar-benar halal, “kata H. Bastian sambil berlinang air mata yang juga tertumpa di Arafah ketika menjadi khatib dalam khutbah Arafah, saya mengingatkan kembali peristiwa dialog H. Bastian dengan Allah. Dialog melalui hilangnya ikat pinggang dan uang.

Episode Haji Mengagumkan

Diantara episode haji yang memerlukan perhatian khusus adalah ritual usai wukuf. Usai wukuf, jamaah akan bergerak ke Muzdalifah. Bermalam disana dan kemudian bergerak ke Mina untuk melempar Jumrah Aqabah, lalu melanjutkan dengan tawaf ifadhah. Kemudian jamaah akan kembali ke Mina untuk mabit, hingga tanggal 12 Dzulhijjah (disebut dengan Nafar Awwal) atau hingga tanggal 13 Dzulhijjah (disebut Nafar Tsani).

Pernah rombongan jamaah kami membenahi tenda dan barang-barang, dan tak lupa membawa sisa daging ayam karena jika ditinggal begitu saja, khawatir dihukumi mubazir atau tak bersyukur atas nikmat Allah. Karena itu, barang bawaan kami pun sedikit bertambah isinya: Buah-buahan, jus dan daging ayam.

Kami memilih berjalan dari Arafah menuju Muzdalifah. Ketika rombongan baru berjalan sekitar 15 menit dan melalui dan melalui sebuah sungai pasir (bentuknya seperti sungai, tapi kering kerontang), hujan gerimis mulai turun. Hujan itu tampaknya tidak segera reda dan bukannya berkurang, melainkan malah terus bertambah. Dalam rombongan kami terdapat tiga orang ibu yang berusia sekitar 60 tahun, beberapa dengan keluhan rematik di kaki. Maka perjalanan diprogramkan untuk santai saja. Jika ada yang merasa kelelahan, semua akan berhenti untuk beristirahat. Namun, kami sama sekali tak terhitungkan hujan!

Lalu saya bertanya kepada para ibu yang luar biasa itu, “Kalau ibu-ibu merasa tidak nyaman oleh hujan ini dan khawatir sakit, tidak mengapa kita istirahat saja dan mencoba mencari tempat berteduh, “kata saya sambil berpikir tempat yang cocok untuk berteduh. Dalam hati saya berkata, paling juga kami membongkar lagi kain parasut bekas tenda.

Ketika saya berpikir keras, Ibu Rosika mewakili jamaah yang lain berkata, “Pak Budi, jangan khawatir, kami tidak apa-apa. Malah kami senang bisa kehujanan di Arafah. Tidak terbayangkan sebelumnya kami bisa dikirim hujan seperti ini, di Tanah Suci yang sebelumnya terbayang hanya panas terik. Kami ridha dan sangat bahagia bisa hujan-hujanan di Makkah,” jawab Ibu Rosika berapi-api.

Allahu Akbar! Jika seorang hamba ingat kepada Allah, Allah ingat kepadanya. Jika hamba itu ridha, Allah pun ridha kepadanya. Ingat dan ridha kepada Allah, tampaknya akan membuat  apa pun yang hadir dalam hidup kita menjadi bernilai positif. Benarlah sabda Rasullullah Saw., “Ajaib keadaan seorang mukmin. Jika ditimpa musibah, dia bersabar, dan jika mendapat kebahagiaan, dia bersyukur.”

ibu rosida dan kawan-kawan tampaknya sedang “mabuk kepayang” pada cinta Allah. Mereka tidak merasakan apa pun kecuali kebahagiaan dan rasa syukur yang mendalam karena Allah telah memberikan kesempatan berhaji den menjamu mereka di Padang Arafah dengan jamuan kebahagiaan. Hujan yang turun benar-benar dirasakan sebagai kenikmatan. Maka kami pun terus berjalan menuju Muzdalifahuntuk bermalam menunggu esok subuh dan mengisi perjalanan sepanjang Arafah-Muzdalifah dengan zikir, doa, dan istigfar.

Di muzdalifah kami beristirahat usai menunaikan shalat magrib dan isya. Kami lalu mengumpulkan batu untuk melempar jumrah. Banyak jamaah lain, dalam rombongan yang lebih besar, juga bermalam disekitar kami. Mereka berjamaah magrib dan isya dalam keadaan berkain ihram, di bawah langit Muzdalifah yang sudah kembali terang.

Sangat indah menyaksikan pemandangan itu: Sekelompok orang bertakbir, lalu ruku’ dan sujud bersama, kemudian berdoa usai shalat. Dalam keadaan berkain ihram, dalam perjalanan usai wukuf di Padang Arafah, menuju Mina dan Makkah. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar.

Saya sangat terpesona sehingga tidak dapat menahan perasaan ingin memotret sekelompok jamaah asal Iran yang sedang shlat berjamaah. Saya mengambilnya diam-diam, agak berjarak. Namun rupanya perbuatan saya ada yang melihat. Usai shalat, salah seorang jamaah itu mendekati saya dan bertanya dalam bahasa inggris: You make foto? Saya menjawab Yes. Dia kemudian berkata: Foto haram! Saya menjawab: For you haram, for me No ! Jawaban yang kemudian saya sesali. Meski saya menjawabnya dengan tetap tersenyum dan dia pun kemdian berlalu, saya tetap menyesalinya sebagai sebuah sikap yang kurang ajar. Setidaknya saya khawatir, saudara saya sesama jemaah haji itu menganggap kami, jemaah haji indonesia, tidak tahu etika : memotret orang lain tanpa izin. Ya Allah maafkanlah kesalahanku ini.

Usai bermalam di Muzdalifah, kamipun meneruskan perjalanan menuju mina dengan kondisi yang lebih segar karena istirahat yang cukup disana. Kami tiba di mIna dalam keadaan sudah terang. Kami berkumpul disekitar toilet, mengumpulkan ransel-ransel kami, dan membagi kelompok untuk bergantian melempar jumrah. Sebagian besar melempar jumrah Aqabah, sementara beberapa orang bertugas menjaga barang-barang kami.

Saya bertugas mengawal para ibu, termasuk diantaranya ibu Rosika, seorang karyawati PT yang bergabung karena ingin melaksanakan tanazul (ke Mina terlebih dahulu sebelum ke Arafah).

Melempar jumbrah ketika itu sangat padat. Oleh karena itu, kami memilih tetap melempar dilantai dasar. Kami bergerak perlahan mengikuti arus manusia yang sebagian seperti tak hendak melihat pada yang lain : Tatapannya terfokus pada Jumrah Aqabah, simbol setan yang akan segera dihancurkan dengan batu dari Muzdalifah, batu terbaik yang disepuh denagan sepuhan keikhlasan !

Saya dan regu terus bergerak, berusaha menghindari tabrakan dengan jamaah yang melawan arah, sambil tetap berusaha mendekati Aqabah, hingga jarak aman untuk melempar. Ini hal yang tidak terlalu mudah karena semua orang ingin bergegas, dan beberapa tampak begitu barnafsu, seperti pemburu tak mau kehilangan buruannya.

Ketika sudah berada dalam jarak yang baik, kami pun mulai melemparkan batu ke arah Jumrah Aqabah. Mulut kami merintih dan berucap : Bismillah Allahu Akbar. Lalu tangan kami melemparkan batu yang telah kami sepub dengan doa. Satu demi satu batu kami lemparkan, sambil mulut terus berucap : Bismillah Allahu Akbar.

Prosesi melempar Jumrah adalah sebuah ibadah ritual yang diajarkan Rasulullah Saw. Sebagai ibadah Mahdha, tentu kita tak hendak mempersoalkannya lagi. Namun menggali hikmah dibalik itu, tentu saja bermanfaat agar ritual melempar Jumrah dapat berbekas secara positif terhadap jiwa kita.

Diantara hikmah yang saya temukan adalah : ketika kita melempar Jumrah, sejatinya kita sudah memerangi hawa nafsu dan setan yang bersemayam dalam diri kita, ketika kita melempar Jumrah, kita sedang melemparkan sifat-sifat setan yang ada dalam diri kita. Kita bersihkan diri dengan melemparkan kebusukan kita; kita bersihkan jiwa dengan tunduk patuh pada perintah Allah. Allah perintahkan kita melempar Jumrah, kitalakukan dengan ketaatan. Dan pada saat yang sama, kita renungkan kebusukan dan kejelekan kita; kita campakkan semua itu di Mina. Kita hapus sifat jelek kita dengan batu yang kita kumpulkan di malam hari Muzdalifah! Bismillah Allahu Akbar!

Usai melempar Jumrah, kami bergegas meninggalkan Aqabah, menuju tempat istirahat, posko rombongan kami. Namun dalam hiruk-pikuk yang amat sangat, Ibu Rosika kehilangan sepatunya. “Pak Budi, sepatu saya hilang,” katanya sambil berusaha mencari-cari. Saya segera membaca situasi yang berbahaya, tapi tak ingin membuat Ibu Rosika lebih panik, maka saya katakan, “kalau kaki Ibu tentu masih ada?” canda saya yang dijawab Ibu Rosika, “ya ada atuh pak, Alhamdulillah.” Lalu saya segera meminta Ibu Rosika untuk melupakan sepatunya dan terus bergerak bersama kami untuk keluar dari kerumunan lautan manusia disekitar Aqabah, menuju posko.

Setiba di posko, kami saling berucap syukur karena telah usai melempar Jumrah hari pertama. Kami lalu bersiap menuju Makkah untuk melaksanakan tawaf Ifadha. Ibu Roska tak lupa menceritakan sepatunya yang hilang. Semua menghibur dengan mengatakan “Biarlah sepatu hilang asal kaki utuh dan ibadah lancar.” Ibu Rosika pun membeli sandal yang banyak di jual disekitar Mina. Maka kami pkun segera menuju Makkah, menuju terminal bus disekitar jamarat (sekarang sudah tidak ada).

Ketika kami sudah berjalan sekitar 5 menit, di antara aru smanusia yang padat, berjarak puluhan meter dari lokasi Jumrah Aqabah, tiba-tiba Ibu Rosika yang tepat berjalan didepan saya berteriak, “Pak, ini sepatu saya ketemu!” saya melihat dengan takjub. Di tengah kerumunan manusia yang bergerak tergesa-gesa menuju Makkah, dihadapan Ibu Rosika teronggok sepasang sepatu dengan rapinya, menghadap kearah Ka’bah, tempat kami menuju.

Di tengah keterkejutan saya mash bertanya, “Bagaimana Ibu yakin itu sepatu Ibu?”.

“Saya hafal betul, ini kotor dan sudah agak jelek. Ini bukan sepatu baru. Saya sengaja membawanya dari Tanah Air,” jawab Ibu Rosika sambil masih memandang sepatunya.

Allahu Akbar, bagaimana prosesnya; sepatu yang hilang ketika kami berdesak-desakan disekitar Jumrah Aqabah, lalu ditemukan di tengah jalan menuju terminal yang terpisah puluhan meter jauhnya. Lagi pula, sepatu itu seperti diletakan oleh tangan yang tak terlihat: diletakan dengan rapi mengarah ke Ka’bah, arah yang sedang kami tuju. Ibu Rosika lalu mengambil sepatunya dengan rasa bersyukur dan takjub atas kebesaran Allah! Dipeluknya sepapatunya dengan berlinang air mata. Saya yakin bukan karena semata-mata sepatu itu kembali yang membuat Ibu Rosika menangis haru, tapi perasaan dan keyakinan bahwa sepatu itu dikembalikan Allah untuknyalah yang membuat Ibu Rosika begitu terharu. Hingga saat ini, jika kami bertemu dan mengingat kisah sepatu ini, air mata Ibu Rosika tetap menetes. Allahu Akbar!

Haji memang membuat jarak kita dengan Allah jadi sangat dekat. Ketika melaksanakan Ibadah haji, Allah menjadi begitu dekat, begitu nyata! Sepatu kembali, meski jelek, namun dirasakan sebagai karunia dan kasih sayang Allah yang amat besar. Kebahagiaan bukan diperoleh dari seberapa banyak harta yang dimiliki, melainkan berasal dari sebarapa besar rasa syukur kita atas karunia Allah kepada kita. Kebahagiaan berasal dari seberapa dekat kita dengan Allah. Kebahagiaan diperoleh dari kemampuan merasakan kehadiran Allah dalam hidup kita.

Mabrur Tanpa Haji


Seberapa banyak orang yang berhaji tapi hajinya tidak diterima. Ada pula orang yang tidak jadi berhaji tapi ia dinyatakan sebagai haji mabrur. Inilah kisah yang dapat menjadi renungan bagi umat islam. Memahami esensi haji mabrur dari kisah-kisah yang hadir di sekelilng kita, namun sering kali kita luput menyadari hal itu. Semoga kisah ini menjadi bahan tafakkur bagi siapapun yang hendak pergi berhaji.

Konon Cak Nun, panggilan akrab budayawan Emha Ainun Najib, ayahanda vokalis band Letto berkali-kali urung pergi haji. Bukan karena dicekal, atau termasuk waiting-list. Cak Nun tak jadi pergi meskipun uang sudah siap karena sering terbentur kepada pemandangan kemiskinan disekitarnya. Maka Cak Nun selalu menunda hajinya dan memberikan uangnya untuk mereka yang memerlukan: orang miskin yang sakit, atau orang miskin yang tak bisa sekolah.

Kisah Cak Nun tersebut mengingatkan kita kepada Abdullah bin Al-Mubarak yang berkata, “Pada suatu masa ketika selesai pergi haji, aku tertidur di Masjidil Haram. Tiba-tiba aku bermimpi melihat dua malaikat turun dari langit, lalu yang satu bertanya:

‘Berapa banyak orang berhaji tahun ini?’

‘Enam ratus ribu orang.’

‘Berapa banyak yang diterima?’

 

‘Tidak seorang pun yang diterima, kecuali seorang tukang sepatu di Damsyiq yang bernama Muwaffaq. Dia tidak jadi berhaji, tetapi hajinya diterima, sehingga semua yang berhaji tahun ini diterima berkat diterimanya Haji Muwaffaq itu.’

ketika mendengar percakapan itu,  aku pun terbangun dari tidur dan berangkat menuju Damsyiq untuk mencari Muwaffaq. Ketika tiba di rumahnya  dan kuketuk pintunya, keluarlah seorang laki-laki. Langsung aku bertanya, ‘Benarkah kau Muwaffaq?’ ‘Ya,’ katanya.

Lalu aku bertanya , ‘Kebaikan apakah yang telah kau lakukan sehingga mendapat derajat yang demikian tinggi?’

Muwaffaq menjawab, ‘sudah lama sekali aku bermaksud melaksanakan ibadah haji, tetapi tidak bisa karena keadaan ekonomiku tidak memungkinkan. Mendadak aku mendapat uang tiga ratus dirham  dari pekerjaan membuat dan menambal sepatu. Lalu aku pun berniat ingin menunaikan ibadah haji tahun ini.’

Sejenak ia mengambil napas, dan kemudian melanjutkan pembicaraannya lagi, ‘Suatu hari istriku yang tengah hamil mencium bau makanan dari tetangga sebelah, dan dia menginginkan makanan itu. Maka aku pun pergi ke rumah tetanggaku. Setelah kuketuk pintu, keluarlah seorang wanita, lalu kusampaikan maksudku.’ Maka jawabnya: ‘Saya terpaksa membuka rahasia. Sebenarnya anak-anak yatimku sudah tidak makan selama tiga hari, sehingga akupun keluar mencari makanan untuk mereka. Tiba-tiba aku mendapati bangkai keledai, lalu saya potong sebagian dagingnya dan saya masak. Maka makanan ini halal bagi kami dan haram bagimu,’ kata wanita tersebut.

Mendengar jawaban itu, aku kembali ke rumah mengambil semua uangku sebesar tiga ratus dirham itu dan aku serahkan pada tetanggaku tersebut. Aku katakan kepada ibu anak-anak yatim itu, ‘Belanjakanlah uang ini untuk anak-anakmu yang yatim itu!’ Dan aku berkata pada diriku sendiri: ‘Hajiku dipintu rumahku, maka kemanakah aku akan pergi?”’

Subhanallah, sungguh Allah Mahakaya dan tak pernah kekurangan pahala untuk dibagikan pada hamba-hamba-Nya. Jika pun kita tak mampu pergi haji, karena miskin atau sakit, atau dihalangi oleh penguasa yang zalim, tetaplah menumbuhkan semangat dalam hati untuk memohon diberikan kesempatan untuk berhaji.

Apabila kita tak juga dapat pergi haji, lihatlah pahala yang setara dengan pahala haji:

  • Mengerjakan puasa pada hari Arafah di Tanah Air akan berbuah pahala seperti pahala ibadah haji.
  • Barang siapa di waktu pagi berniat membela orang yang teraniaya dan memenuhi kebutuhan seorang muslim, baginya ganjaran seperti ganjaran haji  yang mabrur.

 

Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Kita telah dikasihi oleh Al-Rahman dan kita bergerak naik untuk menjadi hamba yang disayangi Al-Rahim. Allah, tak pernah membiarkan hamba-hamba-Nya diam sedih dan tak berjawab, sebagaimana Allah berfirman dalam Al-Quran, Dan bila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, katakan Aku dekat, Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila mereka memohon kepadaku (QS Al-Baqarah [2]: 186).

Allah Swt, juga yang memberikan jaminan: Barang siapa memohon kepada-Ku, maka akan aku ijabah. Allah melihat, Allah mendengar, segala sikap dan ucapan kita. Tiada yang luput, satu pun jua. Allah takkan lupa selama-lamanya, Allah takkan lupa sampai akhir masa.